Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu kemajuan suatu negara dapat dilihat dari perkembangan di bidang
kesehatan. Permasalahan kesehatan yang masih menjadi perhatian di setiap negara
adalah besarnya angka kematian ibu bersalin. Berdasarkan data WHO tahun 2003,
didapatkan bahwa dalam setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi
yang terkait dengan proses kehamilan dan persalinan. Menurut hasil laporan survei
Demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003, angka kematian ibu (AKI) di
indonesia menunjukkan angka 307 per 100.000 kelairan hidup (kh). Pada tahun 2006
AKI sudah mulai menurun menjadi 255 per 100.000 kh dan pada tahun 2007 menurun
menjadi 248 per 100.000 kh (Pembangunan Kesahatan, 2007). Pada tahun 2009, AKI di
Indonesia menjadi 228 per 100.000 kh, sedangkan di jawa timur, 83 per 100.000 kh.
Sumber awal masalah kematian ibu dimulai pada masa kehamilan yang
berlanjut pada waktu persalianan dan nifas. Penyebab kematian ibu hamil itu adalah
perdarahan setelah persalinan 28%, infeksi 10%, eklamsia 11%, dan proses persalinan
yang lama atau partus lama mempunyai kontribusi terhadap kematian ibu hamil sebesar
9% di Indonesia dan 8% di dunia (Indriyani D, Amirudin R, 2007).
Sebab utama partus lama adalah disproporsi feto pelvix (faktor jalan lahir),
malpresentasi dan malposisi (faktor janin), dan kerja uterus yang tidak efisien, termasuk
servix yang kaku (faktor tenaga) dan psikis (status emosi ibu) (Oxorn, 2003). Sehingga
untuk mencapai persalinan fisiologis yang dapat dikendalikan adalah masalah atau
power yang dapat ditingkatkan dengan senam hamil.
Senam

hamil

adalah

suatu

bentuk

latihan

guna

memperkuat

dan

mempertahankan elastisitas otot otot dinding perut, ligamen ligamen, otot dasar panggul
yang berhubungan dengan proses persalinan (FK UNPAD, 1998).
Salah satu tujuan senam hamil adalah membimbing ibu hamil menuju suatu
persalinan yang fisiologis. Ibu hamil yang melakukan senam secara teratur selama
kehamilannnya melaporkan tingkat kehabisan tenaga atau penggunaan tenaga yang
rendah selama kehamilan atau persalinan, sedikit mengalami ketidak nyamanan dan
lebih cepat sembuh pada masa pasca perslinan daripada ibu yang tidak melakukan
senam atau yang menghentikan senamnya (Pusdiknakes, 2001).

Keuntungan senam hamil adalah meningkatkan kepercayaan, pengetahuan,


tentang kekuatan persalinan, sehingga waktu persalinan dapat dipersingkat dan
berkurangnya rasa sakit. Dimana terdapat perbedaan lama persalinan antara nulipara
dan multipara. Pada multipara membutukan kerja uterus yang lebih ringan dibnding
dengan nulipara akan tetapi hal tersebut dapat diatasi dengan melakukan senam hamil
(Manuaba, 1999).
The American Collage of Obsetetricians and Gynecologits (ACOG)
merekomendasikan agar wanita hamil dengan resiko rendah untuk melakukan aktifitas
fisik dengan intensitas yang sedang selama 30mnt atau lebih setiap harinya, 3-5 hari
dalam seminggu (Lewis, Beth et all, 2009).
Program peningkatan penggunaan ASI menjadi prioritas karena dampaknya
yang luas terhadap status gizi dan kesehatan balita, dengan demikian kesehatan anak
sangat tergantung pada kesehatan ibu terutama masa kehamilan, persalinan dan masa
menyusui (Jafar, 2011).
Resolusi World Health Assembly (WHA) tahun 2001 menegaskan bahwa
tumbuh kembang anak secara optimal merupakan salah satu hak asasi anak. Modal
dasar pembentukan manusia berkualitas dimulai sejak bayi dalam kandungan
dilanjutkan dengan pemberian air susu ibu (ASI) (Prawirohardjo, 2009). Salah satu hak
asasi anak yang berkaitan dengan pemberian ASI adalah hak untuk hidup dan mendapat
makanan, bayi berhak mendapat makanan yang berstandar emas dimana dimulai dari
Inisiasi Menyusu Dini (IMD), pemberian ASI Eksklusif, MP-ASI setelah bayi 6 bulan,
dan ASI sampai bayi berusia 2 tahun (Maryunani, 2012).
Perkembangan terbaru tentang ASI Eksklusif terdapat di dalam Undang Undang Kesehatan RI No 36 tahun 2009 bahwa, setiap bayi berhak mendapatkan ASI
Eksklusif selama 6 (enam) bulan baik di tempat kerja maupun di sarana umum. Setiap
orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian ASI Eksklusif, akan
mendapat sanksi hukuman denda atau kurungan penjara (Depkes, 2012).
The United Childrens of Found (UNICEF) menyatakan, terdapat 30.000
kematian bayi di Indonesia dari 10 juta kematian anak balita di dunia setiap tahunnya.
UNICEF menyebutkan bukti ilmiah terbaru, yang juga dikeluarkan Journal Paediatrics,
bahwa bayi yang diberikan susu formula memiliki kemungkinan untuk meninggal dunia
pada bulan pertama kelahiran dan peluang itu 25 kali lebih tinggi dibandingakan bayi
yang disusui oleh ibunya secara eklsklusif (Arasta, 2010).
2

Berdasarkan data Susenas tahun 2004-2008 cakupan pemberian ASI Ekslusif di


Indonesia berfluktuasi dan cenderung mengalami penurunan. Cakupan pemberian ASI
Eksklusif pada bayi 0-6 bulan turun dari 62,2% (2007) menjadi 56,2% tahun 2008,
sedangkan pada bayi sampai 6 bulan turun dari 28,6% (2007) menjadi 24,3% (2008)
(Minarto, 2011). Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 1997-2007
memperlihatkan terjadinya penurunan prevalensi ASI Eksklusif dari 40,2% pada tahun
1997 menjadi 39,5% dan 32% pada tahun 2003 dan 2007 (Fikawati & Syafiq, 2010).
Banyak faktor yang menyebabkan ibu tidak memberikan ASI Eksklusif selama
enam bulan. Berdasarkan hasil penelitian Judarwanto (2006), faktor-faktor yang
mempengaruhi kegagalan ASI adalah (32%) disebabkan kurangnya pengetahuan ibu
tentang ASI Eksklusif, ibu-ibu menghentikan pemberian ASI karena produksi ASI
kurang. Sebenarnya hal ini tidak disebabkan karena ibu tidak memproduksi ASI yang
cukup melainkan karena kurangnya pengetahuan ibu; (28%) disebabkan oleh ibu
bekerja sehingga ibu-ibu menghentikan pemberian ASI Eksklusif karena harus kembali
bekerja;

(16%) disebabkan oleh gencarnya promosi susu formula, dimana ibu-ibu

menghentikan pemberian ASI karena pengaruh iklan susu formula. Sedangkan lainnya
(24%) disebabkan oleh faktor sosial budaya yang meliputi nilai-nilai dan kebiasaan
masyarakat yang menghambat keberhasilan ibu dalam pemberian ASI Eksklusif, faktor
dukungan dari petugas kesehatan dimana kegagalan pemberian ASI Eksklusif
disebabkan kurangnya dukungan dari petugas kesehatan yang dianggap paling
bertanggung jawab dalam keberhasilan keberhasilan penggalakan ASI dan faktor dari
keluarga dimana banyak ibu yang gagal memberikan ASI Eksklusif karena orang tua,
nenek atau ibu mertua mendesak ibu untuk memberikan susu tambahan formula.
Mengingat pentingnya tugas tenaga kesehatan puskesmas dalam kelas hamil,
maka pemahaman dan keterampilan setiap petugas tenaga kesehatan puskesmas dalam
konsep kelas hamil menjadi sangat penting. Atas latar belakang tersebut penulis
bermaksud melaksanakan mini project sosialisasi dan pelatihan kelas hamil kepada
tenaga kesehatan di puskesmas Condong.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana cara meningkatkan pengetahuan dan partisipasi ibu hamil terhadap


senam hamil dan senam untuk memperlancar ASI di Desa Condong, Kecamatan
Condong, Kabupaten Probolinggo?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan dan partisipasi ibu hamil terhadap senam hamil dan
senam untuk memperlancar ASI di Desa Condong, Kecamatan Condong, Kabupaten
Probolinggo.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Terlaksananya program senam hamil dan senam untuk memperlancar ASI.
b. Meningkatkan partisipasi warga Desa Condong dalam senam hamil dan senam
1.4

untuk memperlancar ASI.


Manfaat

1.4.1 Bagi Penulis


a. Mengaplikasikan pengetahuan mengenai program senam hamil dan senam
untuk memperlancar ASI.
b. Melaksanakan mini project dalam rangka program internship dokter Indonesia.
1.4.2 Bagi Warga Desa
a. Meningkatkan pengetauan masyarakat khususnya warga Desa Condong tentang
senam hamil dan senam untuk memperlancar ASI.
b. Mengurangi dan mencegah timbulnya gejala gejala yang mengganggu selama
masa kehamilan dan mempermudah proses kelahiran.
1.4.3 Bagi Institusi Kesehatan dan Pemerintah
a. Mengetahui masalah kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas.
b. Dasar penentuan prioritas kegiatan dan alokasi dana kesehatan sesuai masalah
kesehatan yang ditemukan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Senam Hamil

2.1.1 Definisi Senam Hamil


Senam hamil adalah bagian dari salah satu kegiatan dalam pelayanan selama
kehamilan (prenatal care). Senam hamil akan memberikan suatu hasil produk
kehamilan atau out come persalinan yang lebih baik (Isa Ahmad, 2008).
Senam hamil adalah suatu bentuk latian untuk memperkuat dan memperthankan
elastisitas dinding perut, ligamen, otot otot dasar panggul yang berhubungan dengan
proses persalinan (FK Unpad, 1998).
2.1.2 Tujuan Senam Hamil
a. Menguatkan otot otot kaki
b. Melatih pernafasan (Isa Ahmad, 2008)
2.1.3 Manfaat Senam Hamil
Beberapa manfaat dari senam hamil adalah :
a. Memperkuat elastisitas otot
Dalam proses persalinan, kita ketahui bahwa untuk mendorong bayi keluar,
diperlukan tenaga mendorong yaitu his dan tenaga ibu. Tenaga ini selain
disebabkan his dan juga disebabkan oleh kontrkasi otot otot dinding perut
yang mengakibatkan peningkatan tekanan intraabdominal. Otot otot
dinding perut yang kuat bersama sama dengan elastisitas otot otot dasar
panggul dan ligamen ligamen yang kuat dapat mempertahankan
kedudukan rahim pada tempatnya, sehingga memperkecil terjadinya prolaps
uteri.
b. Mempermudah persalinan dan kelahiran
Dengan latihan seperti mengejan seperti yang dilakukan dalam senam hamil,
proses pengeluaran bayi menjadi lebih mudah dan tidak terlalu sulit.
c. Membentuk sikap tubuh
Dengan sikap tubuh yang baik selam bersalin, diharapkan dapat mengatasi
keluhan keluhan umum pada wanita hamil, seperti sakit pinggang,
mencegah letak bayi yang abnormal, juga dapat mengurangi sesak nafas
akibat bertambah besarnya perut.
d. Memperoleh rileksasi yang sempurna
Relakasasi sempurna diperlukan selama hamil dan selama persalinan. Selain
untuk mengatasi stres baik yang timbul dari dalam maupun dari luar, juga
untuk mengatasi nyeri his serta untuk dapat mempengaruhi relasasi segmen
bawah uterus yang mempunyai peranan penting dalam persalinan yang
fisiologis.
5

e. Menjaga kesehatan dan fungsi kardiorespirasi


Dengan menguasai teknik pernafasan diafgrama, jika pernafasan diafragma
yang teratus dan berirama, diafragma menjadi kuat, sehingga dapat
membantu ibu pada saat mengejan. Karena pada saat mengejan, selain his
dan otot otot dinding perut, diafragma juga ikut mendorong bayi keluar
(Huliyana, 2008).
2.1.4 Tahapan Senam Hamil
Eisenberg membagi senam hamil menjadi 4 tahap dimana setiap tahapannya
mempunyai manfaat tersendiri bagi ibu hamil. Tahap dan manfaat dari senam hamil
tersebut adalah :
a. Latihan aerobik
Merupakan aktifitas senam berirama, berulang, dan cukup melelahkan, maka
gerakan yang disarankan untuk ibu hamil adalah jalan-jalan, berenang, atau
bersepeda.
b. Kalistenik
Senam pada tahap ini merupakan gerakan-gerakan senam ringan berirama
yang dapat membugarkan dan mengembangkan otot-otot serta dapat
memperbaiki postur tubuh.
c. Relaksasi
Merupakan latihan pernafasan dan pemusatan perhatian.
d. Kebugaran panggul (latihan kegel)
Beberapa manfaat latihan ini adala menguatkan otot-otot vagina dan
sekitarnya sebagai persiapan persalinan, mempersiapkan diri baik fisik
maupun mental.

2.1.5 Syarat mengikuti senam hamil


Terdapat beberapa syarat yang harus diperhatikan oleh wanita hamil sebelum
mengikuti senam hamil diantaranya:
a.
b.
c.
d.

Telah dilakukan pemeriksaan kesehatan dan kehamilan oleh dokter.


Latihan dilakukan setelah kehamilan mencapai 24 minggu.
Latihan dilakukan secara teratur dan disiplin, dalam batas kemampuan fisik ibu.
Sebaiknya latihan dilakukan di rumah sakit atau klinik bersalin di bawa
pimpinan instruksi senam hamil (Nurheti, 2010).

2.1.6 Tanda dan gejala Senam hamil harus dihentikan


Ada beberapa tanda dan gejala senam hamil harus dihentikan antara lain:
a. Timbul rasa nyeri terutama nyeri dada, nyeri kepala, dan nyeri pada persendian.
6

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Kontraksi raim yang lebih sering (interval kurang dari 20mnt)


Perdaraan pervaginam, keluarnya cairan ketuban.
Napas pendek yang berlebihan.
Denyut jantung yang meningkat (>140x/mnt)
Mual dan muntah yang menetap
Kesulitan berjalan.
Pembengkakan yang menyeluruh.
Aktivitas janin yang berkurang (Poppy, 2010).

2.1.7 Larangan senam hamil


Senam hamil dapat diikuti oleh semua wanita yang hamil namun ada beberapa
larangan untuk melakukan antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Penyakit katup jantung.


DM tipe 1
Penyakit hati, penyakit ginjal
Cervix inkompeten (servix membuka)
Ketuban pecah dini
Kelainan letak placenta, riwayat perdarahan pervaginam pada trimester 2 dan

3
g. Preeklamsi, keamilan kembar
h. Kadar lemak tubu yang sangat rendah kelainan pola makan ( anoreksia,
bulemia), IUGR (Davis, 2003)
2.1.8 Parameter Senam Hamil
Senam hamil dikatakan baik apabila memenuhi beberapa parameter di bawah
ini:
a. Pelatihan senma hamil dilakukan oleh ibu hamil dengan bimbingan seorang
bidan atau dokter atau tenaga kesehatan setelah usia kehamilan minimal 24
minggu.
b. Lama pemberian latihan senam 30mnt dalam satu kali latihan, minimal 1x
seminggu sampai ibu melairkan.
c. Jumlah latihan minimal 10x dengan gerakan sesuai dengan petunjuk yang tela
ditentukan secara teratur dan intensif (Isa Ahmad, 2008)
2.1.9 Gerakan senam Hamil

1. Duduklah dengan kaki diluruskan ke depan dengan tubuh bersandar (relax)

2. Tarik jari-jari kaki kea rah tubuh secara perlahan lalu lipat ke depan
3. Lakukan sebanyak 10x
4. Tarik kedua telapak kaki kea rah tubuh secara perlahan dan dorong ke depan
Lakukan sebanyak 10x.

1. Duduklah bersila
2. Letakkan kedua telapak tangan diatas lutut
3. Tekan lutut kebawah perlahanLakukan 10x
Berbaringlah dengan posisi nyaman

1. Tidurlah terlentang dan tekuk lutut jangan terlalu lebar


2. Angkat pinggang perlahan Lakukan sebanyak 10x

1. Badan posisi merangkak


2. Sambil tarik nafas, angkat perut dan pinggang ke atas dengan wajah menghadap
ke bawah
3. Sambil perlahan-lahan mengangkat wajah, hembuskan nafas, turunkan
punggung kembali dengan perlahan
Lakukan sebanyak 10x

1.
2.
3.
4.

Tidurlah terlentang, tekuk lutut kanan


Gerakkan lutut kanan perlahan ke kanan lalu kembali
Lakukan 10x
Lakukan hal yang sama pada lutut kiri

1. Tidurlah terlentang, kedua lutut ditekuk dan menempel


2. Kedua tumit dirapatkan, kaki kiri dan kanan menempel
3. Kedua lutut digerakkan perlahan ke kiri dan kanan perlahan Lakukan sebanyak
10x

Latihan bernafas untuk persalinan:


1. Duduklah bersandar
2. Tarik nafas dari hidung dan keluarkan perlahan dari mulut
3. Relax

Latihan Mengejan:
1. Pada posisi latihan pernafasan
2. Tarik nafas perlahan-lahan sebanyak 3x dan pada hitungan ke 4 tarik nafas
2.2

kemudian tahan, lalu mengejan ke arah pantat


Pemijatan dan Senam Untuk memperlancar ASI

10

2.2.1. Pemijatan
Dapat dilakukan saat mandi, siapkan:
1. air hangat
2. baby oil
3. Handuk
4. kapas.
Langkah pemijatan:
a. Bersihkan payudara memakai air, keringkan, lalu massage memakai minyak
Lakukan pemijatan :

b. puting dibersihkan dengan menggunakan kapas dan minyak


c. bersihkan payudara dan puting memakai air
Pemijatan Puting susu masuk ke dalam

2.2.2

Senam Payudara
a. Lipat lengan ke depan dengan telapak tangan digenggam dan berada di
depan dada, gerakkan siku ke atas dan ke bawah.

11

b. Lipat lengan ke atas hingga ujung jari tengah menyentuh bahu, dalam posisi
dilipat lengan diputar dari belakang ke depan, sehingga siku-siku
bersentuhan dan mengangkat payudara lalu bernapaslah dengan lega

2.3

Pembentukan Kelompok Senam Ibu Hamil di Desa Condong

2.3.1

Pembentukan Kelompok
Puskesmas Condong memiliki wilayah kerja yang mencakup 6 desa yaitu desa

condong, desa jurang jero, desa kali acar, desa mojo legi, desa ranu wurung, desa
sumber secang. Sasaran pada mini project ini adalah desa condong yang memiliki 7
posyandu. Pembentukan kelompok dalam satu desa, dibagi menjadi 3 kelompok.
Pembentukan kelompok menurut posyandu terdekat.
2.3.2 Pembentukan Koordinator dan Sekretaris
Untuk menunjang kegiatan senam hamil agar berjalan dengan benar dan
berkesinambungan, maka diperlukan seorang koordinator dan seorang sekretaris pada
tiap kelompok senam hamil yang sudah dibentuk. Dimana dipilih dari salah satu kader
atau warga yang paling aktif.
Dalam kegiatan ini koordinator juga berperan sebagai instruktur senam hamil
yang didampingi oleh bidan desa.
2.3.3

Rencana Kegiatan
Kegiatan senam ibu hamil ini dilaksanakan seminggu satu kali dengan durasi

senam kurang lebih 30 menit. Dan kegiatan ini dapat dilaksanakan di salah satu rumah
bidan desa, kader, tempat posyandu atau puskesmas.

12

BAB III
METODE PEMILIHAN DAN PERENCANAAN INTERVENSI
3.1.

Metode
Intervensi yang dilakukan berupa pembentukan kelompok, penyuluhan,

peragaan dan sharing mengenai senam ibu hamil dan senam memperlancar ASI.
3.2

Pembentukan Kelompok
Puskesmas Condong memiliki wilayah kerja yang mencakup 6 desa yaitu desa

condong, desa jurang jero, desa kali acar, desa mojo legi, desa ranu wurung, desa
sumber secang. Sasaran pada mini project ini adalah desa condong yang memiliki 7
posyandu. Pembentukan kelompok dalam satu desa, dibagi menjadi 3 kelompok.
Pembentukan kelompok menurut posyandu terdekat.
3.2.

Sasaran
Peserta meliputi ibu hamil, kader posyandu, serta bidan desa. Peserta ini dipilih

oleh bidan desa Condong.


3.3.

Lokasi
Lokasi yang dipilih bertempat di aula pertemuan Puskesmas Condong yang

berada di desa condong.

13

3.4.

Pelaksana
Dokter Internship selaku dokter Puskesmas.

3.5.

Pelaksanaan Intervensi
Waktu : 28 Februari 2015
Instrumen

Layar LCD

Proyektor

Laptop

Leaflet

Karpet

Kegiatan:
1. Penyampaian materi dan tanya jawab tentang senam ibu hamil dan senam
memperlancar ASI.
2. Pembentukan kelompok senam ibu hamil.
3. Peragaan senam hamil dan senam untuk memperlancar ASI.
4. Doorprice untuk mengetahui tentang kepahaman materi yang telah
disampaikan.
Penyuluhan diawali dengan perkenalan. Kemudian disampaikan materi
mengenai Senam Ibu Hamil dan senam memperlancar ASI. Setelah materi
Senam Ibu Hamil dan senam memperlancar ASI, lalu dilanjutkan peragaan
mengenai Senam Ibu Hamil dan senam memperlancar ASI. Setiap penyampaian
materi diakhiri dengan sesi tanya jawab.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sharing mengenai Senam Ibu Hamil
dan senam memperlancar ASI. Kegiatan sharing dipimpin oleh MC dan diakhiri
dengan sesi tanya jawab.
3.6. Evaluasi
Evaluasi penyuluhan dilakukan melalui pertanyaan yang diberikan dan jawaban
peserta terhadap pertanyaan yang diberikan pada sesi tanya jawab.

14

BAB IV
HASIL
4.1. Profil Puskesmas Condong
Desa/Kelurahan
: Condong
Kecamatan
: Gading
Kabupaten/kota
: Probolinggo
Propinsi
: Jawa Timur
Pusat Pemerintahan
: Condong
Kode Pos
: 67292
Status Desa/Kelurahan : Pedesaan
4.2. Data Geografik Puskesmas Condong
Luas wilayah desa
: 3.003, 26 Ha
Batas wilayah desa
:
Sebelah utara
: Kecamatan Pajarakan
Sebelah timur
: Kecamatan Krucil
Sebelah selatan
: Kecamatan Tiris
Sebelah barat
: Kecamatan Condong
Luas wilayah/peruntukan lahan:
I. Tanah sawah
: 1.139 Ha
a. Irigasi teknis
: 1.139 Ha
b. Irigasi setengah teknis : c. Irigasi sederhana
:d. Tadah hujan
:e. Sawah pasang surut : II. Tanah kering
: 1.864,26 Ha
a. Pekarangan/bangunan :

15

b. Tegal/kebun
:
c. Ladang/Tanah huma : d. Ladang penggembalaan: e. Lain-lain
:
Peta Puskesmas Condong

4.3. Data Demografik Puskesmas Condong


Dusun
: 31
Rukun Warga
: 24
Rukun Tetangga
: 68
Jumlah penduduk
: 18.271 orang
Sarana perekonomian
:
Koperasi simpan pinjam
:
Toko/Kios/Warung
: 14 buah
Sarana sosial/budaya/pendidikan
:
Kantor
:6
SD /MI

:18

SLTP / MTS

:4

SMU /SMK / MA

:4

IRTP

:7

4.4. Sumber Daya Kesehatan Puskesmas Condong


Dokter umum
: 2 orang
Dokter gigi
: - orang
Perawat
: 6 orang
Perawat gigi
: 1 orang
Bidan
: 4 orang
Tenaga Kesehatan Masyarakat : 1 orang
Tenaga Sanitasi
: 1 orang

16

Analis Laboratorium
: 1 orang
Tenaga non kesehatan
: 9 orang
4.5. Sarana Pelayanan Kesehatan
Sarana pelayanan kesehatan di Desa Condong : Puskesmas Condong
4.6 Data Kesehatan Masyarakat
Pencapaian keberhasilan program kesehatan PKM Condong 2014:
a. Pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standart untuk kunjugan lengkap / K4 :
b.
c.
d.
e.
f.

98,67%
Drop out K1-K4
Persalinan oleh tenaga kesehatan
Pelayanan ibu nifas
Pelayanan komplikasi kebidanan yang di tangani
ASI Eksklusif

: 125 %
: 65 %
: 93,48%
: 125%
: 58 %

BAB V
DISKUSI
Kegiatan pembentukan dan pelaksanaan kelompok senam hamil dan senam
memperlancar ASI yang dilaksanakan di Puskesmas Condong, Kecamatan Condong
pada hari Sabtu, tanggal 28 Februari 2015 pukul 08.00 WIB berjalan cukup lancar.
Kegiatan ini diikuti oleh 20 peserta, terdiri dari bidan, kader, dan ibu hamil.
Pertama kali datang, peserta wajib melakukan registrasi kemudian diberi sebuah
kantong berisi snack ringan dan leaflet berisi materi tentang Senam Ibu hamil. Acara
dibuka dengan sambutan oleh Kepala Puskesmas Condong. Setelah itu dilanjutkan

17

dengan penyampaian materi Senam hamil, senam memperlancar ASI, dan pemijatan
payudara.
Pada setiap sesi materi, selalu diselingi sesi tanya jawab. Diberikan kesempatan
3 kali tanya jawab di setiap sesi. Peserta yang aktif bertanya adalah kader-kader
posyandu, ibu hamil. Jika pertanyaan tidak sampai 3 kali, kami memberikan pertanyaan
untuk dijawab oleh peserta. Setiap pertanyaan yang diajukan dijawab dengan baik dan
benar, seperti apa itu senam hamil, larangan ibu hamil yang melakukan senam ibu
hamil, pengertian ASI Eksklusif, memperagakan senam untuk memperlancar ASI, dan
lain-lain. Bagi peserta yang mengajukan dan menjawab pertanyaan mendapatkan
bingkisan dari kami.
Susunan acara yang terakhir adalah melakukan senam hamil dan senam
memperlancar ASI oleh semua peserta dan kader dibawah bimbingan bidan desa dan
bidan koordinator PKM Condong. Lalu setelah itu diberikan karpet dan CD tentang
senam hamil setiap kelompok kelas hamil untuk bekal dan semangat untuk melanjutkan
kegiatan senam hamil dan senam untuk memperlancar ASI. Setelah selesai melakukan
senam hamil, acara ditutup dengan doa.
Sebelum peserta meninggalkan tempat, kami melakukan foto bersama dan
pembagian doorprice. Setelah itu, para peserta pulang dengan dibekali kotak makan
siang.
Setelah pelaksanaan kegiatan hari ke-10 evaluasi yang dilakukan dengan bidan
koordinotor PKM Condong dan bidan desa condong tentang senam hamil dan senam
memperlancar ASI di desa Condong belum terlaksana karena senam hamil dijadwalkan
pada minggu ke-4 tiap bulannya. Diharapkan kegiatan ini dapat berkesinambungan
sehingga manfaat dari senam hamil dan senam untuk memperlancar ASI dapat dicapai.

18

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Pelaksanaan dan pembentukan kelompok senam hamil dan senam untuk memperlancar
ASI dilaksanakan di PKM Condong, maka didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Partisipasi masyarakat, kader, bidan pada acara ini cukup baik. Dari 27 orang
diundang ke acara ini, sebanyak 20 orang yang hadir.
2. Pelaksanaan penjelasan tentang pembentukan kelompok senam hamil dan senam
untuk memperlancar ASI berlangsung dengan lancar, peserta aktif bertanya dan
menyampaikan masukan.
19

3. Penyampaian materi mengenai senam hamil dan senam untuk memperlancar ASI
berlangsung dengan lancar, peserta aktif bertanya dan menjawab pertanyaan
yang diberikan.
4. Pembentukan kelompok senam hamil dan senam untuk memperlancar ASI
disambut antusias oleh masyarakat, kader, dan bidan desa.
5. Pada tanggal 10 Maret 2015 dilakukan evaluasi dengan bidan koordinator desa
Condong dan bidan desa mengenai kelompok senam hamil dan senam untuk
memperlancar ASI.
6.2 Saran
1. Peningkatan partisipasi masyarakat dan kader dalam senam hamil dan senam
untuk memperlancar ASI
2. Pemberian dukungan berupa moril dan materiil dalam pelaksaan kegiatan senam
hamil dan senam untuk memperlancar ASI sehingga pelaksanaannya tetap
berlanjut
3. Melakukan pelatihan kader untuk memperluas pembentukan kelompok senam
hamil dan senam untuk memperlancar ASI
4. Meningkatkan promosi kesehatan di segala aspek khususnya tentang senam
hamil dan ASI kepada masyarakat khususnya kepada ibu hamil
5. Peningkatan peranan tenaga kesehatan baik di puskesmas, posyandu, klinik
bersalin dalam memberikan penyuluhan kepada ibu hamil, ibu baru melahirkan,
dan ibu menyusui tentang ASI
DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni, Poppy. 2010, Serba-serbi Senam Hamil. Cetakan pertama, Intan Media,
Yogyakarta, pp 14-16 .
Arasta, L. D. (2010). Hubungan Pelaksanaan Rawat Gabung dengan Perilaku Ibu
dalam Memberikan ASI Eksklusif di Polindes Harapan Bunda Desa Kaligading
Kecamatan Boja Kabupaten Kendal. Diambil tanggal 5 Juli 2014 dari http://ejournal.akbid-purworejo.ac.id/index.php/jkk4/article/view/64/62
Davies, George A. et al. 2003, Exercise in Pregnancy and Postpartum Period, Joint
SOGC/CSEP Clinical Practice Guideline, pp 129.
Difiore, Judy. 2009, Pregnancy Exercise, Karisma Publishing Group, Tangerang, pp 49; 12-15.
Lewis, Beth. et al. 2009. The Effect of Exercise During Pregnancy on Maternal
Outcomes : Pratical Implications For Practice. American Journal of Lifestyle
Medicine. http://www.medscape.com/viewarticle/580466.

20

Fakultas Kedokteran Umum. 1998, Obstetri Sosial, Universitas Padjajaran, Bandung, pp


22-24.
Fikawati, S & Syafiq, A. (2010). Kajian implementasi dan kebijakan ASI Eksklusif dan
IMD di Indonesia. Diambil tanggal 5 Juli 2014 dari
http://journal.ui.ac.id/index.php/health/article/viewFile/642/627
Huliana, M. 2008, Panduan Menjalani Kehamilan Sehat, Puspa Suwito, Jakarta, pp 2526.
Isa, Ahmad Dr; Hairunnisa, Anita. 2008, Ensiklopedia Kehamilan: Panduan Lengkap
Hamil Sehat, Familia, Yogyakarta, pp 4-7.
Jafar, N. (2011). ASI Eksklusif. Diambil tanggal 5 Juli 2014 dari
http://repository.unhas.ac.id/.../ASI%20EKSKLUSIF.docx?
Maryunani, A. (2012). Inisiasi Menyusu Dini, ASI Eksklusif & Manajemen Laktasi,
Jakarta: Penerbit Trans Info Media
Prawirohardjo, S. (2009). Ilmu Kebidanan, Jakarta: P.T. Bina Pustaka Sarwono
PrawiroHardjo
Pusdiknakes. 2001, Asuhan Antenatal, Buku 2, Pusdiknakes, Jakarta, pp 4-7 .
Yuliarti, Nurheti. 2010, Panduan Lengkap Olahraga bagi Wanita Hamil dan Menyusui
Ed 1, Andi, Yogyakarta, pp 35.

21

LAMPIRAN

22

23

24

25

26

27