Anda di halaman 1dari 15

HOLOGRAFI

Holografi adalah suatu teknik untuk membuat gambar bayangan benda dalam tiga
dimensi. Gambar bayangan dihasilkan oleh interferensi cahaya yang berasal dari sinar pantulan
dari benda obyek dan sinar koheren dari sumber cahaya. Film yang mengandung gambar
bayangan ini disebut hologram. Apabila hologram ini disinari dengan sumber cahaya koheren
akan diperoleh bayangan benda dalam tiga dimensi
Teori holografi memuat teori perekaman hologram dan teori rekonstruksi untuk melihat
kembali perekaman.
Perekaman hologram
Banyak cara perekaman hologram dikemukakan, tetapi dalam bab ini yang akan kita
bahas adalah teori perekaman hologram Fresnel lepas sumbu (off-axis) dengan anggapananggapan sebagai berikut:
1. Gelombang obyek dan gelombang acuan merupakan gelombang datar
2. Proses perekaman terjadi terjadi di daerah tanggap linier media perekam.
Ilustrasi dari pembuatan hologram lepas sumbu dengan menggunakan gelombang acuan
gelombang datar dilukiskan dalam Gambar 3.21 dan 3.22.

Gambar 3.21. Cahaya Laser monokhromatik dan koheren. Sebagian cahaya dipantulkan
oleh cermin dan sebagian dipantulkan oleh obyek dan keduanya berinterferensi pada plat
film

Gelombang acuan

P
z

Film (hologram)
Gelombang obyek
Gambar 3.22. Proses perekaman hologram

Gelombang obyek dan gelombang acuan yang mengenai bidang media perekam (di z=0),
masing- masing adalah :
Gelombang obyek

(3.33)
Sedangkan gelombang acuan mempunyai persamaan

(3.34)
dengan

frekuensi ruang gelombang acuan

Gelombang obyek dan gelombang acuan berinterferensi di titik P(x,y) pada plat film, amplitudo
resultan di P adalah

(3.35)
Dan intensitasnya adalah

(3.36)
atau

(3.37)
Setelah diproses, hologram mempunyai amplitude transmitansi sebesar

(3.38)
Amplitudo transmitansi adalah ratio intensitas cahaya sesudah melewati hologram dengan
intensitas cahaya setelah melewati hologram. Persamaan (3.38) menunjukkan bahwa amplitude
transmitansi merupakan fungsi eksposure (E), yaitu E = rapat energy cahaya yang datang pada
plat persatuan luas.

Di sini I adalah intensitas penyinaran (eksposure) total, yang merupakan penjumlahan intensitas
gelombang obyek dan gelombang acuan. adalahwaktu penyinaran. Dengan demikian

Dengan IR adalah intensitas gelombang acuan

tb

Eo

Gambar 3.23. Kurva amplitudo transmitansi t terhadap eksposure E

Dengan

menyulihkan

persamaan

(3.37)

ke

(3.38),

kita

dapatkan

amplitudo

ditransmitansikan oleh hologram adalah

(3.39)
Dengan menyulihkan persamaan (3.33) ke persamaan (3.39), kita peroleh

(3.40)

yang

Persamaan (3.40 ) menyatakan bahwa hologram berisi satu set pembawa (carrier) rumbai
interferensi dengan frekuensi ruang fy yang termodulasi dengan amplitude ao dan dengan sudut
fase x,yJika sudut penyinaran 300 dan digunakan cahaya Laser dengan panjang gelombang
laser = 632,8 nm, maka frekuensi pembawa adalah

Hal ini berarti bahwa supaya hologram dapat merekam dengan baik, harus digunakan media
o

perekam dengan daya resolusi minimal 790 garis/mm. Sedangkan adalah beda fasa awal
o

obyek, untuk tiap titik yang berbeda dari obyek mempunyai harga yang berbeda, sehingga
amplitude yang ditransmisikan oleh hologram berbeda-beda.

Gambar 3.24. Hologram yang dibuat dengan cahaya Laser ( nm

Rekonstruksi
Untuk melihat kembali bayangan suatu benda , dilakukan rekonstruksi. Pada proses
rekonstruksi ini, hologram disinari dengan gelombang bidang yang merambat searah dengan
gelombang acuan. Atau dapat dikatakan bahwa gelombang rekionstruksi searah dengan
gelombang acuan.

Gelombang
rekonstruksi

Gelombang
terekonstruksi

P
z

bayangan maya obyek

Film (hologram)

Gel. transmisi

Gambar 3.25. Proses rekonstruksi

Gelombang rekonstruksi mempunyai persamaan

(3.41)

Gelombang yang ditransmisikan oleh hologram

(3.42)
-

Suku pertama dari persamaan (3.42) menyatakan bagian gelombang rekonstruksi yang

ditransmisikan oleh hologram.


Suku kedua menyatakan gelombang yang didifraksikan dan membentuk bayangan maya

obyek
Suku ketiga menyatakan konjugat dari gelombang obyek yang merambat dengan sudut sin-1 (2yyterhadap sumbu z. Gelombang ini tidak tampak jika besar.

Analisis Tegangan Benda Bening


Salah satu penerapan interferometri holografi adalah untuk menganalisis tegangan
(stress) suatu benda, baik benda yang tak tembus cahaya maupun benda bening (tembus cahaya).
Obyek transparan (bening) disebut juga obyek fasa.
Dalam percobaan pengukuran tegangan ini digunakan system holografi penyinaran
ganda (double exposure). Penyinaran pertama dilakukan pada saat obyek belum diberi tegangan
(belum ada perubahan). Dan penyinaran kedua dilakukan pada saat obyek telah mengalami
perubahan karena diberi tegangan.
Pada penyinaran 1, gelombang obyek mempunyai persamaan :

(3. 43)
Pada saat penyinaran kedua, geloombang obyek mempunyai persamaan

(3.44)
Pada saat rekonstruksi, hologram disinari dengan berkas acuan. Dua gelombang cahaya (U o1 dan
Uo2) akan direkonstruksi secara serentak. Dua gelombang tersebut akan membentuk pola
interferensi dengan intensitas

(3.45)
Dalam hal ini a1 = a2 dan mempunyai satu satuan amplitude. Intensitas dapat juga ditulis dengan

(3.46)
Dengan

= perbedaan panjang lintasan optic sebelum diberi tegangan dan setelah


diberi tegangan

(3.47)

no

= indeks bias obyek selama penyinaran pertama, yang dianggap seragam


kesegala arah (sebelum diberi tegangan)
indeks bias obyek selama penyinaran kedua (setelah diberi tegangan)

Akan terjadi pola terang, jika N = 0, 1, 2, 3,.....................dan seterusnya, dan


akan terjadi pola gelap, jika N = , 3/2, 5/2,.....................dan seterusnya.

Analisis tegangan
F
t

x
y
z
Gambar 3.26. Benda dengan ketebalan t ditekan dengan gaya F
Benda tipis yang mempunyai ketebalan t ditekan dengan gaya F. Regangan membujur benda
searah x (longitudinal strain), dinyatakan dengan

(3.48)
Tetapi benda juga mempunyai regangan menyisi dengan arah z (lateral strain), yang dinyatakan
dengan

(3.49)
Hubungan antara regangan membujur dan regangan menyisi adalah

(3.50)
Dengan adalah konstanta kesebandingan Poisson.
Pada holografi penyinaran ganda dengan obyek bening yang mendapat tekanan dari gaya F, beda
lintasan optiknya adalah

(3.51)
Dengan demikian regangan menyisi (lateral strain) dapat dituliskan

(3.52)
Tegangan menyisi (searah z) adalah

(3.53)
Tegangan searah x adalah

(3.54)
Dengan E = modulus Young bahan
Konstanta kesebandingan Poisson
panjang gelombang cahaya yang digunakan
n0 =indeks bias bahan mula-mula
A = Koefisien tegangan optic
t = tebal keping
N = nomor orde rumbai terang
Arti pola interferensi

Jika ditinjau sebuah keeping yang mendapat terkanan dari gaya F, maka keeping akan
mengalami perubahan sebagai berikut :
F

Sebelum ditekan

Setelah ditekan

Gambar 3.27. Keadaan benda sebelum dan setelah diberi tekanan

Perkiraan bentuk pola interferensinya adalah seperti pada Gambar 3.28

Gambar 3.28. Perkiraan pola interferensi

Dengan mengingat persamaan (3.52) untuk regangan menyisi

dapat diperkirakan bahwa bagian tengah harga

paling besar, sehingga makin ketengah harga

N makin besar. Di bagian manapun t 0 sehingga z 0.sehingga N 0. Jadi N = 1, 2, 3,


..makin ketengah makin besar.

Gambar 3.29. Susunan alat pada perekaman Analisis tegangan benda bening

Gambar 3.30. Hasil rekonstruksi hologram Analisis tegangan benda bening

Gambar 3.31. Hasil rekonstruksi hologram Analisis tegangan pada gigi palsu