Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

DINAMIKA KIMIA

JUDUL PERCOBAAN :
KINETIKA : OKSIDASI IODIDA DENGAN HIDROGEN
PEROKSIDA
Nama

: Santi Nur Aini

NRP

: 1413100048

Kelompok

: 9B

Tanggal Praktikum

: 5 dan 12 Mei 2015

Nama Asisten

: Romaya

Tanggal Pengumpulan : 26 Mei 2015

LABORATORIUM FUNDAMENTAL KIMIA


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
2015

I. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan hukum laju reaksi antara iodida dan
hidrogen peroksida dalam suasana asam.
II. TEORI DASAR
2.1 Kinetika Kimia
Suatu reaksi kimia berlangsung karena atom-atom bersekutu atau bersenyawa dan
membentuk molekul-molekul baru, dengan cara mengadakan reorganisani dari elektron-elektron
dalam masing-masing atom. Kecepatan berlangsungnya reaksi kimia dan energi-energi yang
berhubungan dengan reaksi tersebut, serta mekanismenya dipelajari dalam kinetika kimia.
Mekanisme reaksi dapat diramalkan dengan bantuan pengamatan dan pengukuran besaran
termodinamika suatu reaksi, dengan mengamati arah jalannya reaktan maupun produk suatu sistem.
Syarat untuk terjadinya suatu reaksi kimia bila terjadi penurunan energi bebas ( G < 0). Tujuan
utama kinetika kimia untuk menjelaskan bagaimana laju bergantung pada konsentrasi reaktan dan
mengetahui mekanisme suatu reaksi berdasarkan pengetahuan tentang laju reaksi secara eksperimen
(Oxtoby,1999).
2.2 Laju Reaksi
Laju reaksi didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi persatuan waktu.
Laju rekasi kimia terlihat dari perubahan konsentrasi molekul reaktan atau
konsentrasi molekul produk terhadap waktu. Laju rekasi tidak tetap, melainkan
berubah terus menerus seiring dengan perubahan konsentrasi (Chang,2006)

Gambar 2.1 Grafik Laju Reaksi antara Waktu dengan Konsentrasi Produk dan
Reaktan
(Atkins, 2010)
2.3 Pengaruh Konsentrasi Reaktan pada Laju Reaksi Kimia

Konsentrasi memiliki peranan yang sangat penting dalam laju reaksi, sebab semakin besar
konsentrasi pereaksi, maka tumbukan yang terjadi semakin banyak, sehingga menyebabkan laju
reaksi semakin cepat. Begitu juga, apabila semakin kecil konsentrasi pereaksi, maka semakin kecil
tumbukan yang terjadi antar partikel, sehingga laju reaksi pun semakin kecil (Ulfin, 2010).
Hubungan kuantitatif antara konsetrasi pereaksi dengan laju reaksi dinyatakan dalam suatu
persamaan, yaitu persamaan laju reaksi. Untuk reaksi :
mA + nB pC + qD
Persamaan laju reaksi dari persamaan diatas adalah
v = k[A]m [B]n.. (2.1)
Laju reaksi terlihat dari perubahan konsentrasi molekul reaktan atau konsentrasi molekul produk
terhadap waktu. Laju reaksi tidak tetap melainkan berubah terus-menerus seiring dengan perubahan
konsentrasi (Purba, 2007).
2.4 Pengaruh Temperatur pada Laju Reaksi Kimia
Hubungan laju reaksi dengan temperatur dijelaskan melalui persamaan Arhenius. kenaikan
temperatur akan meningkatkan gerakan molekul. Semakin banyak molekul yang bergerak dengan
kecepatan rata- rata tinggi akan memperbesar peluang terjadinya tumbukan efektif, yaitu tumbukan
yang mencapai energi pengaktifan, sehingga laju reaksi akan meningkat. Dibawah ini adalah grafik
yang menggambarkan energi kinetik molekul pada dua temperatur yang berbeda, dimana energi
aktivasi pada suhu yang lebih tinggi (
T1

T2

) lebih kecil dari pada energi aktivasi pada suhu rendah (

).

Grafik 1 Energi aktivasi pada dua temperatur yang berbeda

(Atkins, 2010).
Konstanta laju reaksi (k) bergantung pada temperatur (T) dan besarnya energi aktivasi (Ea).
Hubungan k, T, dan Ea dapat dinyatakan dalam persamaan Arrhenius sebagai berikut :

k =A e

Ea
RT

..

(2.2)
ln k =ln A

Ea
RT ..

(2.3)
Dimana A adalah faktor frekuensi dan R adalah konstanta gas (Schwedt, 1994).
2.5 Pengaruh Katalis terhadap Laju Reaksi
Katalis adalah zat yang mengambil bagian dalam reaksi kimia, tetapi
pada akhir reaksi tidak mempengaruhi produk yang terbentuk. Katalis tidak
muncul dalam persamaan kimia. Sifat dari katalis adalah katalis tidak bereaksi
secara permanen, katalis tidak mempengaruhi hasil akhir reaksi, katalis bekerja
pada suhu optimum. Katalis memumngkinkan reaksi berlangsung lebih cepat
atau memungkinkan reaksi pada suhu lebih rendah akibat perubahan yang
dipicu oleh atalis terhadap pereaksi. Katalis menyediakan suatu jalur pilihan
dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis mengurangi energi yang
dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi(Chang, 2006).
Katalis dapat dibedakan ke dalam dua golongan utama, yaitu katalis
homogen dan katalis heterogen. Katalis heterogen adalah katalis yang fasenya
berbeda dengan rektan yang akan dikatalisnya. Katalis homogen adalah katalis
yang memiliki fase yang sama dengan reaktan yang akan dikatalisnya.
Berikut ini adalah skema umum reaksi katalitik :
A + C AC .
(2.4)
B + AC AB + C.
(2.5)
C adalah katalis, meskipun katalis C termakan pada tahap reaksi 1, namun
selanjutnya

dihasilkan

kembali

oleh

reaksi

2,

sehingga

untuk

reaksi

keseluruhan menjadi :
A + B + C AB + C
(2.6)
III. PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Pengaruh Konsentrasi pada Laju Reaksi Kimia


Tabel 1 Variasi volume larutan untuk tiap-tiap percobaan

Percobaan
ke1
2
3
4
5

Air destilat
(mL)
85
83
81
76
66

85 mL Aquades 2 mL HCl 1 M

HCl
(mL)
2
2
2
2
2

KI (mL)
2
4
6
6
6

Amilum
(mL)
1
1
1
1
1

Na2S2O3
(mL)
5
5
5
5
5

H2O2
(mL)
5
5
5
10
20

2 mL KI 1 M 5 mL Na2S2O3 0,04 M1 mL Amilum

dicampur
ditambah 5 mL H2O2 0,2 M

Dicatat waktu perubahan warna larutan dari tidak berwarna ke biru tua

* Diulangi percobaan diata dengan variasi volume larutan seperti pada tabel *
Hasil

3.2 Pengaruh Temperatur terhadap Laju Reaksi


81 mL Aquades 2 mL HCl 1 M

6 mL KI 1 M 5 mL Na2S2O3 0,04 M1 mL Amilum

dicampur dan didinginkan hingga suhu 10oC


ditambah 5 mL H2O2 0,2 M
waktu
perubahan
larutan
dari
berwarna ke biru tua
81 mL Aquades 2 mL HClDicatat
6 mL KI
1 M 5 mLwarna
Na2S2O3
0,04
M1tidak
mL Amilum
1M

Hasil

dicampur pada suhu kamar

* Diulangi percobaan dengan variasi suhu 20, 40 dan 50C*


ditambah 5 mL H2O2 0,2 M

3.3 Pengaruh Katalis terhadap Laju Reaksi


Dicatat waktu perubahan warna larutan dari tidak berwarna ke biru tua

Hasil

ditambah 1 mL
Fe2+

IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


4.1 Analisa Data
Dari percobaan yang telah dilakukan, diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 2. Tabel data percobaan variasi volume reaktan

Temperatur (C)
30

6 menit 50 detik

30

4 menit 9 detik

30

2 menit 48 detik

30

48 detik

30

34 detik

Run

Waktu reaksi

Tabel 3. Tabel data percobaan variasi temperatur

Temperatur (C)
10

11 menit 30 detik

20

6 menit 15 detik

30

2 menit 48 detik

40

51 detik

50

26 detik

Run

Waktu reaksi

Tabel 4. Tabel data percobaan pengaruh katalis


Temperatur (C)
30

Run
3

Waktu reaksi
13 detik

4.2 Pembahasan
Percobaan ini berjudul oksidasi iodida dengan hidrogen peroksida, dengan tujuannya untuk
menentukan hukum laju reaksi antara iodida dan hidrogen peroksida dalam suasana asam. Adapun
prinsip yang dipakai meliputi kinetika kimia, laju reaksi, pengaruh konsentrasi, suhu dan katalis
terhadap laju reaksi, orde reaksi, serta konstanta laju. Percobaan ini dilakukan dengan 3 bagian,
bagian pertama adalah memvariasikan konsentrasi reaktan, adapun variasi yang diberikan dapat
dilihat pada tabel 1. Bagian kedua adalah memvariasikan temperatur (10, 20, 30, 40 dan 50C) dan
bagian ketiga adalah menambahkan katalis Fe2+.
Pada bagian pertama, yakni pengaruh konsentrasi terhadap laju, dilakukan sebanyak 5 kali run
dengan variasi volume air

destilat, larutan KI dan H2O2. Sedangkan untuk larutan HCl 1M,

Amilum, dan Na2S2O3 0,04 M dibuat tetap. Seluruh komposisi dalam percobaan dibuat setengah
resep dari modul yang sudah ada. Pada percobaan ini, ketika air destilat+ HCL+ KI+ amilum+
Na2S2O3, larutan campuran tidak berwarna. Tetapi ketika larutan campuran ditambahkan H2O2,
maka larutan campuran berubah warna menjadi orange kemudian berubah warna menjadi biru tua.
Hal ini karena terjadi reaksi sebagai berikut:
++ H 2 O 2 I 2 +2 H 2 O
+2 H
2 I
2
+S 4 O6
2 2 I
I 2 ( kuning ) +2 S 2 O3

reaksi berlangsung sangat cepat

I2 +Pati Kompleks (biru tua)


Air destilat berfungsi sebagai larutan pengencer serta mencuci alat, larutan HCl sebagai pemberi
suasana asam, larutan KI sebagai substrat atau reduktor, amilum sebagai pembentuk kompleks
amilum iodin, larutan Na2S2O3 sebagai penangkap iodin agar tidak terakumulasi sehingga tetap
dalam bentuk ion iodida atau sebagai reagen pembatas, sedangkan larutan H 2O2 berfungsi sebagai
oksidator. Berdasarkan teori, semakin tinggi konsentrasi reaktan maka laju reaksi semakin cepat.
Hal ini karena semakin tinggi konsentrasi, partikelnya semakin banyak sehingga kemungkinan
terjadi tumbukan efektif semakin besar. hal ini terbukti dalam percobaan run1-5 konsentrasi
semakin bertambah dan waktu yang dibutuhkan untuk perubahan warna nya semakin cepat

sehingga laju reaksi semakin cepat pula. Dari percobaan ini diperoleh orde reaksi dari [H 2O2] = 2,3
dan orde reaksi [I-] = . Sehingga diperoleh persamaan laju reaksi:

v =k [ H 2 O2 ]2,3
Pada bagian kedua adalah untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap laju reaksi. Perobaannya
hampir sama dengan bagian yang pertama namun hanya dilakukan pada run ketiga saja dengan
dilakukan variasi suhu 10oC, 20oC, 30oC, 40oC, dan 50oC. Suhu tersebut diatur dengan cara
pendinginan dengan es batu atau dengan pemanasan dengan penangas. Berdasarkan teori, semakin
tinggi temperatur maka laju reaksinya semakin besar, hal ini karena semakin tinggi temperatur
maka kemungkinan terjadinya tumbukan molekul reaktan semakin besar, sehingga reaksi terjadi
semakin cepat. Hal ini terbukti dalam percobaan, bisa dilihat dilampiran, bahwa semakin tinggi
temperature yang digunakan laju reaksi semakin cepat berlangsung. Dari data percobaan pada tabel
3, kemudian diolah datanya untuk menentukan nilai Ea dan A (factor Arrhenius). Didapat nilai Ea
adalah sebesar 64801,8 dan factor Arrheniusnya adalah 1.590 x 1014
Pada bagian ketiga adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan katalis terhadap laju reaksi.
Katalis yang digunakan adalah Fe2+. Berdasarkan teori, katalis dapat menurunkan energi aktivasi
sehingga reaksi dapat berjalan lebih cepat dari pada reaksi tanpa katalis. Dari percobaan ini
diperoleh data bahwa waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi tanpa katalis Fe 2+ sebesar 168 s dan
waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi dengan katalis Fe2+ sebesar 13 s. Dari data tersebut,
diketahui bahwa percobaan ini sesuai dengan teori.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat diambil
beberapakesimpulanantara lain:
1. Orde reaksi H2O2 adalah 2,5 dan I- adalah 2 , rata-rata nilai k adalah 3.37 x 10-2, nilai Ea
adalah 64801,8 dan A adalah 1.590 x 1014.
2. Semakin besar volume reaktan maka laju reaksi semakin cepat
3. Semakin tinggi temperature larutan maka laju reaksi semakin cepat
4. Dengan penambahan katalis maka laju reaksinya juga semakin cepat.
5. Persamaan laju pada percobaan ini adalah :
V= k x [H2O2]2,5 x [l-]2
5.2 Saran

Percobaan terakhir ini terkesan hampir sama dengan 3 percobaan sebelumnya, karena
percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi, temperatur dan katalis
pada kinetika kimia. Diharapkan percobaan 4 ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor
lain yang dapat mempengaruhi kinetika kimia (selain faktor konsentrasi, temperatur dan
katalis) misalnya luas permukaan dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA
Atkins, P. W F.,Julio de Paula. (2010).Physical Chemistry ninth
edition.New York :W. H
Freeman and Company
Chang,Raymond.(2006). Kimia Dasar : Konsep-Konsep Inti Jilid 2.
Jakarta : Erlangga
Oxtoby, D. W.(1999). Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Jakarta: Erlangga.
Purba, Michael. (2007). Kimia Untuk SMA kelas XI Semester 1. Jakarta: Erlangga.
Schwedt, G. (1994). Chemistry Analitycal. USA : John Wiley Sons Inc
Ulfin, Ita dkk.(2010). Kimia Dasar. ITS Press : Surabaya

LAMPIRAN
A. Perhitungan dan Grafik Laju Reaksi
1. Pengaruh konsentrasi reaktan pada laju reaksi kimia
Diketahui: [KI] = 1, [Na2S2O3]=0,04, dan [H2O2] = 0,2
Tabel 5. Tabel perhitungan Konsentrasi
Run

[KI]

Volume

mol/L

KI (L)

KI

mol/L

1.0
1.0
1.0
1.0
1.0

0.002
0.004
0.006
0.006
0.006

0.002
0.004
0.006
0.006
0.006

0.040
0.040
0.040
0.040
0.040

1
2
3
4
5

Volume

Moles [Na2S2O3]

Na2S2O3

(L)
0.005
0.005
0.005
0.005
0.005

Moles

[H2O2]

Na2S2O3

mol/L

0.0002
0.0002
0.0002
0.0002
0.0002

0.200
0.200
0.200
0.200
0.200

Volume
H2O2
(L)
0.005
0.005
0.005
0.010
0.020

Moles
H2O2
0.001
0.001
0.001
0.002
0.004

Tabel 6. Tabel Perhitungan Konsentrasi mula-mula


Run
1
2
3
4
5

Initial
moles
KI
0.002
0.004
0.006
0.006
0.006

[KI]0
mol/L
0.02
0.04
0.06
0.06
0.06

Initial
moles
Na2S2O3
0.0002
0.0002
0.0002
0.0002
0.0002

Na2S2O3 mol/L

Initial
moles H2O2

[H2O2]0
mol/L

0.002
0.002
0.002
0.002
0.002

0.001
0.001
0.001
0.002
0.004

0.01
0.01
0.01
0.02
0.04

rate (M/s)

Tabel 7. Tabel Perhitungan Laju Awal


Run
1
2
3
4
5

mol H2O2
used
0.0005
0.0005
0.0005
0.001
0.002

V total
(L)

[H2O2] used
mol/L

t (s)

0.1

0.005

410

0.1
0.1
0.1
0.1

0.005
0.005
0.01
0.02

38

1,220
10-5
2,008
10-5
2,976
10-5
2,083
10-4
5,263
10-4

[I-]0
0.02
0.04
0.06
0.06
0.06

Log [I-]0
-1.699
-1.398
-1.222
-1.222
-1.222

249
168
48

Tabel 8. Tabel Logaritma


Run
1
2
3
4
5

Log (rate)
-4.914
-4.697
-4.526
-3.681
-3.279

[H2O2]0
0.01
0.01
0.01
0.02
0.04

Log [H2O2]0
-2
-2
-2
-1.699
-1.398

x
x
x
x
x

Dari data diatas, diperoleh 2 grafik dari tabel 8 untuk menentukan orde reaksi dari [H2O2]
dan [I-]. Grafik diatas diperoleh dari persamaan berikut:

v =k [ H 2 O2 ]m

log v =log k +m log[ H 2 O2 ]+n log


Orde reaksi [H2O2] diperoleh dari persamaan:

k
+ log

n log
[ H 2 O2 ] +
v =m log
log
Orde reaksi [I-] diperoleh dari persamaan:

k
n log [ H 2 O2 ] +log

v=mlog
log

-2.1

-2

-1.9

-1.8

-1.7

-1.6

-1.5

0.000
-1.4 -1.3
-1.000
-2.000

Linear ()
f(x) = 2.51x + 0.35
R = 0.92

-3.000
-4.000
-5.000
-6.000

Grafik 2. Grafik Log (rate) terhadap Log [H2O2]0


Dari persamaan grafik yang didapat, orde reaksi untuk [H2O2] adalah 2,5

-1.800

-1.600

-1.400

0.000
-1.200 -1.000
-1.000
-2.000
-3.000

f(x) = 2.4x - 0.98


R = 0.5

Linear ()

-4.000
-5.000
-6.000

Grafik 3. Grafik Log (rate) terhadap Log [I-]0


Dari persamaan grafik yang didapat, orde reaksi untuk I- adalah 2,3 atau dibulatkan menjadi
2.

Tabel 9. Tabel Perhitungan nilai K


Run

[H2O2
]
0.01

0.01

0.01

0.02

0.04

[H2O2]2,5
0.0000
1
0.0000
1
0.0000
1
0.0000
56
0.0003
2

[I-]
0.02
0.04
0.06
0.06
0.06

[I-]2

v (M/s)

0.0004

1.22E-05

0.0016

2.01E-05

0.0036

2.98E-05

0.0036

2.08E-04

0.0036

5.26E-04

k rata-rata

k
4.88 x
10-4
3.21 x
10-3
1.07 x
10-2
1.34 x
10-2
5.92 x
10-3
3.37 x
10-2

2. Pengaruh temperatur reaktan pada laju reaksi kimia


Tabel 10. Tabel Perhitungan nilai K tiap variasi suhu
Run

T (0C)

T
(K)

t
(s)

v (M/s)

50

323

26

0.000192

40

313

0.000098

30

303

0.000030

826.7196

20

293

0.000013

370.3704

10

283

51
16
8
37
5
69
0

k
5341.880
3
2723.311
5

0.000007
Ea

201.2882

A
Dari data tersebut diperoleh grafik dari persamaan berikut:
ln k =ln A +

Ea 1
R T

Persamaan grafiknya sebagai berikut

ln k
8.583
3
7.909
6
6.717
5
5.914
5
5.304
7

1/T
0.0031
0.0032
0.0033
0.0034
0.0035
64801.8
1.590 x
1014

10.0000
9.0000
8.0000
7.0000

f(x) = - 7794.29x + 32.67


R = 0.98

6.0000
5.0000
Linear ()

4.0000
3.0000
2.0000
1.0000
0.0000
0.0030

0.0032

0.0034

0.0036

Grafik 4. Grafik ln k terhadap 1/T (Plot Arrhenius untuk Reaksi Peroksida-Iodida)


Berdasarkan grafik 4 diatas, maka didapat nilai Energi Aktivasi (Ea) dan factor Arrhenius
(A) sebagai berikut :

Ea
=7794,3
R
Ea = 7794,3 x 8,324 J/K.mol = 6480,8

In A = 32,7
A
= e32,7
A
= 1.590 x 1014
3. Pengaruh katalis reaktan pada laju reaksi kimia
Tabel 11. Tabel perbandingan waktu larutan dengan Katalis dan tanpa katalis

T (C)
30

t (s) dengan katalis


Fe2+
13

t (s) tanpa katalis


Fe2+
168

NILAI PERCOBAAN :
Tes
Pendahulua
n
(0-100)
Mengetahui
Asisten,

Romaya

Kerja

(0-100)

Laporan
Praktikum
(0-100)

Nilai Akhir
Praktikan,

SantiNurAini
1413100048