Anda di halaman 1dari 22

III.

TEORI DASAR

3.1. Prinsip Dasar Gayaberat

Metode gayaberat (gravity) merupakan salah satu metoda geofisika yang


digunakan untuk mengetahui struktur bawah permukaan bumi (subsurface)
dengan cara mengukur variasi percepatan gravitasi bumi yang diakibatkan
oleh variasi distribusi nilai rapat massa (densitas) dari material di bawah
permukaan bumi (batuan).

Teori yang mendasari penggunaan metode gayaberat (gravity) adalah Hukum


Newton, dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:

(1)

dimana adalah gaya tarik-menarik kedua benda tersebut dan G


merupakan konstanta gaya berat universal yaitu 6,672 x 10-11 m3kg-1 det-2
(Blakely, 1995).
F12

m1

F21

m2

Gambar 9. Gaya tarik menarik antara dua benda m1 dan m2.

18

Percepatan yang dialami oleh suatu massa (m2) sebagai akibat dari tarikan
massa (m1) bisa dihitung dengan membagi F dengan m2. Jika m1 adalah massa
bumi, maka percepatan yang dialami m2 pada permukaan bumi sesuai dengan
persamaan (2) (Telford, 1976).

dimana

(2)
]

= vektor satuan ke arah m1.

3.2. Potensial Gayaberat

Suatu massa yang terdapat dalam sistem ruang tertentu akan menimbulkan
medan potensial (skalar) di sekitarnya. Medan potensial untuk gayaberat
(gaya akibat tarik-menarik suatu massa) bersifat konservatif, artinya usaha
yang dilakukan dalam suatu medan gayaberat tidak tergantung pada lintasan
yang ditempuhnya, tetapi tergantung pada posisi awal dan akhir dan
memenuhi persamaan berikut:

dan

(3)

dimana: U = potensi skalar


= gayaberat (vektor)

Gaya yang timbul dapat diturunkan dari suatu fungsi potensial skalar U(x,y,z)
berikut:
(4)
Persamaan (4) dapat ditulis dalam koordinat bola menjadi:

19

(5)
Dari persamaan (5) dapat diperoleh bentuk persamaan potensial gayaberat:

Dengan mensubtitusikan

(6)

), maka Persamaan (6) dalam bentuk

skalar menjadi:
( )

(7)

Gambar 10. Anomali gayaberat pada sebuah elemen massa dengan bentuk
sembarang (Kearey dkk., 2002).

Apabila suatu massa tiga dimensi bentuk sembarang terdistribusi secara


kontinyu dengan rapat massa , yang berada pada titik x, y, z dengan
panjang bagian x,y,z seperti ditunjukkan pada Gambar 10, maka
potensial gravitasi di titik luar (x,y,z) dengan jarak r dari elemen diberikan
pada persamaan sebagai berikut :

(8)

20

Komponen gravitasi vertikal akibat distribusi rapat massa di atas diperoleh


dengan mendiferensialkan persamaan terhadap z :
(9)

dimana:

(10)

3.3. Koreksi Dalam Metode Gayaberat

Secara teoritis bumi dianggap bulat, homogen dan tidak berotasi. Pada
kenyataannya, Bumi lebih mendekati bentuk spheroid, relief permukaannya
tidak rata, berotasi, tidak homogen (sebaran densitas tidak merata), serta
dipengaruhi gaya tarik benda di luar bumi, seperti bulan dan matahari
sehingga variasi gayaberat di permukaan bumi dipengaruhi oleh faktor
berikut:
1.

Pasang surut (earth tides)

2.

Lintang (latitude)

3.

Ketinggian (elevation)

4.

Topografi

5.

Variasi densitas bawah permukaan.

Dalam metode gayaberat yang diharapkan hanya faktor variasi densitas


bawah permukaan, sehingga pengaruh faktor lainnya harus dikoreksi atau
reduksi dari nilai pembacaan gravimeter.

21

3.3.1. Koreksi Pasang Surut (Tide)

Koreksi ini dilakukan untuk menghilangkan efek gayaberat bendabenda di luar bumi seperti matahari dan bulan. Penurunan efek tidal ini
hampir sebagian besar menggunakan persamaan Longman (1959).
[( ) (

( )

(11)

bulan

bumi

Gambar 11. Komponen interaksi bumi dan bulan pada titik P (Kadir,
2000).

Gambar 11 menunjukkan interaksi bumi dan bulan pada titik P, dimana


sudut m adalah sudut yang dibentuk oleh garis yang menghubungkan
antara pusat bulan dan bumi dengan garis yang menghubungkan titik P
pada permukaan bumi dan pusat bumi.

Dalam prakteknya, koreksi tidal dilakukan dengan cara mengukur nilai


gayaberat di stasiun yang sama (base) pada interval waktu tertentu.
Kemudian bacaan gravimeter tersebut di plot terhadap waktu agar
menghasilkan suatu persamaan yang digunakan untuk menghitung

22

koreksi tidal. Nilai koreksi tidal ini selalu ditambahkan pada pembacaan
gayaberat.
(12)
dimana:

= gayaberat terkoreki tidal


= gayaberat bacaan
= koreksi tidal.

3.3.2. Koreksi Apungan (Drift)

Koreksi

apungan

dilakukan

sebagai

akibat

adanya

perbedaan

pembacaan gayaberat di stasiun yang sama pada waktu yang berbeda,


yang disebabkan karena adanya guncangan pegas alat gravimeter
selama proses transportasi dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Untuk
menghilangkan efek ini, akuisisi data gayaberat didesain dalam suatu
rangkaian tertutup (loop), sehingga besar penyimpangan tersebut dapat
diketahui dan diasumsikan linier pada selang waktu tertentu. Nilai
koreksi drift pada masing-masing titik stasiun adalah:
(13)
(14)
dimana:
= waktu pembacaan pada staiun ke-n
= waktu pembacaan pada staiun base (awal looping)
= waktu pembacaan pada stasiun base (akhir looping)
= bacaan gravimeter terkoreki tidal pada stasiun base (awal looping)

23

= bacaan gravimeter terkoreki tidal pada stasiun base (akhir


looping)
= besarnya koreki drift pada stasiun ke-n.
= gayaberat terkoreksi drift dan tidal.
= gayaberat terkoreki tidal.

3.3.3. Koreksi Lintang (Latitude Correction)

Koreksi ini dilakukan karena bentuk bumi yang tidak bulat sempurna,
sehingga terdapat perbedaan antara jari-jari bumi di kutub (6.356 km)
dengan di katulistiwa (6.378 km) sebesar 21 km. Dengan demikian, titik
terjauh katulistiwa dari pusat massa bumi akan lebih jauh daripada titik
terjauh kutub dari pusat bumi, sehingga menyebabkan nilai gayaberat
dikutub akan lebih besar dibandingkan nilai gayaberat di katulistiwa,
seperti ditunjukkan pada Gambar 12.

g = 9,83 m/s2

g = 9,78 m/s2

Gambar 12. Perbedaan nilai gayaberat di kutub dan di katulistiwa


(Telford dkk., 1990).

Percepatan sentripetal akibat rotasi bumi ini mempunyai komponen


nilai radial negatif yang menyebabkan nilai gayaberat mengalami

24

penurunan dari kutub ke katulistiwa. Nilai gayaberat teoritik pada


lintang diberikan oleh Moritz (1980):

(15)

3.3.4. Koreksi Udara Bebas (Free Air Correction)

Koreksi udara bebas merupakan koreksi yang dipakai untuk


menghilangkan efek topografi atau efek perubahan ketinggian yang
mempengaruhi nilai pembacaan nilai gayaberat tanpa memperhatikan
efek dari massa batuan. Dengan kata lain koreksi udara bebas
merupakan perbedaan gayaberat yang diukur pada mean sea level
(geoid) dengan gayaberat yang diukur pada ketinggian h meter dengan
tidak ada batuan diantaranya seperti ditunjukkan pada Gambar 13.

Gambar 13. Gayaberat terukur pada mean sea level/geoid dan terukur
di permukaan Bumi dengan elevasi h (Reynold, 1997).

Nilai gayaberat pada mean sea level dengan menganggap bentuk bumi
yang ideal, spheroid, tidak berotasi, dan massa terkonsentrasi pada
pusatnya, yaitu:
(16)

25

g0 adalah gayaberat bumi dengan bentuk spheroid dan R merupakan


jari-jari bumi.

Nilai gayaberat pada stasiun pengukuran dengan elevasi h (meter) dari


mean sea level (Kadir, 2000) adalah:
(17)

Perbedaan nilai gayaberat antara yang terletak pada mean sea level
dengan titik yang terletak pada elevasi h (meter) adalah koreki udara
bebas (FAC) diberikan sebagai persamaan berikut (Telford dkk, 1990):
(

(18)
mGal

dengan

(19)

= 981785 mGal dan R=Requator = 6371000 meter.

Sehingga besarnya anomali pada posisi tersebut menjadi FAA (Free Air
Correction) yaitu:
(20)

3.3.5. Koreksi Bouguer (Bouguer Correction)

Koreksi

Bouguer

merupakan

koreksi

ketinggian

yang

memperhitungkan adanya efek dari massa batuan yang berada di antara


bidang datum (geoid) dan titik amat dengan asumsi memiliki jari-jari
tak terhingga dengan tebal h (meter) dan densitas
Gambar 14.

(gr/cc) seperti

26

Gambar 14. Perhitungan Koreksi Bouguer (Telford dkk., 1990).

Nilai koreksi Bouguer dapat dicari dengan persamaan


Jika nilai konstanta gayaberat universal

.
m3kg-1s-2

maka:
mGal

(21)

dengan: h = ketinggian titik amat (m).


= rapat massa rata-rata daerah penelitian (gr/cc).

Anomali gayaberat setelah diaplikasikan koreksi udara bebas dan


koreksi Bouguer atau disebut Simple Bouguer Anomaly (SBA) yaitu:

mGal (22)

3.3.6. Koreksi Medan (Terrain Correction)

Koreksi medan muncul dikarenakan permukaan bumi di sekitar titik


pengukuran tidak semuanya rata, namun berundulasi atau berlembah
dan bergunung. Adanya bukit dan lembah yang terletak berdekatan
dengan stasiun pengukuran akan menghasilkan gaya tarik antara pusat
massa bukit atau pusat lembah yang merupakan massa kosong dengan
pendulum gravimeter. Gaya tarik tersebut dapat diuraikan menjadi
komponen gaya vertikal dan horizontal, pada metoda gayaberat yang

27

digunakan

adalah

komponen

gaya

vertikal.

Kondisi

tersebut

mempengaruhi nilai gravitasi saat pengukuran seperti ditunjukkan pada


Gambar 15.

Gambar 15. Skema koreksi medan terhadap data gayaberat (Zhou,


1990).

Salah satu cara untuk mengetahui nilai koreksi medan adalah dengan
menggunakan Hammer Chart (Gambar 16). Secara matematis koreksi
tersebut dapat dituliskan dengan pendekatan cincin silinder dapat dilihat
pada Gambar 16b sebagai berikut:
(

) mGal

dengan:
G

= konstanta gaya berat (6,673 x 10-8 dyne cm2gr-2).

rL dan rD = radius luar dan radius dalam kompartemen.


z

= perbedaan elevasi rata-rata kompartemen

= jumlah segmen dalam zona tersebut


= densitas batuan rata-rata.

(23)

28

Gambar 16. (a)Hammer Chart, (b)Cincin silinder yang terbagi 8


segmen (Reynolds, 1997).

Karena komponen gaya horizontal (koreksi medan) bersifat mengurangi


nilai gayaberat terukur, maka koreksi medan harus ditambahkan pada
simpel Simple Bouguer Anomali (SBA), sehingga anomalinya menjadi
Complete Bouguer Anomali (CBA).

3.4. Anomali Bouguer

Setelah dilakukan berbagai macam koreksi gayaberat maka didapatkan nilai


anomali yaitu nilai Complete Bouguer Anomali (CBA). Complete Bouguer
Anomali (CBA) merupakan selisih antara nilai gayaberat pengamatan dengan
gayaberat teoritik yang didefinisikan pada titik pengamatan bukan pada
bidang referensi, baik elipsoid maupun muka laut rata-rata (Sarkowi, 2006).
Anomali Bouguer Lengkap didapatkan dari persamaan:

dimana:

(24)

(25)

29

CBA

= Complete Bouguer Anomali.


= gayaberat observasi.

= gayaberat normal/teoritis pada lintang.

FAC

= koreksi udara bebas terhadap ketinggian dari muka laut.

BC

= koreksi Bouguer.

TC

= koreksi medan.
= rapat massa.

= tinggi (meter).

3.5. Estimasi Densitas Permukaan Rata-Rata

Dalam metode gayaberat, parameter yang sangat penting yaitu rapat massa
batuan atau densitas batuan. Nilai percepatan gravitasi yang terukur di
permukaan bumi akan bervariasi dipengaruhi distribusi densitas material
(batuan) yang berada di bawah permukaan bumi yang berasosiasi dengan
struktur dan kondisi geologi di dalam bumi. Variasi nilai rapat massa batuan
ditunjukkan pada Tabel 2 (Telford dkk,1990).

Salah satu metode dalam penentuan rapat massa (densitas) permukaan ratarata daerah penelitian yaitu metode Nettleton. Metode ini didasarkan pada
pengertian tentang koreksi Bouguer dan koreksi medan dimana jika rapat
massa yang digunakan sesuai dengan rapat massa permukaan, maka
penampang anomali gaya berat menjadi mulus (smooth) ditunjukkan pada
Gambar 17. Nilai korelasi yang paling baik adalah yang mendekati nol
sehingga grafik terbaik dipilih yang mendekati garis lurus.

30

Tabel 2. Variasi nilai rapat massa batuan (Telford dkk., 1990).

Jenis
Batuan

Batas
(Mg/m3)

ratarata
(Mg/m3)

Batuan
Sedimen
Aluvium
Clay
Gravel
Loess
Silt
Soil
Sand
Sandstone
Shale
Limestone
Dolomit
Chalk
Halite
Glacier Ice

1,96-2,00
1,63-2,60
1,70-2,40
1,40-1,93
1,80-2,20
1,20-2,40
1,70-2,30
1,61-2,76
1,77-3,20
1,93-2,90
2,28-2,90
1,53-2,60
2,10-2,60
0,88-0,92

1,98
2,21
2,00
1,64
1,93
1,92
2,00
2,35
2,40
2,55
2,70
2,01
2,22
0,90

Batuan
Beku
Riolit
Granit
Andesit
Syenite
Basalt
Gabro

2,35-2,70
2,50-2,81
2,40-2,80
2,60-2,95
2,70-3,30
2,70-3,50

2,52
2,64
2,61
2,77
2,99
3,03

Jenis
Batuan

Batas
(Mg/m3)

ratarata
(Mg/m3)

Batuan
Metamorf
Schist
Gneiss
Phylite
Slate
Granulite
Amphibolite
Eclogite

2,39-2,90
2,59-3,00
2,68-2,80
2,70-2,90
2,52-2,7
2,90-3,04
3,20-3,54

2,64
2,80
2,74
2,79
2,65
2,96
3,37

Secara kuantitatif dengan menerapkan korelasi silang antara perubahan


elevasi terhadap referensi tertentu dengan anomali gaya beratnya. Rapat
massa terbaik diberikan oleh harga korelasi silang terkecil dapat dirumuskan
sebagai berikut:

dimana: N = jumlah stasiun.

(26)

31

Gambar 17. Estimasi rapat massa dengan metode Nettleton (Telford dkk.,
1990).

3.6. Analisis Spektrum

Analisis spektrum dilakukan untuk mengestimasi lebar jendela dan


mmengestimasi kedalaman dari anomali gaya berat. Selain itu analisis
spektrum juga dapat digunakan untuk membandingkan respon spektrum dari
berbagai metode filtering. Analisis spektrum dilakukan dengan mentranformasi Fourier lintasan-lintasan yang telah ditentukan.

Spektrum diturunkan dari potensial gaya berat yang teramati pada suatu
bidang horisontal dimana transformasi Fouriernya sbb ( Blakely, 1995 ):

32

( ) dan

( )

| |(

| |

(27)

dengan:
U = potensial gayaberat.

= anomali rapat massa.


= konstanta gayaberat.
r = jarak.
Sehingga persamaannya menjadi:
| |(

(28)

| |

Transformasi Fourier anomali gayaberat yang diamati pada bidang horisontal


diberikan oleh persamaan:
(

)
| |(

( )
)

(29)

dimana:
= anomali gayaberat
z0= ketinggian titik amat
k = bilangan gelombang
z = kedalaman benda anomali

Jika distribusi rapat massa bersifat random dan tidak ada korelasi antara
masing-masing nilai gaya berat, maka

, sehingga hasil transformasi

Fourier anomali gaya berat menjadi:


| |(

(30)

33

dengan: A = amplitudo dan C = konstanta.


Estimasi lebar jendela dilakukan untuk menentukan lebar jendela yang akan
digunakan untuk memisahkan data regional dan residual. Untuk mendapatkan
estimasi lebar jendela yang optimal didapatkan dengan me-logaritma-kan
spektrum amplitudo yang dihasilkan dari transformasi Fourier diatas
(Persamaan 23) sehingga memberikan hasil persamaan garis lurus.
Komponen k menjadi berbanding lurus dengan spektrum amplitudo.
| |

(31)

Dari persamaan garis lurus diatas, melalui regresi linier diperoleh batas antara
orde satu (regional) dengan orde dua (residual), sehingga nilai k pada batas
tersebut diambil sebagai penentu lebar jendela seperti ditunjukkan pada
Gambar 18. Hubungan panjang gelombang ()

dengan k diperoleh dari

persamaan Blakely (1995):


(32)
(33)
dengan: n = lebar jendela.

Maka didapatkan estimasi lebar jendelanya yaitu:


(34)

Untuk estimasi kedalaman diperoleh dari nilai gradien persamaan garis lurus
diatas. Nilai gradien hasil regresi linier zona regional menunjukkan
kedalaman regional dan nilai hasil regresi linier zona residual menunjukkan
kedalaman residual.

34

Zona
Regional

Ln A

Zona
Residual

Batas zona regional dan


residual

Zona Noise

Gambar 18. Kurva Ln A dengan k.

3.7. Moving Average

Nilai Anomali Bouguer yang terukur di permukaan merupakan gabungan dari


beberapa sumber anomali dan struktur. Sehingga perlu dilakukan pemisahan
anomali untuk memperoleh anomali target yang akan dicari. Metode moving
average merupakan salah satu cara untuk memisahkan anomali regionalresidual dengan noise. Metode ini dilakukan dengan merata-ratakan nilai
anomalinya dan akan menghasilkan anomali regional. Nilai anomali residual
didapatkan dengan mengurangkan data hasil pengukuran dengan anomali
regionalnya.

Secara matematis persamaan moving average untuk satu dimensi yaitu:

(35)

35

Sedangkan penerapan moving average pada peta dua dimensi, harga gR pada
suatu titik dapat dihitung dengan merata-ratakan semua nilai gB di dalam
sebuah kotak persegi dengan titik pusat adalah titik yang akan dihitung harga
gR. Contoh aplikasi perata-rataan bergerak dalam jendela 5x5 pada data dua
dimensi diberikan pada persamaan:
[

(36)

3.8. Second Vertical Derivative (SVD)

Second Vertical Derivative (SVD) dilakukan untuk memunculkan efek


dangkal dari pengaruh regionalnya dan untuk menentukan batas-batas
struktur yang ada di daerah penelitian. Sehingga filter ini dapat
menyelesaikan anomali residual yang tidak mampu dipisahkan dengan
metode pemisahan regional-residual yang ada. Secara teoritis, metode ini
diturunkan dari persamaan Laplaces:
(37)

(38)

Sehingga,

(39)

(40)

36

Untuk data penampang 1D, dimana y mempunyai nilai yang tetap maka
persamaannya adalah:
*

(41)

Dari Persamaan 39 dapat diketahui bahwa second vertical derivative dari


suatu anomali gaya berat permukaan adalah sama dengan negatif dari
derivative orde dua horisontalnya, artinya bahwa anomali second vertical
derivative dapat melalui derivative orde dua horiontalnya yang lebih praktis
dikerjakan. Contoh penujaman prospek menggunakan metode SVD
ditunjukkan pada Gambar 19.

Gambar 19. Contoh penujaman prospek menggunakan second vertical


derivative (SVD) (Reynolds, 1997).

Terdapat beberapa operator filter SVD, yang dihitung oleh Henderson dan
Zeits (1949), Elkins (1951) dan Rosenbach (1952). Dalam penelitian ini,
penulis menggunakan filter SVD hasil perhitungan Elkins. Beberapa filter
second vertical derivative (SVD) dengan berbagai macam operator filter 2-D
ditunjukkan pada Tabel 3, 4 dan 5.

37

Tabel 3. Operator filter SVD menurut Henderson dan Zeitz (1949).


0.0000

0.0000

-0.0838

0.0000

0.0000

0.0000

+1.0000

-2.6667

+1.0000

0.0000

-0.0838

-2.6667

17.0000

-2.6667

-0.0838

0.0000

+1.0000

-2.6667

+1.0000

0.0000

0.0000

0.0000

-0.0838

0.0000

0.0000

Tabel 4. Operator filter SVD menurut Elkins (1951).


0.0000

+0.0416

0.0000

+0.0416

0.0000

+0.0416

-0.3332

_0.7500

-0.3332

+0.0416

0.0000

-0.7500

+4.0000

-0.7500

0.0000

+0.0416

-0.3332

-0.7500

-0.3332

+0.0416

0.0000

+0.0416

0.0000

+0.0416

0.0000

Tabel 5. Operator filter SVD menurut Rosenbach (1952).


0.0000

-0.0833

0.0000

-0.0833

0.0000

-0.0833

-0.0667

-0.0334

-0.0667

-0.0833

0.0000

-0.0334

+1.0668

-0.0334

0.0000

-0.0833

-0.0667

-0.0334

-0.0667

-0.0833

0.0000

-0.0833

0.0000

-0.0833

0.0000

Untuk menentukan jenis struktur patahan suatu daerah menggunakan


perumusan berikut (Reynolds, 1997):
|

untuk sesar turun

(42)

untuk sesar naik

(43)

38

3.9. Pemodelan Inversi 3D

Untuk mendapatkan pola struktur bawah permukaan dari data gayaberat,


maka anomali Bouguer hasil perngukuran dan perhitungan harus dilakukan
pemodelan baik dengan metode foward modelling atau inversion modelling
sehingga akan diketahui distribusi densitas dan struktur di daerah penelitian.
Selanjutnya berdasarkan distribusi densitas tersebut dilakukan interpretasi
dengan menggabungkan data-data geologi yang ada didaerah tersebut
sehingga akan diperoleh struktur bawah permukaan di daerah tersebut.

Pada penelitian ini pemodelan data anomali Bouguer dilakukan dengan


metode inversi menggunakan perangkat lunak Grav3D versi 2.0, dengan
model benda didekati dengan benda berbentuk susunan prisma tegak dengan
spasi x dan y. Dari susunan prisma tersebut selanjutnya dilakukan
perhitungan respon gayaberatnya. Untuk menghitung respon gayaberatnya
digunakan metode perumusan yang dilakukan oleh Plouff (1976):

dimana :

)]

(44)