Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFISIK

V. KARATERISTIK TABUNG GEIGER MULLARD (B.KT)

Nama

: Ni Ketut Lelyana Aresta Santi

NIM

: 1408305038

Tanggal

: 30 Maret 2015

Kelompok

: 4 (Empat)

Nama Anggota

: Anggun Rayi Arimurti


Ida Ayu Putu Sugiantari

(1408305036)
(1408305037)

Ni Ketut Lelyana Aresta S (1408305038)


Mega Ayu Septyowati

(1408305039)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2015

I. Tujuan dan Objek Percobaan


Setelah melaksanakan eksperimen ini diharapkan praktikan dapat :
1) Menentukan tegangan threshold tabung Geiger Mullard
2) Menentukan panjang plateau
3) Menghitung karakteristik slope
4) Membuat grafik karakteristik tabung Geiger Mullard
5) Menyimpulkan data percobaan yang diperoleh
Objek percobaan yang dipakai dalam percobaan ini adalah sumber radiasi Am241, Ra-226, Cs-137 yang dideteksi dengan Tabung-Geiger-Muller.
II. Dasar Teori
2.1. Tabung Geiger Mullard sebagai Detektor
Sebuah tabung Geiger-Muller ( tabung GM ) adalah unsur pengindera
( sensor ) dari sebuah Geiger counter yang dapat mendeteksi sebuah partikel
tunggal dari sebuah radiasi ionisasi. Adalah Hans Geiger yang memberinya nama
tabung GM pada tahun 1908. Dan Walther Mller berkolaborasi dengan Geiger
dalam pengembangan yang lebih lanjut pada tahun 1928. Ini adalah jenis gas
ionisasi detektor dioperasikan dengan tegangan di Geiger plateau (daerah plato ).
Plateau tabung GM tidak pernah datar, penyimpanan dari keadaan ideal diukur
sebagai persentase kenaikan tegangan pulsa per volt perubahan dalam tegangan
operasi. Untuk tabung yang konstruksinya baik adalah kurang dari 0,1 % (Beiser.
1987).

Detektor Geiger Muller (GM) terdiri dari suatu tabung logam atau gelas
yang dilapisi logam yang diisi dengan gas mulia dan gas poliatom atau gas
halogen. Pada proses tabung terdapat kawat logam yang berlku sabagai anoda,
sedangkan dinding tabung berlaku sebagai anoda( Elfiaturridha.2010).
Tabung Geiger Mullard berbentuk silinder tipis yang berfungsi sebagai
katode dengan kawat koaksial sebagai anode. Di dalamnya berisi gas mulia argon
bertekanan rendah ditambah dengan halogen atau uap organic yang juga
bertekanan rendah untuk menghentikan terjadinya lucutan. Bila kedua
electrodenya diberikan tegangan yang sesuai, maka partikel alpa, betha, atau foton
gamma ke dalam tabung menyebabkan terjadinya peristiwa ionisasi pertama yang
menghasilkan pulsa pulsa tegangan. Pulsa pulsa tegangan ini dapat dicatat
oleh tabung sinar katode, scaler, elektroskop pulsa, atau yang lainnya yang
kesemuanya berbeda satu sama lainnya tergantung pada tegangan kedua
elektrodenya (Sutapa.2014).

Gambar 2.1. Karakteristik Tabung Geiger Mullard

2.2.

Prinsip Kerja Detektor Geiger-Muller

Apabila ke dalam tabung masuk zarah radiasi maka radiasi akan


mengionisasi gas isian. Antara anode dan katode jika diberikan beda tegangan
maka akan timbul medan listrik di antara kedua elekltrode tersebut. Ion positif
akan bergerak ke arah dinding tabung (katoda) dengan kecepatan yang relatif
lebih lambat bila dibandingkan dengan elektron-elektron yang bergerak ke arah
anoda (+) dengan cepat. Kecepatan geraknya tergantung pada besarnya tegangan
(Volt). Tabung-GM yang normal beroperasi pada tegangan kira kira 75 volt di
atas thresholg Geiger di B, dan besar plateau kira kira 200 volt. Sedangkan
besarnya tenaga yang diperlukan untuk membentuk elektron dan ion tergantung
pada macam gas yang digunakan. Dengan tenaga yang relatif tinggi maka
elektron akan mampu mengionisasi atom-atom sekitarnya sehingga akan terjadi
lucutan yang terus-menerus.
Jika tegangan V dinaikkan lebih tinggi lagi maka peristiwa pelucutan
elektron makin besar dan elektron yang terbentuk makin banyak. Akibatnya,
anoda diselubungi serta dilindungi oleh muatan negative elektron, sehingga
peristiwa ionisasi akan terhenti. Karena gerak ion positif ke dinding tabung
(katoda) lambat, maka ion-ion ini dapat membentuk semacam lapisan pelindung
positif pada permukaan dinding tabung. Keadaan yang demikian tersebut
dinamakan efek muatan ruang atau space charge effect. Tegangan yang
menimbulkan efek muatan ruang adalah tegangan maksimum yang membatasi
berkumpulnya elektron-elektron pada anoda(Surakhman.2009).
Pada tegangan kerja Geiger Muller elektron primer dapat dipercepat
membentuk elektron sekunder dari ionisasi gas dalam tabung Geiger Muller.
Dalam hal ini peristiwa ionisasi tidak tergantung pada jenis radiasi dan besarnya
energi radiasi. Tabung Geiger Muller memanfaatkan ionisasi sekunder sehingga
zarah radiasi yang masuk ke detektor Geiger Muller akan menghasilkan pulsa
yang tinggi pulsanya sama. Atas dasar hal ini, detektor Geiger Muller tidak dapat
digunakan untuk melihat spectrum energi, tetapi hanya dapat digunakan untuk
melihat jumlah cacah radiasi saja. Maka detektor Geiger Muller sering disebut
dengan detektor Gross Beta gamma karena tidak bisa membedakan jenis radiasi
yang datang(Safitri.2011).

III.

Peralatan Dan Bahan yang Digunakan


a. Tabung-GM
b. Marris Sealed Radioactive Source (Am-241, Ra-226, Cs-137)
c. Statif dan klem
d.

Kabel koaksial dan soket

e.

Sumber Listrik AC -220 V

f. Mistar
IV.

Pelaksanaan Percobaan
a. Perangkat alat disusun seperti gambar 1.2
b. Digicounter dihubungkan pada sumber tegangan listrik AC 220 V,
MAINS diatur pada ON alat kemudian dipanaskan selama 5 menit.
c. Tombol tegangan diputar sampai Digicounter menunjukkan hitungan.
d. Tegangan tersebut lalu dicatat , dan dicatat pula count ratenya tiap 100
detik berurutan, kemudian dirata ratakan.
e. Langkah kerja (d) diulangi tiap menaikkan tegangan 20 V hingga
mencapai threshold (600 V)
f. Langkah kerja (e) diulangi untuk tiap kenaikan tegangan 40 V.

V.

Hasil Pengamatan
Percobaan ke-1 dengan kenaikan tegangan 20 v
(Ra-226 ) , Jarak 5 cm
Aktivitas : 3,3 K Bq (0,09ci) Nw 228/81
No
.

Teganga

Waktu (s)

Count

Cacah /100

1
2
3
4
5

n (v)
400
420
440
460
480

100
100
100
100
100

36
119
158
289
452

s
0,36
1,19
1,58
2,89
4,52

440

100

210,8

2, 108

Gambar 5.1. Tabel pengamatan Ra-226 tegangan 20 volt

(Cs -137) , Jarak 5 cm


Aktivitas : 3Ci = 30 yrs
No.

Teganga

Waktu (s)

Count

Cacah /100

1
2
3
4
5

n (v)
400
420
440
460
480

100
100
100
100
100

465
570
750
1062
1244

s
4,65
5,70
7,50
10,62
12,44

440

100

818,4

8,184

Gambar 5.2. Tabel pengamatan Cs-137 tegangan 20 volt

(Am-241) , Jarak 5 cm
Aktivitas : 3,4 x 105 Bq ,Bawart Nw 76/76
No.

Teganga

Waktu (s)

Count

Cacah /100

1
2
3
4
5

n (v)
400
420
440
460
480

100
100
100
100
100

32
72
104
195
262

s
0,32
0,72
1,04
1,95
2,62

440

100

133

1,33

Gambar 5.3. Tabel pengamatan Am-241 tegangan 20 volt

Percobaan ke-2 dengan kenaikan tegangan 40 v

(Ra-226) , Jarak 5 cm
Aktivitas : 3,3 k Bq (0,09Ci) Nw 228/81

No.

Teganga

Waktu (s)

Count

Cacah /100

1
2
3
4
5

n (v)
400
440
480
520
560

100
100
100
100
100

71
125
174
317
380

s
0,71
1,25
1,74
3,14
3,80

480

100

213,4

2,134

Gambar 5.4. Tabel pengamatan Ra-226 tegangan 40 volt

(Cs-137) , Jarak 5 cm
Aktivitas : 3 Ci = 30 yrs
No.

Tegang

Waktu (s)

Count

Cacah /100

1
2
3
4
5

an (v)
400
440
480
520
560

100
100
100
100
100

459
563
710
1153
1198

s
4,59
5,63
7,10
11,53
11,98

480

100

816,6

8,166

Gambar 5.5. Tabel pengamatan Cs 137 tegangan 40 volt

(Am-241) , Jarak 5 cm
Akivitas : 3,4 x 105 Bq , Bawart Nw 76/76
No
.
1
2
3
4

Teganga
n (v)
400
440
480
520

Waktu (s)

Count

Cacah /100

100
100
100
100

40
67
89
207

s
0,40
0,67
0,89
2,07

560

100

275

2,75

480

100

135,6

1,356

Gambar 5.6. Tabel pengamatan Am 241 tegangan 40 volt

VI.

Analisis Data dan Pembahasan


Analisa Data
GRAFIK
(Ra-226)

500
450
400
350
300
Count 250
200
150
100
50
0
400

Count

420

440

460

480

Tegangan

Aktivitas :
3,3 K Bq (0,09ci) Nw 228/81

Gambar 6.1. Grafik aktivitas : 3,3 K Bq (0,09ci) Nw 228/81 tegangan 20 volt

(Cs -137) , Jarak 5 cm


Aktivitas : 3Ci = 30 yrs

Count

1400
1200
1000
800
600
400
200
0
400

Count
420

440

460

480

Tegangan

Gambar 6.2. Grafik aktivitas : 3Ci = 30 yrs tegangan 20 volt

(Am-241) , Jarak 5 cm
Aktivitas : 3,4 x 105 Bq ,Bawart Nw 76/76
300
250
200
Count

150
100

Count

50
0
400

420

440

460

480

Tegangan

Gambar 6.3. Grafik aktivitas : 3,4 x 105 Bq ,Bawart Nw 76/76 tegangan 20 volt
(Ra-226) , Jarak 5 cm
Aktivitas : 3,3 k Bq (0,09Ci) Nw 228/81

400
300
Count

200
Count

100
0
400

440

480

520

560

Tegangan

Gambar 6.4. Grafik aktivitas : 3,3 K Bq (0,09ci) Nw 228/81 tegangan 40 volt

(Cs-137) , Jarak 5 cm
Aktivitas : 3 Ci = 30 yrs
1400
1200
1000
800
Count 600
400
200
0
400

Count

440

480

520

560

Tegangan

Gambar 6.5. Grafik Aktivitas : 3 Ci = 30 yrs tegangan 40 volt

(Am-241) , Jarak 5 cm
Akivitas : 3,4 x 105 Bq , Bawart Nw 76/76

300
250
200
Count

150
100

Count

50
0
400

440

480

520

560

Tegangan

Gambar 6.6. Grafik Akivitas : 3,4 x 105 Bq , Bawart Nw 76/76 tegangan 40 volt

6.1.

Pembahasan
Percobaan ini memiliki tujuan tegangan threshold tabung Geiger Mullard,

menentukan panjang plateau, dan menghitung karakteristik slop. Berdasarkan


tujuan tersebut maka percobaan ini mencari slope dari grafik hasil percobaan.
Pertama-tama alat dipanaskan selama 5 menit dengan menekan tombol
ON pada Digicounter. Kemudian persiapkan bahan radioaktif yaitu Ra-226, Cs137 dan Am-241. Setelah hal itu dilakukan maka dapat dilakukan pengukuran
count ratenya tiap 100 sekon. Count rate dilakukan dengan kenaikan tegangan 20
V dan kenaikan tegangan 40 V. Kemudian dibuatkan sebuah grafik hubungan
antara kenaikan tegangan dan jumlah cacahan/100 detik. Tegangan kerja dari
Geiger Muller ini disebut dengan Planteau Geiger atau daerah plato tepatnya 1/3
lebar Plaro yakni pada saat kurva/grafik menunjukkan keadaan horizontal.
Percobaan ini dilakukan dua kali dengan menggunakan kenaikan tegangan
20 volt dan 40 volt. Tegangan awal yang diberikan masing masing 400 volt
kenaikan sebanyak 20 volt pada percobaan pertama dan percobaan kedua
kenaikan 40 volt dengan jarak tabung Geiger Muller-Tube Mullard sebesar 5 cm
pada masing masing bahan. Hal ini menunjukkan bahwa tabung Geiger Muller
baru dapat bekerja ketika tegangan awal dimulai dari 400 volt hingga menuju 480
volt.

Dengan demikian, dari data pengamatan dan grafik, maka dapat ditentukan
daerah plateunya. Perlu diketahui pula, bahwa tabung Geiger Muller hanya dapat
mendeteksi jumlah energy atau partikelnya, tidak sifat energy yang mengenainya.
Dari grafik 6.1. sampai 6.2. dapat dilihat hubungan antara kenaikan tegangan
dengan jumlah cacahan/100 detik adalah semakin naik tegangan maka jumlah
cacahan/100 detik semakin naik, baik itu pada kenaikan 20 V maupun kenaikan
40 V.
VII.

Simpulan
1. Pencacah Geiger-Mullard merupakan alat pengukur radiasi ionisasi.
2. Percobaan pertama pada kenaikan 20 Vtegangan ambang adalah 400 V
dan tegangan tertingginya adalah 480 V selama 100 detik .
3. Percobaan kedua pada kenaikan 40 V tegangan ambang adalah 400 V dan
tegangan tertingginya adalah 560 V selama 100 detik .
4. Panjang plateau tegangan 400 V sampai 480 V pada kenaikan 20 V,
ditunjukkan dari grafik yang hampir horizontal artinya nilai cacahannya
hampir konstan.
5. Panjang plateau tegangan 400 V sampai 480 V pada kenaikan 40 V,
ditunjukkan dari grafik yang hampir horizontal artinya nilai cacahannya
hampir konstan.

DAFTAR PUSTAKA
Beiser, Arthur. 1987. Konsep Fisika Modern. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Elfiaturridha,dkk. 2010. Pembuatan dan Pengujian Detektor Geiger Mueller
Tipe End Window dengan Gas Isian Argon-Bromine
http://www.batan.go.id/ptrkn/file /tkpfn17/58.pdf. Diakses pada tanggal 4
April 2015
Safitri Irma, dkk. 2011. Perbandingan Karakteristik Detektor Geiger-Mueller
Self Quenching dengan External Quenching. http :// www.batan.go.id
/ptrkn/file /tkpfn17 /54.pdf. Diakses pada tanggal 4 April 2015
Surakhman dan Sayono. 2009. Pembuatan Geiger Mueller Tipe Jendela
Samping dengan Gas Isian Argon-Etanol. Yogyakarta : Seminar Nasional V
SDM Teknologi Nuklir halaman 405-414, ISSN 1987-0176.
Sutapa, Gusti Ngurah, dkk. 2015.Modul Pratikum Biofisika. FMIPA :
Jimbaran.

Anda mungkin juga menyukai