Anda di halaman 1dari 6

KELOMPOK 5 :

1. A.A. Gede Raka Plasa N.


2. Ni Nyoman Narayanti
3. Dewa Ayu Astina Dyah Priesty
4. Ni Wayan Venti Lunadewi
5. Desak Putu Dwi Puspaningsih

0915351128
1215351014
1215351016
1215351025
1215351042

Teori Prospek (Prospect Theory)


Prospect Theory dikembangkan oleh dua orang psikolog, Daniel Kahneman dan Amos
Tversky di awal tahun 80-an pada dasarnya mencakup dua disiplin ilmu, yaitu psikologi dan
ekonomi (psikoekonomi). Titik berangkatnya adalah pada analisis prilaku seseorang dalam
mengambil keputusan (ekonomi) di dalam dua pilihan. Dewasa ini, teori prospek yang telah
dikembangkan selama 30 tahun menjadi sangat popular terutama di kalangan para ekonom, di
samping teori utiliti yang juga digemari untuk diteliti oleh para ekonom. Sayangnya, penelitian
atau tulisan oleh para psikolog justru tidak sebanyak penelitian, eksperimen atau tulisan oleh
para ekonom. Bahkan, di tahun 2002 Kahneman memperoleh penghargaan atas teori prospek ini
di bawah kategori ilmu ekonomi.
Tidak seperti kebanyakan teori psikologi yang lain, teori prospek memiliki dasar
matematika yang sangat kuat. Hal inilah yang menyebabkan mengapa para ekonom sangat
menyukainya. Kendati demikian, tidak seperti halnya teori utiliti yang menitikberatkan pada
bagaimana keputusan seharusnya diambil dalam situasi yang tidak menentu (prescriptive
approach), teori prospek justru berfokus pada bagaimana keputusan nyata itu diambil (decriptive
approach).
Teori prospek sebenarnya sangat sederhana. Dimulai dengan penelitian Kahneman dan
Tversky terhadap prilaku manusia yang dianggap aneh dan kontradiktif dalam mengambil suatu

keputusan. Subyek penelitian yang sama diberikan pilihan yang sama namun diformulasikan
secara berbeda, dan mereka menunjukkan dua prilaku yang berbeda. Ini oleh Kahneman dan
Tversky disebut sebagai risk-aversion dan risk-seeking behavior. Contoh yang mereka
kemukakan adalah seperti ini : orang akan mau menelusuri hampir seluruh toko yang ada pada
sebuah kota agar memperoleh $5 lebih murah untuk sebuah kalkulator seharga $15, tetapi
mereka tidak akan melakukannya agar memperoleh $5 lebih murah untuk jaket seharga $125.
Di dalam teori prospek, disebutkan bahwa frame yang diadopsi seseorang dapat
mempengaruhi keputusannya, dan dalam kondisi ketidakpastian orang akan memilih pilihan
yang menghasilkan expected utility terbesar. Frame yang diadopsi sangat ditentukan oleh :
1. Formulasi masalah yang dihadapi
2. Norma dan kebiasaan, serta
3. Karakteristik para pengambil keputusan.
Hal yang sangat penting dari studi Kahneman dan Tversky adalah eksperimen mereka
yang menunjukkan bahwa sikap tentang resiko menghadapi keuntungan (gain) akan sangat
berbeda dengan sikap tentang resiko menghadapi kerugian. Contoh yang dikemukakannya sbb.:
sekelompok orang pada saat dihadapkan pada pilihan untuk pasti mendapatkan uang $1.000 atau
kurang-lebih 50 persen dari kemungkinan mendapatkan uang $2,500, ternyata orang akan lebih
memilih yang pasti yaitu sebsar $1.000. Ini adalah contoh dari perilaku risk-aversion. Akan
tetapi, kelompok orang yang sama, jika kepadanya diberikan pilihan untuk pasti rugi sebesar
$1.000 atau kurang-lebih 50 persen kemungkinan tidak akan rugi, maka mereka akan cenderung
memilih pilihan yang lebih beresiko. Ini adalah contoh risk-seeking.
Secara singkat dapat dikatakan teori prospek menunjukkan, bahwa orang akan memiliki
kecenderungan irasional untuk lebih enggan mempertaruhkan keuntungan (gain) daripada

kerugian (loss). Dalam kondisi rugi, seseorang akan cenderung lebih nekat menanggung resiko
dibandingkan pada kondisi berhasil. Seseorang akan merasakan seolah-olah nilai kekalahan
sejumlah uang tertentu dalam suatu taruhan lebih menyakitkan daripada nilai kemenangan dari
sejumlah uang yang sama, sehingga dalam situasi rugi orang lebih nekat untuk menanggung
resiko.
Teori prospek berbeda dengan teori utiliti dalam hal-hal penting berikut ini : pertama,
teori prospek menggantikan utiliti dengan nilai (value), dimana utiliti biasanya diartikan sebagai
net wealth, sedangkan nilai (value) diartikan sebagai untung atau rugi. Kedua, nilai dari kerugian
secara relatif adalah tidak sama dengan nilai dari keuntungan. Misalnya, orang akan merasa lebih
sakit jika rugi Rp.100.000,- dibandingkan dengan kegembiraan yang diperoleh saat mendapatkan
keuntungan Rp100.000,-. Dalam bahasa Kahneman dan Tversky : orang akan cenderung riskaversion pada saat menghadapi keuntungan dan risk-seeking pada saat menghadapi kerugian.
Teori prospek ini dapat dipakai untuk memotret banyak sekali fenomena prilaku manusia
di berbagai bidang kehidupan, khusunya pada proses pengambilan keputusan yang kadangkala
tidak masuk akal. Teori ini dipakai untuk mengukur (melakukan measurement perspective)
terhadap prilaku orang atau organisasi dalam mengambil keputusan, untuk melihat dengan
kacamata yang lebih jernih apakah orang atau organisasi tersebut berperilaku risk-aversion atau
risk-seeking, dan apa pula yang melatarbelakangi keputusannya itu.
Dua contoh akan diberikan untuk melengkapi teori prospek ini. Contoh pertama: Prilaku
di pasar modal atau di pasar uang. Pada saat harga saham di pasar modal naik sedikit saja, orang
akan cepat-cepat menjual saham mereka untuk mendapat keuntungan (selling fast, profit taking).
Sebaliknya, kalau harga sahamnya anjlok, orang justru akan cenderung menahan saham mereka,

tidak menjualnya, dengan harapan suatu saat harga akan membaik lagi dan tidak jadi rugi (not
selling, minimize losses). Demikian juga jika dollar menguat terhadap rupiah, orang justru akan
cenderung menyerbu money changer untuk membeli dollar (dan ini justru akan membuat rupiah
kian terpuruk). Sebaliknya, jika dollar melemah terhadap rupiah, orang akan memegang erat
rupiah-nya.
Contoh kasus kedua adalah prilaku peserta permainan who wants to be a millionaire
yang pernah disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Seorang peserta, telah
berhasil mencapai rupiah sebesar Rp25 juta setelah selangkah demi selangkah bisa menjawab
dengan benar setiap pertanyaan yang diberikan oleh presenter acara. Pada langkah menuju angka
lebih tinggi setingkat lagi, yakni Rp.30 juta, ia memutuskan berhenti dengan perolehan uang
hanya sebesar Rp.25 juta (walaupun ia tahu bahwa sesungguhnya ada peluang untuk
memperoleh dan membawa pulang uang maksimal sebesar 1 miliar rupiah!). Ia tak mau
berspekulasi atau menanggung resiko lebih besar lagi, karena kalau ia kalah karena salah
menjawab pertanyaan berikutnya, maka ia akan kembali ke Rp.1 juta.
Dari kedua kasus tersebut, terdapat perilaku yang tampak irasional. Dalam kasus saham
di atas, misalnya, justru tatkala dollar menurun kursnya terhadap rupiah, orang memilih
memegang erat dollarnya. Dalam kasus peserta who wants to be a millionaire, orang justru
merasa cukup dengan Rp.25 juta kendatipun ada peluang mendapatkan lebih dari itu, bahkan
bisa memperoleh reward puncak senilai Rp1 milliar. Apapun yang dilakukan seseorang atau
organisasi, tentu dilandasi dengan perhitungan-perhitungan yang mungkin salah satunya adalah
penerapan dari teori prospek.

Daftar Pustaka

Wilkinson Nick, 2008. An Introduction to Behavioral Economics. New York : Palgrave


Macmilan
http://forum psikologi.ugm.ac.id/index.php?topic=50.10;wap2
http://rowenasuryobroto.multiply.com\apa yang mempengaruhi keuangan anda
http://pratolo.com/2008/08/30/the-mental-accounting problem