Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Para cerdik pandai dari tahun ke tahun mengalami perkembangan
dan berinovasi. Hal ini disebabkan oleh sosiokultur yang berkembang pada
masa tokoh hidup, yang semuanya berupaya untuk menjawab tantangan
masyarakat dengan dibarengi ketulusan jiwa. Sebagian cerdik pandai ada
yang tidak memilih menggoreskan pena pada lembaran-lembaran kosong
atau berapologi untuk beraktualisasi, melainkan berupaya memancarkan
semerbak kasturi dari dalam hati berupa tindakan nyata. Jalaludin Rumi
mewariskan syair sebagai berikut:
Jejak rusa sampai mereka menghirup aroma harum yang dipancarkan rusa dari pusarnya
kitab kebijaksanaan sufi tidak ditulis di halaman kosong melainkan di hati seputih salju
ulama mengejar jejek pena sufi menelusuri jejak kaki di
1 dalam salju laksana pemburu
yang mengikuti dan berlari untuk menangkap buruannya.

Untaian syair di atas menggambarkan betapa semangat seorang


cerdik pandai dalam beramal dengan ikhlas hanya mengharap ridha dari
Allah. Ketika K.H. Ahmad Dahlan mendirikan persyarikatan yang diberi
nama Muhammadiyah, maka berita itu cepat tersiar ke berbagai daerah.
Salah satunya pondok pesantren Tremas. Salah satu dari Kiai di sana
mendengar hal tersebut dan berkata sebagai berikut:
jika Muhammadiyah bisa bertahan selama 5 tahun, hal itu berarti bahwa gerakan itu
adalah gerakan yang betul dan sungguh-sungguh. Sebaliknya jika2 gerakan itu hanya
berumur 1 atau 2 tahun saja, maka itu berarti sebuah gerakan bohong.

Saat ini permasalahan umat Islam semakin komplek yang meliputi


krisis multidimensi, jika tidak segera dibenahi maka akan terus menjalar.
Dalam gending yang berjudul Ilir-ilir dijelaskan, dodot ira dodot ira
1

kumitir bedah ing pinggir, dondomono jumatono kanggo sebo mengko


sore, mumpung jembar kalangane, mumpung padang rembulane.
Kebobrokan pendidikan dapat dilihat melalui maraknya perbuatan amoral
dari kalangan terdidik baik yang masih duduk di kursi sekolah maupun
yang sudah menjabat meja pemerintahan. Pada era ini adalah di mana
zamannya teknologi yang segala sesuatu bisa diakses. Hal demikian untuk
membentengi pengaruh negatif adalah agama. K.H. Dahlan dalam
pesanya,Muhammadiyah yang sekarang berbeda dengan yang datang.

Dari pesan tersebut terkandung makna di mana Islam harus


didakwahkan mengikuti ritme nada perubahan zaman. Dalam pesan yang
lain KH. Ahmad Dahlan menyampaikan bahwa kemunduran Islam
4

disebabkan oleh kemerosotan moral umat. Pesan K.H. Ahmad Dahlan


tersebut tidak terlepas dari fenomena yang terjadi pada masa hidupnya, di
mana keadaan umat Islam pada zaman itu sedang dalam keadaan jumud
yang di tandai dengan penjajahan dan terselimuti oleh Islam fikih (fikih
madzhab) serta taswuf yang statis (tarekat)
Dari urain permasalahan yang terpampang di atas maka menjadi
penting

tentang

kajian

tokoh

K.H.

Ahmad

Dahlan

dengan

mempertimbangkan kemiripan fenomena yang sedang terjadi pada saat itu


dengan masa sekarang. Dari sini maka peneliti tertarik untuk mengkaji
kiprah perjuangan K.H. Ahmad Dahlan tentang perbaikan akhlak
bangsa/umat Islam yang itu tercermin dari terobosan pemikiran dan moral
action. Dengan latar belakang masalah yang penulis paparkan di atas,
maka penulis mengajukan judul tesis:
Islam dan Aktualisasinya.
2

Pencerahan Pendidikan Agama

B. Rumusan Masalah
Setelah penulis memaparkan panjang lebar mengenai latar belakang
masalah, maka penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi dan konteks yang mempengaruhi K.H. Ahmad
Dahlan sehingga memunculkan pandangan terhadap Pendidikan
Agama Islam secara fundamental?
2. Metode apa yang digunakan K.H. Ahmad Dahlan dalam memperbaiki
Pendidikan Agama Islam?
3. Bagaimana kontektualisasi-implementasi pemikiran serta perjuangan
K.H. Ahmad Dahlan terhadap Pendidikan Agama Islam masa sekarang
dan akan datang
C. Signifikansi penelitian
Dalam menentukan tujuan dan manfaat yang pasti penulis tidak
meninggalkan latar belakang masalah. Oleh karena itu, penulis
mempunyai tujuan dan manfaat sebagai berikut:
1.Tujuan
a. Menelusuri kondisi dan konteks yang mempengaruhi K.H. Ahmad
Dahlan sehingga menjadikan Pendidikan

Agama Islam (PAI)

berubah menjadi sangat fundamental dari yang sebelumnya.


b. Mengurai metode K.H. Ahmad Dahlan dalam pemperbaiki
Pendidikan Agama Islam (PAI)
3

c. Mendiskripsikan implementasi K.H. Ahmad Dahlan mengenai


Pendidikan Agama Islam secara sistematis.
2. Manfaat
a. Untuk mengembangkan Pendidikan Agama Islam sesuai dengan
perkembangan zaman.
b.

Sebagai

salah

metode

yang

menjadi

pegangan

dalam

mengembangkan Pendidikan Agama Islam dalam menjawab


tantangan zaman.

c. Sebagai salah satu konsep dalam mengaktualkan Pendidikan Agama


Islam supaya dapat selaras dan senafas dengan kemajuan ilmu serta
teknologi.

BAB II
SUMBER CAHAYA PENCERAHAN
K.H. AHMAD DAHLAN

A. Biografi K.H. Ahmad Dahlan


K.H. Ahmad Dahlan adalah putra ke-4 dari seorang ulama terkenal di
daerah kasultanan Ngayogjakarta Hadiningrat. Ayah K.H. Ahmad Dahlan
bernama K.H. Abu Bakar seorang khotib di masjid agung kasultanan
Ngayogjakarta Hadiningrat sedang ibunya bernama Siti Aminah. Pada waktu
masih kecil sampai sebelum melaksanakan ibadah haji yang pertama K.H.
Ahmad Dahlan bernama Muhammad Darwisy, lahir di kampung Kauman
Yogyakarta pada tahun 1868 dan meninggal pada tahun 1923.
Muhammad Darwisy adalah nama kecil K.H. Ahmad Dahlan, ia
merupakan tujuh bersaudara ; (1) Nyai Ketib Harun; (2) Nyai Muhsin (Nyai
Nur); (3) Nyai H. Saleh; (4) K.H. Ahmad Dahlan; (5) Nyai Abdurrahman; (6)
Nyai Muhammad Fakih; serta (7) Basir.

Murid angkatan pertama K.H. Ahmad Dahlan menuliskan silsilahnya


sebagai berikut, Kiyai Haji Ahmad Dahlan bin Kiyai Haji Abubakar, Imam
Khatib Masjid Besar kota Yogyakarta (sebagai Lurah Berjamaah) pernah
diutus oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VII pergi ke Makkah untuk
menghajikan Almarhum Sri Sultan Hamengku Buwana VI, ayahandanya.
Sebelum itu dinaikkan pangkatnya lebih dahulu sebagai khatib (Ketib) dengan
nama Khatib Amin Haji AbuBakar bin Kiyai Haji Murtadho Alim yang tertua
dan terkenal (masyhur) di daerah Yogyakarta. Ibu K.H. Ahmad Dahlan
bernama Siti Aminah binti almarhum Kiyai Haji Ibrahim, Penghulu Besar di
5

Yogyakarta. K.H. Ahmad Dahlan dilahirkan di kampung Kauman kota


Yogyakarta pada tahun 1869 Miladiyah. KHA. Dahlan bersaudara sekandung
dengan 5 orang wanita, semua bersuami.

Rumah K.H. Ahmad Dahlan ada di bagian barat gang, padabagian


separuh yang selatan. Ada lapangan di sebelahutaranya. Di utara lapangan ada
pekarangan milik seorangLurah Kraton, dengan pendopo menghadap ke
selatan. Di daerah ini juga hidup beberapa keluarga pindahandari sebelah
timur gang.

Mulkhan melacak silsilah K.H. Ahmad Dahlan dari jalur ibu maka
ditemukan bahwa ia adalah cucu salah seorang Penghulu Kraton yaitu: Kiyai
Haji Ibrohim. Sedang dari jalur ayah menyambung sampai ke salah satu Wali
Sanga yaitu: Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik).

Melihat nasab beliau maka tidak mengherankan manakala sosok K.H.


Ahmad Dahlan tumbuh, berkembang kemudian besar menjadi seorang ulama
yang rela berkorban dengan segenap harta dan jiwanya untuk menegakkan
kalimat Allah (Islam). Hal itu mungkin sudah menjadi keturunan genetika dan
juga kultur di mana seseorang itu menjadi baik tergantung lingkungannya.
Sudah menjadi ingatan yang umum untuk Orang Jawa,kacang ora ninggal
lanjaran. Ini artinya interaksi genetika dan kultur itu adalah sesuatu yang
mendominasi dalam kepribadian seseorang. Hadist Nabi Muhammad saw
menjelaskan mengenai fitrah ini.

K.H. Ahmad Dahlan sejak kanak-kanak memang terlihat sebagai


seseorang yang cerdas dan kreatif. Dalam kecerdasan ini terlihat ketika ia
mampu memahami dan menghayati kitab-kitab yang dipelajarinya secara
otodidak. Sementara jiwa kreatifnya K.H. Ahmad Dahlan terpancar ketika
6

masih kanak-kanak yaitu pandai dalam membuat kerajinan serta mainan.

Ketika sudah dewasa hal ini ditunjukkan dalam mendakwahkan Islam. Islam
bagi K.H. Ahmad Dahlan harus disampaikan dengan mengikuti denyut
peredaran zaman. Maka tidak berlebihan jika dikatakan sebagai estafet
dakwah Wali Sanga serta mengembangkan sesui dengan tantangan yang
sedang menggurita pada masanya. Hal ini yang perlu dicontoh oleh kaderkader Muhammadiyah pada khususnya dan umumnya terhadap uamat Islam
pada masa ke masa K.H. Ahmad Dahlan belajar ilmu agama dimulai dari
membaca al-Quran yang dibimbing langsung oleh ayahnya. Setelah tamat belajar
ilmu tersebut ayahnya memerintahkan belajar kepada beberapa ulama di antaranya
sebagai berikut: belajar ilmu fiqih kepada Haji Muhammad Saleh, belajar
Nahwu kepada Kyai Haji Muhsin (kedua kyai itu adalah kakak iparnya),
belajar ilmu falak kepada Kyai Raden Haji Dahlan, belajar hadist kepada Kyai
Mahfudh dan Syekh Khayyat, belajar qiraah kepada Syekh Amin dan Bakri
Satock, belajar ilmu bisa/racun binatang kepada Syekh Hasan. Di samping itu
ia juga belajar kepada Kyai Haji Abdul Hamid (dari Lempuyangan), Kyai
Muhammad Nur, R. Ng. sosrosugondo, R. Wedana Dwijosewoyo dan Syekh
M. Jamil Jambek dari Bukittinggi Sumatra.

Dari keterangan di atas maka pencarian ilmu K.H. Ahmad Dahlan


setidaknya tergolong kepada tiga lokasi yaitu: lokal, nasional dan
internasional. Sedang menurut kapasitas intelektual terbagi menjadi dua yaitu:
tradisional dan modern. Kemudian jika disatukan menjadi lima item dalam
pencarian ilmu K.H. Ahmad Dahlan. Dari uraian tersebut dapat dipahami
dengan perincian sebagai berikut: (1) Ulama lokal adalah ulama Kauman
Yogjakarta, (2) Ulama nasional adalah ulama yang berdomisisli di luar
7

Yogjakarta seperti Semarang, Tremas, Bangkalan, (3) Ulama internasional


adalah ulama yang berada di luar negeri seperti Arab Saudi. Sedangkan yang
dimaksud

dengan

ulama

tradisional

adalah

ulama

yang

masih

mempertahankan budaya akibat belum mengalami pencerahan, dan ulama


modernis adalah ulama yang tidak terikat oleh tradisi dan banyak
menggunakan rasional atau sains modern dalam memahami agama.
Permulaan pencerahan K.H. Ahmad Dahlan karena terpengaruh
ulama Timur Tengah seperti Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh dan
Sayid Rasyid Ridla. Muhammad Damami menjelaskan bahwa K.H. Ahmad
8

Dahlan sempat bertemu dengan Sayid Rasyid Ridla di Makah dan mulai
sejak itu dia membaca karya-karya Muhammad Abduh, Rasyid Ridla, Ibnu
Taimiyah dan lain-lainya. Semangat mengenai pemikiran pembaharuan K.H.
Ahmad Dahlan bermula melalui majalah Al-Manar yang diasuh oleh Rasyid
Ridla dan Al-Urwatul Wutsqa di bawah pimpinan Jamaludin al-Afghani
ketika waktu itu diperoleh melalui

selundupan pelabuhan Tuban, Jawa

Timur.

K.H. Ahmad Dahlan selain bertemu dengan ulama yang berada di


Timur Tengah tadi, ia juga bertemu dengan Soorkati yaitu seorang ulama
berketurunan Sudan yang sudah lama hidup di Jawa. Dari pertemuan itu
terjadi diskusi kemudian mengahsilkan kesepakatan bahwa K.H. Ahmad
Dahlan mendirikan Muhammadiyah guna menampung kalangan pribumi
sedang Soorkati mendirikan Al-Irsyad yang mewadahi keluarga Arab.

10

Dari pergaulanya dengan ulama-ulama modernis maka mendorong


kepada perilaku yang keluar dari rel kebiasaan sehingga kelompok ulama
tradisional menganggap K.H. Ahmad Dahlan adalah kafir. Alfian
8

mengatakan, the traditionalists were said to heve accused Dahlan of being


a kiyai palsu (a false kiyai), and challenged him in an insigned letter to dare
to come there again, because if he would, he would be very sorry since he
could only expect his name to return to Jogjakarta, meaning that he would be
11

murdered.

Muhammad Darwisy sudah menginjak umur 18 tahun, ayah bundanya


ingin hendak mengawinkan dengan putri dari Kyai Haji Muhamad Fadlil
Hoofd Panghulu Hakim di Yogyakarta yang bernama Siti Walidah. Setelah
perundingan orangtua dari kedua pihak dapat persetujuan dan peralatan secara
sederhana sudah lengkap, maka perkawinan dilangsungkan pada bulan
12

Dzulhijjah tahun 1889 Miladiyah dengan suasana riang gembira dan tenang.

Menurut catatan Adaby Darban bahwa KH. Ahmad Dahlan menikah


pada tahun 1888 dengan memeperistri Siti Walidah, putri KH. Pengulu K.H.
Fadzil (adik sepupunya). Pernikahan ini menghasilkan 6 putra. Selain itu K.H.
Ahmad Dahlan juga menikah dengan Nyai Rum (adik Kyai Munawir
Krapyak), Nyai Aisjah (adik ajangan pengulu Cianjur), dan Nyai Shalihah
putri K. Pengulu M. SyafiI (pengulu pekalongan). Pernikahan dengan ketiga
istrinya strategi untuk penyebaran faham reformis Islam di tengah pengaruh
Islam tradisional yang masih kuat.

13

B. Hasil Pemikiran dan Karya-karya K.H. Ahmad Dahlan


14

Islam adalah agama semua nabi yang berjalan sesuai fitrah manusia.

Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw turun di Makkah kemudian
mengalami perkembanganya secara pesat pasca hijrah ke Madinah. Pasca
fatkhu Makkah gelombang peminat Islam terus berdatangan sehingga sampai
9

tersebar keberbagai negeri termasuk Nusantara (Indonesia sebelum merdeka).


Temuan terbaru Islam masuk ke Nusantara sejak kholifah Usman bin Affan
15

dengan ditandai adanya kampung-kampung Muslim di Perlak.

Sehingga

tidak mengherankan ketika abad ke-13 sudah ada kerajaan Islam Samudra
Pasai.
Mansur menuliskan pendapat-pendapat tentang kapan masuknya Islam
ke Nusantara. Menurut Zainal Arifin Abbas, bahwa agama Islam masuk ke
Indonesia pada abad ke 7 M (684) dengan alasan tahun tersebut ada pemimpin
Arab ke Tiongkok dan sudah mempunyai pengikut di Sumatra Utara. Menurut
Hamka, bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada tahun 674 M
berdasarkan catatan Tiongkok yang saat itu utusan raja Tacheh ke Holing
(Kalingga) untuk membuktikan keadilan, kemakmuran dan keamanan
pemerintahan di Jawa. Menurut Junaid Parinduri, bahwa agama Islam masuk
ke Indonesia pada tahun 670 M di Barus. Tapanuli yang didapati sebuah
makam berangka Haa-Min yang berarti tahun 670 M. Menurut hasil seminar
masuknya Islam ke Indonesia di Medan tanggal 17-20 Maret 1963, bahwa
Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 1 H atau 7 M langsung dari Arab, dan
daerah pertama yang didatangi adalah pesisir Sumatra.

16

1. Problem Islam Secara Lokal


Problem Islam secara lokal yang dimaksud adalah menyoroti pernikpernik permasalahan dunia keislaman wilayah Nusantara secara umum dan
lebih khusus pada lingkungan K.H. Ahmad Dahlan hidup. Kalau mengambil
teori bahwa Islam masuk ke Indonesia (Nusantara) pada abad ke 7 M, maka
pada era KH. Ahmad Dahlan Islam sudah mencapai abad ke 20 M. Untuk
10

mengetahui penambahan 13 abad maka, dapat dihitung dari mulai awal


masuknya Islam sampai lahirnya K.H. Ahmad Dahlan.
Penyebaran Islam di Indonesia (Nusantara terutama pulau Jawa) pada
masa-masa kerajaan Hindu mencapai klimaknya di kala Wali Sanga. Pada
masa Wali Sanga terjadi pengislaman yang sangat masif dengan ditandainya
para pemuka kerajaan berbondong-bondong masuk Islam termasuk pula raja.
Ulama-ulama terdahulu memberanikan penerjemahan buku-buku
filsafat yang waktu itu dipandang tidak baik (alergi) oleh agama lain. Dengan
keberanian itu maka Islam menjadi agama yang mampu menguasai dunia.
Para ulama Islam waktu itu sangat pandai memanfaatkan waktu dan tempat
yang jika dilihat kontek Indonesia (nama sesudah merdeka) bisa diambil
contoh Wali Sanga. Ia menyampaikan ajaran Islam lewat kegiatan-kegiatan di
masyarakat semisal dalam acara kematian yang waktu itu umat Hindu
mengadakan surtanah, nelungdina, mitungdina dan seterusnya diisi dengan
membaca Al-Quran dan berzikir. Sehingga masyarakat tidak tersinggung dan
akhirnya agama Islam mudah tersiar.
Lambat laun dalam kondisi yang berbeda K.H. Ahmad Dahlan yang
mana juga masih menjadi salah satu keturunan ke-12 dari Wali Sanga melalui
jalur Sunan Gresik alias Maulana Malik Ibrahim, ia berusaha menyambung
dan mengaktualkan metode dakwah leluhurnya. Pada era Wali Sanga yang
dihadapi adalah umat Hindu sehingga menjadi tepat mana kala menggunakan
nelung dino. Semasa K.H. Ahmad Dalan umat Islam bersebelahan dengan
penjajah Belanda yang juga menyebarkan agama Kristen. Penjajah Belanda
yang sudah berfikiran modern yang mengembangkan pendidikan lewat
sekolah-sekolah dengan peralatan meja, kursi, kapur dan papan tulis menjadi
11

tantangan tersendiri bagi K.H. Ahmad Dahlan. Untuk mencapai keinginannya


bahwa Islam agama yang adidaya maka ia bergabung dengan organisasiorganisasi besar pada masa itu diantaranya jamiatul khair dan Budi Utomo.
Lewat bergabung organisasi ini maka semakin bertambah wawasannya
yang pada ahirnya didirikanya Muhammadiyah. Lewat organisasi ini KH.
Ahmad Dahlan membantah bahwa umat Islam adalah terbelakang dan mistik.
Bantahan ini berbentuk sangkalan yang baik wajadilhum bi allati hiya
ahsan, sebab bantahan ini dengan karya nyata yang gemilang dan sampai
sekarang mewujud berbagai jenis Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
K.H. Ahmad Dahlan menjawab tantangan tidak dengan marah-marah
tetapi menggunakan cara yang bijak.
Dalam pengamatan K.H. Ahmad Dahlan sedang banyak masalah besar
di tubuh umat Islam. Sebagai contohnya di mana putra bangsa yang mencari
ilmu di sekolah Belanda menjadi kekhawatiranya. Kemudian lewat salah
seorang dari Budi Utomo yang juga ikut handarbeni sekolah tersebut
mengajukan diri untuk menyampaikan pelajaran agama Islam. Pada awalnya
usulan K.H. Ahmad Dahlan ditolak karena dipandang bahwa agama Islam itu
mistik dan tidak sejalan dengan keadaan jaman. Namun dengan kegigihan dan
pandai meyakinkan, maka permintaan K.H. Ahmad Dahlan dikabulkan dan
akhirnya diterima sebagai guru agama Islam di sekolah Belanda.
K.H. Ahmad Dahlan selain mengajar di sekolah tersebut juga
mendirikan Madrasah Diniyah Islam yang diperuntukan kepada kaum
marginal. Kecermelangan gagasan K.H. Ahmad Dahlan ini ditanggapi sinis
oleh sebagian ulama, bahkan ada yang menjulukinya Kyai Kafir. Padahal
kalau mau menelisik sejarah, yang namanya pesantren juga sudah ada sejak
12

sebelum Islam. Wali Sanga hanya menggunakan fasilitas yang sudah ada.
Begitu juga K.H. Ahmad Dahlan. Jadi umat Islam harus bijak dalam
memanfaatkan produk zaman sehingga ajaran Islam tetap berjalan sesuai
dengan aliran peradaban manusia.
Ulama yang berjiwa bijak mempunyai pandangan tajam dalam
menatap masa depan sehingga tidak mudah menuduh kafir atau bidah
terhadap sesama Islam meski berbeda manhaj.

2. Problem Islam Secara Global


Maksud dari problem Islam secara global adalah mengkhususkan
menyoroti permasalahan-permasalahan dunia Islam di berbagai belahan dunia
pada era K.H. Ahmad Dahlan. Semenjak terjadinya perang salib terjadi
konversi peradaban dari kekuasaan umat Islam (Timur) menuju tangan umat
Nasrani (Barat). Dalam pergolakan ini terjadi penerjemahan kitab-kitab karya
umat Islam ke dalam dunia Barat dan pemusnahan secara sempurna yang
mengakibatkan umat Islam seperti orang buta kehilangan tongkat.
Kemunduran Islam setidaknya ditandai oleh runtuhnya kerajaan besar
yaitu kerajaan Abbasiyah. Kehancuran kerajaan besar ini disebabkan dua
faktor yaitu:
a. Faktor internal
Faktor internal atau dari dalam disebabkan karena adanya konflik
aliran pemikiran dalam Islam yang sering menyebabkan timbulnya
konflik berdarah, kemerosotan ekonomi akibat kemunduran
politik, munculnya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri
13

dari kekuasaan pusat Bagdad, dan adanya persaingan yang tidak


sehat dari berbagai unsure keturunan yang saling berebut pengaruh
dan kekuasaan.
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal atau dari luar disebabkan hadirnya tentara mongol
di bawah pimpinan Hulagu Khan yang menghancurkan Bagdad.

21

Sebelum terjadi keruntuhan umat Islam telah menorehkan banyak


prestasi yang selanjutnya diwarisi oleh bangsa Eropa (Barat) dalam
mengembangkan peradaban. Perkembangan peradaban umat Islam sudah
berawal sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW. Setelah Nabi Muhammad
SAW wafat perjuangan terus bersambung kepada para sahabat, tabiin yang
puncak kejayaannya pada masa Bani Abasiyah. Bani Abasiyah melakukan
banyak hal di antaranya penterjemahan buku dari platonisme dan
Aristotelianisme yang dimasuki nafas-nafas Islam. Dalam mendorong
cendekiawan muslim supaya bersemangat dalam menterjemahkan buku asing
maka setiap satu karya diberi hadiyah emas dengan seberat buku tersebut.

23

Metode pengembangan menuju kejayaan dan keruntuhan sedikit


terpotret melalui gagasan di atas. Setelah Bani Abasiyah mengalami
kehancuran sirna ilang kertaning bumi maka berdampak bagi peradaban Islam
itu sendiri. Karena kekalahan umat Islam dalam percaturan peradaban maka
banyak cendekiawan yang uzlah menuju asketik statis. Dalam hal tersebut
tidak sedikit para tokoh yang mendirikan kelompok-kelompok tarekat yang
fungsinya menenangkan pikaran sedih sumpeg. Maka dalam era ini
penjajahan di dunia muslim terjadi di mana-mana. Malaysia dijajah oleh
Inggris sedangkan Indonesia digenggam oleh Belanda.
14

Ide atau gagasan KH. Ahmad Dahlan sangat besar terbukti dari
kutipan tersebut di mana setiap manusia harus mampu mengarungi hidup yang
lebih baik. Untuk menyadarkan seseorang tentang nasib tersebut tidak ada
jalan lain kecuali dengan pendidikan. setiap manusia supaya memperoleh
keberuntungan adalah dengan ilmu yang sarananya melalui lembaga
pendidikan baik formal, informal atau non formal. Pendidikan adalah sebuah
perjalanan dari gelap gulita menuju terang gemilang sehingga dalam hal ini
ada proses pencerahan.
Allah SWT dalam rangka membangkitkan kesadaran spiritual
utusanNya Muhammad saw maka diturunkanya surat al-Alaq ayat satu sampai
dengan lima yang diawali dengan kata iqra. Kata dalam kalimat pertama ini
berbentuk fiil amar yang mengandung perintah. Ayat ini memang menunjuk
langsung kepada nabi Muhammad SAW sehingga bisa juga memerintah
kepada umatnya. Allah SWT menjelaskan bahwa al-Quran sebagai petunjuk
bagi manusia yang hal ini tersurat dalamQS. al-Baqarah ayat 185 sebagai
berikut:
Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya di turunkan
al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

27

Keunggulan al-Quran, mengutip apa yang disampaikan oleh Ali


Shariati, adalah di mana banyak menggunakan kata simbolik sehingga dikaji
28

kapanpun akan tetap segar. Kembali mengurai surat al-Alaq ayat satu
tersebut maka untuk menyadarkan umat Islam jalan satu-satunya adalah
dengan pengajaran dan pembelajaran. fiil amar dalam ayat tersebut tanpa
menyebut obyek penderita (maful bih) separti iqra kitaba. Dari sini menjadi
15

jelas bahwa ayat tersebut mengandung pesan supaya umat Islam membaca
banyak hal dalam kehidupan.
K.H. Ahmad Dahlan nampaknya menyadari akan hal seperti di atas di
mana secara kenyataan pada waktu itu umat Islam dalam keadaan terpuruk.
Pada abad 19 negara-negara Eropa sedang mengalami renaisance yang
ditandai dengan lahirnya berbagai mesin-mesin berteknologi tinggi. Pada era
ini sebagaimana dikutip oleh Damami muncullah berbagai mesin seperti:
mesin uap (oleh James Watt, 1763), mesin pemintal benang (oleh Arkwright,
1768), mesin tenun (oleh Cartwrigt, 1785), kereta uap (oleh Trevithick, 1804),
sepeda (oleh Nicepe, 1816), telegraf (oleh Morse, 1832), dan lampu listrik
(oleh Grove, 1840).

29

Prestasi yang diraih oleh Bangsa Eropa tersebut membuat semakin


makmur dalam mengarungi kehidupan sebab didukung oleh produksi
meningkat. Banyaknya produksi tersebut mendorong untuk

ekpansi

perdagangan artar negara yang lambat laun menjadi imperium terhadap negara
yang didatangi. Hal demikian terbukti dengan adanya pemerasan atau
penguasaan terhadap wilayah-wilayah tersebut yang mengakibatkan lemahnya
ekonomi, politik bahkan peradaban. Ambil saja Indonesia yang dijajah oleh
Belanda selama 3,5 abad di situ terjadi banyak penindasan-penindasan yang
mengakibatkan kemiskinan dan keterbelakangan pendidikan di kalangan
pribumi. Dengan kecerdasan yang dimiliki oleh KH. Ahmad Dahlan maka
situasi dan kondisi tersebut didobrak supaya pintu pencerahan terbuka secara
luas dan dapat diakses oleh semua lapisan.

16

3. Pemikiran dan Kiprah K.H. Ahmad Dahlan


Pikiran K.H. Ahmad Dahlan sebenarnya diselimuti oleh renungan
kematian (dzikru al-maut) yang hal itu membuat pergerakan secara
fundamental.

30

Dalam sebuah kata bijak dinyatakan, kafa bi almauti

mauidhoh (cukup dengan kematian sebgai pelajaran). Kematian sarat akan


berbagai pelajaran yang mendorong untuk segera berbuat baik dan berlindung
kepada Allah terhadap perbuat nista. Perbuatan baik dalam Islam dianjurkan
untuk bersegera sebagaimana firman Allah QS. Ali-Imron ayat 133 sebagai
Artinya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan
kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk
orang-orang yang bertakwa.
Dzikru

al-maut

31

KH.

Ahmad

Dahlan

yang

menjadi

sepirit

perjuangannya senantiasa terpampang pada papan tulis dekat dengan meja


tulis dengan terjemahan sebagai berikut, Hai Dahlan, sesungguhnya bahaya
yang menyusahkan itu lebih besar dan perkara-perkara yang mengejutkan di
depanmu, dan kau akan menemui kenyataan yang demikian itu, ada kalanya
kau selamat atau tewas menemui bahaya. Hai Dahlan, bayangkanlah dirimu
sendiri hanya berhadapan dengan Allah saja, dan di mukamu bahaya maut
akan diajukan, hisab atau pemeriksaan, surga dan neraka. (Hitungan yang
akhir itulah yang menentukan nasibmu). Dan fikirkanlah, renungkanlah apaapa yang mendekati kau dari pada sesuatu yang ada dimukamu (bahaya maut)
32

dan tinggalkanlah yang selainnya itu.


KH. Ahmad Dahlan bukan sosok sarjana yang merupakan output dari
sekolah moderen melainkan seorang santri yang belajar dari pesantren satu ke
17

pesantren lain. Dari ketekunan dan berpandangan luas serta belajar secara
outodidak maka melahirkan sebuah wacana yang sama sekali belum pernah
ada.
K.H. Ahmad Dahlan sebelum mendirikan Muhammadiyah terlebih
dahulu bergabung kepada organisasi-organisasi yang sudah lahir seperti Budi
Utomo, Jami al-Khair dan Panitia Tentara Pengulu Kanjeng Muhammad saw
sebagai anggota. Sebelum Muhammadiyah lahir K.H. Ahmad Dahlan aktif
beraktivitas membina agama Islam di Langgar Kidul, di sekolah umum
kweekschool di Jetis Yogyakarta dan OSVIA di Magelang. Selain mengajar,
ia juga mendirikan pabrik batik dan berdagang ke luar daerah yang fungsinya
untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Waktu sela-sela berdagang diisi pula
kegiatan tabligh menyampaikan ajaran Islam.

18

BAB III
BENTUK PENCERAHAN K.H. AHMAD DAHLAN
DAN SIKAP HIDUP TERHADAP DUNIA

A. Asal Mula Pencerahan K.H. Ahmad Dahlan


Seperti penjelasan dalam bab sebelumnya bahwa K.H. Ahmad Dahlan
bukanlah seorang sarjana output sekolah modern melainkan seorang santri
yang belajar dari satu pesantren ke pesantren yang lain. Hadjid dalam
bukunya menyebutkan bahwa K.H. Ahmad Dahlan adalah seseorang yang
bersifat , cerdas akalnya untuk memahami kitab-kitab yang sukar, beliau
juga mempunyai maziyah atau keistimewaan dalam khauf, rasa takut terhadap
nabai al-adhim (berita bahaya besar).

Dari dua sifat di atas maka yang perlu dibahas dalam bagian ini adalah
sifat dzaka sedangkan sifat maziyah akan masuk dalam sub bab tersendiri.
Berbekal sifat dzaka yang ada maka K.H. Ahmad Dahlan diberi kemampuan
untuk mebaca realitas dan bersikap inklusif dalam menjalani kehidupan. K.H.
Ahmad Dahlan adalah orang yang pandai bergaul dan mampu memberi
pengaruh baik dalam lingkunganya.
Masa K.H. Ahmad Dahlan hidup pada era imperialis Belanda yang
mana pribumi dalam kedaan tertekan, terbelakang baik biologis maupun
psikis. Bukti keterbelakangan biologis yaitu banyak masyarakat pribumi yang
terjangkit penyakit kekurangan pangan.
K.H. Ahmad Dahlan ingin membagunkan syaraf-syaraf umat yang
sedang tertidur dengan pencerahan ilmu dan iman bagai sinar matahari pagi.
19

Agama Islam tidak sebagai mana tuduhan kaum imperialis yang terkesan
3

kolot, bodoh bahkan belakangan ini dilebeli terorisme. Agama Islam adalah
agama yang cerah sekaligus mencerahkan bagi umatnya. Sekalipun banyak
individu maupun golongan ingin memadamkan api pencerahan Islam maka
niscaya tidak akan mampu sebagaimana janji Allah sebagai berikut:
Artinya: mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu
daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau
orang-orang kafir membencinya.

Ashobuni dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa orang yang


5

berhasrat mematikan cahaya Islam ibarat orang yang meniup matahari. Jadi
apa yang diusahakan bagi musuh-musuh Islam adalah perbuatan yang sia-sia
meminjam istilah Bahasa Jawa tangeh nganggo lamun

B. LANGKAH-LANGKAH PENCERAHAN PENDIDIKAN AGAMA


ISLAM MENURUT K.H. AHMAD DAHLAN
Agama Islam adalah yang cemerlang namun apabila terlihat suram
adalah perilaku dari pemelumnya. K.H. Ahmad Dahlan pernah berkata,
Agama Islam itu pada mulanya bercahaya berkilauan, akan tetapi semakin
lama semakin suram. Namun yang suram bukan agamanya, akan tetapi orang
yang memeluk agama tersebut.

40

Untuk itu langkah-langkah K.H. Ahmad

Dahlan dalam mencerahkan agama Islam melalui pendidikan. Metode dalam


menyampaian pendidkan yang sudah tidak relevan dengan laju gerak zaman
perlu disegarkan kembali. Sebagaimana sub judul di atas maka langkahlangkah pencerahan pendidikan Agama Islam menurut K.H. Ahmad Dahlan
sebagai berikut:
20

1. Penggunaan akal dan hati


Keunggulan manusia disbanding dengan makhluk yang lain hanya
terletak pada akalnya.
Manusia mempunyai dua kutub yang berlawana yaitu dalam satu sisi
seperti hewan yang hidupnya di dunia namun dalam dimensi tertentu
berpotendi seperti malaikat. Dari hal ini sebaiknya manusia berusaha untuk
memperoleh kebahagiaan dari dunia sampai akhirat. Bagaimana cara yang
ditempuh? Jawaban ini mengacu pada paragrah di atasnya yaitu dengan akal.
K.H. Ahmad Dahlan selain melontarkan gagasan penggunaan akal
sehat juga menawarkan hati yang suci. Hati yang suci menjadi pengingat akal
pada saat menghadapi bahaya. Hati yang suci mempunyai sifat dasar yaitu
tidak suka terhadap keluhuran dunia. Oleh karena itu orang yang mempunyai
akal harus menjaga bahaya akal yang merusak kesucian jiwa.

43

2. Cara Mempelajari dan Memahami Al-Quran


K.H. Ahmad Dahlan menerangkan bagaimana cara mempelajari alQuran yaitu dengan mengambil satu, dua atau tiga ayat dibaca dengan tartil
dan tadabbur. Langkah-langkah yang ditempuh dalam mencari kandungan
ayat sebagai berikut: a). Bagaimana tafsirnya; 2). Bagaimana tafsir
keterangannya; 3). Bagaimana maksudnya; 4). Apakah ini larangan dan
apakah kamu sudah meninggalkanya?; 5). Apakah ini perintah yang wajib
dikerjakan? Sudahkah kita mengerjakan?. Bila belum dapat menjalankan
dengan sesungguhnya maka tidak perlu membaca ayat-ayat yang lainya.
21

44

3. Simbiosis Mutualisme
K.H. Ahmad Dahlan dalam menyampaikan Pendidikan Agama Islam
agak berbeda dengan ulama pada zamannya. Pada masa K.H. Ahmad Dahlan,
apalagi sebelumnya, Pendidikan Agama Islam disampaikan menggunakan
cara-cara konvensional yang diterima dari generasi pendahulunya maka, mulai
kali ini sudah mengadopsi metode yang digunakan oleh pemerintah Belanda.
K.H. Ahmad Dahlan untuk dapat memahami keadaan tidak berpandangan
inklusif melainkan exklusif. Bentuk dari inklusifitas K.H. Ahmad Dahlan
diwujudkan melalui pergaulanya yang luas tanpa ada sekat-sekat keagamaan
namun tetap memegan norma agamanya.

45

Pergaulan K.H. Ahmad Dahlan yang luas tersebut dapat menjadi


sarana dalam mencerahkan

Pendidikan Agama

Islam.

Wujud

dari

pencerahannya berbentuk penggunaan klasikal sertya pernak-perninya seperti


meja, kursi, kapur juga papantulis. K.H. Ahmad Dahlan dalam mencerahkan
Pendidikan Agama Islam menggunakan metode simbiosis mutualiame (saling
menguntungkan).

22

BAB IV
IMPLEMENTASI PENCERAHAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
K.H. AHMAD DAHLAN

A. Selintas Kebijakan Pendidikan di Indonesia dari masa ke masa


1. Pendidikan Pada Masa Imperialis Belanda sampai dengan 1945
Belanda menduduki Nusantara (Indonesia sebelum merdeka) selama
kurang lebih 3,5 abad. Selama pendudukan Belanda banyak masyarakat
pribumi yang mengalami penderitaan jasmani maupun rohani. Penderitaan
jasmani berupa kelaparan, kurang sandang maupun papan. Sementara
penderitaan rohani berbentuk kurangnya asupan gizi dalam hati dan fikiran
(pendidikan) sehingga mengakibatkan keterbelakangan mental. Lemahnya
mental ini mengakibatkan tidak ada daya saing yang cukup untuk menyadari
dirinya sebagai manusia unggul.
Pendidikan bercorak Islam diawali oleh Ahmad Dahlan dengan
menggabungkan

mata

pelajaran

sekolah

Belanda

dengan

pelajaran

Islam. Artinya pendidikan ini memuat nilai plus yaitu pendidikan agama
Islam. Pendidikan memiliki corak sebagai berikut:
1. Penekanan pada pencarian ilmu pengetahuan, pengembangan atas dasar
ibadah kepada Allah SWT.
2. Pengakuan atas potensi dan kemampuan seseorang untuk berkembang
dalam suatu kepribadian.

K.H. Ahmad Dahlan dalam mensiasati lembaga pendidikan yang


didirikan bersama pengurus-pengurus Muhammadiyah supaya tetap beroprasi
23

maka lembaga ini menggunakan dua wajah yakni memadukan kurikulum


santri dengan kurikulum buatan pemerintah Belanda. Ahmad Tafsir
menuliskan bahwa K.H. Ahmad Dahlan senang berdakwah dan mengajarkan
agama di sekolahan. Pada tahun 1911 K.H. Ahmad Dahlan mendirikan
sekolah sendiri yang diberi nama sekolah Muhammadiyah. Di sini yang perlu
ditegaskan bahwa agama yang diajarkan pastilah agama yang menurut
pendapatnya telah terbebas dari khurafat dan bidah.

12

2. Pendidikan Pada Masa Orde Lama (ORLA)


Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17
Agustus 1945 dengan juru bicaranya adalah Sukarno sekaligus diangkat
menjadi presiden RI. Pola penyelenggaraan pendidikan tentunya berbeda
dengan waktu kolonialis. Pada era ini pastinya sudah mengalami perbaikan.
Pendidikan agama Islam mendapat perhatian secara serius dari pemerintah
baik lembaga negeri maupun swasta.
Pendidikan Agama Islam (PAI) setelah lima bulan merdeka, tepatnya
3 Januari 1946 mendapat sentuhan dari pemerintah. Pada tahun tersebut
Departemen Agama yang sekarang bermetamorfosis menjadi Kementrian
Agama resmi didirikan serta mendirikan dan mengembangkan sekolah PGA
(Pendidikan Guru Agama). Lembaga ini bertujuan mencetak tenaga-tenaga
profesional keagamaan yang siap mengembangkan sekolah Islam dan
madrasah. Ketersediaan yang di suplai oleh lembaga tersebut akan menjamin
perkembangan sekolah Islam di Indonesia.

24

14

3. Pendidikan Pada Masa Orde Baru (ORBA)


Berhentinya Orde Lama (ORBA) ditandai oleh penumpasan G30
S/PKI pada tanggal 30 September 1965. Dalam babak ini bangsa Indonesia
memasuki babak baru yaitu Orde Baru (ORBA) yang pemegang kendalinya
adalah Soeharto. Pada masa-masa awal pemerintahan Orde Baru, kebijakan
dalam beberapa hal mengenai madrasah bersifat melanjutkan dan memperkuat
kebijakan Orde Lama. Pada tahap ini madrasah belum dipandang sebagai
bagian dari sistem pendidikan secara nasional, tetapi merupakan lembaga
pendidikan otonom di bawah pengawasan Menteri Agama.

19

Upaya untuk sistem sekolah dan pesantren sudah diperjuangkan di


Aceh, juga di luar kalangan ulama dan tokoh-tokoh agama dan juga
dikalangan pemerintah di luar Kementrian Agama.Dalam pertemuan para
ulama Aceh pada bulan November 1967, diusulkan agar kurikulum sekolah
dasar dan madrasah ibtidaiyah diselaraskan. Pada tahun 1968 Gubenur
mengeluarkan keputusan untuk membentuk sebuah komisi, yang bertugas
mewujudkan usul yang dikemukakan dalam pertemuan ulama tersebut.
Menurut

20

analisis penulis untuk saat ini pemerintah telah sedikit

mengabulkan permintaan tersebut yaitu dengan munculnya Undang-Undang


bab V tentang peserta didik pasal 12 ayat 1 poin ke-1, Setiap peserta didik
pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai
dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang
21

seagama. Munculnya Undang-Undang ini mungkin akibat pergolakan


pendidikan di masa lampau. Sebenarnya apabila umat Islam sepakat untuk
integrasi rasanya tidak ada masalah. Namun umat Islam di negeri ini
setidaknya seperti tipologi di atas (sekuler, Islami dan moderat). Sehingga
25

untuk saat ini ada kelompok yang mempertahankan seperti saat ini tetapi
sebagian yang lain menghendaki perubahan secara fundamental.
Muhammadiyah

menghargai

keragaman

masyarakat

Indonesia.

ORMAS yang dipelopori oleh K.H. Ahmad Dahlan ini menempatkan posisi
tengah-tengah (moderat). Dalam aqidah Muhammadiyah begitu kental
sedang mengenai muaalah sangat toleran. Sikap yang demikian itu menurut
hemat penulis tidak luput dari keteladanan K.H. Ahmad Dahlan. Hal ini
terbukti pendidikan di lingkungan Muhammadiyah tidak meninggalkan ilmu
umum dan tidak mengesampingkan ilmu agama.
4. Pendidikan Pada Masa Reformasi
Setelah tumbangya rezim ORBA pada tahun 1998 maka tampilah
kepemimpinan gaya baru. Dalam UUSPN 2003 dinyatakan dalam pasal 1 ayat
2 UUSPN 2003, bahwa: Pendidikan nasional adalah pendidikan yang
berdasar Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama,
kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan
zaman.;
Untuk melihat apa yang dilakukan Muhammadiyah dalam menyikapi
pendidikan pada erareformasi maka, perlu melihat spirit K.H. Ahmad Dahlan
dalam merespon tantangan jaman pada masa itu. K.H. Ahmad Dahlan dalam
menghadapi politik Belanda yang tidak menguntungkan Islam maka ia
membangun sekolah yang bernada sama. Sekolahan model ini tidak kental
mengajarkan agama, bahkan dapat dikatakan lebih condong dengan konsep
Belanda. Sehingga konsep pendidikan yang demikian itu secara politis banyak
menguntungkan sebab tidak bersebrangan dengan Belanda.
26

23

Mencermati Undang-Undang yang tertulis pada paragraf satu maka hal


itu sudah sejalan dengan harapan umat Islam. Sebab Pancasila, UUD 1945,
keanekaragaman budaya serta tanggap terhadap perubahan zaman adalah
sudah sesuai dengan spirit agama Islam. K.H. Ahmad Dahlan sudah
melakukannya pada masa itu. Sekarang gilirannya Muhammadiyah untuk
mengaktualkan spirit K.H. Ahmad Dahlan sehingga agama Islam benar-benar
mebawa perubahan bangsa Indonesia ke arah yang lebih positif.

B. Penerapan Pencerahan Pendidikan Agama Islam K.H. Ahmad Dahlan


K.H. Ahmad Dahlan dalam menyikapi adanya imperialis Belanda
tidak tampil sebagai tokoh antagonis secara frontal. Sikap arif dikedepankan
dalam rangka mencari solusi yang terbaik. K.H. Ahmad Dahlan menjadikan
lawan sebagai mitra dalam memajukan anak bangsa. Hal ini terbukti dari
kegiatannya mengajar di beberapa sekolah gubernement Belanda. Sikap
inklusif yang memancar dari K.H. Ahmad Dahlan dapat meluluhkan lawan
dengan tanpa peperangan yang melibatkan aktivitas badan.
Sebagaimana

Muhammad

Abduh

yang

ingin

mengembalikan

kemurnian Islam dengan kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah maka K.H.
Ahmad Dahlan juga berusaha dalam hal yang sama. Menurut K.H. Ahmad
Dahlan dengan mengkaji al-Quran dan al-Sunnah maka kejayaan Islam dapat
terwujud. Sehingga dalam pencerahan Pendidikan Agama Islam (PAI) K.H.
Ahmad Dahlan menempatkan dan menekankan hati suci dan fikiran sehat.
Semangat hidupnya yang demikian akibat terpengaruh tasawuf. Pelaku
tasawuf adalah sufi yang menyebutkan bahwa akar kata ini berasal dari kalita
shafa dengan kandungan makna suci.

27

27

Gaya hidup sufi K.H. Ahmad Dahlan ini tidak diwujudkan dengan
pasif terhadap takdir sebagaimana pemahaman umum bahwa pemicu
keterbelakangan umat Islam adalah tasawuf. K.H. Ahmad Dahlan
menampilkan tasawuf dengan model aktif, progresif dan positif. Hal ini telihat
dari semangat perjuangannya dalam rangka menunjukkan Islam adalah agama
adidaya yang tidak sebatas konsep namun juga implementasinya. Dalam
mengawali langkah kejayaan Islam K.H. Ahmad Dahlan mengkaji Al-Quran
dan mempraktikkanya. Salah satu contoh karya besarnya adalah lahirnya
Amal Usaha Muhammadiyah yang sekarang terus lahir di berbagai penjuru
tanah air Indonesia.
Keteladanan yang dapat diambil dari semangat perjuangan K.H.
Ahmad Dahlan adalah selalu bersikap terbuka atas perkembangan jaman.
Umat Islam tidak selayaknya memusuhi orang lain yang beda agama lantaran
kalah saing dalam memajukan ilmu di muka bumi ini. Hal itu seharusnya
menjadi motivasi untuk selalu belajar dan berbuat dalam berkarya yang
positif.

28

BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Setelah menelusuri dari bab-bab di atas, maka tulisan ini menyimpulkan
sebagai berikut:
1. Kondisi Sosiokultural K.H. Ahmad Dahlan
Kondisi sosiokultural yang melingkupi kehidupan K.H. Ahmad Dahlan
dapat dirinci sebagai berikut:
a. Lokal
Secara lokal umat Islam sedang terselimuti kabut hitam yang berupa
belenggu bidah, tahayul, khurafat. Hal ini akibat pendidikan yang
belum maju dan hanya mengikuti leluhur.
b. Nasional
Secara nasional umat Islam Nusantara (nama Indonesia sebelum
merdeka) sedang terjajah oleh bangsa Belanda yang mengakibatkan
kekurangan pangan dan keterbelakangan mental. Hal ini menyababkan
tidak sadarnya tentang kemampuan dirinya.
c. Internasional
Secara internasional umat Islam mengalami kemunduran sejak
runtuhnya dinasti Abasiyah. Hal ini menyebabkan umat Islam hanya
berdiam diri tidak mampu mengadakan perlawanan atas cengkraman
bangsa Barat.
2. Metode yang digunakan K.H. Ahmad Dahlan dalam memperbaiki Pendidikan
Agama Islam
29

K.H. Ahmad Dahlan dalam memperbaiki Pendidikan Agama Islam menempuh


jalan sebagai berikut:
a. Memanfaatkan hati suci dan akal sehat.
b. Kembali kepada al-Quran dan al-Hadis dalam bidang aqidah ibadah
mahdhah (puritan).
c. Mempelajari al-Quran dengan telaah yang mendalam kemudian
diamalkan dalam praksis social (modernism).
3. Implementasi Pencerahan Pendidikan Agama Islam Yang Dibangun K.H.
Ahmad Dahlan
a. Umat Islam harus siap dengan adanya perubahan jaman.
b. Umat Islam harus bersikap inklusif supaya tidak seperti katak dalam
tempurung.
c. Umat Islam harus pandai dalam menyikapi politik lokal, nasional bahkan
global
B. Saran
Saran yang penulis bangun dalam kesempatan lembar ini meliputi dua
lembaga yaitu kepada Muhammadiyah ( ORMAS warisan K.H. Ahmad Dahlan)
sendiri dan terhadap pemerintah. Khusus kepada Muhammadiyah harus selalu siap
dalam menghadapi perubahan jaman sebagaimana pendirinya yang piawai dalam
berpolitik sehingga PAI dapat diajarkan di sekolah Belanda.
Pemerintah yang pelakunya mayoritas umat Islam maka senantiasa
mengupayakan PAI secara strategis dan politis dapat berlangsung.

30

DAFTAR PUSTAKA
Al-Hujwiri, Kasyful Mahjub Risalah Persia Tertua Tentang Tasawuf, Bandung:
Mizan, 1995.
Al-Bukhari, Abu Abdillaah Muhammad bin Ismal bin Ibrahim, Sahih Bukhari,
Bairud: DarulFikri, Juz III, tt.
Alfian, Muhammadiyah The Political Behavior Of A Muslim Modernist Organization
Under Dutch Colonialism, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1989.
al-Khatib, Asad, Allahu Akbar Etos Jihad Kaum Sufi,Jakarta: Serambi, 2003.
Al-Shobuni, Muhammad Ali,Shofatu Al-TafassirTafsir Lil QuanJuz III
Arifin, Tatang M,Menyusun Rencana Penelitian, Jakarta: CV. Rajawli, 1990.
As-Syarbini, Muhammad bin Ahmad Al-Khotib, As-Sirajul Munir Fil Ianati Ala
Marifati Badhi Maani Kalami Rabbinal Hakimil Khobir Juz I, Kairo,
Mesir: Bulaq Al-Amiriyah, tt
Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam Tradisi Dan Modernisasi Menuju Milenium
Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.
Bekker, Anton, dan A. haris, Metode Penelitian Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1990.
Dahlan, KH. Ahmad, Kesatuan Hidup Manusia, HB. Muhammadiyah Majlis Taman
Pustaka, 1923.
Damami, Mohammad, Akar Gerakan Muhammadiyah, Yogyakarta: Fajar Pustaka,
2000.
Darban, Ahmad Adaby, Sejarah Kauman Menguak Identitas Kampung Kauman,
Yogyakarta: Tarawang, 2000.
Memahami Paradigma Baru Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang
SISDIKNAS, Jakarta: Departemen Agama RI, 2003.
Fatkhurohman, Nanang, Madrasah Sekolah Terpadu, Plus dan Unggulan, Lidean
Hati Depok: Pustaka, 2012.
Freke, Timothy, Hari-Hari Bersama Rumi, Bandung: Pustaka Hidayah, 200

31

32