Anda di halaman 1dari 4

Trichuris trichiura /Trichocephalus dispar (Cacing Cambuk)

Trichuris trichiura (cacing cambuk) adalah salah satu cacing penyebab penyakit cacingan pada
manusia.Cacingan merupakan penyakit yang endemik dan kronik. Tidak mematikan, tetapi
mengganggu kesehatan tubuh manusia dan dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Pada parasit ini sangat merugikan bagi kesehatan manusia terutama pada anak-anak dikarenakan dapat
merusak motorik anak tersebut.
B. TUJUAN PENULISAN
Tujuan Umum
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Mikrobiologi.
Tujuan Khusus
Untuk mengetahui apa itu parasit Trichuris trichiura
Untuk mengetahui morfologi parasit Trichuris trichiura
Untuk mengetahui penyakit yang disebabkan oleh Trichuris trichiura
Untuk mengetahui dampak kesehatan bagi anak-anak dari parasit Trichuris trichiura
Untuk mengetahui penyembuhan dari penyakit yang disebabkan oleh parasit Trichuris trichiura
C. RUMUSAN MASALAH
Apa definisi dari parasit Trichuris trichiura?
Bagaimana morfologi dari parasit Trichuris trichiura?
Penyakit apa saja yang timbul akibat parasit Trichuris trichiura?
Dampak apa yang timbul akibat parasit Trichuris trichiura?
Penanganan apa saja bila terinfeksi oleh parasit Trichuris trichiura?
D. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
Bab I. Pendahuluan, berisi pendahuluan yang menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah,
maksud dan tujuan, sistematika penulisan, metode penulisan.
Bab II. Pembahasan, berisi pembahasan yang menjelaskan tentang parasit Trichuris Trichiura
Bab III. Penutup, berisi kesimpulan, dan saran.
E. METODE PENULISAN
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan studi kepustakaan. Studi
kepustakaan adalah suatu metode pengumpulan data dengan cara mencari, mengumpulkan, dan
mempelajari materi-materi dari buku maupaun dari media informasi lainnya dalam hal ini yang
berkaitan dengan parasit Trichuris trichiura
BAB 2
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN
Cacing Cambuk. Dalam bahasa latin cacing cambuk disebut Trichuris trichiura. Nama penyakit yang
ditimbulkannya disebut trikuriasis.
Trichuris trichiura (cacing cambuk) adalah salah satu cacing penyebab penyakit cacingan pada
manusia.Cacingan merupakan penyakit yang endemik dan kronik. Tidak mematikan, tetapi
mengganggu kesehatan tubuh manusia dan dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
B. MORFOLOGI
Cacing betina panjangnya hingga mencapai kira-kira 5 cm, sedangkan untuk cacing jantan kira-kira 4
cm. pada bagian anterior dari cacing ini memiliki seperti cambuk yang panjangnya 3/5 dari panjang
tubuh cacing ini. Bagian posterior cacing ini bentuknya lebih gemuk, sedangkan pada cacing betina
bentuknya membulat dan tumpul. Pada cacing jantan melingkar dan terdapat satu spikulum. Hidup
cacing ini pada manusia terdapat di colon asendens dan sekumdengan bagian anteriornya yang seperti
cambuk masuk ke dalam mukosa usus.
Cacing betina dapat menghasilkan telur setiap harinya hingga berkisar antara 3000-10.000 butir. Telur
berukuran 50-54 mikron x 32 mikron, yang memiliki bentuk seperti tempayan dengan semacam
penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Kulit telur bagian luar berwarna kekuning-kuningan dengan
bagian dalamnya yang jernih. Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes dari tinja hospes. Telur akan
menjadi matang setelah 3 6 minggu pada kondisi lingkungan yang sesuai pada tanah dan lembab
serta daerah yang teduh. Telur yang matang merupakan telur yang didalamnya berisi larva dan
merupakan bentuk infektifnya. Cara infektif langsung hanya bila secara kebetulan hospes tertelan telur
matang. Larva keluar melalui dinding telur dan kemudian akan masuk ke dalam usus halus. Setelah
cacing ini dewasa maka cacing ini akan turun ke usus bagian distal dan akan masuk kedalam kolon
yaitu terutama sekum. Jadi cacing ini tidak mempunyai siklus paru. Lamanya waktu yang dibutuhkan
telur ini tumbuh dari telur ini tertelan sampai cacing dewasa betina meletakkan telur kira-kira 30-90
hari.
C. PENYAKIT YANG TIMBUL AKIBAT INFEKSI PARASIT Trichuris trichiura
Cacing trichuris trichiura pada manusia terutama hidup didaerah sekum dan kolon asendens. Pada
infeksi berat terutama pada anak-anak cacing trichuris trichiura ini tersebar diseluruh kolon dan rectum
yang kadang-kadang terlihat terlihat dimukosa rectum yang mengalami prolapsus akibat dari
mengejannya penderita pada waktu melakukan defekasi.
Cacing trichuris trichiura ini memasukan kepalanya dalam mukosa usus hingga dapat menjadi trauma
yang menimbulkan iritasi dan dapat mengakibatkan peradangan dimukosa usus, selain itu akibatnya
dapat menimbulkan perdarahan. Selain itu juga cacing ini menghisap darah dari hospes sehingga dapat
mengakibatkan anemia. Untuk penderita pada anak-anak dengan infeksi trichuris trichiura yang berat
dan menahunmenunjukan gejala-gejala diare yang dapat diselinggi dengan sindrom disentri, anemia,
nyeri ulu hati, berat badan menurun dan kadang- Kadang rektum menonjol melewati anus (prolapsus
rektum), terutama pada anak-anak atau wanita dalam masa persalinan, selain itu juga dapat

menyebabkan peradangan usus buntu (apendisitis).


Pada tahun 1976, bagian parasitologi FKUI telah melaporkan 10 anak dengan trichuris trichiura berat
mengakibatkan diare yang menahun, dapat hingga 2-3 tahun. Infeksi berat trichuris trichiura dapat
diselinggi dengan infeksi cacing yang lainnya atau protozoa. Infeksi ringan tidak memberikan gejala
klinis yang jelas hingga tidak terdapat gejala klinis sama sekali hingga harus dilakukan pemeriksaan
tinja secara rutin.
Selain itu juga Telah dilakukan suatu pemeriksaan tinja dengan metoda langsung, pengapungan dan
sedimentasi yang bertujuan untuk mengetahui metoda yang paling sensitif dalam mendeteksi adanya
telur cacing. Penelitian dilakukan atas murid-murid Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Alhidayah Sukatani
bulan Juni-Juli 1992, dengan jumlah seluruh sampel 130. Hasil menunjukkan bahwa metoda yang
paling tinggi sensitifitasnya adalah metoda sedimentasi, lalu metoda pengapungan dan yang paling
rendah adalah metoda langsung. Untuk kasus trichuris trichiura didapatkan sebanyak 20,8%.
D. DAMPAK KESEHATAN DARI PARASIT Trichuris trichiura
Untuk mengambil makanan cacing Trichuris trichiura memasukkan tubuh bagian interiornya ke dalam
mukosa usus hospes. Cacing ini dapat hidup beberapa tahun di dalam usus manusia (Faust et al, 1990).
Kerusakan mekanik pada bagian kolon disebabkan oleh kepala cacing yang masuk ke dalam epitel,
tidak dijumpai peradangan kolon yang difus, apabila terjadi disentri, mukosa menjadi sembab dan
rapuh.
Dalam masyarakat, infeksi cacing T. trichiura dengan gejala ringan tidak banyak menimbulkan
perhatian. Pada infeksi berat dengan diare yang terus menerus dengan darah di dalam tinja. Adanya
kasus diare yang sedang berlangsung selama berbulan-bulan menyebabkan pertumbuhan anak tidak
memuaskan, berat badan berkurang dan tidak sesuai dengan umur (Margono, 2001).
Pada kasus infeksi berat, dapat menimbulkan intoksikasi sistemik dan di ikuti anemia yang dapat
menyertai infeksi dengan kadar Hb 3 mg per 100 ml darah. Rupanya cacing ini juga mengisap darah
hospes, perdarahan dapat terjadi pada tempat melekatnya, kira-kira 0,005 ml darah setiap hari terbuang
akibat di isap oleh se ekor cacing ini (Brown, 1993). Berbagai gangguan tersebut di atas, ternyata
dapat mengakibatkan pula gangguan kognitif secara tidak langsung. Dilaporkan oleh Hadidjaya (1996)
bahwa gangguan kognitif bisa terjadi secara langsung, ia menemukan terdapat hubungan kausal antara
infeksi cacing Ascaris lumbricoides dengan fungsi kognitif. Penelitian Nokes, dkk. (1998) melakukan
tes kognitif terhadap anak-anak usia sekolah (9-12 tahun) yang terinfeksi cacing Trichuris trichiura
dari sedang sampai berat. Hasil tes menunjukkan penurunan kandungan cacing cenderung secara
bermakna dapat meningkatkan daya ingat dan pendengaran. Jadi ada hubungan kausal antara anak usia
sekolah yang terinfeksi cacing dengan kemampuan kognitifnya.
Mohammad (2004) menggunakan TONI-tes (tes non verbal intelligence) untuk melihat gangguan
fungsi kognitif anak-anak yang terinfeksi cacing Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura dari
sedang sampai berat pada anak-anak Sekolah Dasar di daerah pedesaan Trengganu (Malaysia),
ternyata intensitas penyakit cacingan tersebut mempunyai pengaruh bermakna terhadap kemampuan
anak dalam memecahkan masalah.

Di Indonesia prevalensi infeksi A. lumbricoides 71 %, T. trichiura 80 % dan Cacing tambang 40 %


pada anak-anak Sekolah Dasar. Adanya gangguan kognitif secara langsung maupun tidak langsung
pada penderita infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah, menunjukkan bahwa mutu sumber daya
manusia di Indonesia paling sedikit 65 % terganggu. Upaya pemberantasan penyakit cacingan secara
berkesinambungan, dapat menurunkan bahkan mungkin menghilangkan sama sekali infeksi cacing di
masyarakat. Dengan upaya ini diharapkan mutu sumber daya manusia masyarakat Indonesia dapat
ditingkatkan.
E. PENANGANAN INFEKSI PARASIT Trichuris trichiura
Untuk infeksi ringan tidak memerlukan pengobatan. Untuk pemberian obat tiabendazol dan ditiazin
tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan. Saat ini obat yang digunakan yaitu mebendazol,
albendazol, dan oksantel pamoat dapat mengobati dan didapatkan hasil yang cukup memuaskan.
Pengobatan dengan Mebendazol tidak boleh diberikan kepada wanita hamil karena bisa
membahayakan janin yang dikandungnya.
Penggunaan farmakologi untuk pengobatan infeksi T.trichiura antara lain:
Mebendazol
Bentuk sediaan : tablet, sirup 100 mg/ 5ml (botol 30 ml)
Cara kerja obat : memiliki khasiat sebagai obat kecacingan yang mempunyai jangkauan luas terhadap
cacing-cacing parasit.
Aturan pemakaian : 100 mg, 2 kali sehari selama3 hari
Efek yang tidak diinginkan : kadang-kadang terjadi nyeri perut, diare, sakit kepala, demam, gatalgatal, ruam kulit
Tidak boleh digunakan pada anak-anak balita dan wanita hamil.
Albendazol; dosis tunggal 400 mg
Oksantel pirantel pamoat; dosis tunggal 10-15 mg/kgBB