Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI INFEKSI DAN TUMOR

INFEKSI SALURAN KEMIH DAN SEPSIS

DISUSUN OLEH
KELOMPOK C-I FKK 2
Eko Sarwono

17113215A

Nining Anugrah WS

18123421A

Aina Kurnia JS

18123431A

Yeni Andani

18123437A

Ridha Nurul Qumaryah

18123438A

Retno Ning Aty

18123439A

DOSEN PENGAMPU
Inaratul RH., M.Sc., Apt
Hari, tanggal praktikum : Selasa, 13 Oktober 2015

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2015

I.

PENDAHULUAN

A. Definisi
Infeksi saluran kemih adalah suatu infeksi yang melibatkan ginjal, ureter, buli-buli,
ataupun uretra. Infeksi saluran kemih (ISK) adalah istilah umum yang menunjukkan
keberadaan mikroorganisme (MO) dalam urin.
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi bakteri yang terjadipada saluran
kemih(mencakup organ-organ saluran kemih, yaitu ginjal,ureter, kandung kemih, dan uretra).
ISK

adalah

istilah

umum

yangmenunjukkan

keberadaan

mikroorganisme

dalam

urin.Walaupun terdiridari berbagai cairan, garam, dan produk buangan, biasanya urin
tidakmengandung bakteri. Jika bakteri menuju kandung kemih atau ginjal danberkembang
biak dalam urin, terjadilah ISK. Jenis ISK yang paling umumadalah infeksi kandung kemih
yang sering juga disebut sebagai sistitis.
Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi yang terjadi akibat terbentuknya
koloni kuman di saluran kemih.Beberapa istilah yang sering digunakan dalam klinis
mengenai ISK:

ISK uncomplicated (sederhana), yaitu ISK pada pasien tanpa disertai kelainan

anatomi maupun kelainan struktur saluran kemih.


ISK complicated (rumit), yaitu ISK yang terjadi pada pasien yang menderita
kelainan anatomis atau struktur saluran kemih, atau adanya penyakit sistemik.
Kelainan ini akan menyulitkan pemberantasan kuman oleh antibiotika.

B.

Epidemiologi
Infeksi saluran kemih (ISK) hampir selalu diakibatkan oleh bakteri aerob dari flora

usus. Prevalensi kejadian antara usia kurang lebih 15-60 tahun dan jauh lebih banyak wanita
daripada pria menderita infeksi saluraan kemih bagian bawah. Hal ini dikarenakan bahwa
pada wanita uretranya lebih pendek (2-3 cm) daripada pria, sehingga kandung kemih mudah
dicapai oleh bakteri dari dubur melalui perineum, khususnya basil Escherichia coli. Pada pria
selain uretranya lebih panjang (15-18 cm) cairan prostatnya juga memiliki sifat bakterisisd
sehingga menjadi pelindung terhadap infeksi oleh bakteri uropatogen.
Epidemiologi ISK terbagi dalam kelompok nosokomial dan kelompok masyarakat
dimana gejalanya dapat berupa asimptomatik maupun simptomatik. Penggunaan kateter
adalah penyebab terbanyak ISK nosokomial. ISK dapat menyerang pada laki-laki maupun
perempuan, namun lebih sering terjadi pada perempuan dibanding laki-laki. Alasan yang

tepat mengenai hal ini masih belum jelas, tetapi diduga faktor uretra yang lebih pendek pada
perempuan berperan dalam hal tersebut. Pada anak perempuan resikonya 10 kali lebih besar
daripada anak laki-laki, kecuali pada masa bayi dimana rasionya hampir berimbang. Anomali
struktural kongenital saluran kemih pada masa bayi ini yang bertanggung jawab sebagian
besar terhadap insidensi yang lebih tinggi pada anak laki-laki. Pada penderita diatas 60 tahun
dijumpai lebih banyak laki-laki dibanding perempuan kemungkinannya pada laki-laki usia
tua akibat penggunaan instrument seperti urethral chateter, terutama jika disertai kelainan
struktur maupun fungsi.
C.

Klasifikasi

Jenis infeksi saluran kemih dapat dibedakan menjadi dua yaitu :


1. ISK bagian bawah (sistitis), umumnya radang kandung kemih pada pasien dengan
saluran kemih normal. Sistitis yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya
infeksi dari uretra, hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik urine dari uretra ke
dalam kandung kemih (refluks utrovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian kateter atau
sistoskop. Gejala ISK bagian bawah antara lain, sakit dan nyeri menggigit pada perut
bagian bawah diatas tulang kemaluan, terasa sakit di akhir kencing, anyang-anyangan
atau rasa masih ingin kencing lagi namun air kencing tidak dapat keluar, ada darah di
dalam urin (hematuria), adanya sel-sel darah putih dalam urin, kondisi parah dapat
disertai demam.
2. ISK bagian atas, terdapat pada pasien dengan saluran kemih yang abnormal, misalnya
adanya batu, penyumbatan dan diabetes. Contoh dari ISK ini adalah radang pasuginjal (pyelitis), pyelonephritis, dan prostatitis. Pielonefritis akutbiasanya terjadi
akibat infeksi kandung kemih asendens. Pielonefritis akut juga dapat terjadi melalui
infeksi

hematogen.

Infeksi

dapat

terjadi

di

satu

atau

di

kedua

ginjal. Pielonefritis kronik dapat terjadi akibat infeksi berulang, dan biasanya
dijumpai pada individu yang mengidap batu, obstruksi lain, ataurefluks vesikoureter.
Gejalanya

hampir

sama

dengan

ISK

bagian

atas

namun

biasanya pyelonephritis disertai nyeri pada pinggang (di lokasi ginjal).

Pielonefritis akut (PNA), adalah proses inflamasi parenkim ginjal yang disebabkan
oleh infeksi bakteri.

Pielonefritis kronis (PNK), mungkin terjadi akibat lanjut dari infeksi bakteri
berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil. Obstruksi saluran kemih serta refluk
vesikoureter dengan atau tanpa bakteriuria kronik sering diikuti pembentukan jaringan
ikat parenkim ginjal yang ditandai pielonefritis kronik yang spesifik.

D.

Faktor Resiko

Ada beberapa faktor penting yang mempermudah timbulnya infeksi yaitu:

Jarang berkemih
Pengeluaran urine (mictio) merupakan mekanisme ketahanan penting dari kandung
kemih. Bila mictio normal terhambat karena misalnya obstruksi, ISK dapat lebih

mudah terjadi.
Gangguan pengosongan kandung kemih
Akibat obstruksi (batu ginjal), disfungsi atau hipertropi prostat bisa mengakibatkan

tertinggalnya residu dimana kuman-kuman mudah berproliferasi


Hygien pribadi kurang baik
Bisa menyebabkan kolonisasi kuman uropatogen disekitar (ujung) uretra, misalnya
penggunaan pembalut wanita. Kuman lalu menjalar ke atas menuju uretra, lalu ke

kandung kemih dan kemudian menyebar melalui ureter ke ginjal (ISK bagian atas)
Penggunaan kateter
Melalui senggam dan karena adanya infeksi lokal (misalnya vaginitis) dapat

mempermudah infeksi
Penderita diabetes
Lebih peka untuk ISK karena meningkatnya daya melekat bakteri pada epitel SK
akibat beberapa sebab tertentu.

Faktor-faktor yang meningkatkan kepekaan terhadap infeksi saluran kemih

II.

PATOFISIOLOGI

Pada individu normal, biasanya laki-laki maupun perempuan urin selalu steril karena
dipertahankan jumlah dan frekuensi kencing. Utero distal merupakan tempat kolonisasi
mikroorganisme nonpathogenic fastidious Gram-positive dan gram negative. (Sukandar, E.,
2004)
Hampir semua ISK disebabkan invasi mikroorganisme asending dari uretra ke dalam
kandung kemih. Pada beberapa pasien tertentu invasi mikroorganisme dapat mencapai ginjal.
Proses ini, dipermudah refluks vesikoureter. Proses invasi mikroorganisme hematogen sangat
jarang ditemukan di klinik, mungkit akibat lanjut dari bakteriema. Ginjal diduga merupakan
lokasi
infeksi sebagai akibat lanjut septikemi atau endokarditis akibat Stafilokokus aureus.
Kelainan ginjal yang terkait dengan endokarditis (Stafilokkokus aureus) dikenal Nephritis
Lohein. Beberapa penelitian melaporkan pielonefritis akut (PNA) sebagai akibat lanjut invasi
hematogen. (Sukandar, E., 2004)

A. Patogenesis
Pathogenesis bakteriuria asimtomatik dengan presentasi klinis ISK tergantung dari
patogenitas dan status pasien sendiri (host).

B. Etiologi.
Penyebab ISK terbanyak adalah mikroorganisme yang berasal dari saluran cerna yaitu
mikroorganisme Escherichia coli. 90% kasus ISK yang terjadi disebabkan oleh Escherichia
coli (MIMS, 2010). Mikroorganisme seperti Chlamydia dan Mycoplasma dapat menyerang
pria dan wanita. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri tersebut hanya berada di dalam uretra
dan sistem reproduksi. Chlamydia dan Mycoplasma ditularkan secara hubungan seksual.
Sepuluh sampai 20% dari ISK akut disebabkan oleh Staphylococcus saprophyticus
koagulase-negatif dan 5% atau kurang disebabkan oleh Enterobacteriaceae lain atau
enterococci (Chamberlain, 2010).
Selain karena bakteri, faktor lain yang dapat meningkatkan resiko terjadinya ISK
antara lain kehamilan, menopause, batu ginjal, memiliki banyak pasangan dalam aktivitas
seksual, penggunaan diafragma sebagai alat kontrasepsi, inflamasi atau pembesaran pada
prostat kelainan pada uretra, immobilitas, kurang masukan cairan, dan kateterisasi urin.
Pada keadaan normal urin adalah steril. Umumnya ISK disebabkan oleh kuman gram
negatif. Escherichia coli merupakan penyebab terbanyak baik pada yang simtomatik maupun
yang asimtomatik yaitu 70 - 90%. Enterobakteria seperti Proteus mirabilis (30 % dari infeksi
saluran kemih pada anak laki-laki tetapi kurang dari 5 % pada anak perempuan ), Klebsiella
pneumonia dan Pseudomonas aeruginosa dapat juga sebagai penyebab. Organisme gram
positif seperti Streptococcus faecalis (enterokokus), Staphylococcus epidermidis dan
Streptococcus viridans jarang ditemukan. Pada uropati obstruktif dan kelainan struktur
saluran kemih pada anak laki-laki sering ditemukan Proteus species. Pada ISK nosokomial
atau ISK kompleks lebih sering ditemukan kuman Proteus dan Pseudomonas
Tabel 1 : Famili, Genus dan Spesies mikroorganisme (MO) yang Paling Sering
Sebagai Penyebeb ISK

C. Gejala
Gejala klinis ISK sesuai dengan bagian saluran kemih yang terinfeksi sebagai berikut :
1. Pada ISK bagian bawah, keluhan pasien biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di
uretra sewaktu kencing dengan air kemih sedikit-sedikit serta rasa tidak enak di
daerah suprapubik
2. Pada ISK bagian atas dapat ditemukan gejala sakit kepala, malaise, mual, muntah,
demam, menggigil, rasa tidak enak, atau nyeri di pinggang.
D. Manifestasi Klinik
Keadaan klinik ineksi saluran kemih pada dewasa meliputilemah, mengigil, suhu badan
tinggi, pada beberapa pasien terjadi disuria, demam, mual, muntah, hematuria, nokturia,
spasme pada area kandung kemih dan suprapubis, nyeri kosto-vertebral yaitu nyeri di
belakang atau samping sekitar pinggang dan rasa panas ketika berkemih.
E. Diagnosis
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk menunjang menegakkan
diagnosis infeksi saluran kemih, antara lain :
1. Urinalisis

Eritrosit
Ditemukannya eritrosit dalam urin (hematuria) dapat merupakan penanda bagi
berbagai penyakit glomeruler maupun non-gromeruler. Penyakit nongromeluler

seperti batu saluran kemih dan infeksi saluran kemih.


Leukosuria atau Piuria
Merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Piuria atau sedimen leukosit
dalam urin yang didefinisikan oleh Stamm, bila ditemukan paling sedikit 8000
leukosit per ml urin yang tidak disentrifus atau setara dengan 2-5 leukosit per
lapangan pandang besar pada urin yang di sentrifus. Infeksi saluran kemih dapat
dipastikan bila terdapat leukosit sebanyak > 10 per mikroliter urin atau > 10.000 per

ml urin.
Hematuria:
Positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Hematuria disebabkan

oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis
Silinder
Silinder dalam urin dapat memiliki arti dalam diagnosis penyakit ginjal, antara lain :
Silinder eritrosit, sangat diagnostik untuk glomerulonefritis atau vaskulitis
ginjal

Silinder leukosit bersama dengan hanya piuria, diagnostik untuk


pyelonefritis
Silinder epitel, dapat ditemukan pada nekrosis tubuler akut atau pada
gromerulonefritis akut
Silinder lemak, merupakan penanda untuk sindroma nefrotik bila
ditemukan bersaman dengan proteinuria nefrotik.

Kristal
Kristal dalam urin tidak diagnostik untuk penyakit ginjal.

2. Bakteriologi
Biakan bakteri, pembiakan bakteri sedimen urin dimaksudkan untuk memastikan
diagnosis ISK. Pemeriksaan bakteriologi sedapat-dapatnya dilakukan dengan cara kuantitatif,
yaitu dengan meperhitungkan berapa banyak mikroorganisme didapat rata-rata per ml urine.
Jika dipergunakan clean voided midstream urine maka tafsiran hasil menjadi sedikit berlainan
dari urin yang diperoleh dengan kateter steril atau dengan fungsi suprapubik.
a. Jumlah mikroorganisme kurang dari 10000 per ml urin; pendapat ini biasanya tidak
dianggap infeksi yang sebenar-benarnya.
b. Jumlah antara 10000 dan 100000 per ml urin. Mungkin berarti satu infeksi dalam
saluran urin, tafsiran harus didasarkan atas pendapat pemeriksaan lain-lain.
c. Lebih dari 100000 berarti infeksi. Kalau ada infeksi, jumlahnya biasaanya lebih
dari 100000 sering lebih dari 1000000 per ml urin.
Urin yang diperoleh clean voided midstream urin harus dibiakan selambat-lambatnya 1 jam
setelah mendapatnya (Gandasoebrata, 2004).
3. Metode Tes

Tes Kimiawi
Beberapa tes kimiawi dapat dipakai untuk penyaring adanya bakteriuria, diantaranya
yang paling sering dipakai adalah tes reduksi griess nitrate. Dasarnya adalah sebagian

besar mikroba kecuali enterococci mereduksi nitrat (Anonim, 2010).


Tes Plat Celup (Dip-Slide)
Beberapa pabrik mengeluarkan biakan buatan yang berupa lempengan plastik
bertangkai dimana pada kedua sisi permukaannya dilapisi pembenihan padat khusus.
Lempengan tersebut dicelupkan ke dalam urin pasien atau dengan digenangi urin.
Setelah itu lempengan dimasukkan kembali kedalam tabung plastik tempat

penyimpanan semula, lalu diletakkan pada suhu 37oC selama satu malam. Penentuan
jumlah mikroorganisme/mL dilakukan dengan membandingkan pola pertumbuhan
mikroorganisme dengan serangkaian gambar yang memperlihatkan keadaan
kepadatan koloni yang sesuai dengan jumlah mikroorganisme antara 1000 dan
10.000.000 dalam tiap mL urin yang diperiksa. Cara ini mudah dilakukan, murah dan
cukup adekuat. Kekurangannya adalah jenis mikroorganisme dan kepekaannya tidak

dapat diketahui (Anonim, 2010).


Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk
pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka pasien mengalami piuria. Tes
pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin

normal menjadi nitrit (Anonim,2010).


Tes Penyakit Menular Seksual (PMS): Uretritia akut akibat organisme menular secara

seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek).


Tes- tes tambahan: Urogram intravena (IVU). Pielografi (IVP), msistografi, dan
ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari
abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau
hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur
urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi
yang resisten Anonim, 2010).

4. Radiologis dan Pemeriksaan penunjang lainnya


Pemeriksaan radiologis pada ISK dimaksudkan untuk mengetahui adanya batu atau
kelainan anatomis yang merupakan faktor predisposisi ISK. Pemeriksaan ini dapat berupa
foto polos abdomen, pielonegrafi intravena, demikian pula dengan pemeriksaan lainnya,
misalnya ultrasonografi.

1.
2.

III.
SASARAN TERAPI
Bakteri penyebab infeksi
Gejala

IV.

TUJUAN TERAPI

Tujuan Terapi Jangka Pendek :


1. Eradikasi bakteri penyebab infeksi saluran kemih
2. Menghilangkan gejala dengan cepat
3. Meningkatkan kadar hemoglobin untuk mencegah keparahan anemia.
Tujuan Terapi Jangka Panjang :
1. Mencegah terjadinya infeksi ulangan (rekurensi)
2. Mencegah komplikasi dari penyakit infeksi saluran kemih yang kronis
3. Mengurangi morbiditas dan mortalitas.

V.
A.Tata Laksana Terapi
Guideline terapi ISK

STRATEGI TERAPI

TERAPI NON FARMAKOLOGI

Menjaga kebersihan alat reproduksi. Sesekali menggunakan pembersih antiseptik


untuk membersihkan organ intim

Memakai air yang bersih dan steril


Minum banyak air dan/atau cairan (8-10 gelas per hari)
Hindari konsumsi minuman beralkohol, kopi dan makanan yang kaya rempah karena

dapat mengiritasi kandung kemih


Jangan menunda keinginan buang air kecil karena tindakan ini dapat membuat urin
tertahan di dalam kandung kemih dalam waktu lebih lama sehingga mudah ditumbuhi

bakteri
Jika membersihkan kotoran, bersihkan dari arah depan ke belakang, agar kotoran dari

dubur tidak masuk ke saluran kemih


Cuci tangan dan alat kelamin sebelum dan sesudah melakukan hubungan seksual,
sebaiknya kencing terlebih dahulu sebelum berhubungan seksual.

TERAPI FARMAKOLOGI
Pengelolaan pasien dengan ISK meliputi evaluasi awal, pemilihan agen antibakteri,
durasi terapi, dan evaluasi. Pemilihan awal agen antimikroba untuk pengobatan ISK terutama
didasarkan pada tingkat keparahan dari tanda dan gejalanya, dan bagian infeksi.
Pertimbangan lainnya termasuk kerentanan antibiotik, efek samping potensial, biaya, dan
ketidaknyamanan komparatif terapi yang berbeda.
Kemampuan agen yang tepat untuk mencapai konsentrasi dalam urin adalah sangat
penting. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju dan tingkat ekskresi melalui ginjal termasuk
menilai filtrasi glomerular pasien dan apakah agen secara aktif disekresi. Filtrasi tergantung
pada ukuran molekul dan derajat pengikatan protein agen. Agen seperti sulfonamides,
tetrasiklin, dan aminoglikosida masuk ke urin melalui filtrasi. Sementara tingkat filtrasi
glomerulus berkurang, jumlah obat yang masuk ke urin berkurang. Sebagian besar agen laktam dan kuinolon disaring dan secara aktif disekresi ke dalam urin. Untuk alasan ini, para
agen mencapai konsentrasi urin tinggi meskipun karakteristik mengikat protein yang tidak
menguntungkan atau adanya disfungsi ginjal.

Penggunaan obat rasional


Analisis rasionalitas terapi dilakukan dengan melakukan analisis obat-obat yang digunakan.
Berikut ini adalah uraian analisis rasionalitas obat yang digunakan :
Trimethoprim :

Mencegah sintesis THFA, dan pada tahap selanjutnya dengan menghambat


enzim dihydrofolate reductase yang mencegah pembentukan tetrahydro dalam bentuk aktif
dari folic acid. Diberikan per oral atau intravena, di diabsorpsi dengan baik dari usus
dan ekskresi dalam urine, aktif melawan bakteri gram negatif kecuali Pseudomonas spp.
Biasanya untuk pengobatan utama infeksi saluran kemih. Trimethoprim dapat diberikan
tunggal (100 mg setiap 12 jam) pada infeksi saluran kemih akut
Trimetoprim cukup efektif untuk pengobatan ISK. Dosis dewasayang umum
digunakan ialah tablet 100 mg tiap 12 jam. Trimetoprimjuga ditemukan dalam kadar terapi
pada sekret prostat dan efektif untukpengobatan infeksi prostat.
Kotrimoksazol
Kotrimoksazol (trimetoprim-sulfametoksazol) tampaknya merupakan obat pilihan
untuk ISK dengan komplikasi, dan juga untuk prostatitis. Dosis yang digunakan untuk
dewasa yaitu 2 tablet biasa (trimetoprim 80 mg + sulfametoksazol 400 mg) tiap 12 jamatau 1
tablet forte (trimetoprim 160 mg + sulfametoksazol 800 mg) tiap 12 jamdapat efektif pada
infeksi berulang pada saluran kemih bagian atas atau bawah serta efektif untuk prostatitis.
Dua tablet per hari mungkin cukup untuk menekan dalam waktu lama ISK yang kronik, dan
separuh tablet biasa 3 kali seminggu untuk berbulan-bulan dapat berlaku sebagai pencegahan
ISK yang berulang-ulang pada beberapa wanita. Untuk pemberian intravena tersedia sediaan
infus yang mengandung 80 mg trimetoprim dan 400 mg sulfametoksazol per 5 ml, dilarutkan
dalam 125 ml dekstrosa 5% dalam air, dapat diberikan dalam infus selama 60-90 menit. Hal
ini diindikasikan untuk ISK bila pasien tidak dapat menerima obat melalui mulut. Orang
dewasa dapat diberikan 6-12 ampul 5 ml dalam 3 atau 4 dosis terbagi per hari. Pada pasien
dengan gagal ginjal, diberikan dosis biasa bila klirens kreatinin > 30 ml/menit, bila klirens
kreatinin 15-30 ml/menit dosis 2 tablet diberikan setiap 24 jam, dan bilaklirens kreatinin < 15
ml/menit obat ini tidak boleh diberikan.

Sefalosporin
Sefalosporin generasi ketiga tunggal atau dalam kombinasi dengan aminoglikosida
merupakan obat pilihan utama untuk infeksi berat oleh Klebsiella, Enterobacter, Proteus,
Providencia, Serratia, dan Haemophilus spp. Sefiksim adalah suatu sefalosporin generasi
ketiga yang dapat diberikan secara oral. Spektrum antibakteri sefiksim menyerupai spektrum

sefotaksim (sangat aktif terhadap berbagai kuman Gram positif maupun Gram negative
aerobik), tetapi sefiksim tidak aktif terhadap S. aureus, enterokokus (E. faecalis),
pneumokokus yang resisten penisilin, pseudomonas, Acinetobacter. Sefiksim digunakan
untuk terapi infeksi saluran kemih oleh kuman yang sensitif. Dosis oral untuk dewasa atau
anak dengan berat badan > 50 kg ialah 200-400 mg sehari dalam 1-2 dosis (400 mg 2 kali
sehari). Untuk anak dengan berat badan > 50 kg diberikan suspensi dengan dosis 8 mg/kg
sehari. Sefiksim tersedia dalam bentuk tablet 200 dan 400 mg, suspensi oral 100 mg/5ml
Ampisilin
Ampisilin bermanfaat pada infeksi kuman Gram negatif yang sensitif terhadap obat
ini, misalnya infeksi saluran kemih oleh E. coli dan P. mirabilis, serta infeksi oleh H.
vaginalis. Dosis ampisilin tergantung dari beratnya penyakit, fungsi ginjal dan umur pasien.
Untuk dewasadengan penyakit ringan sampai sedang diberikan 2-4 g sehari, dibagi untuk 4
kali pemberian, sedangkan untuk penyakit berat sebaiknya diberikan preparat parenteral
sebanyak 4-8 g sehari.
Aztreonam
Aztreonam merupakan derivat monobaktam (suatu senyawa beta laktam monosiklik)
yang terbukti bermanfaat secara klinis. Aztreonam tunggal maupun dalam kombinasi dengan
antibiotik lain efektif untuk mengatasi infeksi berat oleh kuman Gram negatif aerobik, salah
satu indikasinya yaitu untuk infeksi saluran kemih dengan komplikasi. Spektrum antibakteri
aztreonam mirip antibiotik aminoglikosida, sehinggaaztreonam dapat menjadi alternatif
aminoglikosida, khusus untuk infeksi kuman Gram negatif. Aztreonam diberikan secara
suntikan IM yang dalam, bolus IV perlahan-lahan atau infus intermiten dengan periode 20-60
menit. Dosis dewasa untuk infeksi saluran kemih 500 mg atau 1 g setiap 8-12 jam.
Amoksisilin-kalium klavulanat
Amoksisilin-kalium klavulanat diindikasikan untuk infeksi salurankemih berulang
pada anak dan dewasa oleh E. coli dan kuman pathogen lain yang mmproduksi
betalaktamase, yang tidak dapat diatasi oleh kotrimoksazol, kuinolon atau sefalosporin oral.
Dosis amoksisilinklavulanat per oral untuk dewasa dan anak berat > 40 kg ialah 250 mg-125
mg tiap 8 jam. Untuk penyakit berat dosis 500 mg-125 mg tiap 8 jam. Untuk anak berat < 40
kg dosis amoksisilin 20 mg/kg/hari, dosis klavulanat disesuaikan dengan dosis amoksisilin.

Aminoglikosida
Aminoglikosida, sekalipun berspektrum antimikroba lebar, jangan digunakan pada
setiap jenis infeksi oleh kuman yang sensitif, karena resistensi terhadap aminoglikosida relatif
cepat berkembang, dan karena toksisitas aminoglikosida relatif tinggi, selain itu masih
tersedianya berbagai antibiotik lain yang cukup efektif dan toksisitasnya lebih rendah.
Toksisitas aminoglikosida meliputi toksisitas terhadap saraf otak N. VIII komponen
vestibuler (keseimbangan) maupun komponen akustik (pendengaran), dan toksisitas terhadap
ginjal (nefrotoksik).

Gentamisin, suatu aminoglikosida, diberikan secara parenteral(sistemik) untuk


infeksi oleh kuman gram negative yang sensitif antaralain Proteus, Pseudomonas,
Klebsiella, Serratia, E. coli dan Enterobacteryang merupakan penyebab berbagai
infeksi, salah satunya yaitu infeksisaluran kemih. Sedapat mungkin gentamisin
sistemik hanya diterapkanpada infeksi yang berat saja. Pada septisemia yang
diduga disebabkankuman gram negatif, secara empirik dapat diberikan gentamisin
sambilmenunggu hasil identifikasi dan hasil uji sensitifitas kuman penyebab.Dosis
gentamisin yaitu 5-6 mg/kgBB/hari dosis tunggal sehari secaraintravena atau
intramuskuler.

Fluorokuinolon
Fluorokuinolon (siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin, dll) efektif untuk ISK
dengan atau tanpa penyulit, termasuk yang disebabkan oleh kuman-kuman yang multiresisten
dan P. aeruginosa. Siprofloksasin, norfloksasin, dan ofloksasin dapat mencapai kadar yang
cukup tinggi di jaringan prostat dan dapat digunakan untuk terapi prostatitis bakterial akut
maupun kronis. Fluorokuinolon diserap dengan baik pada pemberian per oral.1
Siprofloksasin tablet 500 mg atau norfloksasin tablet 400 mg diberikan per oral 2 kali sehari
efektif untuk infeksi saluran kemih.
Selain itu, beberapa fluorokuinolon seperti siprofloksasin, ofloksasin dapatdiberikan
secara parenteral / intravena sehingga dapat digunakan untuk penanggulangan infeksi berat
khususnya yang disebabkan oleh kuman Gram negatif. Dosis siprofloksasin parenteral yaitu 2
kali 200-400 mg intravena. Absorpsi siprofloksasin dan mungkin fluorokuinolon lainnya
terhambat/berkurang hingga 50% atau lebih bila diberikan bersama antasida dan preparat besi
(Fe), oleh karena itu pemberian antasida danpreparat besi harus diberikan dengan selang
waktu 3 jam. Penggunaan bersama-sama fluorokuinolon dan teofilin dapat menyebabkan

peningkatan kadar teofilin dalam darah, dengan risiko terjadinya efek toksik, terutama
kejang-kejang.13 Hal ini karena fluorokuinolo menghambat metabolisme teofilin. Oleh
karena itu pemberian kombinasi kedua obat tersebut perlu dihindarkan. Fluorokuinolon dapat
merusak kartilago yang sedang tumbuh sehingga sebaiknya tidak diberikan pada pasien di
bawah umur 18 tahun.

VI.
KASUS

PENYELESAIAN KASUS

Ny. ID (40 tahun,56 Kg, 160 cm) datang ke RS dengan keluhan panas sejak 3 hari yang lalu
disertai abdominal pain saat BAK. Saat dilakukan pemeriksaan Ny ID disarankan untuk
mondok. Ny. ID pernah mengalami ISK (uncomplicated pyelonephritis) 2x dalam 6 bulan
terakhir dan diterapi dengan kotrimokxazole selama 2 minggu. Pemeriksaan kultur urin pada
ISK pertama dan kedua menunjukkan adanya infeksi E. Coli. Keluhan lain yang dirasakan
Ny ID saat MRS adalah mual, sakit kepala, nyeri otot, nyeri panggul. Suhu : 38,5 C , TD
110/70 mmHg, HR 100 bpm, RR 32x permenit, SaO 2 70%, Pa CO2 27 torr, WBC 2x104
sel/mm3 , GDS 212 mg/Dl. Urinalisis : 8x105 bakteri/ml urin, WBC 56 sel/mm3 urin, albumin
315 mg/dL urin, output urin 425 ml/hari. Diagnosis dokter : ISK dan Sepsis
ANALISIS KASUS :
Penyelesaian kasus dengan menggunakan metode SOAP (Subjective, Objective,
Assesment, dan Plan) pada kasus ini adalah sebagai berikut :
SUBYEKTIF
Nama

: Ny ID

umur

: 40 tahun

Jenis kelamin : Perempuan


Keluhan

: Panas sejak 3 hari yang lalu disertai abdominal pain saat BAK, pernah

mengalami ISK (uncomplicated pyelonephritis) 2x dalam 6 bulan terakhir dan diterapi


dengan kotrimokxazole selama 2 minggu. Pemeriksaan kultur urin pada ISK pertama dan
kedua menunjukkan adanya infeksi E. Coli. Keluhan lain yang dirasakan Ny ID saat MRS
adalah mual, sakit kepala, nyeri otot, nyeri panggul.
OBYEKTIF

Data tanda vital

Pemeriksaa
n
Tekanan
Darah
RR
HR
Suhu

Data pasien

Nilai normal

Keterangan

110/70 mmHg

90-120/60-80 mmHg

Normal

32 x per menit
100 bpm
38,5C

16-20 x per menit


60-100 bpm
36-37C

Takipnea
Normal
Febris

laboratorium :

Data

Pemeriksaan Data pasien


Kultur bakteri + infeksi E.coli
SaO2
70 %
Pa CO2
27 torr
WBC
2x104 sel/mm3
56 sel/mm3 urin
GDS
212 mg/dL
Urinalisis
8x105
bakteri/ml urin,
albumin
315 mg/dL urin
output urin
425 ml/hari
ASSESMENT

Nilai normal

Keterangan

95-99 %
35-45 torr
3,5-10 x 103 sel/ mm3
140-200 mg/dL
Negatif

Menurun
Menurun
Meningkat
Infeksi
Hiperglikemia
Infeksi

0-8 mg/dL
800-1300 ml/hari

Meningkat
Menurun

Negatif

Berdasarkan keluhan pasien yang berupa gejala mual, sakit kepala, nyeri otot, nyeri
panggul. dan pemeriksaan lab berupa Kultur bakteri + infeksi E.coli , terdapat sel darah putih
pada urin pasien maka pasien di diagnosa menderita infeksi saluran kemih bagian atas
(pielonefritis akut) dengan komplikasi sepsis.
PLAN
Berdasarkan kultur bakteri yang telah dilakukan Pasien mengalami penyakit ISK
bagian atas yang disebabkan oleh bakteri E.Coli dengan komplikasi sepsis. Menurut
guideline terapi cara penanganannya dapat dilakukan dengan terapi farmakologi, pasien
diberikan pengobatan ceftriaxone dan ampisilin sebagai lini pertama, dimana kedua obat
tersebut memiliki indikasi untuk penyakit ISK beserta komplikasi sepsis. Pada pemeriksaan
data lab dimana kadar albumin dalam urine mengalami peningkatan yang mungkin
disebabkan karena adanya gangguan fungsi ginjal yang dikaitkan dengan penyakit ISK
sehingga tidak perlu diterapi untuk hiperalbumin pasien. Untuk pengobatan sepsis juga
diberikan agen inotropik yaitu injeksi dopamin sedangkan untuk mengatasi peningkatan gula
darah dapat diatasi dengan terapi nonfarmakologi yaitu dengan diet atau mengatur pola
makan. Pasien mengalami demam diterapi dengan parasetamol dan mual pasien diberikan
domperidon.

TERAPI NON FARMAKOLOGI

Menjaga kebersihan alat reproduksi. Sesekali menggunakan pembersih antiseptik


untuk membersihkan organ intim

Memakai air yang bersih dan steril


Minum banyak air dan/atau cairan (8-10 gelas per hari)
Hindari konsumsi minuman beralkohol, kopi dan makanan yang kaya rempah karena

dapat mengiritasi kandung kemih


Jangan menunda keinginan buang air kecil karena tindakan ini dapat membuat urin
tertahan di dalam kandung kemih dalam waktu lebih lama sehingga mudah ditumbuhi

bakteri
Jika membersihkan kotoran, bersihkan dari arah depan ke belakang, agar kotoran dari

dubur tidak masuk ke saluran kemih


Cuci tangan dan alat kelamin sebelum dan sesudah melakukan hubungan seksual,
sebaiknya kencing terlebih dahulu sebelum berhubungan seksual.

TERAPI FARMAKOLOGI
Penggunaan obat rasional
Analisis rasionalitas terapi dilakukan dengan melakukan analisis obat-obat yang digunakan.
Berikut ini adalah uraian analisis rasionalitas obat yang digunakan :
Trimethoprim :
Mencegah sintesis THFA, dan pada tahap selanjutnya dengan menghambat
enzim dihydrofolate reductase yang mencegah pembentukan tetrahydro dalam bentuk aktif
dari folic acid. Diberikan per oral atau intravena, di diabsorpsi dengan baik dari usus
dan ekskresi dalam urine, aktif melawan bakteri gram negatif kecuali Pseudomonas spp.
Biasanya untuk pengobatan utama infeksi saluran kemih. Trimethoprim dapat diberikan
tunggal (100 mg setiap 12 jam) pada infeksi saluran kemih akut
Trimetoprim cukup efektif untuk pengobatan ISK. Dosis dewasayang umum
digunakan ialah tablet 100 mg tiap 12 jam. Trimetoprimjuga ditemukan dalam kadar terapi
pada sekret prostat dan efektif untukpengobatan infeksi prostat.

Kotrimoksazol
Kotrimoksazol (trimetoprim-sulfametoksazol) tampaknya merupakan obat pilihan
untuk ISK dengan komplikasi, dan juga untuk prostatitis. Dosis yang digunakan untuk
dewasa yaitu 2 tablet biasa (trimetoprim 80 mg + sulfametoksazol 400 mg) tiap 12 jamatau 1

tablet forte (trimetoprim 160 mg + sulfametoksazol 800 mg) tiap 12 jamdapat efektif pada
infeksi berulang pada saluran kemih bagian atas atau bawah serta efektif untuk prostatitis.
Dua tablet per hari mungkin cukup untuk menekan dalam waktu lama ISK yang kronik, dan
separuh tablet biasa 3 kali seminggu untuk berbulan-bulan dapat berlaku sebagai pencegahan
ISK yang berulang-ulang pada beberapa wanita. Untuk pemberian intravena tersedia sediaan
infus yang mengandung 80 mg trimetoprim dan 400 mg sulfametoksazol per 5 ml, dilarutkan
dalam 125 ml dekstrosa 5% dalam air, dapat diberikan dalam infus selama 60-90 menit. Hal
ini diindikasikan untuk ISK bila pasien tidak dapat menerima obat melalui mulut. Orang
dewasa dapat diberikan 6-12 ampul 5 ml dalam 3 atau 4 dosis terbagi per hari. Pada pasien
dengan gagal ginjal, diberikan dosis biasa bila klirens kreatinin > 30 ml/menit, bila klirens
kreatinin 15-30 ml/menit dosis 2 tablet diberikan setiap 24 jam, dan bilaklirens kreatinin < 15
ml/menit obat ini tidak boleh diberikan.
Sefalosporin
Sefalosporin generasi ketiga tunggal atau dalam kombinasi dengan aminoglikosida
merupakan obat pilihan utama untuk infeksi berat oleh Klebsiella, Enterobacter, Proteus,
Providencia, Serratia, dan Haemophilus spp. Sefiksim adalah suatu sefalosporin generasi
ketiga yang dapat diberikan secara oral. Spektrum antibakteri sefiksim menyerupai spektrum
sefotaksim (sangat aktif terhadap berbagai kuman Gram positif maupun Gram negative
aerobik), tetapi sefiksim tidak aktif terhadap S. aureus, enterokokus (E. faecalis),
pneumokokus yang resisten penisilin, pseudomonas, Acinetobacter. Sefiksim digunakan
untuk terapi infeksi saluran kemih oleh kuman yang sensitif. Dosis oral untuk dewasa atau
anak dengan berat badan > 50 kg ialah 200-400 mg sehari dalam 1-2 dosis (400 mg 2 kali
sehari). Untuk anak dengan berat badan > 50 kg diberikan suspensi dengan dosis 8 mg/kg
sehari. Sefiksim tersedia dalam bentuk tablet 200 dan 400 mg, suspensi oral 100 mg/5ml
Ampisilin
Ampisilin bermanfaat pada infeksi kuman Gram negatif yang sensitif terhadap obat
ini, misalnya infeksi saluran kemih oleh E. coli dan P. mirabilis, serta infeksi oleh H.
vaginalis. Dosis ampisilin tergantung dari beratnya penyakit, fungsi ginjal dan umur pasien.
Untuk dewasadengan penyakit ringan sampai sedang diberikan 2-4 g sehari, dibagi untuk 4
kali pemberian, sedangkan untuk penyakit berat sebaiknya diberikan preparat parenteral
sebanyak 4-8 g sehari.

Aztreonam
Aztreonam merupakan derivat monobaktam (suatu senyawa beta laktam monosiklik)
yang terbukti bermanfaat secara klinis. Aztreonam tunggal maupun dalam kombinasi dengan
antibiotik lain efektif untuk mengatasi infeksi berat oleh kuman Gram negatif aerobik, salah
satu indikasinya yaitu untuk infeksi saluran kemih dengan komplikasi. Spektrum antibakteri
aztreonam mirip antibiotik aminoglikosida, sehinggaaztreonam dapat menjadi alternatif
aminoglikosida, khusus untuk infeksi kuman Gram negatif. Aztreonam diberikan secara
suntikan IM yang dalam, bolus IV perlahan-lahan atau infus intermiten dengan periode 20-60
menit. Dosis dewasa untuk infeksi saluran kemih 500 mg atau 1 g setiap 8-12 jam.
Amoksisilin-kalium klavulanat
Amoksisilin-kalium klavulanat diindikasikan untuk infeksi salurankemih berulang
pada anak dan dewasa oleh E. coli dan kuman pathogen lain yang mmproduksi
betalaktamase, yang tidak dapat diatasi oleh kotrimoksazol, kuinolon atau sefalosporin oral.
Dosis amoksisilinklavulanat per oral untuk dewasa dan anak berat > 40 kg ialah 250 mg-125
mg tiap 8 jam. Untuk penyakit berat dosis 500 mg-125 mg tiap 8 jam. Untuk anak berat < 40
kg dosis amoksisilin 20 mg/kg/hari, dosis klavulanat disesuaikan dengan dosis amoksisilin.
Aminoglikosida
Aminoglikosida, sekalipun berspektrum antimikroba lebar, jangan digunakan pada
setiap jenis infeksi oleh kuman yang sensitif, karena resistensi terhadap aminoglikosida relatif
cepat berkembang, dan karena toksisitas aminoglikosida relatif tinggi, selain itu masih
tersedianya berbagai antibiotik lain yang cukup efektif dan toksisitasnya lebih rendah.
Toksisitas aminoglikosida meliputi toksisitas terhadap saraf otak N. VIII komponen
vestibuler (keseimbangan) maupun komponen akustik (pendengaran), dan toksisitas terhadap
ginjal (nefrotoksik).

Gentamisin, suatu aminoglikosida, diberikan secara parenteral(sistemik) untuk


infeksi oleh kuman gram negative yang sensitif antaralain Proteus, Pseudomonas,
Klebsiella, Serratia, E. coli dan Enterobacteryang merupakan penyebab berbagai
infeksi, salah satunya yaitu infeksisaluran kemih. Sedapat mungkin gentamisin
sistemik hanya diterapkanpada infeksi yang berat saja. Pada septisemia yang
diduga disebabkankuman gram negatif, secara empirik dapat diberikan gentamisin
sambilmenunggu hasil identifikasi dan hasil uji sensitifitas kuman penyebab.Dosis

gentamisin yaitu 5-6 mg/kgBB/hari dosis tunggal sehari secaraintravena atau


intramuskuler.
Fluorokuinolon
Fluorokuinolon (siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin, dll) efektif untuk ISK
dengan atau tanpa penyulit, termasuk yang disebabkan oleh kuman-kuman yang multiresisten
dan P. aeruginosa. Siprofloksasin, norfloksasin, dan ofloksasin dapat mencapai kadar yang
cukup tinggi di jaringan prostat dan dapat digunakan untuk terapi prostatitis bakterial akut
maupun kronis. Fluorokuinolon diserap dengan baik pada pemberian per oral.1
Siprofloksasin tablet 500 mg atau norfloksasin tablet 400 mg diberikan per oral 2 kali sehari
efektif untuk infeksi saluran kemih.
Selain itu, beberapa fluorokuinolon seperti siprofloksasin, ofloksasin dapatdiberikan
secara parenteral / intravena sehingga dapat digunakan untuk penanggulangan infeksi berat
khususnya yang disebabkan oleh kuman Gram negatif. Dosis siprofloksasin parenteral yaitu 2
kali 200-400 mg intravena. Absorpsi siprofloksasin dan mungkin fluorokuinolon lainnya
terhambat/berkurang hingga 50% atau lebih bila diberikan bersama antasida dan preparat besi
(Fe), oleh karena itu pemberian antasida danpreparat besi harus diberikan dengan selang
waktu 3 jam. Penggunaan bersama-sama fluorokuinolon dan teofilin dapat menyebabkan
peningkatan kadar teofilin dalam darah, dengan risiko terjadinya efek toksik, terutama
kejang-kejang.13 Hal ini karena fluorokuinolo menghambat metabolisme teofilin. Oleh
karena itu pemberian kombinasi kedua obat tersebut perlu dihindarkan. Fluorokuinolon dapat
merusak kartilago yang sedang tumbuh sehingga sebaiknya tidak diberikan pada pasien di
bawah umur 18 tahun.

Evaluasi obat terpilih


1. Terapi O2nasal kanula1-6L/menit

Indikasi :Kateter nasal dan kanul nasal merupakan alat dengan sistem arus rendah
yang digunakan secara luas. Kanul nasal terdiri dari sepasang tube dengan panjang
2 cm, dipasangkan pada lubang hidung pasien dan tube dihubungkan secara langsung
ke oxygen flow meter. Alat ini dapat menjadi alternatif bila tidak terdapat masker,

terutama bagi pasien yang membutuhkan suplemen oksigen rendah.


Kanul nasal arus rendah mengalirkan oksigen ke nasofaring dengan aliran 1-6 L/m,
dengan FiO2 antara 24-40%. Aliran yang lebih tinggi tidak meningkatkan FiO 2 secara
bermakna diatas 44% dan akan menyebabkan mukosa membran menjadi kering.
Kanul nasal merupakan pilihan bagi pasien yang mendapatkan terapi oksigen jangka
panjang.Oksigen diberikan dengan kanula nasal 2 (dua) liter permenit dapat
meningkatkan fraksi oksigen inspirasi dari 21% menjadi 27%, pendapat lain
menyatakan bahwa oksigen dapat diberikan 2-4 liter per-menit. Pemberian terapi
oksigen merupakan salah satu upaya untuk mengendalikan asma, merupakan hal yang
sangat penting untukmempertahankan oksigenasi seluler dan mencegah kerusakan sel

baik di otot maupun organ-organ lainnya.


Interaksi obat : tidak ada interaksi dengan obat lain yang digunakan.
Alasan pemilihan : Ada beberapa keuntungan dari terapi oksigen. Terapi oksigen
dengan konsentrasi oksigen yang tepat dapat mengurangi sesak nafas saat aktivitas,
dapat meningkatkan kemampuan beraktifitas dan dapat memperbaiki kualitas hidup.

2. Infus Ringer laktat 75-125 tetes/menit


Indikasi : mengembalikan keseimbangan elektrolit pada dehidrasi.
Dosis : larutan infus intravena 1 botol @ 500 ml. 500-1000 ml dengan kecepatan 300

500 ml per jam (kira-kira 75-125 tetes/menit).


Efek samping : panas, infeksi pada tempat penyuntikan, trombosis vena atau flebitis

yang meluas dari tempat penyuntikan, ekstravasasi.


Interaksi obat : tidak ada interaksi dengan obat lain yang digunakan.
Alasan pemilihan : menambah nutrisi dan menjaga keseimbangan elektrolit pada

pasien dan harga lebih terjangkau.


Harga : lartan infus 1 botol @500 ml Rp. 4.727
3. Ceftriakson IV
Indikasi : Infeksi-infeksi yang disebabkan oleh patogen yang sensitif terhadap
Ceftriaxone, seperti: infeksi saluran nafas, infeksi THT, infeksi saluran kemih, sepsis,
meningitis, infeksi tulang, sendi dan jaringan lunak, infeksi intra abdominal, infeksi
genital (termasuk gonore), profilaksis perioperatif, dan infeksi pada pasien dengan
gangguan pertahanan tubuh.

Dosis : Dewasa dan anak > 12 tahun dan anak BB > 50 kg : 1 - 2 gram satu kali
sehari. Pada infeksi berat yang disebabkan organisme yang moderat sensitif, dosis

dapat dinaikkan sampai 4 gram satu kali sehari.


Efek samping : Lelah, Sariawan, Nyeri tenggorokan, Diare
Interaksi obat : tidak ada interaksi dengan obat lain yang digunakan.
Alasan pemilihan : Merupakan antimikroba dengan aktivitas sangat baik terhadap
bakteri gram negatif dan juga memiliki waktu paruh yang lebih lama/ panjang dan
juga seftriakson memiliki indikasi untuk sepsis sehingga dengan satu obat saja telah

dapat mengatasi dua penyakit sekaligus


Harga : Rp 22.000/2 vial

4. Ampisilin IV
Indikasi :Infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia dan bronkitis,Infeksi
telinga,Infeksi saluran kemih, Infeksi saluran pencernaan., Infeksi ginekologikal,

Endokarditis
Dosis : Dewasa & anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg : 4 kali sehari 250-

500 mg, Infeksi berat : 2 gram secara intravena tiap 6 jam sekali.
Efek samping : Diare, Merasa mual dan muntah, Mulut atau lidah terasa sakit.
Interaksi obat : tidak ada interaksi dengan obat lain yang digunakan.
Alasan pemilihan : karena disesuaikan dengan guideline terapi yang ada dimana
ampilisin memiliki potensi dalam mengobati penyakit infeksi saluran kemih bagian

atas
Harga : Rp. 68.057/kemasan

5. Injeksi dopamin
Indikasi :Memperbaiki keseimbangan hemodinamik pada kondisi sindroma syok
terhadap infark miokardial, trauma, syok sepsis, operasi terbuka gagal jantung, gagal

ginjal dan serangan jantung kronis.


Dosis :-Dewasa : 1-5 mcg/kg/menit sampai 20 mcg/kg/menit, titrasi sampai respon
yang diharapkan. Infus boleh ditingkatkan 4 mcg/kg/menit pada interval 10-30 menit

sampai respon optimal tercapai.


Efek samping : denyut ektopik, takikardia, sakit karena angina, palpitasi, hipotensi,

vasokonstriksi, sakit kepala, mual, muntah, dispnea.


Interaksi obat : tidak ada interaksi dengan obat lain yang digunakan.

Alasan pemilihan : pemberian agen inotropik untuk memperbaiki kontraktilitas


jantungdengan cara meningkatkan kekuatan memompa pada jantung dan suplai darah
ke ginjal dan digunakan untuk meningkatkan fungsi jantung ketika jantung tak
mampu memompa cukup darah.

6. Parasetamol
Indikasi : analgetik antipiretik
Dosis : dewasa 3 x sehari 500 mg, maksimal 2 gram
Efek samping : hepatotoksik apabila digunakan pada dosis berlebih
Interaksi obat : tidak ada interaksi dengan obat lain yang digunakan.
Alasan pemilihan : untuk menurunkan suhu tubuh pasien / mengatasi demam pasien
dan lebih aman jika dibandingkan dengan golongan NSAID yang dapat mengiritasi

lambung.
Harga : dos 10x10 tab Rp. 11.000

7. Domperidon
Indikasi :Untuk pengobatan gejala dispepsia fungsional dan untuk mual dan muntah

akut.
Dosis : Dewasa : 3 kali sehari 10 mg Dikonsumsi pada perut kosong (1 atau 2 jam

sebelum/sesudah makan)
Efek samping : Mulut kering, sakit kepala, diare, ruam kulit, rasa haus, cemas dan

gatal.
Interaksi obat : tidak ada interaksi dengan obat lain yang digunakan.
Alasan pemilihan : untuk mengatasi mual pada pasien dan mempuyai efek samping
yang lebih ringan dibandingkan dengan agen mual muntah yang lain seperti

metoklopramid.
Harga : dos 30 tablet 10 mg Rp. 30.000

KOMUNIKASI INFORMASI EDUKASI

Memberikan informasi tentang obat baik mengenai nama obat, dosis, aturan pakai dan

cara penggunaan obat.


pada penggunaan antibiotik, obat harus dihabiskan agar tidak terjadi resistensi
terhadap bakteri

penyampaianinformasi, instruksi, dan peringatan kepada pasien tentang efek terapi


dan efek samping yang mungkin timbul selama pengobatan efek samping yang
kemungkinan dapat terjadi.
Memberikan edukasi kepada pasien bahwa perlu menjaga kebersihan agar tidak

terinfeksi bakteri dengan Menyarankan hal-hal mengenai penanggulangan atau


pencegahan terhadap penyakit ISK yang dapat dilakukan secara non farmakologi
seperti Menjaga kebersihan alat reproduksi, Jangan menunda keinginan buang air
kecil, Cuci tangan dan alat kelamin sebelum dan sesudah melakukan hubungan
seksual.
MONITORING DAN EVALUASI

Monitoring pemeriksaan fisik :


Suhu tubuh hingga mencapai target normal yaitu 36-37C
Tekanan Darah hingga mencapai target normal yaitu 90-120/60-80 mmHg
Pernafasan hingga mencapai target normal yaitu 16-20 x per menit
Detak jantung mencapai target normal yaitu 60-100 bpm
Monitoring pemeriksaan lab :
46 minggu setelah pemberian antibiotik, dilakukan pemeriksaan urin ulang jika
dari hasil kultur jumlah bakteri <10.000 CFU/ml maka pasien dinyatakan hanya

terkontaminasi bakteri.
WBC hingga mencapai target normal Negatif
GDS hingga mencapai target normal 140-200 mg/dL
albumin hingga mencapai target normal 0-8 mg/dL
output urin hingga mencapai target normal 800-1300 ml/hari
Monitoring kadar PaO2 dan SaO2 hingga mencapai target normal

sebesar PaO2 80 mmHg dan SaO2 95%


Monitoring kepatuhan pasien
Monitoring efek samping obat yang mungkin terjadi
Monitoring kemungkinan terjadinya dehidrasi

VII. PERTANYAAN DAN JAWABAN


1. Laila Tasbicha (18123465A)
Pertanyaan :
Dalam terapi non farmakologi disebutkan bahwa mengonsumsi kopi dapat
menyebabkan iritasi kandung kemih, senyawa apa dalam kopi yang menyebabkan

hal tersebut ?
Jawaban
:
Kandungan kafein yang terdapat dalam kopi dapat menstimulasi otot kandug kemih,
bila dikonsumsi dalam jumlah yang normal tidak akan menimbulkan masalah, tetapi

apabila dalam jumlah berlebih akan membuat ginjal menghasilkan lebih banyak
urine, dan membuat kandung kemih jadi lebih sensitif.
2. Riskha Meilidha (18123440A)
Pertanyaan :
Kenapa terapi antibotik yang dipilih merupakan kombinasi ?
Jawaban
:
Karena menurut guideline yang ada pemilihan obat yang tepat untuk kasus ini adalah
kombinasi ampisilin dengan ceftriaxone dimana pasien memiliki gangguan ginjal
sehingga kemungkinan memiliki nilai GFR yang < 60 ml/ menit sehingga dipilih
obat kombinasi tersebut.
3. Priscila Wahyu Christiana (18123459A)
Pertanyaan :
Dalam pemeriksaan lab diketahui bahwa pasien mengeluarkan urine dalam jumlah

yang sedikit atau kurang dari normal, bagaimana penanganannya ?


Jawaban
:
Pengeluaran volume urin yang sedikit merupakan salah satu tanda terjadinya infeksi
saluran kemih, penanganannya dengan memberikan terapi farmakologi untuk ISK
yang diderita pasien sehingga diharapkan jika ISK dapat diobati maka pengeluaran
urin dapat normal kembali.
VIII.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapat dari pemaparan di atas mengenai kasus yang diperoleh yaitu :

Pada kasus ini pasien didiagnosis

infeksi saluran kemih bagian atas (complicate

pielonefritis akut),yang pengobatannya diberikan seftriakson dan ampisilin. Dimana


obat tersebut juga dapat digunakan untuk pengobatan sepsis yang muncul akibat ISK

tersebut.
Sepsis pasien juga ditangani dengan pemberian aggen inotropik yaitu dopamin dalam

bentuk injeksi.
Karena pasien dirawat di rumah sakit danSaO2 ,PaCO2 menurun maka diberikan nasal

O2 untuk menhindari terjadinya kerusakan otak atau terjadinya gagal nafas


Pemberian infus Ringer Laktat untuk menghindari atau mencegah terjadinya dehidrasi

yang kemungkinana dapat timbul akibat ISK atau sepsis tersebut.


Keluhan/ gejala dari pasien berupa demam diberikan parasetamol sedangkan untuk
mual pasien diberikan domperidon.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2002, Current Medical Diagnosis & Treatment, 41th edition, 963, McGraw-Hill,
USA.
Anonim,

2007,

Pedoman

Pengobatan

Dasar

di

Puskesmas,http://www.depkes.go.id/downloads/doen2008/puskesmas_2007.pdf.
Anonim, 2007, Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas, 178, Depkes RI, Jakarta.
Anonim, 2008, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2008, 353, BPOM RI, Jakarta.
Lacy, C.F., et al, 2008, Drug Informstium Handbook, 150-152, Lexy-Comp Inc., USA.
Hooton TM, Scholes D, Hughes JP, Winter C, Robert PL, stapleton AE, Stergachis A, Stamm
WE. A Prospective Study of Risk Factor for Symtomatic Urinary Tract Infection in
Young Women. N Engl J Med 1996; 335: 468-474.
Purnomo BB: Dasar-Dasar Urologi 2nd Edition . Jakarta, Sagung Seto. 2003.
Tessy A, Ardaya, Suwanto. Infeksi Saluran Kemih. In: Suyono HS. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam 3rd edition. Jakarta, FKUI. 2001.
Tim Penyusun IONI, 2000, IONI: Informatorium Obat Nasional Indonesia, hal. 301, Depkes
RI Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta.
Tim Penyusun ISO Farmakoterapi, 2008, ISO Farmakoterapi, PT. ISFI Penerbitan, Jakarta.
Tjay, Tan Hoan dan Rahardja, Kirana., 2007, Obat-obat Penting Khasiat, Penggunaan dan
Efek Sampingnya, Edisi Keenam, PT. Elex Media Komputindo Gramedia, Jakarta.

Tim Redaktur MIMS Indonesia, 2006, MIMS Indonesia: Petunjuk dan Konsultasi, Edisi 6
2006/2007, hal. 83, 273, 346, PT. Infomaster lisensi dari CMPMedica, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai