Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

PERCOBAAN I
KIMIA FARMASI I

OLEH
KELOMPOK IV (EMPAT)
NAMA
Crolant ImaltonPelopolin

NIM
PO. 530333213685

Eduardus R. Rato

PO. 530333213686

Hellena M. Kartika

PO. 530333213693

HenrikaThaurin

PO. 530333213694

Margaretha S.C. Luan

PO. 530333213701

Maria A. Mau

PO. 530333213702

Merici T.D. Rema

PO. 530333213709

Rahmatia

PO. 530333213710

Theresia S. Minding

PO. 530333213717

Thomas A. Tse

PO. 530333213718

Yohanes D.P.A Embu

PO. 530333213725

Yorim S.A.Timo

PO. 530333213726

LABORATORIUM FARMASI
JURUSAN FARMASI POLTEKKES KEMENKES
KUPANG
2014

PERCOBAAN I
ALKOHOL
A. TUJUAN PERCOBAAN
Mengidentifikasi senyawa obat dari golongan alkohol yang sering digunakan
dalam bidang farmasi.
B. PRINSIP PERCOBAAN
Mengamati hasil reaksi dari kelarutan, perubahan warna, dan ndapan yang
terbentuk.
C. DASAR TEORI
Dalam bidang kimia, alkohol (atau alkohol) adalah istilah yang umum
untuk senyawa organik apa pun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang
terikat pada atom karbon, yang ia sendiri terikat pada atom hidrogen dan atau
atom karbon lainnya. (Fessenden, 1997)
Gugus fungsional alkohol adalah hidroksil yang terikat pada karbon
hibridisasi sp3. Ada tiga jenis utama alkohol primer, skunder, dan
tersier. Nama-nama ini merujuk pada jumlah karbon yang terikat pada
karbon C-OH.
1. Pembagian Alkohol :
a. Alkohol Primer
Jika gugus fungi hidroksil terikat pada atom karbon yang hanya terikat
pada satu atom karbon yang lain, maka senyawa tersebut dinamakan
alkohol primer. Contoh yang paling sederhana adalah etanol. Metanol
bukan alkohol primer karena atom karbon yang mengikat gugus OH
tidak mengikat karbon lain.
b. Alkohol Sekunder
Jika gugus fungi hidroksil terikat pada atom karbon yang mengikat dua
atom karbon yang lain, maka senyawa tersebut dinamakan Alkohol
Sekunder. Contoh 2-propanol

c. Alkohol Tersier
Jika gugus fungi hidroksil terikat pada atom karbon yang mengikat tiga
atom karbon yang lain, maka senyawa tersebut dinamakan Alkohol
tersier. Contoh 2-metil-2-propanol
d. Vinil Alkohol
Vinil alkohol adalah senyawa yang mempunyai gugus fungsi hidroksil
yang terikat pada atom karbon berkaitan rangkap dua. Contoh 2propenol.
e. Benzil Alkohol
Benzil alkohol adalah senyawa yang mempunyai gugus hidroksil yang
terikat pada gugus benzil.
f. Alkohol Dihidrat
Alkohol Dihidrat merupakan senyawa yang mengandung dua gugus
fungsi hidroksil. Contoh Alkohol dihidrat adalah etilen glikol.
g. Alkohol Trihidrat
Alkohol Trihidrat merupakan senyawa yang mengandung tiga gugus
fungsi hidroksil. Contoh Alkohol trihidrat adalah etilen gliserol.
2. Sifat-sifat Alkohol
a. Mudah terbakar
b. Mudah bercampur dengan air, ini di sebabkan oleh adanya kemiripan
c.
d.
e.
f.

struktur antara alkohol (R-OH) dan air (H-OH).


C 1-4 berupa gas dan cair
C 5-9 berupa cairan seperti minyak
C>10 berupa zat padat
Alkohol bersifat heteropolar. Alkohol memiliki sifat polar dari gugus
OH dan non polar dari gugus alkil (-R). Sifat polarnya tergantung dari
panjangnya rantai alkilnya. Semakin panjang rantai alkilnya, maka
sifat kepolarannya berkurang. Hal ini menyebabkan berkurangnya sifat

kepolaran.
g. Titik didih alkohol lebih tinggi daripada titik didih alkana. Hal ini
disebabkan oleh gugus fungsi OH yang sangan polar, sehingga gaya
tarik menarik antarmolekul alkohol menjadi sangat kuat.
3. Monografi Sampel :
a. Gliserin
Nama Latin
Nama Lain
BM/RM

: Glycerolum
: Gliserol, propana-1,2,3-triol, manis minyak
: 92.10/C3H8O3

Pemerian

: Cairan seperti sirop; jernih, tidak berwarna;


tidak berbau, manis diikuti rasa hangat.
Higroskopik dan netral terhadap lakmus.

Kelarutan

: Dapat campur dengan air dan dengan etanol,


tidak larut dalam kloroform, dalam eter,
dalam minyak lemak dan minyak menguap.

Khasiat

: Pemanis,

pelarut,

humektan,

pencahar,

pengawet untuk fermen-fermen dan vaksinvaksin, konsentrasi 25% sebagai antiseptik,


untuk membuat gliserol trinitrat.
(Anonim.1979)
b. Etanol
Nama Latin
Nama Lain
BM/RM
Pemerian

:
:
:
:

Aethanolum
Alkohol
46.07/C2H5OH
Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap,
dan mudah bergerak; bau khas; rasa panas.
Mudah terbakar dan memberikan warna biru

Kelarutan

tidak berasap.
: Sangat mudah

larut

dalam

air,

dalam

kloroform p dan eter p.


Khasiat

: Pelarut, campuran minuman (Intoxicant),


sintesis bahan kimia lain.
(Anonim.1979)

c. Metanol
Nama Lain
BM/RM
Pemerian

: Metil alkohol, wood alcohol/spiritus


: 34,00/CH3OH
: Cairan tidak berwarna, jernih, bau khas.

Kelarutan

: Dapat bercampur dengan air, membentuk


cairan jernih, tidak berwarna.

Khasiat

: Sebagai bahan bakar model radio kontrol,


jalur kontrol dan pesawat model. Sebagai
bahan pembuat bahan kimia lainnya, sebagai
bahan makanan karbon untuk denitrifikasi
bakteri.
(Anonim.1979)

D. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
1) Batang pengaduk
2) Bunsen
3) Erlenmeyer
4) Korek api
5) Penjepit tabung
6) Pipet
7) Rak tabung
8) Sikat tabung
9) Tabung reaksi

2. Bahan
1) Etanol, metanol, dan gliserin
2) Reagen-reagen kimia
3) Aquades
E. REAKSI KIMIA
1. Reaksi umum golngan alcohol
a. Untuk menentukan golongan alkoholl digunakan reaksi diazo
Zat + diazo A dan diazo B (4:1), lalu basahkan dengan NaOH
dipanaskan akan terjdi warna merah

frambos (tidak dapat ditarik

dengan alkohol).
b. Sebagai reaksi pendahuluan dapat digunakan pereaksi lukas
1) Alkohol primer : zat + pereaksi lukas, hasilnya larutan jernih.
2) Alkohol sekunder : zat + pereaksi lukas, hasilnya lrutan keruh.
3) Alkohol tersier : zat + pereaksi lukas, hasilnya endapan yang
tidak larut.
2. Reaksi spesifik golongan alkohol
a. Reaksi esterifikasi ( + )
Zat + asam salisilat/asam benzoate/asam asetat + H 2SO4 pekat lalu
mulut tabung reaksi ditutupi kapas basah dan dipanaskan , kemudian
dicium baunya.
Methanol : + H2SO4 pekat + asam salisilat

bau gandapura

(wintergreen oil)
Etanol : + H2SO4 pekat + asam benzoat

bau frambos ( pisang

ambon)
b. Reaksi beackmen
zat + H2SO4 pekat + K.Bikromat
1) alkohol primer : bau aldehid, warna hijau
2) alkohol sekunder : bau keton
3) alkohol tersier : adanya pemecahan rantai karbon atau atom C
c. Reaksi iodoform ( + ) terbentuk Kristal iodoform
Zat + NaOH + larutan I2 berlebih dipanaskan
endapan dapat
kuning bau iodoform (endapan dilihat di bawah mikroskop)
d. Pereaksi deniges
Alkohol tersier langsung memberikan endapan putih karena tereduksi.
e. Reaksi warna cuprifil
Zat dalam air + CuSO4 1% + NaOH biru tua, dipanaskan tetap biru
(alkohol polivalen).

f. Reaksi warna charlety


Zat dalam air + asam oksalat + resorchin + asam sulfat hasilnya asam
violet kemudian ditambahkan air, hasil warna ungu hilang dan
ditambah asam sulfat hasilnya: akan terbentuk warna ungu kembali
g. Reaksi warna landwerr
Zat + FeCl3

kuning tua sampai coklat jingga (alkohol polivalen)

3. Reaksi umum golongan alkohol


a. Untuk menentukan golongan alkoholl digunakan reaksi diazo
Zat + diazo A dan diazo B (4:1) lalu basahkan dngan NaOH
dipanaskan akan terjdi warna merah frambos (tidak dapat ditarik
dengan alkohol).
b. Sebagai reaksi pendahuluan dapat digunakan pereaksi lukas
1) Alohol primer : zat + pereaksi lukas, hasilnya larutan jernih
2) Alkohol sekunder : zat + pereaksi lukas, hasilnya lrutan keruh
3) Alkohol tersier : zat + pereaksi lukas, hasilnya endapan yang tidak
larut
4. Reaksi spesifik golongan alkohol
a. Reaksi esterifikasi ( + )
Zat + asam salisilat/asam benzoate/asam asetat + H2SO4 pekat lalu
mulut tabung reaksi ditutupi kapas basah dan dipanaskan ,emudian
dicium baunya.
Methanol : + H2SO4 pekat + asam salisilat

bau gandapura

(wintergreen oil)
Etanol : + H2SO4 pekat + asam benzoat

bau frambos ( pisang

ambon)
b. Reaksi beackmen
Zat + H2SO4 pekat + K.Bikromat
1. alkohol primer : bau aldehid, warna hijau
2. alkohol sekunder : bau keton
3. alkohol tersier : adanya pemecahan rantai karbon atau atom C
c. Reaksi iodoform ( + ) terbentuk Kristal iodoform
Zat + NaOH + larutan I2 berlebih dipanaskan
endapan kuning
bau iodoform (endapan dilihat di bawah mikroskop)
d. Pereaksi deniges
Alkohol tersier langsung memberikan endapan putih karena tereduksi
e. Reaksi warna cuprifil
Zat dalam air + CuSO4 1% + NaOH biru tua, dipanaskan tetap biru
(alkohol polivalen)
f. Reaksi warna charlety

Zat dalam air + asam oksalat + resorchin + asam sulfat hasilnya asam
violet kemudian ditambahkan air, hasil warna ungu hilang dan
ditambah asam sulfat hasilnya: akan terbentuk warna ungu kembali
g. Reaksi warna landwerr
Zat + FeCl3
kuning tua sampai coklat jingga (alkohol polivalen)
F. DATA PENGAMATAN
PENGAMATAN

ETANOL

METANOL

GLISERIN

Bentuk

Cairan

cairan

Warna

Tidak berwarna

Tidak berwarna

Bau
Rasa

Aroma khas
Panas

Aroma khas
panas

Cairan seperti
sirup
Jernih, tidak
berwarna
Tidak berbau
Manis

Air
Asam
Basa
Pelarut Organik
( kloroform)

Mudah larut
Mudah larut
Mudah larut

Mudah larut
Mudah larut
Mudah larut

Mudah larut
Mudah larut
Mudah larut

Mudah larut

Mudah larut

Praktis tidak larut

Cek pH

Fluoresensi

Padat
Air
Asam
Basa

Pyrolisa

Reaksi Golongan

Diazo

Larutan tetap jernih

Larutan menjadi
kuning pudar

Larutan menjadi
merah frambos

Lukas

Larutan jernih

Larutan jernih

Tidak larut

Ester salisilat

Bau gandapura

Ester Benzoat

Bau pisang ambon

ORGANOLEPTI
S

Kelarutan

Reaksi Spesifik

Cutex
(etil asetat)
Hijau
Larutan jernih

hijau
Larutan jernih

Hijau
Larutan jernih

Reaksi Warna
Cupifril
Landwer

Biru muda
Kuning tua

Biru muda
Kuning

Biru tua
Coklat jingga

Charlety

Ester Asetat
Reaksi Beackman
Reaksi Deniges

Reaksi Iodoform
Gambar kristal

G. PEMBAHASAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa alkohol.
Langkah pertama yang dilakukan adalah uji pendahuluan, meliputi uji
organoleptis yaitu identifikasi berdasarkan bentuk, bau, rasa, warna, dan
kelarutan. Kemudian dilanjutkan uji penggolongan untuk membedakan
golongan alkohol, dan yang terakhir adalah uji penegasan, hal ini
dilakukan agar sampel yang diidentifikasi dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya.
Pada praktikum pertama di lakukan uji organoleptis, dari bentuk
warna, bau dan rasa sampel dalam laboratorium sesuai dengan monografi.
Maka dapat disimpulkan bahwa sampel dalam laboratorium telah
memenuhi syarat berdasarkan kententuan yang terdapat dalam farmakope
Indonesia. Selanjutnya uji kelarutan dan hasilnya menunjukan bahwa
metanol dan etanol sangat mudah larut di dalam air dan dalam larutan
yang bersifat asam. Dalam prinsip like dissolves like dijelaskan bahwa
kelarutan dapat dipengaruhi oleh kesamaan struktur yang membentuk
molekulnya. Molekul air, dibentuk oleh atom H dan O dan alkohol juga
dibentuk oleh atom H dan O oleh sebuah ikatan sigma. Adanya gugus OH
ini membuat alkohol memiliki polaritas yang hampir sama dengan
polaritas air. Namun kepolaritasan yang dimiliki oleh senyawa-senyawa
turunan alkohol tidak akan sebanding dengan polaritas air, hal ini
dipengaruhi oleh kehadiran gugus alkil pada molekulnya. Seperti yang
diketahui gugus alkil merupakan gugus non polar, semakin panjang alkil
yang dimiliki oleh suatu senyawa maka semakin besar sifat non polarnya.
Pada metanol dan etanol, dimana gugus alkil yang kedua senyawa ini
miliki tidak begitu panjang dan tidak merubah tingkat kelektronegatif
sehinnga etanol dan metanol dapat larut dalam pelarut polar. Sedangkan
gliserin larut dalam air namun di butuhkan waktu yang lebih lama, karena
gliserin memiliki rantai atom C yang lebih panjang dibanding metanol dan
metanol. Kemudian di lakukan uji pH. Dan pH yang di hasilkan adalah
untuk metanol pHnya 5, untuk etanol pHnya 1 dan untuk gliserin pHnya 5.
Ini menujukan bahwa alkohol memiliki pH yang bersifat asam.

Kelarutan terhadap asam (HCl) dan basa (NaOH) ketiga sampel


menunjukkan hasil positif yaitu mudah larut. Kelarutan pada pelarut
organik (kloroform), pada etanol dan metanol mudah larut dalam
kloroform karena sifat dari gugus OH yang polar. Selain itu, etanol dan
metanol juga memiliki atom C yang sedikit karena semakin panjang rantai
karbon maka senyawa tersebut bersifat nonpolar. Sedangkan gliserin
praktis tidak larut dalam kloroform karena gliserin dan kloroform samasama memiliki atom karbon yang panjang sehingga senyawa menjadi
nonpolar.
Kemudian uji golongan polivalen dengan menggunakan reaksi
Cuprifil menunjukan reaksi positif dengan terbentukya kompleks Cu
berwarna jernih. Senyawa kompleks dapat berwarna karena senyawa
tersebut menyerap energi pada daerah sinar tampak. Penyerapan energi
tersebut digunaan untuk melakukan promosi atau transisi elektronik pada
atom pusat. Untuk memastikan senyawa yang diidentifikasi benar,
dilakukan uji penegasan yaitu dengan beberapa reaksi diantaranya reaksi
charlety yang menunjukan reaksi positif berwarna ungu yang kemudian
hilang ketika ditambah air.
Kemudian dilakukan uji diazo. Uji diazo dilakukan untuk
menentukan golongan alkohol. Dan hasilnya menunjukan yang termasuk
alkohol primer adalah etanol dan metanol, dan gliserin termasuk alkohol
trihidrat. Sebagian reaksi pendahuluan di gunakan pereaksi lukas. Dan
hasilnya

adalah

metanol

setelah

di

tambahkan

pereaksi

lukas

menghasilkan larutan jernih, metanol mengahasilkan larutan jernih, dan


gliserin tidak larut dalam reagen lukas . Dapat disimpulkan, jika sampel di
reaksikan dengan reagen lukas menhasilkan larutan jernih maka sampel
termasuk alkohol primer yaitu metanol dan etanol. Sedangkan gliserin
bukan merupakan golongan alkohol primer, alkohol sekunder dan alkohol
tersier.
Dilakukan pula reaksi spesifik yaitu reaksi esterifikasi. Reaksi
esterifikasi menggunakan asam salisilat, asam benzoat, dan sam asetat.

Pada saat metanol di reaksikan dengan H2SO4 dan asam salisilat hasilnya
larutan tersebut berbau cutex, dan etil salisilat.
Beberapa contoh reaksi esterifikasi adalah sebagai berikut :
a. Reaksi asam asetat dan etanol :

b. Reaksi asam salisilat dan metanol :

c. Reaksi asam benzoat dan etanol :

Pada gambar a yaitu esterifikasi asam asetat dengan etanol


menghasilkan bau cutex (etil asetat) . Reaksi ini dibantu dengan katalisator
asam (asam sulfat pekat) yang akan mempercepat pruduk dari reaktan.
Bukan hanya dengan katalisator, reaksi ini juga dibantu dengan pemanasan
yang bertujuan untuk menyempurnakan reaksi agar bau yang di hasilkan
terbentuk dengan cepat. Pada gambar b dan c merupakan esterifikasi asam
salisilat dan asam benzoat, kedua reaksi ini dibantu juga dengan katalis
asam sulfat dan pemanasan. Tujuan diberi katalisator dan pemanasan sama
seperti tujuan dilakukannya reaksi ester salisilat. Hasil esterifikasi asam
salisilat dengan metanol, yaitu gondopuro (metil salisilat) dan esterifikasi
asam benzoat dan etanol, yaitu bau frambos (etil benzoat).
Setelah di lakukan reaksi esterifikasi , di lakukan pula reaksi
beackman. Reaksi Beckman, hampir sama seperti reaksi oksidasi, hanya

saja pereaksi yang digunakan bukan KMnO4 tetapi K2Cr2O7 dan H2SO4,
dan hasil positif yang diamati lebih ditunjukkan untuk keberadaan Alkohol
Tersier, hasil positif apabila warna larutan orange-nya tidak mengalami
perubahan warna, apabila terjadi perubahan warna maka bisa jadi Alkohol
Primer atau Sekunder. Dari praktikum yang kami buat hasilnya
menunjukan semua sampel berwarna hijau. Ini menunjukan bahwa ketiga
sampel ini tidak termasuk alkohol golongan tersier.
Kemudian di lakukan reaksi deniges. Reaksi Deniges, merupakan
reaksi untuk Alkohol Tersier, pereaksinya adalah HgO, H 2SO4, dan aqua,
hasil positif apabila segera terbentuk endapan berwarna putih. Alkohol
Primer dan Sekunder juga dapat membentuk endapan tetapi tidak secepat
Alkohol Tersier. Hasilnya adalah semua larutan (sampel) jernih.
Reaksi selanjutnya adalah reaksi iodoform. Reaksi Iodoform
merupakan reaksi yang pereaksinya adalah larutan Iodii (I2) dan NaOH
yang hasil reaksinya adalah Iodoform yang dengan kata lain hasil positif
apabila terbentuk endapan berwarna kuning (jika diamati akan berbentuk
kristal).
Setelah itu di lakukan test warna. Test warna di lakukan dengan
reaksi

Cuprifil, reaksi landwerr dan reaksi charlety. Reaksi cuprifil

merupakan reaksi yang menggunakan NaOH dan CuSO4 sebagai


pereaksinya, hasil positif apabila didapatkan suatu kompleks Cu yang biru
tua jika di panaskan maka akanterbentuk waarna biru yang pekat (alkohol
polivalen). Hasilnya adalah sampel etanol dan metanol berwarna biru
muda dan gliserin berwarna biru tua. Hal ini membuktikan bahwa gliserin
merupakan alkohol polivalen karena gliserin memiliki gugu OH lebih dari
satu. Reaksi landwerr merupakan reaksi yang menggunakan FeCl 3 sebagai
pereaksi, hasil positif apabila terbentuk warna kuning tua sampai coklat
jingga. Hasilnya adalah metanol berwarna kuning tua, etanol berwarna
coklat jingga, dan gliserin berwarna kuning. Hal ini menunjukkan tidak
adanya gugus fenol pada sampel, karena uji feri klorida adalah mendeteksi
keberadaan fenol pada sampel dengan penambahan larutan feri klorida

yang uji positifnya akan menghasilkan warna ungu, merah, hijau atau biru
sebagai akibat dari adanya reaksi gugus OH pada fenol bereaksi dengan
larutan feri klorida. Dan yang terakhir pada uji warna adalah reaksi
charlety. Reaksi charlety

merupakan reaksi yang menggunakan asam

Oksalat, Resorsin, dan H2SO4 pekat sebagai pereaksi, hasil positif apabila
terbentuk warna ungu. Dalam praktikum kali ini tidak semua reaksi di
atas di buat karena keterbatasan waktu.
H. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum di atas dapat disimpulkan bahwa :
1. Untuk mengidentifikasi alkohol primer, sekunder, tersier, dll di lakukan uji
yaitu reaksi lukas dan reaksi beckman.
2. Untuk mengetahui berapa banyak gugus OH dal suatu sampel golongan
alkohol dapat di lakukan reaksi warna cuprifil. Jika suatu alkohol memiliki
lebih dari satu gugus OH maka hasil dari reaksi tersebut berwarna biru tua.
3. Untuk mengetahui Alkohol Tersier di lakukan reaksi deniges, pereaksi
yang di gunakan adalah HgO, H2SO4, dan aqua, hasil positif apabila segera
terbentuk endapan berwarna putih. Alkohol Primer dan Sekunder juga
dapat membentuk endapan tetapi tidak secepat Alkohol Tersier. Hasilnya
4.
5.
6.
7.

adalah semua larutan (sampel) jernih.


Metanol dan etanol merupakan golongan alkohol primer
Gliserin merupakan golongan alkohol trihidrat.
Alkohol monovalen : metanol dan etanol.
Alkohol polivalen
: gliserin

I. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.Jakarta
Anonim. 2003. Kimia Organik.Erlangga.Jakarta
Harnanto Ari, Ruminten. 2009. Kimia Untuk SMA KELAS XII. PT JePe
Press Media Utama .Jakarta
Ralph J, dan Fessenden, Joan S. 1997. Dasar-dasar kimia Organik. Bina
Aksara.Jakarta

Anda mungkin juga menyukai