Anda di halaman 1dari 2

Contoh Kasus

PT. Sejahtera adalah perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan alat olahraga dan
terdaftar di KPP Setiabudi. PT. Sejahtera merupakan BUT dari perusahaan Malaysia yang
berkedudukan di Malaysia.
Berdasarkan Data Akuntansi Tahun 2013:
1.
2.
3.
4.

Hasil Penjualan peralatan Olahraga di Indonesia


Ekspor peralatan Olahraga ke Singapura
Hasil sewa peralatan senam
Laba dari penjualan mobil perusahaan

Rp 5.000.000.000
Rp 20.000.000.000
Rp 20.000.000
Rp 6.000.000

HPP :
Pembelian barang dagangan dari Kantor Pusat di Malaysia
Biaya Operasi :
Gaji Karyawan
Biaya Iklan
Biaya perjalanan dinas
Biaya fee jasa manajemen ke Kantor Pusat
Biaya Adm Kantor Pusat
(berdasarkan keputusan Dirjen Pajak, biaya Adm
yang boleh dibebankan 40%)

Rp 16.000.000.000

Rp 7.000.000.000
Rp 4.000.000.000
Rp 1.000.000.000
Rp 500.000.000
Rp 200.000.000

Penghasilan Kantor Pusat di Indonesia :


Penjualan langsung peralatan Olahraga ke PT. Sincere Store

Rp 8.000.000.000

Biaya yang dikeluarkan Kantor Pusat :


HPP di Indonesia

Rp 4.000.000.000

Diminta : Hitung pajak terhutang BUT PT. Sejahtera tahun 2013!


Jawab :
Penghasilan BUT PT. Sejahtera :
1. Hasil penjualan
2. Ekspor peralatan
3. Hasil sewa
4. Laba penjualan mobil
5. Penjualan langsung
Total Penghasilan

Dikurangi :
1. Pembelian barang dagang
2. Gaji karyawan
3. Biaya iklan
4. Biaya perjalanan dinas
5. Biaya Adm Kantor Pusat

Rp 5.000.000.000
Rp 20.000.000.000
Rp 20.000.000
Rp 6.000.000
Rp 8.000.000.000 +
Rp 33.026.000.000

Rp 16.000.000.000
Rp 7.000.000.000
Rp 4.000.000.000
Rp 1.000.000.000
Rp 80.000.000

(Rp 200.000.000 x 40%)


6. HPP di Indonesia

Rp 4.000.000.000 +

PPH Terhutang : 25% x Rp 946.000.000

(Rp 32.080.000.000)
Rp 946.000.000
(Rp 236.500.000)
Rp 709.500.000

Branch profit tax : 12,5% x Rp 709.500.000 = Rp 88.687.500

Analisis Kasus
Dari kasus di atas dapat dianalisis bahwa dari kelima penghasilan BUT PT. Sejahtera
dianggap sebagai Objek Pajak BUT karena, telah memenuhi ketiga syarat yang menjadi
Objek Pajak dari BUT yaitu, Penghasilan dari usaha atau kegiatan kegiatan BUT yang
bersangkutan dan dari harta yang dimiliki atau dikuasai oleh BUT, Penghasilan Kantor Pusat
dari usaha atau kegiatan penjualan barang atau pemberian jasa di Indonesia sejenis dengan
yang dijalankan atau dilakukan oleh BUT di Indonesia, dan Penghasilan sebagaimana
tersebut dalam pasal 26 yang diterima atau diperoleh Kantor Pusat, sepanjang terdapat
hubungan efektif antara BUT dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan
tersebut. Sedangkan biaya operasinya dapat dilihat dari biaya-biaya yang berkenaan dengan
penghasilan Kantor Pusat dari usaha atau kegiatan penjualan barang atau pemberian jasa di
Indonesia yang sejenis serta biaya-biaya yang terkait dengan penghasilan yang mempunyai
hubungan efektif. Selain itu, Biaya Adm Kantor Pusat yang diperbolehkan dibebankan
merupakan biaya yang berkaitan dengan BUT tersebut dan besarnya ditetapkan oleh Dirjen
Pajak (DJP). Tarif Branch Profit tax dapat dilihat dari ada atau tidaknya Tax Treaty.