Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Dalam Sebuah perencananaan memerlukan landasan teori-teori atau ilmu
pengetahuan. Teori adalah pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu
faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. Dalam pengembangan kawasan andalan
Boyolali didasari oleh teori perencanaan wilayah, pengembangan dan pertumbuhan ekonomi,
Theory cluster dan pedoman terkait penyusunan kawsan andalan.
2.1 Teori Perencanaan Wilayah
Dalam teori perencanaan terdapat beberapa tipologi, antara lain rational planning
model, incremental planning model dan strategic planning model (Etzioni, 1967).
a. Pendekatan komprehensif (rational planning model)
Merupakan suatu kerangka pendekatan logis dan teratur, mulai dari diagnosis
sampai kepada tindakan berdasarkan kepada analisis fakta yang relevan, diagnosis
masalah yang dikaji melalui kerangka teori . Pendekatan ini memerlukan survey yang
komprehensif pada semua alternatif yang ada untuk mendapatkan informasi yang
lengkap dalam pengambilan keputusan yang rasional.
b. Pendekatan inkremental (incremental planning model)
Pengambilan keputusan dalam pendekatan ini dibatasi pada kapasitas yang
dimiliki oleh pengambil keputusan serta mengurangi lingkup dan biaya dalam
pengumpulan informasi. Pengambil keputusan hanya berfokus terhadap kebijaksanaan
yang memiliki perbedaan yang inkremental dari kebijaksanaan yang telah ada.
c. Pendekatan mixed-scanning (strategic planning model)
Proses yang tercakup dalam mixed scanning ini adalah strength, weakness,
opportunity dan threat (SWOT) analisis yang hasilnya adalah berupa strategic
planning. Pendekatan yang digunakan dalam kajian kawasan andalan ini salahsatunya
adalah pendekatan perencanaan mixed scanning dengan melakukan analisis SWOT di
setiap sektor terkait yaitu ekonomi, fisik dasar dan lingkungan, demografi sosial
budaya dan kebijakan dan kelembagaan.
2.2 Teori Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi
Salah satu teori pembangunan wilayah adalah pertumbuhan tak berimbang
(unbalanced growth) yang dikembangkan oleh Hirscham dan Myrdal. Pengembangan
wilayah merupakan proses perumusan dan pengimplementasian tujuan-tujuan
pembangunan dalam skala supra urban. Pembangunan wilayah pada dasarnya dilakukan
dengan menggunakan sumber daya alam secara optimal melalui pengembangan ekonomi
lokal, yaitu berdasarkan kepada kegiatan ekonomi dasar yang terjadi pada suatu wilayah.
Teori pertumbuhan tak berimbang memandang bahwa suatu wilayah tidak dapat
berkembang bila ada keseimbangan, sehingga harus terjadi ketidakseimbangan.
Penanaman investasi tidak mungkin dilakukan pada setiap sektor di suatu wilayah secara
merata, tetapi harus dilakukan pada sektor-sektor unggulan yang diharapkan dapat
Rencana Pengembangan Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali 20162035

II-1

LAPORAN PENDAHULUAN

menarik kemajuan sektor lainnya. Sektor yang diunggulkan tersebut dinamakan sebagai
leading sektor.
Perencanaan
pembangunan
wilayah
semakin
relevan
dalam
mengimplementasikan kebijakan ekonomi dalam aspek kewilayahan. Hoover dan
Giarratani (dalam Nugroho dan Dahuri, 2004), menyimpulkan tiga pilar penting dalam
proses pembangunan wilayah, yaitu:
a. Keunggulan komparatif (imperfect mobility of factor).
Pilar ini berhubungan dengan keadaan ditemukannya sumber-sumber daya tertentu
yang secara fisik relatif sulit atau memiliki hambatan untuk digerakkan antar wilayah.
Hal ini disebabkan adanya faktor-faktor lokal (bersifat khas atau endemik, misalnya iklim
dan budaya) yang mengikat mekanisme produksi sumber daya tersebut sehingga wilayah
memiliki komparatif. Sejauh ini karakteristik tersebut senantiasa berhubungan dengan
produksi komoditas dari sumber daya alam, antara lain pertanian, perikanan,
pertambangan, kehutanan, dan kelompok usaha sektor primer lainnya.
b. Aglomerasi (imperfect divisibility).
Pilar aglomerasi merupakan fenomena eksternal yang berpengaruh terhadap pelaku
ekonomi berupa meningkatnya keuntungan ekonomi secara spasial. Hal ini terjadi karena
berkurangnya biaya-biaya produksi akibat penurunan jarak dalam pengangkutan bahan
baku dan distribusi produk.
c. Biaya transport (imperfect mobility of good and service).
Pilar ini adalah yang paling kasat mata mempengaruhi aktivitas perekonomian.
Implikasinya adalah biaya yang terkait dengan jarak dan lokasi tidak dapat lagi diabaikan
dalam proses produksi dan pembangunan wilayah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan wilayah antara
lain dipengaruhi oleh aspek-aspek keputusan lokasional, terbentuknya sistem perkotaan,
dan mekanisme aglomerasi. Istilah pertumbuhan wilayah dan perkembangan wilayah
sesungguhnya tidak bermakna sama.
Pertumbuhan dan perkembangan wilayah merupakan suatu proses kontiniu hasil
dari berbagai pengambilan keputusan di dalam ataupun yang mempengaruhi suatu
wilayah. Perkembangan wilayah senantiasa disertai oleh adanya perubahan struktural.
Wilayah tumbuh dan berkembang dapat didekati melalui teori sektor (sektor
theory) dan teori tahapan perkembangan (development stages theory). Teori sektor
diadopsi dari Fisher dan Clark yang mengemukakan bahwa berkembangnya wilayah, atau
perekonomian nasional, dihubungan dengan transformasi struktur ekonomi dalam tiga
sektor utama, yakni sektor primer (pertanian, kehutanan dan perikanan), serta sektor
tertier (perdagangan, transportasi, keuangan dan jasa). Perkembangan ini ditandai oleh
penggunaan sumber daya dan manfaatnya, yang menurun di sektor primer, meningkat di
sektor tertier, dan meningkat hingga pada suatu tingkat tertentu di sektor sekunder.
Oleh karena itu Kawasan andalan merupakan suatu kawasan yang dikatakan cepat
maju dan cepat tumbuh yang dalam perkembangannya diharapkan mampu menjadi pusat
pertumbuhan ekonomi, baik bagi kawasan itu sendiri maupun kawasan di sekitarnya.
Pertumbuhan ekonomi itu sendiri dipengeruhi oleh beberapa faktor, yaitu akumulasi
Rencana Pengembangan Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali 20162035

II-2

LAPORAN PENDAHULUAN

modal, pertumbuhan penduduk (tenaga kerja), kemajuan teknologi, dan sektor basis yang
dimiliki oleh wilayah tersebut dan harus adayanya konsentrasi kegiatan ekonomi yang
dapat dianggap sebagai pusat pertumbuhan dan dapat mempercepat pertumbuhan
ekonomi baik ke dalam (di antara berbagai sektor di dalam Wilayah/kawasan) maupun ke
luar (ke wilayah belakangnya).
2.3 Rencana Tata Ruang Kawasan
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,
Ruang didefinisikan sebagai wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang
udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan
makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
Sedangkan tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. Penataan ruang
merupakan suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan
pengendalian pemanfaatan ruang. Penyelenggaraan penataan ruang dirasa sangat penting,
karena hal ini bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman,
produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional,
yaitu dengan:
a. Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;
b. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya
buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan
c. Terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap
lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 pasal 4 dan 5, penataan ruang
diklasifikasikan berdasarkan:
a. Sistem, terdiri atas sistem wilayah dan sistem internal perkotaan
b. Fungsi utama kawasan, terdiri atas kawasan lindung dan kawasan budidaya
c. Wilayah administratif, terdiri atas penataan ruang wilayah nasional, penataan ruang
wilayah provinsi, dan penataan ruang wilayah kabupaten/kota
d. Kegiatan kawasan, terdiri atas penataan ruang kawasan perkotaan dan penataan ruang
kawasan pedesaan
e. Nilai strategis kawasan, terdiri atas penataan ruang kawasan strategis nasional,
penataan ruang kawasan strategis provinsi, dan penataan ruang kawasan strategis
kabupaten/kota.
Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) ditetapkan kawasankawasan yang memiliki nilai strategis nasional atau yang menurut peraturan perundangundangan penetapannya merupakan kewenangan Pemerintah (pusat). Di berbagai jenis
kawasan yang dikategorikan adapun kawasan andalan yang menjadi fokus perencanaan.
2.4 Kawasan Andalan
2.4.1 Pengertian Kawasan Andalan
Menurut Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 2008 Kawasan andalan adalah
bagian dari kawasan budi daya, baik di ruang darat maupun ruang laut yang
Rencana Pengembangan Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali 20162035

II-3

LAPORAN PENDAHULUAN

pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan


tersebut dan kawasan di sekitarnya.
Kawasan Andalan dapat berada dalam satu kesatuan kawasan perdesaan dan atau
kawasan perkotaan, dan dapat meliputi satu wilayah Kabupaten dan Kota atau lebih;
sehingga pengembangan kawasan diselenggarakan sebagai bagian dari penataan ruang
wilayah Provinsi, atau penataan ruang wilayah Kabupaten dan Kota. Pengembangan
kawasan harus terpadu dengan penataan ruang wilayah.
Dengan demikian pengembangan kawasan andalan merupakan perwujudan
struktur pemanfaatan ruang nasional (RTRWN), dan sebagai pendorong pertumbuhan
ekonomi wilayah (RTRWP) dalam mewujudkan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten
dankota (RTRW Kabupaten/Kota). Pengembangan Kawasan Andalan merupakan rencana
bersama antar daerah yang terkait untuk mengembangkan kawasan andalan tersebut
secara sinerji, yang selanjutnya dituangkan dalam RTR Wilayah Provinsi, Kabupaten dan
Kota masing-masing untuk dijadikan Peraturan Daerah yang mempunyai kekuatan
hukum mengikat bagi masyarakat dan untuk dilaksanakan.
2.4.2

Teknik Penyusunan Pengembangan Kawasan Andalan


Kawasan andalan bisa berupa, pertama, kawasan yang sudah berkembang,
terdapat aglomerasi kota dan aglomerasi kegiatan sektor produksi yang didukung oleh
sumberdaya manusia, sumberdaya alam, kedekatan lokasi terhadap pusat-pusat
pertumbuhan regional, dan telah memiliki infrastruktur pendukung. Kedua, kawasan
andalan yang prospektif untuk dikembangkan, terdapat sumberdaya alam, mempunyai
akses terhadap pusat pertumbuhan, dekat dengan pusat-pusat permukiman, serta
memungkinkan untuk pengadaan prasarana pendukung. Berikut ini merupakan kerangka
analisis yang akan digunakan dalam penyusunan Rencana pengembangan kawasan
andalan Boyolali berdasarkan pedoman penyusunan rencana pengembangan kawasan
andalan :

Rencana Pengembangan Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali 20162035

II-4

LAPORAN PENDAHULUAN

Gambar 2.1 : Bagan Penyusunan Rencana Pengembangan Kawasan Andalan


Sumber : Pedoman Penyusunan Rencana Pengembangan Kawasan Andalan

Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, kawasan andalan perlu dikelola secara


terpadu, komprehensif, dan berkesinambungan agar lebih terarah dan teratur. Pada bagan
diatas terdapat beberapa aspek pengembangan yang menjadi tolok ukur kelayakan analisis
kawasan andalan, yaitu :
1. Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan
Merupakan tahapan untuk menganalisis karakteristik fisik dan lingkungan kawasan,
mencakup potensi sumber daya alam dan lingkungan yang dapat digunakan untuk
mengembangkan kawasan dan kendala pengembangan yang ditemui dengan melihat
kondisi fisik dan lingkungan yang dimiliki kawasan. Langkah-langkah yang dilakukan
2. Analisis Aspek Ekonomi
Merupakan proses penemukenalan potensi dan permasalahan perekonomian yang
dimiliki oleh kawasan andalan saat ini.
3. Analisis Aspek Sosial Budaya
Merupakan tahapan untuk mengkaji rona sosial dan budaya yang mendukung atau
menghambat pengembangan kawasan andalan.
4. Analisis Aspek Kelembagaan
Merupakan deskripsi alternatif bentuk kelembagaan pengelolaan kawasan andalan
yang sesuai untuk diterapkan, karena pada umumnya kawasan andalan mencakup dua
daerah atau lebih, sehingga memerlukan lembaga yang mampu mengakomodir daerahdaerah yang termasuk dalam kawasan andalan.

Rencana Pengembangan Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali 20162035

II-5

LAPORAN PENDAHULUAN

2.4.3

Prinsip Kawasan Andalan


Hal yang harus dimiliki oleh kawasan andalan yaitu memiliki aksesibilitas untuk
berkembang, antara lain prasarana dan sarana yang mendukung serta SDM yang
potensial, memiliki potensi ekonomi / SDA, antara lain tingkat pertumbuhan ekonomi di
atas rata rata, sumbangan sektor perekonomian terhadap perekonomian wilayah yang
cukup tinggi, komoditas unggulan yang mempunyai multiplier effectyang tinggi,
mempunyai komoditas dengan kandungan deposit yang melimpah, dan mempunyai
demand pasar bagi komoditas/sektor tersebut, serta; memiliki jaringan prasarana dan
sarana perhubungan dengan kawasan/wilayah sekitar (internal) dan pusat-pusat
pengembangan lainnya (eksternal)

2.5 Teori Cluster Untuk Menentukan Kawasan Andalan


Dalam penentuan wilayah kajian dalam terkait kawsan andalan Boyolali digunakan
teori Clusterr. Teori cluster merupakan metode pengelompokkan setiap objek ke dalam
satu atau lebih dari satu kelompok, sehingga tiap objek yang berada dalam satu
kelompokan akan memiliki nilai interaksi yang sama dan penetapan cluster berdasarkan
kedekatan wilayah yang sesuai dengan kesamaan interaksi.
Cluster merupakan sebuah wilayah yang dibangun dengan fokus kepada satu
keunggulan tertentu, sebuah cluster ditopang oleh beberapa hal, yaitu kondisi bisnis,
infrastruktur, kondisi pasar, regulasi pemerintah, pendidikan, industri lain yang relevan
(Michael Porter, 2008) Teori cluster di dalam perencanaan wilayah ini digunakan untuk
proses pemilihan kawasan andalan di Kabupaten Boyolali. Prinsip dari clustering adalah
memaksimalkan kesamaan antar anggota satu kelas dan meminimumkan kesamaan antar
kelas.

Rencana Pengembangan Kawasan Andalan Kabupaten Boyolali 20162035

II-6