Anda di halaman 1dari 46

BAB I

Pendahuluan
1.1

Latar Belakang
Reformasi pada tahun 1998 mengamanatkan otonomi daerah secara

penuh, pertimbangan mendasar dari terselenggaranya Otonomi Daerah (otoda)


adalah perkembangan kondisi didalam negeri yang mengindikasikan bahwa
rakyat menghendaki keterbukaan dan kemandirian (desentralisasi) pada
seluruh tingkatan pemerintahan. Setiap tingkatan pemerintahan dituntut untuk
meningkatkan kemandirian yang diharapkan dapat diraih melalui otonomi
daerah, sehingga tidak terpaku dengan pemerintah pusat. Tujuan program
otonomi daerah menurut Bastian (2006) adalah :
Untuk menciptakan kehidupan politik yang lebih demokratis,
menciptakan sistem yang lebih menjamin pemerataan dan
keadilan, memungkinkan setiap daerah menggali potensi natural
dan cultural yang dimiliki, dan kesiapan menghadapi tantangan
globalisasi, serta yang sangat penting adalah terpeliharanya
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan kata lain,
pemerintah ingin melaksanakan pasal 18 UUD 1945, yaitu
dengan

melaksanakan

otonomi

bertanggung jawab.

yang

luas,

nyata,

dan

Otonomi Daerah di Indonesia didasarkan pada Undang-undang nomor


22 tahun 1999 juncto Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah dan Undang-undang nomor 25 tahun 1999 juncto Undangundang nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat
dan Daerah dengan sistem pemerintahan desentralisasi dan sudah mulai efektif
dilaksanakan sejak 1 januari 2001. Misi utama Undang-undang nomor 33
tahun 2004 adalah bukan hanya melimpahkan kewenangan pembangunan dari
pemerintah pusat ke pemerintah daerah secara langsung, tetapi yang lebih
penting adalah efisiensi dan efektifitas sumber daya keuangan. Selanjutnya
Bastian (2006) menyatakan bahwa diperlukan suatu laporan keuangan yang
handal dan dapat dipercaya agar dapat menggambarkan sumber daya keuangan
daerah berikut dengan analisis prestasi pengelolaan sumber daya keuangan
daerah itu sendiri.
Dinamisnya sistem otonomi daerah di Indonesia berimbas pada
disetujuinya UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa pada 15-Jan-2014 yang
mengamanatkan desa untuk dapat mandiri dan mengelola keuangannya sendiri
sesuai dengan pendapatan asli desa. Namun sampai dengan saat ini pemerintah
belum menerbitkan Peraturan Pemerintah yang menjadi pedoman untuk
mengatur Keuangan Desa seperti yang diamanatkan pada beberapa pasal dalam
undang-undang tersebut. Padahal dalam Analisis prestasi, kinerja keuangan

2 | Desa Ciburial

dari pemerintahan desa itu sendiri yang dapat didasarkan pada kemandirian
dan

kemampuannya

untuk

memperoleh,

memiliki,

memelihara

dan

memanfaatkan keterbatasan sumber-sumber ekonomis desa untuk pemenuhan


seluas-luasnya kebutuhan masyarakat di desa itu sendiri..(Bastian, 2006).
Di kabupaten Bandung terdapat sebuah desa yang bernama Desa
Ciburial, Desa ini amat menarik karena memiliki kelebihan letak geografis
yang amat strategis dan sumber daya alam yang cukup indah selain itu dari
segi otonomi daerah Desa Ciburial memiliki kewenangan otom dalam
mengelola keuangan. Desa Ciburial digolongkan menjadi desa administratif
karena struktur pemerintahannya di bawah Kabupaten Bandung. Meskipun
Desa Ciburial digolongkan menjadi desa administratif tetapi desa ini memiliki
kewenangan mengelola keuangan secara otonom, namun tentu tidak lantas
menghilangkan dana dari pemerintah pusat yang diberikan melalui pemerintah
desa berupa Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang menjadi
hak dari desa-desa administratif. Kewenangan otonom yang dimiliki Desa
Ciburial dimana desa tersebut memiliki kebebasan untuk mengolah keuangan
sendiri menjadikan perangkat desa dari Desa Ciburial produktif dalam mencari
tambahan pendapatan bagi keuangan desa. Salah satu potensi dari letak
geografis Desa Ciburial yang strategis dan menarik dimanfaatkan oleh investor
untuk membuka tempat usaha yang retribusinya dapat masuk ke kas desa.

3 | Desa Ciburial

Selain itu melalui perangkatnya desa diberi keuntungan materi lain dengan
memberi surat pengantar bagi investor untuk mendapatkan surat ijin usaha.
Adanya investor yang membuka rumah usaha menjadikan Desa Ciburial
semakin terkenal dan kemudian ramai dikunjungi wisatawan.
Pelaksanaan otonomi terutama pada bidang keuangan identik dengan
adanya tuntutan Good Governance dalam rangka efektifitas dan efisiensi
pembangunan daerah dalam kerangka otonomi memerlukan prasyarat berupa
tata pemerintahan yang baik dan bersih. Terselenggaranya Good Governance
merupakan prasayarat utama untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dalam
mencapai tujuan dan cita-cita Bangsa dan Negara termasuk didalam desa
prinsip Good Governance harus terus ditegakan. Mengingat desa Ciburial
merupakan desa percontohan dengan potensi ekonomi dari pariwisata maupun
investasi yang cukup tinggi membuat pendapatan asli desa terus meningkat
tiap tahunnya, berdasarkan data dari tahun 2013 sampai pada semester 1 tahun
2015 peningkatan Pendapatan asli desa lebih dari 12%. Pada dasarnya terdapat
tiga pilar utama didalam mewujudkan good governance, yaitu : Akuntabilitas,
Transparasi, dan Partisipasi. Satu upaya nyata didalam penerapan prinsipprinsip dasar Good Governance ini adalah penyampaian laporan keterangan
pertanggung jawaban keuangan pemerintahan daerah dengan standar akuntansi
pemerintahan yang telah diterima secara umum.

4 | Desa Ciburial

Semenjak diberlakukannya kebijakan otonomi desa oleh pemerintahan


pusat desa Ciburial memikul suatu tugas untuk memberikan suatu inovasi
didalam sistem pemerintahan kearah yang lebih baik untuk menjadi lebih
mandiri

didalam

mengelola

dan

meningkatkan

kinerja

keuangan

pemerintahannya yang akan dipertanggung jawabkan kepada pemerintahan


daerah dan pusat bahkan masyarakat desa itu sendiri. Maka berdasarkan atas
pertimbangan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian di Desa Ciburial yang berkenaan dengan penganalisaan kinerja
keuangan pemerintahan desa.

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis membuat sebuah

pertanyaan penelitian Bagaimanakah Kinerja Keuangan Desa Ciburial


berdasarkan indikator analisis rasio kemandirian, efektifitas dan efisiensi, rasio
aktivitas, serta rasio pertumbuhan, pada tahun 2013 dan 2014 ?

1.3

Tujuan Penulisan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk menganalisa Kinerja Keuangan

Desa Ciburial berdasarkan indikator analisis rasio kemandirian, efektifitas dan


efisiensi, rasio aktivitas, serta rasio pertumbuhan, pada tahun 2013 dan 2014.

5 | Desa Ciburial

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1

Desa Ciburial
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1987 Tanggal 27

Juli 1987 bahwa dalam rangka tertib administrasi pemerintahan dan dalam
upaya untuk menampung gerak langkah pembangunan yang terus meningkat di
wilayah tersebut, dipandang perlu untuk merubah batas wilayah Kotamadya
Daerah Tingkat II Bandung dengan memasukkan sebagian wilayah dari
Kabupaten Daerah Tingkat II Bandung dan sesuai dengan ketentuan Pasal 4
ayat (3) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok
Pemerintahan di Daerah, perubahan batas wilayah Kotamadya Daerah Tingkat
II Bandung dan Kabupaten Daerah Tingkat II Bandung dalam lingkungan
Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat harus ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah, Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan
Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung dan Kabupaten Daerah Tingkat II
Bandung adalah sebagaimana ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 16
Tahun 1950 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 13
Tahun 1954, dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1950. Batas wilayah
Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung diubah dan diperluas dengan
memasukkan sebagian wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bandung, Desa
6

6 | Desa Ciburial

Ciburial masuk ke dalam Kecamatan Cimenyan yang dahulu bernama


Kecamatan Cicadas dan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa yang berisi Pemerintahan Desa adalah
penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan
Permusyawaratan

Desa

dalam

mengatur

dan

mengurus

kepentingan

masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang


diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia maka secara resmi kantor Desa Ciburial Kecamatan Cimenyan
diakui sebagai pemerintahan desa yang berfungsi sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan desa.
2.1.1 Visi Desa Ciburial
Terwujudnya masyarakat Desa Ciburial yang sejahtera dan dinamis
dalam nuansa religius dan berwawasan lingkungan sebagai desa pendidikan
dan wisata. Adapun makna dari Visi tersebut adalah:
1. Terwujudnya masyarakat Desa Ciburial yang sejahtera dan
dinamis,

mengandung

arti

kondisi

Desa

Ciburial

yang

masyarakatnya memiliki keberdayaan secara sosial dan ekonomi


sehingga mampu melangsungkan kehidupan individu maupun
kemasyarakatan secara layak serta senantiasa penuh tenaga dan
semangat untuk cepat bergerak dan mudah menyesuaikan diri

7 | Desa Ciburial

dengan keadaan untuk terus menuju perubahan ke arah yang


lebih baik.
2. Dalam nuansa religius dan berwawasan lingkungan, mengandung
arti bahwa segala aktivitas kehidupan di Desa Ciburial senantiasa
dijiwai oleh nilai-nilai budaya, norma, dan agama dan kepedulian
terhadap lingkungan.
3. Sebagai desa pendidikan dan wisata, Desa Ciburial berdasarkan
potensi kewilayahan merupakan desa tempat diselenggarakannya
berbagai kegiatan pendidikan dan kegiatan pariwisata yang
berkualitas.
2.1.2 Misi Desa Ciburial
Untuk terwujudnya visi tersebut ada empat upaya atau misi yang akan
mendukukung pencapaiannya yaitu :
1. Mewujudkan pemerintah Desa yang bersih, amanah, dan
transparan serta berorientasi pelayanan kepada masyarakat.
2. Meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat.
3. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berbasis iman
dan takwa.
4. Mewujudkan lingkungan masyarakat yang bersih, aman, tertib
dan teratur. Secara umum penyelenggaraan visi dan misi Desa
Ciburial tertuang dalam rencana pembangunan jangka menengah
desa ciburial tahun 2007-2013.

8 | Desa Ciburial

2.2.2 Struktur Organisasi


Struktur organisasi dapat dikatakan sebagai pola hubungan antara
komponenkomponen atau bagian dari suatu organisasi. Struktur organisasi
adalah kerangka yang mewujudkan suatu pola tetap dari hubungan antara
kedudukan dan peranan dari suatu lingkungan Berikut adalah tugas dan
wewenang dari pemerintah daerah Desa Ciburial:

1. Kepala Desa

9 | Desa Ciburial

Bertindak sebagai pimpinan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa,


yaitu membina kehidupan masyarakat desa, membina perekonomian
desa, memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat desa,
mendamaikan perselisihan masyarakat di desa dan mengajukan
rancangan peraturan desa dan menetapkannya sebagai peraturan desa
bersama dengan BPD.
2. Kaur Keuangan
Kepala urusan keuangan tugas dan sebagian wewenangnya adalah
melakukan pengelolaan administrasi keuangan desa yang meliputi
penyusunan anggaran, pembukuan, pertanggungjawaban keuangan desa,
dan laporan realisasi keuangan serta membantu pemungutan dan
penyetoran PBB kepada kas negara, memungut dan meyetorkan pajak
lainnya, dan melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa.
3. Kaur Umum
Kepala urusan umum tugas dan sebagaian wewenangnya adalah
pengumpulan administrasi kepegawaian, penyelenggaraan rapat-rapat,
tata usaha desa, surat menyurat, kearsipan, penyajian data dan
kepustakaan serta dokumentasi dan tugas lain yang diberikan oleh
kepala desa.
4. Kasi Pemerintahan Kepala

10 | Desa Ciburial

Seksi

pemerintahan

melaksanakan

sebagian

administrasi

tugas

dan

pemerintahan

wewenangnya
desa,

adalah

melaksanakan

administrasi penduduk di desa, mengadakan kegiatan pencatatan mutasi


tanah dan pencatatan administrasi pertahanan, melaksanakan dan
memberikan pelayanan terhadap masyarakat dalam hal pembuatan
Kartu Tanda Penduduk (KTP), melaksanakan kegiatan monografi/profil
desa, melaksanakan penyelenggaraan buku administrasi desa dan
keputusan kepala desa dan melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh
kepala desa.
5. Kasi Trantibum
Kepala seksi ketertiban umum sebagian tugas dan wewenangnya adalah
menjaga ketenteraman, keamanan dan ketertiban masyarakat secara
umum, mengkoordinasikan dan melaksanakan upaya-upaya dalam
rangka menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan, melaksanakan
kegiatan kemasyarakatan 13 termasuk kegiatan ketentraman dan
ketertiban serta perlindungan masyarakat (LINMAS), menginvertarisasi
kegiatan dan personil keamanan lingkungan, dan melaksanakan tugas
lain yang diberikan oleh kepala desa.

6. Kasi Kesra

11 | Desa Ciburial

Kepala seksi kesejahteraan rakyat sebagian tugas dan wewenangnya


adalah mengumpulkan, mengolah, mengevaluasi, dan pelaporan data
dibidang

kesejahteraan

masyarakat,

sosial,

serta

mengadakan

pembinaan keagamaan, kesehatan, keluarga berencana, pendidikan


masyarakat, dan melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala
desa.
7. Kasi Ekonomi
Kepala seksi ekonomi sebagian tugasnya adalah mengumpulkan,
mengolah, mengevaluasi, dan pelaporan data di bidang perekonomian
desa, dan melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa. 8.
Kasi Pembangunan Kepala seksi pembangunan sebagian tugasnya
adalah koordinator pelaksanaan tugas dalam unit kerja dalam bidang
pembangunan, antar unit kerja dengan lembaga kemasyarakatan yang
terkait baik secara formal ataupun informal guna memperoleh kesatuan
pendapat, dan melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala desa.
8. Staf Kasi Pemerintahan
Staf seksi pemerintahan tugasnya adalah membantu kepala seksi
pemerintahan dalam menyelenggarakan administrasi pemerintahan desa.
9. Staf Kasi Trantibum

12 | Desa Ciburial

Staf seksi ketertiban umum tugasnya adalah membantu kepala seksi


trantib dalam menyelenggarakan administrasi keamanan dan ketertiban
desa.
10. Staf Kasi Kesra
Staf seksi kesejahteraan rakyat tugasnya adalah membantu kepala seksi
kesra dalam menyelenggarakan administrasi kesejahteraan sosial
masyarakat desa.
11. Staf Kasi Ekonomi
Staf seksi ekonomi tugasnya adalah mengumpulkan, mengolah,
mengevaluasi, dan pelaporan data di bidang perekonomian desa.
12. Staf Kasi Pembangunan
Staf seksi pembangunan tugasnya adalah membantu kepala seksi
pembangunan dalam menyelenggarakan administrasi pelaksanaan
kegiatan pembangunan di Desa Ciburial.
13. Kepala Dusun I
Tugasnya adalah sebagai unsur wilayah yang membantu pelaksanaan
tugas kepala desa, dan melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh
kepala desa.

14. Kepala Dusun II

13 | Desa Ciburial

Tugasnya adalah sebagai unsur wilayah yang membantu pelaksanaan


tugas kepala desa, dan melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh
kepala desa.
15. Kepala Dusun III
Tugasnya adalah sebagai unsur wilayah yang membantu pelaksanaan
tugas kepala desa, dan melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh
kepala desa.
2.2

Keuangan Desa
Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban dalam rangka

penyelenggaraan pemerintahan desa yang dapat dinilai dengan uang termasuk


didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan
kewajiban desa tersebut. Penyelenggaraan fungsi pemerintahan desa akan
terlaksana secara optimal apabila penyelenggaraan pemerintahan tersebut
diikuti dengan penerimaan sumber-sumber pendapatan desa yang cukup
dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan. Analisis pengelolaan
keuangan desa pada dasarnya dimaksudkan untuk menghasilkan gambaran
tentang kapasitas atau kemampuan keuangan desa dalam mendanai
penyelenggaraan pembangunan desa. Mengingat bahwa pengelolaan keuangan
desa diwujudkan dalam suatu APBDesa dan laporan keuangan desa sekurangkurangnya 5 tahun sebelumnya, dimana dalam dokumen ini adalah tahun 2008-

14 | Desa Ciburial

2012. Hubungan antara dokumen perencanaan strategis dengan anggaran,


dapat dilihat dalam gambar berikut :

Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) merupakan rencana


pengelolaan keuangan tahunan pemerintah desa yang disetujui oleh Badan
Permusyawaratan Desa (BPD) dalam Peraturan Desa. Dalam hubungannya
dengan

RPJM-Desa,

APBDesa

merupakan

komitmen

penyelenggara

pemerintah desa untuk mendanai strategi pembangunan pada satuan program


dan kegiatan selama kurun waktu 5 tahun. Arah kebijakan keuangan desa yang
diambil oleh Desa mengandung makna : a. Arah belanja APBDesa digunakan
sepenuhnya untuk mendukung kebijakan dan prioritas strategis jangka

15 | Desa Ciburial

menengah 5 tahunan; b. Untuk menjamin ketersediaan dana maka kebijakan


pendapatan desa diarahkan untuk mendapatkan berbagai sumber pendapatan
yang substansial dan dengan jumlah yang memadai. Mengingat kebijakan
masing-masing komponen APBDesa berbeda, maka kebijakan keuangan desa
juga dirinci pada masing-masing komponen tersebut, meliputi kebijakan
Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan (Sutoro, 2015). Adapun hubungan
strategi dengan arah kebijakan komponen APBDesa dapat dilihat dalam
gambar berikut :

Gambar diatas menunjukkan hubungan antara proses perencanaan


kegiatan dengan keuangan desa. Satuan terkecil dari perencanaan strategis
adalah program dan kegiatan. Melalui analisis belanja, standar pelayanan, dan
standar harga atas komponen belanja tiap kegiatan dapat dihitung kebutuhan
16 | Desa Ciburial

belanja. Dengan demikian, arah kebijakan belanja Desa Jatilor pada prinsipnya
adalah agar belanja dapat mendukung kebutuhan dana seluruh kegiatan,
sehingga belanja yang tidak strategis dan tidak mempunyai nilai tambah dapat
diminimalisir. Pada tahap berikutnya, untuk menutup semua kebutuhan
belanja, APBDesa harus mengoptimalkan sumber-sumber pendapatannya
(Sutoro, 2015). Semua potensi pendapatan semaksimal mungkin digali agar
mampu menutup seluruh kebutuhan belanja. Kebijakan pendapatan diarahkan
agar sumbersumber pendapatan yang mendukung APBDesa selama ini
diidentifikasi dengan baik, ditingkatkan penerimaannya (intensifikasi), dan
diupayakan sumber-sumber baru (ekstensifikasi) oleh Pemerintah Desa Jatilor.
Mengingat bahwa komponen APBDesa menggunakan struktur surplus/defisit,
maka selisih antara pendapatan dan belanja dihitung sebagai surplus/defisit dan
dialokasikan ke pembiayaan. Dalam hal APBDesa mengalami defisit, maka
kebijakan pembiayaan mengupayakan sumber pemasukan kas untuk menutup
defisit tersebut (penerimaan pembiayaan). Sebaliknya, apabila APBDesa
mengalami sisa lebih, maka atas surplus tersebut akan dialokasikan dalam
pengeluaran pembiayaan pada pos-pos pembiayaan yang diperkenankan dalam
peraturan perundang-undangan (Sutoro, 2015). Sebagaimana amanat UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan
Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa dan Peraturan Menteri Dalam

17 | Desa Ciburial

Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa


serta Peraturan Bupati Grobogan Nomor 55 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Desa sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Bupati Grobogan Nomor 25 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan
Bupati Grobogan Nomor 55 Tahun 2008 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Desa yang antara lain menyebutkan bahwa pengelolaan keuangan
desa harus dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan,
efisien,

ekonomis,

efektif,

transparan

dan bertanggungjawab

dengan

memperhatikan keadilan, kepatutan dan manfaat untuk masyarakat, maka


semua penerimaan dan pengeluaran keuangan desa dalam tahun anggaran yang
bersangkutan harus dimasukkan dalam APBDesa, dan selanjutnya APBDesa
tersebut dijadikan dasar bagi pemerintah desa dalam pengelolaan penerimaan
dan pengeluaran desa yang disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan
pemerintahan serta kemampuan keuangan desa, oleh karena itu prinsip
pengelolaan ini akan tercermin pada proses penyusunan anggaran desa,
struktur pendapatan dan struktur belanja desa (Sutoro, 2015).
2.3

Tinjauan Pembangunan Desa


Pembangunan pedesaan sering dalam bahasa inggris disebut dengan

Community Development, pembangunan masyarakat desa merupakan proses


perubahan sosial yang direncanakan untuk mengubah keadaan yang tidak

18 | Desa Ciburial

dikehendaki kearah yang dikehendaki dan lebih baik. Menurut Sutoro (2015)
pembangunan masyarakat desa adalah merupakan bagian dari pembangunan
nasional, secara khusus pembangunan masyarakat desa memiliki pengertian
sebagai berikut :
1. Pembangunan masyarakat desa berarti pembangunan masyarakat
tradisional menjadi masyarakat modern.
2. Pembangunan masyarakat desa berarti membangun swadaya
masyarakat dan rasa percaya diri sendiri.
3. Pembangunan pedesaan tidak lain dari pembangunan usaha tani
atau membangun pertanian.
Konsep pembangunan masyarakat desa mengacu pada teori dasar bahwa
sasaran pembangunan yang utama adalah manusia. Dalam membangun
manusia maka harus bisa mendorong agar masyarakat berkemauan dan
berkemampuan untuk menolong dirinya, salah satu dimensi yang penting
dalam pembangunan masyarakat desa adalah desentralisasi dalam artian bahwa
pembangunan masyarakat desa juga merupakan bagian dari upaya melakukan
desentralisasi dalam pembangunan nasional. Sedangkan dalam pembangunan
desa yang bersifat sentralistis mengakibatkan ketidak mampuan dalam 24
kegiatan-kegiatan yang ada di desa, serta adanya ketergantungan masyarakat
terhadap pemerintah pusat. Dengan melihat proses pembangunan desa selama
ini ada beberapa pokok masalah (Sutoro, 2015):

19 | Desa Ciburial

1. Ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah.


2. Urban bias (ketergantungan antara masyarakat desa dengan kota)
3. Belum berkembangnya kesadaran aparatur pemerintah terhadap
pembangunan masyarakat desa.
4. Masih lemahnya koordinasi

antara

instansi

sehingga

menyebabkan masyarakat desa lebih sering menjadi obyek dari


pada subyek pembangunan.
2.4

Kinerja Keuangan Daerah


Kinerja (Performance) dapat diartikan sebagai aktivitas terukur dari

suatu entitas selama periode tertentu sebagai bagian dari ukuran keberhasilan
pekerjaan. Kinerja keuangan daerah atau kemampuan daerah merupakan salah
satu ukuran yang dapat digunakan untuk melihat kemampuan daerah dalam
menjalankan otonomi daerah (Sutoro, 2015). Otonomi terdapat dua aspek
kinerja keuangan yang dituntut agar lebih baik dibanding dengan sebelum
otonomi daerah. Aspek pertama adalah bahwa daerah diberi kewenangan
mengurus pembiayaan daerah dengan kekuatan utama pada kemampuan
pendapatan asli daerah (Anom, 2015). Kehadiran UU nomor 34 tahun 2000
tentang Pendapatan Pajak dan Retribusi Daerah serta peraturan pelaksanaannya
adalah momentum dimulainya pengelolaan sumbersumber pendapatan daerah
secara penuh (desentralisasi fiskal).

20 | Desa Ciburial

Aspek kedua yaitu disisi manajemen pengeluaran daerah, sesuai azas


otonomi daerah bahwa pengelolaan keuangan daerah harus lebih akuntabel dan
transparan tentunya menuntut daerah agar lebih efisien dan efektif dalam
pengeluaran daerah. Kedua aspek tersebut dapat disebut sebagai Reformasi
Pembiayaan. Reformasi manajemen sektor publik terkait dengan perlunya
digunakan model manajemen pemerintahan yang baru yang sesuai dengan
tuntutan perkembangan jaman, karena perubahan ini tidak hanya perubahan
paradigma, namun juga perubahan manajemen. Model manajemen yang cukup
populer misalnya adalah New Public Management yang mulai dikenal tahun
1980-an dan populer tahun 1990-an yang mengalami beberapa bentuk konsep
manageralism, market based public administrator, dan lain sebagainya. (Anom,
2015)
Manajemen sektor publik berorientasi kinerja, bukan berorientasi pada
kebijakan yang membawa konsekuensi pada perubahan pendekatan anggaran
yang selama ini dikenal dengan pendekatan anggaran tradisional (tradisional
budget) menjadi penganggaran berbasis kinerja (performance budget), tuntutan
melakukan efisiensi, optimalisasi pendapatan, pemangkasan biaya (cost
cutting) dan kompetisi tender (compulsory competitive tendering contract).
Dalam penelitian ini, istilah yang penulis maksudkan tentang Kinerja
Keuangan Dalam Pemerintahan Daerah adalah tingkat pencapaian dari suatu

21 | Desa Ciburial

hasil kerja dibidang keuangan daerah yang meliputi penerimaan dan belanja
daerah dengan menggunakan indikator keuangan APBD yang ditetapkan
melalui suatu kebijakan atau ketentuan perundang-undangan selama satu
periode anggaran dengan membandingkan anggaran sebelum/sesudahnya.
Bentuk dari penilaian kinerja tersebut berupa Rasio Keuangan yang terbentuk
dari unsur Laporan Pertanggungjawaban Kepala Daerah berupa perhitungan
APBD. Didalam penilaian indikator kinerja sekurang-kurangnya ada empat
tolok ukur penilaian kinerja keuangan pemerintahan daerah yaitu :
1. Penyimpangan antara realisasi anggaran dengan target yang
ditetapkan dalam APBD.
2. Efisiensi Biaya
3. Efektifitas Program.
4. Pemerataan dan keadilan
Menurut (Anom, 2015) terdapat beberapa analisa rasio didalam
pengukuran kinerja keuangan daerah yang dikembangkan berdasarkan data
keuangan yang bersumber dari APBD adalah sebagai berikut:

a. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah


Kemandirian
kemampuan

keuangan

Pemerintah

daerah

Daerah

(otonomi

dalam

fiskal)

membiayai

menunjukkan

sendiri

kegiatan

22 | Desa Ciburial

pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah


membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan
daerah. Kemandirian keuangan daerah ditunjukkan oleh besar kecilnya
pendapatan asli daerah dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal
dari sumber yang lain, misalnya bantuan pusat ataupun dari pinjaman.

Rasio Kemandirian menggambarkan ketergantungan daerah terhadap


sumber dana ekstern. Semakin tinggi rasio kemandirian mengandung arti
bahwa tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak ekstern (terutama
pemerintah pusat dan propinsi) semakin rendah, dan demikian pula sebaliknya.
Rasio kemandirian juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam
pembangunan daerah. Semakin tinggi rasio kemandirian, semakin tinggi
partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah yang
merupakan komponen utama pendapatan asli daerah. Semakin tinggi
masyarakat membayar pajak dan retribusi daerah akan menggambarkan tingkat
kesejahteraan masyarakat yang semakin tinggi.

b. Rasio Efektifitas dan Efisiensi Pendapatan Asli Daerah

23 | Desa Ciburial

Rasio efektifitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam


merealisasikan pendapatan asli daerah yang direncanakan dibandingkan
dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah.

Kemampuan daerah dalam menjalankan tugas dikategorikan efektif


apabila rasio yang dicapai mencapai minimal sebesar 1 (satu) atau 100 persen.
Namun

demikian

semakin

tinggi

rasio

efektifitas,

menggambarkan

kemampuan daerah yang semakin baik. Guna memperoleh ukuran yang lebih
baik, rasio efektifitas tersebut perlu dipersandingkan dengan rasio efisiensi
yang dicapai pemerintah daerah.

Rasio efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara


besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan
realisasi pendapatan yang diterima. Kinerja keuangan pemerintah daerah dalam
melakukan pemungutan pendapatan dikategorikan efisien apabila yang dicapai
kurang dari 1 (satu) atau dibawah 100 persen. Semakin kecil rasio efisiensi
berarti kinerja pemerintahan daerah semakin baik.

24 | Desa Ciburial

c. Rasio Aktivitas
Rasio

ini

menggambarkan

bagaimana

pemerintah

daerah

memprioritaskan alokasi dananya pada belanja rutin dan belanja pembangunan


secara optimal. Semakin tinggi presentase dana yang dialokasikan untuk
belanja rutin berarti persentase belanja investasi (belanja pembangunan) yang
digunakan untuk menyediakan sarana prasarana ekonomi masyarakat
cenderung semakin kecil. Secara sederhana rasio keserasian itu dapat
diformulasikan sebagai berikut :

Belum ada patokan yang pasti berapa besarnya rasio belanja rutin
maupun pembangunan terhadap APBD yang ideal, karena sangat dipengaruhi
oleh dinamisasi kegiatan pembangunan dan besarnya kebutuhan investasi yang
diperlukan untuk mencapai pertumbuhan yang ditargetkan. Namun demikian,
sebagai daerah di Negara berkembang peranan pemerintah daerah untuk
memacu pelaksanaan pembangunan masih relatif kecil. Oleh karena itu, rasio
belanja pembangunan yang relatif masih kecil perlu ditingkatkan sesuai dengan
kebutuhan pembangunan di daerah.

25 | Desa Ciburial

d. Rasio Pertumbuhan
Rasio

pertumbuhan

(Growth

ratio)

mengukur

seberapa

besar

kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan


keberhasilannya yang telah dicapai dari periode ke periode berikutnya. Dengan
diketahuinya

pertumbuhan

untuk

masing-masing

komponen

sumber

pendapatan dan pengeluaran, dapat digunakan mengevaluasi potensi-potensi


mana yang perlu mendapat perhatian.

Keterangan :
Xn = Tahun Yang dihitung
Xn-1 = Tahun Sebelumnya

BAB III
Desa Ciburial, Kec. Cimenyan, Kab. Bandung (Pembahasan)
3.1

Gambaran Potensi Ekonomi dan Pembangunan Desa


26 | Desa Ciburial

Potensi Unggulan Desa. Kegiatan ekonomi desa selama ini masih


didominasi oleh sektor kepariwistaan dan sektor pertanian, khususnya
peternakan. Namun dari pesatnya kepariwisataan dan pertanian desa belum
sutuhnya membuahkan hasil optimal. Ini disebabkan karena masih rendahnya
pengetahuan (SDM) dan kurangnya akses ke sumber permodalan. Sebagian
masyarakat Desa Ciburial banyak yang menjadi pekerja bangunan, buruh tani,
peternak sapi, peternak kambing, di bidang kepariwisataan, serta pekerjaan
lainya. Tingkat pendapatan masyarakat belum seutuhnya mencukupi kebutuhan
hidup karena harga barang tidak sebanding dengan penghasilan yang didapat
mereka serta masih minimnya bekal keterampilan, upah buruh yang masih
kecil serta masih mahalnya barang barang kebutuhan sembako. Keadaan
tersebut tidak hanya terjadi di wilayah Desa Ciburial namun wilayah lain juga
keadaanya sama. Pertumbuhan perekonomian desa masih didominasi oleh
sektor kepariwisataan dan sektor pertanian, khususnya peternakan sapi.
Peternak Ayam hanya beberapa orang yang melaksanakan kegiatan ini karena
memerlukan pembiayaan yang besar. Dari tingkat pertumbuhan ekonomi d
atas, banyak potensi kepariwisataan yang nilai ekonomisnya tinggi tetapi tidak
belum bisa diberdayakan. Diantaranya adalah: wisata kuliner, wisata alam,
27

wisata sejarah, wisata rohani, dan sejenisnya. Selain itu, di sektor pertanian,
banyak tanaman yang nilai ekonomisnya tinggi tetapi tidak dilaksanakan.

27 | Desa Ciburial

Diantaranya adalah: tanaman obat- obatan ( Jahe, Lengkuas, Mengkudu,


Dewa- dewi, kumis kucing dan lainnya ), tanaman perkebunan / pohon
produktif ( Petai, Blimbing, Nangka dan lainnya), tanaman pangan (bawang
merah, terong, mentimun, dan lainnya). Potensi perikanan kurang mendukung.
Potensi yang menjanjikan adalah di sektor jasa kepariwisataan, peternakan
sapi, kambing, penggemukan sapi, dan tanaman hortikurtura.
Segala aktivitas pembangunan yang diselenggarakan di Desa Ciburial
pada hakikatnya merupakan upaya guna meningkatkan kualitas manusia.
Sehubungan dengan hal tersebut, perencanaan pembangunan Desa Ciburial
diarahkan sepenuhnya pada terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan mendasar
manusia. Pembangunan manusia terdiri dari tiga kompenen pokok, yaitu
pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat. Berdasarkan pada kondisi
yang ada (eksiting), permasalahan, potensi, dan peluang yang dimiliki Desa
Ciburial, dengan senantiasa memandang bahwa semua bidang pembangunan
berada

dalam

kedudukan

yang

sama

penting,

ditetapkan

prioritas

pembangunan desa sebagai berikut:


1. Peningkatan pemahaman dan aplikasi nilai-nilai luhur agama dan
budaya dalam kehidupan kemasyarakatan dan kepemerintahan;
2. Peningkatan dan penuntasan wajar dikdas 9 tahun serta
peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang

28 | Desa Ciburial

berkualitas melalui peningkatan intensitas informasi peran


penting

pendidikan

kepada

perekonomian masyarakat.
3. Peningkatan kesadaran budaya

masyarakat.
sehat,

Pemberdayaan

peningkatan

akses

masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, dan perbaikan gizi


masyarakat. Peningkatan ketersediaan infrastruktur.
4. Pemeliharaan dan peningkatan kualitas lingkungan, peningkatan
budaya tertib dan sadar lingkungan sehat serta pencegahan dini
terhadap bencana alam.
5. Peningkatan kualitas pelayanan masyarakat melalui peningkatan
disiplin, profesianalisme, efektivitas, dan efesiensi kinerja
aparatur desa, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam
pembangunan.
6. Peningkatan kapasitas pernerintahan desa.

3.2

Anggaran dan Alokasi Dana Desa Ciburial


Semua anggaran yang telah dituangkan dalam APBDesa sering kali

belum bisa sesuai rencana. Kejadian ini juga terjadi di Desa Ciburial, di
desa/wilayah yang lain juga keadaanya tidak jauh berbeda. Semua pelaksanaan
kegiatan di desa, dana dialokasikan pada pekerjaan-pekerjaan yang dianggap
perlu dan darurat. Pekerjaan yang pelaksanaannya menggunakan dana yang

29 | Desa Ciburial

besar diajukan ke Pemerintah Kabupaten Bandung dan Pemerintah Provinsi


Jawa Barat, juga kepada masyarakat desa. Realisasi pekerjaan pembangunan di
desa menunggu Anggaran yang telah di sahkan. Dan apabila masih
kurang/lebih, diadakan perubahan anggaran sesuai ketentuan

3.2.1 Pengelolaan Untuk Belanja Aparatur dan Belanja Operasional


Berdasarkan hasil studi pustaka pada laman ciburial.desa.id diperoleh
data-data yang disajikan sebagai berikut ini : Penerimaan Dana Alokasi Desa
yang diterima oleh pemerintah desa Ciburial, berdasarkan hasil pengamatan
yang dilakukan oleh penulis, pembiayaan yang berasal dari anggaran Alokasi
Dana Desa (ADD) tersebut diterima oleh pemerintah desa Ciburial dari tahun
2013 sampai dengan 2014 yang jumlahnya setiap tahun berbeda, penerimaan
Alokasi Dana Desa (ADD) tersebut dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tahun Anggaran

Alokasi

Realisasi

2013

Rp. 94.112.100

Rp. 104.754.342

2014

Rp. 126.473.400

Rp. 152.616.234

Alokasi belanja Aparatur dan Belanja Operasional meningkat pada


tahun 2014 hal ini dikarenakan terjadi pembangunan yang dilakukan pada
tahun 2014 dengan rencana pada tahun 2013. Lebih lanjut belanja operasional

30 | Desa Ciburial

juga digunakan untuk menggaji beberapa perangkat desa yang ditambah pada
beberapa sektor.
3.2.2 Pengelolaan Belanja Publik dan Pembangunan
Program-program pembangunan desa dilakukan melalui mekanisme
Musyawarah

Perencanaan

Pembangunan

Desa

(Musrenbangdes).

Usulanusulan dari tingkat RT di tampung dan di musyawarahkan. Untuk


selanjutnya dibahas bersama dalam forum dan mekasime Musrenbangdes
RPJMdes (5 Tahunan) dan RKPDes (Satu Tahunan). Semua program kegiatan
ini dijadikan Database Kegiatan Pembangunan 5 Tahun (Termuat dalam
Dokumen RPJMDes) dan 1 Tahunan (termuat dalam Dokumen RKPDes).
Kegiatan pembangunan fisik di Desa Ciburial mengacu pada Dokumen
RPJMDes dan RKPDes. Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana
Kesehatan Masyarakat, Perhubungan, Pertanian serta Pemerintahan masih
menjadi Prioritas ataupun agenda kegiatan pembangunan fisik desa.
Pelaksanaan sepenuhnya oleh masyarakat itu sendiri. Pemerintah Desa hanya
menampung/menjembatani/memfasilitasi

kemudian

usulan

tersebut

di

masukan dalam agenda pembangunan. Berikut alokasi dana desa untuk Belanja
Publik dan Pembangunan :

31 | Desa Ciburial

Tahun Anggaran

Alokasi

Realisasi

2013

Rp. 932.886.980

Rp. 1.192.423.230

2014

Rp. 972.459.800

Rp. 1.008.994.800

Terlihat bawa realisasi belanja publik dan pembangunan menurun pada


tahun 2014, hal ini dikarenakan pada tahun 2013 merupakan tahun realisasi
proyek sehingga menyerap anggaran yang amat banyak sedangkan pada tahun
2014 beberapa proyek telah selesai sehingga relatif sedikit. Dalam rangka
pemerataan pembangunan desa menuju kemandirian desa dan meningkatnya
kesejahteraan masyarakat desa, diperlukan partisipasi dari seluruh masyarakat
melalui pembangunan skala desa. Untuk mendukung pelaksanaan program
tersebut diperlukan sumber dana yang dibutuhkan untuk menjaga ataupun
membangun sarana dan prasarana desa. Bangunan-bangunan yang ada
khususnya bangunan sarana umum, sarana ibadah, dan sarana sosial, umumnya
umurnya sudah lama dan perlu di renovasi/rehabilitasi bahkan dibangun total
karena sudah tidak layak di gunakan. Khusus untuk Pengerasan Jalan
Cibengang yang kondisinya masih tanah menjadi program prioritas karena
jalan Cibengan kondisinya masih tanah dan belum dikeraskan. Sampai
sekarang kegiatan pengerasan Jalan Cibengan, baru mencapai tahap pelapisan
dengan batu belah, sisanya akan dilanjutkan pada tahun anggaran berikutnya.

32 | Desa Ciburial

Adapun anggaran awalnya adalah anggran tahun 204 yaitu berupa pemasangan
batu belah di atas permukaan Jalan Cibengang.
Sumber utama dalam pelaksanaan pembangunan di Desa Ciburial masih
mengandalkan dana-dana yang di alokasikan dari Pemerintah Kabupaten
Bandung juga partisipasi/swadaya dari masyarakat. Baik itu, Alokasi Dana
Desa ( ADD ), P4, dan program lainnya. Berikut disampaikan sarana dan
prasarana desa yang ada: a) Kantor Desa jumlah 1 unit ( 2 Gedung ); b) Ruang
musyawarah jumlah 1 unit ( 1 ruangan); c) Masjid jumlah 33 Masjid d)
Sekolah Dasar jumlah 10 Unit SD e) Sekolah Menengah Pertama jumlah 2
Unit SMP f) Sekolah Menengah Atas jumlah 1 Unit SMA g) Lapangan Bola
Voli jumlah 12 Unit h) Lapangan Bulu Tangkis, jumlah 12 Unit i) Posyandu,
jumlah 12 unit j) Poskesdes, jumlah 1 Unit k) Polindes Desa, jumlah 1 Unit. l)
Balai Pertemuan, jumlah 3 unit.

3.3

Kinerja Keuangan Desa Ciburial


Penilaian terhadap kinerja keuangan Pemdes Ciburial ini yaitu dengan

cara melakukan analisis rasio keuangan terhadap Laporan Keuangan Desa.


Hasil analisis rasio keuangan selanjutnya dipergunakan sebagai tolok ukur
dalam menilai:

33 | Desa Ciburial

Kemandirian keuangan desa dalam membiayai penyelenggaraan


pemerintahan.
Efisiensi dan efektivitas dalam merealisasikan pendapatan desa.
Pertumbuhan/perkembangan
perolehan
pendapatan
dan
pengeluaran yang dilakukan selama periode waktu tertentu.
Kajian sederhana ini menggunakan data sekunder yaitu laporan
keuangan yang diperoleh dari Pemerintah Desa Ciburial. Data laporan
keuangan ini merupakan data yang bersifat historis, yakni data sekunder
berupa laporan keuangan pemerintah desa yang dipublikasikan. Yang terdiri
dari Laporan Keuangan Desa Ciburial Tahun Anggaran 2013 dan Laporan
Keuangan Desa Ciburial Tahun Anggaran 2014.

a. Rasio Kemandirian Keuangan Desa


Kemandirian keuangan desa mengindikasikan kemampuan Pemerintah
Desa dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan
pemberdayaan masyarakat. Kemandirian keuangan desa ditunjukkan oleh
besar kecilnya pendapatan asli desa (PADes) dibandingkan dengan pendapatan
desa yang berasal dari sumber lainnya misalnya Dana Bagi Hasil, Bagian Dana
Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, Bantuan Keuangan Pemerintah
/Provinsi /Kabupaten /Desa lainnya, Hibah, serta Sumbangan Pihak Ketiga.
Rasio kemandirian juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam

34 | Desa Ciburial

pembangunan desa. Semakin tinggi rasio kemandirian, semakin tinggi


partisipasi masyarakat dalam berswadaya dan berpartisipasi yang merupakan
komponen pendapatan asli desa. Semakin tinggi masyarakat berswadaya dan
berpartisipasi menggambarkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat
semakin tinggi.

Tahun Anggaran

PADes

Dana NonPADes

Rasio Kemandirian

2013

Rp. 356.269.250

Rp. 836.153.980

42,61%

2014

Rp. 154.819.000

Rp. 854.175.800

18,12%

Berdasarkan Tabel di atas nampak bahwa Pemerintah Desa Ciburial


tingkat kemandiriannya mengalami penurunan hal ini bisa dilihat dari adanya
penurunan rasio kemandirian dari 42,61% tahun 2013 menjadi 18,12% tahun
2014. Jika hasil rasio kemandirian dibandingkan dengan pedoman tingkat
kemandirian dan kemampuan keuangan dari Kepmendagri tahun 1996, maka
Pemerintah Desa Ciburial untuk tahun 2013 tingkat kemampuan keuangannya
masih rendah dan 2014 tingkat kemampuan keuangannya masih rendah sekali.
35 | Desa Ciburial

b. Rasio Efektivitas
Rasio ini menggambarkan kemampuan pemerintah desa dalam
merealisasikan pendapatan asli desa yang direncanakan dibandingkan dengan
target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil desa.

Tahun

Target PADes

Realisasi PADes

Rasio Efektivitas

2013

Rp. 206.533.000

Rp. 356.269.250

172,50%

2014

Rp. 225.784.000

Rp. 154.819.000

68,57%

Berdasarkan Tabel di atas nampak bahwa terjadi penurunan rasio


efektifitas dari 172,50% menjadi 68,57% pada tahun 2014, sehingga kriteria
efektifitas menurun dari Sangat Efektif menjadi Kurang Efektif. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa Pemerintah Desa Ciburial pada tahun 2014
kurang efektif dalam mengelola PADes-nya.

c. Rasio Efisiensi
Rasio efisiensi menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya
yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan
36 | Desa Ciburial

yang diterima. Pemdes dikatakan efisien jika rasio yang dicapai kurang dari 1
(satu) atau di bawah 100 persen. Semakin kecil rasio efisiensi berarti kinerja
pemerintah desa semakin baik.

Tahun

Realiasasi Penerimaan

Biaya Pemungutan

Rasio

PADes

PADes

Efisiensi

2013

Rp. 356.269.250

Rp. 14.724.000,-

4,13%

2014

Rp. 154.819.000,

Rp. 14.724.000,-

9,51%

Berdasarkan Tabel di atas diketahui bahwa rasio efisiensi mengalamai


penurunan efesiensi dari 4,13% di tahun 2013 dan menjadi 9,51% di tahun
2014. Meskipun mengalami penurunan tingkat efesiensi namun Rasio Efisiensi
tersebut masih menunjukkan bahwa Pemerintah Desa Ciburial dalam
mengelola pendapatan asli desanya sudah sangat efisien karena hasil rasio
efisiensi kurang dari 60%.
d. Rasio Pertumbuhan
Rasio pertumbuhan mengukur kemampuan Pemerintah Desa Ciburial
dalam mempertahankan dan meningkatkan keberhasilan yang telah dicapai
37 | Desa Ciburial

selama beberapa periode. Jika pertumbuhan untuk masing-masing komponen


sumber pendapatan dan pengeluaran sudah diketahui, maka dapat digunakan
untuk menilai potensi mana yang perlu mendapat perhatian.

Tahun

Realiasasi

Total

Rasio

Rasio

Penerimaan

Pendapatan

Pertumbuhan

Pertumbuhan

PADes (Rp.)

(Rp.)

PADes (Rp.)

Pendapatan

2013

356.269.250,-

1.192.423.230

2014

154.819.000,-

1.008.994.800, -56,54%

-15,38%

Berdasarkan Tabel di atas dapat diketahui bahwa pada tahun 2014


PADes Ciburial mengalami pertumbuhan negatif yang cukup tinggi yakni
sebesar -56,54%. Demikian juga untuk total pendapatan di tahun 2014
mengalami pertumbuhan negatif sebesar -15,38%.
3.4

Tantangan Desa Ciburial di Masa Depan

38 | Desa Ciburial

Setiap pelaksanaan kegiatan pembangunan dipastikan ada kendala. Ini


dikarenakan

kurangnya

pemahaman

masyarakat

tentang

pelaksanaan

pembangunan tersebut. Sedangkan swadaya dan gotong-royong ada beberapa


masalah. Untuk menyelesaikan pelaksanaan kegiatan tersebut diadakan
musyawarah agar masyarakat mendukung sepenuhnya dan partisipasi lebih
ditekankan kepada masyarakat. Agar semua masyarakat merasa ikut memiliki
pada pekerjaan tersebut dan diharapkan sesuai rencana kerja yang ada. Semua
keputusan diserahkan kepada masyarakat dalam penggalian dana ataupun
swadaya. Partisipasi dan gotong royong ditekankan pada masyarakat dan
dilakukan sosialisasi pada masyarakat agar semua pelaksanaan pekerjaan
tersebut sesuai dengan rencana.
Sebagian pekerjaan di dalam desa dalam pelaksanaanya masih banyak
kekurangan-kekurangan. Namun hal tersebut tidak berarti suatu pekerjaan
tersebut tidak selesai, kadang permasalahan yang timbul adalah teknis
pelaksanaannya. Dalam pelaksanaan semua anggaran yang telah tertuang
dalam APBDes sering kali mengalami hambatan. Banyak rencana yang
dilaksanakan masih mengalami kekurangan pembiayaan- pembiayaan. Namun
hal tersebut diselesaikan dengan baik walaupun dana yang dipergunakan
kurang. Untuk mencukupi kebutuhan pembiayaan penyelenggaraan pemerintah
dan pembangunan, pemerintah desa melakukan pinjaman kepada pihak ke-tiga

39 | Desa Ciburial

dengan rencana pengembalian pinjaman tersebut dengan Pendapatan Asli


Desa. Sedangkan dana ADD dan P4 dilaksanakan sesuai Pos masing- masing,
sesuai dengan Petunjuk Teknis ADD.
Salah satu tantangan yang harus menjadi fokus desa adalah
penanggulangan bencana alam yang terjadi, ( selama ini berupa tanah longsor),
dalam keadaan darurat koordinasi dengan instansi terkait dioptimalkan dalam
rangka penanganan bencana tersebut. Instansi sebagaimana dimaksud adalah
Muspika Kecamatan Cimenyan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BNPB) Kabupaten Bandung. Untuk ansisipasi dini selalu berkoordinasi
dengan Kepala Bidang Pengamatan Gempabumi dan Gerakan Tanah Badan
Geologi; Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Pelaksanaan
penanggulangan bencana di Desa Ciburial telah dibentuk Forum Kewaspadaan
Dini Masyarakat (FKDM). Tim tersebut bertugas mengkoordinir penanganan
bencana alam dan sejenisnya dengan instansi yang terkait. Anggota tim terdiri
dari Perangkat Desa, Lembaga Desa, Bidan Desa dan Tokoh Masyarakat.
Koordinasi dilakukan dengan melihat jenis bencana yang terjadi. Apabila
bencana alam tersebut terjadi dan tidak bisa bisa diatasi oleh pihak Tim Desa
maka pihak desa berkoordinasi dengan pihak Kecamatan untuk diteruskan ke
Satuan Koordinasi Pelaksana Penanganan bencana di Kabupaten Bandung.
Penanganan bencana tersebut melihat Status Bencana dan serta bahaya dan

40 | Desa Ciburial

penanggulangannya. Dalam keadaan demikian Koordinasi dengan instansi


terkait

sangat

diperlukan.Dalam

penanganan

semua

Bencana

Alam

memerlukan biaya, Di Desa Ciburial Anggaran untuk penanganan bencana


dituangkan kedalam APBDesa dalam pos Belanja Tidak Terduga. Apabila
terjadi bencana Pemerintah Desa akan mencairkan dana tersebut karena
keadaan darurat, dana yang diambil sumbernya dari APBDesa. Apabila terjadi
dan tingkat kerusakan bencana tersebut besar maka biaya penanganan tersebut
diserahkan pada pihak Kabupaten Bandung melalui Camat Cimenyan. Dalam
mengantisipasi kejadian bencana alam Tim Penanggulangan Bencana tingkat
Desa Ciburial menyediakan alat tanda bahaya kentongan dan peralatan
sederhana lainya. Ketua RT diwajibkan melapor apabila terjadi bencana alam
maupun bencana yang lainya kepada Aparat Desa setempat dan dilaporkan
kepada instansi terkait dan yang berkepentingan.
Selain Bencana alam fokus lain tentunya adalah ketertiban umum, di
Desa Ciburial dibentuk Tim Penanggulangan Bencana Tingkat Desa. Untuk
tahun 2010 gangguan keamanan yang disebabkan oleh pencurian tidak ada.
Kerukunan masyarakat terjaga walaupun imbas program bantuan kepada
masyarakat terjadi kecemburuan sosial, namun hal tersebut dapat diatasi dan
diadakan pembinaan dan pemahaman tentang program bantuan dari
pemerintah yang ditujukan kepada warga miskin desa Penanggulangan

41 | Desa Ciburial

ketertiban umum sering kali mendapat hambatan, disini dijelaskan bahwa


dalam pelaksanaan proses mendamaikan perselisihan warga sering kali pihak
pelaksana mendapat kecaman maupun yang lainya. Namun dalam hal ini tidak
menjadi permasalahan yang berarti bagi tim tersebut. Kendala yang ada
biasanya dalam teknis menyelesaikan sengketa warga. Karena keterbatasan tim
pelaksana dan apabila terjadi permasalahan yang serius koordinasi dengan
pihak Muspika Kecamatan Cimenyan yang jarak tempuhnya 12 km.
Pelaksanaan penyelenggaraan ketertiban umum dalam APBDesa tidak
dicantumkan. Tetapi untuk kegiatan sosialisai Ketertiban Umum dicantumkan,
Mengingat permasalahan tersebut sifatnya lokal maka Pemerintah Desa
Ciiburial hanya membantu seadanya dalam penyediaan Anggaran Dana untuk
program tersebut. Anggaran tersebut mengikuti dengan melihat kejadian yang
ada atau bersifat insidentil.

42 | Desa Ciburial

43 | Desa Ciburial

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1

Kesimpulan
Kinerja keuangan Pemerintah Desa Ciburial untuk tahun 2013 dan 2014

yang masih kurang atau perlu menjadi perhatian adalah pada aspek
kemandirian, aspek efektivitas, dan aspek pertumbuhan. Berdasarkan uraian
hasil pengamatan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai
berikut;
1. Pengelolaan keuangan Desa Ciburial secara administratif telah tersusun
dan berjalan dengan baik. Proses pengelolaan keuangan itu dimulai dari
proses perencanaan, penganggaran, penatausahaan, pelaporan keuangan,
pertanggungjawaban keuangan dan pengawasan keuangan. Semua
proses itu dilalui oleh Pemerintah Desa Ciburial dalam mengelola
keuangan desa yang bersumber dari pendapatan asli desa, dana
perimbangan, pajak dan retribusi dan sumber lainnya yang tidak
mengikat dan syah menurut hukum.
2. Pengelolaan keuangan Desa Ciburial baik secara administratif akan
tetapi tidak baik dari sisi empirik. Hal itu dikarenakan banyaknya
hambatan-hambatan teknik dalam Namun realitanya di Desa Ciburial,
lebih banyak alokasi keuangan desa untuk pembiayaan rutin bila

44

44 | Desa Ciburial

dibandingkan alokasi keuangan desa untuk pembiayaan pembangunan


desa.
4.2

Saran
Para pemangku kepentingan desa (lurah, BPD, lembaga desa, tokoh

masyarakat dan warga masyarakat). Artinya mereka juga harus mengambil


prakarsa dan bergerak sendiri untuk mengembangkan kapasitas pada lingkup
desa. Sekarang bukan zamannya Pak Lurah selalu memberi petunjuk dan
pengarahan, melainkan harus mengembangkan proses belajar bersama dengan
unsur-unsur lain. Forum warga atau rembug desa merupakan wadah yang bisa
digunakan untuk belajar bersama, sekaligus mengkonsolidasikan berbagai
unsur desa. Membuat Perdes atau APBDes secara bersama-sama

45 | Desa Ciburial

Daftar Pustaka
Anom Surya Putra, 2015. Buku 7 Badan Usaha Milik Desa: Spirit Usaha
Kolektif Desa. Jakarta: Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia.
Bastian, Indra, 2006a, Sistem Perencanaan dan Penganggaran Daerah. Jakarta:
Erlangga.
Pemerintah Desa Cibrual. 2014. Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Desa
Akhir Tahun 2014. Tersedia http://s.id/LPP11ciburial di akses pada 11
Desember 2015.
Pemerintah

Desa

Ciburial.

2010.

Profil

Desa

Ciburial.

Tersedia

http://ciburial.desa.id/profil-desa-ciburial/ di akses pada 11 Desember


2015.
Sahdan, Goris dkk. 2004. Buku Saku Pedoman Alokasi Dana Desa.
Yogyakarta: FPPD
Sutoro Eko, 2015. Regulasi Baru, Desa Baru: Ide, Misi dan Semangat UU
Desa. Jakarta: Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan
Transmigrasi Republik Indonesia
Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah

46 | Desa Ciburial