Anda di halaman 1dari 46

Bentang Alam Pantai dan Pesisir

Anda pernah pergi berlibur ke pantai?. Lalu pernahkah melihat dan menganalisa
perbedaan
antara
satu
pantai dengan pantai lainnya di berbagai daerah?. Pantai merupakan bentang alam
yang penting selain laut tentunya. Pantai merupakan batas antara daratan dengan
laut. Secara sederhana, pantai dapat diklasifikasikan menjadi dua berdasarkan
kenampakan garis pantainya yaitu pantai lurus dan pantai berliku.
Pantai lurus adalah pantai dengan konfigurasi garis pantai yang lurus. Pantai tipe
ini sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan ke arah laut (prograding shoreline),
hasil sedimentasi atau karena daratan mengalami penaikan akibat gaya tektonik.
Ciri lain dari pantai tipe ini adalah lereng yang landai hampir datar dengan pesisir
yang lebar. Kalau memperhatikan jenis pantai lurus ini secara detail maka dapat
dijumpai beberapa tipe pantai yaitu: lurus sejajar, melengkung, bulan muda,
gergaji,
bertanduk
dan
tombolo.
Pantai berliku adalah pantai dengan konfigurasi garis pantai yang tidak lurus, ini
disebabkan oleh tenggelamnya pantai atau pantai itu seolah-olah mundur
(retrograding shoreline), pantai memiliki pesisir sempit bahkan kadang tidak
berkembang. Banyak pantai berliku didasarkan pada kekhasannya masing-masing
yaitu: Pantai Ria, Fyord, Pantai Terjal, Pantai Volkanik, Pantai Struktural dan
Pantai Terumbu.

Pantai Ria merupakan pantai yang mengalami erosi fluvial (sungai) kemudian
tenggelam dan daratan di belakang pantai tersebut berupa perbukitan. Pantai
Fyord merupakan pantai tenggelam karena erosi glasial seperti banyak terdapat di
Norwegia. Pantai Terjal pada umumnya terjadi karena pukulan ombak yang kuat
sehingga garis pantai cenderung mundur sehingga terbentuk tebing terjal dan ada
indikasi aktivitas tektonik. Pantai Volaknik termasuk pantai berliku karena aktivitas
magma yang lebih sering tidak teratur dan litologi resisten. Pantai Struktural
dicirikan dengan adanya tebing terjal dan berliku disebabkan oleh pensesaran dan

struktur geologi lain. Pantai Terumbu memiliki konfigurasi garis pantai yang berliku
karena dipengaruhi oleh pertumbuhan koral masa kini.

Dalam segi manajemen khususnya pariwisata maka pantai landai lebih mudah
dikembangkan dibandingkan pantai terjal. Berbagai fasilitas penunjang dapat
dibangun di sana namun di sisi lain dampak lingkungan juga akan terjadi seperti
sampah, banjir, intrusi air laut, pemukiman kumuh dan lainnya.

Latar Belakang
Bentang
alam (Inggris: landform)
adalah
suatu
unit geomorfologis yang
dikategorikanberdasarkan karateristik seperti elevasi, kelandaian, orientasi, stratifikasi,
paparan batuan, dan jenis tanah. Jenis-jenis bentang alam antara lain
adalah bukit, lembah, tanjung, dll, sedangkan samudradan benua adalah contoh jenis bentang
alam tingkat tertinggi.
Beberapa faktor, mulai dari lempeng tektonik hingga erosi dan deposisi dapat membentuk dan
memengaruhi bentang alam. Faktor biologi dapat pula memengaruhi bentang alam, contohnya adalah

peranantumbuhan dan ganggang dalam


pembentukan rawa serta terumbu
karang. Istilah-istilah
bentang alam tidak hanya dibatasi bagi bentukan di bumi, melainkan dapat pula digunakan untuk
menjelaskan bentukan pada permukaan planet dan objek-objek lain di alam semesta.

Pengaruh proses marin berlangsung intensif pada daerah pantai pesisir, khususnya pada
garis pantai di wilayah pesisir tersebut, bahkan ada diantaranya yang sampai puluhan
kilometer masuk ke pedalaman. Selain itu, berbagai proses lain seperti proses tektonik pada
masa lalu, erupsi gunung api, perubahan muka air laut, dan lain lain sangat besar
pengaruhnya terhadap kondisi medan pantai dan pesisir beserta karakteristik lainnya.
Adakalanya proses marin di kawasan ini berkombinasi dengan proses angin (aeolin). Medan
yang terbentuk dari kombinasi dus proses ini bersifat spesifik.
Berbagai proses berlangsung di daerah pantai dan pesisir, yang tenaganya berasal dari
ombak, arus, pasang surut, tenaga tektonik, menurunnya permukaan air laut maupun lainnya.
Proses ini berpengaruh terhadap medan dan karakteristikya, serta mempengaruhi
perkembangan wilayah pantai maupun pesisir tersebut. Oleh karena itu, dari latar belakang
diatas maka penulis mengangkat judul Bentang Lahan Pantai untuk memenuhi tugas
makalah untuk mata kuliah Geomorfologi Dasar.
1.2

1.3

Rumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian di atas dapat dikaji beberapa permasalahan yang dirumuskan
sebagai berikut
:
Apa definisi bentang alam pantai?
Dimanakah terjadinya bentang alam pantai?
Bagaimana proses terbentuknya bentang lahan pantai?
Apa keuntungan dan kerugian dari terjadinya bentang alam pantai?

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :
Agar mahasiswa mengetahui definisi bentang alam pantai
Agar mahasiswa mengetahui dimana terjadinya bentang alam pantai
Agar mahasiswa mengetahui bagaimana proses terjadinya bentang alam pantai
Agar mahasiswa mengetahui keuntungan dan kerugian yang diberikan oleh proses bentang
alam pantai

II.
2.1

PEMBAHASAN

Definisi Bentang Alam Pantai


Wilayah pesisir adalah suatu wilayah yang berada pada batas antara daratan dan lautan dan
merupakan tempat pertemuan antara energy dinamis yang berasal dari daratan dan lautan. Wilayah
pantai merupakan wilayah yang dipengaruhi oleh proses-proses erosi/abrasi, sedimentasi, penurunan
(submergence), dan pengangkatan (emergence).
Morfologi pantai adalah bentuk-bentuk bentang alam yang terjadi sebagai akibat dari aktivitas
air yang berada di wilayah pantai. Berbagai macam bentuk bentang alam dijumpai di wilayah pantai,
kebanyakan bentuk bentang alam pantai sebagai hasil perubahan gelombang air laut. Singkapansingkapan batuan yang berada disepanjang pantai dikenal sebagai muka daratan (headlands) ter
erosi, menghasilkan pasir kemudian diangkut disepanjang garis pantai dan diendapkan di wilayah
pantai membentuk bentang alam tertentu.
Menurut Simonds (1983) wilayah pantai merupakan badan air alami yang dilindungi oleh
batuan atau pasir yang terbentuk oleh pemukulan dan pencucian ombak yang dikendalikan oleh
angin. Bagi manusia, pantai dimanfaatkan untuk rekreasi, penelitian, dan edukasi. Batasan wilayah
pantai yang digunakan di Indonesia adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, kearah darat
meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut
seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin, sedangkan kearah laut mencakup bagian
laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan
aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan
dan pencemaran.

2.2

Tempat Terjadinya Bentang Alam Pantai


Pantai adalah jalur atau bidang yang memanjang, tinggi serta lebarnya dipengaruhi oleh
pasang surut dari air laut, yang terletak antara daratan dan lautan (Thornbury, 1969). Faktor-faktor
yang mempengaruhi bentuk morfologi pantai tersebut antara lain adalah pengaruh diatropisme, tipe
batuan, stuktur geologi, pengaruh perubahan naik turunnya muka air laut, serta pengendapan
sediment asal daratan / sungai, erosi daratan dan angin. Pantai merupakan salah satu elemen utama
lanskap yang meliputi daerah-daerah yang mempunyai penggunaan nyata, potensial, dan dapat
dijadikan suatu proyek yang mempunyai dampak nyata dan langsung pada perairan pantai.

2.3

Proses Terjadinya Bentang Alam Pantai

Tenaga yang mempengaruhi proses pembentukan pantai, baik secara langsung maupun
tidak langsung ada beberapa macam, yaitu gelombang laut, arus litoral, pasang naik dan
pasang surut, tenaga es, dan kegiatan organisme laut.
1. Gelombang Air Laut
Gelombang dapat terjadi dengan beberapa cara, misalnya longsoran tanah laut, batu yang
jatuh dari pantai curam, perahu atau kapal yang sedang lewat, gempa bumi di dasar laut, dan
lain sebagainya. Diantaranya adalah gelombang yang disebabkan oleh angin. Angin akan
berhembus dengan kencang apabila terjadi ketidakseimbangan tekanan udara. Karena tekanan
yang tidak sama di permukaan air itulah yang menyebabkan permukaan air berombak.
Adanya gelombang ini sangat penting dalam perkembangan garis pantai.
2.

Arus Litoral

Selain gelombang air laut, arus litoral juga merupakan tenaga air yang sangat penting
pengaruhnya dalam pembentuka garis pantai. Pengaruh arus litoral terhadap perkembangan
garis pantai dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tekanan atau kekuatan angin, kekuatan
gelombang laut, kedalaman air, dan bentuk pantainya. Apabila bentuk pantainya landai dan
proses pengendapannya cukup besar, maka arus litoral mempunyai pengaruh yang sangat
penting sebagai tenaga pengangkut. Pada daerah pantai yang tersusun dari batuan yang tidak
kompak, proses erosi akan bekerja sangat intensif. Jika hasil pengendapan terangkut dari
permukaan air yang dangkal menuju permukaan air yang lebih dalam, maka arus litoral
merupakan tenaga yang sangat efektif dalam proses pengendapan di pantai.
3. Pasang Naik dan Pasang Surut
Pengaruh pasang-surut yang terpenting terhadap pembentukan pantai adalah naik-turunnya
permukaan air laut dan kekuatan gelombangnya. Apabila gelombang besar terjadi pada saat
pasang naik akan merupakan tenaga perusak yang sangat hebat di pantai. Arus air yang
ditimbulkan oleh pasang naik dan pasang surut akan bergerak melalui permukaan terbuka dan
sempit serta merupakan tenaga pengangkut endapan daratan yang sangat intensif.
4. Tenaga Es
Pengaruh tenaga es yang terpenting yaitu adanya pengkerutan es dan pemecahan atau
pencairan es. Air yang berasal dari bawah akan naik dan mengisi celah-celah dan akhirnya
akan membeku. Apabila terjadi perubahan iklim, maka es akan mencair sehingga permukaan
airnya akan bertambah besar.
5. Organisme
Jenis binatang laut yang sangat penting dalam proses pembentukan garis pantai beserta
perubahannya salah satunya yaitu binatang karang. Binatang karang yang paling banyak
membentuk batuan karang ialah golongan polyps. Polyps merupakan jenis binatang karang
yang sangat kecil yang hidup dengan subur pada air laut yang memiliki kedalaman antara 3545 meter. Jenis makhluk hidup lain yang berpengaruh pada perkembangan pantai ialah
tumbuh-tumbuhan ganggang (algae). Ganggang merupakan jenis mikro flora yang dapat
membantu pengendapan dari larutan yang mengandung kalsium karbonat menjadi endapan
kapur.
2.4

Keuntungan Bentang Alam Pantai

Kawasan pantai umumnya merupakan wilayah yang merupakan koridor pembangunan


yang diminati. Hal tersebut disebabkan karena wilayah tersebut mengandung banyak hal yang
memberi kemudahan dan memberi daya dukung untuk pembangunan. Kemudahan dan daya
dukung tersebut adalah :
1) Wilayah pantai sebagian besar merupakan wilayah dataran dengan kemiringan lereng yang
datar atau hampir datar, sehingga mudah dicapai dan banyak pembangunan dapat
dilaksanakan.

2)

Berbatasan dengan laut sehingga di beberapa tempat dapat dikembangkan


menjadipelabuhan sehingga dapat terjalin komunikasi ke luar pulau, serta adanya wilayah
penangkapan dan budidaya perikanan laut.
3) Banyak sungai mengalir dan bermuara di wilayah pantai ini. Sungai dapat menjadisumbu air
tawar, dan muara sungai menjadi wilayah pelabuhan.
4) Tanah di wilayah dataran pantai mempunyai tanah yang lunak, gembur, berpori sehingga dapat
menjadi akifer air tanah yang baik dan dangkal dibandingkan dengan wilayah pegunungan.
Tanah yang lunak dan gembur merupakan tanah yang relatif mudah digarap menjadi kawasan
pertanian dan sawah.
5) Wilayah pantai yang merupakan pertemuan antara daratan dan lautan pada umumnya
mempunyai pemandangan yang indah dan mempesona, sehingga dapat berkembang menjadi
daerah pariwisata bahari, lebih-lebih jika terdapat terumbu karang.
6) Wilayah pantai merupakan berbagai ekosistem seperti wilayah hutan bakau, terumbu karang,
laguna, serta gua-gua pada tebing terjal di pantai, muara sungai/delta, dan pantai landai
berpasir.
2.5

Kerugian Bentang Alam Pantai

Pemanasan global merupakan bagian dari aktivitas iklim dan cuaca secara global yang
penyebabnya tidak mudah untuk diketahui dengan pasti antara lain oleh :- menaiknya
intensitas radiasi matahari (?); - variasi dari perputaran bumi, dan berubahnya sumbu bumi
(?); - faktor geologi : berkurangnya ketinggian daratan oleh berbagai sebab sehingga
berkurangnya curah hujan, berkembangnya tudung es di ketinggian sehingga turut
memanaskan bumi secara global; - menaiknya jumlah karbon dioxida di udara oleh
berbagai faktor; sebaliknya menurunnya karbon dioxida yang disertai dengan naiknya
permukaan daratan ke elevasi yang lebih tinggi akan dapat menurunkan suhu bumi dan
menimbulkan glasiasi; - pergerakan benua ke arah wilayah ayang labil tinggi temperaturnya
juga dapat menyebabkan melelehnya es.
Wilayah pantai merupakan wilayah pertemuan antara daratan dan lautan. Perubahanperubahan yang terjadi sebagai akibat proses endogen dan exogen akan dapat terlihat pada
wilayah tersebut, baik perubahan dari geomorfologi, proses-proses erosi dan sedimentasi,
jenis tanah dan batuan sedimen yang terbentuk, kondisi hidrogeologi, berbagai proses
bencana alam, dan perubahan ekosistem maupun lingkungan manusia
Wilayah pantai yang umumnya datar, berbatasan dengan laut, banyak sungai, airtanah
yang relatif dangkal, serta terkadang mengandung mineral ekonomis, berpandangan indah
dan mempunyai terumbu karang tentu sangat menarik dan dapat mendukung berbagai
pembangunan. Kota-kota, pelabuhan, pertanian dan perikanan, wisata bahari, kawasan
industri, bahkan kadang-kadang penambangan mineral dan bahan bangunan dapat
berkembang di wilayah pantai. Banyak kota besar, kota pelabuhan, kota perdagangan, dan ibu
kota negara atau ibu kota daerah berada di sana.
Pemanasan global yang berakibat naiknya muka laut dengan demikian akan dapat
menimbulkan dampak yang serius bagi wilayah pantai tersebut.

2.6 Macam-macam Bentang Alam Pantai


1. Atol
Koral pembuat karang hanya dapat hidup di samudera dan laut berair hangat tropis dan
subtropis, dan sebelumnya atol hanya dapat ditemukan di wilayah tropis dan subtropis. Tak ada atol

yang terletak langsung di Khatulistiwa, atol terdekat dengan Khatulistiwa adalah Aranuka di Kiribati,
dengan ujung selatannya 12 km di Utara Khatulistiwa.

Bagian dari atol Pasifik yang memperlihatkan dua pulau di karang penghalang yang dipisahkan oleh perairan
dalam antara samudera dan laguna.

Dalam beberapa hal, luas daratan sebuah atol sangat kecil bila dibandingkan dengan luas totalnya.
Menurut [4], Lifou (luas daratan 1146 km) adalah atol koral permukaan terbesar di dunia, diikuti
olehPulau Rennell (660 km). Banyak sumber menyebutkan atol terbesar di dunia menurut luas
daratan adalah Kiritimati, yang juga merupakan atol koral permukaan (luas daratan 321.37 km;
menurut sumebr lainnya 575 km), laguna utama 160 km, laguna lainnya 168 km (menurut sumber
lain ukuran laguna seluruhnya 319 km). Sisa atol kuno sebagai sebuah bukit di daerah batu kapur
disebut knoll karang. Atol kedua terebsar menurut luas daratan kering adalah Aldabra dengan 155
km.
2. Teluk
Teluk adalah tubuh perairan yang menjorok ke daratan dan dibatasi oleh daratan pada ketiga
sisinya. Oleh karena letaknya yang strategis, teluk banyak dimanfaatkan sebagai pelabuhan.[1]Teluk
adalah kebalikan dari tanjung, dan biasanya keduanya dapat ditemukan pada suatu garis pantaiyang
sama.
Beberapa teluk besar di Indonesia adalah Teluk Cenderawasih di Irian, Teluk Tomini di Sulawesi,
danTeluk Bone, juga di Sulawesi.

Teluk San Sebastian, Spanyol

3.

Tanjung
Tanjung adalah daratan yang menjorok ke laut, atau daratan yang dikelilingi oleh laut di
ketiga sisinya. Tanjung yang luas disebut semenanjung. Tanjung adalah kebalikan dari teluk, dan
biasanya keduanya dapat ditemukan pada suatu garis pantai yang sama.

Tanjung Harapan di Afrika Selatan

Semananjung
Semenanjung atau jazirah (semenanjung yang besar) adalah formasi geografisyang
terdiri
atas
pemanjangan daratan dari
badan
daratan
yang
lebih
besar
(misalnya pulauatau benua) yang dikelilingi oleh air pada 3 sisinya. Secara umum,
semenanjung adalahtanjung yang (sangat) luas sedangkan jazirah lebih besar dari
semenanjung.
Semenanjung dapat pula memiliki daratan sempit yang diapit oleh dua badan air yang
berdekatan. Daratan sempit ini disebut sebagai tanah genting.
4.

Semenanjung dengan tanah genting di bagian tengahnya.

Selat
Selat adalah sebuah wilayah perairan yang relatif sempit yang menghubungkan dua
bagian perairan yang lebih besar, dan karenanya pula biasanya terletak di antara dua
permukaan daratan. Selat buatan disebut terusan atau kanal. Selat disebut juga Laut Sempit di
antara dua daratan.
5.

Selat Gibraltar yang memisahkan Spanyol dan Maroko dan menghubungkan laut Mediterania dengan Samudra
Atlantik

III.
3.1

PENUTUP

Kesimpulan

Pantai adalah bentuk-bentuk bentang alam yang terjadi sebagai akibat dari aktivitas air yang
berada di wilayah pantai. Berbagai macam bentuk bentang alam dijumpai di wilayah pantai,
kebanyakan bentuk bentang alam pantai sebagai hasil perubahan gelombang air laut. Singkapansingkapan batuan yang berada disepanjang pantai dikenal sebagai muka daratan (headlands) ter
erosi, menghasilkan pasir kemudian diangkut disepanjang garis pantai dan diendapkan di wilayah
pantai membentuk bentang alam tertentu.
Pantai adalah jalur atau bidang yang memanjang, tinggi serta lebarnya dipengaruhi oleh pasang surut dari
air laut, yang terletak antara daratan dan lautan. Tenaga yang mempengaruhi proses pembentukan

pantai, baik secara langsung maupun tidak langsung ada beberapa macam, yaitu gelombang
laut, arus litoral, pasang naik dan pasang surut, tenaga es, dan kegiatan organisme laut.
Kawasan pantai umumnya merupakan wilayah yang merupakan koridor pembangunan
yang diminati. Hal tersebut disebabkan karena wilayah tersebut mengandung banyak hal yang
memberi kemudahan dan memberi daya dukung untuk pembangunan.
3.2

Saran
Pemerintah seharusnya mampu meningkatkan kualitas bentang lahan pantai
khususnya yang ada di Indonesia saat ini. Indonesia memiliki berbagai jenis ekosistem laut
seperti terumbu karang serta organisme lainnya. Selain itu juga harus mampu meningkatkan
kualitas pantai untuk sarana rekreasi namun di adakan penjagaan agar pantai tetap terjaga
kelestariannya.

DAFTAR PUSTAKA
Darwin, C. 1842. The structure and distribution of coral reefs. London.
Dobbs, David. 2005. Reef Madness : Charles Darwin, Alexander Agassiz, and the Meaning
of Coral. Pantheon. ISBN 0-375-42161-0
Fairbridge, R. W. 1950. Recent and Pleistocene coral reefs of Australia. J. Geol., 58(4): 330
401.
McNeil, F. S. 1954. Organic reefs and banks and associated detrital sediments. Amer. J. Sci.,
252(7): 385401.

Bentang Alam di Daerah Pesisir


Diposkan oleh Yunisa Rahma on 05 November, undefined Label: geografi |0 komentar

a.

Pesisir Pantai (Beach) adalah yaitu pesisir diantara garis pasang naik dan pasang surut.

b.

Laguna adalah air laut dangkal yang memiliki luas beberapa mil, sering merupakan teluk atau
danau yang terletak diantara pulau penghalang dengan pantai.

c.

Pulau Penghalang (Barrier Island) adalah gosong pasir yang tersembul dipantai yang
dipisahkan dari pantai oleh laguna. Pulau penghalang ini bias tebentuk sebagai spit atau gumuk
pasir yang dibentuk oleh angin atau air.

d.

Delta adalah deposit lumpur, pasir, atau kerikil (endapan alluvium) yang mengendap di muara
suatu sungai. Delta dibagi menjadi tiga berdasarkan bentuknya, yaitu Delta Arcuate (Berbentuk
kipas), Delta Cuspate (Berbentuk gigi tajam), Delta Estuarine (Berbentuk estuarine).

e.

Goa Laut (Sea Cave) merupakan goa yang terbentuk pada terbing terjal (clif) atau tanjung
(headland) sebagai akibat erosi dari hantaman gelombang dan arus.

f.

Sea Arch merupakn sea cave yang telah tereosi sangat berat akibat dari hantaman ombak.

g.

Sea Stack merupakan tiang-tiang batu yang terpisah dari daratan yang tersusun dari batuan
yang resisten sehingga masih bertahan dari hantaman gelombang.

h.

Rawa Air Asin (Salt Marsh) merupakan rawa yang terbentuk akibat genangan air laut di dinggir
pantai.

i.

Head Land yaitu batuan daratan resisten yang menjorok kelaut sebagai akibat erosi gelombang.

j.

Bar yaitu gosong pasir dan kerikil yang terletak pada dasar laut dipinggir pantai yang terjadi oleh
pengerjaan arus laut dan gelombang. Kadanngkadang terbenam seluruhnya oleh air laut.
Beberapa jenis bar antara lain:

Spit yaitu yang salah satu ujunganya terikat pada daratan, sedangkan yang lainnya tidak.
Bentuknya kebanyakan lurus sejajar dengan pantai, tetepai oleh pengaruh arus yang membelok ke
arah darat atau oleh pengaruh pasang naik yang besar, spit itupun membelok pula ke arah darat
yang disebut Hook atau Recurved Spit (Spit Bengkok).

Baymouth Bar adalah spit yang kedua ujungnya terikat pada daratan yang menyeberang dibagian
muka teluk.

Tombolo adalah spit yang menghubungkan pulau dengan daratan induk atau dengan pulau lain,
contohnya daratan antara Pulau Pananjung dengan daratan induknya Pulau Jawa.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Bentang lahan ini tersusun dari bentuk lahan asal proses marine atau geomorfologi asal
marine. Geomorfologi asal marin merupakan bentuk lahan yang terdapat di sepanjang pantai.
Proses perkembangan daerah pantai itu sendiri sangat dipengaruhi oleh kedalaman laut.
Semakin dangkal laut maka akan semakin mempermudah terjadinya bentang alam daerah
pantai, dan semakin dalam laut maka akan memperlambat proses terjadinya bentang alam di
daerah pantai.
Pengaruh proses marin berlangsung intensif pada daerah pantai pesisir, khususnya pada
garis pantai di wilayah pesisir tersebut, bahkan ada diantaranya yang sampai puluhan
kilometer masuk ke pedalaman. Selain itu, berbagai proses lain seperti proses tektonik pada
masa lalu, erupsi gunung api, perubahan muka air laut, dan lain lain sangat besar
pengaruhnya terhadap kondisi medan pantai dan pesisir beserta karakteristik lainnya.
Adakalanya proses marin di kawasan ini berkombinasi dengan proses angin (aeolin). Medan
yang terbentuk dari kombinasi dus proses ini bersifat spesifik.
Berbagai proses berlangsung di daerah pantai dan pesisir, yang tenaganya berasal dari
ombak, arus, pasang surut, tenaga tektonik, menurunnya permukaan air laut maupun lainnya.
Proses ini berpengaruh terhadap medan dan karakteristikya, serta mempengaruhi
perkembangan wilayah pantai maupun pesisir tersebut. Oleh karena itu, dari latar belakang
diatas maka penulis mengangkat judul Bentang Lahan Pantai untuk memenuhi tugas
makalah untuk mata kuliah Geomorfologi Dasar.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian latar belakang di atas, dapat dikaji ada beberapa permasalahan
yang dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa pengertian bentang lahan pantai?
2. Apa saja yang termasuk dalam mintakat pantai?
3. Bagaimana proses terbentuknya bentang lahan pantai?
4. Bagaimana pengklasifikasian pantai menurut para ahli?
5. Bagaimana daur perkembangan garis pantai?
6. Bagaimana bentuk topografi pantai?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut:

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Untuk mengetahui pengertian bentang lahan pantai.


Untuk mengetahui mintakat pantai.
Untuk mengetahui proses terbentuknya bentang lahan pantai.
Untuk mengetahui pengklasifikasian pantai menurut para ahli.
Untuk mengetahui daur perkembangan garis pantai.
Untuk mengetahui bentuk topografi pantai.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bentang Lahan Pantai
Bentang lahan ini tersusun dari bentuk lahan asal proses marine atau geomorfologi asal
marine.Geomorfologi asal marin merupakan bentuk lahan yang terdapat di sepanjang pantai.
Proses perkembangan daerah pantai itu sendiri sangat dipengaruhi oleh kedalaman laut.
Semakin dangkal laut maka akan semakin mempermudah terjadinya bentang alam daerah
pantai, dan semakin dalam laut maka akan memperlambat proses terjadinya bentang alam di
daerah pantai. Selain dipengaruhi oleh kedalaman laut, perkembangan bentang lahan daerah
pantai juga dipengaruhi oleh:
1. Struktur, tekstur, dan komposisi batuan.
2. Keadaan bentang alam atau relief dari daerah pantai atau daerah di daerah sekitar pantai
tersebut.
3. Proses geomorfologi yang terjadi di daerah pantai tersebut yang disebabkan oleh tenaga dari
luar, misalnya yang disebabkan oleh angin, air, es, gelombang, dan arus laut.
4. Proses geologi yang berasal dari dalam bumi yang mempengaruhi keadaan bentang alam di
permukaan bumi daerah pantai, misalnya tenaga vulkanisme, diastrofisme, pelipatan,
patahan, dan sebagainya.
5. Kegiatan gelombang, arus laut, pasang naik dan pasang surut, serta kegiatan organisme yang
ada di laut.
Di Indonesia, pantai yang ada pada umumnya dialih fungsikan sebagai tempat wisata
yang notabene dapat membantu tingkat pendapatan suatu wilayah. Apabila masyarakat
mengetahui bahwa garis pantai bisa mengalami perubahan, maka akan muncul pemikiranpemikiran agar pantai tersebut tetap bisa dinikmati keindahannya meskipun sudah mengalami
perubahan.
2.2 Mintakat Pantai
1. Pesisir (Coast) adalah daerah pantai yang tidak menentu dan cenderung meluas ke daratan.
Biasanya daratan terletak di belakang pantai (shore) yang tidak tergenang air laut tetapi

mendapat pengaruh bahari, batasnya disebut coast line. Coast line merupakan garis batas laut
yang tetap dari pesisir.
2. Pantai (Shore) adalah daerah yang terletak antara pasang dan surut, garis batas darat-laut
disebutShore line. Shore line atau garis pantai adalah garis yang membatasi permukaan
daratan dan permukaan air. Garis batas ini selalu berubah-ubah sesuai dengan permukaan air
laut. Garis pantai tertinggi terjadi pada saat terjadi pasang naik setinggi-tingginya, sedangkan
garis pantai terendah terjadi pada saat terjadi pasang surut serendah-rendahnya.
Pantai dibedakan menjadi:
a. Pantai belakang (Back Shore)
Backshore adalah bagian dari pantai yang terletak di antara pantai depan (foreshore) dengan
garis batas laut tetap (coastline). Daerah ini hanya akan tergenang air apabila terjadi
gelombang pasang yang besar. Dengan demikian daerah ini akan kering apabila tidak terjadi
gelombang pasang yang intensitasnya besar. Bentang alam seperti ini biasanya terdapat pada
daerah pantai yang terjal, misalnya di pantai selatan Pulau Jawa.
b. Pantai Depan (Fore Shore)
daerah sempit yang terdapat pada pantai yang terletak di antara garis pasang naik tertinggi
dengan garis pasang surut terendah.
c. Endapan pantai (Beaches)
Beaches merupakan endapan hasil kegiatan laut yang terdapat di pantai. Menurut tempat
terjadinya, beaches ini dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:
v Endapan bawah pantai depan (lower forest beach), merupakan jenis endapan yang terdapat di
bagian bawah pantai depan. Endapan ini juga merupakan hasil dari kegiatan gelombang dan
arus litoral.
v Endapan atas pantai depan (upper foresher beach), merupakan jenis endapan pantai yang
terdapat pada bagian atas pantai depan. Endapan pantai ini terbentuk karena hasil kegiatan
gelombang.
v Endapan pantai belakang (backshore beach), merupakan jenis endapan pantai yang terdapat
pada pantai belakang yang sempit. Endapan pantai ini merupakan gabungan dari hasil
kegiatan gelombang yang besar, aliran air dari gelombang pasang naik setinggi-tingginya,
angin, serta aliran sungai
yang membawa material batuan ke pantai belakang tersebut.
d. Lepas pantai (Off shore) yaitu daerah yang meluas dari garis pasang surut terendah ke arah
laut, dibedakan :
Inshofe, meluas dari garis pasang surut sampai gosong pasir (bar) atau daerah empasan
(breakers)
Off shore, meluas di sebelah luar, arah ke laut.

22.3 Proses Terbentuknya Bentang Lahan Pantai

Tenaga yang mempengaruhi proses pembentukan pantai, baik secara langsung


maupun tidak langsung ada beberapa macam, yaitu gelombang laut, arus litoral, pasang naik
dan pasang surut, tenaga es, dan kegiatan organisme laut.
1. Gelombang Air Laut
Gelombang dapat terjadi dengan beberapa cara, misalnya longsoran tanah laut, batu yang
jatuh dari pantai curam, perahu atau kapal yang sedang lewat, gempa bumi di dasar laut, dan
lain sebagainya. Diantaranya adalah gelombang yang disebabkan oleh angin. Angin akan
berhembus dengan kencang apabila terjadi ketidakseimbangan tekanan udara. Karena tekanan
yang tidak sama di permukaan air itulah yang menyebabkan permukaan air berombak.
Adanya gelombang ini sangat penting dalam perkembangan garis pantai.
2. Arus Litoral
Selain gelombang air laut, arus litoral juga merupakan tenaga air yang sangat penting
pengaruhnya dalam pembentuka garis pantai. Pengaruh arus litoral terhadap perkembangan
garis pantai dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tekanan atau kekuatan angin, kekuatan
gelombang laut, kedalaman air, dan bentuk pantainya. Apabila bentuk pantainya landai dan
proses pengendapannya cukup besar, maka arus litoral mempunyai pengaruh yang sangat
penting sebagai tenaga pengangkut. Pada daerah pantai yang tersusun dari batuan yang tidak
kompak, proses erosi akan bekerja sangat intensif. Jika hasil pengendapan terangkut dari
permukaan air yang dangkal menuju permukaan air yang lebih dalam, maka arus litoral
merupakan tenaga yang sangat efektif dalam proses pengendapan di pantai.
3. Pasang Naik dan Pasang Surut
Pengaruh pasang-surut yang terpenting terhadap pembentukan pantai adalah naik-turunnya
permukaan air laut dan kekuatan gelombangnya. Apabila gelombang besar terjadi pada saat
pasang naik akan merupakan tenaga perusak yang sangat hebat di pantai. Arus air yang
ditimbulkan oleh pasang naik dan pasang surut akan bergerak melalui permukaan terbuka dan
sempit serta merupakan tenaga pengangkut endapan daratan yang sangat intensif.
4. Tenaga Es
Pengaruh tenaga es yang terpenting yaitu adanya pengkerutan es dan pemecahan atau
pencairan es. Air yang berasal dari bawah akan naik dan mengisi celah-celah dan akhirnya
akan membeku. Apabila terjadi perubahan iklim, maka es akan mencair sehingga permukaan
airnya akan bertambah besar.
5. Organisme
Jenis binatang laut yang sangat penting dalam proses pembentukan garis pantai beserta
perubahannya salah satunya yaitu binatang karang. Binatang karang yang paling banyak
membentuk batuan karang ialah golongan polyps. Polyps merupakan jenis binatang karang
yang sangat kecil yang hidup dengan subur pada air laut yang memiliki kedalaman antara 3545 meter.
Jenis makhluk hidup lain yang berpengaruh pada perkembangan pantai ialah tumbuhtumbuhan ganggang (algae). Ganggang merupakan jenis mikro flora yang dapat membantu
pengendapan dari larutan yang mengandung kalsium karbonat menjadi endapan kapur.
2.4 Klasifikasi Pantai
Antara pantai yang satu dengan garis pantai yang lainnya mempunyai perbedaan.
Perbedaan dari masing-masing jenis pantai tersebut umumnya disebabkan oleh kegiatan
gelombang dan arus laut.
Menurut Johnson, pantai dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu:

Pantai yang Tenggelam (Shoreline of submergence)


Shoreline of submergence merupakan jenis pantai yang terjadi apabila permukaan air
mencapai atau menggenangi permukaan daratan yang mengalami penenggelaman. Disebut
pantai tenggelam karena permukaan air berada jauh di bawah permukaan air yang sekarang.

Untuk mengetahui apakah laut mengalami penenggelaman atau tidak dapat dilihat dari
keadaan pantainya. Naik turunnya permukaan air laut selama periode glasial pada jaman
pleistosin menyebabkan maju mundurnya permukaan air laut yang sangat besar. Selain itu,
penenggelaman pantai juga bisa terjadi akibat penenggelaman daratan. Hal ini terjadi karena
permukaan bumi pada daerah tertentu dapat mengalami pengangkatan atau penurunan yang
juga dapat mempengaruhi keadaan permukaan air laut. Pengaruh ini sangat terlihat di daerah
pantai dan pesisir.
Pada bentang lahan yang disebabkan oleh proses geomorfologi, pantai yang tenggelam
dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Hal ini dapat dilihat dari bentuk pantai yang berbeda
sebagai akibat dari pengaruh gelombang dan arus laut. Jenis-jenis pantai tersebut antara lain:
a. Lembah sungai yang tenggelam
Pada umumnya lembah sungai yang tenggelam ini disebut estuarium, sedangkan pantainya
disebut pantai ria. Lembah sungai ini dapat mengalami penenggelaman yang disebabkan oleh
pola aliran sungai serta komposisi dan struktur batuannya.
b. Fjords atau lembah glasial yang tenggelam
Fjords merupakan pantai curam yang berbentuk segitiga atau berbentuk corong. Fjords atau
lembah glasial yang tenggelam ini terjadi akibat pengikisan es. Ciri khas dari bagian pantai
yang tenggelam ini yaitu panjang, sempit, tebingnya terjal dan bertingkat-tingkat, lautnya
dalam, dan kadang-kadang memiliki sisi yang landai. Pantai fjords ini terbentuk apabila
daratan mengalami penurunan secara perlahan-lahan. Bentang lahan ini banyak terdapat di
pantai laut di daerah lintang tinggi, dimana daerahnya mengalami pembekuan di musim
dingin. Misalnya di Chili, Norwegia, Tanah Hijau, Alaska, dan sebagainya.

Lembah Glasial di daerah Alpin dari Alaska hingga Selandia Baru

c.

Bentuk pengendapan sungai


Bentuk pengendapan sungai dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu: (1) Delta, yaitu
endapan sungai di pantai yang berbentuk segitiga dan cembung ke arah laut; (2) Dataran
banjir, yaitu sungai yang terdapat di kanan dan kiri sungai yang terjadi setelah sungai
mengalami banjir; (3) Kipas alluvial, yaitu bentuk pengendapan sungai seperti segitiga,
biasanya terdapat di daerah pedalaman, dan ukurannya lebih kecil bila dibandingkan dengan
delta, serta sungainya tidak bercabang-cabang.
d. Bentuk pengendapan glasial
Bentuk pengendapan ini disebabkan oleh proses pencairan es.
e. Bentuk permukaan hasil diastrofisme
Bentuk kenampakan ini dapat diilustrasikan sebagai fault scraps (bidang patahan), fault line
scraps (bidang patahan yang sudah tidak asli), graben (terban), dan hocgbacks. Setelah
mengalami penenggelaman, fault scraps, fault line scraps, dan dinding graben akan langsung
menjadi pantai.
f. Bentuk permukaan hasil kegiatan gunung api
Jenis pantai yang disebabkan oleh kegiatan gunung api ini dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu: (1) Merupakan hasil kegiatan kerucut vulkanis (mound), yang menyebabkan

terbentuknya pantai yang cembung ke luar; (2) Merupakan hasil kegiatan aliran lava (lava
flow), yang menyebabkan terbentuknya pantai yang cekung ke luar.
2) Pantai yang Terangkat (Shoreline of emergence)
Pantai ini terjadi akibat adanya pengangkatan daratan atau adanya penurunan permukaan air
laut. Pengangkatan pantai ini dapat diketahui dari gejala-gejala yang terdapat di lapangan
dengan sifat yang khas, yaitu:
Terdapatnya bagian atau lubang dataran gelombang yang terangkat
Di daerah ini banyak dijumpai teras-teras pantai (stacks), lengkungan tapak (arches), pantai
terjal (cliffs), serta gua-gua pantai (caves).
Terdapatnya teras-teras gelombang
Teras gelombang ini terbentuk pada saat permukaan air mencapai tempat-tempat di mana
teras tersebut berada. Teras-teras ini merupakan batas permukaan air.
Terdapatnya gisik (beaches)
Gisik yaitu tepian laut yang terdapat di atas permukaan air laut yang terjadi karena adanya
pengangkatan dasar laut.
Terdapatnya laut terbuka
Laut terbuka ini terjadi karena adanya dasar laut yang terangkat.
Garis pantai yang lurus (straight shoreline)
Erosi gelombang dan pengendapannya pada laut dangkal cenderung menurunkan bentang
lahan dan menyebabkan dasar laut dasar laut yang dangkal menjadi datar. Apabila dasar laut
yang dangkal tersebut sekarang mengalami pengangkatan, maka garis pantai yang terbentuk
akan kelihatan lurus.
3) Pantai yang Netral (Neutral shoreline)
Tidak di jumpai tanda-tanda penurunan atau pengangkatan di daerah pantai. Jenis pantai
ini terjadi di luar proses penenggelaman dan pengangkatan, misalnya pantai yang terjadi pada
delta, plain hanyutan, terumbu karang, gunung api, gumuk-gumuk pasir, dan jenis pantai
yang merupakan hasil dari sesar (patahan).
4) Pantai Majemuk (Compound shorelines)
Semula merupakan pantai tenggelam yang terdiri dari beach kemudian air laut surut sehingga
dasar laut muncul ke permukaan atau pantai timbul kemudian tenggelam karena efisiensi
daratan mencair. Jenis pantai ini terjadi sebagai gabungan dua atau lebih proses di atas.
Berarti dalam suatu daerah bisa terjadi proses penenggelaman, pengangkatan, pengendapan,
dan sebagainya.
Menurut Shepard:
1. Kelompok Primer (Non Marine Agency), terjadi bukan karena proses marine yang sering
disebut Youth Full Coast. Jenisini dibedakan menjadi:
a. Terbentuknya karena erosi di daratan, misalnya pantai ria, fiord.

Pantai Ria di Spanyol

b. Terbentuk karena deposit dari daratan, misal:

1)
2)
3)
4)
2.

River deposit coast: delta


Glacial deposition coast: morain, drumlin
Wind deposition coast: beach
Post extented by vegetation.
Kelompok Sekunder (Marine agency), terbentuk karena proses marine (mature coast),
dibedakan :
a. Shorelines save by marine erosion
b. Shorelines save by marine deposition
c. Coral reef coast
22.5 Daur Perkembangan Garis Pantai
1. Daur Perkembangan Garis Pantai yang Tenggelam
Daur perkembangan garis pantai yang tenggelam ini dapat dipengaruhi oleh erosi sungai.
Gangguan yang terjadi di kulit bumi dan topografi di sekitar garis pantai dapat mengalami
perkembangan besar. Hal ini tergantung dari keadaan batuannya, bentuk pantainya, kekuatan
gelombang dan arus lautnya, serta tingkat perkembangan atau stadium pantainya.
Stadium atau tingkatan perkembangan garis pantai yang tenggelam itu sendiri dapat
dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
a. Stadium dini atau awal (initial stage)
Pada tingkatan permulaan ini, keadaan garis pantai sangat tidak teratur. Teluk-teluknya dalam
dan dipisahkan oleh daratan.
b. Stadium muda (youthful stage)
Keadaan pantai pada stadium ini sama tidak teraturnya dengan keadaan pantai pada stadium
dini. Gelombang akan menjalar dari suatu tempat ke tempat lain di sepanjang garis pantainya
dan mengikuti keadaan litologis atau struktur batuannya.
Pada stadium muda awal (early youth) ditandai dengan terdapatnya pantai curam (cliff) yang
sangat terjal, teras-teras gelombang yang sempit di kaki pantai cliff tersebut, serta endapan
pasir. Sedangkan pada stadium muda akhir (late youth) ditandai dengan terdapatnya gisik
yang makin mengecil ke arah pantai dan jenis endapan berada di tempat yang dalam airnya.
Gejala lain dari stadium ini yaitu terbentuknya lagoon yang terbentuk di belakang dari
ambang yang bersambungan dan gosong pasir. Lagoon atau laguna atau tasik itu sendiri yaitu
laut kecil yang umumnya terdapat di tepi pantai dan bentuknya memanjang di sepanjang
pantai tersebut dan terpisah dari laut oleh daratan yang sempit.
c. Stadium dewasa (mature stage)
Pada stadium ini perkembangan pantai yang tenggelam dengan kenampakan topografinya
yang khas sudah banyak yang hilang. Pulau kecil, semenanjung, ambang yang bersambung,
dan sebagainya dapat hilang atau berpindah tempat karena pengaruh erosi gelombang. Selain
itu pada stadium ini, pantai cliff akan mengalami pelapukan yang hebat karena pengaruh
cuaca dan kemiringan lerengnya semakin landai. Demikian juga dengan ketinggian dinding
pantai di sekitar teluk yang menjadi semakin rendah karena pengaruh angin dan sungai. Arus
litoral pada stadium ini dapat menyapu hasil-hasil endapan pantai pada jarak yang sangat
jauh.
d. Stadium tua (old stage)
Karena pengaruh waktu, perkembangan garis pantai akhirnay mencapai usia tua. Hal ini
ditandai oleh semakin melemahnya tenaga erosi yang berasal dari daratan mendekati
permukaan air laut, sehingga material yang dibawa oleh gelombang dan arus laut banyak
diendapkan di sepanjang garis pantai tersebut. Bentang lahan di daerah ini kelihatan sangat
landai sekali dan merupakan dataran pantai dengan sudut kemiringan lerengnya sangat
rendah atau kecil.
11. Daur Perkembangan Garis Pantai yang Terangkat atau timbul

Perkembangan garis pantai yang terangkat dapat dipengaruhi oleh kegiatan


gelombang, arus litoral, dan arus pasang surut. Selain itu, erosi sungai juga dapat
mempengaruhi perkembangan garis pantai yang terangkat tersebut.
Sebelum terangkat, sungai dapat mengerosi daratan hingga cukup dalam dan menyebabkan
terbentuknya lembah dalam stadium muda hingga stadium dewasa. Selama dan sepanjang
pengangkatan, sungai tersebut mulai melakukan pengerosian pada lembah baru yang
terbentuk di sepanjang dataran yang terangkat tersebut. Oleh karena itu, lembah sungai yang
tua sampai yang muda dapat terdapat bersama-sama di dekat laut.
Pantai yang terangkat ini dapat dibedakan lagi menjadi beberapa stadium atau
tingkatan, yaitu:
a. Stadium dini atau awal (initial stage)
Bentuk garis pantai yang asli ini seolah-olah merupakan dataran pantai laut yang terangkat
secara langsung, teratur, dan berjalan secara perlahan-lahan. Dengan demikian,
kemiringannya ke arah laut sangat kecil sekali atau landai. Kadang-kadang daerah ini
merupakan daerah pasang surut yang tergenang sewaktu terjadi pasang naik dan menjadi
kering kembali setelah berlangsungnya pasang surut. Di belakang daerah ini pada umumnya
terdapat dataran pantai yang datar dan rata.
Beberapa kenampakan yang terdapat pada pantai pada stadium ini diantaranya adalah:
1. Nip
Nip merupakan pantai kliff yang tidak seberapa curam. Hal ini disebabkan karena adanya
kegiatan gelombang pada pantai yang sedang mengalami pengangkatan.
2. Gosong lepas pantai (offshore bar)
Apabila permukaan pantai yang datar ini agak jauh tenggelam ke arah laut, maka apabila
terjadi gelombang yang cukup kuat akan memecah agak jauh dari pantai. Sekembalinya ke
laut, gelombang ini akan pecah dan mengangkut material lepas yang terdapat di dasar air laut
tersebut. Kadang-kadang pengangkutan material lepas tersebut dapat berasal dari arah daratan
karena naiknya gelombang yang cukup kuat. Proses ini kemudian membentuk gosong lepas
pantai yang agak kasar dan sejajar dengan garis pantai.

Gambar : gosong lepas pantai

b. Stadium muda (youthful stage).


Pada stadium ini, gosong lepas pantai dan pantai nip atau pantai rusak yang asli terdiri
dari bagian dalam dan luar yang keduanya merupakan hasil pengikisan air.
Beberapa kenampakan yang dijumpai dalam stadium ini adalah:
1. Tasik (lagoon)
Tasik merupakan laut kecil yang terdapat di antara garis pantai dan gosong lepas pantai.
Apabila sungai yang bermuara di laut banyak mengangkut material batuan dari daratan, maka
tasik tersebut akan tertutup oleh material endapan tersebut, sehingga akhirnya akan bersatu
dengan pantai. Proses ini dibantu oleh kegiatan pasang-surut dan gelombang. Selain itu
proses ini dapat juga dibantu oleh angin yang membawa endapan gumuk-gumuk pasir
sehingga dapat menutupi tasik tersebut. Di Indonesia gejala-gejala seperti ini banyak
dijumpai di pantai selatan Parangtritis Yogyakarta.

2. Teluk pasang-surut (tidal inlet)


Tidal inlet merupakan teluk kecil yang terbentuk akibat kegiatan pasang-surut. Pada saat
terbentuknya gosong lepas pantai, ketinggiannya sangat bervariasi. Aliran air akibat pasangsurut tersebut akan melalui tempat-tempat yang rendah. Apabila aliran air pasang-surut
tersebut sama atau melebihi kekuatan gelombang, maka tempat-tempat yang lebih rendah
akan terbuka. Bekas-bekas atau tempat-tempat yang terbuka inilah yang disebut teluk pasangsurut atau tidal inlet.
3. Gosong lepas pantai yang berpindah-pindah
Jika gosong lepas pantai ini telah mencapai ukuran tertentu, maka akan menjadi sasaran yang
baik dalam pengikisan gelombang yang cukup kuat. Pada mulanya akan terbentuk
pengendapan baik ke daerah laut maupun ke arah daratan dari datangnya gelombang. Erosi
pada sisi luar dari ambang kemungkinannya membawa dasar laut ke dasar gelombang (wave
base). Dasar gelombang atau wave base merupakan kedalaman air dimana pengaruh atau
kekuatan gelombang sudah tidak terjadi lagi. Apabila ambang berpindah-pindah ke arah
daratan akan semakin kecil dan beberapa bagian yang masih asliakan terangkut oleh arus
bawah. Sebagian lagi dihanyutkan oleh gelombang ke arah pantai. Demikian juga dengan
tasik, tasik yang terdapat di belakang ambang semakin menyempit karena tergali dari dalam
dan dihapuskan.
c. Stadium dewasa ( mature stage)
Pada stadium ini, perkembangan garis pantai yang mengalami pengangkatan, tasik, rawarawa, teluk pasang-surut, pantai kliff yang tidak terlalu curam, serta gosong pantai telah
banyak mengalami pengrusakan. Dalam keadaan asli, lereng yang landai serta dataran rendah
yang lembek dapat tererosi ke bawah hingga ke dasar gelombang dan pada air dalam
merupakan tenaga perusak yang sangat kuat ke arah pantai atau pantai kliff yang landai.
d. Stadium tua (old stage)
Secara teoritis, kenampakan pantai yang terangkat pada stadium ini sama dengan stadium
dewasa. Garis pantai akan selalu terus mundur sebelum pengikisan gelombang. Hasil
pembuangan atau pengikisan dari daratan akan segera diangkut oleh arus air dan diendapkan
pada dasar laut yang dalam.
22.6 Bentuk Topografi Pantai
Dipengaruhi oleh aktivitas gelombang, arus, sungai, angin, dan organisme. Erosi gelombang
sangat mempengaruhi terjadinya garis pantai. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya
erosi gelombang, misalnya ukuran dan kekuatan gelombang, kemiringan lereng dan
ketinggian garis pantainya, komposisi batuannya, kedalaman airnya, serta lamanya proses
tersebut berlangsung.
Apabila gelombang di laut dalam menghempas pantai yang curam, maka sebagian besar air
akan membalik kembali ke laut dan mengerosi lereng kliff tersebut dan naik dari permukaan
air yang dangkal.
1. Bentuk-bentuk hasil erosi
Disebabkan oleh aktivitas gelombang, baik oleh kekuatan gelombang itu sendiri (hydraulic
action) maupun karena membawa pasir (abrasi).
a. Gua laut (Sea Caves), terbentuk karena cliff mengalami erosi bawah (under cutting) oleh
pukulan gelombang arus.
b. Celah (Cleff), erosi oleh gelombang atau arus yang menimpa retakan atau patahan
menyebabkan terbentuknya celah di pantai.
c. Teras-teras (Wave cut terraces), terjadi karena dasar laut dangkal tererosi menyebabkan
permukaan menjadi rata kemudian terangkat.
2. Bentuk-bentuk sisa erosi
a. Cliff adalah diding terjal di pantai sisa daratan yang terkikis gelombang.

b. Stack yaitu tiang-tiang baru yang terpisah dari daratan. Tersusun dari batuan yang resisten
sehingga masih bertahan dari pukulan gelombang.
c. Arc adalah batuan berlubang tembus sebagai akibat kikisan gelombang, tersusun dari batuan
yang lunak (tidak resisten).
d. Head Land yaitu batuan daratan resisten yang menjorok ke laut sebagai akibat erosi
gelombang, terdiri atas batuan lava dan breksi.
3. Bentuk-bentuk hasil pengendapan
Sebagai tenaga pengendap adalah gelombang, arus, sungai, dan angin.
a. Gisik (beach) adalah endapan pantai yang terletak antara mintakat pasang dan surut.
b. Gosong pasir (bar) yaitu endapan pasir atau kerikil di laut sejajar garis pantai.
1. Off shore bar (barrier bar), terdapat di laut lepas hasil pengendapan backswash.
2. Laguna (lagoon), laut dangkal antara daratan dan off shore bar
3. Spit, endapan arus sepanjang pantai, salah satu ujungnya menjorok ke laut lepas.
4. Hooks (Recurved spit), jung spit dibelokkan arahnya karena ada arus dari arah berlawanan,
ujung spit kemudian melengkung ke arah laut lepas.
5. Loops ujung spit dibelokkan ke arah daratan dan bersambung dengan daratan.
6. Bay mouth bar (embankment), endapan pasir di mulut teluk yang terpisah dengan laut lepas
karena arus sejajar pantai memotong mulut teluk tersebut.
7. Tombolo, endapan yang menghubungkan daratan dengan pulau, sebagai akibat reflaksi
gelombang karena rintangan pulau tersebut.
c. Guguk pasir pantai (Coast dunes) adalah timbunan pasir di pantai sebagai akibat hasil
aktivitas angin dan vegeta
v Free dunes, timbunan pasir di pantai oleh pengendapan angin tanpa di bantu vegetasi.
v Impeded dunes, timbunan pasir di pantai oleh pengendapan angin dan vegetasi atau topografi
kasar.
4. Bentukan Organisme
Di bentuk oleh aktivitas organisme di laut, meliputi pantai terumbu karang, pantai bakau dan
pantai berumput payau.
a. Terumbu karang (coral reef) yaitu pantai atau pulau yang tersusun dari karang sebagai akibat
aktivitas organisme polyps atau ganggang kapur.
o Syarat yang baik untuk kehidupan karang:
1) Kedalaman laut < 40 meter, optimal 20 meter
2) Temperatur air laut > 18C, optimal 25-29C
3) Kadar garam air laut 1:33%
4) Sirkulasi air cukup, tetapi arus tidak terlalu kuat
5) Air laut jernih, sedikit lumpur, banyak mengandung kalsit
o Klasifikasi terumbu karang (Maxwell, 1968)
1) Terumbu samudera (oceanic reefs) yang dapat di bedakan menjadi:
a. Koloni embrionik
b. Terumbu pinggiran (fringing reef)
c. Terumbu penghalang (barrier reef)
d. Atol yaitu pulau karang di laut yang bentuknya menyerupai cincin yang sangat besar.
2) Terumbu paparan (shelf reef) dibedakan menjadi:
a. Koloni embrionik
b. Terumbu rataan gelombang (platform reef)
c. Terumbu laguna-rataan (lagoon platform reef)
d. Terumbu rataan gelombang memanjang (longate platform reef)
e. Terumbu dinding (wall reef)

f. Terumbu cuspate (cuspate reef)


g. Terumbu apron campuran (composite apron reef)
h. Terumbu cincin terbuka (open ring reef)
i. Terumbu jala terbuka (open mesh reef)
j. Terumbu cincin tertutup (closed ring reef)
k. Terumbu jala tertutup (closed mesh reef)
l. Terumbu sumbat (resorbed reef)
o Teori terjadinya terumbu karang dibedakan sebagai berikut:
1. Teori Darwin
Menurut Darwin pertumbuhan atol di mulai dari adanya karang pantai, karena suatu proses
pulau beserta karang pantainya tenggelam. Apabila proses penurunan ini berjalan lambat
maka karang yang masih hidp di pantai tersebut masih sempat membangun rumahnya
sehingga karang pantai itu dapat mencapai permukaan laut kembali, bentuknya melingkar
seperti cincin.
2. Teori Glacial Control dari Daly
Daly mendukung teori Darwin, menurut dia tenggelamnya pulaudisebabkan karena
mencairnya efisiensi daratan pada jaman inter glasial.
3. Teori Penggelombangan dari Keumen
Keumen juga mendukung teori Darwin dan berpendapat bahwa tenggelam dari timbulnya
pulau karena gerak pelipatan pada kulit bumi. Pada gerak ini permukaan bumi mengalami
penggelombangan sehingga bagian yang semula punggung antiklinal yang muncul di atas
permukaan laut suatu saat dapat tenggelam di bawah permukaan laut, proses ini terjadi
berulang-ulang.
4. Teori Imbangan Isostasi dari Molengraaf
Molengraff menyatakan bahwa tenggelamnya pulau terjadi karena adanya imbangan isostasi.
Pulau-pulau volkan semakin bertambah berat karena erupsi sebagai akibat bertambahnya
materi dari volkan itu. Untuk mencapai keseimbangan isostasi pulau tersebut mengalami
penenggelaman secara lambat dan berlangsung lama sesudah erupsi itu berhenti. Sehingga
dapat tumbuh karang pantai selanjutnya berkembang menjadi karang penghalang atau atol.
5. Teori Murrey
Ekspedisi Murrey menemukan puncak volkan yang sudah mati, letak puncaknya di bawah
permukaan laut. Menurut dia puncak-puncak volkan yang sudah mati yang letaknya tidak
begitu dalam akan mengalami pengendapan terutama jenis benthos. Oleh karena itu lama
kelamaan menjadi tinggi sehingga mencapai ketinggian yang memenuhi syarat bagi hidupnya
bintang karang. Dengan tumbuhnya karang di tempat itu maka dapat berbentu atol.
6. Teori Gardinner
Prinsip teori ini hampir sama dengan Murrey, menurut Gardinner pembentuk atol bukan
binatang karang tetapi ganggang karang dari jenis Lithothamnium. Faktor yang menyebabkan
bentuk gelang adalah perbedaan kesuburan antara bagian tengah dan tepi pulau tersebut.
b. Pantai bakau
Di daerah tropis bakau (mangrove) beradaptasi dengan air asin sehingga banyak di jumpai
mintakat pasang surut. Fungsi terpenting tanaman bakau di pantai adalah melindungi erosi
gelombang dan menjadi perangkap sedimen yang terbawa dari daratan maupun dari laut pada
saat pasang sehingga proses deposisi berlangsung cepat.

BAB III
PENUTUP
3.1Kesimpulan
Bentang lahan ini tersusun dari bentuk lahan asal proses marine atau geomorfologi
asal marine. Geomorfologi asal marin merupakan bentuk lahan yang terdapat di sepanjang
pantai. Proses perkembangan daerah pantai itu sendiri sangat dipengaruhi oleh kedalaman
laut. Semakin dangkal laut maka akan semakin mempermudah terjadinya bentang alam
daerah pantai, dan semakin dalam laut maka akan memperlambat proses terjadinya bentang
alam di daerah pantai.
Mintakat pantai terdiri dari 1. Pesisir (Coast) adalah daerah pantai yang tidak
menentu dan cenderung meluas ke daratan, 2. Pantai (Shore) adalah daerah yang terletak
antara pasang dan surut, garis batas darat-laut disebut Shore line.
Proses terjadinya bentang lahan pantai dipengaruhi oleh tenaga baik secara
langsung maupun secara tidak langsung diantaranya yaitu : gelombang laut, arus litoral,
pasang naik dan pasang surut, tenaga es, dan kegiatan organisme laut.
Klasifikasi pantai menurut Johnson dibedakan menjadi pantai teggelam, pantai
terangkat atau timbul, pantai netral dan pantai campuran. Sedangkan menurut Shepard
dibedakan menjadi kelompok primer dan kelompok sekunder.
Daur perkembangan garis pantai dibedakan menjadi 2 yaitu : perkembangan pantai
yang tenggelam terdiri dari stadia awal dan stadia muda, perkembangan pantai terangkat atau
timbul terdiri dari stadia awal, stadia muda,stadia dewasa dan stadia tua..
Bentuk topografi pantai dipengaruhi oleh aktivitas gelombang, arus, sungai, angin,
dan organisme. Faktor yang mempengaruhi terjadinya erosi gelombang, misalnya ukuran dan
kekuatan gelombang, kemiringan lereng dan ketinggian garis pantainya, komposisi
batuannya, kedalaman airnya, serta lamanya proses tersebut berlangsung.
Apabila gelombang di laut dalam menghempas pantai yang curam, maka sebagian besar air
akan membalik kembali ke laut dan mengerosi lereng kliff tersebut dan naik dari permukaan
air yang dangkal.
3.2 Saran
Pemerintah seharusnya mampu meningkatkan kualitas bentang lahan pantai
khususnya yang ada di Indonesia saat ini. Indonesia memiliki berbagai jenis ekosistem laut
seperti terumbu karang serta organisme lainnya. Selain itu juga harus mampu meningkatkan
kualitas pantai untuk sarana rekreasi namun di adakan penjagaan agar pantai tetap terjaga
kelestariannya.

DAFTAR PUSTAKA.
Dwi, Ichwan.2010.Bentang Lahan Marine. (online),
(http:// one-geo.blogspot.com/, diakses 29 Maret 2012)
Dibyosaputro, Suprapto.1997, Geomorfologi Dasar, Fakultas Geografi Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta
Syahputra.2010.Tipe Pantai. (online)
(http://younggeomorphologys.wordpress.com/, diakses 29 Maret 2012)
Kafila, Zaky.2010, Bentuk Lahan Asal Marine. (online)
(http://zakykafila.blogspot.com/, diakses 07 Juni 2012)

GELOMBANG LAUT
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Gelombang adalah peristiwa naik turunnya permukan air laut dari ukuran kecil (riak) sampai
yang paling panjang (pasang surut). Gelombang yang terjadi di perairan Teluk Pelabuhan Ratu
merupakan gelombang hasil rambatan yang terjadi di samudera Indonesia. Gelombang ini
dipengaruhi oleh kondisi topografi dasar laut dan keadaan angin. Hasil pengamatan memperlihatkan
bahwa keadaan gelombang tertinggi terjadi pada periode bulan desember sampai februari (musim
barat), ketinggian gelombang mencapai 1,5 m 2 m. Sedangkan pada bulan lainnya tinggi
gelombang yang tercatat kurang dari 1,5 meter (Jatilaksono, 2007).
Penyebab utama terjadinya gelombang adalah angin. Gelombang dipengaruhi oleh
kecepatan angin, lamanya angin bertiup, dan jarak tanpa rintangan saat angin bertiup (fetch).
Gelombang terdiri dari panjang gelombang, tinggi gelombang, periode gelombang, kemiringan
gelombang dan frekuensi gelombang. Panjang gelombang adalah jarak berturut-turut antara dua
puncak atau dua buah lembah. Tinggi gelombang adalah jarak vertikal antara puncak dan lembah
gelombang. Periode gelombang adalah waktu yang dibutuhkan gelombang untuk kembali pada titik
semula. Kemiringan gelombang adalah perbandingan antra tinggi dan panjang gelombang. Frekuensi
gelombang adalah jumlah gelombang yang terjadi dalam satu satuan waktu (Jatilaksono, 2007).
Pada hakikatnya, gelombang yang terbentuk oleh hembusan angin akan merambat lebih
jauh dari daerah yang menimbulkan angin tersebut. Hal ini yang menyebabkan daerah di pantai
selatan Pulau Jawa memiliki gelombang yang besar meskipun angin setempat tidak begitu besar.
Gelombang besar yang datang itu bisa merupakan gelombang kiriman yang berasal dari badai yang
terjadi jauh dibagian selatan Samudera Hindia (Jatilaksono, 2007).
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah karakteristik gelombang laut?

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apa saja faktor-faktor pembentuk gelombang laut?


Bagaimanakah pergerakan gelombang?
Apakah yang dimaksud energi gelombang?
Bagaimanakah sifat-sifat gelombang laut itu?
Apa saja tipe gelombang bila dipandang dari sifat-sifatnya?
Apakah funsi dari gelombang laut?
BAB II
GELOMBANG LAUT
A. Defenisi, Bentuk, Sifat dan Karakteristik Gelombang
Deskripsi tentang sebuah gelombang hingga kini masih belum jelas dan akurat, oleh karena permukaan laut
merupakan suatu bidang yang kompleks dengan pola yang selalu berubah dan tidak stabil (Garrison, 1993).
Gelombang merupakan fenomena alam penaikan dan penurunan air secara periodik dan dapat dijumpai di
semua tempat di seluruh dunia. Gross (1993) mendefenisikan gelombang sebagai gangguan yang terjadi di
permukaan air. Sedangkan Sverdrup at al, (1946) mendefenisikan gelombang sebagai sesuatu yang terjadi secara
periodik terutama gelombang yang disebabkan oleh adanya peristiwa pasang surut.
Massa air permukaan selalu dalam keadaan bergerak, gerakan ini terutama ditimbulkan oleh kekuatan angin
yang bertiup melintasi permukaan air dan menghasilkan energi gelombang dan arus. Bentuk gelombang yang
dihasilkan cenderung tidak menentu dan tergantung pada beberapa sifat gelombang, periode dan tinggi dimana
gelombang dibentuk, gelombang jenis ini disebut Sea. Gelombang yang terbentuk akan bergerak ke luar
menjauhi pusat asal gelombang dan merambat ke segala arah, serta melepaskan energinya ke pantai dalam
bentuk empasan gelombang. Rambatan gelombang ini dapat menempuh jarak ribuan kilometer sebelum
mencapai suatu pantai, jenis gelombang ini disebut Swell.
Gelombang mempunyai ukuran yang bervariasi mulai dari riak dengan ketinggian beberapa centimeter sampai
pada gelombang badai yang dapat mencapai ketinggian 30 m. Selain oleh angin, gelombang dapat juga
ditimbulkan oleh adanya gempa bumi, letusan gunung berapi, dan longsor bawah air yang menimbulkan
gelombang yang bersifat merusak (Tsunami) serta oleh daya tarik bulan dan bumi yang menghasilkan
gelombang tetap yang dikenal sebagai gelombang pasang surut.
Sebuah gelombang tertdiri dari beberapa bagian antara lain:
a. Puncak gelombang (Crest) adalah titik tertinggi dari sebuah gelombang
b. Lembah gelombang (Trough) adalah titik terendah gelombang, diantara dua puncak gelombang.
c. Panjang gelombang (Wave length) adalah jarak mendatar antara dua puncak gelombang atau antara dua
lembah gelombang.
d. Tinggi gelombang (Wave height) adalah jarak tegak antara puncak dan lembah gelombang.
e. Priode gelombang (Wave period) adalah waktu yang diperlukan oleh dua puncak gelombang yang berurutan
untuk melalui satu titik.
Menurut Nontji (1987) antara panjang dan tinggi gelombang tidak ada satu hubungan yang pasti akan tetapi
gelombang mempunyai jarak antar dua puncak gelombang yang makin jauh akan mempunyai kemungkinan
mencapai gelombang yang semakin tinggi. Pond and Pickard (1983) mengklasifikasikan gelombang
berdasarkan periodenya, seperti yang disajikan pada Tabel 1. berikut ini.
Tabel 1. Klasifikasi gelombang berdasarkan periode

Periode
0 0,2 Detik
0,2 0,9 Detik
0,9 -15 Detik
15 30 Detik
0,5 menit 1 jam

Panjang Gelombang
Beberapa centimeter
Mencapai 130 meter
Beberapa ratus meter
Ribuan meter
Ribuan kilometer

Jenis Gelombang
Riak (Riplles)
Gelombang angina
Gelombang besar (Swell)
Long Swell
Gelombang dengan periode yang

5, 12, 25 jam

Beberapa kilometer

panjang (termasuk Tsunami)


Pasang surut

Bhat (1978), Garisson (1993), dan Gross (1993) mengemukakan bahwa ada 4 bentuk besaran yang berkaitan
dengan gelombang. Yakni :
a. Amplitudo gelombang (A) adalah jarak antara puncak gelombang dengan permukaan rata-rata air.
b. Frekuensi gelombang ( f ) adalah sejumlah besar gelombang yang melintasi suatu titik dalam suatu waktu
tertentu (biasanya didefenisikan dalam satuan detik).
c. Kecepatan gelombang (C) adalah jarak yang ditempuh gelombang dalam satu satuan waktu tertentu.
d. Kemiringan gelombang (H/L) adalah perbandingan antara tinggi gelombang dengan panjang gelombang.
B. Faktor-faktor Pembentuk Gelombang dan Jenis-jenis Gelombang
Secara umum gelombang yang terjadi di laut dapat terbentuk dari beberapa faktor pnyebab seperti : angin,
pasang surut, badai laut, dan seiche.
1. Gelombang yang disebabkan oleh angin
Angin yang bertiup di atas permukaan laut merupakan pembangkit utama gelombang. Bentuk gelombang yang
dihasilkan cenderung tidak menentu dan bergantung pada beberapa sifat gelombang periode dan tinggi dimana
gelombang dibentuk. Gelombang seperti ini disebut Sea. Bentuk gelombang lain yang disebabkan oleh angin
adalah gelombang yang bergerak dengan jarak yang sangat jauh sehingga semakin jauh meninggalkan daerah
pembangkitnya gelombang ini tidak lagi dipengaruhi oleh angin. Gelombang ini akan lebih teratur dan jarak
yang ditempuh selama pergerakannya dapat mencapai ribuan mil. Jenis gelombang ini disebut Swell.
Tinggi gelombang rata-rata yang dihasilkan oleh angin merupakan fungsi dari kecepatan angin, waktu dimana
angin bertiup, dan jarak dimana angin bertiup tanpa rintangan.Umumnya semakin kencang angin bertiup
semakin besar gelombang yang terbentuk dan pergerakan gelombang mempunyai kecepatan yang tinggi sesuai
dengan panjang gelombang yang besar. Gelombang yang terbentuk dengan cara ini umumnya mempunyai
puncak yang kurang curam jika dibandingkan dengan tipe gelombang yang dibangkitkan dengan angin yang
berkecepan kecil atau lemah. Saat angin mulai bertiup, tinggi gelombang, kecepatan, panjang gelombang
seluruhnya cenderung berkembang dan meningkat sesuai dengan meningkatnya waktu peniupan berlangsung
(Hutabarat dan Evans, 1984).
Jarak tanpa rintangan dimana angin bertiup merupakan fetch yang sangat penting untuk digambarkan dengan
membandingkan gelombang yang terbentuk pada kolom air yang relatif lebih kecil seperti danau (di darat)
dengan yang terbentuk di lautan bebas, (Pond and Picard, 1978).
Gelombang yang terbentuk di danau dengan fetch yang relatif kecil dengan hanya mempunyai beberapa
centimeter sedangkan yang terbentuk di laut bebas dimana dengan fetch yang lebih sering mempunyai panjang
gelombang sampai ratusan meter. Kompleksnya gelombang-gelombang ini sangat sulit untuk dijelaskan tanpa
membuat pengukuran-pengukuran yang lebih akurat dan kurang berguna bagi nelayan atau pelaut. Sebagai
gantinya mereka membuat suatu cara yang lebih sederhana untuk mengetahui gelombang yaitu dengan
menggunakan suatu daftar skala gelombang yang dikenal dengan Skala Beaufort untuk memberikan
keterangan tentang kondisi gelombang yang terjadi di laut dalam hubungannya dengan kecepatan angin yang
sementara berhembus (Hutabarat dan Evans, 1984).
2. Gelombang yang disebabkan oleh pasang surut
Gelombang pasang surut yang terjadi di suatu perairan yang diamati adalah merupakan penjumlahan dari
komponen-komponen pasang yang disebabkan oleh gravitasi bulan, matahari, dan benda-benda angkasa lainnya
yang mempunyai periode sendiri. Tipe pasang berbeda-beda dan sangat tergantung dari tempat dimana pasang
itu terjadi (Cappenberg, 1992).
Tipe pasang surut yang terjadi di Indonesia terbagi atas dua bagian yaitu tipe diurnal dimana terjadi satu kali
pasang dan satu kali surut setiap hari misalnya yang terjadi di Kalimantan dan Jawa Barat. Tipe pasang surut

yang kedua yaitu semi diurnal, dimana pada jenis yang kedua ini terjadi dua kali pasang dan dua kali surut
dalam satu hari, misalnya yang terjadi di wilayah Indonesia Timur (Ceppenberg,1992).
Pasang surut atau pasang naik mempunyai bentuk yang sangat kompleks sebab dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti hubungan pergerakan bulan dengan katulistiwa bumi, pergantian tempat antara bulan dan matahari dalam
kedudukannya terhadap bumi, distribusi air yang tidak merata pada permukaan bumi dan ketidak teraturan
konfigurasi kolom samudera.
3. Gelombang yang disebabkan oleh badai atau puting beliung
Bentuk gelombang yang dihasilkan oleh badai yang terjadi di laut merupakan hasil dari cuaca yang tiba-tiba
berubah menjadi buruk terhadap kondisi perairan. Kecepatan gelombang tinggi dengan puncak gelombang dapat
mencapai 7 10 meter. Bentuk gelombang ini dapat menghancurkan pantai dengan vegetasinya maupun
wilayah pantai secara keseluruhan (Pond and Picard, 1978).
4. Gelombang yang disebabkan oleh tsunami
Gelombang tsunami merupakan bentuk gelombang yang dibangkitkan dari dalam laut yang disebabkan oleh
adanya aktivitas vulkanis seperti letusan gunung api bawah laut, maupun adanya peristiwa patahan atau
pergeseran lempengan samudera (aktivitas tektonik). Panjang gelombang tipe ini dapat mencapai 160 Km
dengan kecepatan 600-700 Km/jam. Pada laut terbuka dapat mencapai 10-12 meter dan saat menjelang atau
mendekati pantai tingginya dapat bertambah bahkan dapat mencapai 20 meter serta dapat menghancurkan
wilayah pantai dan membahayakan kehidupan manusia, seperti yang terjadi di Kupang tahun 1993 dan di Biak
tahun 1995 yang menewaskan banyak orang serta menghancurkan ekosistem laut (Dahuri,1996)
5. Gelombang yang disebabkan oleh seiche
Gelombang seiche merupakan standing wave yang sering juga disebut sebagai gelombang diam atau lebih
dikenal dengan jenis gelombang stasioner. Gelombang ini merupakan standing wave dari periode yang relatif
panjang dan umumnya dapat terjadi di kanal, danau dan sepanjang pantai laut terbuka. Seiche merupakan hasil
perubahan secara mendadak atau seri periode yang berlangsung secara berkala dalam tekanan atmosfir dan
kecepatan angin (Pond and Picard, 1978).
Jenis-jenis gelombang
Bhatt, (1978) mengemukakan bahwa ada 4 jenis gelombang, antara lain :
a. Gelombang Katastrofik
Gelombang ini adalah gelombang laut yang besar dan muncul secara tiba-tiba yang disebabkan oleh aktivitas
gempa bumi, gunung api, dan sebagainya. Gelombang katastrofik ini di namakan berdasarkan akibat yang di
timbulkannya yaitu mampu menghancurkan apa saja yang di temui. Gelombang ini juga sering disebut sebagai
gelombang laut Seismik atau Tsunami.
b. Gelombang Badai (strom Wave)
Gelombang ini adalah gelombang pasang laut tinggi yang ditimbulkan dari adanya hembusan angin kencang
atau badai. Sering juga disebut sebagai Strom Suger. Gelombang badai ini dapat menyebabkan kerusakan yang
besar untuk daerah pesisir.
c. Gelombang Internal (Internal Wave)
Gelombang ini adalah gelombang yang terbentuk pada perbatasan antara 2 lapisan air yang berbeda densitas.
Gelombang internal ini dapat ditemukan di bawah permukaan laut. Walaupun gelombang ini serupa dengan
gelombang permukaan laut yang dibangkitkan oleh angin, namun keduanya mempunyai perbedaan dalam
beberapa hal. Sebagai contoh, gelombang internal bergerak sangat lambat dan tidak dapat terdeteksi dengan
mata, dan umumnya terjadi hanya dimana adanya variasi densitas. Gelombang ini mempunyai tinggi lebih besar
dari pada gelombang permukaan.
d. Gelombang Stasioner Standing Wave
Gelombang ini adalah bentuk gelombang laut yang di cirikan dengan tidak adanya gerakan gelombang yang
merambat, yaitu permukaan air hanya bergerak naik turun saja. Umumnya ditemukan diperairan yang tertutup,

misalnya pada danau, teluk atau kanal. Gelombang ini sering disebut juga gelombang diam atau seiche.
Gelombang ini dihasilkan oleh badai yang digabungkan dengan kondisi atmosfir yang drastis. Gelombang
stasioner dapat menghancurkan masa hidup suatu organisme dan dapat pula menyebabkan kerusakan daratan.
B. Pergerakan Gelombang
Berdasarkan kedalamannya, (Ippen, 1996 dan McLellan, 1975 dalam Tarigan, 1987).gelombang yang bergerak
mendekati pantai dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu:
a. gelombang laut dalam
Gelombang laut dalam merupakan gelombang yang dibentuk dan dibangun dari bawah kepermukaan.
b. gelombang permukaan.
Gelombang permukaan merupakan gelombang yang terjadi antara batas dua media seperti batas air dan udara.
Gelombang permukaan terjadi karena adanya pengaruh angin. Peristiwa ini merupakan peristiwa pemindahan
energi angin menjadi energi gelombang di permukaan laut dan gelombang ini sendiri akan meneruskan
energinya ke molekul air. Gelombang akan menimbulkan riak dipermukaan air dan akhirnya dapat berubah
menjadi gelombang yang besar. Gelombang yang bergerak dari zona laut lepas hingga tiba di zona dekat pantai
(nearshore beach) akan melewati beberapa zona gelombang yaitu : zona laut dalam (deep water zone), zona
refraksi (refraction zone), zona pecah gelombang (surf zone), dan zona pangadukan gelombang (swash zone)
(Dyer,1978). Uraian rinci dari pernyataan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut :
Gelombang mula-mula terbentuk di daerah pembangkit (generated area) selanjutnya gelombang-gelombang
tersebut akan bergerak pada zona laut dalam dengan panjang dan periode yang relatif pendek. Setelah masuk ke
badan parairan dangkal, gelombang akan mengalami refraksi (pembelokan arah) akibat topografi dasar laut yang
menanjak sehingga sebagian kecepatan gelombang menjadi berkurang periodenya semakin lama dan tingginya
semakin bertambah, gelombang kemudian akan pecah pada zona surf dengan melepaskan sejumlah energinya
dan naik kepantai (swash) dan setelah beberapa waktu kemudian gelombang akan kembali turun (backswash)
yang kecepatnnya bergantung pada kemiringan pantai atau slope. Pantai dengan slope yang tinggi akan lebih
cepat memantulkan gelombang, sedangkan pantai dengan slope yang kecil pemantulan gelombangnya relatif
lambat. Kennet (1982) membagi zona gelombang atas tiga bagian, yaitu zona pecah gelombang (breaker zone),
zona surf (surf zone), dan zona swash (swash zone).
Pada zona surf, terjadi angkutan sedimen karena arus sepanjang pantai terjadi dengan baik. Pada kedalaman
dimana gelombang tidak menyelesaikan orbitalnya, gelombang akan semakin tinggi dan curam, dan akibatnya
mulai pecah (Kennet, 1982). Sebuah gelombang akan pecah bila perbandingan antara kedalaman perairan dan
tinggi gelombang adalah 1,28 (Yuwono, 1986) atau bila perbandingan antara tinggi gelombang dan panjang
gelombang melampaui 1 : 7 (Gross, 1993).
Saat pecah gelombang akan mengalami perubahan bentuk. Dyer, 1978 membedakannya kedalam tiga bentuk
empasan (tipe breaker), sementara Galvin (1966) mengklasifikasikan tipe empasan gelombang yaitu : tipe
plunging, spilling, surging, dan collapsing
1. Plunging, terjadi karena seluruh puncak gelombang melewati kecepatan gelombang, tipe empasan ini
berbentuk cembung kebelakang dan cekung kearah depan. Gelombang ini sering timbul dari empasan pada
periode yang lama dari suatu gelombang yang besar, dan biasanya terjadi pada dasar pantai yang hampir lebih
miring di bandingkan pada tipe Spilling. Walaupun sangat menarik, namun umumnya gelombang ini tidak
terjadi lama dan juga tidak baik untuk berselancar. Bahkan tipe empasan ini mampu menimbulkan kehancuran
yang cukup hebat.
2. Spilling, terjadi dimana gelombang sudah pecah sebelum tiba di depan pantai Gelombang ini lebih sering
terjadi, dimana kemiringan dasarnya lebih kecil sekali, oleh karena itu reaksinya lebih lambat, sangat lama dan
biasanya digunakan untuk berselancar.
3. Surging, adalah tipe empasan dimana gelombang pecah tepat di tepi pantai. Tipe empasan ini sangat
mempengaruhi lebarnya zona surf suatu perairan karena jenis gelombang yang pecah tepat di tepi pantai akan

mengakibatkan semakin sempitnya zona surf. Gelombangnya lebih lemah saat mencapai pantai dengan dasar
yang lebih curam dan kemudian gelombang akan pecah tepat pada tepi pantai (Gross, 1993).
4. Collapsing, merupakan gelombang yang pecah setengah dari biasanya. Saat pecah gelombang tersebut tidak
naik kedarat, terdapat buih dan terjadi pada pantai yang sangat curam (Galvin, 1968).
Apabila memperhatikan gelombang dilaut akan mendapat suatu kesan seolah-olah gelombang tersebut bergerak
secara horizontal dari suatu tempat ke tempat lain. Tetapi kenyataanya tidaklah demikian karena suatu
gelombang akan membentuk gerakan maju melintasi permukaan air. Disana hanya terjadi gerakan kecil kearah
depan dari massa air itu sendiri. Hal ini akan semakin mudah dipahami apabila meletakan sepotong gabus
diantara gelombang-gelombang dilaut. Potongan gabus akan tampak timbul tenggelam sesuai dengan gerakan
berturut-turut, dari puncak dan lembah gelombang yang lebih atau kurang tinggi pada tempat yang sama.
Gerakan partikel ini dalam gelombang sama dengan gerakan potongan gabus walaupun dari pengamatan yang
lebih teliti menunjukan bahwa ternyata gerakan ini lebih kompleks dari hanya sekedar gerakan naik turun.
Gerakan ini adalah gerakan yang membentuk sebuah lingkaran bulat dimana gabus dan partikel-partikel yang
lain diangkut keatas dan membentuk setengah lingkaran dan gerakan ini akan terus berlanjut sampai pada
tempat yang tinggi yang merupakan puncak gelombang. Benda-benda ini kemudian dibawa dan membentuk
lingkaran penuh melewati tempat paling bawah yaitu lembah gelombang (Pond and Picard, 1978). Semua
fenomena yang di alami gelombang pada hakekatnya berhubungan erat dengan topografi dasar laut (sea bottom
topography).
C. Energi Gelombang
Daerah pantai termasuk daerah dan lingkungan yang berada didekat pantainya sangat ditentukan dan
didominasi oleh faktor-faktor gelombang. Gelombang yang terjadi dilaut dalam pada umumnya tidak
berpengaruh pada dasar laut dan sedimen yang terdapat didalamnya. Sebaliknya gelombang yang terdapat di
dekat pantai terutama di daerah pecahan ombak ( surf zone ) memiliki energi yang besar dan sangat berperan
dalam pembentukan morfologi pantai seperti menyeret sedimen (sedimen berukuran pasir dan kerikil) yang
berada di dasar laut diangkut dan ditumpahkan dalam bentuk gosong pasir (sand bard) Dahury,1996).
1.

Pergerakan Perjalanan Gelombang Menuju Pantai

Ketinggian dan periode gelombang tergantung kepada panjang fetch pembangkitannya. Fetch adalah jarak
perjalanan tempuh gelombang dari awal pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh bentuk daratan yang
mengelilingi laut. Semakin panjang jarak fetchnya, ketinggian gelombangnya akan semakin besar.
Angin juga mempunyai pengaruh yang penting pada ketinggian gelombang. Angin yang lebih kuat akan
menghasilkan gelombang yang lebih besar. Gelombang yang menjalar dari laut dalam (deep water) menuju ke
pantai akan mengalami perubahan bentuk karena adanya perubahan kedalaman laut.
Apabila gelombang bergerak mendekati pantai, pergerakan gelombang di bagian bawah yang berbatasan dengan
dasar laut akan melambat. Ini adalah akibat dari friksi/gesekan antara air dan dasar pantai. Sementara itu, bagian
atas gelombang di permukaan air akan terus melaju. Semakin menuju ke pantai, puncak gelombang akan

semakin tajam dan lembahnya akan semakin datar. Fenomena ini yang menyebabkan gelombang tersebut
kemudian pecah.
E. Tipe gelombang, bila dipandang dari sisi sifat-sifatnya
1. Gelombang pembangun/pembentuk pantai (Constructive wave)

Yang termasuk gelombang pembentuk pantai, bercirikan mempunyai ketinggian kecil dan kecepatan rambatnya
rendah. Sehingga saat gelombang tersebut pecah di pantai akan mengangkut sedimen (material pantai). Material
pantai akan tertinggal di pantai (deposit) ketika aliran balik dari gelombang pecah meresap ke dalam pasir atau
pelan-pelan mengalir kembali ke laut.

2.

1.

2.

3.

Gelombang perusak pantai (Destructive wave)

Sedangkan gelombang perusak pantai biasanya mempunyai ketinggian dan kecepatan rambat yang besar (sangat
tinggi). Air yang kembali berputar mempunyai lebih sedikit waktu untuk meresap ke dalam pasir. Ketika
gelombang datang kembali menghantam pantai akan ada banyak volume air yang terkumpul dan mengangkut
material pantai menuju ke tengah laut atau ke tempat lain.
Fungsi dari Gelombang Laut
Menjaga Kestabilan Suhu Dari Iklim Dunia
Jelas bahwa ombak lautan tidak dapat terjadi tanpa angin. Mula-mula menyebabkan riak di permukaan laut dan
kemudian gelombang, Gelombang membantu meminimalkan suhu ekstrem di planet ini, memindahkan air
dingin dari kutub, sementara pada saat yang sama bergerak air hangat dari khatulistiwa ke arah yang dingin.
Melalui Permukaan Ombak, Terjadi Pertukaran Gas
Di permukaan gelombang laut, pertukaran gas terjadi dimana oksigen keluar dan karbon dioksida masuk ke
dalam permukaan gelombang laut tersebut.

Meningkatkan kemampuan adaptasi dan kekuatan dari Makhluk hidup


Karena gelombang pecah di pantai, makhluk yang ada di laut harus lebih kuat dan lebih beradaptasi untuk
bertahan tidak terbawa oleh ombak ke pantai. Tanpa gelombang, tidak akan ada sebagian spesies yang hidup di
laut.

4. Meningkatkan Adanya Keanekaragaman Hayati


Gelombang laut yang disebabkan oleh angin dan ombak memungkinkan penghuni laut agar larva/telur mereka
diangkut dengan jarak yang jauh, sehingga muncul spesies baru dari hasil evolusi dan adaptasi dari makhluk laut
yang terbawa gelombak laut tersebut.
5. Gelombang Laut Membantu Adanya Hubungan Simbiosis Mutualisme
Sementara gelombang Laut yang mengikis karang dengan terus menerjang pada mereka, organisme laut telah
beradaptasi dengan ini dan menempel ke karang-karag tersebut sehingga disini membantu adanya penundaan
pengikisan batu karang tersebut dalam hal ini terjadi hubungan simbiosis sejati.
6. Gelombang Laut Membantu Membuat Pantai
Pantai diciptakan oleh pasir yang dibawa naik dari dasar laut oleh ombak, yang juga mencuci pasir dan
dibersihkan. Pasir diaduk dan tersuspensi dalam air yang memungkinkan untuk diangkut ke pantai oleh ombak.
7. terbentuk cliff
Tebing atau jurang adalah formasi bebatuan yang menjulang secara vertikal. Tebing terbentuk akibat dari erosi.
Tebing umumnya ditemukan di daerah pantai, pegunungan dan sepanjang sungai. Tebing umumnya dibentuk
oleh bebatuan yang yang tahan terhadap proses erosi dan cuaca.
Erosi oleh air laut merupakan pengikisan di pantai oleh pukulan gelombang laut yang Terjadi secara terus menerus terhadap dinding pantai. Bentang alam yang diakibatkan oleh erosi air laut, antara lain cliff (tebing
terjal), notch (takik), gua di pantai, wave cut platform (punggung yang terpotong gelombang), tanjung, dan
teluk. Cliff terbentuk karena gelombang melemahkan batuan di pantai. Pada awalnya gelombang meretakan
batuan di pantai. Akhirnya, retakan semakin membesar dan membentuk notch yang semakin dalam akan
membentuk gua. Akibat diterjang gelobang secara terus menerus mengakibatkan atap gua runtuh dan
membentuk cliff dan wave cut playform.
F. Proses Pembangkitan Gelombang di Laut
Proses terbentuknya pembangkitan gelombang di laut oleh gerakan angin belum sepenuhnya dapat dimengerti,
atau dapat dijelaskan secara terperinci. Tetapi meurut perkiraan, gelombang terjadi karena hembusan angin
secara teratur, terus-menerus, di atas permukaan air laut. Hembusan angin yang demikian akan membentuk riak
permukaan, yang bergerak kira-kira searah dengan hembusan angin (lihat Gambar 2.3.a,b,c) (Ilemoned, 2008).
Bila angin masih terus berhembus dalam waktu yang cukup panjang dan meliputi jarak permukaan laut (fetch)
yang cukup besar, maka riak air akan tumbuh menjadi gelombang. Pada saat yang bersamaan riak permukaan
baru akan terbentuk di atas gelombang yang terbentuk, dan selanjutnya akan berkembang menjadi gelombang
gelombang baru tersendiri. Proses yang demikian tentunya akan berjalan terus menerus (kontinyu), dan bila
gelombang diamati pada waktu dan tempat tertentu, akan terlihat sebagai kombinasi perubahan-perubahan
panjang gelombang dan tinggi gelombang yang saling bertautan (Ilemoned, 2008)
Komponen gelombang secara individu masih akan mempunyai sifat-sifat seperti gelombang pada kondisi ideal,
yang tidak terpengaruh oleh gelombang-gelombang lain. Sedang dalam kenyataannya, sebagai contoh,
gelombang-gelombang yang bergerak secara cepat akan melewati gelombang-gelombang lain yang lebih pendek
(lamban), yang selanjutnya mengakibatkan terjadinya perubahan yang terus-menerus bersamaan dengan gerakan
gelombang-gelombang yang saling melampaui (Ilemoned, 2008).
Jelasnya gelombang-gelombang akan mengambil energi dan angin. Penyerapan energi ini akan dilawan dengan
mekanisme peredam, yaitu pecahnya gelombang dan kekentalan air. Bila angin secara kontinyu berhembus
dengan kecepatan yang tetap untuk waktu dan fetch yang cukup panjang, maka jumlah energi yang terserap
oleh gelombang akan diimbangi dengan energi yang dikeluarkan sehingga suatu sistem gelombang sempurna
(fully developed waves) akan tercapai. Sistem gelombang demikian sebenarnya jarang dijumpai karena kondisi
steady tidak sering terjadi, dan jugafetch kadang-kadang dibatasi oleh kondisi geografi lingkungan.

1.

Bilamana angin berhenti berhembus, sistem gelombang yang telah terbentuk akan segera melemah. Karena
gelombang pecah adalah merupakan mekanisme yang paling dominan, maka gelombang pendek dan lancip,
akan menghilang terlebih dulu, sehingga tinggal gelombang-gelombang panjang yang kemudian menghilang
oleh gaya-gaya kekentalan, yang pada dasarnya lebih kecil dari gelombang pecah.
Proses pelemahan (menghilangnya) gelombang mungkin mencapai beberapa hari, yang bersamaan dengan itu
gelombang-gelombang panjang sudah bergerak dan menempuh jarak ribuan kilometer, yang pada jarak yang
cukup jauh dan tempat mulainya gelombang akan dapat diamati sebagai alun (swell). Alun biasanya mempunyai
periode yang sangat panjang, dan bentuknya cukup beraturan (reguler). Sistem gelombang yang terbentuk
secara lokal mungkin akan dipengaruhi oleh alun yang terbentuk dan tempat yang jauh; yang tentu saja tidak
ada kaitannya dengan angin local (Ilemoned, 2008)
G. SIFAT SIFAT GELOMBANG
Pada pembahasan ini kita akan mempelajari sifat sifat gelombang yang meliputi pemantulan, pembiasan,
disperse, interferensi, difraksi dan polarisasi.
Pemantulan Gelombang (Refleksi Gelombang)
gambar:refraksi gelombang
Pemantulan gelombang pada tangki riak, pada pemantulan ini diperoleh gelombang lingkaran yang pusatnya
adalah sumber gelombang S. Gelombang pantul yang dihasilkan oleh bidang lurus juga berupa gelombang
lingkaran S sebagai pusat lingkaran. Jarak S ke bidang pantul sama dengan jarak s ke bidang pantul.
Menurut Hukum Snellius, gelombang dating, gelombang pantul, dan garis normal berada pada satu bidang dan
sudut dating akan sama dengan sudut pantul, seperti tampak pada gambar berikut: Untuk gelombang dua atau
tiga dimensi seperti gelombang air, kita mengenal dengan istilah sinar gelombang dan muka gelombang.
Muka Gelombang

2.

Muka gelombang (Front wave) didefinisikan sebagai tempat kedududkan titik titik yang memiliki fase yang
sama pada gelombang, pada gambar di samping ini menunjukkan lingkaran lingkaran tersebut merupakan
muka gelombang. Jarak antara muka gelombang yang berdekatan sama dengan satu gelombang (). Sinar
gelombang adalah garis yang ditarik dengan arah tegak lurus terhadap muka gelombang.
Bila gelombang melingkar merambat terus kesegala arah maka pada jarak yang jauh dari sumber gelombang,
kita akan melihat muka gelombang yang hamper lurus, seperti halnya gelombang air laut yang sampai dipantai.
Muka gelombang yang seperti ini disebut sebagai muka gelombang bidang.
Pembiasan Gelombang (Refraksi Gelombang)
Pada pemantulan gelombang, gelombang yang tiba di batas medium akan dipantulkan ke arah semula. Pada
pembiasan, gelombang yang mengenai bidang batas antara dua medium, sebagian akan dipantulkan dan
sebagian lagi akan diteruskan atau dibiaskan. Gelombang yang dibiaskan ini akan mengalami pembelokan arah
dari arah semula tergantung pada mediumnya.
Pada medium kedua, cepat rambat gelombang mengalami perubahan dan perubahan ini pun tergantung pada
mediumnya. Dengan kata lain, pembiasan gelombang adalah pembelokan arah lintasan gelombang etelah
melewati bidang batas antara dua medium yang berbeda.
Pada gambar diatas diperlihatkan pembiasan cahaya dari medium udara dengan indeks bias n, ke medium air
yang memiliki indeks bias n2. Menurut Hukum Snellius tentang pembiasan:
1. Sinar datang, garis normal, dan sinar bias, terletak pads satu hidang datar.
2. Sinar yang datang dari medium dengan indeks bias kecil ke medium dengan indeks bias yang lebih besar
dibiaskan mendekati garis normal, dan sebaliknya.
3. Perbandingan nilai sinus sudut datang (sin i) terhadap sinus sudut bias (sin r) dari satu medium ke medium
lainnya selalu tetap. Perbandingan ini disebut sehagai indeks bias relatif suatu medium terhadap medium lain.
Secara matematis Hukum Snellius dapat dirumuskansebagai berikut:

n1 sin i = n2 sin r atau 2 /n1 = sin i / sin r


Dengan n1 adalah indeks bias medium pertama, n2 adalah indeks bias medium kedua, I adalah sudut dating, dan
r adalah sudut bias. Adapun n21 adalah indeks bias relative medium 2 terhadap medium 1. Indeks bias mutlak
didefinisikan sebagai berikut: n= c/v
Dengan :
C = laju cahaya di ruang hampa
V = laju cahaya dalam suatu medium
Indeks bias mutlak ruang hampa (n1 = 1) ke dalam air (n2), indeks bias n2 menjadi indeks bias mutlak dan
dituliskan sebagai berikut:
n2= sin i / sin r
Gambar (a) menunjukkan gelombang air merambat dari satu medium menuju ke medium lain setelah melewati
bidang batas antara kedua medium, gelombang tersebut mengalami pembelokan. Pada peristiwa tersebut terjadi
perubahan arah rambat gelombang dan panjang gelombang 2 lebih pendek dari pada 1.
Gambar (b) menunjukkan adanya perubahan kecepatan gelombang. Gelombang merambat dari medium yang
memiliki indeks bias n1 ke medium lain dengan indeks bias n2.
Keterangan :
(a) Perubahan panjang gelombang, 2 lebih pendek dari pada 1.
(b) Perubahan kecepatan gelombang, v2 lebih kecil dari pada v1.
Dari kedua gambar tersebut diturunkan persamaan pembiasan gelombang sebagai berikut:
'sini/sinr = v1/v2 = (f1)/(f2 )= 1/2
Dari satu medium ke medium lainnya, frekuensi gelombang tetap. Jadi yang mengalami perubahan adalah
kecepatan dan panjang gelombang
Pemantulan Sempurna
Pemantulan sempurna dapat terjadi jika sinar datang dari medium rapat ke medium kurang rapat (udara), dan
sudut dating melampaui sudut kritisnya. Penerapan hukum snellius pada pemantulan sempurna memenuhi
persamaan seperti dibawah ini, dengan mengetahui perbandingan indeks bias mutlak n1 dan n2 , sudut kritis
cahaya dari suatu medium dapat ditentukan. n2 sin ik= n1 sin r,dengan r =900 sehingga n2 sin ik = n1 sin ik=
n1/n2
Secara umum sifat sifat gelombang adalah:
1) Dapat mengalami pemantulan atau refleksi;
2) Dapat mengalami pembiasan atau refraksi;
3) Dapat mengalami superposisi atau interferensi;
4) Dapat mengalami lenturan atau difraksi, dan;
5) Dapat mengalami pengutuban atau polarisasi.
3.

Interferensi Gelombang
Keterangan:
(a) Dua Gelombang Sefase
(b) Dua gelombang berlawanan fase
Dua gelombang disebut .sefase. jika kedua gelombang tersebut memiliki frekuensi sama dan pada setiap saat
yang sama memiliki arah simpangan yang sama pula. Adapun dua gelombang disebut berlawanan fase, jika
kedua gelombang tersebut memiliki frekuensi sama, dan pada setiap seal yang sama memiliki arah simpangan
yang berlawanan.
Untuk mengamati interterensi dari dua buah gelombang dapat digunakan sebuah tangki rink (ripple tank).
Pertemuan kedua gelombang akan mengalami interferensi..lika pertemunan kedua gelombang saling
menguatkan, disebut interf reusi maksimum atau interferensi konstruktif. Peristiwa ini terjadi jika pada titik

pertemuan tersebut kedua gelombang sefase. Akan tetapi, jika pertemuan gelombang saling melemahkan,
disebut interferensi minimum atau interferensi destruktif. Peristiwa ini terjadi jika pada titik pertemuan tersebut
kedua gelombangnya berlawanan fase.
Jika dua gelombang sefase dan dua gelombang berlawanan fase mengalami interferensi, akan didapatkan seperti
gambar dibawah ini:
Keterangan:
(a) Interferensi maksimum dua gelombang sefase
(b) Interferensi minimum dua gelombang berlawanan fase
4. Difraksi Gelombang
Peristiwa difraksi atau lenturan dapat terjadi jika sebuah gelombang melewati sebuah penghalang atau melewati
sebuah celah sempit. Pada suatu medium yang serba sama, gelombang akan merambat lurus. Akan tetapi, jika
pada medium tersebut gelomhang terhalangi, bentuk dan arah perambatannya dapat berubah.
5. Dispersi Gelombang
Perubahan bentuk gelombang ketika melewati suatu medium disebut disperse gelombang. Gelombang
longitudinal, seperti gelombang bunyi, kecil sekali mengalami disperse atau bahkan tidak sama sekali. Sifat
inilah yang digunakan dalam pencitraan dengan mengunakan USG (Ultra Sonografi).
Gelombang cahaya mengalami disperse. Dengan sifat disperse gelombang cahaya pada prisma, kita dapat
menentukan lebar spektrum matahari. Misalkan cahaya polikromatik (cahaya matahari) dilewatkan pada prisma
dengan indeks bias n2 dalam medium berindeks bias n1, dan sudut pembias seperti pada gambar dibawah ini.
Besar sudut yang dibentuk antara sinar yang masuk ke prisma dan yang keluar prisma disebutsudut deviasi,
yang besarnya dapat ditulis sebagai berikut:
D=i+r'-
Keterangan:
= sudut pembias prisma
i = besar sudut cahaya dating ke prisma
r = besar sudut cahaya saat meninggalkan prisma
Dengan menggunaka hukum Snellius, kita dapat menghitung sudut deviasi minimum sebagai berikut:
Dm=2i-
Bila sudut pembias lebih besar dari 150 ( > 150) besar sudut deviasi minimum n1 sin ((Dm+ ))/2= n_2
sin(/2)
Bila sudut pembias lebih kecil dari 150 ( < 150) maka
Dm =(n2/n1 - 1)
Keterangan:
n1 = indeks bias medium di sekitar prisma, bila udara n = 1
n2 = indeks bias prisma
Dm = sudut deviasi minimum (derajat)
Sudut Dispersi
Bila cahaya putih (polikromatik) atau cahaya matahari melewati suatu prisma maka cahaya yang keluar dari
prisma berupa spektrum cahaya matahari yang terdiri atas warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nilla, dan
ungu. Penguraian warna polikromatik menjadi warna monokromatik yang disebabkan oleh perbedaan cepat
rambat dari masing masing warna disebut dengan disperse. Setiap warna cahaya memiliki sududt deviasi
minimum masing masing. Selisih deviasi warna ungu dengan warna merah disebut sudut dispersi. Jadi, lebar
sudut disperse atau lebar spectrum matahari dapat dinyatakan sebagai berikut:
= (n- 1) - (nm- 1) atau = (n- nm )
Dengan:

6.

n = indeks bias sinar ungu


nm = indeks bias sinar merah
= sudut disperse
= sudut pembias prisma
Polarisasi Gelombang
Gelombang yang hanya merambat pada satu bidang disebut gelombang terpolarisasi linier, sedangkan
gelombang yang merambat tidak pada satu bidang disebut gelombang takterpolarisasi.
Keterangan :
(a) Gelombang terpolarisasi linier pada arah vertical
(b) Gelombang terpolarisasi linier pada arah horizontal
(c) Gelombang takterpolarisasi
Gelombang cahaya terpolarisasi adalah gelombang cahaya yang getarannya hanya dalam satu bidang, proses
untuk mengubah cahaya takterpolarisasi menjadi cahaya terpolarisasi dikenal sebagai polarisasi.

Gelombang Laut
Defenisi, Bentuk, Sifat dan Karakteristik Gelombang

Deskripsi tentang sebuah gelombang hingga kini masih belum jelas dan akurat,
oleh karena permukaan laut merupakan suatu bidang yang kompleks dengan pola
yang selalu berubah dan tidak stabil (Garrison, 1993). Gelombang merupakan
fenomena alam penaikan dan penurunan air secara periodik dan dapat dijumpai di
semua tempat di seluruh dunia. Gross (1993) mendefenisikan gelombang sebagai
gangguan yang terjadi di permukaan air. Sedangkan Sverdrup at al, (1946)
mendefenisikan gelombang sebagai sesuatu yang terjadi secara periodik terutama
gelombang yang disebabkan oleh adanya peristiwa pasang surut.
Massa air permukaan selalu dalam keadaan bergerak, gerakan ini terutama
ditimbulkan oleh kekuatan angin yang bertiup melintasi permukaan air dan
menghasilkan energi gelombang dan arus. Bentuk gelombang yang dihasilkan
cenderung tidak menentu dan tergantung pada beberapa sifat gelombang, periode
dan

tinggi

dimana

gelombang

dibentuk,

gelombang

jenis

ini

disebut Sea. Gelombang yang terbentuk akan bergerak ke luar menjauhi pusat
asal gelombang dan merambat ke segala arah, serta melepaskan energinya ke
pantai dalam bentuk empasan gelombang. Rambatan gelombang ini dapat
menempuh jarak ribuan kilometer sebelum mencapai suatu pantai, jenis gelombang
ini disebut Swell.
Gelombang mempunyai ukuran yang bervariasi mulai dari riak dengan
ketinggian beberapa centimeter sampai pada gelombang badai yang dapat
mencapai ketinggian 30 m. Selain oleh angin, gelombang dapat juga ditimbulkan

oleh adanya gempa bumi, letusan gunung berapi, dan longsor bawah air yang
menimbulkan gelombang yang bersifat merusak (Tsunami) serta oleh daya tarik
bulan dan bumi yang menghasilkan gelombang tetap yang dikenal sebagai
gelombang pasang surut.
Sebuah gelombang tertdiri dari beberapa bagian antara lain:
a. Puncak gelombang (Crest) adalah titik tertinggi dari sebuah gelombang.
b. Lembah gelombang (Trough) adalah titik terendah gelombang, diantara dua puncak
gelombang.
c.

Panjang gelombang (Wave length) adalah jarak mendatar antara dua puncak
gelombang atau antara dua lembah gelombang.

d. Tinggi gelombang (Wave height) adalah jarak tegak antara puncak dan lembah
gelombang.
e. Priode gelombang (Wave period) adalah waktu yang diperlukan oleh dua puncak
gelombang yang berurutan untuk melalui satu titik.
Menurut Nontji (1987) antara panjang dan tinggi gelombang tidak ada satu
hubungan yang pasti akan tetapi gelombang mempunyai jarak antar dua puncak
gelombang yang makin jauh akan mempunyai kemungkinan mencapai gelombang
yang semakin tinggi. Pond and Pickard (1983) mengklasifikasikan gelombang
berdasarkan periodenya, seperti yang disajikan pada Tabel 1. berikut ini.
Tabel 1. Klasifikasi gelombang berdasarkan periode
Periode
Panjang Gelombang
Jenis Gelombang
0 0,2 Detik
Beberapa centimeter
Riak (Riplles)
0,2 0,9 Detik
Mencapai 130 meter
Gelombang angin
0,9 -15 Detik
Beberapa ratus meter
Gelombang besar (Swell)
15 30 Detik
Ribuan meter
Long Swell
Gelombang dengan
0,5 menit 1 jam
Ribuan kilometer
periode yang panjang
(termasuk Tsunami)
5, 12, 25 jam
Beberapa kilometer
Pasang surut
Bhat (1978), Garisson (1993), dan Gross (1993) mengemukakan bahwa ada 4
bentuk besaran yang berkaitan dengan gelombang. Yakni :
a) Amplitudo gelombang (A) adalah jarak antara puncak gelombang dengan
permukaan rata-rata air.
b) Frekuensi gelombang ( f ) adalah sejumlah besar gelombang yang melintasi suatu
titik dalam suatu waktu tertentu (biasanya didefenisikan dalam satuan detik).

c) Kecepatan gelombang (C) adalah jarak yang ditempuh gelombang dalam satu
satuan waktu tertentu.
d) Kemiringan gelombang (H/L) adalah perbandingan antara tinggi gelombang dengan

panjang gelombang.
Faktor-faktor Pembentuk Gelombang dan Jenis-jenis Gelombang
Secara umum gelombang yang terjadi di laut dapat terbentuk dari beberapa
faktor pnyebab seperti : angin, pasang surut, badai laut, dan seiche.
1. Gelombang yang disebabkan oleh angin
Angin yang bertiup di atas permukaan laut merupakan pembangkit utama
gelombang. Bentuk gelombang yang dihasilkan cenderung tidak menentu dan
bergantung pada beberapa sifat gelombang periode dan tinggi dimana gelombang
dibentuk. Gelombang seperti ini disebut Sea. Bentuk gelombang lain yang
disebabkan oleh angin adalah gelombang yang bergerak dengan jarak yang sangat
jauh sehingga semakin jauh meninggalkan daerah pembangkitnya gelombang ini
tidak lagi dipengaruhi oleh angin. Gelombang ini akan lebih teratur dan jarak yang
ditempuh selama pergerakannya dapat mencapai ribuan mil. Jenis gelombang ini
disebut Swell.
Tinggi gelombang rata-rata yang dihasilkan oleh angin merupakan fungsi dari
kecepatan angin, waktu dimana angin bertiup, dan jarak dimana angin bertiup tanpa
rintangan.Umumnya semakin kencang angin bertiup semakin besar gelombang yang
terbentuk dan pergerakan gelombang mempunyai kecepatan yang tinggi sesuai
dengan panjang gelombang yang besar. Gelombang yang terbentuk dengan cara ini
umumnya mempunyai puncak yang kurang curam jika dibandingkan dengan tipe
gelombang yang dibangkitkan dengan angin yang berkecepan kecil atau lemah.
Saat angin mulai bertiup, tinggi gelombang, kecepatan, panjang gelombang
seluruhnya cenderung berkembang dan meningkat sesuai dengan meningkatnya
waktu peniupan berlangsung (Hutabarat dan Evans, 1984).
Jarak tanpa rintangan dimana angin bertiup merupakan fetch yang sangat
penting untuk digambarkan dengan membandingkan gelombang yang terbentuk
pada kolom air yang relatif lebih kecil seperti danau (di darat) dengan yang terbentuk
di lautan bebas, (Pond and Picard, 1978).
Gelombang yang terbentuk di danau dengan fetch yang relatif kecil dengan
hanya mempunyai beberapa centimeter sedangkan yang terbentuk di laut bebas

dimana dengan fetch yang lebih sering mempunyai panjang gelombang sampai
ratusan meter. Kompleksnya gelombang-gelombang ini sangat sulit untuk dijelaskan
tanpa membuat pengukuran-pengukuran yang lebih akurat dan kurang berguna bagi
nelayan atau pelaut. Sebagai gantinya mereka membuat suatu cara yang lebih
sederhana untuk mengetahui gelombang yaitu dengan menggunakan suatu daftar
skala

gelombang

yang

dikenal

dengan Skala

Beaufort untuk

memberikan

keterangan tentang kondisi gelombang yang terjadi di laut dalam hubungannya


dengan kecepatan angin yang sementara berhembus (Hutabarat dan Evans, 1984).
2. Gelombang yang disebabkan oleh pasang surut
Gelombang pasang surut yang terjadi di suatu perairan yang diamati adalah
merupakan penjumlahan dari komponen-komponen pasang yang disebabkan oleh
gravitasi bulan, matahari, dan benda-benda angkasa lainnya yang mempunyai
periode sendiri. Tipe pasang berbeda-beda dan sangat tergantung dari tempat
dimana pasang itu terjadi (Cappenberg, 1992).
Tipe pasang surut yang terjadi di Indonesia terbagi atas dua bagian yaitu tipe
diurnal dimana terjadi satu kali pasang dan satu kali surut setiap hari misalnya yang
terjadi di Kalimantan dan Jawa Barat. Tipe pasang surut yang kedua yaitu semi
diurnal, dimana pada jenis yang kedua ini terjadi dua kali pasang dan dua kali surut
dalam

satu

hari,

misalnya

yang

terjadi

di

wilayah

Indonesia

Timur

(Ceppenberg,1992).
Pasang surut atau pasang naik mempunyai bentuk yang sangat kompleks
sebab dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti hubungan pergerakan bulan dengan
katulistiwa bumi, pergantian tempat antara bulan dan matahari dalam kedudukannya
terhadap bumi, distribusi air yang tidak merata pada permukaan bumi dan ketidak
teraturan konfigurasi kolom samudera.
3. Gelombang yang disebabkan oleh badai atau puting beliung
Bentuk gelombang yang dihasilkan oleh badai yang terjadi di laut merupakan hasil
dari cuaca yang tiba-tiba berubah menjadi buruk terhadap kondisi perairan.
Kecepatan gelombang tinggi dengan puncak gelombang dapat mencapai 7 10
meter. Bentuk gelombang ini dapat menghancurkan pantai dengan vegetasinya
maupun wilayah pantai secara keseluruhan (Pond and Picard, 1978).
4. Gelombang yang disebabkan oleh tsunami
Gelombang tsunami merupakan bentuk gelombang yang dibangkitkan dari dalam
laut yang disebabkan oleh adanya aktivitas vulkanis seperti letusan gunung api

bawah laut, maupun adanya peristiwa patahan atau pergeseran lempengan


samudera (aktivitas tektonik). Panjang gelombang tipe ini dapat mencapai 160 Km
dengan kecepatan 600-700 Km/jam. Pada laut terbuka dapat mencapai 10-12 meter
dan saat menjelang atau mendekati pantai tingginya dapat bertambah bahkan dapat
mencapai 20 meter serta dapat menghancurkan wilayah pantai dan membahayakan
kehidupan manusia, seperti yang terjadi di Kupang tahun 1993 dan di Biak tahun
1995 yang menewaskan banyak orang serta menghancurkan ekosistem laut
(Dahuri,1996)
5. Gelombang yang disebabkan oleh seiche
Gelombang seiche merupakan standing wave yang sering juga disebut sebagai
gelombang diam atau lebih dikenal dengan jenis gelombang stasioner. Gelombang
ini merupakan standing wave dari periode yang relatif panjang dan umumnya dapat
terjadi di kanal, danau dan sepanjang pantai laut terbuka. Seiche merupakan hasil
perubahan secara mendadak atau seri periode yang berlangsung secara berkala
dalam tekanan atmosfir dan kecepatan angin (Pond and Picard, 1978).
Bhatt, (1978) mengemukakan bahwa ada 4 jenis gelombang, antara lain :
a. Gelombang Katastrofik
Gelombang ini adalah gelombang laut yang besar dan muncul secara tiba-tiba yang
disebabkan oleh aktivitas gempa bumi, gunung api, dan sebagainya. Gelombang
katastrofik ini di namakan berdasarkan akibat yang di timbulkannya yaitu mampu
menghancurkan apa saja yang di temui. Gelombang ini juga sering disebut sebagai
gelombang laut Seismik atau Tsunami.
b. Gelombang Badai (strom Wave)
Gelombang ini adalah gelombang pasang laut tinggi yang ditimbulkan dari adanya
hembusan angin kencang atau badai. Sering juga disebut sebagai Strom Suger.
Gelombang badai ini dapat menyebabkan kerusakan yang besar untuk daerah
pesisir.
c. Gelombang Internal (Internal Wave)
Gelombang ini adalah gelombang yang terbentuk pada perbatasan antara 2 lapisan
air yang berbeda densitas. Gelombang internal ini dapat ditemukan di bawah
permukaan laut. Walaupun gelombang ini serupa dengan gelombang permukaan
laut yang dibangkitkan oleh angin, namun keduanya mempunyai perbedaan dalam
beberapa hal. Sebagai contoh, gelombang internal bergerak sangat lambat dan tidak
dapat terdeteksi dengan mata, dan umumnya terjadi hanya dimana adanya variasi

densitas. Gelombang ini mempunyai tinggi lebih besar dari pada gelombang
permukaan.
d. Gelombang Stasioner Standing Wave
Gelombang ini adalah bentuk gelombang laut yang di cirikan dengan tidak adanya
gerakan gelombang yang merambat, yaitu permukaan air hanya bergerak naik turun
saja. Umumnya ditemukan diperairan yang tertutup, misalnya pada danau, teluk
atau kanal. Gelombang ini sering disebut juga gelombang diam atau seiche.
Gelombang ini dihasilkan oleh badai yang digabungkan dengan kondisi atmosfir
yang drastis. Gelombang stasioner dapat menghancurkan masa hidup suatu

organisme dan dapat pula menyebabkan kerusakan daratan.


Pergerakan Gelombang
Berdasarkan kedalamannya, gelombang yang bergerak mendekati pantai
dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu gelombang laut dalam dan gelombang
permukaan. Gelombang laut dalam merupakan gelombang yang dibentuk dan
dibangun dari bawah kepermukaan. Sedangkan gelombang permukaan merupakan
gelombang yang terjadi antara batas dua media seperti batas air dan udara (Ippen,
1996 dan McLellan, 1975 dalam Tarigan, 1987).
Gelombang permukaan terjadi karena adanya pengaruh angin. Peristiwa ini
merupakan peristiwa pemindahan energi angin menjadi energi gelombang di
permukaan laut dan gelombang ini sendiri akan meneruskan energinya ke molekul
air. Gelombang akan menimbulkan riak dipermukaan air dan akhirnya dapat
berubah menjadi gelombang yang besar. Gelombang yang bergerak dari zona laut
lepas hingga tiba di zona dekat pantai (nearshore beach) akan melewati beberapa
zona gelombang yaitu : zona laut dalam (deep water zone), zona refraksi (refraction
zone), zona pecah gelombang (surf zone), dan zona pangadukan gelombang
(swash zone) (Dyer,1978). Uraian rinci dari pernyataan tersebut dapat dikemukakan
sebagai berikut :
Gelombang mula-mula terbentuk di daerah pembangkit (generated area)
selanjutnya gelombang-gelombang tersebut akan bergerak pada zona laut dalam
dengan panjang dan periode yang relatif pendek. Setelah masuk ke badan parairan
dangkal, gelombang akan mengalami refraksi (pembelokan arah) akibat topografi
dasar laut yang menanjak sehingga sebagian kecepatan gelombang menjadi
berkurang periodenya semakin lama dan tingginya semakin bertambah, gelombang
kemudian akan pecah pada zona surf dengan melepaskan sejumlah energinya dan

naik kepantai (swash) dan setelah beberapa waktu kemudian gelombang akan
kembali turun (backswash) yang kecepatnnya bergantung pada kemiringan pantai
atau slope. Pantai dengan slope yang tinggi akan lebih cepat memantulkan
gelombang, sedangkan pantai dengan slope yang kecil pemantulan gelombangnya
relatif lambat. Kennet (1982) membagi zona gelombang atas tiga bagian, yaitu zona
pecah gelombang (breaker zone), zona surf (surf zone), dan zona swash (swash
zone).
Pada zona surf, terjadi angkutan sedimen karena arus sepanjang pantai terjadi
dengan baik. Pada kedalaman dimana gelombang tidak menyelesaikan orbitalnya,
gelombang akan semakin tinggi dan curam, dan akibatnya mulai pecah (Kennet,
1982). Sebuah gelombang akan pecah bila perbandingan antara kedalaman
perairan dan tinggi gelombang adalah 1,28 (Yuwono, 1986) atau bila perbandingan
antara tinggi gelombang dan panjang gelombang melampaui 1 : 7 (Gross, 1993).
Saat pecah gelombang akan mengalami perubahan bentuk. Dyer, 1978
membedakannya kedalam tiga bentuk empasan (tipe breaker), sementara Galvin
(1966) mengklasifikasikan tipe empasan gelombang yaitu : tipe plunging, spilling,
surging, dan collapsing
1. Plunging, terjadi

karena

seluruh

puncak

gelombang

melewati

kecepatan

gelombang, tipe empasan ini berbentuk cembung kebelakang dan cekung kearah
depan. Gelombang ini sering timbul dari empasan pada periode yang lama dari
suatu gelombang yang besar, dan biasanya terjadi pada dasar pantai yang hampir
lebih miring di bandingkan pada tipeSpilling. Walaupun sangat menarik, namun
umumnya gelombang ini tidak terjadi lama dan juga tidak baik untuk berselancar.
Bahkan tipe empasan ini mampu menimbulkan kehancuran yang cukup hebat.
2. Spilling, terjadi dimana gelombang sudah pecah sebelum tiba di depan pantai
Gelombang ini lebih sering terjadi, dimana kemiringan dasarnya lebih kecil sekali,
oleh karena itu reaksinya lebih lambat, sangat lama dan biasanya digunakan untuk
berselancar.
3. Surging, adalah tipe empasan dimana gelombang pecah tepat di tepi pantai. Tipe
empasan ini sangat mempengaruhi lebarnya zona surf suatu perairan karena jenis
gelombang yang pecah tepat di tepi pantai akan mengakibatkan semakin sempitnya
zona surf. Gelombangnya lebih lemah saat mencapai pantai dengan dasar yang
lebih curam dan kemudian gelombang akan pecah tepat pada tepi pantai (Gross,
1993).

4. Collapsing, merupakan gelombang yang pecah setengah dari biasanya. Saat pecah
gelombang tersebut tidak naik kedarat, terdapat buih dan terjadi pada pantai yang
sangat curam (Galvin, 1968).
Apabila memperhatikan gelombang dilaut akan mendapat suatu kesan seolaholah gelombang tersebut bergerak secara horizontal dari suatu tempat ke tempat
lain. Tetapi kenyataanya tidaklah demikian karena suatu gelombang akan
membentuk gerakan maju melintasi permukaan air. Disana hanya terjadi gerakan
kecil kearah depan dari massa air itu sendiri. Hal ini akan semakin mudah dipahami
apabila meletakan sepotong gabus diantara gelombang-gelombang dilaut. Potongan
gabus akan tampak timbul tenggelam sesuai dengan gerakan berturut-turut, dari
puncak dan lembah gelombang yang lebih atau kurang tinggi pada tempat yang
sama.
Gerakan partikel ini dalam gelombang sama dengan gerakan potongan gabus
walaupun dari pengamatan yang lebih teliti menunjukan bahwa ternyata gerakan ini
lebih kompleks dari hanya sekedar gerakan naik turun. Gerakan ini adalah gerakan
yang membentuk sebuah lingkaran bulat dimana gabus dan partikel-partikel yang
lain diangkut keatas dan membentuk setengah lingkaran dan gerakan ini akan terus
berlanjut sampai pada tempat yang tinggi yang merupakan puncak gelombang.
Benda-benda ini kemudian dibawa dan membentuk lingkaran penuh melewati
tempat paling bawah yaitu lembah gelombang (Pond and Picard, 1978). Semua
fenomena yang di alami gelombang pada hakekatnya berhubungan erat dengan

topografi dasar laut (sea bottom topography).


Energi Gelombang
Daerah pantai

termasuk daerah dan lingkungan yang berada didekat

pantainya sangat ditentukan dan didominasi oleh faktor-faktor gelombang.


Gelombang yang terjadi dilaut dalam pada umumnya tidak berpengaruh pada dasar
laut dan sedimen yang terdapat didalamnya. Sebaliknya gelombang yang terdapat di
dekat pantai terutama di daerah pecahan ombak ( surf zone ) memiliki energi yang
besar dan sangat berperan dalam pembentukan morfologi pantai seperti menyeret
sedimen (sedimen berukuran pasir dan kerikil) yang berada di dasar laut diangkut
dan ditumpahkan dalam bentuk gosong pasir (sand bard) Dahury,1996).

GELOMBANG, ARUS, PASANG SURUT

GELOMBANG
Tenaga Penggerak
Gelombang laut tercipta karena adanya transfer energi dari angin ke permukaan laut.
Energi yang tertransferkan ini akan bergerak melintasi permukaan laut, dimana air laut
sendiri bergerak dalam gerakan"membundar" (circular motion) di bawah permukaan laut.
1.

Gelombang/ombak yang terjadi di lautan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa


macam tergantung kepada gaya pembangkitnya. Pembangkit gelombang laut dapat
disebabkan oleh: angin(gelombang angin), gaya tarik menarik bumi-bulanmatahari (gelombang pasang-surut), gempa (vulkanik atau tektonik) di dasar laut (gelombang
tsunami), ataupun gelombang yang disebabkan oleh gerakan kapal.
Gelombang yang sehari-hari terjadi dan diperhitungkan dalam bidang teknik pantai
adalah gelombang angin dan pasang-surut (pasut). Gelombang dapat membentuk dan
merusak pantai dan berpengaruh pada bangunan-bangunan pantai. Energi gelombang akan
membangkitkan arus dan mempengaruhi pergerakan sedimen dalam arah tegak lurus
pantai (cross-shore) dan sejajar pantai(longshore). Pada perencanaan teknis bidang teknik
pantai, gelombang merupakan faktor utama yang diperhitungkan karena akan menyebabkan
gaya-gaya yang bekerja pada bangunan pantai.
Contoh
1) Teknologi terbaru, Teknologi terbaru ini menggunakan istilah Permanent Magnet Linear
Buoy(Pelampng Magnet Permanen Linier). Teknologi yang sudah dipakai oleh kota Portland
di Amerika Serikat dan merupakan ciptaan para insinyur dari Universitas Oregon ini, selain
memasok listrik, juga mampu mendorong pertumbuhan kehidupan laut. Selain itu tidak ada
emisi gas buang CO2, tidak ada polusi suara, tidak ada polusi visual.
2) Gelombang air laut yang disebabkan oleh badai dapat membahayakan manusia, seperti kapal
yang sedang berlayar, dermaga, dll.
3) Gelombang air laut juga bermanfaat bagi manusia, seperti untuk berselancar.

2. ARUS
Tenaga Penggerak
Arus air laut adalah pergerakan massa air secara vertikal dan horisontal sehingga
menuju keseimbangannya, atau gerakan air yang sangat luas yang terjadi di seluruh lautan
dunia. Arus juga merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dikarenakan tiupan angin
atau perbedaan densitas atau pergerakan gelombang panjang.

Pergerakan arus dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain arah angin, perbedaan
tekanan air, perbedaan densitas air, gaya Coriolis dan arus ekman, topografi dasar laut, arus
permukaan, upwellng , downwelling.Selain angin, arus dipengaruhi oleh paling tidak tiga
faktor, yaitu:
1) Bentuk Topografi dasar lautan dan pulau pulau yang ada di sekitarnya: Beberapa sistem
lautan utama di dunia dibatasi oleh massa daratan dari tiga sisi dan pula oleh arus equatorial
counter di sisi yang keempat. Batas batas ini menghasilkan sistem aliran yang hampir
tertutup dan cenderung membuat aliran mengarah dalam suatu bentuk bulatan.
2) Gaya Coriollis dan arus ekman : Gaya Corriolis memengaruhi aliran massa air, di mana gaya
ini akan membelokkan arah mereka dari arah yang lurus. Gaya corriolis juga
yangmenyebabkan timbulnya perubahan perubahan arah arus yang kompleks susunannya
yang terjadi sesuai dengan semakin dalamnya kedalaman suatu perairan.
3) Perbedaan Densitas serta upwelling dan sinking : Perbedaan densitas menyebabkan timbulnya
aliran massa air dari laut yang dalam di daerah kutub selatan dan kutub utara ke arah daerah
tropik.

Adapun jenis jenis arus dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu :


1) Berdasarkan penyebab terjadinya
a) Arus ekman adalah arus yang dipengaruhi oleh angin.
b) Arus termohaline adalah arus yang dipengaruhi oleh densitas dan gravitasi.
c) Arus pasut adalah arus yang dipengaruhi oleh pasut.
d) Arus geostropik adalah arus yang dipengaruhi oleh gradien tekanan mendatar gaya coriolis.
e) Wind driven curren adalah arus yang dipengaruhi oleh pola pergerakan angin dan terjadi pada
lapisan permukaan.
2) Berdasarkan Kedalaman
a) Arus permukaan adalah Terjadi pada beberapa ratus meter dari permukaan, berger dengan
arah horizontal dan dipengaruhi oleh pola sebaran angin.
b) Arus dalam adalah Terjadi jauh di dasar kolom perairan,arah pergerakannya tidak
dipengaruhi oleh pola sebaran angin dan mambawamassa air dari daerah kutub ke
daerah ekuator.
Contoh
1) Mengubah pola temperatur permukaan bumi.
2) Mengubah sifat-sifat fisis udara di atasnya.
3) Di laut terbuka, air laut digerakan oleh dua sistem angin. Di dekat khatulistiwa, angin
pasat(trade wind) menggerakkan permukaan air ke arah barat. Sementara itu, di daerah
lintang sedang (temperate), angin baratan (westerlies wind) menggerakkan kembali
permukaan air ke timur. Akibatnya di samudera-samudera akan ditemukan sebuah gerakan

permukaan air yang "membundar". Di belahan bumi utara, angin ini membangkitkan arus
yang bergerak searah jarum jam, sementara itu di belahan bumi selatan dia bergerak
berlawanan arah jarum jam.
4) Arus laut, baik yang di permukaan maupun di kedalaman, berperan dalam iklim di Bumi
dengan cara menggerakkan air dingin dari kutub ke daerah tropis dan sebaliknya. Sistem arus
global yang mempengaruhi iklim di Bumi ini biasa disebut sebagai "Great Ocean Conveyor
Belt" atau dalam bahasa Indonesia saya biasa menyebut sebagai "Sabuk Arus Laut Dunia".

3. PASANG SURUT
Tenaga Penggerak
Dalam sebulan, variasi harian dari rentang pasang laut berubah secara sistematis
terhadap siklus bulan. Rentang pasang laut juga bergantung pada bentuk perairan dan
konfigurasi lantai samudera. Peristiwa alam pasang surut air laut merupakan naik turunnya
perairan yang disebabkan oleh pengaruh gaya gravitasi bulan dan matahari. Ada 3 penyebab
terjadinya pasang surut air laut yaitu Matahari, Bulan, dan Bumi.
Pasang laut merupakan hasil dari gaya gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal
adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi (bumi). Gravitasi bervariasi secara langsung dengan
massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari
matahari, namun gaya gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam
membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke
bumi.

Gaya gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua
tonjolan pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan
oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari.
1) Pasang laut purnama (spring tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam suatu
garis lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang naik yang sangat tinggi dan pasang surut
yang sangat rendah. Pasang laut purnama ini terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama.
2) Pasang laut perbani (neap tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari membentuk sudut
tegak lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang naik yang rendah dan pasang surut yang
tinggi. Pasang laut perbani ini terjadi pada saat bulan seperempat dan tigaperempat.

Contoh
1) Pasang laut menyebabkan perubahan kedalaman perairan dan mengakibatkan arus pusaran
yang dikenal sebagai arus pasang.
2) Wilayah pantai yang terbenam sewaktu pasang naik dan terpapar sewaktu pasang surut,
disebut mintakat pasang, dikenal sebagai wilayah ekologi laut yang khas.

Tekanan Air Laut


Tekanan air laut bertambah terhadap kedalaman. Kedalaman air laut biasanya diukur
dengan
menggunakan echo
sounder atau
CTD (Conductivity,
Temperature,
Depth). Kedalaman yang diukur dengan menggunakan CTD didasarkan pada harga tekanan.
Tekanan didefinisikan sebagai gaya per satuan luas. Semakin ke dalam, tekanan air
laut akan semakin besar. Hal ini disebabkan oleh semakin besarnya gaya yang bekerja pada
lapisan yang lebih dalam. Satuan dari tekanan dalam cgs adalah dynes/cm 2, sedangkan dalam
mks adalah Newton/m2. Satu Pascal sama dengan satu Newton/m2. Dalam oseanografi, satuan

tekanan yang digunakan adalah desibar(disingkat dbar), dimana 1 dbar = 10-1bar =


105 dynes/cm2 = 104 Pascal.
Gaya akibat tekanan bekerja dari tekanan yang berbeda pada satu titik ke titik lainnya.
Gaya ini bekerja dari tekanan yang lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah. Di laut, gaya
gravitasi yang bekerja(ke arah bawah) akan diimbangi oleh gaya akibat adanya perbedaan
tekanan tersebut (ke arah atas), sehingga air yang bergerak ke bawah tidak akan mengalami
percepatan.
Tekanan pada satu kedalaman bergantung pada massa air yang berada di atasnya.
Persamaan yang digunakan untuk mengukur harga kedalaman dari harga tekanan adalah
persamaan hidrostatis, yaitu dp=*g*dh, dimana dp=perubahan tekanan, =densitas air laut,
g=percepatan gravitasi, dan dh=perubahan kedalaman. Jadi, jika tekanan berubah sebesar 100
dbar, dengan harga percepatan gravitasi g=9.8 m/det2dan densitas air laut =1025 kg/m3,
maka perubahan kedalamannya adalah 99,55 meter. Variasi tekanan di laut berada pada
kisaran nol (di permukaan) hingga 10.000 dbar (di kedalaman paling dalam).