Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

LANDASAN FILSAFAT KEPENDIDIKAN


MATA KULIAH LANDASAN KEPENDIDIKAN

DI SUSUN OLEH
HEDI ZULI ARYATO
NIM 0103514021

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR PGSD


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
TAHUN 2014

1 | Page

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat
dan Nikmatnya, sehingga penulis berhasil menyelesaikan makalah tentang landasan filsafat
kependidikan. Sholawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai
pemimpin terbaik di dunia yang sekaligus menjadi inspirator bagi kita semua di dalam
menjalani kehidupan di dunia ini.
Makalah Landasan Filsafat Kependidikan ini penyusun tulis sebagai bahan di
dalam perkuliahan Pascasarjana Unnes Program Dikdas PGSD dengan maksud membekali
para Mahasiswa di dalam memahami dan menelaah tentang Pendidikan dari segi Filsafat
secara keseluruhan. Di dalam Makalah ini penulis menyampaikan tentang pengertian dari
filsafat, karakteristik dan berbagai asumsi asumsi tentang kependidikan. Makalah ini
menjadi sumber bagi penulis untuk melakukan presentasi di depan kelas sebagai wujud
meningkatkan kemampuan mahasiswa sebagai pendidik dan untuk meningkatkan kemampuan
di dalam menyampaiakan argumen yang di pegangnya.
Makalah ini sangatlah sederhana dan masih banyak kekurangan dan kelemahannya,
untuk itu penulis memohon kepada para pembaca semua untuk memberikan kritik dan
sarannya demi sempurnanya makalah ini dan agar makalah ini benar benar bermanfaat di
dalam dunia pendidikan.
Semarang, 25 September 2014

Penulis

2 | Page

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................................ii
BAB I : PENDAHULUAN....................................................................................................1
BAB II : PEMBAHASAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pengertian Filsafat Pendidikan...............................................................................2


Filsafat Sebagai Induk Pengetahuan.......................................................................2
Pendidikan Sebagai Cabang Ilmu Dari Filsafat......................................................4
Aliran Aliran Filsafat Pendidikan........................................................................6
Pancasila Sebagai Sistim Filsafat............................................................................7
Pancasila Sebagai Landasan Filosofis Sistim Pendidikan Nasional.......................9

BAB III : KESIMPULAN.....................................................................................................11


DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................13

BAB I
3 | Page

PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan kebutuhan bagi semua manusia, manusia yang melupakan
pendidikan bagaiakan orang buta yang berjalan tanpa tongkat di tangannya. Pendidikan
memberikan banyak arti bagi kehidupan manusia di dalam kehidupannya. Karena itulah
manusia mempelajari filsafat pendidikan, landasan filsafat pendidikan perlu di kuasai oleh
para pendidik, karena pendidikan bersifat normatif selain itu , pendidikan tidak hanya di
pahami melalui pendekatan ilmiah yang bersifat parsial dan deskriptif saja, melainkan perlu
dipandang secara holistiik, adapun kajian pendidikan secara holistik dapat dilakukan melalui
pendekatan filosofis.
Ada berbagai aliran filsafat pendidikan, antara lain Idealisme, Realisme , Pragmatisme
dan sebagainya. Namun demikian, bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki filsafat
pendidikan nasional sendiri yaitu filsafat pendidikan yang berdasarkan Pancasila. sehubungan
dengan hal ini berbagai alairan filsafat pendidikan tetap kita pelajari guna menambah
pengetahuan dan pemahaman kita tentang pendidikan. Pemahaman tentang filsdafat
pendidikan ini akan membantu kita agar tidak terjerumus ke dalam filsafat lain yang
menjerumuskan kita, di samping itu, dengan mempelajari filsafat pendidikan yang lain selama
itu tidak bertentangan dengan pancasila kita dapat mengambil hikmahnya dari filsafat
pendidikan tersebut guna memperkokoh landasan Filsafat pendidikan Negara kita.

4 | Page

BAB II
PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN FILSAFAT PENDIDIKAN
Definisi Filsafat secara Etimologis yaitu dari bahasa Inggris ( Phylosophy ) dan dalam
bahasa arab ( falsafah ) dan yang berasal dari yunani kuno berasal dari kata Pilos (cinta),
Sophos (kebijaksanaan), dengan demikian secara etimologis, philosopia ( filsafat ) berarti
cinta kepada kebijaksanaan atau sahabat kebijaksanaan. Menurut Ciceros (106-43 SM)
penulis Romawi, orang yang pertama memakai kata-kata filsafat adalah Phytagoras (497 SM),
sebagai reaksi terhadap cendikiawan pada masanya yang menamakan dirinya Ahli
pengetahuan, Phytagoras mengatakan bahwa pengetahuan dalam artinya yang lengkap tidak
sesuai untuk manusia . tiap-tiap orang yang mengalami kesukaran-kesukaran dalam
memperolehnya dan meskipun menghabiskan seluruh umurnya, namun ia tidak akan
mencapai tepinya. Jadi pengetahuan adalah perkara yang kita cari dan kita ambil sebagian
darinya tanpa mencakup keseluruhannya. Oleh karena itu, maka kita bukan ahli pengetahuan,
melainkan pencari dan pencinta pengetahuan.
Menurut Prof, I.R. PUDJAWIJATNA menerangkan juga Filo artinya cinta dalam
arti seluas-luasnya yaitu ingin dan karena ingin itu selalu berusaha mencapai yang
diinginkannya . Sofia artinya kebijaksanaan artinya pandai, mengerti dengan mendalam.
Datangnya hikmah bukan dari penglihatan saja, tetapi juga dari penglihatan dan hati, atau
dengan kata-kata lain , dengan mata hati dan pikiran yang tertuju kepada alam yang ada
disekeling kita, banyak orang yang melihat tetapi tidak memperhatikan.
2.

FILSAFAT SEBAGAI INDUK ILMU PENGETAHUAN


Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu, kepastian dimulai dari rasa ragu-ragu dan

filsafat dimulai dari keduanya.Dalam berfilsafat kita didorong untuk mengetahui apa yang
kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Filsafat dalam pandangan tokoh-tokoh dunia diartikan
sebagai berikut:

Plato (427 348 sm), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai
kebenaran yang asli

Aristoteles (382 322 sm), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran
yang terkandung dalam ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik dan
estetika

5 | Page

Al Kindi (801 m), filsafat adalah pengetahuan tentang realisasi segala sesuatu
sejauh jangkauan kemampuan manusia

Al Farabi (870 950 m), filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam wujud bagaimana
hakikat sebenarnya.

Prof. H. Muhammad Yamin, filsafat adalah pemusatan pikiran, sehingga manusia


menemui kepribadiannya. Di dalam kepribadiannya itu dialami sesungguhnya.

Dalam kamus Bahasa Indonesia, filsafat dapat diartikan sebagai berikut


1. Teori atau analisis logis tentang prinsip-prinsip yang mendasari pengaturan, pemikiran
pengetahuan, sifat alam semesta.
2. Prinsip-prinsip umum tentang suatu bidang pengetahuan.
3. Ilmu yang berintikan logika ,estetika, metafisika, dan epistemologi
4. Falsafah
Tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin dan
menerbitkan serta mengatur semua itu dalam bentuk sistematik. Dengan demikian filsafat
memerlukan analisa secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran sudut pandangan yang
menjadi dasar suatu tindakan. Semua ilmu baik ilmu sosial maupun ilmu alam bertolak dari
pengembangannya yaitu filsafat. Pada awalnya filsafat terdiri dari tiga segi yaitu (1)apa yang
disebut benar dan apa yang disebut salah (logika); (2) mana yang dianggap baik dan mana
yang dianggap buruk (etika); (3)apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek
(estetika).
Kemudian ketiga cabang utama itu berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat
yang mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik. Cabang-cabang filsafat tersebut antara
lain mencakup:
1. Epistemologi (Filsafat Pengetahuan)
2. Etika (Filsafat Moral)
3. Estetika (Filsafat Seni)
4. Metafisika
5. Politik (Filsafat Pemerintahan)
6. Filsafat Agama
7. Filsafat Ilmu
8. Filsafat Pendidikan
9. Filsafat Hukum
10. Filsafat Sejarah
6 | Page

11. Filsafat Matematika


Ilmu tersebut pada tahap selanjutnya menyatakan diri otonom, bebas dari konsepkonsep dan norma-norma filsafat. Namun demikian ketika ilmu tersebut mengalami
pertentangan-pertentangan maka akan kembali kepada filsafat sebagai induk dari ilmu
tersebut.
3. PENDIDIKAN SEBAGAI CABANG ILMU DARI FILSAFAT
Sebagaimana cabang ilmu lainnya pendidikan merupakan cabang dari filsafat. Namun
pendidikan bukan merupakan filsafat umum/murni melainkan filsafat khusus atau terapan.
Dalam filsafat umum yang menjadi objeknya adalah kenyataan keseluruhan segala sesuatu,
sedangkan filsafat khusus mempunyai objek kenyataan salah satu aspek kehidupan manusia.
Filsafat Pendidikan dapat diartikan juga upaya mengembangkan potensi-potensi
manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi
itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah
cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan

pribadi

dalam

keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup


kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai
masalah-masalah pendidikan. Filsafat pendidikan dalam arti luas dapat dibedakan menjadi
dua macam yaitu (1) Filsafat Praktek Pendidikan dan (2) Filsafat Ilmu Pendidikan.
Filsafat Praktek Pendidikan diartikan sebagai analisis kritis dan komprehensif tentang
bagaimana seharusnya pendidikan diselenggarakan dan dilaksanakan dalam kehidupan.
Sedangkan Filsafat Ilmu Pendidikan secara konsepsional diartikan sebagai analisis kritis
komprehensif tentang pendidikan sebagai salah satu bentuk teori pendidikan yang dihasilkan
melalui riset baik kuantitatif maupun kualitatif.
Jika dalam Filsafat Praktek Pendidikan biasanya membahas mengenai 3 (tiga) masalah
pokok yaitu (1) apakah sebenarnya pendidikan itu; (2) apakah tujuan pendidikan itu
sebenarnya dan (3) dengan cara apa tujuan pendidikan dapat dicapai, maka dalam Filsafat
Ilmu Pendidikan membahas mengenai (1) struktur ilmu dan (2) kegunaan ilmu bagi
kepentingan praktis dan pengetahuan tentang kenyataan.
Objek dalam Filsafat Ilmu Pendidikan dapat dibedakan dalam 4 (empat) macam yaitu:
1. Ontologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat subtansi dan pola organisasi
Ilmu Pendidikan

7 | Page

2. Epistomologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat objek formal dan material
Ilmu Pendidikan
3. Metodologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat cara-cara kerja dalam
menyusun ilmu pengetahuan
4. Aksiologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat nilai kegunaan teoritis dan
praktis Ilmu Pendidikan
Pendidikan dihadapkan pada perumusan tujuan yang mendasar dan mendalam, sehingga
diperlukan analisis dan pemikiran filosofis. Selain perumusan tujuan, seluruh aspek dalam
pendidikan mulai dari konsep, perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi
membutuhkan pemikiran filosofis.
Dalam perkembangan pendidikan menjadi cabang ilmu yang mandiri dipengaruhi oleh
pandangan dan konsep yang dikemukan oleh para filosofi..
1. Plato (428-348 SM)
Plato merupakan filosofi yunani yang aktif mengembangkan filsafat dengan mendirikan
sekolah khusus yang disebut academia. Plato berpandangan bahwa konsep ide merupakan
pandangan terdapat suatu dunia di balik alam kenyataan, sebagai hakikat dari segala yang ada.
Artinya apa yang diamati sehari-hari adalah ide tersebut, sebagai sumber segala yang ada:
kebaikan dan keburukan. Ide merupakan suatu hal yang objektif yang didalamnya berpusat
dan dikendalikan oleh puncak ide yang digambarkan sebagai ide tentang kebaikan yang
diformulasikan sebagai tuhan
2. Aristoteles (384 348 SM)
Aristoteles yang merupakan bapak ilmu berpandangan bahwa ilmu pendidikan dibangun
melalui riset pendidikan. Riset merupakan suatu gerak maju dan kegiatan-kegiatan observasi
menuju prinsip-prinsip umum yang bersifat menerangkan dan kembali kepada observasi.
Pandangan ini berkembang pada abad 13 14. Aristoteles berpandangan bahwa ilmuan
hendaknya menarik kesimpulan secara induksi dan deduksi. Dalam tahapan induksi,
generalisasi-generalisasi (kesimpulan-kesimpulan umum) tentang bentuk ditarik dari
pengalaman pengindraan. Selanjutnya kesimpulan yang diperoleh dari tahapan induksi
dipergunakan untuk premis-premis untuk deduksi dari pernyataan-pernyataan tentang
observasi.
4.

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN

8 | Page

Aliran-aliran yang berkembang saat ini sangat dipengaruhi oleh pandangan dan teoriteori yang dikemukan oleh para filosofi-filosofi dunia. Aliran-aliran dalam Filsafat yang
berkembang saat ini antara lain:
1. Filsafat Pendidikan Idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi,
bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak
lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang
dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke
generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David
Hume, Al Ghazali
2. Filsafat Pendidikan Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara
dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia
ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan
mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang
dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme:
Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo,
David Hume, John Stuart Mill.
3. Filsafat Pendidikan Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi,
bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme:
Demokritos, Ludwig Feurbach
4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun
sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia
dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah:
Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.
5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme memfokuskan pada pengalaman-pengalaman
individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman
manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk
hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Jean Paul Satre, Soren
Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich
6. Filsafat Pendidikan Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat
yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan
pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini
mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya

9 | Page

memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George
Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff
7. Filsafat Pendidikan Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada
mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah.
Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual
dan moral di antara kaum muda. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas
Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.
8. Filsafat Pendidikan Perenialisme Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir
pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif.
Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang
baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan
ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena
itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan
menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan
hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert
Maynard Hutchins dan ortimer Adler.
9.

Filsafat

Pendidikan

rekonstruksionisme

merupakan

kelanjutan

dari

gerakan

progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya
memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang.
Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin
membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran
ini:Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.
5.. PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT
Pancasila sebagai sistem filsafat adalah pengungkapan dan penelaahan dunia fisik dan
dunia riil secara sistemik (menyeluruh) dan sistematis (teratur, tersusun rapi). Pancasila
memberi ajaran tata hidup manusia budaya secara harmonis. Pancasila adalah filsafat
keselarasan. Pancasila sebagai sistem filsafat juga mempunyai ajaran-ajaran tentang
metafisika dan ontologi Pancasila, aksiologi Pancasila dan logika Pancasila.
Ajaran Metafisika dan Ontologi Pancasila
Asas-asas metafisika dan ontologi dalam filsafat Pendidikan Pancasila adalah sebagai
berikut:

10 | P a g e

Asas monoteisme Merupakan realisasi dari sila I Pancasila Ketuhanan yang Maha Esa,
Bangsa Indonesia hanya mengakui satu tuhan saja ialah Tuhan Yang Maha Esa. Bangsa
Indonesia menganut asas kemerdekaan untuk memilih dan menganut agama dan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan menjunjung toleransi antar pemeluk agama.
Asas makrokosmos-mikrokosmos Asas makrokosmos merupakan pengakuan kepada realita
yang ada, ialah alam semesta ini, dunia dengan tata suryanya. Alam semesta raya mempunyai
hukum-hukum alamnya dan menjadi sumber daya kehidupan semua makhluk hidup. Manusia
sering dipandang sebagai mikrokosmos sebab pada manusia terdapat sifat-sifat atau unsurunsur seperti yang ada pada makrokosmos.
Asas tata ada yang selaras, serasi, seimbang (harmoni) Bahwa yang ada di dunia merupakan
hal yang serba berlawanan namun tetap dapat berlangsung secara selaras.
Asas tata hidup manusia budaya (asas kultural/religius) Cipta, rasa dan karsa manusia secara
integratif mampu menciptakan perlengkapan-perlengkapan hidup yang secara keseluruhannya
disebut kebudayaan.
Asas persatuan dan kesatuan Hidup budaya manusia membentuk kesatuan-kesatuan secara
menyeluruh mulai dari tingkat terbawah yaitu keluarga sampai pada kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Asas tertib damai, kemerdekaan dan keadilan Hidup membudaya adalah hidup tertib, teratur
dan damai menghindari pertengkaran dan perselisihan
Asas bhineka tunggal ika Asas ini memberi makna bahwa hidup budaya manusia menunjukan
variasi-variasi, seperti adanya ras-ras manusia, macam-macam agama dan kebudayaan daerah
dan sebagainya.
Asas idealisme, realistis dan pragmatis Hidup bangsa Indonesia tidak tanpa arah, tetapi
mempunyai arah yang ideal yakni hidup masyarakat yang adil dan makmur.
Epistomologi Pancasila
Ajaran Pancasila dengan teorinya selaras, serasi dan seimbang, mengakui kebenaran
pengetahuan rasio dan pengetahuan pengalaman. Baik rasio maupun pengalaman dapat
menjadi sumber pengetahuan. Pengetahuan datang dari intuisi dan juga bersumber pada
kebenaran agama. Logika yang dikembangkan dalam epistomologi Pancasila adalah logika
formal (deduksi), logika induksi, logika ilmiah dan logika intuisi.
Aksiologi Pancasila
Prinsip-prinsip ajaran nilai atau aksiologi Pancasila adalah sebagai berikut:

11 | P a g e

Prinsip nilai religius Prinsip nilai religius bersumber pada Sila I Pancasila (Ketuhanan Yang
Maha Esa). Agama menjadi sumber-sumber nilai-nilai kebaikan dan juga kebenaran. Fungsi
Pancasila terhadap agama adalah memberi fasilitas kepada hidup subur dan berkembangnya
agama dan memberi situasi dan kondisi kerukunan dan kedamaian hidup di antara umat
beragama.
Prinsip nilai alami Prinsip nilai alamia artinya alam semesta sebagai ciptaan Tuhan yang
berisi kebaikan-kebaikan alamiah yang berupa nilai-nilai hukum alam.
Prinsip nilai manusia Prinsip nilai-nilai manusia yakni bahwa manusia adalah subjek penilai.
Dalam mencapai nilai-nilai dalam hidupnya, maka manusia akan melaksanakan nilai-nilai: (1)
nilai-nilai kemanusian; (2) nilai-nilai persatuan hidup bersama; (3) nilai-nilai kerakyatan atau
demokrasi; (4) nilai-nilai keadilan.
Prinsip relativitas dan kemutlakan nilai Nilai-nilai hidup budaya manusia ada yang bersifat
relatif, terbatas oleh kurun waktu dan tempat.
6. PANCASILA SEBAGAI LANDASAN FILOSOFIS SISTEM PENDIDIKAN
NASIONAL
Sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 bahwa
pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Hal tersebut sejalan dengan
Ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa Pancasila adalah
jiwa seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa
Indonesia, dan dasar negara Indonesia. Berdasarkan peraturan perundangan tersebut jelaslah
bahwa pancasila adalah Landasan Filosofi Sistem Pendidikan Nasional.
Pendidikan nasional merupakan suatu sistem yang memuat teori praktek pelaksanaan
pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat bangsa yang bersangkutan
guna diabdikan kepada bangsa itu untuk merealisasikan cita-cita nasionalnya. Sedangkan
Pendidikan Nasional Indonesia adalah suatu sistem yang mengatur dan menentukan teori dan
pratek pelaksanaan pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh flisafat bangsa
Indonesia yang diabdikan demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia guna memperlancar
mencapai cita-cita nasional Indonesia. Sehingga Filsafat pendidikan nasional Indonesia dapat
didefinisikan sebagai suatu sistem yang mengatur dan menentukan teori dan praktek
pelaksanaan pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat hidup bangsa
Pancasila yang diabdikan demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia dalam usaha
merealisasikan cita-cita bangsa dan negara Indonesia.
12 | P a g e

Pokok-pokok fikiran Pendidikan Nasional adalah:


1. Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dan disebut sistem Pendidikan
Pancasila
2. Tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian
dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat memperkuat kepribadian dan mempertebal
semangat kebangsaan
3. Fungsi pendidikan nasional Indonesia adalah untuk mengembangkan warga negara
Indonesia, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat, mengembangkan bangsa
Indonesia dan mengembangkan kebudayaan Indonesia
4. Unsur-unsur pokok pendidikan nasional adalah pendidikan pancasila, pendidikan agama,
pendidikan watak dan kepribadian, pendidikan bahasa, pendidikan kesegaran jasmani,
pendidikan kesenian, pendidikan ilmu pengetahuan, pendidikan keterampilan, pendidikan
kewarganegaraan dan pendidikan kesadaran bersejarah.
5. Asas-asas pelaksanaan pendidikan nasional Indonesia adalah asas semesta, asas pendidikan
seumur hidup, asas tanggung jawab bersama, asas pendidikan, asas keselarasan dan
keterpaduan dengan ketahanan nasional dan wawasan nasional, asas Bhineka Tunggal Ika,
Asas keselarasan, keseimbangan dan keserasian, asas manfaat adil dan merata.

13 | P a g e

BAB III
KESIMPULAN
Pendidikan merupakan cabang dari filsafat. Namun pendidikan bukan merupakan
filsafat umum/murni melainkan filsafat khusus atau terapan. Filsafat Pendidikan dapat
diartikan juga upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi
fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi
dalam perjalanan hidupnya.
Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis,
harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah
filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan
Filsafat pendidikan dalam arti luas dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
(1) Filsafat Praktek Pendidikan dan
(2) Filsafat Ilmu Pendidikan.
Filsafat Praktek Pendidikan biasanya membahas mengenai 3 (tiga) masalah pokok yaitu (1)
apakah sebenarnya pendidikan itu; (2) apakah tujuan pendidikan itu sebenarnya dan (3)
dengan cara apa tujuan pendidikan dapat dicapai
Filsafat Ilmu Pendidikan membahas mengenai :
(1) struktur ilmu dan
(2) kegunaan ilmu bagi kepentingan praktis dan pengetahuan tentang kenyataan.
Objek dalam Filsafat Ilmu Pendidikan dapat dibedakan dalam 4 (empat) macam yaitu:
1. Ontologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat subtansi dan pola organisasi
Ilmu Pendidikan
2. Epistomologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat objek formal dan material
Ilmu Pendidikan
3. Metodologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat cara-cara kerja dalam
menyusun ilmu pengetahuan
4. Aksiologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat nilai kegunaan teoritis dan
praktis Ilmu Pendidikan
Filsafat Pancasila yang muncul pada masa kemerdekaan tahun 1945 dicetuskan oleh
tokoh-tokoh perjuangan bangsa. Sebagai sebuah filsafat pendidikan, Pancasila mengandung
pemahaman nilai mengenai metafisika dan ontologi, epistomologi dan aksiologi sebagai mana

14 | P a g e

yang terkandung dalam filsafat pendidikan. Kedudukan Pancasila sebagai filsafat Pendidikan
Indonesia diperkuat dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 1989.

DAFTAR PUSTAKA
Amien,A.M., ( 2005 ), Pendidikan Dari Perspektif Sains Baru : Belajar Merajut Realitas,
Lembaga Penerbitan Unhas.
Callahan J.F., Clark,L.H., ( 1983 ), Foundation Of Education,Macmillan Publishing Co. Inc.,
New York.
Henderson, S. Van P., Introduction to Phylosopy of Education, The University Of Chicago
Press, Chicago.
Kneller, G., ( Ed ), ( 1971 ) Foundation Of Education, John Wiley and Sons, New York.
Noor, M., ( Ed), ( 1987 ) Filsafat dan Teori Pendidikan : Jilid I Filsafat Pendidikan, Sub
Koordinator Mata Kuliah Filsafat dan Teori Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, IKIP
Bandung.
15 | P a g e

Oesman, O., Alfian, ( Penyunting ) ( 1992 ), pancasila sebagai Ideologi dalam Berbagai
Bidang Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara, BP 7 Pusat.
Syarifpudin,T. dan Kurniasih, ( 2008 ), Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung, Percikan
Ilmu.

Makalah Mata Kuliah :


LANDASAN DAN PROBLEMATIKA KEPENDIDIKAN
Oleh :
Fadli
A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia
dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga belajar tetapi lebih ditentukan oleh instinknya,
sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna
menuju kehidupan yang lebih berarti. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan
manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga mereka akan mendidik anak-anaknya,
begitu juga di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar oleh guru dan
dosen.
Pandangan klasik tentang pendidikan, pada umumnya dikatakan sebagai pranata yang dapat
menjalankan tiga fungi sekaligus. Pertama, mempersiapkan generasi muda untuk untuk
memegang peranan-peranan tertentu pada masa mendatang. Kedua, mentransfer pengetahuan,
sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka
memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup
masyarakat dan peradaban. Butir kedua dan ketiga tersebut memberikan pengerian bahwa
pandidikan bukan hanya transfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Dengan demikian
pendidikan dapat menjadi helper bagi umat manusia.
16 | P a g e

Landasan Pendidikan marupakan salah satu kajian yang dikembangkan dalam berkaitannya
dengan dunia pendidikan. Adapun cakupan landasan pendidkan adalah : landasan hukum,
landasan filsafat, landasan sejarah, landasan sosial budaya, landasan psikologi, dan landasan
ekonomi. Dalam makalah ini hanya akan dibahas mengenai landasan filsafat.
Filsafat ialah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai ke
akar-akarnya. Sesuatu dapat berarti terbatas dan dapat pula berarti tidak terbatas. filsafat
membahas segala sesuatu yang ada di alam ini yang sering dikatakan filsafat umum.
sementara itu filsafat yang terbatas ialah filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat
agama, dan sebagainya.
Jadi berfikir filsafat dalam pendidikan adalah berfikir mengakar/menuju akar atau intisari
pendidikan. Terdapat cukup alasan yang baik untuk belajar filsafat, khususnya apabila ada
pertanyaan-pertanyaan rasional yang tidak dapat atau seyogyanya tidak dijawab oleh ilmu
atau cabang ilmu-ilmu. Misalnya: apakah yang dimaksud dengan pengetahuan dan/atau ilmu?
Dapatkah kita bergerak ke kiri dan kanan di dalam ruang tetapi tidak terikat oleh waktu?
Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah sekitar pendidikan dan ilmu pendidikan.
Kiranya kegiatan pendidikan bukanlah sekedar gejala sosial yang bersifat rasional semata
mengingat kita mengharapkan pendidikan yang terbaik untuk bangsa Indonesia, lebih-lebih
untuk anak-anak kita masing-masing; ilmu pendidikan secara umum tidak begitu maju
ketimbang ilmu-ilmu sosial dan biologi tetapi tidak berarti bahwa ilmu pendidikan itu sekedar
ilmu atau suatu studi terapan berdasarkan hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu-ilmu sosial dan
atau ilmu perilaku.
B. Landasan Filsafat
Landasan filosofis merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau hakikat
pendidikan, yang berusaha menelaah masalah-masalah pokok seperti: Apakah pendidikan
itu ? Mengapa pendidikan itu diperlukan ? Apa yang seharusnya menjadi tujuanya, dan
sebagainya. Landasan filosofis adalah landasan yang berdasarkan atau bersifat atau filsafat
(falsafah, falsafah). Kata filsafat (philosophy) bersumber dari bahasa Yunani, philien berarti
mencintai, dan sophos atau sophis berarti hikmah, arif, atau bijaksana. Filsafat menelaah
sesuatu secara radikal, menyeluruh, dan konseptual yang menghasilkan konsepsi-konsepsi
mengenai kehidupan dan dunia.
Konsepsi-konsepsi filosofis tentang kehidupan manusia dan dunianya pada umumnya
bersumber dari dua faktor, yaitu :
1. Religi dan etika yang bertumpu pada keyakinan
2. Ilmu pengetahuan yang mengandalakan penelaran . Filsafat berada diantara
keduanya : Kawasannya seluas dengan relegi, namun lebih dekat dengan ilmu
pengetahuan karena filsafat timbul dari keragua-raguan dank arena mengandalkan akal
manusia.
Tinjauan filosofis tentang sesuatu, termasuk pendidikan, berarti berpikir bebas serta
merentang pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang sesuatu hal. Penggunaan istilah filsafat
dapat diartikan dalam dua pendekatan, yakni :

17 | P a g e

1. Filsafat sebagai kelanjutan dari berpikir ilmiah, yang dapat dilakukan oleh setiap
orang serta sangat bermanfaat dalam member makna kepada ilmu penegatahuan
2. Filsafat sebagai kajian khusus yang formal, yang mencakup logika, epistimologi
(tantang benar atau salah), etika (tentang baik dan buruk), estetika (tentang indah dan
jelek), Metafisika (tentang hakikat yang ada, termasuk akal itu sendii), serta sosial dan
politik (filsafat pemerintah)
C. Pengertian Tentang Landasan Filsafat
Terdapat kaitan yang erat antara pendidikan dan filsafat karena filsafat mencoba merumuskan
citra tentang manusia dan mayarakat, sedangkan pendidikan berusaha mewujudkan citra itu.
Rumusan tentang harkat dan martabat manusia beserta masyarakatnya ikut menentukan tujuan
dan cara-cara penyelenggaraan pendidikan, dan dari sisi lain pendidikan merupakan proses
memanusiakan manusia. Filsafat pendidikan merupakan jawaban secara kritis dan mendasar
berbagai pertanyaan pokok sekitar pendidikan, seperti apa mengapa, kemana, dan bagaimana,
dan sebagainya dari pendidikan itu. Kejelasan berbagai hal itu sangat perlu untuk menjadi
landasan berbagai keputusan dan tindakan yang dilakukan dalam pendidikan. Hal itu sangat
penting karena hasil pendidikan itu akan segera tampak, sehingga setiap keputusan dan
tindakan itu harus diyakinkan kebenaran dan kete[patanya meskipun hasilnya belum dapat
dipastikan.
Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran
filsafat adalah kebenaran ilmu yang sifatnya relative. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau
dari segi yang biasa diamati hanya sebagian kecil saja. Diibaratkan mengamati gunung es,
kita hanya mampu melihat yang diatas permukaaan laut saja. Sementara itu filsafat mencoba
menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk meraba segala sesuatu yang ada melalui
pikiran dan renungan yang kritis.
Dalam garis besarnya ada empat cabang filsafat yaitu metafisika, epistimologi, logika, dan
etika, dengan kandungan materi masing-masing sebagai berikut :
1. Metafisika ialah filsafat yang meninjau tentang hakekat segala sesuatu yang terdapat
di alam ini. Dalam kaitanya dengan manusia, ada dua pandangan yaitu :
2. Manusia pada hakekatnyanya adalah spiritual. Yang ada adalah jiwa atau roh,yang lain
adalah semu. Pendidikan berkewajiban membebaskan jiwa dari ikatan semu.
Pendidikan adalah untuk mengaktualisasi diri. Pandangan ini dianut oleh kaum
Idealis,Scholastik,dan bebrapa Realis.
3. Manusia adalah organism materi. Pandangan ini dianut kaum Naturalis,
Materialis,Eksperimentalis,Pragmatis,dan bebrap realism. Pendidikan adalah untuk
hidup Pendidikan berkewajiban membuat kehidupan manusia menjadi menyenangkan.
1. Epistemologi ialah filsafat yang membahas tentang pengetahuan
kebenaran, dengan rincian masing-masing sebagai berikut :
2. Ada lima sumber pengetahuan yaitu :

18 | P a g e

dan

Otoritas, yang terdapat dalam ensiklopedi

Common sense,yang ada pada adat dan tradisi.

Intuisi yang berkaitan dengan perasaan

Pikiran untuk menyimpulkan hasil pengalaman

Pengalaman yan terkontrol untuk mendapatkan pengetahuan secara ilmiah.

1. Ada empat teori kebenaran

Koheren,sesuatu akan benar bila konsisten dengan kebenaran umum

Koresponden, sesuatu akan benar bila ia tepat dengan fakta yang dijelaskan.

Pragmatisme,,sesuatu dipandang benar bila konsekuensinya ber manfaat bagi


kehidupan.

Skeptivisme,kebenaran dicari secara ilmiah dan tidak ada kebenaran yang lengkap.

1. Logika ialah filsafat yang membahas tentang cara manusia berpikir dengan benar.
Dengan memahami filsafat logika di harapkan manusia bis aberpikir den
mengemukakan pendapatnya secra tepat dan benar.
2. Etika ialah filasaft yang menguraikan tentang perilaku manusia nilai dan norma
masyarakat serta ajaran agama menjadi pokok pemikiran dalam filsafat ini. Filsafat
etika sangat besar mempengaruhi pendidikan sebab tujuan pendidikan untuk
mengembangkan perilaku manusia, anatara lain afeksi peserta didik.
Kajian yang dilakukan oleh berbagai cabang filsafat diatas, akan besar pengaruhnya terhadap
pendidikan, karena prinsip-prinsip dan kebenaran kebenaran hasil kajian tersebut pada
umumnya diterapkan dalam bidang pendidikan. Peranan filsafat dalam pendidikan tersebut
berkaiatan dengan hasil kajian antara lain tentang :
1. Keberadaan dan kedudukan manusia sebagai makluk didunia ini, seperti yang
disimpulkan sebagai zoo politicon,homo sapiens,animal educandum dan sebagainya.
2. Masyarakat dan kebudayaanya.
3. Keterbatasan manusia sebagai makluk hidup yang banyak menghadapi tantangan dan
4. Perlunya landasan pemikiran dalam pekerjaan pendidikan, utamanya filsafat
pendidikan
D. Aliran dalam Filsafat

19 | P a g e

Agar uraian tentang filsafat pendidikan itu menjadi lebih lengkap, berikut ini kan diuraikan
bebrapa aliran filsafat pendidikan yang dominan di dunia ini. Aliran itu ialah :
1. Idealisme
2. Realisme
3. Perenialisme
4. Esensialisme
5. Pragmatisme dan progresivisme
6. Eksitensialisme
Filsafat Idealisme menegaskan bahwa hakekat kenyataan adalah ide sebagai gagasan
kejiwaan. Apa yang dianggap kebenaran realitas hanyalah bayangan atau refleksi dari ide
sebagai kebenaran berfilsafat spiritual atau mental.Ide sebagai gagasan kejiwaan itulah
sebagai kebenararan atau nilai sejati yang obsolut dan abadi.Terdapat variasi pendapat beserta
namanya masing-masing dalam aliran ini seperti spiritualisme, rasionalisme, neokantianisme,
dan sebagainya. Variasi itu antara lain menekankan pada akal dan rasio pada rasionalisme atau
sebaliknya pada ilham untuk irasionalisme, dan lain-alain. Meskipun terjadi variasi pendapat
tersebut, namun pada umunya aliran itu menekankan bahwa pendidikan merupakan kegiatan
intelektual untuk membanglkitkan ide-ide yang masih laten, anatara lain melalui intropeksi
dan Tanya jawab. Oleh karena itu sebagai lembaga pendidikan, sekolah berfungsi membantu
siswa mencari dan menemukan kebenaran, keindahan dan kehidupan yang luhur.
Filsafat pendidikan Esensialisme bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti berabadabad lamanya. Kebenarana seperti itulah yang esensial, yang lain adalah suatu kebenaran
secara kebetulan saja. Kebenaran yang esensial itu ialah kebudayaan klasik yang muncul pada
zaman romawi yang menggunakan buku-buku klasik ditulis dengan bahasa latin yang dikenal
dengan nama Great Book. Buku ini sudah berabad-abad lamanya mampu membentuk
manusia manusia berkaliber internasional. Inilah bukti bahwa kebudayaan ini merupakan
suatu kebenaran yang esensial. Tokohnya antara lain Brameld.
Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang mengemukakan bahwa segala sesuatu harus
dinilai dari segi kegunaan prgtis;dengan kata lain paham ini menyatakan yang berpaedah itu
harus benar, atau ukuran kebenaran didasarkan pada kemanfaatan dari sesuatu itu kepada
manusia .
Filsafat paranialisme dan esensialisme, yakni keduanya membela kurikulum tradisonal yang
berpusat pada mata pelajaran yang pokok-pokok (subject centered). Perbedaanya ialah
perenialisme menekankan keabadian teori kehikmatan yaitu :

Pengetahuan yang benar (truth)

Keindahan (beauty)

Kecintaan kepada kebaikan (goodness)

20 | P a g e

Oleh karena itu, dinamakan perenialisme karena kurikulumnya berisi materi yang konstan
atau perennial. Prinsip pendidikan antara lain:
1. Konsep pendidikan itu bersifat abadai,karena hakekat manusia tak pernah berubah
2. Inti pendidikan haruslah mengembangkan kekhususkan makluk manusia yang uni,
yaitu kemampuan berpikir.
3. Tujuan belajar adalah mengenal kebenaran abadi dan universal
4. Pendidikan merupakan persiapan bagi kehidupan sebenarnya.
5. Kebenaran abadi itu ajarkan melalui pelajaran-pelajaran dasar (basic subject).
Filasafat Rekonstruksionisme adalah suatu kelanjutan yang logis dari cara berpikir progresif
dalam pendidikan. Individu tidak hanya belajar tentang pengalaman-pengalaman
kemasyarakatan masa kini disekolah. Tetapi haruslah memelopori masyarakat kearah
masyarakat baru yang diinginkan. Dengan demikian tidak setiap individu dan kelompok akan
memecahkan kemasyarakatan secara sendirisendiri sebagai progresivisme.
Oleh karena itu, sekolah perlu mengembangakan suatu ideology kemasyarakatan yang
demokratis. Keunikan konstruksionisme ini ialah teorinya. Mengenai peranan guru, yakni
sebagai pemimpin dalam metode proyek yang memberi peranan kapada murid cukup besar
dalam proses pendidikan.Namun sebagai pemimpin penelitian, guru dituntu supaya
menguasai sejumlah pengetahuan dan ilmu esensial demi keterarahan pertumbuhan muridnya.
E. Pancasila sebagai Landasan Filsafat Sistem Pendidikan Nasional
Bangsa Indonesia memiliki filsafat umum atau filsafat Negara ialah pancasila sebagai falsafah
Negara, Pancasila patut menjadi jiwa bangsa Indonesia, menjadi semangat dalam berkarya
pada segala bidang. Pasal 2 UU-RI No. 2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan
Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Rincian selanjutnya tentang
hal itu tercantum dalam penjelasan UU-RI No. 2 Tahun 1989, yang menegaskan bahwa
pembangunan nasioanal termasuk dibidang pendidikan adalah pengamalan pancasila, dan
untuk itu pendidikan nasional mengusahakan antara lain: Pembentukan manusia Pancasila
sebagai manusia pembangunan yang tinggi kualitasnya dan mampu mandiri. Sedangkan
ketetapan MPR-RI No.II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila
menegaskan pula bahwa pancasila itu adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, kepribadian
bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia,dan dasar Negara Republik Indonesia.
Pancasila sebagai sumber dari segala gagasan mengenai wujud bangsa manusia dan
masyarakat yang dianggap baik, sumber dari segala sumber nilai yang menjadi pangkal serta
mauara dari setiap keputusan dan tindakan dalam pendidikan dengan kata lain : Pancasila
sebagai sumber system nilai dalam pendidikan.
P4 Atau Ekaprasetya Pancakarsa sebagai petunjuk operasional pengamalan pancasila dalam
kehidupan sehari-hari,termasuk dalam bidang pendidikan. Perlu ditegaskan bahwa
pengamalan Pancasila ituharuslah dalam arti keseluruhan dan keutuhan kelima sila dalam
pancasila itu, sebagai yang dirumuskan dalam pembukaan UUD 1945, yaitu Ketuhanan yang
Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab,Persatuan Indonesia,Kerakyatan yang
21 | P a g e

dipimpin oleh hikmad kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan dan keadilan social
bagi seluruh rakyat Indonesia.
Belum ada upaya mengopersionalkan Pancasila agar mudah diterapkan dalam kegiatan
kegiatan di masyarakat,termasuk penerapanya dalam dunia pendidikan Kalaupun ada bidang
studi menyangkut moral Pancasila, sebagan besar diterapkan seperti melaksanakan bidangbidang studi lain. Pendidik mengajarkannya,peserta didik berusaha menjawab pertanyaanpertanyaan pendidik dalam ujian-ujian.
Sementara itu dunia pendidikan di Indonesia belum punya konsep atau teori-teori sendiri yang
cocok dengan kondisi, kebiasaan atau budaya Indonesia tentang pengertian dan cara cara
mencapai tujuan pendidikan.Sebagian besar konsep atau teori pendidikan diimpor dari luar
negeri sehingga belum tentu valid untuk diterapkan di Indonesia.
Teori-teori biasa didapat dengan cara belajar diluar negeri, atau dengan cara melakukan studi
banding. Dan yang paling banyak dilakukan adalah dengan mendatangkan buku atau membeli
buku dari Negara lain. Inilah sumber konsep pendidikan di Indonesia. Kalaupun ada usaha
menyususn sendiri konsep pendidikan sebagian besar juga bersumber dari buku-buku ini.
Begitu pula tentang konsep-konsep pendidikan yang ditatarkan dalam penataran-penataran
pendidikan jugaBersumber dari buku-buku. Dengan demikian dapat diibaratkan membuat
manusia Indonesia yang dicita-citakan seperti menerpa patung dengan cetakan luar
negeri.hasilnya tentu tidak prcis seperti manusia yang dicita-citakan, karena cetakan itu
sendiri belum ada di Indonesia.
F. Upaya Mewujudkan Filsafat Pendidikan di Indonesia
Pendidikan di Indonesia baru dalam tahap perhatian. Perhatian-perhatian terhadap perlunya
filsafat pendidikan itupun baru muncul disana-sini belum terkoordinasi menjadi suatu
perhatian besar untuk segera mewujudkanya. Kondisi seperti ini tidak terlepas dari
kesimpangsiuran pandangan para pendidik terhadap pendidikan itu sendiri,seperti telah
diungkapkan diatas.
Ada suatu hasil penelitian bertalian dengan hal diatas yang dilakukan oleh Jasin, dan kawankawanya (1994), dengan responden para mahasiswa PGSD, SI, S2, dan S3 IKIP Jakarta dan
para ahli pendidikan di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Penelitian itu menemukan hal-hal
sebagai berikut
1. Lebih dari separoh responden menginginkan penegasan kembali pengertian
pendidikan dan pengajaran
2. Hampir separoh responden mahasiswa dan dosen berpendapat bahwa ilmu pendidikan
kurang dikembangkan, sementara itu seperlima para ahli pendidikan menyatakan
pendidikan kurang fungsional untuk menyiapkan para calon guru
3. Para mahasiswa dan dosen berpendapat ipendidikan adalah ilmu mandiri, sementara
itu hampir sepertiga para ahli menyatakan ilmu pendidikan adalah ilmu terapan, dan
4. Semua responden menyatakan kurang mengenal struktur ilmu pendidikan.Karena
keragaman pandangan diatas membuat responden terpecah menjadi sebagian
22 | P a g e

mendukung pernyataan guru tidak mendidik melainkan mengajar dan sebagian lagi
menolak
Dari hasil penelitian tersebut di atas dapat ditarik sejumlah masalah bertalian dengan ilmu
pendidikan,yaitu :
1. Belum jelas pengertian pendidikan dan pengajaran
2. Ilmu Pendidikan kurang dikembangkan
3. Ilmu Pendidikan kurang fungsional untuk menyiapkan para calon guru.
4. Belum jelas apakah ilmu Pendidikan merupakan ilmu dasar atau ilmu terapan.
5. Struktur ilmu pendidikan kurang dikenal.
6. Belum jelas apakah guru mendidik dan mengajar atau hanya mengajar saja.
Keenam masalah tersebut di atas menunjukan bahwa pendidikan, khususnya pendidikan
sebagai ilmu belum ditangani. Mulai dari pengertian, apakah sebagai ilmu dasar atau ilmu
terapan, struktur ilmu itu, sampai dengan penerapannya pada para calon guru dan guru-guru
masih belum jelas. Kondiosi ilmu pendidikan seperti ini terjadi karena memang ilmu itu
belum digali dan dikembangkan.
Untuk mengembangkan ilmu Pendidikan yang bercorak Indonesia secara valid, terlebih
dahulu dibutuhkan pemikiran dan perenungan itu adalah filsafat yang khusus membahas
pendidikan yang tepat diterpkan dibumi Indonesia . Dengan kata lain, untuk menemukan
teori-teori pendidikan yang bercorak Indonesia dibutuhkan terlebih dahulu rumusan filsafat
pendidikan yang bercorak Indonesia pula.
Bagaimana kiat untuk meningkatkan kegiatan usah merumuskan
filsafat
pendidikan Indonesiaini, yang kin baru falam tahap perhatian yang bersifat sporadic ?
Tampaknya kiat itu perlu disesuaikan dengan alam kebiasaan bangsa Indonesia saat ini
sesuatu akan terjadi secara relative lebih mudah bila gagasan itu bersumber dari dan
disepakati atau disetujui oleh pemerintah. Filsafat pendidikan akan lebih mudah mendapat
jalan dalam perkembanganya. Manakala pemrakarsa dapat mengugah hati pemerintah untuk
menyetujuinya.
Upaya mendorong pemerintah untuk member isyarat akan pentingnya merumuskan filsafat
pendidikan dan teori pendidikan yang bercorak Indonesia sudah pernah dilakukan menjelang
sidang umum MPR (kompasa,27 Nopembert 1992), sebagai satu sumbangaan untukk bahan
siding umum itu. Namun GBHN 1993 sebagai produk siding itu,tidak mencantumkan
perlunya perumusan filsafat dan teori pendidikan itu.itu menunjukan kemauan politik
pemerintah kearah itu belum ada. Mudah-mudahan di waktu-waktu yang akan datang
kemauan itu akan muncul.
Di samping kunci utama untuk memulai kegiatan pengembangan filsafat pendidikan itu
belum ada, ada lagi kunci kedua yang membuat sulitnya mengembangkan filsafat dan teori
pendidikan itu, yaitu kesulitan menjabarkan sila-sila Pancasila agar mudah diterapkan di
lapangan. Memang benar sila-sila Pancasila sudah dijabarkan menjadi 45 butir, tetapi
23 | P a g e

penjabanran itu belum tentu sesuai dengan kebiasaan kerja para ahli pendidikan yang
membuat hasil kerja mereka lebih mudah diterapkan di lapangan. Sampai sekarnag tidak
setiap ahli diperkenankan menjabanrkan sila-sila Pancasila. Ynag diperbolehkan menjabarkan
sila-sila itu hanya BP7 pusat, dengan maksud sangat mungkin unutk menghindari kesimpangsiuran makna sila-sila Pancasila itu sendiri
Tetapi bila para ahli pendidikan yang berwenang merumuskan filsafat pendidikan tidak
diperkenankan menjabarkan atua menafsirkan sendiri sila-sila Pancasila itu akan membatasi
kebebasan mereka berfikir dan mewujudkan filsafat itu. Bola hal itu tidak bias ditawar-tawar,
mungkin dapat diambil jalan kompromi yaitu dengan dibentuk tim yang anggotanya beberapa
ahli pendidikan dan beberapa anggota BP7 pusat. Dengan cara ini kemacetan salah satu faktor
penghambat pengembangan filsafat pendidikan di Indonesia bias diatasi.
Andaikan isyarat untuk mewujudkan filsafat pendidikan sudah ada atau sudah ada suatu
kelompok yang berupaya merumuskan filsafat itu, maka ada beberapa hal yang harus
dipikirkan. Hal-hal yang dimaksud adalah:
1. Apakah filsafat pendidikan yang akan dibentuk, yang sesuai dengan kondisi dan
budaya Indonesia akan diberi nama Filsafat Pendidikan Pancasila atau dengan nama
lain ?
2. Apakah filsafat pendidikan itu diambil dari filsafat pendidikan internasional yang
sudah ada yang sudah ada, dengan memilih salah satu dari Esensilais, Perenialis,
Progesivise, Rekonstruksionis, dan Eksistensialis? Sehingga tinggal merevisi agar
cocok dengan kondisi Indonesia.
3. Ataukah filsafat itu dimunculkan bersumber dari filsafdat-filsafat umum yang berlaku
secara Internasional, seperti yang dilaksanakan oleh Negara Australia. Ahli pendidikan
di Australia ,menyatakan filasfat yang mendasari pendidikan mereka adalah Liberal,
Demokrasi, dam multicultural ( Made Pidarta, 1995 ). Seakan-akan mereka tidak
memiliki filsafat khusus tentang pendidikan.
ISPI (1989) mengingatkan bahwa tugas utama para ahli ilmu Pendidikan adalah (1)
mengungkapkan pikiran yang sistematik dan mendasar mengenai implikasi filsafat Pancasila
dalam filsafat pendidikan nasional yang akan dibentuk, dan (2) dalam mengungkapkan
sumber-sumber dari luar termasuk teori pendidikan dan perlu diadakan saringan-saringan agar
sesuai dengan filsafat negara kita.
G. Dampak Konsep Pendidikan
Pembahasan tentang landasan kependidikan dalam segi filsafat, yang mencakup filsafat pada
umumnya, filsafat-filsafat pendidikan internasioanal, filsafat pancasila, dan kemungkinan
terbentuknya filsafat pendidikan yang bercorak Indonesia, member dampak konsep tertentu.
Karena filsafat pendidikan yang cocok dengan alam dan budaya Indonesia belum terbentuk,
yang ada baru filsafat Negara yaitu pancasila, maka tidak banyak konsep pendidikan yang
bias diturunkan dari sini. Memang benar ada sejumlah filsafat pendidikan internasional yang
sudah tentu berdampak terhadap pendidikan,namun filsafat itu tidak mesti cocok bila
diterapkan di Indonesia. Oleh sebab itu dampak konsep pendidikan yang akan dituangkan
dibawah adalah terbatas pada penjabaran sila-sila pancasila.
24 | P a g e

1. Filsafat pendidkan Indonesia perlu segera diwujudkan agar ilmu pendidikan bercorak
Indonesia lebih mudah dibentuk. Kunci terielisasinya suatu kegiatan pada dewasa ini
adalah pemerintah. sebab itu dibutuhkan kemauan pemerintah untuk menggerakan
kegiatan ini
2. Peranan dan pengemabangn sila-sila Pancasila pada diri peserta didik pada hakekatnya
adalah pengembangan afeksi.karena itu pendidikan afeksi tidak boleh dinomorduakan
apalagi ditinggalakan. Pendidikan afeksi,kognisi,dan psikomotor haruslah
diperlakukan sama.
3. Pendidikan Pancaila dan pendidikan agama tidak bertentangan melainkan saling
melengkapi satu dengan lain. Oleh sebab itu sebaiknya para pendidik sila-sila
pancasila dan para pendidik ajaran aga,ma bekerja sama dalam kegiatannya membina
para peserta didik. Suatu kerjasama dalam tingkat operasioanal oendidikan moral dan
mental anak-anak, agar saling mendukung dan saling memajukan satu dengan yang
lain.
4. Materi pendidikan afeksi selain bersumber dari bidang studi yang membahas moral
Pancasila dan ajaran-ajaran agama, sebaiknya dilengkapi dengan nilai-nilai dan adat
istiadat yang masih hidup dimasyarakat Indonesia serta budi pekerti luhur yang tetap
dijunjung dibumi Indonesia ini.
5. Metode mengembangkan afeksi bias dibagi dua yaiu :
6. Evaluais pendidikan afeksi haruslah dilakukan secara nyata, diberi skor, dan
dimasukkan ke dalam rapor sepereti halnya dengan bidang study yang lain. Setaip
ujian atau tes haruslah mengikutsertakan aspek afeksi. Untuk ujian-ujian intern di
sekolah, hal ini cukup mudah dilakukan. Tetapi untuk ujian tingakat nasional cukup
sulit sebab membutuhkan biaya dan tenaga banyak. Namun, dengan berkembangnya
waktu dan perubahan system pendidikan, kesulitan itu bisa diatasi.
7. Dalam menggunakan materi pendidikan afeksi, sangat mungkin sumber materi itu
berasal dari luar negeri. Bila hal itu terjadi, maka perlu dilakukan penyaringan terlebih
dahulu agar bias diterima oleh kondisi dan budaya Indonesia, sebelum dimasukkan
sebagai materi pendidikan.
8. Dalam rangka pengembangan afeksi peserta didik, ada baikanya kondisi ke arah itu
sengaja diciptakan, antara lain dengan menghadirkan jauh lebih banyak budaya
bangsa sendiri untuk menetralkan pengaruh budaya asing yang memang sulit
dibendung dalam abad informasi dan global ini
1. Untuk pendidikan afeksi yang berbentuk bidang studi,tekanan proses belajarnya
adalah pada aplikasi konsep-konsep yang dipelajari artinya sila-sila Pancasila dan
ajaran-ajaran agama diberi dan dibahas secukupnya, kemudian diterpkan dalam
kehidupan sehari-hari peserta didik inilah yang menjadi pusat perhatian para pendidik
afeksi.
2. Untuk pendidikan afeksi yang diselipkan pada bidang studi lain, pendidikan cukup
menyinggung afeksi tertentu yang kebetulan tepat dimunculkan saat itu untuk
dipahami oleh peserta didik, dihayati,dan dilaksanakan jadi setiap pendidik ketika
25 | P a g e

mengajar atau tidak mengajar mendapat kesempatan yang baik untuk menyingguing
afeksi, haruslah hal itu didiikan kepada anak-anak.
H. Implikasi Landasan Filsafat Pendidikan

1. 1. Implikasi Bagi Guru


Apabila kita konsekuen terhadap upaya memprofesionalkan pekerjaan guru maka filsafat
pendidikan merupakan landasan berpijak yang mutlak. Artinya, sebagai pekerja professional,
tidaklah cukup bila seorang guru hanya menguasai apa yang harus dikerjakan dan bagaimana
mengerjakannya. Kedua penguasaan ini baru tercermin kompetensi seorang tukang.
Disamping penguasaan terhadap apa dan bagaimana tentang tugasnya, seorang guru juga
harus menguasai mengapa ia melakukan setiap bagian serta tahap tugasnya itu dengan cara
tertentu dan bukan dengan cara yang lain. Jawaban terhadap pertanyaan mengapa itu
menunjuk kepada setiap tindakan seorang guru didalam menunaikan tugasnya, yang pada
gilirannya harus dapat dipulangkan kepada tujuan-tujuan pendidikan yang mau dicapai, baik
tujuan-tujuan yang lebih operasional maupun tujuan-tujuan yang lebih abstrak. Oleh karena
itu maka semua keputusan serta perbuatan instruksional serta non-instruksional dalam rangka
penunaian tugas-tugas seorang guru dan tenaga kependidikan harus selalu dapat
dipertanggungjawabkan secara pendidikan (tugas professional, pemanusiaan dan civic) yang
dengan sendirinya melihatnya dalm perspektif yang lebih luas dari pada sekedar pencapaian
tujuan-tujuan instruksional khusus.
Perlu digarisbawahi di sini adalah tidak dikacaukannya antara bentuk dan hakekat. Segala
ketentuan prasarana dan sarana sekolah pada hakekatnya adalah bentuk yang diharapkan
mewadahi hakekat proses pembudayaan subjek didik. Oleh karena itu maka gerakan ini hanya
berhenti pada penerbitan prasarana dan sarana sedangkan transaksi personal antara subjek
didik dan pendidik, antara subjek didik yang satu dengan subjek didik yang lain dan antara
warga sekolah dengan masyarakat di luarnya masih belum dilandasinya, maka tentu saja
proses pembudayaan tidak terjadi. Seperti telah diisyaratkan dimuka, pemberian bobot yang
berlebihan kepada kedaulatan subjek didikakan melahirkan anarki sedangkan pemberian
bobot yang berlebihan kepada otoritas pendidik akan melahirkan penjajahan dan penjinakan.
Kedua orientasi yang ekstrim itu tidak akan menghasilkan pembudayaan manusia.
1. 2. Implikasi bagi Pendidikan Guru dan Tenaga Kependidikan
Tidaklah berlebihan kiranya bila dikatakan bahwa di Indonesia kita belum punya teori tentang
pendidikan guru dan tenaga kependidikan. Hal ini tidak mengherankan karena kita masih
belum saja menyempatkan diri untuk menyusunnya. Bahkan salahsatu prasaratnya yaitu teori
tentang pendidikan sebagimaana diisyaratkan pada bagian-bagian sebelumnya, kita masih
belum berhasil memantapkannya. Kalau kita terlibat dalam berbagi kegiatan pembaharuan
pendidikan selama ini maka yang diperbaharui adalah pearalatan luarnya bukan bangunan
dasarnya.
Hal tersebut dikemukakan tanpa samasekali didasari oleh anggapan bahwa belum ada diantara
kita yang memikirkan masalah pendidikan guru itu. Pikiran-pikiran yang dimaksud memang
ada diketengahkan orang tetapi praktis tanpa kecuali dapat dinyatakan sebagi bersifat
fragmentaris, tidak menyeluruh. Misalnya, ada yang menyarankan masa belajar yang panjang
(atau, lebih cepat, menolak program-program pendidikan guru yang lebih pendek terutama
26 | P a g e

yang diperkenalkan didalam beberapa tahun terakhir ini) ; ada yang menyarankan perlunya
ditingkatkan mekanisme seleksi calon guru dan tenaga kependidikan; ada yang menyoroti
pentingnya prasarana dan sarana pendidikan guru; dan ada pula yang memusatkan perhatian
kepada perbaikan sistem imbalan bagi guru sehingga bisa bersaing dengan jabtan-jabatan lain
dimasyarakat. Tentu saja semua saran-saran tersebut diatas memiliki kesahihan, sekurangkurangnya secara partial, akan tetapi apabila di implementasikan, sebagian atau seluruhnya,
belum tentu dapat dihasilkan sistem pendidikan guru dan tenaga kependidikan yang efektif.
Sebaiknya teori pendidikan guru dan tenaga kependidikan yang produktif adalah yang
memberi rambu-rambu yang memadai didalam merancang serta mengimplementasikan
program pendidikan guru dan tenaga kependidikan yang lulusannya mampu melaksanakan
tugas-tugas keguruan didalam konteks pendidikan (tugas professional, kemanusiaan dan
civic). Rambu-rambu yang dimaksud disusun dengan mempergunakan bahan-bahan yang
diperoleh dari tiga sumber yaitu: pendapat ahli, termasuk yang disangga oleh hasil penelitian
ilmiah, analisis tugas kelulusan serta pilihan nilai yang dianut masyarakat. Rambu-rambu
yang dimaksud yang mencerminkan hasil telaahan interpretif, normative dan kritis itu, seperti
telah diutarakan didalam bagian uraian dimuka, dirumuskan kedalam perangkat asumsi
filosofis yaitu asumsi-asumsi yang memberi rambu-rambu bagi perancang serta implementasi
program yang dimaksud. Dengan demikian, perangkat rambu-rambu yang dimaksud
merupakan batu ujian didalam menilai perancang dan implementasi program, maupun
didalam mempertahankan program dari penyimpngan-penyimpangan pelaksanaan ataupun
dari serangan-serangan konseptual.
REFERENSI
Bahri, Syamsul. 2007. Landasan Pendidikan. (http://www.wordpress.com/ syamsulbolg.html,
diakses tanggal 22 Maret 2007).
Miarso, Yusufhadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada
Media Group.
Pidarta, Made. 1997. Landasan Kependidikan. Yakarta : Rineka Cipta.
Prawiradilaga, Dewi Salma dan Eveline Siregar. 2007. Mozaik Teknologi Pendidikan.
Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.
PTS Online. 2007. Pentingnya Landasan Filsafat Ilmu Pendidikan.
(http://www.pts.co.id/filsafat.asp, diakses tanggal 22 Maret 2007).
Seels, Barbara B dan Richey, Rita C. 1994. Teknologi Pembelajaran Definis dan
Kawasannya. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta.
Setiawan, Muhammad. 2007. Filsafat Pendidikan dan Implikasinya. RBI-Online. (www.rbionline.com/filsafat-pendidikan-dan-implikasinya.html, diakses tanggal 22 Maret 2008).
Tirtarahardja, Umar dan Sulo, S.L.La. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

27 | P a g e

Anda mungkin juga menyukai