Anda di halaman 1dari 18

POLIKETIDA DAN ALUR ASAM SIKIMAT

1.1 POLIKETIDA
Metabolit sekunder adalah senyawa yang disintesis oleh makhluk hidup bukan untuk
memenuhi kebutuhan dasarnya, akan tetapi untuk mempertahankan eksistensinya dalam
berinteraksi dengan ekosistem. Fungsi metabolit sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari
kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya untuk mengatasi hama dan penyakit,
menarik polinator, dan sebagai molekul sinyal (Verpoorte & Alfermann, 2000). Senyawa-senyawa

yang merupakan golongan metabolit sekunder salah satunya adalah poliketida.

Jalur

Metabolisme Sekunder Utama

Poliketida adalah senyawa fenolik yang berasal dari jalur asetat-malonat. Senyawa
poliketida mempunyai kerangka dasar aromatik yang disusun oleh beberapa unit dua atom
karbon dan membentuk suatu rantai karbon yang linier yakni asam poli -ketokarboksilat
yang disebut rantai poliasetil (Harborne, 1987).
Poliketida atau yang sering disebut dengan peptida nonribosom dibentuk oleh
enzim besar yang multifungsional dengan kelompok situs katalitik yang terkoordinasi,
yaitu Polyketide Synthase (PKS) dan Non-Ribosomal Peptide Synthase (NRPS) (Zhao et
al. 2007).
Pada awalnya suatu poliketida diperkirakan berasal dari unit-unit asetil-CoA
berkondensasi melalui reaksi Claisen membentuk ester poli--keto. Tetapi studi biosintesis
menemukan bahwa penambahan rantai bukan oleh asetilCoA tetapi oleh malonilCoA yang
memiliki H lebih bersifat asam sehingga menyediakan nukleofil yang lebih baik dari pada
asetilCoA.
Biosintesis Poliketida

Poliketida aromatik merupakan suatu poliketida yang memiliki karakteristik yaitu


struktur polisiklik aromatik. Biosintesis poliketida aromatik mirip dengan biosintesis
asam lemak. Perbedaan pembentukan asam lemak dan senyawa poliketida aromatik
terletak pada peristiwa reduksi sebelum penambahan asetil-CoA lebih lanjut.
Biosintesisis poliketida berasal dari suatu reaksi kondensasi asetil-CoA dengan
senyawa malonil-CoA. Pada dasarnya, asetil-CoA dibentuk dari asam asetat yang
mengalami pengaktivan pada gugus karboksilnya menjadi bentuk tio ester dengan bantuan
enzim Poliketida Sintase (PKS), sedangkan malonil-CoA berasal dari asetil-CoA yang
mengalami karboksilasi pada gugus metilennya.
1. Pembentukan rantai karbon poliasetil
Pembentukan rantai poliasetil (suatu produk menengah yang berupa rantai karbon
linear poli--keton) ini terjadi melalui suatu reaksi kondensasi Claisen antara unit
pemula (asetil-KoA) dan unit perluasan (malonil-KoA). Pembentukan rantai poliasetil
terjadi dengan bantuan enzim poliketida sintase. Setelah terbentuk rantai diketida,
terjadi reaksi perpanjangan rantai dengan adanya penambahan gugus asetil yang
berasal dari malonil-KoA. Reaksi perpanjangan ini sangat ditentukan oleh enzim asil
transferase. Enzim tersebut berfungsi untuk memundahkan gugus asil dari malonilKoA ke enzim poliketida sintase agar enzim tersebut hanya melakukan siklus
kondensasi. Mekanisme pembentukan rantai poliasetil terdapat pada gambar dibawah

ini:

Mekanisme pembentukan rantai poliasetil


Rantai poliasetil yang dihasilkan memiliki kereaktifan yang sangat tinggi karena
rantai poliasetil tersebut memiliki gugus metilen yang dapat bertindak sebagai Nukleofil
dan gugus karbonil yang bertindak sebagai Elektrofil. Karena kereaktifannya tersebut,

rantai poliasetil dapat mengalami berbagai macam reaksi modifikasi seperti, regiospesifik,
reduksi, siklisasi atau aromatisasi dengan bantuan enzim yang sesuai.
2. Kondensasi dan Siklisasi (Aromatisasi Molekul)
Karena sifatnya yang sangat reaktif, poliasetil tersebut mampu melakukan reaksireaksi tertentu, diantaranya ;

2.1 Kondensasi Intramolekuler


a. Kondensasi Aldol
Pada kondensasi aldol terjadi reaksi antara gugus metilen dengan gugus
karbonil dari poliasetil membentuk suatu turunan asam Orselinat dan turunan
Antrakuinon.

CH3
COOH

4 X C2
O

CH3
COOH

COOH

HO

OH

ASAM ORSELINAT

HO

O
8 X C2

CH3

O
C

COOH
O

OH

OH

OH

(O)
O

HO

CH3

HO

CH3

C
OH

O
EMODIN

OH

OH

OH

ENDOKROSIN

OH

b. Kondensasi Claisen
Pada kondensasi Claisen terjadi reaksi antara gugus metilen dan gugus
karboksilat pada molekul poliasetil. Kondensasi ini menghasilkan poliketida
turunan Asil Floroglusinol.

O
O

OH

C
H3C

C
H2
O

CH2

C
C
H2

HO

O
H2
C

O
H2
C

O
H2
C

TETRA - ASETIL

0H

OH

H3C

OH

ASETIL FLOROGLUSINOL

O
H3C

H3C

H3C

OH

O
HO
OH

H3C

O
- PIRON

2.2 Siklisasi
a. Laktonisasi
Pada reaksi laktonisasi terjadi reaksi antara gugus hidroksil dengan gugus
karboksil dari poliasetil membentuak suatu lakton (ester siklik). Gugus
hidroksil dari poliasetil dihasilkan ketika gugus karbonil pada poliasetil
bertautomer menjadi bentuk enolnya. Reaksi ini menghasilkan senyawa
turunan piron.

b. Eterifikasi
Pada reakis eterifikasi terjadi reakis antara gugus hidroksil dengan gugus
karbonil dari poliasetil membentuk eter siklik. Reaksi ini menghasilkan
senyawa turunan kromon yaitu turunan piron.

Klasifikasi Poliketida
Secara umum, poliketida terbagi ke dalam dua golongan, yaitu poliketida aromatik
(yang terdiri dari satu sampai enam cincin aromatik) dan poliketida kompleks yang terdiri
dari makrolida dan ansamicin (yang memiliki cincin lakton atau laktam), poliena dan
polieter.

1. Poliketida Aromatik
Poliketida aromatik digolongkan menjadi beberapa golongan berdasarkan pada
pola-pola struktur tertentu yang berkaitan dengan jalur biogenesisnya. Secara umum
terdapat lima golongan utama senyawa poliketida aromatik yaitu ;
a. Turunan Asil Floroglusinol

b. Turunan Kromon

c. Turunan Benzokuinon

d. Turunan Antrakuinon

Penamaan Poliketida
Dalam sistem penamaan poliketida, suatu poliketida memiliki mempunyai bagian
umum yang tetap, yaitu cincin benzokuinon.
O

Senyawa Benzokuinon

(a)

(b)

(c)

Keterangan : Senyawa (a) adalah naftakuinon


Senyawa (b) adalah Benzokuinon
Senyawa (c) adalah Antrakuinon
Contoh penamaan poliketida

O
OH

(a)2-hidroksinaftakuionon

(b) 1,4-Naftakuinon

2.2 ASAM SHIKIMAT


Asam shikimat pertama kali diisolasi pada tahun 1885 oleh Eykman dari tanaman yang
berasal dari Jepang, Illicium anisatum. Nama shikimat diturunkan dari nama tanaman yang
berasal dari Jepang. Peranan asam shikimat dapat menggantikan asam amino esential
fenilalanin, tirosin, dan triptopan dalam auksotropik mutan Escherichia coli hingga ia
merupakan zat antara dalam serangkaian biosintesis.
Asam shikimat merupakan senyawa pemula bagi banyak senyawa alami, terutama
penyusun tumbuhan yang mengandung cincin aromatis.

Contoh-contoh senyawa turunan asam shikimat yang terjadi secara alami :

C6H11O 5

OH

OH
OCH3
.

OH

COOH

CHO

Arbutin

Asam p-Hidroksibenzoat

Vanilin

(Hidrokuinon-Dglukopiranosida)

COCH3
Asetofenon

Biosintesis Asam Shikimat


Pembentukan asam shikimat diawali dengan kondensasi aldol antara eritrosa dan asam
fosfoenolpiruvat. Pada kondensasi ini, gugus metilen C=CH 2 dari asam fosfoenolpiruvat berlaku
sebagai nukleofil dan mengadisi gugus karbonil C=O eritrosa, menghasilkan gula dengan 7 unit
atom karbon. Selanjutnya reaksi yang analog (intramolekuler) menghasilkan asam 5dehidrokuinat yang mempunyai lingkar sikloheksana, yang kemudian diubah menjadi asam
shikimat.

Jalur Asam Shikimat

Jalur asam sikimat merupakan jalur alternatif menuju senyawa aromatic, utamanya Lfenilalanin, L-tyrosin, L-triptofan. Jalur ini berlangsung dalam mikroorganisme dan tumbuhan,
tetapi tidak berlangsung dalam hewan, sehingga asam amino aromatik merupakan asam amino
esensial yang harus terdapat dalam diet manusia maupun hewan.

Ringkasan pembentukan Tritopan, Tirosin dan Fenilalanin melalui jalur asam shikimat :
Fosfoenolpiruvat
+
D-eritrosa-4-fosfat

Asam 3-Deoksi-D-arabino
heptulosonat-7-fosfat

Asam 3-dehidroquinat

Asam quinat

Asam 3-dehidroshikimat

Asam galat

Asam shikimat

Asam p-NH 2-benzoat

Asam khorismat

Asam prefenat

Asam antranilat

Triptofan

Asam p-OH-fenilpiruvat

Fenilalanin

Asam fenilpiruvat

Fenilalanin

Asam shikinat

Asam prefenat

CH2COCOOH

CH2COCOOH
HO

NH2

NH2

CH2 CH COOH

CH2 CH COOH

Fenilalanin

HO

COOH

Tirosin

COOH
HO

Asam sinamat

HO
HO

Asam p-kumarat

CH3O

COOH

COOH

Asam kafeat

CH3O

COOH

HO

HO

Asam ferulat

OH

CH3O

COOH

HO

CH3O

COOH

CH3O
OCH3
Asam sinapat

OCH3
Eter di dalam alkaloid Rauwolfia sp