Anda di halaman 1dari 2

Komplikasi

Insidensi komplikasi infeksi ruang dalam leher telah meurun sejak diperkenalkannya
terapi antibiotik. Meskipun, kerusakan yang mungkin ditimbulkan oleh komplikasi ini
mengingatkan kepada para dokter untuk tetap waspada terhadap gejalanya. Obstruksi jalan
napas dan asfiksia adalah komplikasi infeksi leher dalam yang mungkin terjadi, tetapi telah
sering dihubungkan dengan Ludwigs angina. Evaluasi dini dan manajemen pasien adalah
hal yang terpenting. Rupturnya abses, secara spontan maupun manipulasi seperti intubasi,
dengan aspirasi yang bersangkutan dapat berujung pada pneumonia berat, abses paru atau
empyema.
Komplikasi infeksi leher dalam terhadap pembuluh darah antara lain trombosis vena
jugular atau ruptur arteri carotis. Sindrom Lemierre adalah trombosis vena jugular yang
terjadi secara spesifik karena hubungannya dengan infeksi orofaringeal, walaupun infeksi
apapun pada parafaringeal atau ruang pembuluh darah viseral dapat mengakibatkan infeksi
ini. Trombosis vena jugular terjadi bersama dengan demam, mengigil dan prostration
maupun bengkak dan nyeri pada sternokleido mastoidea. Hal ini dapat menyebabkan
bakteremia atau embolisasi septik dengan resultan infeksi jauh. Emoblisme pulmoner terjadi
pada 5% pasien ini. Pasien yang berkembang dari infeksi dalam sekunder ke penyalahgunaan
obat intravena sangat rentan mengalami komplikasi ini. Organisme yang paling sering
mengakibatkan sindrom Leierre adalah Fusobacterium necrophorum, sementara pada
penyalah guna obat intravena adalah Staphylococcus. Pencitraan dengan USG, CT atau MRI
dapat membantu menegakkan diagnosis. Terapi antibiotik intravena sebaiknya dilakukan atas
dasar hasil kultur darah. Pengunaan antikoagulan masih kontroversial namun dapat
mempercepat penyembuhan dan mencegah embolis paru. Jika terapi medis gagal, maka ligasi
dan eksisi pembuluh darah yang terinfeksi dianjurkan.
Ruptur arteri karotis, walaupun jarang, menimbulkan angka kematian 20% - 40%. Hal
ini dapat terjadi ketika infeksi melibatkan selubung karotis yang mengakibatkan kelemahan
pada dinding arteri, erosi dan bahkan hemoragi. Salinger dan Pearlman, peneltian pada 227
kasus abses leher dalam akibat komplikasi hemorragi, mendapatkan 62% ruptur terjadi dari
arteri karotis dalam, 25% melibatkan arteri karotis luar dan 13% common carotid. Menurut
mereka, 73 pasien yang di terapi dengan ligasi arteri, 64% selamat. Rupture arteri dapat
bertambah parah bila terjadi perdarahan berulang dari telinga, hidung maupun mulut yang
beronset pada syok, klinis yang berlarut-larut, hematome disekitar jaringan, sindrom Horner
dan neuropati kranial yang tidak dapat dijelaskan. Pengobatan memerlukan kontrol proksimal
dan distal yang diikuti ligasi pembuluh darah. Perbaikan arteri dengan cara menambal atau
okulasi terbatas karena suasana infeksi.
Ekstensi infeksi dari viseral anterior, retrofaringeal, pembuluh darah viseral,
berbahaya atau ruang prevertevbra dapat mengakibatkan mediastinitis. Pasien akan mengeluh
susah bernapas dan nyeri dada. X-ray dada dapat menunjukkan pelebaran mediastinum atau
pneumomediastinum. CT scan dada dapat menggambarkan penyebarannya. Terapi
melibatkan terapi antibiotik yang agresif dan drainase bedah sesegera mungkin.Penyakit yang

terbatas diatas percabangan trakea sering dimanajemen dengan pendekatan transervikal.


Penyakit yang lebih luas membutuhkan chest tube atau torakotomi.
Pertimbangan Khusus
Pengobatan infeksi leher alam dengan antibiotik dan drainase via aspirasi ataupun
pembedahan seringkali definitif dan kekambuhannya jarang. Kecuali, infeksi leher dalam
terjadi jika dihubungkan dengan abonormalitas kongenital yang telah ada. Jadi, pasien
dengan riwayat infeksi atau abses yang sama, harus dicurigai dengan dengan lesi yang
mendasarinya. Pencitraan khususnya dengan CT scan, dapat sangat membantu dalam
pembuatan diagnosis kasus ini. Pada sebuah penelitian, 12 kasus infeksi leher dalam
berulang, Nusbaum dkk. mendapatkan kongenintal anomali yang mendasari tersering adalah
second branchial cleft cyst. Penyebab lain antara lain first,
third and fourth branchial cleft cysts, Limfangioma, kista saluran thryglossal dan kista timus
servikal.