Anda di halaman 1dari 18

PRAKTIKUM TEKNOLOGI FARMASI SEDIAAN CAIR DAN SEMI PADAT

EMULSI I DAN II
Tanggal Praktikum : 5 Juni 2015
Tanggal Penyerahan : 12 Juni 2015

Disusun oleh :
Kelompok 4 B
Anggota : 1. Wulan Neistri

(0661 13 037)

2. Yuli Agista

(0661 13 048)

3. Pramana Sigit

(0661 13 067)

Dosen Pembimbing :1. Drs. Mustabadihardja, Apt


2. Lusi Agus Setiani,M.Farm,.Apt
3. Septia Andini,S.Farm,.Apt
Asisten dosen : 1. Ardiliyas Chaniago
2. Inri Okta R
3. Jenny Aditya
4. Witdiastuti
LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan percobaan


2. Membuat sediaan emulsi dengan menggunakan emulgator alam dan mengamati
stabilitas sediaan emulsi.
3. Membuat sediaan emulsi dengan menggunakan emulgator sintetis dan mengamati
stabilitas sediaan emulsi.
1.2 Dasar Teori
Emulsi adalah suatu dispersi atau suspensi suatu cairan dalam cairan yang lain,
yang molekul-molekul kedua cairan tersebut tidak saling berbaur tetapi saling antagonik.
Pada bagian emulsi biasanya terdapat tiga bagian utama yaitu bagian yang terdispersi
yang terdiri dari butiir-butir yang biasanya terdiri dari lemak, bagian kedua disebut media
pendispersi yang terdiri dari air dan bagian ketiga adalah emulsifier yang berfungsi
menjaga agar butir minyak tetap tersuspensi di dalam air (Anief,1986).
Emulsi adalah suspensi yang stabil dari suatu bahan cair di dalam bahan cair lain,
dimana bahan-bahan cair itu tidak tercampur. Kemantapan emulsi diperoleh dengan
penyebaran butir sangat halus bahan cair, yang disebut fase dioperasi, menembus bahan
lain, yang disebut fase tetap. Emulsi stabil apabila cairan tersebut dapat menahan tanpa
mengalami perubahan, untuk waktu yang cukup lama,tanpa butir fase dispersi berkmpul
satu sama lain atau mengendap (Earle, 1969).
Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan
lainnya dalam bentuk tetesan kecil. (FI IV. Halaman 6 ).
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat,
terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan
yang cocok. (FI III. Halaman 9 ).
Dari beberapa defini yang tertera dapat disimpulkan bahwa emulsiadalah sistem
dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan pembawa yang membentuk
butiran-butiran kecil dan distabilkan dengan zat pengemulsi/surfaktan yang cocok.
Daya kerja emulsifier disebabkan oleh bentuk molekulnya yang dapat terikat baik
pada minyak dan air. Bila emulsifier tersebut lebih terikat pada air maka terjadi dispersi
minyak dalam air sebagai contoh susu. Sebaliknya bila emulsifier lebih larut dalam

minyak terjadilah emulsi air dalam minyak sebagai contoh mentega dan margarin
(Bernasconi, 1995).
Air dan minyak merupakan cairan yang tidak saling berbaur karena memiliki
berat jenis yang berbeda. Untuk menjaga agar butiran minyak tetap tersuspensi di dalam
air, pada mentega dan margarin diperlukan suatu zat pengemulsi (emulsifier). Bahan
yang dapat berperan sebagai pengemulsi antara lain kuning telur, kasein, albumin, atau
lesitin.
Tipe-tipe emulsi :
Tipe emulsi o/w atau m/a : emulsi yang terdiri atas butiran minyak yang
tersebar atau terdispersi ke dalam air. Minyak sebagai fase internal, air sebagai fase
eksternal.
Tipe emulsi w/o atau m/a : emulsi yang terdiri atas butiran air yang tersebar
atau terdispersi ke dalam minyak. Air sebagai fase internal, minyak sebagai fase
eksternal. (Syamsuni, A. 2006)
Emulsi yang tidak memenuhi persyaratan :
1. Creaming
Terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, yaitu bagian mengandung fase
dispersi lebih banyak dari pada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversibel
artinya jika dikocok perlahan akan terdispersi kembali.
2. Koalesensi dan cacking (breaking)
Pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butiran minyak
berkoalesensi/menyatu menjadi fase tunggal yang memisah. Emulsi ini bersifat
irreversible. Hal ini terjadi karena :
a. Peristiwa kimia : penambahan alkohol, perubahan pH
b. Peristiwa fisika : pemanasan, pendinginan, penyaringan
c. Peristiwa biologi : fermentasi bakteri, jamur, ragi
3. Inversi fase
Peristiwa berubahnya tipe emulsi o/w menjadi w/o secara tiba-tiba atau
sebaliknya sifatnya irreversible. Sediaan emulsi merupakan sediaan cair yang
terdiri dari dua cairan yang tidak bercampur satu dengan yang lain. Pada
umumnya cairan tersebut adalah campuran dari minyak dan air. Tergantung dari
tipe emulsi yang dibuat, fasa terdispersi dapat berupa minyak atau air. (Anief,
2000).
Pada prisnsipnya pembuatan sediaan emulsi terbagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Tahap Destruksi

Dalam tahap ini dilakukan pemecahan fasa minyak menjadi globul-globul kecil, sehingga
fasa terdispersi tersebut dapat lebih mudah terdispersi dalam fasa pendispersi.
2. Tahap Stabilisasi
Dalam tahap ini dilakukan stabilisasi globul-globul yang terdispersi dalam medium
pendispersi dengan menggunakan emulgator dan bahan pengental.
Formulasi umum sediaan emulsi terdiri dari :
1. Bahan Aktif
a. Bahan padat yang dapat larut dalam air atau dalam minyak.
b. Bahan cair yang berbentuk minyak atau yang dapat tersatukan dengan air.
2.

Bahan Pembantu

Emulgator
Terdapat berabagai macam emulgator tergantung dari mekanisme emulgator tersebut

dalam proses stabilisasi emulsi. Dalam percobaan ini digunakan emulgator alam. Polimer
alam atau makromulekul dalam air akan membentuk gel dan membentuk lapisan film karena
terjadi adsorpsi pada permukaan globul. Derivate selulosa yang bersifat koloid hidrofil dapat
meningkatkan viskositas medium pendispersi, sehingga dapat mencegah terjadinya koalensi.
Golongan emulgator alam lain adalah bentonit, veegum merupakan zat padat berbentuk
koloid yang terbagi halus pada permukaan globul yang terdispersi.

Pengawet
Berfungsi menghambat partumbuhan mikroorganisme yang dapat hidup dalam fasa air

dan di dalam emulgator alam yang digunakan. Beberapa pengawet yang banyak digunakan
dalam sediaan emulsi per oral antara lain :
-

Derivat asam benzoat : metal p-hidroksibenzoat dengan konsentrasi sekitar 0,1 0,2
% untuk tipe emulsi O/W. untuk bentuk ester yang lebih tinggi (propil dan butil)
digunakan konsentrasi mendekati larutan jenuhnya. Aktivitas pengawet golongan ini
dapat berkurang dengan adanya surfaktan non ionik atau di dalam sediaan krim
dengan konsentrasi minyak yang tinggi. Hal ini dapat diatasi dengan menaikkan
konsentrasi pengawet. Kombinasi pengawet dpat digunakan untuk menaikkan
kelarutan, konsentrasi total menjadi lebih tinggi dan efektif terhadap range

mikroorganisme lebih besar. Kombinasi metil dan propil dengan ratio 2 : 1dengan
-

konsentrasi 0,06 dan 0,03 %.


Asam sorbet, terutama digunakan dalam sediaan yang mengandung surfaktan non

ionik. Konsentrasi yang digunakan sebesar 0,2%.


Pengawet lain yang banyak digunakan dalam krim dan emulsi antara lain : (fenol 0,5
%, klorokresol 0,2 %).

Antioksidan
Antoksidan dalam sediaan emulsi digunakan untuk mencegah terjadinya reaksi oksidasi

bahan berkhasiat dalam sediaan fasa minyak. Apabila terjadi reaksi oksidasi di dalam fasa
minyak akan terjadi ketengikkan yang dapat diidentifikasi secara langsung. Antioksidan yang
biasa dipakai dalam sediaan emulsi adalah : tokoferol, dodesil galat, oktil galat, alkil galat,
butil hidroksianisol, butil hidroksi toluene, natrium meta bisulfit. Ion logam berat yang dapat
mengkatalisa terjadi reaksi oksidasidapat diikat dengan sequestering agent seperti asam
sitrat dan adam tartrat.
Emulgator sintetis merupakan suatu zat aktif permukaan yang dapat menstabilkan suatu
sediaan emulsi karena sifatnya yang dapat menurunkan tegangan permukaan

antar

permukaan. Ditinjau dari struktur surfaktan diketahui mempunyai dua gugus yang bersifat
polar dan non polar. Gugus-gugus tersebut akan berasosiasi pada permukaan globul
membentuk yang kuat yang merupakan barier dari globul-globul tersebut untuk mencegah
terjadinya adhesi dan koalesensi. Stabilita emulsi akan meningkat dengan meningkatnya
viskositas dan kekuatan film pada permukaan globul.Surfaktan terdiri dari beberapa tipe,
yaitu : anionik, kationik, zwitterionik, amfoterik dan non ionik. Surfaktan ionik dapat
mempengaruhi daya interaksi listrik dari masing-masing globul. Karakteristik gugus
surfaktan ditentukan dari harga HLB yang dapat menggambarkan sifat hidrofobisitas dan
hidrofisilitas surfaktan tersebut. (Ansel, 2005)
Kombinasi surfaktan dengan harga HLB rendah dan harga HLB tinggi ditambahkan
untuk mendapatkan harga HLB yang lebih mendekati HLB butuh minyak yang digunakan.
Untuk menghitung konsentrasi masing-masing surfaktan dipakai perhitungan aligasi atau
aljabar biasa, dengan memasukkan harga HLB surfaktan dan harga HLB butuh minyak.
Persamaan yang digunakan untuk menghitung jumlah surfaktan sebagai berikut :
Misalkan jumlah kombinasi surfaktan keseluruhan 5%

Konsentrasi surfaktan A = a dengan harga HLB A

konsentrasi surfaktan B = dengan harga HLB B > harga HLB A.

Rumus : A x ( 5-a ) + B x ( 5-b 0) = HLB butuh x 5.


Untuk menghitung HLB surfaktan dapat digunakan ekuasi Griffin sebagai berikut:
HLB = (jumlah gugus hidrofil) - (jumlah gugus lipofil) + 7. (Jas, 2004).

BAB II
METODE KERJA

2.1 Alat dan Bahan


1. Alat

2.2

- Batang pengaduk
- Beaker glass
- Botol UC
- Gelas plastic
- Kertas perkamen
- Kompor listrik
- Lumping
- Mixer
- Pipet tetes
- Spatel
- Timbangan
2.Bahan
- Akuades
- Asam oleat
- Minyak kelapa
- CMC
- Tween 80

Cara Kerja

Emulsi 1 :
1. Di siapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan
2. Di tara botol 60 gram
3. Di panaskan aquadest
4. Di timbang Minyak kelapa 15 %, CMC .
5. Di masukan CMC dan air corpus ke dalam beaker gelas aduk hingga mengembang
(fase emulgator)
6. Di masukan ke dalam mortir panas tambahkan fase minyak sedikit demi sedikit aduk
7.
8.
9.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

gerus dengan kuat


Di tambahkan air panas sedikit demi sedikit sampai 60 ml.
Di masukan ke dalam botol UC yang sudah ditara.
Dilakulan evaluasi terhadap sediaan emulsi.
Emulsi 2 :
Di siapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan
Di tara botol 60 gram
Di panaskan aquadest
Di timbang Minyak kelapa 15%, asam oleat 4 % dan tween 80 5 % .
Dipanaskan asam oleat dengan minyak dan tween 80 dengan air ke dalam cawan uap
secara bersamaan dalam cawan yang berbeda hingga suhunya mencapai 60C.
Di masukan ke dalam mixer secara bersamaan lalu dikocok dengan kecepatan 2 rpm.
Di tambahkan air panas sedikit demi sedikit sampai 60 ml.
Di masukan ke dalam botol UC yang sudah ditara.
Dilakulan evaluasi terhadap sediaan emulsi.

2.3 Formulasi

Emulsi 1 :

Kel

ompok

Fase minyak

Minyak kelapa

15 %
Emulsi 2 :

Kel

ompok

Emulgator
CMC 0,75 % dan

1,5 %

Fase minyak

Minyak kelapa

15 %

Emulgator
Asam oleat 4 % dan tween

80 5 %

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Pengamatan


Emulsi 1 :
- Formula 1

total

busa

Evaluasi
Tinggi

Tinggi

cm

Tinggi

cm

Hari ke
2
3
3
3

1
3,8

4
3

0,3

,7 cm

,7 cm

,6 cm

,6 cm

,2 cm

,2 cm

,1 cm

,1 cm

5
3

emulsi

Tinggi

cm

air

cm
BJ
Tipe

2,5

,1 cm

,2 cm

,4 cm

,3 cm
,2 cm
0,58 gr/ml

emulsi :

,3 cm

,4 cm

2
,1 cm

Minyak dalam air


Minyak dalam air

Metilen

biru

Gambar

Formula 2
-

Evaluasi

Tinggi

Tinggi

cm
-

Tinggi

cm
-

emulsi
Tinggi

cm
-

air
-

cm

total
busa
-

emulsi :

,7 cm
0

,4 cm
0

Hari ke
3 3 -

1
3,9

0,3

cm
-

,5 cm
0

,2 cm
1

,1 cm
1

,2 cm
1

,1 cm
1

2,6

,2 cm
2

,1 cm
2

,3 cm
2

,2 cm
2

,6 cm

,3 cm
,2 cm
0,61 gr/ml

BJ
Tipe

2
4

4
3

,1 cm

Minyak dalam air


-

Minyak dalam air

K
-

Metilen

biru
-

Gambar

5
3

- Emulsi 2 :
- Formula 1
-

2
3

Evaluasi
Tinggi

total
-

Tinggi

cm
-

0,3

,8 cm
0

busa
-

Tinggi

cm
-

,2 cm
1

,2 cm
1

,1 cm
1

,1 cm
1

emulsi
Tinggi

cm
-

2,5

,2 cm
2

,3 cm
2

,3 cm
2

,4 cm
2

air
-

cm

,4 cm

,3 cm
,2 cm
0,57 gr/ml

1
3,8

,8 cm
0

,6 cm
0

,4 cm
0

BJ
Tipe

emulsi :

biru
-

Gambar

,1 cm

Minyak dalam air

K
Metilen

4
3

Minyak dalam air

Hari ke
3 3 -

5
3

Formula 2

Evaluasi

Tinggi

total
-

Tinggi

Tinggi

air
-

0,3

cm
BJ
Tipe

,4 cm

,5 cm
,2 cm
0,57 gr/ml

5
3

,2 cm
1

,2 cm
2

,7 cm

,1 cm

,3 cm

4
3

,5 cm

,2 cm

cm
2,4

Hari ke
3 4 -

cm

,4 cm
2

,1 cm

emulsi :

Minyak dalam air


-

Minyak dalam air

K
-

,2 cm

cm
Tinggi

2
3

,6 cm

cm

emulsi
-

1
3,7

cm

busa
-

Metilen

biru
-

Gambar

3.2 Pembahasan

Dalam percobaan pembuatan emulsi ini diketahui bahwa bahan utama

yang digunakan adalah minyak kelapa dilakukan dua kali percobaan yaitu emulsi
satu dan emulsi dua yang membedakan antara emulsi satu dan emulsi dua adalah
dari emulgator yang digunakan pada emulsi satu emulgator yang digunakan

adalah emulgator alam sedangkan pada emulsi dua emulgator yang digunakan
adalah emulgator sintetis.
Pada percobaan emulsi satu diketahui bahwa emulgator yang
digunakan adalah emulgator alam yaitu CMC, pada percobaan ini diketahui
bahwa hasilnya apabila dilihat dari evaluasi menurut tinggi sedimentasi nya pada
percobaan formula satu dengan konsentrasi yang rendah yaitu 0,75 % ternyata
hasilnya lebih stabil dibandingkan dengan formula dua yang menggunakan
emulgator yang konsentrasi nya tinggi atau besar yaitu 1,5 %. Formula satu
dikatakan stabil karena kenaikan dan penurunan yang terjadi pada tinggi total,
tinggi busa, tinggi air dan tinggi emulsi stabil atau jumlah kenaikan dan
penurunan nya sama rata. Sedangkan pada formula dua kenaikan dan penurunan
yang terjadi pada tinggi total, tinggi busa, tinggi air dan tinggi emulsi tidak stabil
atau jumlah kenaikan dan penurunan nya tidak sama rata. Sehingga pada emulsi
satu dipilih formula satu yang akan digunakan sebagai sediaan yang dikemas.
Pada percobaan emulsi dua diketahui bahwa emulgator yang
digunakan adalah emulgator sintetis yaitu penggunaan asam oleat dan tween 80,
pada percobaan ini diketahui bahwa hasilnya apabila dilihat dari evaluasi menurut
tinggi sedimentasi nya pada percobaan formula satu dengan konsentrasi yang
rendah yaitu 4 % ternyata hasilnya lebih stabil dibandingkan dengan formula dua
yang menggunakan emulgator yang konsentrasi nya tinggi atau besar yaitu 5 %.
Formula satu dikatakan stabil karena kenaikan dan penurunan yang terjadi pada
tinggi total, tinggi busa, tinggi air dan tinggi emulsi stabil atau jumlah kenaikan
dan penurunan nya sama rata. Sedangkan pada formula dua kenaikan dan
penurunan yang terjadi pada tinggi total, tinggi busa, tinggi air dan tinggi emulsi
tidak stabil atau jumlah kenaikan dan penurunan nya tidak sama rata. Sehingga
pada emulsi satu dipilih formula satu yang akan digunakan sebagai sediaan yang
dikemas.
Pada percobaan sediaan emulsi satu dan dua diketahui bahwa emulsi
yang paling bagus seharusnya emulsi yang menggunakan emulgator alam karena
memiliki sifat kandungan yang masih murni akan tetapi dalam praktikum sediaan
emulsi satu dan dua ini diketahui bahwa sediaan yang bagus adalah emulsi dua
yang menggunakan emulgator sintetik. Hal yang menyebabkan penggunaan
emulgaator sintetis lebih bagus dibaandingkan dengan penggunaan emulgator
alam karena pada saat pengocokan emulsi satu yang menggunakan emulgator

alam pengecokan nya secara manual sehingga tidak stabil dan tidak sama rata
sedangkan pada emulsi dua yang menggunakan emulgator sintetis pada saat
pengocokkan menggunakan mixer sehingga stabil dan sama rata.
-

BAB IV

KESIMPULAN

Emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi

dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Dalam percobaan ini digunakan
kombinasi emulgator tipe air dan emulgator tipe minyak . Berdasarkan hasil evaluasi
terhadap sediaan emulsi satu dan dua, dapat disimpulkan bahwa :
1) Tipe emulsi satu dan dua adalah berupa sediaan berbentuk emulsi tipe minyak dalam air.
2) Emulsi yang paling stabil dari emulsi satu adalah pada formula satu begitupun pada emulsi
dua yaitu pada formula satu.
3) Uji Pemeriksaan Bobot Jenis : Bobot jenis sediaan emulsi satu formula satu adalah 0,58 gr/ml
dan emulsi dua formula satu adalah 0,57 gr/ml.
-

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. (1986). Ilmu Farmasi. Jakarta: Ghalia Indonesia. Hal. 126-136

Anief, M. (2000). Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University


Press. Hal. 95-131

Ansel, H.C. (2005). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi keempat.


Jakarta: Universitas Indonesia.

Bernasconi. 1995. Teknologi Pangan. Gramedia, Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1979). Farmakope Indonesia


Edisi 3. Jakarta: Depkes RI.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1995). Farmakope Indonesia


Edisi IV. Jakarta: Depkes RI.

Earle, R. L. 1969. Satuan Operasi Dalam Pengolahan Pangan. PT. Sastra


Hudaya, Jakarta.

Jas, Admar. (2004). Perihal Obat dan Berbagai Sediaannya. Medan: USU
Press.

Syamsuni. (2007). Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. Hal.24-28


-

LAMPIRAN
-

1. Perhitungan
a) Emulsi satu
Formula 1
-

Minyak kelapa

15
100

x 60 ml = 9 gram

CMC 0,75%

0,75
100

x 60 ml = 0,45 gram

Air untuk CMC 0,75%


Air

BJ

= 0,45 x 20 gram = 9 gram


= 60 (9+0,45+9)
= 60 18,45 = 41,55 gram
piknoisi pikno kosong
=
volume pikno
-

17,5 g11,7 g
10 ml

= 0,58 g/ml

Formula 2
-

Minyak kelapa

15
100

x 60 ml = 9 gram

1,5
100

x 60 ml = 0,9 gram

CMC 1,5%

Air untuk CMC 1,5%


Air

BJ

= 0,9 x 20 gram = 18 gram


= 60 (9+0,9+18)
= 60 27,9 = 32,1 gram
piknoisi pikno kosong
=
volume pikno
-

17,8 g11,7 g
10 ml

= 0,61 g/ml

b) Emulsi dua
Formula 1
-

Minyak kelapa =

- BJ

15
100

x 60 ml = 9 gram

piknoisi pikno kosong


volume pikno
-

Emulgator
-

17,4 g11,7 g
10 ml

4
x 60=
2,4 g
100

Metode aligasi
As.oleat
:1

3
12

Tween 80

: 15

11 +
14

As.oleat

3
x 2,4=
0,514 g
14

Tween 80

11
x 2,4=1,886 g
14

= 0,57 g/ml

Aqua ad = 60 ( 0,514 + 1,886 + 9 )


= 48,6 ml
Formula 2
15
- Minyak kelapa = 100 x 60 ml = 9 gram

- BJ

piknoisi pikno kosong


volume pikno
-

Emulgator
-

Metode aligasi

17,4 g11,7 g
10 ml

5
x 60=
3g
100

= 0,57 g/ml

As.oleat

:1

Tween 80

: 15

3
12
11 +
14

As.oleat

3
x 3=
0,643 g
14

Tween 80

11
x 3=2,357 g
14

Aqua ad = 60 ( 0,643 + 2,357 + 9 )


= 48 ml
2. Kemasan
-