Anda di halaman 1dari 19

PRESENTASI KASUS

Mioma Intraligamentary

Disusun oleh:
Sausan Rasmiyyah
1102011255

PEMBIMBING
Dr. Ahmad Helmy, Sp.OG

KEPANITERAAN OBSTETRI DAN GYNEKOLOGI


RSUD PASAR REBO JAKARTA
12 Oktober 20 Desember 2015
LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS PASIEN

Nama
Umur
Pekerjaan
Pendidikan
Agama
Alamat
Tanggal masuk
Tanggal pemeriksaan

: Ny. SH
: 48 tahun
: Ibu Rumah Tangga
: SMP
: Islam
: Jl. Gg. Cikago Cipayung No.41 RT 01/RW 06, Cipayung
: 12 Oktober 2015
: 13 Oktober 2015

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara: Autoanamnesa
Keluhan Utama
: Nyeri saat haid selama 1 minggu SMRS.
III.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang ke RSUD PS Rebo tanggal 10 September 2015 dengan keluhan
nyeri saat haid, selama sudah kurang lebih 6 tahun belakangan. Nyeri saat haid dirasa
makin memberat sejak 2 tahun belakangan ini Nyeri terasa di perut bagian bawah dan
ter kadang terasa sampai ke pinggang, dan 1 minggu ini mulai kambuh lagi. Riwayat
haid teratur. Mulai tidak teratur 2 bulan yang lalu.

IV.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


- Riwayat Hipertensi (+)
- Riwayat Diabetes Melitus (-)
- Riwayat Asma (-)
- Riwayat alergi obat (-)

V. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


- Riwayat Hipertensi (+)
- Riwayat Diabetes Melitus (-)
- Riwayat Asma (-)

VII.

RIWAYAT MENSTRUASI
a. Haid pertama
: 13 tahun
b. Siklus haid
: Teratur
c. Lama haid
: 6-7 hari

VIII. RIWAYAT KONTRASEPSI


Pasien tidak menggunakan alat kontrasepsi sejak 12 tahun lalu.
IX.

STATUS GENERALIS
Keadaan

Kesadaran

Tekanan

FN

RR

Suhu

Umum
TSS

Compos

Darah
130/70

86x/menit

24x/menit

36,3o C

Mentis

mmHg

X. PEMERIKSAAN FISIK
1. Kepala: Normocephal
2. Mata: Conjunctiva anemis +/+ . Sklera ikterik -/3. Leher: Trakea berada di tengah, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
4. Payudara: Tidak menonjol, dalam batas normal. Tidak keluar colostrum.
5. Thorax:
a. Paru-paru:
Inspeksi: Bentuk dada normal, pergerakan dinding dada dalam keadaan

statis dan dinamis simetris.


Palpasi: Fremitus taktil dan vocal kanan dan kiri simetris, tidak teraba

masa.
Perkusi: Sonor di seluruh lapang paru.
Auskultasi: Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/b. Jantung:
Inspeksi: Iktus cordis tidak terlihat.
Palpasi: Iktus cordis teraba.
Perkusi: Batas jantung dalam batas normal.
Auskultasi: BJ I/II normal, murmur (-), gallop (-)
6. Abdomen
:
Buncit
Tidak terdapat linea nigra
Striae gravidarum (-)
Bising usus (+)
7. Genitalia
: Terdapat sekat pada vagina dan dua porsio
8. Extremitas :
Akral hangat ++/++
Edema --/-XI.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium: 11 September 2015


Hematologi
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Eritrosit
Trombosit
Hitung Jenis
Basofil
Eosinofil

Hasil
9,6
30
10,39
4,6
312
0
2

Nilai

Satuan

Rujukan
11.7 - 15.5
32 47
3.6 11
3.8 - 5.2
150 440
0-1
1-3

g/dL
%
103/L
juta/L
ribu/L
%
%

Netrofil batang
Netrofil segmen
Limfosit
Monosit
LUC
Masa Perdarahan (BT)
Masa Pembekuan (CT)
Kimia Klinik
SGOT (AST)
SGPT (ALT)
Ureum Darah
Kreatinin Darah
eGFR

0
70
22
4
2
4,30
12,30

3-5
50-70
25-40
2-8
<4
1-6
10-15

%
%
%
%
%
menit
menit

13
14
19
0,66
101,2

0-35
0-35
20-40
0,35 0,93

U/L
U/L
mg/dL
mg/dL
mL/min/1,73m
2

Glukosa Darah Sewaktu


Hepatitis Marker
HBsAg

138

<200

< 0,10

< 0,99

mg/dL

USG : 10 Oktober 2015


Kista pada ovarium 11,31 cm x 9,13 cm
XII.

DIAGNOSA

PRA

OPERASI
Kista Ovarium
XIII. PENATALAKSANAAN
Laparatomy dan Histerektomi
Salphingo-Oovorektomi
Bilateral
XIV. LAPORAN
PEMBEDAHAN
XV. PROGNOSIS
a. Quo ad vitam

ad

ad

bonam
c. Quo ad sanationam :

ad

bonam
b. Quo as functionam

bonam

TINJAUAN PUSTAKA
MIOMA INTRALIGAMENTARY

A. Definisi
Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos yang terdiri dari sel-sel jaringan otot
polos, jaringan fibroid dan kolagen. Beberapa istilah untuk mioma uteri antara lain
fibromioma, miofibroma, leiomiofibroma, fibroleiomioma, fibroma dan fibroid.
B. Epidemiologi
Mioma uteri terjadi pada 20-25% perempuan di usia reproduktif, tetapi oleh faktor
yang tidak diketahui secara pasti. Insidensinya 3-9 kali lebih banyak pada ras kulit
berwarna dibandingkan dengan ras kulit putih.
C. Etiologi
Penyebab pasti mioma uteri tidak diketahui secara pasti. Mioma jarang sekali
ditemukan sebelum usia pubertas, sangat dipengaruhi oleh hormone reproduksi, dan hanya
bermanifestasi selama usia reproduktif. Umumnya mioma terjadi di beberapa tempat.
Faktor yang diduga berperan untuk inisiasi pada perubahan genetik pada mioma
uteri adalah abnormalitas intrinsik pada miometrium, peningkatan reseptor estrogen secara
kongenital pada miometrium, perubahan hormonal, atau respon kepada kecederaan
iskemik ketika haid. Setelah terjadinya mioma uteri, perubahan-perubahan genetik ini akan
dipengaruhi oleh promoter (hormon) dan efektor (growth factors).
D. Faktor Risiko
Tidak didapat bukti bahwa hormon estrogen berperan sebagai penyebab mioma,
namun diketahui estrogen berpengaruh dalam pertumbuhan mioma. Mioma terdiri dari
reseptor estrogen dengan konsentrasi yang lebih tinggi dibanding dari miometrium
sekitarnya namun konsentrasinya lebih rendah dibanding endometrium. Hormon
progesteron meningkatkan aktifitas mitotik dari mioma pada wanita muda namun

mekanisme dan faktor pertumbuhan yang terlibat tidak diketahui secara pasti. Progesteron
memungkinkan pembesaran tumor dengan cara down-regulation apoptosis dari tumor.
Estrogen berperan dalam pembesaran tumor dengan meningkatkan produksi matriks
ekstraseluler. Mioma tumbuh cepat saat penderita hamil atau terpapar estrogen dan
mengecil atau menghilang setelah menopause.
1. Usia penderita
2. Hormon endogen (Endogenous Hormonal)
Mioma uteri sangat sedikit ditemukan pada spesimen yang diambil dari hasil
histerektomi wanita yang telah menopause, diterangkan bahwa hormon esterogen
endogen pada wanita-wanita menopause pada kadar yang rendah atau sedikit. Awal
menarche (usia di bawah 10 tahun) dijumpai peningkatan resiko dan menarche setelah
16 tahun menurunkan resiko untuk menderita mioma uteri.
3.Riwayat Keluarga
Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri
mempunyai peningkatan 2,5 kali kemungkinan risiko untuk menderita mioma uteri
dibanding dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri. Penderita mioma
yang mempunyai riwayat keluarga penderita mioma uteri mempunyai 2 kali lipat
kekuatan ekspresi dari VEGF- (a myoma-related growth factor) dibandingkan dengan
penderita mioma yang tidak mempunyai riwayat keluarga penderita mioma uteri.
4. Berat Badan
Risiko menderita mioma uteri adalah setinggi 21% untuk setiap kenaikan 10kg
berat badan dan dengan peningkatan indeks massa tubuh. Temuan yang sama juga turut
dilaporkan untuk wanita dengan 30% kelebihan lemak tubuh. Ini terjadi kerana obesitas
menyebabkan pemingkatan konversi androgen adrenal kepada estrone dan menurunkan
hormon sex-binding globulin. Hasilnya menyebabkan peningkatan estrogen secara
biologikal yang bisa menerangkan mengapa terjadi peningkatan prevalensi mioma uteri
dan pertumbuhannya.
5.Diet
Ada studi yang mengaitkan dengan peningkatan terjadinya mioma uteri dengan
makanan seperti daging sapi atau daging merah atau ham bisa meningkatkan insidensi
mioma uteri dan sayuran hijau bisa menurunkannya. Studi ini sangat sukar untuk
diintepretasikan kerana studi ini tidak menghitung nilai kalori dan pengambilan lemak

tetapi sekadar informasi sahaja dan juga tidak diketahui dengan pasti apakah vitamin,
serat atau phytoestrogen berhubung dengan mioma uteri
E. Klasifikasi
Mioma dapat tumbuh disetiap bagian dari dinding uterus.
1. Mioma intramural/interstisial
Mioma yang terdapat didalam dinding uterus, berkembang di antara myometrium.
2. Mioma submukosum
Merupakan mioma yang terdapat pada sisi dalam dari kavum uteri dan terletak dibawah
endometrium. Pengaruhnya pada vaskularisasi dan luas permukaan endometrium
menyebabkan terjadinya perdarahan irregular. Mioma jenis ini dapat bertangkai panjang
sehingga dapat keluar melalui osteum serviks. Yang harus diperhatikan dalam
menangani mioma bertangkai adalah kemungkinan terjadinya torsi dan nekrosis
sehingga risiko infeksi sangatlah tinggi.
3. Mioma subserous
Mioma yang terletak di permukaan serosa dari uterus dan mungkin akan menonjol
keluar dari miometrium. Mioma subserosa juga dapat menjadi parasite omentum atau
usus untuk vaskularisasi tambahan bagi pertumbuhannya.
a. Mioma subserous tidak jarang bertangkai dan menjadi mioma geburt.
b. Bila mioma subserous tumbuh ke arah lateral dan meluas diantara 2 lapisan
peritoneal dari ligamentum latum akan menjadi mioma intraligamenter

F. Karakteristik
Mioma uteri umumnya bersifat multiple, berlobus yang tidak teratur maupun
berbentuk sferis. Mioma uteri biasanya berbatas jelas dengan miometrium sekitarnya,
sehingga pada tindakan enukleasi (pengelupasan) mioma dapat dilepaskan dengan mudah
dari jaringan miometrium disekitarnya. Pada pemeriksaan makroskopis dari potongan
transversal berwarna lebih pucat dibanding miometrium disekelilingnya, relative bulat,
berbentuk lingkaran, kenyal, berdinding licin, halus, dan biasanya lebih keras dibanding
jaringan sekitar, dan terdapat pseudocapsule. Dan apabila dibelah bagian dalamnya, akan
menonjol keluar sehingga mengesankan bahwa permukaan luarnya adalah kapsul.
G. Patogenesis
Etiologi yang pasti terjadinya mioma uteri sampai saat ini belum diketahui. Stimulasi
estrogen diduga sangat berperan untuk terjadinya mioma uteri. Hipotesis ini didukung oleh
adanya mioma uteri yang banyak ditemukan pada usia reproduksi dan kejadiannya rendah
pada usia menopause. Ichimura mengatakan bahwa hormon ovarium dipercaya
menstimulasi pertumbuhan mioma karena adanya peningkatan insidennya setelah menarke.
Pada kehamilan pertumbuhan tumor ini makin besar, tetapi menurun setelah menopause.
Perempuan nulipara mempunyai resiko yang tinggi untuk terjadinya mioma uteri,
sedangkan perempuan multipara mempunyai resiko relatif menurun untuk terjadinya
mioma uteri.

Pukka dan kawan-kawan melaporkan bahwa jaringan mioma uteri lebih banyak
mengandung reseptor estrogen jika dibandingkan dengan miometrium normal.
Pertumbuhan mioma uteri bervariasi pada setiap individu. Perbedaan ini berkaitan dengan
jumlah reseptor estrogen dan reseptor progesteron. Meyer dan De Snoo mengemukakan
patogenesis mioma uteri dengan teori Cell nest atau genitoblas. Pendapat ini lebih lanjut
diperkuat oleh hasil penelitian Miller dan Lipschutz yang mengatakan bahwa terjadinya
mioma uteri bergantug pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada Cell nest

yang

selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh estrogen.


H. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala dari mioma uteri hanya terjadi pada 35 50% pasien. Gejala yang
disebabkan oleh mioma uteri tergantung pada lokasi, ukuran dan jumlah mioma. Gejala
dan tanda yang paling sering adalah :
1. Perdarahan uterus yang abnormal.
Perdarahan uterus yang merupakan gejala klinis yang paling sering terjadi dan
paling penting. Gejala ini terjadi pada 30% pasien dengan mioma uteri. Wanita dengan
mioma uteri mungkin akan mengalami siklus perdarahan haid yang teratur dan tidak
teratur. Menorrhagia dan atau metrorrhagia sering terjadi pada penderita mioma uteri.
Perdarahan abnormal ini dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.
Pada suatu penelitian yang mengevaluasi wanita dengan mioma uteri dengan
atau tanpa perdarahan abnormal, didapat data bahwa wanita dengan perdarahan
abnormal secara bermakna menderita mioma intramural (58% banding 13%) dan
mioma submukosum (21% banding 1%) dibanding dengan wanita penderita mioma
uteri yang asimptomatik.
Perdarahan submukosa seringkali diakibatkan oleh hambatan pasokan darah
endometrium, tekanan, dan bendungan pembuluh darah di area tumor (terutama vena)
atau ulserasi endometrium di atas tumor. Tumor bertangkai seringkali menyebabkan
thrombosis vena dan nekrosis endometrium akibat tarikan dan infeksi (vagina dan
kavum uteri terhubung oleh tangkai yang keluar dari osteum serviks).
Patofisiologi perdarahan uterus yang abnormal yang berhubungan dengan
mioma uteri masih belum diketahui dengan pasti. Beberapa penelitian menerangkan
bahwa adanya disregulasi dari beberapa faktor pertumbuhan dan reseptor- reseptor yang
mempunyai efek langsung pada fungsi vaskuler dan angiogenesis. Perubahan-perubahan

ini menyebabkan kelainan vaskularisasi akibat disregulasi struktur vaskuler didalam


uterus.

2. Nyeri panggul
Mioma uteri dapat menimbulkan nyeri panggul yang disebabkan oleh karena
degenerasi akibat oklusi vaskuler, infeksi, torsi dari mioma yang bertangkai maupun
akibat kontraksi miometrium yang disebabkan mioma subserosum. Tumor yang besar
dapat mengisi rongga pelvik dan menekan bagian tulang pelvik yang dapat menekan
saraf sehingga menyebabkan rasa nyeri yang menyebar ke bagian punggung dan
ekstremitas posterior.
3. Penekanan
Pada mioma uteri yang besar dapat menimbulkan penekanan terhadap organ
sekitar. Penekanan mioma uteri dapat menyebabkan gangguan berkemih, defekasi
maupun dispareunia. Tumor yang besar juga dapat menekan pembuluh darah vena pada
pelvik sehingga menyebabkan kongesti dan menimbulkan edema pada ekstremitas
posterior. Mioma intramural sering dikaitkan dengan penekanan terhadap organ sekitar.
Parasitic mioma menyebabkan obstruksi saluran cerna perlekatannya dengan omentum
menyebabkan strangulasi usus. Mioma serviks dapat menyebabkan secret serosanguinea
vaginal, perdarahan, dyspareunia, dan infertilitas.
4. Disfungsi reproduksi
Hubungan antara mioma uteri sebagai penyebab infertilitas masih belum jelas.
Dilaporkan sebesar 27 40% wanita dengan mioma uteri mengalami infertilitas. Mioma
yang terletak didaerah kornu dapat menyebabkan sumbatan dan gangguan transportasi
gamet dan embrio akibat terjadinya oklusi tuba bilateral. Mioma uteri dapat
menyebabkan gangguan kontraksi ritmik uterus yang sebenarnya diperlukan untuk
motilitas sperma didalam uterus. Perubahan bentuk kavum uteri karena adanya mioma
dapat menyebabkan disfungsi reproduksi. Gangguan implantasi embrio dapat terjadi

10

pada keberadaan mioma akibat perubahan histologi endometrium dimana terjadi atrofi
karena kompresi massa tumor.

5. Dismonerrea
Disebabkan oleh efek tekanan, kompresi, termasuk hipoksia lokal myometrium.
I. Penegakkan Diagnosis
1) Anamnesis
Dalam anamnesis, dicari keluhan utama serta gejala-gejala mioma uteri lainnya, faktor
resiko serta kemungkinan komplikasi yang terjadi pada penderita yang hamil. Seringkali
penderita mengeluh akan rasa berat dan adanya benjolan pada perut bagian bawah.
a) Timbul benjolan di perut bagian bawah dalam waktu yang relatif lama.
b) Kadang-kadang disertai gangguan haid ( biasanya haid memanjang jika ukuran
mioma sudah besar)
c) Buang air kecil atau buang air besar (biasa terjadi jika ukuran mioma cukup besar dan
menekan kandung kemih)
d) Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir, pecah.
e) Nyeri, terutama saat menstruasi.
f) Adanya perdarahan abnormal
g) Adanya rasa penuh pada perut bagian bawah dan tanda massa yang padat kenyal.
2) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan status lokalis dengan palpasi abdomen. Kadang, mioma uteri dapat diduga
dengan pemeriksaan luar sebagai tumor yang keras, bentuk tidak teratur, gerakan bebas,
tidak sakit. Bila belum jelas, terutama pada wanita gemuk, dapat dilakukan pemeriksaan
bimanual. Hampir kebanyakan mioma uteri dapat didiagnosa melalui pemeriksaan
bimanual rutin maupun dari palpasi abdomen bila ukuran mioma yang besar. Diagnosa
semakin jelas bila pada pemeriksaan bimanual diraba permukaan uterus yang berbenjol
akibat penonjolan massa maupun adanya pembesaran uterus.

11

a) Palpasi: didapatkan tumor di abdomen bagian bawah, Konsistensi padat, kenyal,


mobil,
permukaan tumor umumnya rata.
b) Pemeriksaan ginekologik: dengan pemeriksaan bimanual didapatkan tumor tersebut
menyatu dengan rahim atau mengisi kavum Douglas
3) Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium.
Akibat yang sering terjadi pada mioma uteri adalah anemia. Hal ini akibat
perdarahan uterus yang berlebihan dan kekurangan zat besi. Namun, pada
kebanyakan pasien akan terjadi mekanisme eritrositosis. Pada kasus dengan
komplikasi menjadi degenerasi akut atau infeksi akan ditemukan leukositosis
b. Imaging.
Pemeriksaan dengan USG akan didapatkan gambaran massa padat dan homogen
pada uterus. Mioma uteri berukuran besar terlihat sebagai massa pada abdomen
bawah dan pelvis, dan kadang terlihat tumor dengan kalsifikasi.
Histerosalfingografi digunakan untuk mendeteksi mioma uteri yang tumbuh kearah
kavum uteri pada pasien infertil.
Urografi intravena digunakan pada kasus massa di pelvis sebab pada kasus tersebut
sering terjadi deviasi ureter atau penekanan dan anomali sistem urinarius. Cara ini
baik untuk mengetahui posisi, jumlah ureter dan ginjal.
MRI lebih akurat untuk menentukan lokasi, ukuran, jumlah mioma uteri, namun
biaya pemeriksaan menjadi lebih mahal.
J. Tatalaksana
Secara umum penatalaksanaan mioma uteri dibagi atas 2 metode :
1. Terapi medikamentosa (hormonal)
Saat ini pemakaian Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) agonis
memberikan hasil untuk memperbaiki gejala-gejala klinis yang ditimbulkan oleh mioma
uteri. Pemberian GnRH agonis bertujuan untuk mengurangi ukuran mioma dengan jalan
mengurangi produksi estrogen dari ovarium. Dari suatu penelitian multisenter didapati
data pada pemberian GnRH agonis selama 6 bulan pada pasien dengan mioma uteri
didapati adanya pengurangan volume mioma sebesar 44%. Efek maksimal pemberian

12

GnRH agonis baru terlihat setelah 3 bulan. Pada 3 bulan berikutnya tidak terjadi
pengurangan volume mioma secara bermakna.
Pemberian GnRH agonis sebelum dilakukan tindakan pembedahan akan
mengurangi vaskularisasi pada tumor sehingga akan memudahkan tindakan
pembedahan.
Terapi hormonal lainnya seperti kontrasepsi oral dan preparat progesteron akan
mengurangi gejala perdarahan uterus yang abnormal namun tidak dapat mengurangi
ukuran dari mioma.
2. Terapi Pembedahan
Terapi pembedahan pada mioma uteri dilakukan terhadap mioma yang
menimbulkan gejala. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists
(ACOG) dan American Society for Reproductive Medicine (ASRM) indikasi
pembedahan pada pasien dengan mioma uteri adalah :
1. Perdarahan uterus yang tidak respon terhadap terapi konservatif.
2. Sangkaan adanya keganasan.
3. Pertumbuhan mioma pada masa menopause.
4. Infertilitas karena gangguan pada cavum uteri maupun karena oklusi tuba.
5. Nyeri dan penekanan yang sangat menganggu.
6. Gangguan berkemih maupun obstruksi traktus urinarius.
7. Anemia akibat perdarahan.
Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah miomektomi maupun histerektomi.
a. Miomektomi
Miomektomi sering dilakukan pada wanita yang ingin mempertahankan
fungsi reproduksinya dan tidak ingin dilakukan histerektomi. Dewasa ini ada
beberapa pilihan tindakan untuk melakukan miomektomi, berdasarkan ukuran dan
lokasi dari mioma. Tindakan miomektomi dapat dilakukan dengan laparotomi,
histeroskopi maupun dengan laparoskopi. Pada laparotomi, dilakukan insisi pada
dinding abdomen untuk mengangkat mioma dari uterus.
Keunggulan melakukan miomektomi adalah lapangan pandang operasi yang
lebih luas sehingga penanganan terhadap perdarahan yang mungkin timbul pada
pembedahan miomektomi dapat ditangani dengan segera. Namun pada miomektomi
secara laparotomi resiko terjadi perlengketan lebih besar, sehingga akan

13

mempengaruhi faktor fertilitas pada pasien. Disamping itu masa penyembuhan paska
operasi juga lebih lama, sekitar 4 6 minggu.
Pada

miomektomi

secara

histeroskopi

dilakukan

terhadap

mioma

submukosum yang terletak pada kavum uteri. Pada prosedur pembedahan ini,
memasukkan alat histeroskop melalui serviks dan mengisi kavum uteri dengan cairan
untuk memperluas dinding uterus. Alat bedah dimasukkan melalui lubang yang
terdapat pada histeroskop untuk mengangkat mioma submukosum yang terdapat
pada kavum uteri. Keunggulan tehnik ini adalah masa penyembuhan paska operasi (2
hari). Komplikasi operasi yang serius jarang terjadi namun dapat timbul perlukaan
pada dinding uterus, ketidakseimbangan elektrolit dan perdarahan.
Miomektomi juga dapat dilakukan dengan menggunakan laparoskopi. Mioma
yang bertangkai diluar kavum uteri dapat diangkat dengan mudah secara laparoskopi.
Mioma subserosum yang terletak didaerah permukaan uterus juga dapat diangkat
secara laparoskopi. Tindakan laparoskopi dilakukan dengan ahli bedah memasukkan
alat laparoskop kedalam abdomen melalui insisi yang kecil pada dinding abdomen.
Keunggulan laparoskopi adalah masa penyembuhan paska operasi yang lebih cepat
antara 2 7 hari.
Resiko yang terjadi pada pembedahan laparoskopi termasuk perlengketan,
trauma terhadap organ sekitar seperti usus, ovarium, rektum serta perdarahan.
Sampai saat ini miomektomi dengan laparoskopi merupakan prosedur standar bagi
wanita dengan mioma uteri yang masih ingin mempertahankan fungsi reproduksinya.
b. Histerektomi
Tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus dapat dilakukan dengan 3
cara yaitu dengan pendekatan abdominal (laparotomi), vaginal, dan pada beberapa
kasus secara laparoskopi. Tindakan histerektomi pada mioma uteri sebesar 30% dari
seluruh kasus. Tindakan histerektomi pada pasien dengan mioma uteri merupakan
indikasi bila didapati keluhan menorrhagia, metrorrhagia, keluhan obstruksi pada
traktus urinarius dan ukuran uterus sebesar usia kehamilan 12 14 minggu.
Histerektomi perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu total
abdominal histerektomi (TAH) dan subtotal abdominal histerektomi (STAH).
Pemilihan jenis pembedahan ini memerlukan keahlian seorang ahli bedah yang
bertujuan untuk kepentingan pasien. Masing-masing prosedur histerektomi ini
memiliki kelebihan dan kekurangan. Subtotal abdominal histerektomi dilakukan

14

untuk menghindari resiko operasi yang lebih besar seperti perdarahan yang banyak,
trauma operasi pada ureter, kandung kemih, rektum. Namun dengan melakukan
STAH, kita meninggalkan serviks, dimana kemungkinan timbulnya karsinoma
serviks dapat terjadi. Dengan meninggalkan serviks, menurut penelitian Kilkku, 1983
didapat data bahwa terjadinya dyspareunia akan lebih rendah dibanding yang
menjalani TAH, sehingga tetap mempertahankan fungsi seksual. Pada TAH, jaringan
granulasi yang timbul pada tungkul vagina dapat menjadi sumber timbulnya sekret
vagina dan perdarahan paska operasi dimana keadaan ini tidak terjadi pada pasien
yang menjalani STAH.
Histerektomi juga dapat dilakukan melalui pendekatan dari vagina, dimana
tindakan operasi tidak melalui insisi pada abdomen. Secara umum histerektomi
vaginal hampir seluruhnya merupakan prosedur operasi ekstraperitoneal, dimana
peritoneum yang dibuka sangat minimal sehingga trauma yang mungkin timbul pada
usus dapat diminimalisasi. Oleh karena pendekatan operasi tidak melalui dinding
abdomen, maka pada histerektomi vaginal tidak terlihat parut bekas operasi sehingga
memuaskan pasien dari segi kosmetik. Selain itu kemungkinan terjadinya
perlengketan paska operasi juga lebih minimal. Masa penyembuhan pada pasien
yang menjalani histerektomi vaginal lebih cepat dibanding yang menjalani
histerektomi abdominal.
Dengan berkembangnya tehnik dan alat-alat kedokteran, maka tindakan
histerektomi kini dapat dilakukan dengan menggunakan laparoskopi. Prosedur
operasi dengan laparoskopi dapat berupa miolisis. Miolisis adalah prosedur operasi
invasif yang minimal dengan jalan menghantarkan sumber energi yang berasal dari
laser The neodynium:yttrium aluminium garnet (Nd:YAG) ke jaringan mioma,
dimana akan menyebabkan denaturasi protein sehingga menimbulkan proses
koagulasi dan nekrosis didalam jaringan yang diterapi. Miolisis perlaparoskopi
efektif untuk mengurangi ukuran mioma dan menimbulkan devaskularisasi mioma
akan mengurangi gejala yang terjadi. Miolisis merupakan alternatif terapi prosedur
miomektomi.
Pengangkatan seluruh uterus dengan mioma juga dapat dilakukan dengan
laparoskopi. Salah satu tujuan melakukan histerektomi laparoskopi adalah untuk
mengalihkan prosedur histerektomi abdominal kepada histerektomi vaginal atau
histerektomi laparoskopi secara keseluruhan. Ada beberapa tehnik histerektomi

15

laparoskopi. Pertama adalah histerektomi vaginal dengan bantuan laparoskopi


(Laparoscopically assisted vaginal histerectomy/LAVH). Pada prosedur ini tindakan
laparoskopi dilakukan untuk memisahkan adneksa dari dinding pelvik dan memotong
mesosalfing kearah ligamentum kardinale dibagian bawah.
Pemisahan pembuluh darah uterina dilakukan dari vagina. Kedua, pada
tahun 1991 Semm memperkenalkan tehnik classic intrafascial serrated edged
macromorcellated hysterectomy (CISH) tanpa colpotomy. Prosedur ini merupakan
modifikasi dari STAH, dimana lapisan dalam dari serviks dan uterus direseksi
menggunakan morselator. Dengan prosedur ini diharapkan dapat mempertahankan
integritas lantai pelvik dan mempertahankan aliran darah pada pelvik untuk
mencegah terjadinya prolapsus.
Keunggulan dari CISH adalah mengurangi resiko trauma pada ureter dan
kandung kemih, perdarahan yang lebih minimal, waktu operasi yang lebih cepat,
resiko infeksi yang lebih minimal dan masa penyembuhan yang cepat.
Dari tulisan ini dapat disimpulkan bahwa terapi yang terbaik untuk mioma
uteri adalah melakukan histerektomi. Dari berbagai pendekatan, prosedur
histerektomi laparoskopi memiliki kelebihan dimana resiko perdarahan yang lebih
minimal, masa penyembuhan yang lebih cepat dan angka morbiditas yang lebih
rendah dibanding prosedur histerektomi abdominal.
K. Pencegahan

Pencegahan Primordial: Pencegahan ini dilakukan pada wanita yang belum


menarche atau sebelum terdapat resiko mioma uteri. Upaya yang dilakukan yaitu

mengkonsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah.


Pencegahan Primer: Merupakan awal pencegahan sebelum seseorang menderita
mioma. Tindakan pengawasan pemberian hormon estrogen dan progesteron dengan
memilih KB kombinasi. Pil kombinasi mengandung lebih rendah dibanding pil

sekuensil.
Pencegahan Sekunder: Ditujukan kepada orang yang telah terkena mioma uteri.
Tindakan ini bertujuan untuk menghindari terjadinya komplikasi. Pencegahan yang
dilakukan adalah dengan melakukan diagnosa dini dan pengobatan yang tepat.

L. Komplikasi
1. Degenerasi Ganas

16

Mioma uteri yang menjadi leimiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6 % dari seluruh
mioma, serta merupakan 50-75% dari serluruh sarkoma uterus. Keganasan umumnya
baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Kecurigaan
akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi
pembesaran sarang mioma dalam menopause.
2. Torsi (putaran tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi
akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah sindrom abdomen akut.
Jika torsi terjadi perlahan-lahan gangguan akut tidak terjadi. Hal ini hendaknya
dibedakan dengan suatu keadaan dimana terdapat banyak sarang mioma dalam rongga
peritoneum. Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan
karena gangguan sirkulasi darah padanya. Misalnya terjadi pada mioma yang
menyebabkan perdarahan berupa metroragia disertai leukore dan gangguan-gangguan
yang disebabkan oleh infeksi dari uterus sendiri.
Pengaruh timbal balik mioma uteri dan kehamilan:
a) Pengaruh mioma uteri terhadap uteri terhadap kehamilan yaitu:
Menimbulkan

infertilitas,

meningkatkan

kemungkinan

abortus,

persalinan

prematuritas dan kelainan otak, inersia uteri, gangguan jalan persalinan, perdarahan
postpartum, retensi plasenta
b) Pengaruh kehamilan terhadap mioma yaitu:
Mioma cepat membesar karena pengaruh estrogen, kemungkinan torsi mioma uteri
bertangkai.
M. Prognosis
Histerektomi dengan menggangkat seluruh mioma adalah kuratif. Myomektomi yang
ekstensif dan secara signifikan melibatkan miometrium atau menembus endometrium,
maka diharuskan SC (Sectio caesaria) pada persalinan berikutnya. Myoma yang kambuh
kembali (rekurens) setelah myomektomi terjadi pada 15-40% pasien dan dua pertiganya
memerlukan tindakan lebih lanjut.

17

Daftar Pustaka
American Society for Reproductive Medicine. Uterine fibroids: A guide for patients.
Available at: http://www.asrm. org
Thompson JD, Rock JA. Leiomyomata uteri and myomectomy. In: Te Lindes Operative
Gynecology, Rock JA, Thompson JD, editors. Lippincott-Raven Publishers,
Philadelphia, 1997. p: 731 70.
Wattiez A, Cohen SB, Selvaggi L. Laparoscopy hysterectomy. Curr Opin Obstet Gynecol
2002;14:417 22.
Benda JA. Pathology of smooth muscle tumor of the uterine corpus. Clin Obstet and
Gynecol 2001;44:350 63.
Guaraccia MM, Rein MS. Traditional surgical approaches to uterine fibroids: abdominal
myomectomy and hysterectomy. Clin Obstet and Gynecol 2001;44:385 400.
Stoval DW. Clinical symptomatology of uterine leiomyoma. Clin Obstet Gynecol
2001;44:364 - 71
Baziad A. Endokrinologi ginekologi. Edisi kedua. Media Aesculapius, Jakarta, 2003. p:
151 57.
Hurst BS, Matthews ML, Marshburn PB. Laparoscopic myomectomy for symptomatic
uterine myomas. Fertil Steril 2005;83(1): 1 22.
Namnoum AB, Murphy AA. Diagnostic and operative laparoscopy. In: Te Lindes
Operative Gynecology, Rock JA, Thompson JD, editors. Lippincott-Raven Publishers,
Philadelphia, 1997. p: 389 413.
Falcone T. Bedaiwy MA. Minimally invasive management of uterine fibroids. Curr Opin
Obstet Gynecol 2002;14:401 07.
Tulandi T. Modern surgical approaches to female reproductive tract. Hum Reprod Update
1996;2(5):419 427.
Thompson JD, Warshaw J. Hysterectomy. In: Te Lindes Operative Gynecology, Rock JA,
Thompson JD, editors. Lippincott- Raven Publishers, Philadelphia, 1997. p: 771 -854.
Seinera P, Farina C, Todros T. Laparoscopic myomectomy and subsequent pregnancy:
results in 54 patients. Hum Reprod 2000;15(9):1993 -96.
Goldfarb HA. Removing uterine fibroids laparoscopically. Available at:
http://www.obgyn.net

18

Prawirohardjo. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo
Parker, W.H. Etiology, Symptomatology and Diagnosis of Uterine Myomas. Department of
Obstetrics and gynecology UCLA School of Medicine. California : American Society
for Reproductive Medicine 2007
Achadiat Chrisdiono., Prosedur Tetap Obstetri & Ginekologi, 2003, Jakarta, Penerbit Buku
Kedokteran EGC

19