Anda di halaman 1dari 29

AKUNTANSI MODAL BANK

Pengertian akuntansi modal bank


Akuntansi modal bank adalah hak pemilik bank kepada bank yang bersangkutan, yang
merupakan modal awal pada saat pendirian bank yang jumlahnya telah ditetapkan dalam
suatu ketentuan atau pendirian bank.Komponen modal bank yaitu terdiri dari modal saham
yang ditempatkan dan disetor, modal sumbangan, laba ditahan dengan tujuan laba ditahan
tanpa tujuan, penilaian kembali aktiva tetap dan modal sumbangan (modal donasi).
Fungsi modal bank
1. Untuk melindungi deposan dengan menangkal semua kerugian usaha perbankan sebagai
akibat salah satu atau kombinasi risiko usaha perbankan misalnya terjadinya insolvency dan
likuidasi bank. Perlindungan terutama untuk dana yang tidak dijamin oleh pemerintah.
2. Untuk menigkatkan kepercayaan masyarakat berkenaan dengan kemampuan bank untuk
memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo dan memberikan keyakinan mengenai
kelanjutan operasi bank meskipun terjadi kerugian
3.

Untuk membiayai kebutuhan aktiva tetap seperti gedung, peralatan dan sebagainya

4.

Untuk memenuhi regulasi permodalan yang sehat menurut otoritas moneter


Prinsip dasar manajemen modal bank
Prinsip

manajemen

modal

akan

tercermin

dari

langkah-langkah

dalam

memperhitungkan kebutuhan modal yang memadai, yaitu :


1. Menyusun Rencana Keuangan Secara Menyeluruh
Dalam penetuan modal bank perlu perencanaan menyeluruh terhadap aspek keuangan bank.
Proses perencanaan tersebut dimulai dari analisis kinerja bank yang bersangkutan. Kekuatan,
kelemahan, peluang dan tantangan perlu menjadi pertimbangan manajemen bank. Dalam hal
ini bank perlu mengidentifikasikan variable-variabel pokok yang dianggap sangat vital dalam
operasional bank. Variabel vital tersebut umumnya berupa perkiraan penghimpunan dana
pihak ketiga yang dapat dihimpun dari masyarakat misalnya tabungan, giro, deposito, dan
kewajiban segera lainnya.Variabel lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah kualitas

sumber daya manusia yang akan menggerakkan bank. Kemampuan sumber daya manusia di
bank tersebut perlu dipersiapkan.
2. Modal bank yang optimal atau memadai
Penentuan modal bank yang memadai adalah pekerjaan yang tidak mudah. Dalam perspektif
teori keuangan, posisi modal bank itu bias dilihat dari posisi leverage nya. Hal ini bias
dipahami karena karakteristik unik bank itu sangat gearing atau mempunyai leverage yang
sangat tinggi atau modal relatif kecil, yang tercermin dari rasio utang terhadap modal. Dalam
pandangan ilmu keuangan semakin tinggi utang semakin baik untuk nilai perusahaan, namun
pada titik tertentu akan menimbulkan biaya kebangkrutan. Oleh karena itu posisi modal yang
optimal diperlukan.
3. Pemenuhan modal dari internal bank
Dengan terpenuhinya modal dari internal maka menunjukkan bank tersebut mampu tumbuh
dengan kekuatan sendiri yaitu dari sisa laba bank. Untuk mempertinggi laba bank diperlukan
financial leverage. Financial leverage adalah variabel untuk mengukur kemampuan
manajemen bank dalam mengelola aktivanya. Rasio yang digunakan adalah leverage
multiplier yaitu perbandingan antara total aktiva dengan total modal bank.
Bank didirikan untuk jangka waktu tak terbatas, artinya manajemen bank akan
berusaha untuk menjaga keberlangsungan operasi bank. Untuk mempertahankan dan
mengembangkannya diperlukan daya saing yang memadai. Untuk dapat bersaing sebuah bank
harus bekerja pada tingkat efisiensi yang tinggi dan mampu mengelola risiko, mampu
menciptakan dan mengembangkan sistem dan prosedur pelayanan, serta sistem informasi
yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan operasional bank serta memiliki modal yang
cukup dan sehat sebagai penggerak aktivitas.
Modal bank adalah dana yang diinvestasikan oleh pemilik dalam rangka pendirian
badan usaha yang dimaksudkan untuk membiayai kegiatan usaha bank di samping untuk
memenuhi regulasi yang ditetapkan oleh otoritas moneter.
Ketentuan jumlah modal inti di bank umum maupun modal disetor di BPR bisa
berbeda, namun untuk rasio kecukupan modal adalah 8% dari Aktiva Tertimbang Menurut
Risiko baik di BPR maupun Bank Umum. Rasio kecukupan modal di bank harus
memperhitungkan risiko pasar, karena itu akan dibahas mengenai jenis modal dan
akuntansinya serta teknis perhitungan rasio kecukupan modal di BPR dan Bank Umum.
2

KLASIFIKASI MODAL BANK


Klasifikasi modal bank secara umum menurut George Hempel pada hakekatnya ada tiga
kelompok yaitu:

Subordinated debt , yaitu utang kepada pihak lain yang pelunasan nya hanya dapat
dilakukan setelah terpenuhinya kewajiban pembayaran kepada kreditur lainnya
misalnya penitip dana. Subordinated debt biasanya berbunga, bank akan membayar
bunga tertentu di masa mendatang

Preferred stock, yaitu sejumlah dana tertentu yang ditanamkan oleh pemilik saham
yang kewajiban untuk membayar dividen dalam jumlah tertentu hanya dapat
dilakukan setelah terpenuhinya pembayaran kepada penitip dana ( deposan )

Common stock, yaitu modal dasar yang dimiliki oleh suatu bank yang biasanya terdiri
dari dana saham, harga saham diatas pari,cadangan modal dan laba ditahan.

Klasifikasi modal bank menurut otoritas moneter adalah:

First tier capital yaitu modal utama yang tertanam di bank tersebut

Second tier capital yaitu sejumlah dana modal yang bukan bersumber dari
pemilik/pemegang saham bank tersebut.

Pembagian jenis modal bank di Indonesia dapat diklasifikasikan sesuai Standar Bank For
International Settlements, yaitu :
1. Modal Inti (Tier 1)
Modal inti terdiri dari modal disetor, modal sumbangan, cadangan-cadangan yang
dibentuk dari laba setelah pajak dan laba diperoleh setelah perhitungan pajak.
-

Modal inti yaitu modal yang telah disetor secara efektif oleh pemiliknya.
Modal sumbangan, yaitu modal yang dieroleh kembali dari sumbangan saham,
termasuk selisih antara nilai yang tercatat dengan harga jual apabila saham tersebut

dijual. Modal ini sering disebut modal donasi.


Cadangan umum, yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang ditahan
atau dari laba bersih setelah dikurangi pajak, dan mendapat persetujuan dari rapat
umum pemegang saham.

Cadangan tujuan, yaitu bagian laba yang dikurangi pajak yang disisihkan untuk

tujuan tertentu dan telah mendapat persetujuan rapat umum pemegang saham.
Laba ditahan dimaksudkan adalah saldo laba bersih setelah dikurangi pajak yang

oleh rapat umum pemegang saham diputuskan untuk tidak dibagikan.


Laba tahun lalu adalah laba tahun-tahun lalu setelah dikurangi pajak yang belum

ditetapkan penggunaannya oleh rapat umum pemegang saham.


Laba tahun berjalan setelah dikurangi dengan taksiran hutang pajak. Laba tahun
lalu berjalan ini hanya diperhitungkan sebagai modal inti sebesar 50%.

Modal inti merupakan modal yang disetor para pemilik bank dan modal yang berasal
dari cadangan yang dibentuk ditambah dengan laba yang ditahan. Porsi terbesar modal inti
terletak pada modal saham yang disetor. Sedangkan selebihnya sangat tergantung laba yang
diperoleh dan kebijakan Rapat Umum Pemegang Saham.
Untuk modal disetor berupa saham biasa. Pemegang saham basa memliki hak suara,
sehingga dapat mengendalikan manajemen bank. Pada saham preferen, pemegangnya tidak
mempunyai hak suara namun pembagian dividennya akan didahulukan sebelum membayar
dividen saham biasa.
Pencatatan modal saham dilakukan sebesar harga nominal. Selisih harga saham diatas
nilai nominal dicatat sebagai agio saham. Selisih harga saham dibawah nilai nominal dicatat
sebagai disagio saham. Agio saham akan diamortisasi setiap akhir periode dan disagio saham
akan diakumulasi setiap akhir periode.
Harga saham atau nilai modal disetor (paid in capital) merupakan total yang dibayar
oleh pemegang saham kepada bank emiten untuk ditukarkan dengan saham preferen atau
saham biasa. Niai modal disetor merupakan penjumlahan nilai nominal ditambah dengan
disagio saham atau nilai nominal dikurangi disagio saham. Sedangkan nilai nominal
merupakan nilai kewajiban yang ditetapkan untuk tiap-tiap lembar saham. Nilai nominal
ditentukan berkaitan dengan kepentingan hukum, misalnya untuk proteksi terhadap kreditur.
Dalam hal bank emiten menerbitkan saham biasa dan saham preferen, maka penyajian dalam
neraca saham preferen harus didahulukan.
Contoh:
a. Tanggal 2 januari 2012 telah diterima setoran awal dana dari Bapak Surya Darma
untuk modal bank berupa uang tunai Rp 500.000.000, aktiva tetap berupa tanah
senilai Rp 600.000.000, kendaraan baru dan belum disusut senilai Rp 200.000.000,
inventaris kantor senilai Rp 200.000.000. setoran ini dicatat dalam bentuk saham
biasa untuk 150.000 lembar dengan nilai nominal Rp 10.000 per lembar, kurs
103%.
4

b. Tanggal 10 januari 2012 dijual saham biasa 10.000 lembar dengan nominal Rp
5000, kurs 97%. Pembayaran diterima tunai.
Tanggal
2/1/2012

Rekening
Dr. Kas
Dr. AT. Tanah
Dr. AT. Kendaraan
Dr. AT. inventaris kantor
Cr. Modal disetor saham biasa
Cr. Agio saham

Debit (Rp)
545.000.000
600.000.000
200.000.000
200.000.000

Kredit (Rp)

1.500.000.000
45.000.000

Dr. Kas
48.500.000
Dr. Disagio saham
1.500.000
Cr. Modal disetor saham biasa
50.000.000
Bank yang mengeluarkan saham sering menerima pesanan saham dari calon investor.
Saham yang dijual secara pesanan harus diserahkan setelah dilunasi seluruhnya. Perlakuan
akuntansi untuk pemesanan saham adalah emiten akan mendebit piutang pemesan saham dan
mengkredit modal saham yang dipesan.
Contoh transaksi pemesanan saham :
1. Tanggal 15 juni 2012 Bank Mitra Buana

menerima pesanan saham 100.000

lembar saham biasa dari PT Mirana dengan kurs 102. Harga nominal per lembar
Rp 10.000. uang muka pesanan saham diterima 60% tunai.
2. Tanggal 30 juni 2012 pesanan saham tersebut dilunasi secara tunai.
Tanggal
15/6-2012

30/6-2012

Rekening
Dr. Kas
Dr. Piutang- PT Mirana
Cr. Modal saham dipesan
Cr. Agio saham

Debit (Rp)
612.000.000
408.000.000

Dr. Kas
Dr. Modal saham dipesan
Cr. Piutang PT Mirana
Cr. Modal disetor-saham biasa

408.000.000
1.000.000.000

Kredit (Rp)
1.000.000.000
20.000.000

408.000.000
1.000.000.000

Bila dikemudian hari pemesanan saham tidak mampu melunasi kekurangannya dan
bank selaku emiten harus mencatatnya sesuai dengan perjanjian yang disepakati awal.
Contoh :
Bila pesanan saham yang dilakukan oleh PT Mirana tidak dilunasi, dan bank Mitra
Buana mengembalikannya sebesar 80% dari nilai yang telah dibayar, maka jurnalnya:
Tanggal
15/6-2012

Rekening
Dr. Agio saham
Dr. modal saham yang dipesan

Debit (Rp)
20.000.000
1.000.000.00

Kredit (Rp)

0
Cr. Piutang PT Mirana
Cr. Kas
Cr. Pendapatan lain-lain

408.000.000
489.000.000
122.400.000

Keterangan :
Telah Diterima Tunai =

Rp 612.000.000

Dikembalikan 80%

Rp 489.600.000

Pendapatan lain-lain =

Rp 122.400.000

Pembelian Kembali Saham


Pembelian kembali saham yang telah beredar dapat dilakukan dengan kerangka untuk
mempertahankan struktur kepemilikan, menghindari hostile takeover, memenuhi tuntutan
regulasi atau untuk mengimbangi penurunan skala operasi bank yang semakin menurun
sehingga tidak perlu modal besar. Saham yang dibeli kembali disebut saham treasuri.
Perlakuan akuntansi untuk saham treasuri terdiri dari dua macam. Yang pertama
dicatat berdasarkan harga perolehan dan cara lain saham dicatat sebesar harga nominal.
Saham yang diperoleh kembali dicatat sebesar harga perolehan, maka pada saat dijual kembali
juga dicatat atau dikreditkan sebesar harga perolehannya. Bila pembelian saham treasuri
dilakukan lebih dari satu kali, maka dapat digunakan Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama
(MTKP). Dan disajikan sebagai pengurang modal saham.
Pencatatan didasarkan pada harga nominal. Pada metode ini saham yang diperoleh
kembali dicatat sebesar harga nominal dan disajikan sebagai pengurang terhadap modal
saham.

Contoh :
a. Tanggal 1 juni 2012 Bank ABC melakukan emisi saham biasa 100.000 lembar
dengan nominal Rp 5000 per lembar. Kurs 106.
b. Tanggal 30 juni 2012 Bank ABC membeli kembali 10.000 lembar sahamnya
dengan kurs 103.
c. Tanggal 30 juli 2012 Bank ABC menjual kembali saham treasuri sebanyak 10.000
lembar dengan kurs 104.
d. Tanggal 1 agustus 2012 Bank ABC menjual kembali 10.000 lembar saham treasuri
dengan kurs 96.

Jurnal untuk transaksi ini adalah :


Metode harga perolehan
Tanggal
1/6-2012

30/6-2012

30/7-2012

Rekening
Dr. Kas
Cr. Modal saham
Cr. Agio saham

Debit (Rp)
530.000.000

Dr. saham treasuri


Cr. kas

51.500.000

Dr. kas
Cr. Saham treasuri
Cr. Tambahan modal- ST

52.000.000

1/8-2012

500.000.000
30.000.000

51.500.000

51.500.000
500.000

Dr. kas
Dr. tambahan modal - ST
Cr. Saham treasuri
Metode harga nominal

48.000.000
3.500.000

Tanggal
1/6-2012

Rekening
Dr. Kas
Cr. Modal saham
Cr. Agio saham

Debit (Rp)
530.000.000

Dr. saham treasuri


Dr. agio saham
Cr. kas

50.000.000
1.500.000

Dr. kas
Cr. Saham treasuri
Cr. Agio modal saham

52.000.000

Dr. kas
Dr. agio modal saham
Cr. Saham treasuri

48.000.000
2.000.000

30/6-2012

30/7-2012

1/8-2012

Kredit (Rp)

51.500.000
Kredit (Rp)
500.000.000
30.000.000

51.500.000

50.000.000
2.000.000

50.000.000

Penarikan Kembali Saham Treasuri


Saham treasuri yang ditarik kembali, berarti saham tersebut tidak diedarkan kembali.
Perlakuan akuntansi untuk saham treasuri yang ditari tergantung metode pencatatannya. Bila
berdasarkan harga perolehan, sebagaimana kita perhatikan sebelumnya bahwa bank tidak
mengakui kenaikan ataupun penurunan modal dari saham treasuri yang diperoleh, maka
kenaikan atau penurunan saham treasuri harus diakui pada saat

saham tersebut ditarik

kembali. Bila pencatatannya didasarkan pada harga nominal, maka bank telah mengakui
7

kenaikan atau penurunannya, sehingga pada saat penarikan tidak perlu mengakui selisih atau
kenaikan/penurunan tersebut.
Contoh :
Misalkan setelah terjadi transaksi pembelian kembali saham treasuri di Bank ABC pada
tanggal 30 juni 2012, Bank ABC menyatakan menarik 10.000 lembar saham treasuri tersebut
pada tanggal 15 juli 2012. Maka pencatatannya adalah :
Berdasarkan metode harga perolehan
Tanggal
15/6-2012

Rekening
Debit (Rp)
Dr. modal saham
50.000.000
Dr. agio saham
3.000.000
Cr. Tambahan modal Sh.

Treasuri
Cr. Saham treasuri
Berdasarkan metode harga nominal
Tanggal
15/7-2012

Rekening
Dr. modal saham
Cr. Saham treasuri

Kredit (Rp)

1.500.000
51.500.000

Debit (Rp)
50.000.000

Kredit (Rp)
50.000.000

2. Modal Pelengkap (Tier 2)


Modal pelengkap terdiri atas cadangan-cadangan yang dibentuk tidak berasal dari
laba, modal pinjaman, serta pinjaman subordinasi.
-

Cadangan revaluasi aktiva tetap, yaitu cadangan yang dibentuk dari selisih
penilainan kembali aktiva tetap yang telah mendapat persetujuan dari Direktorat

Jendral Pajak.
Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang dibentuk dengan cara membebani
laba rugi tahun berjalan, dengan maksud untuk menampung kerugian
yangmungkin timbul sebagai akibat dari tidak diterimanya kembali sebagian atau

seluruh aktiva produktifnya.


Modal pinjaman, yaitu utang yang didukung oleh instrument atau warkat yang
memiliki sifat-sifat seperti modal dan mempunya cirri-ciri tidak dijamin oleh bank
yang bersangkutan, tidak dapat ditarik atau dilunasi atas inisiatif pemilik tanpa
persetujuan BI, mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal jumlah
kerugian bank melebihi laba ditahan dan cadangan-cadangan yang termasuk modal
inti, meskipun bank belum likuidasi, dan pembayaran bunga dapat ditangguhkan
apabila bank dalam keadaan rugi atau labanya tidak mendukung untuk membayar
bunga tersebut.
Pencatatan modal pinjaman dimulai saat penerbitan atau penjualan warkat modal
pinjaman. Modal pinjaman dicatat sebesar nilai nominal. Biaya-biaya penerbitan
8

warkat modal pinjaman dapat ditangguhkan dan diamortisasi secara sistematis


selama taksiran jangka waktunya, yang selama-lamanya 5 tahun.
-

Pinjaman subordinasi, yaitu pinjaman yang memenuhi syarat-syarat ada perjanjian


tertulis, mendapat persetujuan BI dan tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan
dan telah disetor penuh dengan minimal jangka waktu 5 tahun, pelunasan sebelum
jatuh tempo harus mendapatkan persetujuan BI serta hak tagih berada pada urutan
paling akhir dalam hal bank likuidasi.

Akuntansi Pinjaman Subordinasi


Akuntansi untuk pos ini prinsipnya sama dengan akuntansi pinjaman diterima.
Pencatatan dimulai dari komitmen disepakati, kemudian pada saat realisasi, dan pencatatan
selama periode pinjaman subordinasi berupa angsuran pokok dan bunga.
Tanggal/keterangan
Komitmen ditanda
tangani
Saat pinjaman
direalisasi

Rekening
Dr. fasilitas pinjaman subordinasi
Disetujui dan belum direalisasi

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Cr. Fasilitas pinjaman


Subordinasi disetujui dan
belum direalisasi
Dr. giro BI
Cr. Pinjaman subordinasi

Penyesuaian bunga
Dr. biaya bunga
Akhir
setiap
akhir
Cr. Bunga yang masih harus
periode
Pembayaran

dibayar
bunga Dr. bunga yang masih harus

setelah penyesuaian
Saat pelunasan

dibayar
Cr. Giro BI /bank-bank -lain
Dr. pinjaman subordinasi
Cr. Giro BI/Bank-bank lain

3. Modal Pelengkap Tambahan (Tier 3)


1. Bank dapat memperhitungkan modal pelengkap tambahan untuk tujuan
perhitungan Kebutuhan Penyediaan Modal Minimum (KPMM) atau Capital
Adequacy Ratio (CAR) secara individu dan/atau secara konsolidasi dengan
perusahaan anak.
2. Modal pelengkap tambahan dalam perhitungan KPMM hanya dapat digunakan
untuk memperhitungkan risiko pasar.
9

3. Pos yang dapat diperhitungkan sebagai modal pelengkap tambahan adalah


pinjaman subordinasi jangka pendek yang memenuhi criteria sebagai berikut:
Tidak dijamin oleh bank atau perusahaan anak yang bersangkutan dan telah
disetor penuh
Memiliki jangka waktu perjanjian sekurang-kurangnya 2 tahun
Yidak dapat dibayar sebelum jadwal waktu yang ditetapkan dalam
perjanjian pinjaman kecuali dengan persetujuan BI
Terdapat klausula yang mengikat (lock-in-clause) yang menyatakan bahwa
tidak dapat dilakukan pembayaran pokok atau bunga, termasuk
pembayaran pada saat jatuh tempo, apabila pembayaran dimaksud dapat
menyebabkan KPMM secara individual atau secara konsolidasi dengan
perusahaan anak tidak memenuhi ketentuan yang berlaku.
Terdapat perjanjian pinjaman yang jelas termasuk jadwal pelunasannya,
dan
Memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari BI.
4. Modal pelengkap tambahan untuk memperhitungkan risiko pasar hanya dapat
digunakan dengan memenuhi criteria :
a. Tidak melebihi 25% dari bagian modal inti yang dialokasikan untuk
memperhitungkan risiko pasar
b. Jumlah modal pelengkap dan modal pelengkap tambahan paling tinggi sebesar
100% dari modal inti
5. Modal pelengkap yang tidak digunakan dapat ditambahkan untuk modal pelengkap
tambahan dengan memenuhi persyaratan pada poin 4 ini.
6. Pinjaman subordinasi sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku dan
melebihi 50% modal ini, dapat digunakan sebagai komponen modal pelengkap
tambahan dengan tetap memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada poin 4
ini.
RASIO KECUKUPAN MODAL BANK PERKREDITAN RAKYAT
Tata cara perhitungan kecukupan modal bank perkreditan rakyat dapat dilakukan dengan cara:
1. Dalam menghitung ATMR, pos pos aktiva diberikan bobot risiko yang besarnya
didasarkan pada risiko yang terkandung pada aktiva itu sendiri atau risiko yang
didasarkan pada jenis aktiva, golongan debitur, penjamin atau sifat barang jaminan.
2. Dengan memperhatikan prinsip pada angka 1 maka rincian bobot risiko adalah:
0%

a. Kas
b. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
c. Kredit dengan agunan berupa SBI, tabungan dan deposito yang diblokir
10

pada BPR yang bersangkutan disertai dengan surat kuasa pencairan emas
dan logam mulia, sebesar nilai terendah antara agunan dan baki debet.
20%

d. Kredit kepada Pemerintah Pusat.


a. Giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan serta tagihan
lainnya kepada bank lain.

40%

b. Kredit kepada atau yang dijamin oleh bank lain atau Pemerintah Daerah.
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang dijamin oleh hak tanggungan pertama

50%

dengan tujuan untuk dihuni.


a. Kredit kepada atau yang dijamin oleh BUMN atau BUMD. Yang
dimaksud dengan BUMN sebagai penjamin adalah lembaga penjamin
kredit milik Pemerintah Pusat. Yang dimaksud dengan BUMD sebagai
penjamin adalah BUMD yang melakukan usaha sebagai perusahaan
penjamin dan melakukan perjanjian kerjasama penjaminan kredit dengan
lembaga penjamin kredit milik Pemerintah Pusat.
b. Kredit kepada pegawai/pensiunan, yang memenuhi persyaratan sbb:
1. Pegawai/pensiunan yang menerima kredit adalah:
a. Pegawai negeri sipil (PNS), anggota TNI/POLRI, pegawai
lembaga negara atau pegawai BUMN/BUMD;
b. Pensiunan PNS, pensiunan anggota TNI/POLRI, pensiunan
pegawai lembaga negara atau pensiunan pegawai BUMN/BUMD;
2. Pegawai/pensiunan dijamin dengan asuransi jiwa dari perusahaan
asuransi yang memiliki kriteria:
a. Memiliki izin usaha dari instansi yang berwenang;
b. Laporan keuangan terakhir telah diaudit oleh akuntan publik dan
memenuhi ketentuan tingkat solvabilitas minimun sesuai dengan
ketentuan perundang undangan yang berlaku; dan
c. Tidak merupakan pihak terkait dengan BPR.
3. Pembayaran angsuran/pelunasan kredit bersumber daru gaji/pensiun
berdasarkan Surat Kuasa Memotong Gaji/Pensiun kepada BPR. Dalam
hal pembayaran gaji/pensiun dilakukan melalui bank lain atau BUMN
lain, maka BPR harus memiliki perjanjian kerjasama dengan bank lain
atau BUMN lain pembayar gaji/pensiun untuk melakukan pemotongan
gaj/pensiun dalam rangka pembayaran angsuran/pelunasan kredit; dan
4. BPR manyimpan asli surat pengangkatan pegawai atau surat
keputusan pensiun atau Kartu Registrasi Induk Pensiun (KARIP) dan
11

85%

polis pertanggungan asuransi jiwa debitur.


Kredit kepada usaha mikro dan kecil. Kredit kepada usaha mikro adalah
kredit dengan plafon sampai dengan Rp. 50.000.000,00 (Lima puluh juta

100%

rupiah) sampai dengan Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah)


a. Kredit kepada atau yang dijamin oleh perorangan, koperasi atau kelompok
dengan perusahaan lainnya.
b. Aktiva tetap dan inventaris (nilai buku).

c. Aktiva lainnya selain tersebut diatas.


3. Aktiva produktif dengan kualitas Kurang Lancar, Diragukan atau Macet dalam
perhitungan ATMR dinilai sebesar nilai buku yaitu setelah dikurangi dengan
Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) khusus dari aktiva produktif dengan
kualitas Kurang Lancar, Diragukan dan Macet. Penilaian kualitas aktiva produktif
(KAP) dan PPAP mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai
KAP dan PPAP BPR.
Tabel 1

Perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) BPR


Komponen

Nominal

Bobot risiko (%)

ATMR

ATMR

I.

AKTIVA NERACA

I.1. Kas

I.2. Sertifikat Bank Indonesia (BI)

I.3. Kredit dengan angunan berupa SBI, tabungan dan

deposito yang diblokir pada BPR yang bersangkutan


disertai dengan surat kuasa pencairan emas dan logam
mulia, sebesar nilai terendah antara agunan dan baki
debet
I.4. Kredit kepada Pemerintah Pusat

*)

deposito,

*)

20

I.6. Kredit kepada atau yang dijamin bank lain atau

*)

20

*)

40

I.5. Giro,deposito

berjangka,

sertifikat

tabungan,serta tagihan lainnya kepada bank lain

Pemerintah Daerah
I.7. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang dijamin oleh hak
tanggungan pertama dengan tujuan untuk dihuni

12

I.8. Kredit kepada atau yang dijamin oleh bank lain atau

*)

50

I.9. Kredit kepada pegawai/pensiunan

*)

50

I.10.

*)

85

*)

100

BUMN/BUMD

Kredit kepada usaha mikro dan kecil

I.11.Kredit kepada atau yang dijamin oleh :


a.

Perorangan

b.

Koperasi

c.

Kelompok dan perusahaan lainnya

I.12.

Aktiva tetap & inventaris (nilai buku)

*)

100

I.13.

Aktiva lainnya selain tersebut diatas

*)

100

II JUMLAH ATMR

Tata Cara Perhitungan Kebutuhan Modal Minimum


Perhitungan kebutuhan modal minimum Bank Perkreditan Rakyat dilakukan dengan cara
sebagai berikut:
1. Perhitungan kebutuhan modal didasarkan pada ATMR yang dihitung dengan cara
mengalikan nilai nominal pos-pos aktiva produktif dengan kualitas Kurang Lancar,
Diragukan atau Macet dilakukan dengan cara mengalikan nilai buku dengan bobot risiko
masing-masing. Dalam hal ini ATMR mengacu pada SE no. 8/28/DPBI/2006 dan untuk
Kualitas Aktiva Produktif mengacu pada PBI no. 8/19/PBI/2006.
2. Menjumlahkan ATMR dari masing-masing pos aktiva.
3. Menjumlahkan modal inti dan modal pelengkap untuk mengetahui jumlah modal BPR.
4. Menghitung modal minimum dengan cara mengalikan jumlah ATMR dengan8% (delapan
perseratus).
5. Menghitung kekurangan modal dengan cara membandingkan jumlah modal minimum
pada angka 4 dengan jumlah modal pada angka 3.
6. Menghitung KPMM dengan cara membandingkan jumlah modal BPR pada angka 3
dengan ATMR pada angka 2.
Tabel 2
Perhitungan Kebutuhan Modal Minimum BPR
KETERANGAN

JUMLAH SETIAP
KOMPONEN

JUMLAH

MODAL
13

I MODAL INTI
1.1 Modal disetor
1.2 Agio
1.3 Disagio
1.4 Modal disumbangkan
1.5 Dana setoran modal
1.6 Cadangan umum
1.7 Cadangan tujuan
1.8 Laba ditahan
1.9 Laba tahun-tahun lalu
1.10 Rugi tahun-tahun lalu
1.11 Laba tahun berjalan setelah dikurangi
kekurangan PPAP (Max. 50% setelah dikurangi
taksiran hutang PPh)
1.12 Rugi tahun berjalan
1.13 Sub total
1.14 Goodwill
1.15 Jumlah modal inti
II MODAL PELENGKAP
2.1 Cadangan revaluasi aktiva tetap
2.2 Penyisihan penghapusan aktiva produktif
umum (max. 1,25% dari ATMR)
2.3 Modal pinjaman
2.4

Pinjaman subordinasi, (maks. 50% dari

modal inti)
2.5 Jumlah modal pelengkap (maks. 100% dari
modal inti)
III

JUMLAH MODAL (1.15-2.5)

MODAL MINIMUN (8% X ATMR)


JUMLAH KEKURANGAN MODAL
14

RASIO PMM (CAR=JUMLAH MODAL/ATMR)


Contoh:
BPR XYZ mempunyai laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi per 31
Desember 2011 seperti pada tabel 3 dan 4 berikut ini:
Tabel 3
Neraca BPR XYZ per 31 Desember 2011
A
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Aktiva:
Kas
Antar bank aktiva
Wesel promes dan tagihan lainnya
Efek-efek
Kredit diberikan
Penyisihan penghapusan aktiva produktif
Aktiva tetap dan inventaris
Akumulasi aktiva tetap dan inventaris
Rupa rupa aktiva
Jumlah aktiva

B
1

Pasiva:
Kewajiban segera dibayar:
a. Pemerintah
b. Lainnya
Tabungan
Deposito berjangka
Pinjaman diterima pihak III bukan bank
Antar bank pasiva
a. Pinjaman diterima
b. Deposito berjangka
Rupa-rupa pasiva
Modal disetor:
a. Modal dasar
b. Belum disetor
Laba/rugi (ditahan)

2
3
4
5
6
7
8

Jumlah (Rp)
63.647.000
21.869.000
6.158.978.000
-205.541.000
295.233.000
40.750.000
25.028.000
6.318.464.000

11.800.000
125.091.000
3.885.000.000
650.000.000
498.484.000
510.000.000
104.000
500.000.000
137.985.000
6.318.464.000

Tabel 4
Laporan laba/rugi BPR XYZ per 31 desember 2011
No.
1

Rekening
Pendapatan operasional:
a. Pendapatan bunga

Jumlah (Rp)
1.660.100.000
15

2
3

4
5
6
7

b. Provisi dan komisi


c. Pendapatan lainnya
Jumlah pendapatan operasional
Pendapatan non operasional
Jumlah pendapatan
Biaya operasional:
a. Biaya bunga
b. Biaya tenaga kerja
c. Biaya sewa gedung kantor
d. Biaya pemeliharaan dan perbaikan
e. Biaya pengadaan barang dan jasa pihak III
f. Biaya honorarium
g. Biaya penyisihan penghapusan AP
h. Biaya penyusutan
i. Biaya operasional lainnya
Jumlah biaya operasional
Biaya non operasional
Jumlah biaya
Rugi/laba tahun berjalan sebelum pajak (laba)
Sisa rugi/laba tahun lalu sebelum pajak (laba)
Jumlah laba

100.462.000
13.230.000
1.773.792.000
9.750.000
1.783.542.000
1.390.409.000
75.525.000
2.500.000
16.130.000
19.996.000
150.000
123.500.000
50.270.000
39.694.000
1.718.174.000
4.520.000
1.722.694.000
60.848.000
77.137.000
137.985.000

Tabel 5
Hasil perhitungan ATMR BPR XYZ per 31 desember 2011
No
.
I

Keterangan
Aktiva

tertimbang

Jumlah (a)
menurut

Bobot

ATMR (Rp)

risiko (b)

axb

risiko

(ATMR)
Aktiva neraca:
1. Kas
63.647.000
2. Sertifkat bank indonesia
3. Kredit dengan agunan berupa SBI,

tabungan dan deposito yang diblokir pada


BPR yang bersangkutan disertai dengan

surat kusa pencairan emas dan logam


mulia, sebesar nilai terendah antara
agunan dan baki debet.
4. Kredit kepada pemerintah pusat
5. Giro, deposito berjangka, sertifikat
deposito tabungan serta tagihan lainnya
6. Kredit kepada atau yang dijamin bank
lain/pemerintah daerah
7. KPR yang dijamin oleh hipotik/hak

0
21.869.000

20

4.373.800

20
40
16

tanggungan pertama dengan tujuan huni


8. Kredit kepada atau yang dijamin oleh
bumn/bumd
9. Kredit kepada pegawai/perusahaan
10. Kredit kepada pegawai/pensiunan
11. kredit kepada usaha mikro dan kecil

50
50
6.158.978.00
0

85

5.235.131.30
0

12. Tagihan kepada atau tagihan yang


dijamin oleh
a. BUMD
b. Perorangan
c. Koperasi
d. Perusahaan lainnya
e. Lain-lain
13. Aktiva tetap dan inventaris (nilai
buku)
14. Aktiva lainnya selain disebut di atas

100
100
100
100
100
244.483.000

100

244.483.000

25.028.000

100

25.028.000
5.509.016.10

Jumlah ATMR

Tabel 6
Hasil perhitungan CAR BPR XYZ per 31 desember 2011
No
.
II

Keterangan

Jumlah
komponen (RP)

per

Jumlah (Rp)

Modal
1. Modal inti
1.1 Modal disetor
1.2 Modal disumbangkan
1.3 Cadangan umum
1.4 Cadangan tujuan
1.5 Laba ditahan
1.6 Laba tahun-tahun lalu
1.7 Rugi tahun-tahun lalu -/1.8 Laba tahun berjalan (50%)
1.9 Rugi tahun berjalan -/1.10 Sub total
1.11 Good will -/1.12 Jumlah modal inti
2. Modal Pelengkap
2.1 Cad. Rev. aktiva tetap
2.2 Penyisihan penghapusan aktiva
produktif (maks. 1.25% ATMR)

500.000.000

77.137.000
30.424.000
607.561.000
607.561.000

80.410.785
17

2.3 Modal kuasi


2.4 Pinjaman subordinasi, (maks.
50% modal inti)
2.5 Jumlah modal pelengkap
80.410.785
2.6 Jumlah modal pelengkap yang
diperhitungkan

(maks.

100%

dari

80.410.785

modal inti)
Jumlah modal (1.12+2.6)

687.971.785

III

Modal Maksimum (8% ATMR)

440.721.288

IV

Kelebihan atau kekurangan modal

247.250.497

CAR = (Jumlah modal / ATMR) x


100%

12,49%

RASIO KECUKUPAN MODAL (CAPITAL ADEQUACY RATIO) BANK UMUM


Perhitungan rasio kecukupan modal pada bank umum memiliki perbedaan dengan tata
cara perhitungan rasio kecukupan modal pada BPR. Pada bank umum, untuk menentukan
kecukupan modal perlu memasukkan risiko pasar. Untuk menentukan besaran risiko pasar
dalam perhitungan kecukupan modal dapat menggunakan metode standar dan metode internal
(tidak dibahas).
Metode standar menggunakan pendekatan pengukuran risiko pasar dan perhitungan
kecukupan modal yang terstandardisir untuk seluruh bank sejak tahun 2003. Namun
berdasarkan perkembangan dan tuntutan yang ada termasuk sejalan dengan perkembangan
instrumen keuangan dan semakin komleksnya usaha bank, maka telah dilakukan
penyempurnaan kembali terhadap penggunaan metode standar dalam perhitungan kewajiban
penyediaan modal minimum dengan memperhitungkan risiko pasar.
Penggunaan metode standar dalam perhitungan kewajiban penyediaan modal
minimum bank umum dengan memperhitungkan risiko pasar dituangkan dalam surat edaran
BI no.9/33/DPNP tanggal 18 desember 2007. Pada intinya pendekatan ini adalah:
1. Pendekatan KPMM dengan memperhitungkan risiko kredit dan risiko pasar dilakukan
dengan formula sebagai berikut:
KPMM = (Tier 1 + Tier 2 + Tier 3) Pernyertaan
= 8% (minimum)
ATMR (risiko kredit) + 12.5 x Beban modal untuk risiko pasar

18

2. Sebelum mengalokasikan beban modal untuk risiko pasar sebagaimana dimaksud pada
angka 1, bank wajib memenuhi KPMM untuk risiko kredit yaitu minimal sebesar 8% sesuai
ketentuan yang berlaku dengan formula:
KPMM = (Tier 1 + Tier 2) Pernyertaan = 8% (minimum)
AMTR (risiko kredit)

3. Dalam perhitungan KPMM secara konsolidasi, perhitungan modal, risiko kredit dan risiko
pasar dilakukan terhadap data/posisi secara konsolidasi.
4. Dalam melakukan perhitungan sebagaimana dimaksud dalam angka 1, bank harus
melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menghitung aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) untuk risiko kredit sesuai
ketentuan yang berlaku.
b. Menghitung jumlah beban modal untuk seluruh jenis risiko pasar.
c. Untuk menghindari duplikasi perhitungan risiko terhadap surat berharga, eksposur
yang termasuk dalam trading book yang telah diperhitungkan risiko spesifik untuk
risiko suku bunga, seperti obligasi yang diterbitkan oleh BUMN/Swasta dikeluarkan
dari perhitungan ATMR berdasarkan risiko kredit.
d. Menghitung eksposur tertimbang menurut risiko pasar (market risk weighted
exposures), dengan cara mengkonversikan jumlah beban modal untuk seluruh jenis
pasar sebagaimana dimaksud pada huruf b menjadi ekuivalen dengan ATMR
(dikalikan dengan angka 12,5, yaitu 100/8).
e. Menjumlahkan ATMR untuk risiko kredit dengan eksposur tertimbang menurut risiko
pasar.
f. Menghitung modal bank yang terdiri atas modal inti (tier 1), modal pelengkap (tier 2),
dan modal pelengkap tambahan (tier 3) yang dialokasikan untuk menutup risiko pasar
setelah dikurangi penyertaan. Dalam perhitungan KPMM secara konsolidasi,
penyertaan yang menjadi pengurang modal adalah penyertaan bank kepada perusahaan
anak yang tidak wajib dikonsolidasikan sesuai ketentuan yang berlaku.
g. Membagi total modal sebagaimana dimaksud pada huruf f dengan jumlah ATMR dan
eksposur tertimbang sebagaimana dimaksud pada huruf e, yang hasilnya dinyatakan
dalam persentase.
5. Modal pelengkap tambahan (tier 3) yang digunakan dalam perhitungan rasio KPMM adalah
sebesar modal yang dibutuhkan untuk menutup risiko pasar.

19

6. Modal pelengkap tambahan (tier 3) yang memenuhi persyaratan namun tidak digunakan
dalam perhitungan rasio KPMM sebagaimana dimaksud pada angka 4, dihitung sebagai rasio
kelebihan modal pelengkap tambahan (excess tier 3 capital ratio), dengan formula:
Rasio kelebihan modal pelengkap
tambahan =
Kelebihan modal pelengkap
tambahan

Dengan demikian perhitungan rasio kecukupan modal atau kebutuhan penyediaan


modal minimum (KPMM) dapat menggunakan formulir seperti tabel 8 (untuk bank yang
tidak memenuhi anak perusahaan) dan tabel 9 untuk bank umum yang memiliki anak
perusahaan.

Tabel 7
Formulir perhitungan aktiva tertimbang menurut risiko sesuai SE BI No. 8/3/DPNP per 30
Januari 2006
No.
A
I

Aktiva Administratif

Nominal
(Rp)

AKTIVA NERACA (Rupiah dan Valas)


Aktiva Neraca (Rupiah dan Valas)
1. Kas
2. Emas dan Commemorative Coins:
2.1.

Bobot
Risiko

ATMR

(Rp)
0

Emas dan mata uang emas

2.2.
Commemorative coins
3. Bank indonesia

3.1.

Giro pada bank indonesia

3.2.

Sertifikat bank indonesia

3.3.

Call money

3.4.
Lainnya
4. Tagihan pada bank lain:

4.1.

Pada bank sentral negara lain

*)

4.2.

Pada bank lain yang dijamin oleh *)

pemerintah pusat dan bank sentral


4.3.

Pada bank lain

*)

20
20

5. Surat berharga yang dimiliki:


5.1.

Treasury bill negara lain

*)

5.2.

Sertifikat bank sentral negara lain

*)

5.3.

Surat berharga pasar uang/pasar modal

5.3.1. Yang diterbitkan dan dijamin oleh *)

dll
bank sentral dan pemerintah pusat
5.3.2. Yang diterbitkan dan dijamin dengan
uang kas, uang kertas asing, emas,
mata uang emas, serta giro, deposito
tabungan pada bank bersangkutan, *)

sebesar nilai dari jaminan tersebut.


5.3.3. Yang diterbitkan atau dijamin oleh
bank

lain,

lembaga

pemerintah

non

daerah,

departemen

di *)

20

Indonesia, dan bank pembangunan


multilateral
5.3.4. Yang diterbitkan dan dijamin oleh *)
BUMN

dan

perusahaan

50

milik

pemerintahan pusat negara lain

*)

100

6.1.1. Bank sentral

*)

6.1.2. Pemerintah pusat

*)

6.1.3. Uang kas, uang kertas asing, emas, *)

5.3.5. Yang diterbitkan dan dijamin oleh


swasta lainnya
6. Kredit
6.1.

Kredit yang diberikan kepada atau


dijamin oleh/dengan:

mata uang emas serta giro, deposito


tabungan pada bank bersangkutan
sebesar nilai dari jaminan tersebut.
6.1.4. Bank

lain,

pemerintah

daerah, **)

20

lembaga non departemen di Indonesia,


bank pembangunan multilateral
6.1.5. BUMN

dan

perusahaan

milik *)

50
21

pemerintah pusat negara lain


6.1.6. Pihak-pihak lainnya.
6.2.

*)

KPR yang dijamin oleh hak *)


tanggungan

pertama

dengan

100
40

tujuan

dihuni

*)

50

*)

85

dijamin

*)

7.1.1. Bank sentral

*)

7.1.2. Pemerintah pusat

*)

*)

20

*)

50

*)

100

*)

100

6.3.

Kredit pegawai/pensiun

6.4.
Kredit usaha kecil
7. Tagihan lainnya
7.1.

Tagihan

lainnya

kepada

atau

7.1.3. Uang kas, yang kertas asing, emas,


mata uang emas, serta giro, deposito
tabungan

pada

bank

bersangkutan

sebesar nilai dari jaminan tersebut.


7.1.4. Bank lain, pemerintah daerah, lembaga
non departemen di Indonesia, bank
pembangunan multilateral
7.1.5. BUMN

dan

perusahaan

milik

pemerintah pusat negara lain


7.1.6. Pihak-pihak lainnya.
8. Penyertaan
Penyertaan pada anak perusahaan -/9. Aktiva tetap dan inventaris (nilai buku)
9.1.

Tanah gedung +/+

100

9.2.

Akumulasi penyusutan gedung -/-

9.3.

Inventaris +/+

100

9.4. Akumulasi penyusutan inventaris -/10. Antar kantor aktiva (netto)


10.1. Kegiatan

operasional

di

Indonesia

(aktiva)
10.2. Kegiatan

100
100

operasional

di

Indonesia

100

(pasiva)
22

10.3. Kegiatan operasional di luar Indonesia

100

(aktiva)
10.4. Kegiatan operasional di luar Indonesia
(pasiva)
11. Rupa-rupa aktiva
12. Tidak terinci
13. ATMR Aktiva Neraca
B

100
100

REKENING ADMINISTRATIF (Rupiah dan


Valas)
1. Fasilitas kredit yang belum digunakan yang
disediakan

sampai

dengan

akhir

tahun

takwim berjalan yang disediakan bagi, atau


dijamin oleh/dengan, atau yang dijamin surat
berharga yang diterbitkan oleh:
1.1.

Fasilitas kredit yang diberikan/dijamin

1.1.1. Bank sentral

*)

1.1.2. Pemerintah pusat

*)

1.1.3. Uang kas, uang kertas asing, emas, *)

mata uang emas, serta giro, deposito,


tabungan pada bank bersangkutan
sebesar nilai dari jaminan tersebut.
1.1.4. Bank

lain,

lembaga

pemerintah

non

Indonesia,

daerah, *)

departemen

bank

di

pembangunan

multilateral
1.1.5. BUMN

dan

10

perusahaan

*)

25

*)

50

*)

20

*)

25

*)

42,5

milik

pemerintah pusat negara lain


1.1.6. Pihak pihak lainnya
1.2.

KPR yang dijamin oleh hipotik


pertama dengan tujunan untuk dihuni

1.3.

Kredit pegawai/pensiunan

1.4.
Kredit usaha kecil
2. Jaminan bank:
2.1.

Dalam rangka pemberian kredit


23

termasuk Standby L/C dan risk sharing


serta endosemen atau aval surat surat
berharga yang diberikan atas permintaan:
2.1.1. Bank sentral dan pemerintah pusat
2.1.2. Bank

lain,

lembaga

pemerintah

non

Indonesia,

daerah, *)

departemen

bank

*)

dan

20

di

pembangunan

multilateral
2.1.3. BUMN

*)

50

*)

100

*)

*)

10

pembangunan *)

25

perusahaan

milik

pemerintah pusat negara lain


2.1.4. Pihak-pihak lainnya
2.2.

Bukan dalam rangka pemberian


kredit, seperti bid bonds, performanve
bonds dan advance payment bonds yang
diberikan atas permintaan:

2.2.1. Bank sentral dan pemerintah pusat


2.2.2. Bank

lain,

lembaga

pemerintah

non

Indonesia,

daerah,

departemen

bank

di

multilateral
2.2.3. BUMN

dan

perusahaan

milik *)

50

pemerintah pusat negara lain


2.2.4. Pihak-pihak lainnya
2.3.

L/C yang masih berlaku (tidak


termasuk standby L/C) yang diberikan *)

atas permintaan:

*)

2.3.1. Bank sentral dan pemerintah pusat


2.3.2. Bank

lain,

lembaga

pemerintah

non

Indonesia,

daerah,

departemen

bank

di *)

pembangunan

multilateral
2.3.3. BUMN

dan

10

*)
perusahaan

20

milik
24

pemerintah pusat negara lain


2.3.4. Pihak pihak lainnya
3. Jumlah ATMR rekening administratif
C. Jumlah ATMR (A13+B.3)
Keterangan:
*)

..........

diisi dengan jumlah nominal setelah dikurangi cadangan khusus penyisihan

penghapusan aktiva yang telah dibentuk oleh bank.


**)

diisi dengan jumlah setelah dikurangi dengan penyisihan dalam rangka restrukturisasi

kredit dan pendapatan yang ditangguhkan yang berasal dari restrukturisasi kredit.
Tabel 8
Formulir Perhitungan Rasio Kecukupan Modal Minimum Dengan Memperhitungkan Risiko
Pasar (Tanpa Atau Tidak Ada Perusahaan Anak)
1. Total Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk risiko kredit (sesuai
ketentuan yang berlaku mengenai KPMM)*
2. Modal inti (setelah diperhitungkan faktor pengurang, sesuai ketentuan yang
berlaku mengenai KPMM)*
3. Modal Pelengkap (setelah diperhitungkan faktor pengurang, sesuai ketentuan
yang berlaku mengenai KPMM)*
4. Penyertaan yang dilakukan Bank
5. Rasio Kewajiban Penyertaan Modal Minimum (CAR) untuk Risiko Kredit
6. Total ATMR Risiko Pasar
Risiko Perubahan Harga
Risiko suku bunga
Risiko
Option
Risiko
Risiko
Nilai
Total
Risiko
Risiko
Suku
Nilai
Tukar
Spesifik
Umum
Bunga
Tukar
F
G
H
I
J
K
7. Modal Inti yang dialokasikan untuk mengantisipasi Risiko Pasar (minimun
28.5% x total beban modal)
8. Modal Pelengkap yang dialokasikan untuk mengantisipasi Risiko Pasar
(yaitu yang dapat ditambahkan untuk Modal Pelengkap Tambahan)
9. Modal Pelengkap Tambahan yang memenuhi persyaratan

A
B
C
D
E

12,5xTotal
(Ekuivalen
ATMR)
L
M
N

Kelebihan Pinjaman Subordinasi yang tidak dapat diperhitungkan dalam


Modal Pelengkap
Pinjaman Subordinasi dengan maturitas awal minimum 2 tahun dan
memenuhi kriteria Pinjaman

Subordinasi yang dapat diperhitungkan sebagai

komponen modal
25

10. Modal pelengkap tambahan yang dialokasikan untuk mengantisipasi risiko

P
pasar
11. Total Modal (Modal inti + Modal Pelengkap + Modal Pelengkap Tambahan) Q
12. Dikurangi: ATMR untuk risiko kredit atas seluruh surat berharga dalam
R
Trading Book yang telah diperhitungkan risiko spesifik
13. Total ATMR (Risiko Kredit + Risiko Pasar)
S
14. Rasio kewajiban penyediaan modal minimum setelah memperhitungkan
T
risiko kredit dan risiko pasar
15. Rasio kelebihan modal pelengkap tambahan
U
Keterangan:
E = ((B+C)-D) / A;
K = F+G+H+I+J;
L = 12,5 x K;
S = A+L;
T = Q/S;
U = (O-P) / Q
Tabel 9
Perhitungan Rasio Kecukupan Modal Dengan Memperhitungkan Risiko Pasar (Konsolidasi
atau Ada Anak Perusahaan)
1. Total Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk risiko kredit (sesuai
ketentuan yang berlaku mengenai KPMM)*
2. Modal inti (setelah diperhitungkan faktor pengurang, sesuai ketentuan yang
berlaku mengenai KPMM)*
3. Modal Pelengkap (setelah diperhitungkan faktor pengurang, sesuai ketentuan
yang berlaku mengenai KPMM)*
4. Penyertaan yang dilakukan Bank
5. Rasio Kewajiban Penyertaan Modal Minimum (CAR) untuk Risiko Kredit
6. Total ATMR Risiko Pasar

A
B
C
D
E
12,5xT

Risiko suku
bunga

Risi
ko

Risiko

Risiko

Ekuitas

Option

Risi

ko

Spesi

Umu

fik

al

Tuk

ko

ar

spesi

umu

suku nilai

fik

bun

tuka

ga
L

r
M

tas

otal
(Ekuiva
len
ATMR)

Risik

Risi

komodi

Harga Tot

Risiko

Nila
Risik

Perubahan

Risi

Risi

ko

ko

Risi
ko
ekuit
as
N

Risiko
komodi
tas
O

Q
26

7. Modal Inti yang dialokasikan untuk mengantisipasi Risiko Pasar (minimun


28.5% x total beban modal)
8. Modal Pelengkap yang dialokasikan untuk mengantisipasi Risiko Pasar (yaitu
yang dapat ditambahkan untuk Modal Pelengkap Tambahan)
9. Modal Pelengkap Tambahan yang memenuhi persyaratan

R
S

Kelebihan Pinjaman Subordinasi yang tidak dapat diperhitungkan dalam Modal


Pelengkap
Pinjaman Subordinasi dengan maturitas awal minimum 2 tahun dan memenuhi
kriteria Pinjaman

Subordinasi yang dapat diperhitungkan sebagai komponen

modal
10. Modal pelengkap tambahan yang dialokasikan untuk mengantisipasi risiko

U
pasar
11. Total Modal (Modal inti + Modal Pelengkap + Modal Pelengkap Tambahan)
V
12. Dikurangi: ATMR untuk risiko kredit atas seluruh surat berharga dalam
W
Trading Book yang telah diperhitungkan risiko spesifik
13. Total ATMR (Risiko Kredit + Risiko Pasar)
X
14. Rasio kewajiban penyediaan modal minimum setelah memperhitungkan risiko
Y
kredit dan risiko pasar
15. Rasio kelebihan modal pelengkap tambahan
Z
Keterangan:
E = ((B+C)-D) / A;
P = F+G+H+I+J+K+L+M+N+O;
Q = 12,5 x P;
X = A+Q;
Y = V/X;
Z = (T-U) / V
TABEL 10
Contoh perhitungan KPPM Bank Umum
No.

Keterangan

Komponen Modal

30 juni 2006
(diaudit)

A. Modal Inti

2.146.573

1. Modal Disetor

811.494

2. Cadangan Tambaham Modal (Disclosed Reserves)


a. Agio saham

9.779.667

b. Disagio (-/-)
c. Modal sumbangan
27

d. Cadangan umum dan tujuan

265.096

e. Laba tahun berjalan setelah diperhitungkan pajak


f. Rugi tahun tahun lalu (-/-)

(8.824

g. Laba tahun berjalan setelah diperhitungkan pajak

.362)

h. Rugi tahun berjalan (-/-)

114.658

i. Selisih penjabaran laporan keuangan kantor cabang luar


negeri
1. Selisih lebih
2. Selisih kurang (-/-)
j. Dana setoran awal
k. Penurunan nilai penyertaan pada portofolio tersedia untuk
dijual (-/-)
3. Goodwill (-/-)
4. Selisih penilaian aktiva dan kewajiban akibat kuasi
reorganisasi

847.253
633.3

B. MODAL PELENGKAP (maksimal 100% dari modal inti)


1. Cadangan revaluasi aktiva tetap

172.554

2. Selisih penilaian aktiva dan kewajiban akibat kuasi


reorganisasi
3. Cadangan

umum

penyisihan

penghapusan

aktiva 41.399

produktif/PPAP (maksimum 1,25% dari ATMR)


4. Modal pinjaman
5. Pinjaman subordinasi, (maksimum 50% dari modal inti)
6. Peningkatan Harga Saham pada portofolio tersedia untuk
dijual (45%)
c. Modal Pelengkap Tambahan yang memenuhi persyaratan
d.

modal

Pelengkap

Tambahan

yang

dialokasikan

untuk

II

mengantisipasi Risiko Pasar


Total Modal Inti dan Modal Pelengkap (I.A. + I.B.)
2.993.826
Total modal inti, Modal Pelengkap dan Modal Pelengkap Tambahan 2.993.826

III

yang dialokasikan untuk mengantisipasi Risiko Pasar (I.A. + I.B. +

IV

I.D.)
Penyertaan (-/-)

-3.499
28

V
VI
VII
VIII
IX
X
XI
XII

Total Modal untuk Risiko Kredit (II IV)


Total Modal untuk Risiko Kredit dan Risiko Pasar (III IV)
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) Kredit
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) Pasar
Rasio Kewajiban Penyertaan Modal Minimum Yang Tersedia Untuk

2.990.327
2.990.327
13.804.344
1.163.194
21,66%

Risiko Kredit (V:VII)


Rasio Kewajiban Penyertaan Modal Minimum Yang Tersedia Untuk 19,98%
Risiko Kredit (V:VII+VIII)
Rasio Kelebihan Modal Pelengkap Tambahan ((C-D):(VII+VIII))
Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Yang Diwajibkan

8,00%

29