Anda di halaman 1dari 11

ASAM SITRAT

Disusun oleh:

JURUSAN TEKNIK KIMIAFAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga tugas makalah proses industri kimia ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat
beserta salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, yang telah menjadi
pembimbing dari zaman yang penuh dengan kebodohan sampai kepada zaman yang dipenuhi
ilmu pengetahuan seperti sekarang ini.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada banyak pihak terutama keluarga dan temanteman yang telah banyak memberikan bantuan, baik materi maupun non materi demi kelancaran
penyusunan tugas makalah ini.
Makalah yang berjudul Industri Sabun ini disusun untuk memenuhi tugas dari mata
kuliah proses industri kimia yang diampu oleh Ibu Dr. Nita Aryanti, ST., MT. Makalah ini akan
mendeskripsikan bagaimana proses industri sabun. Diharapkan makalah ini dapat berguna dalam
rangka menambah wawasan tentang kondisi industri sabun.
Tiada hal yang sempurna di dunia ini, hanyalah Allah SWT yang memiliki segala
kesempurnaan. Perlu disadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Untuk itu
diharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan di masa yang akan datang.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan sumbangsih bagi pembangunan di
Indonesia beserta dapat meningkatkan taraf hidup bagi kesejahteraan Bangsa Indonesia.
Semarang, Desember2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
Asam sitrat merupakan padatan kering atau putih dengan rumus kimia C 6H8O7 dan
memiliki berat molekul 192,12. Senyawa ini terdapat sebagai konstituen alami dalam buahbuahan, seperti jeruk, nanas, apel dan anggur. Awalnya asam sitrat diperoleh dalam bentuk kristal
melalui proses isolasi dari juice lemon oleh Scheele pada tahun 1784. Lalu pada tahun 1880
Grimoux dan Adam mensintesis asam sitrat dari glycerol. Dan pada tahun 1893 Wehmer
mengindikasikan bahwa asam sitrat dapat diperoleh melalui proses fermentasi larutan gula oleh
beberapa jenis fungi. Hingga kini proses produksi komerasial asam sitrat diperoleh melalui
proses fermentasi.(Othmer, K.,Encyclopedia of Chemical Technology,3rded1978)
Asam sitrat merupakan asam organic lemah yang ditemukan pada daun dan buah
tumbuhan genus Citrus (jeruk jerukan). Senyawa ini merupakan bahan pengawet yang baik dan
alami, selain digunakan sebagai penambah rasa masam pada makanan dan minuman ringan.
Dalam biokimia, asam sitrat dikenal sebagai senyawa antara dalam siklus asam sitrat, yang
penting dalam metabolisme makhluk hidup, sehingga ditemukan pada hamper semua makhluk
hidup. Zat ini juga dapat digunakan sebagai zat pembersih yang ramah lingkungan sebagai
antioksidan.
Asam Sitrat banyak terdapat pada berbagai jenis buah-buahan seperti jeruk, pisang, apel,
dan sayuran. Namun, ada salah satu jenis buah yang sangat populer dalam pembuatan asam sitrat
yaitu buah Jeruk. Adapun jenis jeruk yang paling banyak menghasilkan asam sitrat yaitu jeruk
limau dan lemon dengan menghasilkan asam sitrat mencapai 8% dari bobot keringnya.
Asam sitrat digunakan oleh banyak industri di dunia sebagai bahan baku produksi seperti
industri makanan, minuman, farmasi, kosmetik, dan lain-lain. Berdasarkan kenyataan bahwa
penggunaan asam sitrat yang luas dalam dunia industri, maka kebutuhan pemenuhan bagi asam
sitrat baik di dalam maupun luar negeri masih sangat besar.

BAB II
PEMBAHASAN

II.1

Definisi
Asam sitrat merupakan asam organic lemah yang ditemukan di daun dan buah
tumbuhan genus citrus (jeruk jerukan). Senyawa ini berguna dalam industri makanan,
farmasi dan tambahan dalam makanan ternak. Asam sitrat terdapat pada berbagai jenis
buah dan sayuran, namun ditemukan pada konsentrasi tinggi hingga dapat mencapai
bobot 8% kering. Hal ini ditemukan pada buah jeruk dan limau misalnya jeruk nipis dan
jeruk purut.

Gambar 2.1 Asam Sitrat


Sifat asam sitrat yang tidak beracun, dapat mengikat logam-logam berat, (besi
maupun bukan besi) dan dapat menimbulkan rasa yang menarik. Di dalam biokimia,
asam sitrat dikenal sebagai senyawa antara dalam siklus yang terjadi dalam mitokondria
yang penting dalam metabolisme makhluk hidup. Asam sitrat dapat diproduksi secara
kimiawi atau secara fermentasi menggunakan mikroorganisme. Adapun rumus kimia
asam sitrat adalah C6H8O7.

HO

CH2

CO2H

CO2H

CH2

CO2H

Gambar 2.2 Struktur Kimia Asam Sitrat

Struktur asam ini tercermin pada nama IUPACnya, asam 2-hidroksi- 1,2,3propanatrikarboksilat. Keasamaan Asam Sitrat didapat dari tiga gugug karboksil COOH
yang dapat melepas proton dalam larutan. Jika hal ini terjadi yang dihasilkan adalah ion
sitrat.

II.2

Sifat-Sifat Asam Sitrat


Sifat zat pada umumnya terbagi menjadi 2 sifat fisika dan kimia, begitu pula
dengan asam sitrat seperti berikut :
II.2.1 Sifat Fisika
1. Berat molekul : 192 gr/mol
2. Spesific Gravity : 1,54 ( 20 C )
3. Titik Lebur : 153 C
4. Titik didih : 175 C
5. Kelarutan dalam air : 207,7 gr / 100 ml ( 25 C )
6. Pada titik didihnya asam sitrat terurai ( Terdekomposisi )
7. Berbentuk kristal berwarna putih, tidak berbau, dan memiliki rasa asam.
II.2.2. Sifat Kimia
1. Kontak langsung (paparan) dengan asam sitrat yang bersifat kering dan larut, akan
mengakibatkan iritasi pada kulit dan mata.

2. Mampu mengikat ion-ion logam sehingga dapat digunakan sebagai pengawet dan
kesadahan dalam air
3. Keasaman pada asam sitrat, didapatkan dari gabungan tiga gugus karboksi-COOH
yang dapat melepas proton dalam larutan.
4. Asam sitrat dapat berupa kristal anhidrat yang bebas air atau berupa kristal
monohidrat yang mengandung satu molekul air untuk setiap molekulnya.
5. Bentuk anhidrat asam sitrat mengkristal dalam air panas, sedangkan bentuk
monohidrat didapatkan dari kristalisasi asam sitrat dalam air dingin.
6. Bentuk monohidrat Asam sitrat dapat diubah menjadi bentuk, anhidrat dengan
pemanasan pada suhu 70 75 C
7. Jika dipanaskan diatas suhu 175C akan terurai
melepaskan karbon dioksida (CO2) dan air (H2O).

terdekomposisi) dengan

8. Reaksi yang terjadi :


1. Reaksi Pembentukan
(C6H10O5)n(5) + n(H2O)(l) (C12H22O11)(s)
Karbohidrat

sukrosa

(C12H22O11)(s) + (H2O)(l) (C6H12O6)(s) + (C6H12O5)(s)


Glukosa

fruktosa

(C6H12O6)(s) + O2(g) (C6H8O7)(s) + 2 (H2O)(l)


Asam sitrat
2. Reaksi Pemurnian
(C6H8O7)(s) + 3(Ca(OH)2)(l) (Ca3(C6H5O7)(2))(s) + 6(H2O)(l)
Ca. Sitrat
(Ca3(C6H5O7)(2))(s) + 3(H2SO4)(l) 3(CaSO4)(s) + 2 (C6H8O7)(s)
Ca. Sulfat
(C6H8O7)(s) + 3(NaOH)(l) (Na3(C6H8O7))(s) + 3 (H2O)(l)

As. Sitrat

II.3

Macam Proses Pembuatan Asam Sitrat


Pada umumnya proses pembuatan asam sitrat dapat dikategorikandari proses
yang bersifat tradisional hingga proses komersial yaitu fermentasi.Kultur permukaan
yang menggunakan substrat padat atau semi padat banyakdigunakan untuk memproduksi
berbagai jenis asam organik dan enzim. Fermentasi dalam media padat ini sering disebut
proses koji. Ada tiga macamproses dalam pembuatan asam sitrat yaitu proses ekstraksi
sederhana, prosesfermentasi dan proses sintesa kimia.
II.3.1. Proses Ekstraksi Sederhana
Proses atau mertode ini dilakukan dengan ekstraksi buah seperti lemon,jeruk
dan nanas. Namun proses ini sudah tidak pernah dilakukan lagi seiringdengn
pengembangna metode fermentasi.
(Kirk Ohmer,Encyclopedia ofChemical Engineering, Vol. 6, hal 156 - 157)
II.3.2. Proses Fermentasi
Pada dasarnya proses fermentasi ini terbagi menjadi dua macamyaitu
surface fermentation (fermentasi permukaan) dan submerged atau deep
submerged fermentation (fermentasi biakan celup/dalam). Namun pada masingmasing metode dapat dikembangkan lagi berdasarkan mikroorganisme yang
digunakan :
a. Surface fermentation
Pada proses surface fermentation digunakan kapang aspergillus niger.
Proses fermentasi permukaan ini diterapkan dalam dunia industri sejak tahun
1920-an. Sebelum mengalami proses fermentasi bahan baku diencerkan
terlebih dahulu hingga konsentrasi gula 30% dalam mixer. Setelah itu
ditambahkan asam sulfat, pospor, potassium dan nitrogen dalam bentuk asam
atau garam sebagai nutrient. Campuran ini kemudian disterilkan lalu
diencerkan kembali hingga konsentrasi gula mencapai 15% dan selanjutnya
difermentasikan.
Proses fermentasi dilakukan didalam tangki-rangki yang terbuatdari
alumunium. Inokulum (Aspergillus niger) disemburkan bersama-samadengan
udara. Waktu inkubasi selama 9 11 hari. Lapisan lendir yang terbentuk
dipermukaan medium diambil dan diekstraksi, sedangkan cairan hasil
fermentasi diberi perlakuan panas dan penambahan kalsium hidroksida (pH
8,5) sehingga dihasilkan kalsium sitrat. Berikut ini adalah gambar surface
fermentation.

Gambar 2.1 Proses surface fermentation


Kebutuhan energy untuk surface fermentation tidak banyak Karena
prosesaerasi menggunakan peralatan yang sederhana yaitu berupa kipas yang
menghasilkan udara dan digerakkan oleh motor elekrtik, energy yang
dibutuhkan 1,3 2,6 MJ/m3.
(Kirk Ohmer,Encyclopedia of Chemical Engineering, Vol. 6, hal 157)
b. Submerged/deep fermentation (fermentasi biakan celup)
Pada proses submerge fermentationini terbagi dua macam berdasarkan
mikroorganisme yang digunakan diantaranya adalah submerged fermentation
menggunakan Apergillus Niger dan submerged fermentation menggunakan
yeastdalam hal ini adalah Candida guilliermondii.
1. Submerged fermentation menggunakan Aspergillus niger
Dalam proses ini mikroorganisme Aspergillus niger ditumbuhkan
denganm endispersikannya dalam media cair. Bejana fermentasi tersusun atas
tangki -tangki steril yang berkpasitas beberapa ratus kubik meter (1000 galon)
dengan dilengkapi pengaduk mekanik serta pemasukan sejumlah udara steril.
Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh amelung-perquin, dimana
produksi asamsitrat dengan proses biakan celup mempertimbangkan
penggunaan phospat yangterbatas. Dalam prakteknya spora kapang diproduksi
dibawah control akseptik sehingga tenaga kestreilannya. Tahapan fermentasi
biakan celup ini ada dua yaitu tahap perkembangan miselia dan tahap
fermentasi. Sebagian kecil bahan bakudigunakan sebagai inokulum
fermentor.sebagian besar yang lain digunakantahapn utama dalam fermentor.
Inokulum yang terbentuk ditransfer secara asepticuntuk produksi asam sitrat
dalam fermentor. Dalam skala industri Aspergillusniger adalah strain yang
paling tepat untuk fermentasi, walaupun pada awalnyamenghasilkan sedikit
yield, namun dalam perkembangan selanjutnya penambahanmethanol dalam
larutan fermentasi akan menghasilkan yield yang besar.
2. Submerged fermentation menggunakan yeast
Sampai sekitar tahun 1969 atau 1970, Aspergillus niger dianggap
sebagaisatu-satunya asam sitrat dalam skala industry. Pada tahun 1970, sebuah
inovasibaru yang mendemonstrasikan bahwa produksi asam sitrat dapat
dilakukandengan menggunakan yeast seperti Candida guilliermondii yang

mengandungglukosa atau molasses hitam pekat yang ekuivalen dengan


sejumlah glukosa.
Waktu fermentasi lebih singkat daripada Aspergillus niger. Penggunaan
straicandida sangat efektif untuk pembuatan asam sitrat dari hidrokarbon,
dimanakonversi yang dihasilkan dapat mencapai lebih dari 10%. Secara umum
prosessubmerged fermentation membutuhkan suplai energy yang cukup
banyak, karenamencakup proses pengadukan, aerasi, serta pendinginan.
Kebutuhan energyberkisar 8 16 MJ/m3 (28,5 57 Btu/gal).
(Kirk Ohmer,Encyclopedia of Chemical Engineering, Vol. 6, hal 156 - 157)

II.3.3. Proses Sintesa Kimia


Pembuatan asam sitrat dengan sintesa kimia dilakukan pada tahun 1880oleh
Grimoux dan Adam. Jalannya reaksi didasarkan pada reaksi antara gliseroldevirat
1,3-dichloroaceton dengan sianida. Secara umum proses ini belum biasditerima
dalam industry kimia.
Beberapa sintesa asam sitrat nonkomersial antara lain:
1. Reaksi Reformatsky
Pada reaksi ini pembentukan asam -hidroksi berawal dari brominasi
esterpada posisi lalu mereaksikannya dengan senyawa karbonil. Dengan
memilihsenyawa ester dan karbonil yang tepat, beragam senyawa -hidroksi
bisadiperoleh termasuk asam sitrat.
(McKetta, Encyclopedia of Chemical Processing And design, Vol. 8, hal 327)
2. Reaksi Wiley
Pada reaksi ini maleat anhydride dioksidasi secara katalitik
membentukintermediate oxalacetic acid anhydride. Reaksi intemediat ini dengan
ketenemenghasilkan -lactone yang bisa dihidrolisa menjadi asam sitrat.
3. Karboksilasi aseton menggunakan katalis alkali metal phenolate dalam
solventseperti dimethylfomamide atau glyme (dimethylether dari ethylene
glycol)membentuk membentuk acetonedicrboxylate, diikuti reaksi dengan
sianidamembentuk cyanohydrins, kemudian hidrolisa asam atau basa.
4. Epoksidasi itaconate, reaksi dengan sianida dan hidrolisa.
II.4

Efektivitas Proses dan Produksi

Pada berbagai proses pembentukan asam sitrat diatas, kita dapat mengetahui
proses mana yang lebih menguntungkan dalam industri pabrik asam sitrat. Dilihat dari
yield yang terbentuk dari tiap proses, yield paling besar dihasilkan padaproses submerged
fermentation dengan menggunakan yeast yield yang terbentuk dapat mencapai 100%
.Sedangkan pada proses submerged fermentation dengan menggunakan A. nigeryield
yang dihasilkan sekitar 90%, dan bisameningkatapabila ditambahkan methanol 1% -3%.
Sedangkan untuk surface fermentation, yield yang dihasilkan hanya sekitar 70%.
Namun dalam industri, proses pembentukan asam sitrat lebih sering
menggunakan proses submerged fermentation dengan menggunakan Aspergillus niger.
Hal ini dikarenakan proses submerged fermentation dengan menggunakan Aspergillus
niger mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan proses submerged
fermentation dengan menggunakan yeast.
Berikut ini adalah perbandingan dari proses pembuatan asam nitrat :
Jenis Proses

Submerged Fermentation

Indikator
Yield
Lama Fermentasi
Biaya Perawatan

Yield yang dihasilkan 90%


Waktu fermentasi 3 - 4 hari
Biaya perawatan murah

Kontaminasi

Steril, kontaminasi kecil

Energi

8 6 MJ/m
(sumber: UPN Veteran Jawa Timur,2011)
3

Surface Fermentation
Yield yang dihasilkan 54 - 56%
Waktu fermentasi 6 hari
Biaya perawatan mahal karena
banyak alat yang digunakan
Kontaminasi besar karena
terbuka
1.3 2.6 MJ/m
3

Berdasarkan beberapa pertimbangan diatas, ternyata pembuatan asam sitrat


dengan menggunakan proses submerged fermentation menggunakan Aspergillus niger
lebih efektif dibandingkan proses lainnya, utamanya jika ditinjau dari skala industri dan
kelebihan-kelebihan yang lain pada umumnya.

II.5

Penggunaan Asam Sitrat di Industri


Industri makanan dan farmasi menggunakan asam sitrat dikarenakan alasan
keamanan secara umum, dapat memberikan rasa asam yang memuaskan, kelarutannya
yang tinggi didalam air dan sebagai buffering dan chelating agent. Untuk industri
kosmetik dan wewangian digunakan sebagai buffering agent. Serta secara luas digunakan
sebagai buffering dan chelating agent di berbagai macam industri. Berikut ini adalah
penggunaan asam sitrat dalam industri-industi tersebut.
II.5.1 Industri Makanan
1. Minuman
Asam sitrat digunakan secara extensive dalam industri minuman untuk memberikan
rasa asam pada minuman dan sebagai komplemen pada rasa berry pada minuman.
Pada minuman yang tidak berkarbonisasi asam sitrat dapat memberikan pH yang

beragam pada minuman, selain itu asam sitrat pada minuman jus buah merupakan
komponen alami yang tercampur secara baik dengan aroma dari
minuman tersebut. Untuk minuman berkarbonisasi asam sitrat digunakan sebagai
adiculant atau penguat rasa.
2. Jeli dan selai
Asam sitrat digunakan sebagai pemberi rasa asam pada jeli dan selai serta digunakan
untuk menyesuaikan pH.
3. Kembang Gula
Asam sitrat digunakan untuk memberikan rasa asam dan meminimalkan inversi
sukrosa pada produk kembang gula.
4. Makanan Beku
Asam sitrat digunakan sebagai chelating agent dan pengatur pH sehingga
memungkinkan pengoptimalan kestabilan dari makanan beku dengan meniadakan
aktivitas antioksidan dan menon-aktifkan enzim.
II.5.2 Industri Farmasi, Kosmetik dan Pewangi
1. Farmasi
Asam sitrat digunakan sebagai bahan dasar tablet effervescence, dimana asam sitrat
bila bereaksi dengan zat yang mengandung bikarbonat atau karbonat dalam air akan
membentuk gas karbondioksida dan garam dari asam tersebut. Selain itu asam sitrat
digunakan sebagai buffering agent dan pemberi rasa asam pada obat-obatan.
2. Kosmetik dan Pewangi
Dalam industri ini asam sitrat digunakan sebagai pengatur pH dan sebagai antioxidan
pada metallic-ion chelator.
II.5.3 Industri Lainnya
Untuk industri-industri lainnya asam sitrat digunakan untuk industri detergen,
agrikultur, fotografi, tekstil, kertas dan lain sebagainya. Selain itu dalam industri asam
sitrat dapat digunakan sebagai pembersih metal dan pengabsorbsi sulfur dioxide dan
dapat digunakan pula dalam proses treatment pada limbah. (Othmer, K.,Encyclopedia
of Chemical Technology,3rd ed. 1987)