Anda di halaman 1dari 13

PAPER

Strategy Analysis and Choise Coca Cola Amatil Indonesia

Disusun oleh:
Cynthia Lestari (1306482602)
Dewi Yolanda (1306482640)
Fiqih Amalia Nurti (1306482804)
Hari Susanto (1306482924)
Vanny Monalisa R. (1306483776)

PROGRAM EKSTENSI FAKULTAS EKONOMI


UNIVERSITAS INDONESIA
2015

TENTANG COCA-COLA AMATIL INDONESIA


Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) merupakan produsen dan distributor minuman
non-alkohol siap minum terkemuka yang telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1992.
CCAI memproduksi dan mendistribusikan produk di bawah lisensi The Coca-Cola Company.
Kantor pusat Coca-Cola Amatil(CCA) terletak di Sydney, Australia, dan telah terdaftar di
Bursa Efek Australia. Dengan kapitalisasi pasar lebih dari US $ 10,2 miliar, induk perusahaan
CCAI

ini,

adalah

salah

satu

dari

20

perusahaan

unggulan

di

Australia.

CCA adalah salah satu perusahaan pembotolan terbesar minuman non-alkohol siap minum di
wilayah Asia-Pasifik dan salah satu dari 5 perusahaanpembotolan Coca-Cola terbesar di
dunia. CCA mempekerjakan hampir 16,000 orang dan memiliki akses ke lebih dari 270 juta
konsumen melalui lebih dari 690,000 pelanggan aktif.
CCA memiliki sejarah yang kaya dan beragam karena telah beroperasi lebih dari 100
tahun. Saat ini CCA beroperasi di enam negara, yaitu Australia, Selandia Baru, Fiji,
Indonesia, Papua Nugini dan Samoa.
CCA di Indonesia mempekerjakan lebih dari 8.000 pekerja lokal secara permanen dan
antara 2.000 hingga 4.000 pekerja sementarasesuai kebutuhan. Sejumlah besar pihak
eksternal seperti pelanggan, pemasok, dan penyedia layanan juga memperoleh pendapatan
dari hasil berbisnis dengan CCAI.
Saat ini CCAI memiliki 9 pabrik di seluruh Indonesia, yaitu Cibitung, Cikedokan,
Bandung, Semarang, Surabaya, Bali, Medan, Padang, dan Lampung dan beroperasi dengan
lebih dari 85 pusat distribusi di seluruh Indonesia. Untuk sumber bahan dasar minuman, jasa
dan barangyang tidak terkait dengan produk, CCAI memiliki lebih dari 2.800 pemasok.
SEJARAH COCA-COLA DI INDONESIA
Coca-Cola pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1962 dan diproduksi
secara lokal sejak tahun 1932. Setelah sempat berhenti beroperasi pada tahun 1942, CocaCola mulai diproduksi kembali oleh Indonesia Bottler Limited (IBL), perusahaan nasional
yang didirikan oleh TH Ticoalu, Tatang Nana, dan Harry Handoyo. Pabrik tersebut
memproduksi 1,000-1,500 cases Coca-Cola setiap harinya, dan mempekerjakan 25 orang
yang dibantu oleh 3-7 truk untuk pendistribusian.
Sejak tahun 1960-an, berbagai produk The Coca-Cola Company telah diperkenalkan
ke pasar Indonesia. Dan pada tahun 2000, 10 operasi pembotolan dikonsolidasikan di bawah
Coca-Cola Amatil Indonesia.

TIMELINE
1927 : Coca-Cola dijual pertama kali di Indonesia. Botol pertama diimpor oleh seorang
insinyur Belanda bernama de Koenig
1932 : Diproduksi secara lokal oleh pembotolan De Water Nederlands Indische Mineral
Fabriek, di Batavia, Indonesia
1945 : Hari Kemerdekaan Indonesia
1956 : Setelah Perang Dunia ke-II, dioperasikan kembali oleh The Indonesia Bottler Limited
(IBL)
1971 : Djaja Beverage Bottling memulai produksi kembali setelah era revolusioner di tahun
1960-an dan memperkenalkan Sprite
1973 : Fanta diperkenalkan di Indonesia
1977 : Pabrik Commercial Product Supply (CPS) didirikan untuk memenuhi pasokan bahan
dasar minuman
1985 : Bangun

Wenang

di

Manado

memulai

produksi

Coca-Cola

pertamanya

1986: Diet Coke diperkenalkan, menandakan kehadiran produk kaleng untuk pertama
kalinya di Indonesia
1992 : Coca-Cola Amatil Indonesia mulai beroperasi di Indonesia
1996 : Coca-Cola Amatil memulai produksi dalam botol plastik (PET) untuk pertama kalinya
2002 : Frestea diperkenalkan di Indonesia. Merk lokal air minum dalam kemasan, Ades,
diakuisisi
2008 : Minute Maid dan Coke Zero diperkenalkan di Indonesia
2011 : Ades dalam kemasan botol plastik ramah lingkungan diperkenalkan
2012 : CCAI mengakuisisi pabrik baru di Cikedokan, Bekasi
2013 : Aquarius diperkenalkan di Indonesia
2014 : Nutriboost diperkenalkan di Indonesia
COCA-COLA KINI
MERK DAN PORTFOLIO PRODUK
Saat ini CCAI memproduksi dan memasarkan 6 kategori minuman siap minum
dengan 13 merek. Produk Coca-Cola diproduksi dan dijual di dalam negeri oleh dua
perusahaan pembotolan lokal yang merupakan mitra resmi Coca-Cola.
Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1992
dan menyediakan semua varian produk perusahaan, termasuk air minum dalam kemasan
botol di seluruh bagian negara, kecuali Sulawesi Utara. CCAI memiliki dan mengoperasikan

9 pabrik pembotolan yang terletak di Cibitung, Cikedokan, Bandung, Semarang, Surabaya,


Bali, Medan, Padang, dan Lampung.
Fasilitas pembotolan di Menado, Sulawesi Utara saat ini dioperasikanoleh Bangun
Wenang Beverages Company (BWBC) milik keluarga Thenoch. BWBC kini berinvestasi
dalam menggandakan kapasitas produksi yang ada untuk melayani pasar yang berkembang
pesat di Sulawesi Utara.
Dalam sistem CCAI juga terdapat Commercial Product Supply Indonesia (CPS), yang
berfokus pada produksi bahan dasar minuman untuk pabrik pembotolan. Selain Indonesia,
CPS juga mengekspor produknya ke negara-negara tetangga seperti Singapura, Australia,
New Zealand, Kamboja, Vietnam, dan Thailand.
Selain itu, ada pula The Coca-Cola Company, pemilik merek dagang dan penyedia
konsentrat produk-produk Coca-Cola bagi mitra pembotolan lokal. Sedangkan kantor layanan
lokal, Coca-Cola Indonesia (CCI), berfokus pada pemasaran merek perusahaan di Indonesia.
INVESTASI DAN DAMPAK EKONOMI
The Coca-Cola System di Indonesia telah melakukan investasi yang signifikan untuk
membangun dan terus meningkatkan usahanya, termasuk fasilitas produksi baru, pabrik
pengolahan air limbah, sistem distribusi dan peralatan pemasaran.
CCAI di Indonesia telah mempekerjakan lebih dari 8,000 pekerja lokal secara
langsung dan antara 2.000 hingga 4.000 pekerja sementara sesuai kebutuhan. CCAI juga
telah melayani lebih dari 500.000 pelanggan ritel di daerah perkotaan dan pedesaan di seluruh
negeri secara langsung dan menyediakan sarana penting pendapatan dan dukungan untuk
sejumlah usaha kecil dan keluarga.
CCAI telah menginvestasikan lebih dari US $ 155 juta di Indonesia pada tahun 2012,
dan berharap untuk meningkatkan investasi di Indonesia sebesar hampir setengah miliar dolar
selama 3-4 tahun ke depan. Sebagian besar investasi telah diarahkan untuk pembangunan
infrastruktur dan kapasitas bangunan, serta peningkatan dukungan untuk pengecer melalui
penyediaan alat pendingin.
Beberapa contoh investasi tahun 2012 meliputi :
1. Akuisisi fasilitas manufaktur di Cikedokan
2. Pembangunan 2 gudang skala besar di Bekasi dan Medan
3. Instalasi dari 3 lini produksi baru,1 di Medan dan 2 di Cibitung
4. Lebih dari US $ 20 juta yang diinvestasikan dalam kulkas pendingin dengan konsumsi
energi rendah sepanjang tahun 2012

Beberapa contoh dari investasi 2013 meliputi investasi sebesar :


1. US $ 40 juta untuk lini produksi dan gudang baru di Semarang yang dijadwalkan akan
selesai Oktober 2013
2. US $ 20 juta untuk lini produksi baru untuk minuman berkarbonasi di Surabaya pada
bulan April
3. US $ 30 juta investasi dalam untuk lini air baru di Cibitung pada bulan April
4. CCAI juga berencana untuk menempatkan sejumlah besar kulkas pendingin di pasar
sepanjang tahun 2013
KEGIATAN PEMASARAN
Kegiatan marketing adalah cara CCAI untuk berkomunikasi dengan konsumen.
Dengan misi untuk menyegarkan dunia dan menginspirasi saat-saat kebahagiaan dan
optimisme, CCAI berhubungan dengan konsumen melalui cara yang kreatif, menyenangkan,
dan bertanggung jawab.
Market Share
Coca-Cola merupakan pemimpin pasar minuman berkarbonasi dan jus, serta teh siap
minum. Tak hanya sukses di pasar tradisional melalui distribusi langsung, grosir, dan
Managed Third Party', Coca-Cola juga sukses di pasar modern dengan distribusi melalui
Hypermarket, Supermarket dan Mini Mart.
Pelanggan dan Distribusi
1. Produk CCAI dijual di sekitar 1,5 juta gerai minuman di seluruh Indonesia.
2. CCAI mendukung perekonomian melalui 600.000 pelanggan dan 2.800 pemasok
3. Lebih dari 285.000 kulkas pendingin milik CCAI ditempatkan di pasar. Semua pendingin
dilengkapi dengan EMS, yaitu perangkat untuk mengurangi konsumsi listrik hingga 35%.
4. CCAI mengoperasikan lebih dari 1.300 truk pengiriman dari 85 pusat distribusi
menjadikan sistem distribusi menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia.
5. CCAI juga membantu menciptakan sekitar600,000Managed Third Party' untuk
pengusaha kecil yang ingin menjual produk CCAI.

HASIL ANALISIS
Didalam teknik memformulasikan strategi penting, terdapat tiga stage yang harus
dilakukan. Stage pertama adalah Input Stage dengan membuat EFE Matrix, IFE Matrix, dan
Competitive Profile Matrix (CPM). Stage pertama menyimpulkan informasi input yang
diperlukan untuk memformulasikan strategi. Stage kedua disebut Matching Stage, berfokus
pada penyusunan strategi alternatif dari faktor eksternal dan internal yang dianggap sebagai
kunci pokok. Teknik-teknik stage kedua meliputi the Strengths-Weaknesses-OpportunitiesThreats (SWOT) Matrix, the Boston Consulting Group (BCG) Matrix, the Internal-External
(IE) Matrix, dan the Grand Strategy Matrix. Terakhir, Stage ketiga yang disebut decision
stage, hanya terdiri dari satu teknik yaitu the Quantitative Strategic Planning Matrix
(QSPM). Teknik QSPM menggunakan informasi input pada stage pertama yang dievaluasi
alternatif strateginya di stage kedua. Berikut adalah framework analisis formulasi strategi
pada The Coca Cola Company :
1. The Input Stage
A. Internal Factor Evaluation (IFE) Matrix
Factors
Strengts
Distribusi produk yang sudah mendunia
Performa keuangan yang baik
Pemimpin industri minuman di dunia
Memiliki diversifikasi produk minuman yang
banyak
Inovasi pada kemasan
Kualitas produk yang baik
Sudah memiliki brand image yang terkenal
Weaknesses
Kompetisi yang kuat
Adanya produk subtitusi
Publisitas negative
Tidak ada diversifikasi produk selain minuman
Performa yang lamban di Amerika Utara
Total

Weight

Rate

Wt. Score

0.1
0.1
0.1

4
4
4

0.4
0.4
0.4

0.085

0.255

0.1
0.06
0.1

3
3
4

0.3
0.18
0.4

0.1
0.05
0.08
0.05
0.075
1

1
1
2
1
1

0.1
0.05
0.16
0.05
0.075
2.77

B. External Factor Evaluation (EFE) Matrix


Factors
Strengts
Distribusi produk yang sudah mendunia
Performa keuangan yang baik
Pemimpin industri minuman di dunia

Weight

Rate

Wt. Score

0.1
0.1
0.1

4
4
4

0.4
0.4
0.4

Memiliki diversifikasi produk minuman yang


banyak
Inovasi pada kemasan
Kualitas produk yang baik
Sudah memiliki brand image yang terkenal
Weaknesses
Kompetisi yang kuat
Adanya produk subtitusi
Publisitas negative
Tidak ada diversifikasi produk selain minuman
Performa yang lamban di Amerika Utara
Total

0.085

0.255

0.1
0.06
0.1

3
3
4

0.3
0.18
0.4

0.1
0.05
0.08
0.05
0.075
1

1
1
2
1
1

0.1
0.05
0.16
0.05
0.075
2.77

2. The Matching Stage


Stage kedua yaitu matching stage dari The Coca Cola Company akan dijelaskan sebagai
berikut :
A. The Strengths-Weaknesses-Opportunities-Threats (SWOT)
Matriks SWOT adalah teknik yang penting yang dapat membantu manajer untuk
mengembangkan empat tipe dari strategi : strategi SO (strengths-opportunities),
strategi WO (weaknesses-opportunities), strategi ST (strengths-threats), dan strategi
WT (weaknesses-threats). Penjelasan mengenai matriks SWOT Coca Cola Amatil
Indonesia akan dijabarkan pada tabel pada halaman selanjutnya.

Tabel The Strengths-Weaknesses-Opportunities-Threats (SWOT) Matrix The Coca-cola Company


SWOT MATRIX FOR COCA COLA COMPANY
STRENGTHS

WEAKNESSES

1. Distribusi produk yang sudah


mendunia

1. Kompetisi yang kuat

2. Performa keuangan yang baik

2. Adanya produk subtitusi

3. Pemimpin industri minuman di dunia

3. Publisitas negative

4. Memiliki diversifikasi produk


minuman yang banyak

4. Tidak ada diversifikasi produk selain


minuman

5. Inovasi pada kemasan

6. Kualitas produk yang baik


7. Sudah memiliki brand image yang

terkenal
OPPORTUNITIES
1. Konsumsi air minum kemasan diperkirakan akan

tumbuh baik di Indonesia maupun seluruh dunia


2. Adanya peningkatan permintaan untuk makanan

sehat dan minuman. CCAI memiliki kesempatan


untuk memperluas jajaran produknya dengan
minuman yang memiliki jumlah gula dan kalori
yang rendah.
3. Pertumbuhan konsumsi minuman di pasar negara

berkembang. Konsumsi minuman ringan masih


tumbuh signifikan di pasar negara berkembang, di
mana Coca-Cola dapat meningkatkan dan

SO STRATEGIES
1. Menambah pangsa pasar ke negaranegara lain (S1, O7)
2. Membuat strategi inovasi kemasan
yang lebih menarik (S5, O5)
3. Menambah produk baru
4. Menciptakan image minuman sehat
zero sugar

WO STRATEGIES
1. Re-branding dan menciptakan image
baru yang lebih kompetitif (W3, O5)
2. Membuat diversifikasi produk dan
produk substitusi (W4, O6)

mempertahankan pangsa pasar minumannya.


4. Pertumbuhan melalui akuisisi.
5. Citra dan branding sudah dikenal masyarakat luas
dan punya banyak loyal-customer, sehingga akan
sulit bagi pendatang baru untuk menyaingin cocacola di industri minuman ringan berkarbonasi.
6. Diversifikasi
pengganti.

produk,

menawarkan

produk

7. Meningkatkan jangkauannya ke negara-negara dan


pasar belum tersentuh.
8. Memasarkan dan mempopulerkan produk yang
kurang dikenal.
9. Kompetisi yang kuat di segmen minuman soda

dari Pepsi Co berarti pertarungan konstan terhadap


perebutan pangsa pasar. Berfokus pada iklan dan
diferensiasi dapat meningkatkan keuntungan,
THREATS

ST STRATEGIES

WT STRATEGIES

1. Perubahan Selera Konsumen

1. Inovasi produk (S4, S5, T1)

1. Menciptakan citra positif melalui


branding dan kegiatan promosi (W1, T5)

2. Kelangkaan Air

2. Inovasi pada kemasan

2. Membuat inovasi produk mengikuti


budaya negara masing-masing (W1, T6)

3. Regulasi Pemerintah

3. Promosi dan branding yang gencar


dan menyasar daerah-daerah yang
belum terjangkau

4. Kompetitor Pepsi mengalahkan Coca Cola di 4. Membuat image baru

beberapa pasar, salah satu ancaman competitor


baru yaitu Big Cola
5. Penjualan menurun di seluruh dunia.

5. Mengikuti trend pasar dalam hal


minuman bersoda

6. Kesualitn untuk menyesuaikan terhadap aturan 6. Menciptakan

dan norma yang berbeda-beda di tiap Negara.

image yang
terkait minuman bersoda

positif

7. Penetapan Coca Cola akan dikenakan cukai karena 7. Intervensi pemerintah terkait regulasi
terbukti berbahaya bagi kesehatan dan akan
kenaikan cukai
dibatasi konsumsinya.
8. Harga bahan baku seperti gula dan logam yang
digunakan dalam pembuatan kaleng semakin
bertambah.

B. Boston Consulting Group (BCG) Matrix


Metode analisis BCG merupakan metode yang digunakan dalam menyusun suatu
perencanaan unit bisnis strategi dengan melakukan pengklasifikasian terhadap potensi
keuangan perusahaan (Kotler, 2002). Matriks BCG terbagi menjadi empat kuadran
yang menggambarkan posisi suatu unit bisnis dipandang dari segi pertumbuhan pasar
dan pangsa pasarnya. Keempat kuadran tersebut antara lain :
1. Dog
Posisi ini memiliki pangsa pasar rendah dan tingkat pertumbuhan yang rendah
juga sehingga tidak menghasilkan serta tidak mengkonsumsi uang dalam jumlah
besar. Investasi perlu dilakukan, apabila tidak dilakukan maka perusahaan dapat
dilikuidasi, divestasi, dan dipangkas dengan retrenchment.
2. Question Mark
Posisi ini memiliki pangsa pasar yang relatif rendah, tetapi masih bersaing pada
industri yang tumbuh pesat. Kebutuhan kas tinggi sedangkan pendapatan rendah.
Posisi ini disebut question mark karenan perusahaan harus memutuskan untuk
memperkuat divisi atau menjualnya.
3. Star
Posisi star memiliki peluang jangka panjang. Pangsa pasar tinggi dengan tingkat
pertumbuhan industri yang tinggi.
4. Cash Cow
Posisi ini memiliki pangsa pasar tinggi tetapi bersaing pada industri yang
pertumbuhannya lambat. Disebut Cash Cow karena menghasilkan kas yang lebih
dari yang dibutuhkan, tetapi kas tersebut sering digunakan untuk membayar
tagihan atau mendukung SBU lain yang memerlukan investasi.
P
E

Sprite

20%
Coca-cola

Frestea

BCG Matrix Coca Cola Amatil Indonesia


Star

Minute Maid
Question
Mark

T
U
M
Fanta

B
U

Cash Cow

Dog

A
N

0%
1

0.1
PANGSA PASAR

Strategi yang dapat dilakukan Coca Cola Amatil Indonesia :


1. Star Strategy : Menginvestasikan pendapatan untuk pertubuhan jangka panjang
dan meningkatkan market share dan pendapatan.
2. Cash Cow Strategy : Menggunakan pendapatan untuk membuat produk baru atau
membantu pertumbuhan produk lainnya.
3. Question Mark Strategy : Investasi dalam jumlah besar untuk produk dengan
posisi star atau melakukan divestasi produk yang posisinya pada dog.
4. Dog Strategy : Investasi untuk mendapatkan market share atau melakukan
divestasi.

SUMBER