Anda di halaman 1dari 26

FRAKTUR

Definisi
Fraktur =>
kerusakan

kontinuitas

tulang,

tulang

rawan epifisis atau tulang rawan sendi


yang

biasanya

kerusakan

dengan

vaskuler

melibatkan

dan

jaringan

sekitarnya yang ditandai dengan nyeri,


pembengkakan, dan tenderness.

Patofisiologi
Trauma yang mengakibatkan fraktur akan dapat merusak
jaringan lunak disekitar fraktur mulai dari otot fascia, kulit
sampai struktur neuromuskuler atau organ-organ penting
lain.
Pada saat kejadian kerusakan terjadilah respon
peradangan dengan pembentukan gumpulan atau bekuan
fibrin. Osteoblas mulai muncul dengan jumlah yang besar
untuk membentuk suatu matrix tulang baru antara
fragmen fragmen tulang. Garam kalsium dalam matrix
membentuk kallus yang akan memberikan stabilitas dan
menyokong untuk pembentukan matrix baru.

Klasifikasi fraktur dapat dibedakan yaitu:


fraktur terbuka; terdapat luka yang
menghubungkan tulang fraktur dengan
permukaan kulit,
fraktur tertutup; bila mana tidak ada luka
yang menghubungkan fraktur denga
permukaan kulit.

Fraktur komplit tidak komplit.


Fraktur komplit; garis patah melalui seluruh
penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang.
Fraktur inkomplit; garis patah tidak melalui seluruh
penampang
tulang
seperti;
greenstick
fraktur
mengenai satu korteks dengan angulasi korteks
lainnya atau terpecahnya pada samping tulang, buckle
fraktur atau torus fraktur terjadi lipatan dari satu
korteks
dengan
kompresi
tulang
spingiosa
dibawahnya.

Komplikasi
Infeksi
Kompartemen sindrom
Kerusakan kulit; abrasi, laserasi, penetrasi, nekrosis
Gangrene
Emboli paru
Trombosis vena
Osteoporosis pascatrauma
Ruptur tendon
Syok; hemoragik, neurogenik
Pembuluh darah robek
Osteomielitis
Tetanus
Batu ginjal bila lama immobilisasi

Etiologi
Trauma karena; kecelakaan dari
kendaraan, jatuh, olahraga, dan
sekunder dari penyakit; osteogenesis
imperfekta dan kanker.

Manifestasi Klinis

Nyeri atau tenderness


Immobilisasi
Menurunnya pergerakan
Adanya krepitasi
Ecchymosis dan eritema
Spasme otot
Deformitas
Bengkak atau adanya memar
Gangguan sensasi
Hilangnya fungsi
Menolak untuk berjalan atau bergerak

Pemeriksaan diagnostic

Foto rontgen
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan darah; Hgb, Hct
Pemeriksaan; SGOT, LDH, kreatinin,
dan alkaline phosphatase untuk
menentukan meluasnya kerusakan
pada otot

Penatalaksanaan teraupetik
Pengobatan yang terkait dengan fraktur:
- mengurangi nyeri,
- mencegah perdarahan dan edema,
- mengurangi spasme otot, meluruskan
tulang yang patah ,
- meningkatkan kesembuhan tulang,
immobilisasi fraktur, dan mencegah
komplikasi.
Retensi; gips, traksi; kulit dan skeletal.

Jenis-jenis Fraktur
Buck Extension traction

Balance suspension

Bryant traction

Russell traction

Cruthfield-tong traction

Cruthfield-tong traction

CONGENITAL HIP
DISEASES

DEFINISI
Congenital Dislocation Of The Hip
(CDH) adalah deformitas ortopedik
yang didapat segera sebelum atau
pada saat kelahiran, Kondisi ini
mengacu pada malformasi sendi
pinggul selama perkembangan janin.

ETIOLOGI
Seorang wanita hamil yang telah mengikuti
semua nasihat dokternya agar kelak melahirkan
bayi yang sehat, mungkin saja nanti melahirkan
bayi yang memiliki kelainan bawaan. 60% kasus
kelainan bawaan penyebabnya tidak diketahui;
sisanya disebabkan oleh faktor lingkungan atau
genetik atau kombinasi dari keduanya.

MANIFESTASI KLINIK
1. Bayi
a. Kemungkinan tidak ada bukti gejala karena bayi
dapat mengalami kesalahan tempat femur minimal
b. Lipatan gluteal yang tidak sejajar (posisi pronasi)
c. Pemendekan ekstremitas pada tempat yang terkena
d. Abduksi terbatas pada pinggul sisi yang terkena
e. Adanya tanda-tanda Galeazzi
f. Temuan positif saat dilakukan Manuver Barlow
g. Temuan positif saat dilakukan maneuver ortolani

2. Toddler dan anak yang lebih tua


a. Gaya berjalan seperti bebek (dislokasi
pinggul bilateral)
b. Peningkatan lordosis lumbal (punggung
cekung) saat berdiri (dislokasi pinggul
bilateral)
c. Tungkai yang terkena lebih pendek dari
yang lain
d. Temuan positif pada uji trendeelenburg
e. Pincang.

PATOFISIOLOGI
- ketidak normalan perkembangan
antara kaput femur dan asetabulum.

PENATALAKSANAAN
Selama periode neonatal

menggunakan alat bantu

pengoreksi
Antara usia 6 dan 18 bulan traksi digunakan diikuti
dengan imobilisasi gips.
Jika

jaringan

lunak

menghalangi

dan

menyulitkan

penurunan dan perkembangan sendi reduksi tertutup


maupun terbuka (bergantung pada apakah ada atau tidak
kontraktur otot-otot adductor dan kesalahan letak kaput
femur yang terjadi) dan gips spika pinggul di pasang

KOMPLIKASI
1. Displasia asetabular persisten
2. Dislokasi berulang
3. Nekrosis avaskular iatrogenic
pada kaput femur

INSIDEN
1. CDH terjadi pada 1 atau 1,2 dari 100 kelahiran hidup
2. Di Amerika serikat, sekitar 38.900 sampai 46.000
bayi terkena setiap tahun.
3. Rasio wanita/pria adalah 6 : 1
4. Insidens meningkat dengan adanya presentasi
bokong.
5. Peningkatan insidens terbuktidiantara saudara
kandung anak yang terinfeksi
6. Bila hanya 1 pinggul yang terkena, pinggul kiri lebih
sering terkena dari pada pinggul kanan
7. Sering ada hubungannyadengan ketidaknormalan
muskuluskeletal dan renal congenital lain.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Pemeriksaan yang paling penting ::


pemeriksaan
USG,
anak-anak rontgen.
1) Rontgen
Menunjukkan lokasi / luasnya
fraktur / trauma

2) Scan tulang, tonogram, CT scan / MRI


Memperlihatkan fraktur, dapat
digunakan untuk mengidentifikasikan
kerusakan jaringan lunak.
3) Pemeriksaan radiografi pelvis
anteroposterior dan lauenstein lateral
didapatkan (kaji tingkat kesalahan letak
atau dislokasi femur ; tidak berguna
pada bayi yang berusia kurang dari 1
bulan).

TERIMAKASI
H

Anda mungkin juga menyukai