Anda di halaman 1dari 67

1.

Makalah Perdagangan Internasional


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Perekonomian dalam suatu negara, merupakan salah satu wacana yang menonjol
adalah mengenai pertumbuhan ekonomi. Meskipun ada juga wacana lain mengenai
pengangguran, inflasi atau kenaikan harga barang-barang secara bersamaan, kemiskinan,
pemerataan pendapatan dan lain sebagainya. Pertumbuhan ekonomi menjadi penting
dalam konteks perekonomian suatu negara karena dapat menjadi salah satu ukuran dari
pertumbuhan atau pencapaian perekonomian bangsa tersebut, meskipun tidak bisa
dinafikan ukuran-ukuran yang lain. Wijono (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan
ekonomi merupakan salah satu indikator kemajuan pembangunan.
Salah satu hal yang dapat dijadikan motor penggerak bagi pertumbuhan adalah
perdagangan internasional. Salvatore menyatakan bahwa perdagangan dapat menjadi
mesin bagi pertumbuhan ( trade as engine of growth, Salvatore, 2004). Jika aktifitas
perdagangan internasional adalah ekspor dan impor, maka salah satu dari komponen
tersebut atau kedua-duanya dapat menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan.
Tambunan (2005) menyatakan pada awal tahun 1980-an Indonesia menetapkan
kebijakan yang berupa export promotion. Dengan demikian, kebijakan tersebut
menjadikan ekspor sebagai motor penggerak bagi pertumbuhan. Ketika perdagangan
internasional menjadi pokok bahasan, tentunya perpindahan modal antar negara menjadi
bagian yang penting juga untuk dipelajari. Sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh

Vernon, perpindahan modal khususnya untuk investasi langsung, diawali dengan adanya
perdagangan internasional (Appleyard, 2004).
Ketika terjadi perdagangan internasional yang berupa ekspor dan impor, akan
memunculkan kemungkinan untuk memindahkan tempat produksi. Peningkatan ukuran
pasar yang semakin besar yang ditandai dengan peningkatan impor suatu jenis barang
pada suatu negara, akan memunculkan kemungkinan untuk memproduksi barang tersebut
di negara importir. Kemungkinan itu didasarkan dengan melihat perbandingan antara
biaya produksi di negara eksportir ditambah dengan biaya transportasi dengan biaya yang
muncul jika barang tersebut diproduksi di negara importir. Jika biaya produksi di negara
eksportir ditambah biaya transportasi lebih besar dari biaya produksi di negara importir,
maka investor akan memindahkan lokasi produksinya di negara importir (Appleyard,
2004).
PEMBAHASAN
1. Perdangangan Internasional
a.

Pengertian Perdagangan Internasional


Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk
suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama.
Penduduk yang dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu dengan individu),
antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negaradengan
pemerintah negara lain. Di banyak negara, perdagangan internasional menjadi salah
satu faktor utama untuk meningkatkan GDP. Meskipun perdagangan internasional
telah terjadi selama ribuan tahun (lihat Jalur Sutra, Amber Road), dampaknya

terhadap kepentingan ekonomi, sosial, dan politik baru dirasakan beberapa abad
belakangan. Perdagangan internasional pun turut mendorong Industrialisasi,
kemajuan transportasi, globalisasi, dan kehadiran perusahaan multinasional.
b.

Teori Perdagangan Internasional


Menurut Amir M.S., bila dibandingkan dengan pelaksanaan perdagangan di
dalam negeri, perdagangan internasional sangatlah rumit dan kompleks. Kerumitan
tersebut antara lain disebabkan karena adanya batas-batas politik dan kenegaraan
yang dapat menghambat perdagangan, misalnya dengan adanya bea, tarif, atau quota
barang impor. Selain itu, kesulitan lainnya timbul karena adanya perbedaan budaya,
bahasa, mata uang, taksiran dan timbangan, dan hukum dalam perdagangan. Ada
beberapa model perdagangan internasional diantaranya:
a)

Model Ricardian
Model Ricardian memfokuskan pada kelebihan komparatif dan mungkin
merupakan konsep paling penting dalam teori pedagangan internasional. Dalam
Sebuah model Ricardian, negara mengkhususkan dalam memproduksi apa yang
mereka paling baik produksi. Tidak seperti model lainnya, rangka kerja model ini
memprediksi dimana negara-negara akan menjadi spesialis secara penuh
dibandingkan memproduksi bermacam barang komoditas. Juga, model Ricardian
tidak secara langsung memasukan faktor pendukung, seperti jumlah relatif dari
buruh dan modal dalam negara.

b)

Model Heckscher-Ohlin
Model Heckscgher-Ohlin dibuat sebagai alternatif dari model Ricardian
dan dasar kelebihan komparatif. Mengesampingkan kompleksitasnya yang jauh

lebih rumit model ini tidak membuktikan prediksi yang lebih akurat.
Bagaimanapun, dari sebuah titik pandangan teoritis model tersebut tidak
memberikan solusi yang elegan dengan memakai mekanisme harga neoklasikal
kedalam teori perdagangan internasional. Teori ini berpendapat bahwa pola dari
perdagangan internasional ditentukan oleh perbedaan dalam faktor pendukung.
Model ini memperkirakan kalau negara-negara akan mengekspor barang yang
membuat penggunaan intensif dari faktor pemenuh kebutuhan dan akan
mengimpor barang yang akan menggunakan faktor lokal yang langka secara
intensif. Masalah empiris dengan model H-o, dikenal sebagai Pradoks Leotief,
yang dibuka dalam uji empiris oleh Wassily Leontief yang menemukan bahwa
Amerika Serikat lebih cenderung untuk mengekspor barang buruh intensif
dibanding memiliki kecukupan modal.
c)

Faktor Spesifik
Dalam model ini, mobilitas buruh antara industri satu dan yang lain
sangatlah mungkin ketika modal tidak bergerak antar industri pada satu masa
pendek. Faktor spesifik merujuk ke pemberian yaitu dalam faktor spesifik jangka
pendek dari produksi, seperti modal fisik, tidak secara mudah dipindahkan antar
industri. Teori mensugestikan jika ada peningkatan dalam harga sebuah barang,
pemilik dari faktor produksi spesifik ke barang tersebut akan untuk pada
termsebenarnya. Sebagai tambahan, pemilik dari faktor produksi spesifik
berlawanan (seperti buruh dan modal) cenderung memiliki agenda bertolak
belakang ketika melobi untuk pengednalian atas imigrasi buruh. Hubungan
sebaliknya, kedua pemilik keuntungan bagi pemodal dan buruh dalam kenyataan

membentuk sebuah peningkatan dalam pemenuhan modal. Model ini ideal untuk
industri tertentu. Model ini cocok untuk memahami distribusi pendapatan tetapi
tidak untuk menentukan pola pedagangan.
d)

Model Gravitasi
Model gravitasi perdagangan menyajikan sebuah analisa yang lebih
empiris dari pola perdagangan dibanding model yang lebih teoritis diatas. Model
gravitasi, pada bentuk dasarnya, menerka perdagangan berdasarkan jarak antar
negara dan interaksi antar negara dalam ukuran ekonominya. Model ini
meniruhukum gravitasi Newton yang juga memperhitungkan jarak dan ukuran
fisik di antara dua benda. Model ini telah terbukti menjadi kuat secara empiris
oleh analisaekonometri. Faktor lain seperti tingkat pendapatan, hubungan
diplomatik, dan kebijakan perdagangan juga dimasukkan dalam versi lebih besar
dari model ini.

c.

Manfaat perdagangan internasional


Menurut Sadono Sukirno, manfaat perdagangan internasional adalah sebagai
berikut.

Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri Banyak


faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap negara.
Faktor-faktor tersebut di antaranya : Kondisi geografi, iklim, tingkat
penguasaan iptek dan lain-lain. Dengan adanya perdagangan internasional,
setiap negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri.

Memperoleh keuntungan dari spesialisasi Sebab utama kegiatan


perdagangan luar negeri adalah untuk memperoleh keuntungan yang
diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat memproduksi
suatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksi oleh negara lain,
tapi ada kalanya lebih baik apabila negara tersebut mengimpor barang tersebut
dari luar negeri.

Memperluas pasar dan menambah keuntungan Terkadang, para pengusaha


tidak menjalankan mesin-mesinnya (alat produksinya) dengan maksimal
karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan
turunnya harga produk mereka. Dengan adanya perdagangan internasional,
pengusaha dapat menjalankan mesin-mesinnya secara maksimal, dan menjual
kelebihan produk tersebut keluar negeri.

Transfer teknologi modern Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu


negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih efesien dan cara-cara
manajemen yang lebih modern.

d.

Faktor pendorong
Banyak faktor yang mendorong suatu negara melakukan perdagangan
internasional, di antaranya sebagai berikut :

Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri


Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan
negara

Adanya perbedaan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan


teknologi dalam mengolah sumber daya ekonomi.

Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlu pasar baru untuk
menjual produk tersebut.

Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya alam, iklim, tenaga


kerja, budaya, dan jumlah penduduk yang menyebabkan adanya perbedaan
hasilproduksi dan adanya keterbatasan produksi.

Adanya kesamaan selera terhadap suatu barang.

Keinginan membuka kerja sama, hubungan politik dan dukungan dari


negara lain.

Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu negara pun di dunia dapat
hidup sendiri.

e.

Peraturan/Regulasi Perdagangan Internasional


Umumnya perdagangan diregulasikan melalui perjanjian bilatera antara
dua

negara.

Selama

berabad-abad

dibawah

kepercayaan

dalam

Merkantilismekebanyakan negara memiliki tarif tinggi dan banyak pembatasan dalam


perdagangan internasional. pada abad ke 19, terutama di Britania, ada kepercayaan
akanperdagangan bebas menjadi yang terpenting dan pandangan ini mendominasi
pemikiran di antaranegara barat untuk beberapa waktu sejak itu dimana hal tersebut
membawa mereka ke kemunduran besar Britania.
Pada tahun-tahun sejak Perang Dunia II, perjanjian multilateral
kontroversial seperti GATT dan WTO memberikan usaha untuk membuat regulasi
lobal dalam perdagangan internasional. Kesepakatan perdagangan tersebut kadangkadang berujung pada protes dan ketidakpuasan dengan klaim dari perdagangan yang
tidak adil yang tidak menguntungkan secara mutual. Perdagangan bebas biasanya

didukung dengan kuat oleh sebagian besar negara yang berekonomi kuat, walaupun
mereka kadang-kadang melakukan proteksi selektif untuk industri-industri yang
penting secara strategis seperti proteksi tarif untuk agrikultur oleh Amerika Serikat
dan Eropa. Belanda dan Inggris Raya, keduanya mendukung penuh perdagangan
bebas dimana mereka secara ekonomis dominan, sekarang Amerika Serikat, Inggris,
Australia dan Jepang merupakan pendukung terbesarnya.
Bagaimanapun, banyak negara lain (seperti India, Rusia, dan Tiongkok)
menjadi pendukung perdagangan bebas karena telah menjadi kuat secara ekonomi.
Karena tingkat tarif turun ada juga keinginan untuk menegosiasikan usaha non tarif,
termasuk investasi luar negri langsung, pembelian, dan fasilitasi perdagangan. Wujud
lain dari biaya transaksi dihubungkan dnegan perdagangan pertemuan dan prosedur
cukai. Umumnya kepentingan agrikultur biasanya dalam koridor dari perdagangan
bebas dan sektor manufaktur seringnya didukung oleh proteksi. Ini telah berubah
pada beberapa tahun terakhir, bagaimanapun.
Faktanya, lobi agrikultur, khususnya di Amerika Serikat, Eropa dan
Jepang, merupakan penanggung jawab utama untuk peraturan tertentu pada perjanjian
internasional besar yang memungkinkan proteksi lebih dalam agrikultur dibandingkan
kebanyakan barang dan jasa lainnya.
Selama reses ada seringkali tekanan domestik untuk meningkatkan tarif
dalam rangka memproteksi industri dalam negri. Ini terjadi di seluruh dunia selama
Depresi Besar membuat kolapsnya perdagangan dunia yang dipercaya memperdalam
depresi tersebut.

Regulasi dari perdagangan internasional diselesaikan melalui World Trade


Organization pada level global, dan melalui beberapa kesepakatan regional
sepertiMerCOSUR di Amerika Selatan, NAFTA antara Amerika Serikat, Kanada dan
Meksiko, dan Uni Eropa anatara 27 negara mandiri. Pertemuan Buenos Aires tahun
2005 membicarakan pembuatan dari Free Trade Area of America (FTAA) gagal total
karena penolakan dari populasi negara-negara Amerika Latin. Kesepakatan serupa
seperti MAI (Multilateral Agreement on Invesment) juga gagal pada tahun-tahun
belakangan ini.

2. Sistem perekonomian
Sistem perekonomian adalah sistem yang digunakan oleh suatu negara untuk
mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya baik kepada individu maupun organisasi
di negara tersebut. Perbedaan mendasar antara sebuah sistem ekonomi dengan sistem
ekonomi lainnya adalah bagaimana cara sistem itu mengatur faktor produksinya. Dalam
beberapa sistem, seorang individu boleh memiliki semua faktor produksi. Sementara
dalam sistem lainnya, semua faktor tersebut di pegang olehpemerintah. Kebanyakan
sistem ekonomi di dunia berada di antara dua sistem ekstrem tersebut.
Selain faktor produksi, sistem ekonomi juga dapat dibedakan dari cara sistem
tersebut mengatur produksi dan alokasi. Sebuah perekonomian terencana(planned
economies) memberikan hak kepada pemerintah untuk mengatur faktor-faktor produksi
dan alokasi hasil produksi. Sementara pada perekonomian pasar(market economic), pasar

lah yang mengatur faktor-faktor produksi dan alokasi barang dan jasa melalui penawaran
dan permintaan.
Ada beberapa macam sisitem perekonomian yaitu:

Perekonomian terencana
Ada dua bentuk utama perekonomian terencana, yaitu komunisme dan
sosialisme. Sebagai wujud pemikiran Karl Marx, komunisme adalah sistem yang
mengharuskan pemerintah memiliki dan menggunakan seluruh faktor produksi.
Namun, lanjutnya, kepemilikan pemerintah atas faktor-faktor produksi tersebut
hanyalah sementara; Ketika perekonomian masyarakat dianggap telah matang,
pemerintah harus memberikan hak atas faktor-faktor produksi itu kepada para
buruh. Uni Soviet dan banyak negara Eropa Timur lainnya menggunakan sistem
ekonomi ini hingga akhir abad ke-20. Namun saat ini, hanya Kuba, Korea
Utara,Vietnam, dan RRC yang menggunakan sistem ini. Negara-negara itu pun
tidak

sepenuhnya

mengatur

faktor

produksi.

China,

misalnya,

mulai

melonggarkan peraturan dan memperbolehkan perusahaan swasta mengontrol


faktor produksinya sendiri.

Perekonomian pasar
Perekonomian pasar bergantung pada kapitalisme dan liberalisme untuk
menciptakan sebuah lingkungan di mana produsen dan konsumen bebas menjual
dan membeli barang yang mereka inginkan (dalam batas-batas tertentu). Sebagai
akibatnya, barang yang diproduksi dan harga yang berlaku ditentukan oleh
mekanisme penawaran-permintaan.

Perekonomian pasar campuran

Perekonomian pasar campuran atau mixed market economies adalah


gabungan antara sistem perekonomian pasar dan terencana. Menurut Griffin, tidak
ada satu negara pun di dunia ini yang benar-benar melaksanakan perekonomian
pasar atau pun terencana, bahkan negara seperti Amerika Serikat. Meskipun
dikenal sangat bebas, pemerintah Amerika Serikat tetap mengeluarkan beberapa
peraturan yang membatasi kegiatan ekonomi. Misalnya larangan untuk menjual
barang-barang tertentu untuk anak di bawah umur, pengontrolan iklan
(advertising), dan lain-lain. Begitu pula dengan negara-negara perekonomian
terencana. Saat ini, banyak negara-negara Blok Timur yang telah melakukan
privatisasipengubahan status perusahaaan pemerintah menjadi perusahaan
swasta.
3. Peranan Perdagangan Internasional dalam Perekonomian
a.

Efek Perdagangan Internasional terhadap Pertumbuhan Ekonomi


Dalam konteks perekonomian suatu negara, salah satu wacana yang menonjol
adalah mengenai pertumbuhan ekonomi. Meskipun ada juga wacana lain mengenai
pengangguran, inflasi atau kenaikan harga barang-barang secara bersamaan,
kemiskinan, pemerataan pendapatan dan lain sebagainya. Pertumbuhan ekonomi
menjadi penting dalam konteks perekonomian suatu negara karena dapat menjadi
salah satu ukuran dari pertumbuhan atau pencapaian perekonomian bangsa tersebut,
meskipun tidak bisa dinafikan ukuran-ukuran yang lain. Wijono (2005) menyatakan
bahwa

pertumbuhan

pembangunan.

ekonomi

merupakan

salah

satu

indikator

kemajuan

Salah satu hal yang dapat dijadikan motor penggerak bagi pertumbuhan adalah
perdagangan internasional. Salvatore menyatakan bahwa perdagangan dapat menjadi
mesin bagi pertumbuhan ( trade as engine of growth, Salvatore, 2004). Jika aktifitas
perdagangan internasional adalah ekspor dan impor, maka salah satu dari komponen
tersebut atau kedua-duanya dapat menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan.
Tambunan (2005) menyatakan pada awal tahun 1980-an Indonesia menetapkan
kebijakan yang berupa export promotion. Dengan demikian, kebijakan tersebut
menjadikan ekspor sebagai motor penggerak bagi pertumbuhan.
Ketika

perdagangan

internasional

menjadi

pokok

bahasan,

tentunya

perpindahan modal antar negara menjadi bagian yang penting juga untuk dipelajari.
Sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Vernon, perpindahan modal khususnya
untuk investasi langsung, diawali dengan adanya perdagangan internasional
(Appleyard, 2004). Ketika terjadi perdagangan internasional yang berupa ekspor dan
impor, akan memunculkan kemungkinan untuk memindahkan tempat produksi.
Peningkatan ukuran pasar yang semakin besar yang ditandai dengan peningkatan
impor suatu jenis barang pada suatu negara, akan memunculkan kemungkinan untuk
memproduksi barang tersebut di negara importir. Kemungkinan itu didasarkan dengan
melihat perbandingan antara biaya produksi di negara eksportir ditambah dengan
biaya transportasi dengan biaya yang muncul jika barang tersebut diproduksi di
negara importir. Jika biaya produksi di negara eksportir ditambah biaya transportasi
lebih besar dari biaya produksi di negara importir, maka investor akan memindahkan
lokasi produksinya di negara importir (Appleyard, 2004).
b.

Efek Terhadap Produksi

Pedagangan luar negeri mempunyai pengaruh yang kompleks terhadap sector


produksi di dalam negeri. Secara umum kita bisa menyebutkan empat macam
pengaruh yang bekerja melalui adanya:

c.

1.

Spesialisasi produksi.

2.

Kenaikan investasi surplus

3.

Vent for Surplus.

4.

Kenaikan produktivitas.

Spesialisasi
Perdagagangan internasional mendorong masing-masing Negara kearah
spesialisasi dalam produksi barang di mana Negara tersebut memiliki keunggulan
komperatifnya. Dalam kasus constant-cost, akan terjadi spesialisasi produksi yang
penuh, sedangkan dalam kasus increasing-cost terjadi spesialisasi yang tidak penuh.
Yang perlu diingat disini adalah spesialisasi itu sendiri tidak membawa manfaat
kepada masyarakat kecuali apabila disertai kemungkinan menukarkan hasil
produksinya dengan barang-barang lain yang dibutuhkan.
Spesialisasi plus perdagangan bisa meningkatkan pendapatan riil masyarakat,
tetapi spesialisasi tanpa perdagangan mungkin justru menurunkan kesejahteraan
masyarakat. Tetapi apakah spesialisasi plus perdagangan selalu menguntungkan suatu
negara ? Dalam uraian diatas dapat menyimpulakan, bahwa CPF sesudah
perdagangan selalu lebih tinggi atau setidak-tidaknya sama dengan CPF sebelum
perdangangan. Ini berarti bahwa perdagangan tidak akan membuat pendapatan riil
masyarakat lebih rendah, dan sangat mungkin membuatnya lebih tinggi. Tetapi
perhatikan bahwa analisa semacam ini bersifat statik, yaitu tidak memperhitungkan

pengaruh-pengaruh yang timbul apabila situasi berubah atau berkembang, seperti


yang kita jumpai dalam kenyataan.
Ada tiga keadaan yang membuat spesialisasi dan perdagangan tidak selalu
bermanfaat bagi suatu negara. Ketiga keaadan ini berkaitan dengan kemungkinan
spesialisasi produksi yang terlalu jauh, artinya adanya sektor produksi yang terlalu
terpusatkan pada satu atau dua barang saja. Keadaan ini adalah:
1.

Ketidakstabilan pasar luar negeri


Bayangkan suatu negara yang karena dorongan spesialisasi dari
perdagangan, hanya memproduksi karet dan kayu. Apabila harga karet dan kayu
dunia jatuh, maka perekonomian dalam negeri otomatis akan jatuh. Lain halnya
apabila negara tersebut tidak hanya berspesialsasi pada kedua barang tesebut,
tetapi juga memproduksi barang-barang lain baik untuk ekspor maupun untuk
kebutuhan dalam negeri sendiri. Turunnya harga dari satu atau dua barang
mungkin bisa diimbangi oleh naiknnya haga barang-barang lain. Inilah
pertentangan atau konfik antara spesialisasi dengan diversifikasi. Spesialisasi
biasa meningkatkan pendapatan riil masyarakat secara maksimal, tetapi dengan
resiko ketidakstabilan pendapatan tetapi dengan konsekuensi harus mengorbankan
sebagian dari kenaikan pendapatan dari spesialisasi. Sekarang hampir semua
negara di dunia menyadari bahwa spesialisasi yang terlalu jauh (meskipun
didasarkan atas prinsip keunggulan komperatif, seperti yang ditunjukan oleh teori
ekonomi) bukanlah keadaan yang baik. Manfaat dari diversifikasi harus pula
diperhitungkan.

2.

Keamanan nasional

Bayangkan suatu negara hanya memproduksi satu barang, misalnya karet,


dan harus mengimpor seluruh kebutuhan bahan makanannya. Meskipun karet
adalah cabang produksi dimana negara tersebut memiliki keunggulan komperatif
yang paling tinggi, sehingga bisa meningkatkan CPFnya semakin mungkin,
tentunya keadaan seperti ini tidak sehat. Seandainya terjadi perang atau apapun
yang menghambat perdagangan luar negeri, dari manakah diperoleh bahan
makanan bagi penduduk negara tersebut? Jelas bahwa pola produksi seperti yang
didiktekan oleh keunggulan komperatif tidak harus selalu diikuti apabila ternyata
kelangsungan hidup negara itu sendiri sama sekali tidak terjamin.
3.

Dualisme
Sejarah perdagangan internasional negara-negara sedang berkembang,
terutama semasa mereka masih menjadi koloni negara-negara Eropa, ditandai oleh
timbulnya sektor ekspor yang berorientasi ke pasar dunia dan yang sedikit sekali
berhubungan dengan sektor tradisional dalam negeri. Sektor ekspor seakan-akan
bukan merupakan bagian dari negeri itu, tetapi bagian dari pasar dunia. Dalam
keadaan seperti ini spesialisasi dan perdagangan internasional tidak memberi
manfaat kepada perekonomian dalam negeri.
Keadaan ini di negara-negara sedang berkembang setelah mereka
merdeka, memang sudah menunjukan perubahan. Tetapi sering belum merupakan
perubahan yang fundamental. Sektor ekspor yang modern masih nampak belum
bisa menunjang sektor dalam negeri yang tradisional. Ketiga keadaan tersebut
di atas adalah peringatan bagi kita untuk tidak begitu saja dan tanpa reserve
menerima dalil perdagangan Neoklasik bahwa spesialisasi dan perdagangan selalu

menguntungkan dalam keaadaan apapun. Tetapi di lain pihak, uraian diatas tidak
merupkan bukti bahwa manfaat dari perdagangan tidaklah bisa dipetik dalam
kenyataan. Teori keunggulan komperatif masih memiliki kebenaran dasarnya,
yaitu bahwa suatu negara seyogyanya memanfaatkan keunggulan komperatifnya
dan kesempatantransformasi lewat perdagangan. Hanya saja perlu diperhatikan
bahwa dalam hal-hal tertentu pertimbangan-pertimbangan lain jangan dilupakan.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_internasional
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_perekonomian
http://qyki.blogspot.com/2010/01/peranan-perdagangan-internasional-dalam.html
http://azthreenancy.blogspot.com/2010/01/efek-perdagangan-internasional-terhadap.html

2. TUGAS AKHIR SEMESTER

MAKALAH

Tentang

PERDAGANGAN INTERNASIONAL DAN PEMBANGUNAN EKONOMI

Oleh :

DWI ANGGIETHA SAPUTRI

1207174

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah S.W.T karena rahmat dan
karunia Nya kami dapat menulis dan menyusun makalah tentang
PERDAGANGAN INTERNASIONAL DAN PERTUMBUHAN
EKONOMI.Hal yang paling mendasar yang mendorong saya menyusun makalah
ini adalah tugas akhir dari mata kuliah Ekonomi Internasional untuk mencapai
nilai yang memenuhi syarat perkuliahan.

Pembuatan makalah ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak terutama
dosen pembimbing baik secara langsung maupun tidak langsung,sehingga makalah
ini dapat terselesaikan oleh Penulis.

Penulisan makalah ini jauh dari kesempuranaan maka dari itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca,agar dapat menjadi
bahan pertimbangan dan perbaikan untuk makalah ini dimasa yang akan
datang.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca ,khusus nya penulis
untuk menambah wawasan.

Padang, 01 Juni 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA
PENGANTAR.............................................................................................................
.

DAFTAR
ISI............................................................................................................................

BAB
I...................................................................................................................................
....

PENDAHULUAN............................................................................................................
........

1.1 Latar Belakang Masalah.........................................................................................


1.2 Rumusan Masalah..................................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan Makalah.....................................................................................

BAB
II..................................................................................................................................
....

KAJIAN
TEORI.......................................................................................................................

BAB III.
..

PEMBAHASAN
....

3.1 Arti Penting Perdagangan bagi


Pembangunan.......................................................

3.2 Teori Perdagangan dan Pembangunan


Ekonomi....................................................

3.3 Dampak Perdagangan Internasional bagi


UKM.....................................................

3.4 Dampak Perdagangan Internasional terhadap Perekonomian


Indonesia................

3.5 Kebijakan yang di ambil


pemerintah......................................................................

3.6 Kondisi Ekspor Indonesia 10 Sektor Selama


2013.................................................

BAB
III.................................................................................................................................
.....

PENUTUP.........................................................................................................................
........

4.1
Kesimpulan..............................................................................................................

4.2
Saran........................................................................................................................

Daftar
pustaka........................................................................................................................
....

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam konteks perekonomian suatu negara, salah satu wacana yang menonjol
adalah mengenai pertumbuhan ekonomi. Meskipun ada juga wacana lain mengenai
pengangguran, inflasi atau kenaikan harga barang-barang secara bersamaan,
kemiskinan, pemerataan pendapatan dan lain sebagainya. Pertumbuhan ekonomi
menjadi penting dalam konteks perekonomian suatu negara karena dapat menjadi
salah satu ukuran dari pertumbuhan atau pencapaian perekonomian bangsa
tersebut, meskipun tidak bisa dinafikan ukuran-ukuran yang lain. Wijono (2005)
menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator
kemajuan pembangunan.
Salah satu hal yang dapat dijadikan motor penggerak bagi pertumbuhan adalah
perdagangan internasional. Salvatore menyatakan bahwa perdagangan dapat
menjadi mesin bagi pertumbuhan ( trade as engine of growth, Salvatore, 2004).
Jika aktifitas perdagangan internasional adalah ekspor dan impor, maka salah satu
dari komponen tersebut atau kedua-duanya dapat menjadi motor penggerak bagi
pertumbuhan. Tambunan (2005) menyatakan pada awal tahun 1980-an Indonesia
menetapkan kebijakan yang berupa export promotion. Dengan demikian,
kebijakan tersebut menjadikan ekspor sebagai motor penggerak bagi pertumbuhan.
Ketika perdagangan internasional menjadi pokok bahasan, tentunya perpindahan
modal antar negara menjadi bagian yang penting juga untuk dipelajari. Sejalan
dengan teori yang dikemukakan oleh Vernon, perpindahan modal khususnya untuk

investasi langsung, diawali dengan adanya perdagangan internasional (Appleyard,


2004). Ketika terjadi perdagangan internasional yang berupa ekspor dan impor,
akan memunculkan kemungkinan untuk memindahkan tempat produksi.
Peningkatan ukuran pasar yang semakin besar yang ditandai dengan peningkatan
impor suatu jenis barang pada suatu negara, akan memunculkan kemungkinan
untuk memproduksi barang tersebut di negara importir. Kemungkinan itu
didasarkan dengan melihat perbandingan antara biaya produksi di negara eksportir
ditambah dengan biaya transportasi dengan biaya yang muncul jika barang
tersebut diproduksi di negara importir. Jika biaya produksi di negara eksportir
ditambah biaya transportasi lebih besar dari biaya produksi di negara importir,
maka investor akan memindahkan lokasi produksinya di negara importir
(Appleyard, 2004).
1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang diatas makalah ini memiliki rumusan masalah


sebagai

berikut.

1) Bagaimana pengaruh ekspor impor dalam perkembangan perekonomian di


Indonesia?

2) Faktor apa saja yang menjadi penyebab menurunnya atau meningkatnya kspor
impor bagi perekonomian di Indonesia?

3) Kebijakan apa saja yang diupayakan pemerintah untuk meningkatkan ekspor


impor di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan

Makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut.

1) Untuk mengetahui pengaruh ekspor impor dalam perkembangan erekonomian di


Indonesia.

2) Untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebab menurunnya atau


meningkatnya ekspor impor bagi perekonomian di Indonesia.

3) Untuk mengetahui kebijakan yang diupayakan pemerintah untuk meningkatkan


ekspor impor di Indonesia.

4) untuk memenuhi syarat tugas akhir untuk mata kuliah Ekonomi Internasional.

Studi ini akan mencoba melihat pola hubungan antara pertumbuhan ekonomi,
perdagangan nternasional dan juga dampaknya terhadap perkembangan industri
keuangan syariah di Indonesia. Pola hubungan antara ketiganya menjadi penting,
mengingat bahwa Indonesia setelah keterpurukan ekonominya berusaha bangkit
untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang optimal. Dengan diketahuinya
pola hubungan tersebut maka akan didapatkan masukan bagi penentuan strategi
kebijakan yang akan di ambil untuk pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi
yang diharapkan. Begitu pula kaitannya dengan pangsa keuangan syariah yang
pada saat keadaan krisis ekonomi global ini menjadi barang yang laku dijual.

BAB II

KAJIAN TEORI

KONDISI EKSPOR INDONESIA

Pengutamaan Ekspor bagi Indonesia sudah digalakkan sejak tahun 1983.Sejak


saat itu,ekspor menjadi perhatian dalam memacu pertumbuhan ekonomi seiring
dengan berubahnya strategi industrialisasi-dari penekanan pada industri substitusi
impor ke industri promosi ekspor.Konsumen dalam negeri membeli barang impor
atau konsumen luar negeri membeli barang domestik,menjadi sesuatu yang sangat
lazim.Persaingan sangat tajam antarberbagai produk.Selain harga,kualitas atau
mutu

barang

menjadi

faktor

penentu

daya

saing

suatu

produk.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-Oktober 2008 mencapai


USD118,43 miliar atau meningkat 26,92 persen dibanding periode yang sama
tahun 2007, sementara ekspor nonmigas mencapai USD92,26 miliar atau
meningkat 21,63 persen. Sementara itu menurut sektor, ekspor hasil pertanian,
industri, serta hasil tambang dan lainnya pada periode tersebut meningkat masingmasing 34,65 persen, 21,04 persen, dan 21,57 persen dibandingkan periode yang
sama tahun Sebelumnya.

Adapun selama periode ini pula, ekspor dari 10 golongan barang memberikan
kontribusi 58,8 persen terhadap total ekspor nonmigas. Selama periode JanuariOktober 2008, ekspor dari 10 golongan barang tersebut memberikan kontribusi
sebesar 58,80 persen terhadap total ekspor nonmigas. Dari sisi pertumbuhan,
ekspor 10 golongan barang tersebut meningkat 27,71 persen terhadap periode yang

sama tahun 2007. Sementara itu, peranan ekspor nonmigas di luar 10 golongan
barang pada Januari-Oktober 2008 sebesar 41,20 persen.

Jepang pun masih merupakan negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai
USD11,80 miliar (12,80 persen), diikuti Amerika Serikat dengan nilai USD10,67
miliar (11,57 persen), dan Singapura dengan nilai USD8, 67 miliar (9,40 persen).
Peranan dan perkembangan ekspor nonmigas Indonesia menurut sektor untuk
periode Januari-Oktober tahun 2008 dibanding tahun 2007 dapat dilihat pada.
Ekspor produk pertanian, produk industri serta produk pertambangan dan lainnya
masing-masing meningkat 34,65 persen, 21,04 persen, dan 21,57 persen.
Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor keseluruhan Januari-Oktober 2008,
kontribusi ekspor produk industri adalah sebesar 64,13 persen, sedangkan
kontribusi ekspor produk pertanian adalah sebesar 3,31 persen, dan kontribusi
ekspor produk pertambangan adalah sebesar 10,46 persen, sementara kontribusi
ekspor migas adalah sebesar 22,10 persen.
Kendati secara keseluruhan kondisi ekspor Indonesia membaik dan meningkat, tak
dipungkiri semenjak terjadinya krisis finansial global, kondisi ekspor Indonesia
semakin menurun. Sebut saja saat ekspor per September yang sempat mengalami
penurunan 2,15 persen atau menjadi USD12,23 miliar bila dibandingkan dengan
Agustus 2008. Namun, secara year on year mengalami kenaikan sebesar 28,53
persen.
KONDISI IMPOR INDONESIA
Keadaan impor di Indonesia tak selamanya dinilai bagus, sebab menurut golongan
penggunaan barang, peranan impor untuk barang konsumsi dan bahan
baku/penolong selama Oktober 2008 mengalami penurunan dibanding bulan
sebelumnya yaitu masing-masing dari 6,77 persen dan 75,65 persen menjadi 5,99
persen dan 74,89 persen. Sedangkan peranan impor barang modal meningkat dari
17,58 persen menjadi 19,12 persen.

Sedangkan dilihat dari peranannya terhadap total impor nonmigas Indonesia


selama Januari-Oktober 2008, mesin per pesawat mekanik memberikan peranan
terbesar yaitu 17,99 persen, diikuti mesin dan peralatan listrik sebesar 15,15
persen, besi dan baja sebesar 8,80 persen, kendaraan dan bagiannya sebesar 5,98
persen, bahan kimia organik sebesar 5,54 persen, plastik dan barang dari plastik
sebesar 4,16 persen, dan barang dari besi dan baja sebesar 3,27 persen.
Selain itu, tiga golongan barang berikut diimpor dengan peranan di bawah tiga
persen yaitu pupuk sebesar 2,43 persen, serealia sebesar 2,39 persen, dan kapas
sebesar 1,98 persen. Peranan impor sepuluh golongan barang utama mencapai
67,70 persen dari total impor nonmigas dan 50,76 persen dari total impor
keseluruhan.
Data terakhir menunjukkan bahwa selama Oktober 2008 nilai impor nonmigas
Kawasan Berikat (KB/kawasan bebas bea) adalah sebesar USD1,78 miliar. Angka
tersebut mengalami defisit sebesar USD9,3 juta atau 0,52 persen dibanding
September 2008.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 ARTI PENTING PERDAGANGAN BAGI PEMBANGUNAN


1.

Pengertian Perdagangan Internasional


Perdagangan
internasional
adalah
perdagangan barang

atau

individu, individu dengan

kegiatan

jasa yang dilakukan


pemerintah,

atau

tukar menukar atau

antara

individu

pemerintah

dari

dengan
suatu

negara dengan pemerintah negara yang lain di pasar

dunia atau global.

Skema perdagangan internasional dapat digambarkan sebagai berikut.


2. Manfaat Perdagangan Internasional
a. Sumber Devisa
Jika kita mengekspor
suatu
komoditi,
kita mendapat mata
uang asing seperti dolar, yen atau mata uang yang lainnya. Mata uang asing ini
disebut devisa. Devisa dapat digunakan untuk, misalnya, mengimpor barang modal
dan konsumsi.
b. Perluasan Kesempatan Kerja
Perdagangan internasional, terutama kegiatan ekspor, memberi
kesempatan untuk memperluas kesempatan kerja karena untuk menghasilkan
barang yang diekspor, dibutuhkan tenaga kerja.
c. Stabilisasi Harga
Jika harga suatu jenis barang dalam negeri mahal atau jumlahnya
kurang dan tidak memenuhi permintaan pasar, maka barang tersebut harus
diimpor. Dengan adanya impor, harga barang jenis

tersebut akan stabil dan

permintaan pun d apat terpenuhi.


d. Peningkatan Kualitas Konsumsi
Melalui perdagangan internasional, penduduk dapat membeli barangbarang yang belum dapat dihasilkan di dalam negeri atau mutunya belum
sebaik

produk

luar

negeri.

Perdagangan internasional dapat memacu

industri dalam negeri untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan


agar dapat bersaing di pasar internasional.
e. Percepatan Alih Teknologi
Untuk menggunakan barang-barang yang diimpor dari luar negeri,
dibutuhkan pengetahuan atau keterampilan tertentu sehingga perlu pelatihan atau
bimbingan. Hal seperti itu akan mempercepat

alih teknologi. Alih teknologi

memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi yang

lebih

modern.
f. Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri.
Banyak faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap
negara,

misalnya : kondisi geografis, iklim, tingkat penguasaan

IPTEK. Dengan adanya perdagangan internasional, setiap negara mampu


memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri.
g. Memperoleh keuntungan dari spesialisasi.

Sebab utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah untuk


memperoleh keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu
negara dapat memproduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan yang
diproduksi negara lain, tapi ada kalanya lebih baik apabila negara tersebut
mengimpor barang dari luar negeri. Dengan mengadakan spesialisasi dan
perdagangan, setiap negara dapat memperoleh keuntungan sebagai berikut
Faktor-faktor produksi yang dimiliki setiap negara dapat digunakan dengan
lebih efisien.
Setiap negara dapat lebih menikmati lebih banyak barang dari yang dapat
diproduksi di dalam negeri.
h. Memperluas pasar dan menambah keuntungan.
Dengan adanya perdagangan internasional, pengusaha dapat menjalankan mesinmesinnya tanpa takut kelebihan produksi karena dapat menjual ke luar negeri.
3. Faktor Pendorong Perdagangan Internasional
a. Perbedaan sumber daya alam
Sumber daya alam yang dimiliki setiap negara berbeda. Untuk
mendapatkan sumber daya alam
yang dibutuhkan dan tidak dimiliki suatu negara, diperlukan pertukaran
antar negara yang
menyebabkan terjadinya perdagangan internasional.
b. Selera
Penduduk suatu negara lebih menyukai produk negara lain, sehingga harus
mengimpor produk itu.
c. Penghematan biaya produksi (Efisiensi)
Perdagangan internasional memungkinkan suatu negara dapat memasarkan
hasil produksinya
dalam

jumlah

pada
besar

banyak
sehingga

negara.

Negara

tersebut berproduksi

dapat menurunkan biaya produksi.

Masalah efisiensi juga menjadi alasan tidak diproduksinya barang


berteknologi tinggi oleh negara berkembang.
d. Perbedaan teknologi
Negara yang menggunakan teknologi maju dapat menjual barang dengan
harga murah pada
negara yang teknologinya sederhana.
e. Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri.
f. Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara.
g. Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlu pasar baru untuk
menjual produk tersebut.

h. Keinginan membuka kerjasama, hubungan politik dan dukungan dari negara


lain.
i. Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu negara pun di dunia dapat hidup
sendiri.
3.2 TEORI-TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Keunggulan Mutlak (Absolute Advantage) dari Adam Smith
Teori keunggulan mutlak dikemukakan oleh Adam Smith (1776) dalam
bukunya The Wealth of Nation. Adam
bebas

sebagai

kebijakan

yang

Smith
mampu

menganjurkan

perdagangan

mendorong kemakmuran suatu

negara. Dalam perdagangan bebas, setiap negara dapat menspesialisasikan


diri dalam produksi komoditas yang memiliki keunggulan mutlak / absolut dan
mengimpor komoditi yang memperoleh kerugian mutlak. Dengan spesialisasi,
masing-masing
yang

dapat

internasional.

negara

dapat

dimanfaatkan

meningkatkan pertambahan produksi dunia

secara

bersama-sama

Jadi melalui perdagangan

melalui

internasional

perdagangan

yang

berdasarkan

keunggulan mutlak, masing masing negara yang terlibat dalam perdagangan akan
memperoleh keuntungan yang serentak melalui

spesialisasi, bukan dari

pengorbanan negara lain. Contoh : Indonesia dan Cina memproduksi dua jenis
komoditi yaitu komputer dan sepatu dengan anggapan masing-masing
negara menggunakan 100 tenaga
komoditi

tersebut.

Limapuluh

kerja untuk
tenaga

memproduksi
kerja

kedua

untuk memproduksi

komputer dan 50 tenaga kerja untuk memproduksi sepatu. Hasil total produksi
kedua
negara tersebut yaitu :
Indonesia : komputer 15 unit dan sepatu 45
Cina
: komputer 40 dan sepatu 25
Total
: komputer 55 dan sepatu 70
Berdasarkan informasi di atas, Indonesia memiliki keunggulan mutlak
dalam

produksi

sepatu dibandingkan dengan Cina, karena 50 tenaga kerja di

Indonesia mampu memproduksi 45 unit sepatu dan Cina hanya bisa memproduksi
25 unit sepatu. Sedangkan Cina memiliki keunggulan mutlak dalam memproduksi
komputer karena Cina bisa membuat 40 unit, sedang Indonesia hanya bisa 15 unit.

Apabila Indonesia dan Cina melakukan spesialisasi produksi, hasilnya akan


sebagai berikut :
Indonesia
: komputer 0 unit dan sepatu 90
Cina
: komputer 80 dan sepatu 0
Total
: komputer 80 dan sepatu 90
Dengan melakukan spesialisasi, hasil produksi semakin meningkat. Jadi
keunggulan mutlak terjadi apabila suatu negara dapat menghasilkan
komoditi-komoditi tertentu dengan lebih efisien, dengan biaya yang lebih
murah dibandingkan dengan negara lain.
Keunggulan Komparatif (Comparative Advantage)
Adam Smith, yang mengemukakan teori keunggulan mutlak, menekankan
bahwa perdagangan internasional terjadi jika ada keunggulan mutlak. Murid
Adam Smith, David Ricardo, melengkapi teori gurunya dengan mengatakan
bahwa perbedaan keunggulan komparatif juga dapat memberikan keuntungan.
Dua negara akan tetap melakukan pertukaran melalui perdagangan
internasional walaupun salah satu negara memiliki keunggulan mutlak, karena
setiap negara pasti memiliki barang yang paling menguntungkan (efisien) untuk
diproduksi.
Contoh hasil produksi Indonesia dan Vietnam Dasar tukar dalam negeri (harga
relatif)

NEGARA

HASIL/JENIS BARANG

JAGUNG

BERAS

INDONESIA

20

40

VIETNAM

60

48

JUMLAH

80

88

1 ton jagung = 2 ton beras


(di Indonesia)
1 ton jagung = 0,8 ton beras

Vietnam memiliki keunggulan mutlak dalam memproduksi jagung dan beras,


dibanding Indonesia. Keuntungan didapat jika Vietnam memilih produksi yang
paling unggul, yaitu jagung. Mengapa memilih jagung ? Karena keunggulan
produksi jagung adalah 3, yaitu 60 : 20. Jika memilih beras, keunggulan
produksinya adalah 1,2 yaitu 48 : 40. Sebaliknya, Indonesia memilih produksi
barang yang kekurangannya paling kecil, yaitu produksi beras. Hal ini karena
kekurangan 40 dengan 48 lebih kecil daripada kekurangan jagung, yaitu 2 0
dengan 60Perdagangan dan Pembangunan Ekonomi
Menurut teori perdagangan tradisional, setiap negara yang terlibat dalam hubungan
dagang antarnegara akan terdorong untuk melakukan spesialisasi produksi dan
ekspor komoditi tertentu yang keunggulan komparatifnya ia miliki, sehingga
masing-masing negara akan terfokus pada bidang keahlian atau keunggulannya,
dan pada akhirnya output dunia akan menjadi lebih besar dan setiap negara yang
terlibat akan diuntungkan. Apabila dikaitkan dengan distribusi kepemilikan faktor
produksi dan teknologi yang ada saat ini antara negara-negara maju dan yang
berkembang, maka teori keunggulan komparatif itu mengisyaratkan bahwa negaranegara berkembang harus terus berspesialisasi dalam produksi dan ekspor bahanbahan mentahatau komoditi primer,bahan bakar, bahan-bahan tambang, dan bahan
makanan ke negara maju yang sebagai imbalannya akan memasok produk-produk
manufaktur bagi mereka.
Dalam jangka pendek pola tersebut mungkin bisa memaksimalkan kesejahteraan
bagi semua pihak. Namun dalam jangka panjang, negara-negara berkembang
merasa bahwa pola spesialisasi dalam perdagangan seperti itu akan membuat
mereka berada dibawah pengaruh negara maju dan tidak memungkinkan mereka
memperoleh manfaat-manfaat dinamis dari sektor industri yang terus dikuasai

negara maju, sehingga pada akhirnya mereka tidak akan dapat memaksimalkan
kesejahteraannya.

3.3 DAMPAK PERDAGANGAN INTERNASIONAL BAGI USAHA KECIL


DAN MENENGAH (UKM) DI INDONESIA

Meskipun kontribusinya terhadap ekspor Indonesia tidak terlalu besar,


usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan unit usaha yang paling banyak
menyerap kesempatan kerja dan mempunyai jumlah unit usaha yang terbanyak
pula. Usaha kecil dan menengah juga melayani kebutuhan masyarakat menengah
ke bawah dalam batas-batas tertentu. UKM telah memberikan kontribusinya dalam
menyumbangkan devisa, khususnya dari sektor industrinya. Dalam hal kesempatan
kerja di sektor industri, sekitar 68 % kesempatan kerja yang ada diserap oleh
subsektor industri kecil. Saat ini, jumlah unit usaha UKM mencapai 97 % dari total
unit usaha yang ada.

Dengan adanya perdagangan internasional akan memberikan dampak positif


dan negatif bagi usaha kecil dan menengah (UKM) di negara yang ikut dalam
perdagangan internasional tersebut. Diantara dampak yang ditimbulkan bagi
Indonesia antara lain, sebagai berikut :

1.

Dampak Positif

a. Perkembangan Penduduk

b. Sebagai Tantangan Meningkatkan Kualitas Produk

c. Peluang Menarik Investasi

d.

Meningkatkan volume perdagangan

2.

A.

Dampak Negatif

Menghancurkan sektor-sektor Industri

Serbuan produk asing dapat mengakibatkan kehancuran sektor-sektor ekonomi


yang diserbu. Padahal sebelum tahun 2009 Indonesia telah mengalami proses
deindustrialisasi (penurunan industri) yang dipicu oleh penutupan sentra-sentra
usaha strategis UKM.

B.

Menghambat Daya Saing Produk

Mudah masuknya produk-produk asing yang harganya relatif murah, akan


mematikan UKM. Hal itu dapat menghambat daya saing produk-produk UKM
karena masyarakat Indonesia memiliki tingkat perekonomian yang rendah.

C.

Produk luar negeri membanjiri pasar Indonesia

Produk luar negeri bukan hanya barang-barang modal melainkan juga barangbarang konsumsi yang harganya super murah. Masyarakat indonesia lebih
cendrung menyukai barang yang harganya murah walaupun masyarakat
mengetahui barang tersebut bukanproduk Indonesia. Bukan berarti mereka tidak
mendukung produk dalam negeri, melainkan tuntutan ekonomi yang menuntut
mereka membeli produk asing yang lebih murah.

D.

Beralihnya posisi produsen menjadi pedagang

Pasar dalam negeri yang diserbu produk asing yang memiliki kualitas dan harga
yang sangat bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah usaha
dari produsen di sektor UKM menjadi pedagang atau importir saja.

3.4
DAMPAK PERDAGANGAN
PEREKONOMIAN INDONESIA

INTERNASIONAL

TERHADAP

Indonesia perlu melihat keadaan ekonomi dalam negeri yang masih banyak
perlu dibenahi. Dalam perekonomian nasional, sering ditemui adanya sektor atau
unit usaha yang masih mengandalkan fasilitas atau perlindungan dari pemerintah
untuk dapat berkembang dan bertahan dalam bidang usahanya. Hal ini kemudian
diperburuk dengan meluasnya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang
memunculkan pelaku-pelaku ekonomi dan menciptakan struktur ekonomi yang
berdaya saing rendah. Unit-unit usaha yang semacam ini sebaiknya tidak
dipertahankan karena akan terdesak oleh unit-unit asing yang masuk ke Indonesia.
Usaha-usaha milik anak bangsa akan kalah bersaing dan menjadi pengusahapengusaha yang terlempar dari pasar.

Beberapa dampak perdagangan internasional bagi perekonomian Indonesia


antara lain sebagai berikut :

1. Dampak Positif

a. Memungkinkan Terjadinya Spesialisasi

Perdagangan internasional mendorong negara-negara melakukan spesialisasi produksi


sehingga Indonesia harus memilih kegiatan produksi sesuai dengan kekhasan
sumber daya yang dimiliki agar dapat menjadi faktor produksi yang unggul dan
menghasilkan produk berkualitas dengan harga yang murah.

b. Efisiensi dalam Kegiatan Produksi

Efisiensi dalam kegiatan produksi mengolah sumber daya untuk menghasilkan


suatu barang yang lebih murah dari negara lain. Biaya produksi yang lebih murah
akan menghasilkan produk dengan harga yang bersaing di pasar internasional.
Efisiensi dalam kegiatan produksi dibagi menjadi dua, yaitu :

1)

Efisiensi Ekonomi

Efisiensi ekonomi merupakan kegiatan produksi yang menghasilkan barang dan


jasa melalui pengolahan beberapa faktor produksi dengan biaya produksi
minimum. Efisiensi ekonomi lebih ditekankan pada segi ekonomi.

2) Efisiensi Teknologi

Efisiensi teknologi merupakan kegiatan produksi yang menghasilkan barang dan


jasa karena kemampuan mengolah kombinasi beragam faktor produksi. Efisiensi
teknologi lebih ditekankan pada segi kombinasi terbaik berbagai faktor produksi.

a. Tantangan Menghasilkan Produk Berkualitas

Tersebarnya produk buatan luar negeri di pasar Indonesia sukar dibendung.


Keadaan itu menjadi tantangan Indonesia untuk juga dapat menghasilkan produk
yang mutunya lebih baik. Adapun langkah-langkah alternatif untuk menghasikan
produk-produk yang bermutu antara lain:

1) Melakukan penelitian secara kontinyu terhadap produk yang beredar pada


kebutuhan pasar dunia.

2) Mengembangkan teknologi secara efisien dan efektif. Artinya, dengan biaya yang
telah diperhitungkan, diterapkan teknologi yang benar-benar diarahkan dengan
pengembangan produk yang semakin berkualitas.

3) Memasarkan produk Indonesia dalam berbagai moment, seperti pameran


Internasional. Sebagai upaya perkenalan dan informasi keunggulan produk
Indonesia.

4) Menghadirkan citra Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi persaingan


sehat dan profesionalitas.

d.

Peluang Meningkatkan Ekspor

Kemampuan secara tepat menetukan keunggulan komparatif secara keseriusan


menghasilkan produk berkualitas internasional yang membawa peningkatan
jumlah ekspor. Barang ekspor dari Indonesia pada umumnya dibedakan menjadi
dua yaitu:

1)

Ekspor migas yaitu ekspor barang yang berupa minyak bumi dan gas alam.

2)

Ekspor non migas meliputi komoditas primer dan bukan primer. Komoditas
primer merupakan hasil pertanian dan pertambangan. Sedangkan komoditas bukan
primer merupakan hasil industri.

f.

Alih Teknologi dari Negara-negara Maju

Perdagangan

internasional

mendorong

kemajuan

ilmu

pengetahuan dan

teknologi dalam negeri, terutama dalam bidang industri, dengan munculnya


teknologi baru yang lebih modern dapat membantu dalam memproduksi barang
lebih banyak dengan waktu yang singkat. Indonesia sebagai negara produsen
dengan komoditas pertanian yang besar, Indonesia dapat membeli teknologiteknologi tinggi sesuai komoditas yang ada.

g.

Meningkatkan Pendapatan Penduduk

Dengan adanya perdagangan internasional Indonesia dapat meningkatkan


pendapatan penduduknya dengan cara melakukan ekspor ke negara-negara maju.

h.

Memperluas Pasar dan Menambah Keuntungan

Terkadang, para pengusaha tidak menjalankan alat produksinya dengan maksimal


karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan
turunnya harga produksi mereka. Dengan adanya perdagangan internasional,
pengusaha dapat menjalanka mesin-mesinnya (alat produksinya) secara maksimal
dan menjual elebihan produk tersebut ke luar negeri yang akan menambah devisa
negara.

f.

Memperluas Lapangan Pekerjaan

Dengan adanya perdagangan internasional dapat memperluas lapangan pekerjaan


dan kesempatan masyarakat untuk bekerja. Karena, dengan semakin bertambahnya
produksi dalam negeri yang di ekspor, maka akan semakin banyak juga tenaga
kerja yang di butuhkan yang kemudian akan membuka lapangan pekerjaan baru.

2.

Dampak Negatif

a.

Apabila negara tidak memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan bersaing


negara akan menjadi sasaran penjualan dan kebanjiran barang dan jasa dari negara
lain. Sehingga impor meningkat dan akan mengurangi cadangan devisa negara.

b.

Masuknya produk barang dan jasa secara bebas di dalam negeri akan
mengancam

kelangsungan

industri

dalam

negeri

untuk

mengurangi

produktifitasnya sehingga kesempatan kerja berkurang. Pendapatan nasional akan


menurun dan perekonomian nasional akan menurun.

c.

Masuknya pengaruh budaya asing yang bertentangan dengan kepribadian


bangsa akan mengancam generasi muda dan moral bangsa Indonesia.

d.

Tingginya semangat untuk mencapai efisiensi dan profit motif cendrung


menurun atau hilangnya solidaritas sosial dan nasionalisme.

e.

Barang-barang produksi dalam negeri terganggu akibat masuknya barang impor


yang di jual murah dalam negeri, yang menyebabkan industri dalam negeri
mengalami kerugian besar.

Apabila tidak mampu bersaing maka pertumbuhan perekonomian Indonesia akan


semakin rendah dan bertambahnya pengangguran dalam negeri.

Tidak terjaminnya halal bagi makanan dan minuman yang diimpor. Indonesia
merupakan negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Namun dari
makanan dan minuman yang diimpor tidak terjamin kehalalannya.

Untuk mengantisipasi adanya dampak negatif perdagangan internasional,


maka perekonomian Indonesia setidaknya harus diupayakan, yaitu:

1) Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia melalui perbaikan sistem


pendidikan nasional.

2)

Meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber-sumber ekonomi.

3)

Meningkatkan IPTEK baik di bidang produksi, informasi, komunikasi, dan


transportasi.

4)

Ikut secara aktif dalam forum-forum kerja sama ekonomi dan memanfaatkannya
bagi kepentingan kemajuan bangsa.

5) Melakukan penyempurnaan lebih lanjut dalam rangka deregulasi dan debirokrasi


di segala bidang secara efektif dan efisien.

Pembangunan moral bangsa dengan menanamkan solidaritas sosial dan


nasionalisme yang kuat di bidang politik dan ekonomi.

3.5

KEBIJAKAN

YANG

DIUPAYAKAN

PEMERINTAH

UNTUK

MENINGKATKAN EKSPOR IMPOR DI INDONESIA.

Beberapa ekonom menyebutkan bahwa Indonesia mengalami perbaikan


ekonomi. Pasar internasional juga sedang menunjukkan pemulihan dengan
kemampuan pasar yang berpotensi menyerap pasokan produk industri nasional.

Jadi ada peluang meningkatkan kinerja ekspor bila Indonesia bisa


mengoptimalkan kapasitas produksi dalam negeri karena pulihnya pasar global.
Tentu merumuskan kebijakan ekspor yang menjamah permasalahan semua lini
bisnis dalam perdagangan internasional menjadi penting. Prestasi mengangkat
kembali nilai ekspor tergantung dari kebijaksanaan ekonomi yang ditempuh baik
yang berada dalam lini bisnis vital maupun pendukung. Baik yang kualitatif
maupun yang kuantitatif.

Kebijakan-Kebijakan perdagangan Internasional yang telah diupayakan oleh


pemerintah, iantaranya:

1) Tarif

Tarif adalah sejenis pajak yang dikenakan atas barang-barang yang diimpor.
Tarif spesifik (Specific Tariffs) dikenakan sebagai beban tetap atas unit barang
yang diimpor. Misalnya $6 untuk setiap barel minyak). Tarifold Valorem (od
Valorem Tariffs) adalah pajak yang dikenakan berdasarkan persentase tertentu dari

nilai barang-barang yang diimpor (misalnya, tarif 25 % atas mobil yang diimpor).
Dalam kedua kasus dampak tarif akan meningkatkan biaya pengiriman barang ke
suatu negara.

2) Subsidi ekspor

Subsidi ekspor adalah pembayaran sejumlah tertentu kepada perusahaan atau


perseorangan yang menjual barang ke luar negeri, seperti tarif, subsidi ekspor
dapat berbentuk spesifik (nilai tertentu per unit barang) atau Od Valorem
(presentase dari nilai yang diekspor). Jika pemerintah memberikan subsidi ekspor,
pengirim akan mengekspor, pengirim akan mengekspor barang sampai batas
dimana selisih harga domestic dan harga luar negeri sama dengan nilai subsidi.
Dampak dari subsidi ekspor adalah meningkatkan harga dinegara pengekspor
sedangkan di negara pengimpor harganya turun.

3) Pembatasan impor

Pembatasan impor (Import Quota) merupakan pembatasan langsung atas


jumlah barang yang boleh diimpor. Pembatasan ini biasanya diberlakukan dengan
memberikan lisensi kepada beberapa kelompok individu atau perusahaan.
Misalnya, Amerika Serikat membatasi impor keju. Hanya perusahaan-perusahaan
dagang tertentu yang diizinkan mengimpor keju, masing-masing yang diberikan
jatah untuk mengimpor sejumlah tertentu setiap tahun, tak boleh melebihi jumlah
maksimal yang telah ditetapkan. Besarnya kuota untuk setiap perusahaan
didasarkan pada jumlah keju yang diimpor tahun-tahun sebelumnya.
4) Pengekangan ekspor sukarela

Bentuk lain dari pembatasan impor adalah pengekangan sukarela (Voluntary


Export Restraint), yang juga dikenal dengan kesepakatan pengendalian sukarela
(Voluntary Restraint Agreement = ERA).

VER adalah suatu pembatasan kuota atas perdagangan yang dikenakan oleh pihak
negara pengekspor dan bukan pengimpor. Contoh yang paling dikenal adalah
pembatasan atas ekspor mobil ke Amerika Serikat yang dilaksanakan oleh Jepang
sejak

1981.

5) Persyaratan kandungan lokal.

Persyaratan kandungan local (local content requirement) merupakan


pengaturan yang mensyaratkan bahwa bagian-bagian tertentu dari unit-unit fisik,
seperti kuota impor minyak AS ditahun 1960-an. Dalam kasus lain, persyaratan
ditetapkan dalam nilai, yang mensyaratkan pangsa minimum tertentu dalam harga
barang berawal dari nilali tambah domestik.

Berikut ini adalah data ekspor indonesia selama tahun 2013, yang disajikan
dalam bulan

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2013 ekspor indonesia
rata-rata tiap bulannya mengalami kenaikan yang juga berdampak pada
pertumbuhan ekonomi indonesia.

Kenaikan yang signifikan terlihat pada bulan Mei dan setelah itu turun kembali
sampai pada bulan Agustus dan setelah bulan agustus sampai selanjutnya
mengalami kenaikan.

BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Ekspor impor adalah suatu transaksi menjual dan membeli barang yang
dilakukan oleh dua atau lebih negara untuk mendapatkan barang-barang yang
diperlukan di negara yang bersangkutan.

Perkembangan ekspor impor merupakan faktor penentu dalam menentukan


roda perekonomiandi Indonesia. Seperti yang kita ketahui, Indonesia sebagai
negara yang sangat kaya raya dengan hasil bumi dan migas, selalu aktif terlibat
dalam perdagangan internasional.

Nilai ekspor memang menunjukkan peningkatan namun tidak dibarengi dengan


kenaikan produksi, sebab tidak mengangkat volume ekspor yang cukup signifikan.
Konsekuensinya, naik turunnya nilai ekspor sangat tergantung pada fluktuasi harga
komoditas di pasar dunia. Selain harga, kualitas atau mutu barang menjadi faktor
penentu daya saing suatu produk. Berbagai masalah yang muncul dapat
mempengaruhi perkembangan ekspor impor yang ada. Namun dengan adanya
faktor-faktor pendorong, kegiatan ekspor impor akan tetap berjalan dengan
memperkecil masalah-masalah yang nantinya dihadapi.

Dengan adanya kebijakan-kebijakan yang diupayakan pemerintah dalam


kegiatan ekspor impor di Indonesia maka seiring waktu, ekspor impor akan
semakin menuju target dari tujuan-tujuan negara Indonesia.

4.2 SARAN

1) Bagi pemerintah

Kebijakan yang menyinergikan ekspor dan impor perlu dikembangkan untuk


memberikan pertumbuhan yang berkualitas, karena impor lebih didominasi produk
hulu dan ekspor didominasi produk hilir. Sambil terus berupaya mengurangi
ketergantungan bahan baku dan memberdayakan sumber daya alam Indonesia,
yang akan menciptakan kemandirian bangsa ditengah persaingan perdagangan
yang semakin ketat.

2)

Bagi masyarakat

Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap


negara. Faktor-faktor tersebut diantaranya: kondisi geografi, iklim, tingkat
penguasaan iptek dan lain-lain. Dalam era perdagangan global sekarang ini, arus
barang masuk dan keluar sangatlah cepat.Untuk memperlancar urusan bisnisnya,
para pengusaha seharusnya memiliki pengetahuan yang cukup mengenai prosedur
ekspor impor, baik dari segi peraturan yang selalu diperbarui terutama yang
berhubungan dengan perdagangan internasional, kepabeanan, maupun perbankan,
yang semuanya ini saling berkaitan dan selama ini sering terjadi permasalahan
di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

Salvator, dominick. 2004. Ekonomi Internasional. Jakarta : Elrlangga.

Mankiw, N. Gregory, 2003, Teori Makroekonomi Edisi ke-5, Terjemahan. Jakarta:


Penerbit Erlangga.

Ahmeth, Adie. 2010. Makalah Dampak Globalisasi Terhadap Terekonomian. (Online),


(http://om Adie ahmeth.blogspot.com, diakses pada tanggal 15 April 2011).

Amir. 2001. Korespodensi Bisnis Ekspor Impor, Jakarta: PPM.

Djauhari Ahsar, Amirullah. 2002. Teori dan Praktek Ekspor Impor, Yogja: Graha Ilmu.

Fernando, Youbil. 2010. Ekspor Impor Indonesia. (Online), ( http://www.makalah


ekspor-impor-indonesia.html, diakses pada tanggal 18 April 2011).

http://qyki.blogspot.com/2010/01/peranan-perdagangan-internasional-dalam.html

http://azthreenancy.blogspot.com/2010/01/efek-perdagangan-internasionalterhadap.html

diktat ekonomi kelas XI IPS. Jurnal perekonomian terbuka.

3. Bab 1
Pendahuluan
Tahukah anda apa yang dimaksud dengan perdagangan internasional? Setiap negara di dunia,
baik negara maju maupun negara berkembang perlu melakukan kerja sama. Hal ini bertujuan
untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh negara itu sendiri. Indonesia belum
mampu memproduksi alat transportasi sebagai contoh seperti pesawat terbang. Untuk itu negara
kita mengimpor dari negara-negara maju. Sebaliknya Indonesia banyak mengekspor hasil alam
hasil alam ke negara tersebut. Kini hampir tidak mungkin suatu negara dapat memenuhi
kebutuhan hidup warganya tanpa melakukan perdagangan dengan luar negeri. Sekalipun suatu

negara sudah tergolong negara maju, ia tetap saja memerlukan adanya perdagangan
internasional.
Bab 2
Pembahasan
A. DEFINISI
Perdagangan Internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara
dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dmaksud dapat
berupa antar perorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu
negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.Bila dibandingkan dengan
pelaksanaan perdagangan di dalam negri, maka perdagangan internasional sangatlah rumit dan
kompleks. Kerumitan ini disebabkan oleh faktor-faktor antara lain :
1. Pembeli dan penjual terpisah oleh batas-batas kenegaraan
2. Barang harus dikirim dan diangkut dari suatu negara kenegara lainnya melalui bermacam
peraturan seperti pabean, yang bersumber dari pembatasan yang dikeluarkan oleh masing-masing
pemerintah.
3. Antara satu negara dengan negara lainnya terdapat perbedaan dalam bahasa, mata uang,
taksiran dan timbangan, hukum dalam perdagangan dan sebagainya.
B. Teori Perdagangan Internasional
Menurut Amir M.S., bila dibandingkan dengan pelaksanaan perdagangan di dalam negeri,
perdagangan internasional sangatlah rumit dan kompleks. Kerumitan tersebut antara lain
disebabkan karena adanya batas-batas politik dan kenegaraan yang dapat menghambat
perdagangan, misalnya dengan adanya bea, tarif, atau quota barang impor.
Selain itu, kesulitan lainnya timbul karena adanya perbedaan budaya, bahasa, mata uang, taksiran
dan timbangan, dan hukum dalam perdagangan.
Ada beberapa model perdagangan internasional diantaranya:
A. Model Ricardian
Model Ricardian memfokuskan pada kelebihan komparatif dan mungkin merupakan konsep
paling penting dalam teori pedagangan internasional. Dalam Sebuah model Ricardian, negara
mengkhususkan dalam memproduksi apa yang mereka paling baik produksi. Tidak seperti model
lainnya, rangka kerja model ini memprediksi dimana negara-negara akan menjadi spesialis
secara penuh dibandingkan memproduksi bermacam barang komoditas. Juga, model Ricardian
tidak secara langsung memasukan faktor pendukung, seperti jumlah relatif dari buruh dan modal
dalam negara.
B. Model Heckscher-Ohlin
Model Heckscgher-Ohlin dibuat sebagai alternatif dari model Ricardian dan dasar kelebihan
komparatif. Mengesampingkan kompleksitasnya yang jauh lebih rumit model ini tidak
membuktikan prediksi yang lebih akurat. Bagaimanapun, dari sebuah titik pandangan teoritis
model tersebut tidak memberikan solusi yang elegan dengan memakai mekanisme harga
neoklasikal kedalam teori perdagangan internasional.
Teori ini berpendapat bahwa pola dari perdagangan internasional ditentukan oleh perbedaan
dalam faktor pendukung. Model ini memperkirakan kalau negara-negara akan mengekspor
barang yang membuat penggunaan intensif dari faktor pemenuh kebutuhan dan akan mengimpor

barang yang akan menggunakan faktor lokal yang langka secara intensif. Masalah empiris
dengan model H-o, dikenal sebagai Pradoks Leotief, yang dibuka dalam uji empiris oleh Wassily
Leontief yang menemukan bahwa Amerika Serikat lebih cenderung untuk mengekspor barang
buruh intensif dibanding memiliki kecukupan modal.
C. Faktor Spesifik
Dalam model ini, mobilitas buruh antara industri satu dan yang lain sangatlah mungkin ketika
modal tidak bergerak antar industri pada satu masa pendek. Faktor spesifik merujuk ke
pemberian yaitu dalam faktor spesifik jangka pendek dari produksi, seperti modal fisik, tidak
secara mudah dipindahkan antar industri. Teori mensugestikan jika ada peningkatan dalam harga
sebuah barang, pemilik dari faktor produksi spesifik ke barang tersebut akan untuk pada term
sebenarnya. Sebagai tambahan, pemilik dari faktor produksi spesifik berlawanan (seperti buruh
dan modal) cenderung memiliki agenda bertolak belakang ketika melobi untuk pengednalian atas
imigrasi buruh. Hubungan sebaliknya, kedua pemilik keuntungan bagi pemodal dan buruh dalam
kenyataan membentuk sebuah peningkatan dalam pemenuhan modal. Model ini ideal untuk
industri tertentu. Model ini cocok untuk memahami distribusi pendapatan tetapi tidak untuk
menentukan pola pedagangan. Jangan dipercaya,bohong tu.
D. Model Gravitasi
Model gravitasi perdagangan menyajikan sebuah analisa yang lebih empiris dari pola
perdagangan dibanding model yang lebih teoritis diatas. Model gravitasi, pada bentuk dasarnya,
menerka perdagangan berdasarkan jarak antar negara dan interaksi antar negara dalam ukuran
ekonominya. Model ini meniru hukum gravitasi Newton yang juga memperhitungkan jarak dan
ukuran fisik di antara dua benda. Model ini telah terbukti menjadi kuat secara empiris oleh
analisa ekonometri. Faktor lain seperti tingkat pendapatan, hubungan diplomatik, dan kebijakan
perdagangan juga dimasukkan dalam versi lebih besar dari model ini.
Faktor pendorong
Banyak faktor yang mendorong suatu negara melakukan perdagangan internasional, di antaranya
sebagai berikut :
Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri
Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara
Adanya perbedaan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengolah
sumber daya ekonomi
Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlu pasar baru untuk menjual produk
tersebut.
Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya alam, iklim, tenaga kerja, budaya, dan jumlah
penduduk yang menyebabkan adanya perbedaan hasil produksi dan adanya keterbatasan
produksi.
Adanya kesamaan selera terhadap suatu barang.
Keinginan membuka kerja sama, hubungan politik dan dukungan dari negara lain.
Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu negara pun di dunia dapat hidup sendiri.
Peraturan/Regulasi Perdagangan Internasional
Umumnya perdagangan diregulasikan melalui perjanjian bilatera antara dua negara. Selama
berabad-abad dibawah kepercayaan dalam Merkantilisme kebanyakan negara memiliki tarif
tinggi dan banyak pembatasan dalam perdagangan internasional. pada abad ke 19, terutama di
Britania, ada kepercayaan akan perdagangan bebas menjadi yang terpenting dan pandangan ini
mendominasi pemikiran di antaranegara barat untuk beberapa waktu sejak itu dimana hal
tersebut membawa mereka ke kemunduran besar Britania. Pada tahun-tahun sejak Perang Dunia

II, perjanjian multilateral kontroversial seperti GATT dab WTO memberikan usaha untuk
membuat regulasi lobal dalam perdagangan internasional. Kesepakatan perdagangan tersebut
kadang-kadang berujung pada protes dan ketidakpuasan dengan klaim dari perdagangan yang
tidak adil yang tidak menguntungkan secara mutual.
Perdagangan bebas biasanya didukung dengan kuat oleh sebagian besar negara yang berekonomi
kuat, walaupun mereka kadang-kadang melakukan proteksi selektif untuk industri-industri yang
penting secara strategis seperti proteksi tarif untuk agrikultur oleh Amerika Serikat dan Eropa.
Belanda dan Inggris Raya keduanya mendukung penuh perdagangan bebas dimana mereka
secara ekonomis dominan, sekarang Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Jepang merupakan
pendukung terbesarnya. Bagaimanapun, banyak negara lain (seperti India, Rusia, dan Tiongkok)
menjadi pendukung perdagangan bebas karena telah menjadi kuat secara ekonomi. Karena
tingkat tarif turun ada juga keinginan untuk menegosiasikan usaha non tarif, termasuk investasi
luar negri langsung, pembelian, dan fasilitasi perdagangan. Wujud lain dari biaya transaksi
dihubungkan dnegan perdagangan pertemuan dan prosedur cukai.
Umumnya kepentingan agrikultur biasanya dalam koridor dari perdagangan bebas dan sektor
manufaktur seringnya didukung oleh proteksi. Ini telah berubah pada beberapa tahun terakhir,
bagaimanapun. Faktanya, lobi agrikultur, khususnya di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang,
merupakan penanggung jawab utama untuk peraturan tertentu pada perjanjian internasional besar
yang memungkinkan proteksi lebih dalam agrikultur dibandingkan kebanyakan barang dan jasa
lainnya.
Selama reses ada seringkali tekanan domestik untuk meningkatkan tarif dalam rangka
memproteksi industri dalam negri. Ini terjadi di seluruh dunia selama Depresi Besar membuat
kolapsnya perdagangan dunia yang dipercaya memperdalam depresi tersebut.
Regulasi dari perdagangan internasional diselesaikan melalui World Trade Organization pada
level global, dan melalui beberapa kesepakatan regional seperti MerCOSUR di Amerika Selatan,
NAFTA antara Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko, dan Uni Eropa anatara 27 negara mandiri.
Pertemuan Buenos Aires tahun 2005 membicarakan pembuatan dari Free Trade Area of America
(FTAA) gagal total karena penolakan dari populasi negara-negara Amerika Latin. Kesepakatan
serupa seperti MAI (Multilateral Agreement on Invesment) juga gagal pada tahun-tahun
belakangan ini.
Peranan Perdagangan Internasional dalam Perekonomian
1. Efek Perdagangan Internasional terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Dalam konteks perekonomian suatu negara, salah satu wacana yang menonjol adalah mengenai
pertumbuhan ekonomi. Meskipun ada juga wacana lain mengenai pengangguran, inflasi atau
kenaikan harga barang-barang secara bersamaan, kemiskinan, pemerataan pendapatan dan lain
sebagainya. Pertumbuhan ekonomi menjadi penting dalam konteks perekonomian suatu negara
karena dapat menjadi salah satu ukuran dari pertumbuhan atau pencapaian perekonomian bangsa
tersebut, meskipun tidak bisa dinafikan ukuran-ukuran yang lain. Wijono (2005) menyatakan
bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator kemajuan pembangunan.
Salah satu hal yang dapat dijadikan motor penggerak bagi pertumbuhan adalah perdagangan
internasional. Salvatore menyatakan bahwa perdagangan dapat menjadi mesin bagi pertumbuhan
( trade as engine of growth, Salvatore, 2004). Jika aktifitas perdagangan internasional adalah
ekspor dan impor, maka salah satu dari komponen tersebut atau kedua-duanya dapat menjadi
motor penggerak bagi pertumbuhan. Tambunan (2005) menyatakan pada awal tahun 1980-an
Indonesia menetapkan kebijakan yang berupa export promotion. Dengan demikian, kebijakan
tersebut menjadikan ekspor sebagai motor penggerak bagi pertumbuhan.

Ketika perdagangan internasional menjadi pokok bahasan, tentunya perpindahan modal antar
negara menjadi bagian yang penting juga untuk dipelajari. Sejalan dengan teori yang
dikemukakan oleh Vernon, perpindahan modal khususnya untuk investasi langsung, diawali
dengan adanya perdagangan internasional (Appleyard, 2004). Ketika terjadi perdagangan
internasional yang berupa ekspor dan impor, akan memunculkan kemungkinan untuk
memindahkan tempat produksi. Peningkatan ukuran pasar yang semakin besar yang ditandai
dengan peningkatan impor suatu jenis barang pada suatu negara, akan memunculkan
kemungkinan untuk memproduksi barang tersebut di negara importir. Kemungkinan itu
didasarkan dengan melihat perbandingan antara biaya produksi di negara eksportir ditambah
dengan biaya transportasi dengan biaya yang muncul jika barang tersebut diproduksi di negara
importir. Jika biaya produksi di negara eksportir ditambah biaya transportasi lebih besar dari
biaya produksi di negara importir, maka investor akan memindahkan lokasi produksinya di
negara importir (Appleyard, 2004).
2. Efek Terhadap Produksi
Pedagangan luar negeri mempunyai pengaruh yang kompleks terhadap sector produksi di dalam
negeri. Secara umum kita bisa menyebutkan tiga macam pengaruh yang bekerja melalui adanya:
1.
Spesialisasi produksi.
2.
Kenaikan investasi surplus
3.
Vent for Surplus.
1) Spesialisasi
Perdagagangan internasional mendorong masing-masing Negara kea rah spesialisasi dalam
produksi barang di mana Negara tersebut memiliki keunggulan komperatifnya. Dalam kasus
constant-cost, akan terjadi spesialisasi produksi yang penuh, sedangkan dalam kasus increasingcost terjadi spesialisasi yang tidak penuh. Yang perlu diingat disini adalah spesialisasi itu sendiri
tidak membawa manfaat kepada masyarakat kecuali apabila disertai kemungkinan menukarkan
hasil produksinya dengan barang-barang lain yang dibutuhkan.
Spesialisasi plus perdagangan bisa meningkatkan pendapatan riil masyarakat, tetapi spesialisasi
tanpa
perdagangan
mungkin
justru
menurunkan
kesejahteraan
masyarakat.
Tetapi apakah spesialisasi plus perdagangan selalu menguntungkan suatu negara ? Dalam uraian
diatas dapat menyimpulakan, bahwa CPF sesudah perdagangan selalu lebih tinggi atau setidaktidaknya sama dengan CPF sebelum perdangangan. Ini berarti bahwa perdagangan tidak akan
membuat pendapatan riil masyarakat lebih rendah, dan sangat mungkin membuatnya lebih
tinggi. Tetapi perhatikan bahwa analisa semacam ini bersifat statik, yaitu tidak
memperhitungkan pengaruh-pengaruh yang timbul apabila situasi berubah atau berkembang,
seperti yang kita jumpai dalam kenyataan.
Ada tiga keadaan yang membuat spesialisasi dan perdagangan tidak selalu bermanfaat bagi suatu
negara. Ketiga keaadan ini berkaitan dengan kemungkinan spesialisasi produksi yang terlalu
jauh, artinya adanya sektor produksi yang terlalu terpusatkan pada satu atau dua barang saja.
Keadaan ini adalah:
a.
Ketidakstabilan pasar luar negeri
Bayangkan suatu negara yang karena dorongan spesialisasi dari perdagangan, hanya
memproduksi karet dan kayu. Apabila harga karet dan kayu dunia jatuh, maka perekonomian
dalam negeri otomatis akan jatuh. Lain halnya apabila negara tersebut tidak hanya berspesialsasi
pada kedua barang tesebut, tetapi juga memproduksi barang-barang lain baik untuk ekspor
maupun untuk kebutuhan dalam negeri sendiri. Turunnya harga dari satu atau dua barang

mungkin bisa diimbangi oleh naiknnya haga barang-barang lain. Inilah pertentangan atau konfik
antara spesialisasi dengan diversifikasi. Spesialisasi biasa meningkatkan pendapatan riil
masyarakat secara maksimal, tetapi dengan resiko ketidakstabilan pendapatan tetapi dengan
konsekuensi harus mengorbankan sebagian dari kenaikan pendapatan dari spesialisasi. Sekarang
hampir semua negara di dunia menyadari bahwa spesialisasi yang terlalu jauh (meskipun
didasarkan atas prinsip keunggulan komperatif, seperti yang ditunjukan oleh teori ekonomi)
bukanlah keadaan yang baik. Manfaat dari diversifikasi harus pula diperhitungkan.
b.
Keamanan nasional
Bayangkan suatu negara hanya memproduksi satu barang, misalnya karet, dan harus mengimpor
seluruh kebutuhan bahan makanannya. Meskipun karet adalah cabang produksi dimana negara
tersebut memiliki keunggulan komperatif yang paling tinggi, sehingga bisa meningkatkan
CPFnya semakin mungkin, tentunya keadaan seperti ini tidak sehat. Seandainya terjadi perang
atau apapun yang menghambat perdagangan luar negeri, dari manakah diperoleh bahan makanan
bagi penduduk negara tersebut? Jelas bahwa pola produksi seperti yang didiktekan oleh
keunggulan komperatif tidak harus selalu diikuti apabila ternyata kelangsungan hidup negara itu
sendiri sama sekali tidak terjamin.
c.
Dualisme
Sejarah perdagangan internasional negara-negara sedang berkembang, terutama semasa mereka
masih menjadi koloni negara-negara Eropa, ditandai oleh timbulnya sektor ekspor yang
berorientasi ke pasar dunia dan yang sedikit sekali berhubungan dengan sektor tradisional dalam
negeri. Sektor ekspor seakan-akan bukan merupakan bagian dari negeri itu, tetapi bagian dari
pasar dunia. Dalam keadaan seperti ini spesialisasi dan perdagangan internasional tidak memberi
manfaat kepada perekonomian dalam negeri. Keadaan ini di negara-negara sedang berkembang
setelah mereka merdeka, memang sudah menunjukan perubahan. Tetapi sering belum merupakan
perubahan yang fundamental. Sektor ekspor yang modern masih nampak belum bisa
menunjang sektor dalam negeri yang tradisional.
Ketiga keadaan tersebut di atas adalah peringatan bagi kita untuk tidak begitu saja dan tanpa
reserve menerima dalil perdagangan Neoklasik bahwa spesialisasi dan perdagangan selalu
menguntungkan dalam keaadaan apapun. Tetapi di lain pihak, uraian diatas tidak merupkan bukti
bahwa manfaat dari perdagangan tidaklah bisa dipetik dalam kenyataan. Teori keunggulan
komperatif masih memiliki kebenaran dasarnya, yaitu bahwa suatu negara seyogyanya
memanfaatkan keunggulan komperatifnya dan kesempatantransformasi lewat perdagangan.
Hanya saja perlu diperhatikan bahwa dalam hal-hal tertentu pertimbangan-pertimbangan lain
jangan dilupakan.
2) Investible Surplus Meningkat
Perdagangan meningkat pendapatan riil masyarakat. Dengan pendapatan riil yang lebih tinggi
berarti negara tersebut mampu untuk menyisihkan dana sumber-sumber ekonomi yang lebih
besar bagi investasi (inilah yang disebut investible surplus). Investasi yang lebih tinggi berarti
laju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Jadi perdagangan bisa memdorong laju
pertumbuhan ekonomi.
Inilah inti dari pengaruh perdagangan internasional terhadap produksi lewat investible surplus.
Ada tiga hal mengenai pengaruh ini perlu dicatat:
a.
Kita harus menanyakan berapa dari manfaat perdagangan (kenaikan pendapatan riil) yang
diterima oleh warga negara tersebut, dan berapa yang diterima oleh warga negara asing yang
memiliki faktor produksi, misalnya modal, tenaga kerja, yang diperkejakan di negara tersebut.

Dengan lain perkataan, yang lebih penting adalah berapa kenaikan GNP, bukan kenaikan GDP,
yang ditimbulkan oleh adanya perdagangan.
b.
Kita harus menanyakan pula berapa dari kenaikan pendapatan riil karena perdagangan
tersebut akan diterjemahkan menjadi kenaikan investasi dalam negeri, dan berapa ternyata
dibelanjakan untuk konsumsi yang lebih tinggi atau ditransfer ke luar negeri oleh perusahaanperusahaan asing sebagai imbalan bagi modal yang ditanamkannya? Dari segi pertumbuhan
ekonomi yang paling penting adalah kenaikan investasi dalam negeri dan bukan hanya
investible surplus-nya.
c.
Kita harus pula membedakaan antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan
ekonomi. Disebutkan di atas bagaimana dualisme dalam struktur perekonomian bisa timbul dari
adanya perdagangan internasional. Di masa lampau, dan gejala-gejalanya masih tersisa sampai
sekarang, kenaikan ivestible surplus tersebut cenderung untuk diinvestasikan di sektor modern
dan hanya sedikit yang mengalir ke sektor tradisional. Pertumbuhan semacam ini justru
semakin mempertajam dualisme dan perbedaan antara kedua sektor tersebut. Dalam hal ini kita
harus berhati-hati untuk tidak mempersamakan pertumbuhan ekonomi dengan pembagunan
ekonomi dalam arti sesungguhnya.
Inti dari uraian diatas adalah bahwa kenaikan investible surplus karena perdagangan adalah
sesuatu yang nyata. Tetapi kita harus mmpertanyakan lebih lanjut siapa yang memperoleh
manfaat, berapa besar manfaat tersebut yang di realisir sebagai investasi dalam negeri, dan
adakah pengaruh dari manfaat tersebut terhadap pembangunan ekonomi dalam arti yang
sesungguhnya.
3) Vent For Surplus
Konsep ini aslinya berasal dari Adam Smith. Menurut Adam Smith, perdagangan luar negeri
membuka daerah pasar baru yang lebih luas bagi hasil-hasil didalam negeri. Produksi dalam
negeri yang semula terbatas karena terbatasnya pasar di dalam negeri, sekarang bisa diperbesar
lagi. Sumber-sumber ekonomi yang semula menggangur (surplus) sekarang memperoleh saluran
(vent) untuk bisa dimanfaatkan, karena adanya daerah pasar yang baru. Inti dari konsep vent for
surplus adalah bahwa pertumbuhan ekonomi terangsang oleh terbukanya daerah pasar baru.
Sebagai contoh, suatu negara yang kaya akan tanah pertanian tetapi penduduk relatif sedikit.
Sebelum kemungkinan perdagangan dengan luar negeri terbuka, negara tersebut hanya
mnghasilkan bahan makanan yang cukup untuk menghidupi penduduknya dan tidak lebih dari
itu. Banyak tanah yang sebenarnya subur dan cocok bagi pertanian dibiarkan tak terpakai.
Dengan adanya kontak dengan pasar dunia, negara tersebut mulai menamam barang-barang
perdagangan dunia seperti lada, kopi, teh, karet, gula, dan sebagainya dengan memanfaatkan
tanah pertanian yang menganggur tersebut. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi meningkat.
B. MANFAAT MELAKUKAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Setiap negara yang melakukan perdagangan dengan negara lain tetntu akan memperoleh manfaat
bagi negara tersebut. Manfat tersebut antara lain :
1. Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negri sendiri
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap negara.
Faktor-faktor tersebut diantaranya : Kondisi geografi, iklim, tingkat penguasaan IPTEK dan lainlain. Dengan adanya perdagangan internasional, setiap negara mampu memenuhi kebutuhan
yang tidak diproduksi sendiri.

2. Memperoleh keuntungan dari spesialisasi


Sebab utama kegiatan perdagangan luar negri adalah untuk memperoleh keuntungan yang
diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat memproduksi suatu barang yang
sama jenisnya dengan yang diproduksi oleh negara lain, tapi ada kalanya lebih baik apabila
negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negri.Sebagai contoh : Amerika Serikat dan
Jepang mempunyai kemampuan untuk memproduksi kain. Akan tetapi, Jepang dapat
memproduksi dengan lebih efesien dari Amerika Serikat. Dalam keadaan seperti ini, untuk
mempertinggi keefisienan penggunaan faktor-faktor produksi, Amerika Serikat perlu mengurangi
produksi kainnya dan mengimpor barang tersebut dari Jepang. Dengan mengadakan spesialisasi
dan perdagangan, setiap negara dapat memperoleh keuntungan sebagai berikut
Faktor-faktor produksi yang dimiliki setiap negara dapat digunakan dengan lebih efesien.
Setiap negara dapat menikmati lebih banyak barang dari yang dapat diproduksi dalam negri.
3. Memperluas Pasar dan Menambah Keuntungan
Terkadang, para pengusaha tidak menjalankan mesin-mesinnya (alat produksinya) dengan
maksimal karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan
turunnya harga produk mereka. Dengan adanya perdagangan internasional, pengusaha dapat
menjalankan mesin-mesinnya secara maksimal, dan menjual kelebihan produk tersebut keluar
negri.
4. Transfer teknologi modern
Perdagangan luar negri memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi yang
lebih efesien dan cara-cara manajemen yang lebih moderen.
C. SEBAB-SEBAB TERJADINYA PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Setiap negara dalam kehidupan di dunia ini pasti akan melakukan interaksi dengan
negara-negara lain di sekitarnya. Biasanya bentuk kerjasama atau interaksi itu berbentuk
perdagangan antar negara atau yang lebih dikenal dengan istilah perdagangan internasional.
Beberapa aladan yang menyebabkan terjadinya perdagangan antar negara (perdagangan
internasional) antara lain :
1. Revolusi Informasi dan Transportasi
Ditandai dengan berkembangnya era informasi teknologi, pemakaian sistem berbasis
komputer serta kemajuan dalam bidang informasi, penggunaan satelit serta digitalisasi
pemrosesan data, berkembangnya peralatan komunikasi serta masih banyak lagi.
2. Interdependensi Kebutuhan
Masing-masing negara memiliki keunggulan serta kelebihan di masing-masing aspek,
bisa di tinjau dari sumber daya alam, manusia, serta teknologi. Kesemuanya itu akan berdampak
pada ketergantungan antara negara yang satu dengan yang lainnya.
3. Liberalisasi Ekonomi
Kebebasan dalam melakukan transaksi serta melakukan kerjasama memiliki implikasi bahwa
masing-masing negara akan mencari peluang dengan berinteraksi melalui perdagangan antar
negara.
4. Asas Keunggulan Komparatif

Keunikan suatu negara tercermin dari apa yang dimiliki oleh negara tersebut yang tidak
dimiliki oleh negara lain. Hal ini akan membuat negara memiliki keunggulan yang dapat
diandalkan sebagai sumber pendapatan bagi negara tersebut.
5. Kebutuhan Devisa
Perdagangan internasional juga dipengaruhi oleh faktor kebutuhan akan devisa suatu
negara. Dalam memenuhi segala kebutuhannya setiap negara harus memiliki cadangan devisa
yang digunakan dalammelakukan pembangunan, salah satu sumber devisa adalah pemasukan
dari perdagangan internasional.
D. KETENTUAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Membahas tentang perdagangan internasional tentunya tidak terlepas dari pembicaraan mengenai
kegiatan ekspor impor. Dalam melakukan kegiatan ekspor impor tersebut perlu diperhatikan
ketentuan-ketentuan yang berlaku di bidang tersebut.
Bidang Ekspor
Ketentuan umum di bidang ekspor biasanya meliputi hal-hal yang berhubungan dengan proses
pengiriman barang ke luar negri. Ketentuan tersebut meliputi antara lain :
1. Ekspor
Perdagangan dengan cara mengeluarkan barang dari dalam ke luar wilayah pabean Indonesia
dengan memenuhi ketentuanyang berlaku.
2. Syarat-syarat Ekspor
A.Memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
B.Mendapat izin usaha dari Dept. Teknis/Lembaga Pemerintah Non-Dept
C. Memiliki izin ekspor berupa :
APE (Angka Pengenal Ekspor) untuk Eksportir Umum berlaku lima tahun.
APES (Angka Pengenal Ekspor Sementara) berlaku dua tahun
APET (Angka Pengenal Ekspor Terbatas) untuk PMA/PMDN
3. Eksportir
Pengusaha yang dapat melakukan ekspor, yang telah memiliki SIUP atau izin usaha dari Dept.
Teknis/LembagaPemerintah Non-Dept berdasarkan ketentuan yang berlaku.
4. Eksportir Terdaftar (ET)
Perusahaan yang telah mendapat pengakuan dari Menteri Perdagangan untuk mengekspor barang
tertentu sesuai ketentuan yang berlaku.
5. Barang Ekspor
Seluruh jenis barang yang terdaftar sebagai barang ekspor dan sesuai dengan ketentuan
perpajakan dan kepabeanan yang berlaku.
Bidang Impor
Ketentuan umum di bidang Impor biasanya meliputi hal-hal yang berhubungan dengan proses
pengiriman barang ke dalam negri. Ketentuan tersebut meliputi antara lain :
1. Impor

Perdagangan dengan cara memasukan barang dari luar negri ke dalam wilayah pabean Indonesia
dengan memenuhi ketentuanyang berlaku.
2. Syarat-syarat Impor
a. Memiliki izin ekspor berupa :
API (Angka Pengenal Impor) untuk Importir
Umum berlaku selama perusahaan
menjalankan usaha.
APIS (Angka Pengenal Impor Sementara)
berlaku untuk jangka waktu 2 tahun dan tidak
dapat diperpanjang.
API(S) Produsen untuk perusahaan diluar PMAatau PMDN.
APIT (Angka Pengenal Impor Terbatas) untuk perusahaan PMA/PMDN
b. Persyaratan untuk memperoleh APIS :
Memiliki SIUP perusahaan besar atau menengah
Keahlian dalam perdagangan impor
Referensi bank devisa
Bukti kewajiban pajak (NPWP)
c. Persyaratan untuk memperoleh API :
Wajib memiliki APIS
Telah melaksanakan impor sekurang 4 kali dan telah mencapai nilai nominal US$ 100.000,00
Tidak pernah ingkar kontrak impor
3. Importir
Pengusaha yang dapat melakukan kegiatan perdagangan dengan cara memasukan barang dari
luar negri ke dalam wilayah pabean Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku.
Kategori Importir meliputi : Importir Umum, Importir Umum +, Importir Terdaftar, Importir
Produsen, Produsen Importir dan Agen Tunggal.
4. Barang Impor
Seluruh jenis barang yang terdaftar sebagai barang impor dan sesuai dengan ketentuan
perpajakan dan kepabeanan yang berlaku.

E. KEBIJAKSANAAN EKPOR IMPOR


Dalam menggiatkan kegiatan pergadangan internasional terutama ekspor impor pemerintah
mengeluarkan berbagai kebijakan sebagai dasar pengaturan. Bentuk kebijaksanaan pemerintah
tersebut diantaranya :
1. Inpres No.4/1985 (April1985)
Tentang penyempurnaan dalam tata cara pelaksanaan ekspor impor terutama tentang
pemeriksaan barang ekspor impor.
2. PAKEM 1986
Tentang tata cara permohonan pengembalian bea masuk atau pembebasan bea masuk tambahan.
3. PAKDES / 1987
Tentang kelonggaran yang di berikan berkaitan dengan ekspor impor.
4. PAKNO / 1988

Tentang perubahan dalam tata cara dan kemudahan ekspor impor.


F.JENIS-JENIS PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Perdagangan internasiaonal atau antara negara dapat dilakukan dengan berbagai macam cara
diantaranya :
1. Ekspor
Dibagi dalam beberapa cara antara lain :
Ekspor Biasa
Pengiriman barang keluar negri sesuai dengan peraturan yang berlaku, yang ditujukan kepada
pembeli di luar negri, mempergunakan L/C dengan ketentuan devisa.
Ekspor Tanpa L/C
Barang dapat dikirim terlebih dahulu, sedangkan eksportir belum menerima L/C harus ada ijin
khusus dari departemen perdagangan
2. Barter
Pengiriman barang ke luar negri untuk ditukarkan langsung dengan barang yang dibutuhkan
dalam negri.
Jenis barter antara lain :
A. Direct Barter
Sistem pertukaran barang dengan barang dengan menggunakan alat penetu nilai atau lazim
disebut dengan denominator of valuesuatu mata uang asing dan penyelesaiannya dilakukan
melalui clearing pada neraca perdagangan antar kedua negara yang bersangkutan.
B. Switch Barter
Sistem ini dapat diterapkan bilamana salah satu pihak tidak mungkin memanfaatkan sendiri
barang yang akan diterimanya dari pertukaran tersebut, maka negara pengimpor dapat
mengambil alih barang tersebut ke negara ketiga yang membutuhkannya.
C. Counter Purchase
Suatu sistem perdagangan timbal balik antar dua negara. Sebagai contoh suatu negara yang
menjual barang kepada negara lain, mka negara yang bersangkutan juga harus membeli barang
dari negara tersebut.
D. Buy Back Barter
Suatu sistem penerapan alih teknologi dari suatu negara maju kepada negara berkembang dengan
cara membantu menciptakan kapasitas produksi di negara berkembang , yang nantinya hasil
produksinya ditampung atau dibeli kembali oleh negara maju.
3. Konsinyasi (Consignment)
Pengiriman barang dimana belum ada pembeli yang tertentu di LN. Penjualan barang di luar
negri dapat dilaksanakan melalui Pasar Bebas ( Free Market) atau Bursa Dagang ( Commodites
Exchange) dengan cara lelang. Cara pelaksanaan lelang pada umumnya sebagai berikut :
a. Pemilik brang menunjuk salah satu broker yang ahli dalah salah satu komoditi.
b. Broker memeriksa keadaan barang yang akan di lelang terutama mengenai jenis dan jumlah
serta mutu dari barang tersebut.
c. Broker meawarkan harga transaksi atas barang yang akan dijualnya, harga transaksi ini
disampaikan kepada pemilik barang.

d. Oleh panitia lelang akan ditentukan harga lelang yang telah disesuaikan dengan situasi pasar
serta serta kondisi perkembangan dari barang yang akan dijual. Harga ini akan menjadi pedoman
bagi broker untuk melakukan transaksi.
e. Jika pelelangan telah dilakukan broker berhak menjual barang yang mendapat tawaran dari
pembeli yang sana atau yang melebihi harga lelang.
f. Barang-barang yang ditarik dari pelelangan masih dapat dijual di luar lelang secara bawah
tangan
g. Yang diperkenankan ikut serta dalam pelalangan hanya anggita yang tergabung dalam salah
satu commodities exchange untuk barang-barang tertentu.
h. Broker mendapat komisi dari hasil pelelangan yang diberikan oleh pihak yang diwakilinya.
4. Package Deal
Untuk memperluas pasaran hasil kita terutama dengan negara-negara sosialis, pemerintah
adakalanya mengadakan perjanjian perdagangan ( rade agreement) dengan salah saru negara.
Perjanjian itu menetapkan junlah tertentu dari barang yang akan di ekspor ke negara tersebut dan
sebaliknya dari negara itu akan mengimpor sejumlah barang tertentu yang dihasilkan negara
tersebut.
5. Penyelundupan (Smuggling)
Setiap usaha yang bertujuan memindahkan kekayaan dari satu negara ke negara lain tanpa
memenuhi ketentuan yang berlaku. Dibagi menjadi 2 bagian :
Seluruhnya dilakuan secara ilegal
Penyelundupan administratif/penyelundupan tak kentara/ manipulasi (Custom Fraud)
6. Border Crossing
Bagi negara yang berbatasan yang dilakukan dengan persetujuan tertentu (Border Agreement),
tujuannya pendudukan perbatasan yang saling berhubungan diberi kemudahan dan kebebasan
dalam jumlah tertentu dan wajar. Border Crossing dapat terjadi melalui :
a. Sea Border (lintas batas laut)
Sistem perdagangan yang melibatkan dua negara yang memiliki batas negara berupa lautan,
perdagangan dilakukan dengan cara penyebrangan laut
b. Overland Border (lintas batas darat)
Sistem perdagangan yang melibatkan dua negara yang memiliki batas negara berupa daratan,
perdagangan dilakukan dengan cara setiap pendudik negara tersebut melakukan interaksi dengan
melewati batas daratan di masing-masing negara melalui persetujuan yang berlak
Pelaku Pelaku Perdagangan Internasional
Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan perdagangan internasional dapat di bedakan
menjadi beberapa kelompok antara lain :
A.

KELOMPOK EKSPORTIR

.
Sering disebut dengan penjual (seller) atau pensuplai (pemasok) atau supplier, terdiri dari :
1.
Produsen-Eksportir
Para produsen yang sebagaian hasil produksinya memang diperuntukkan untuk pasar luar
negri, pengurusan ekspor dilakukan oleh perusahaan produsen yang bersangkutan.
2.
Confirming House

3.

4.

5.

A.

Perusahan lokal yang didirikan sesuai dengan perundang-undangan dan hukum setempat
tetapi bekerja untuk dan atas perintah kantor induknya yang berada diluar negri.
Perusahaan asing banyak yang mendirikan kantor cabang atau bekerja sama dengan
perusahaan setempat untuk mendirikan anak perusahaan di dalam negri. Kantor cabang
atau anak perusahaan yang semacam ini bekerja atas perintas dan untuk kepentingan kantor
induknya. Badan usaha semacam ini disebut dengan confirming house. Tugas kantor
cabang atau anak perusahaan biasanya melakukan usaha pengumpulan, sortasi, up grading,
dan pengepakan ekspordari komoditi lokal.
Pedagang Ekspor ( Eksport-Merchant )
Badan usaha yang diberi izin oleh pemerintah dalam bentuk Surat Pengakuan Eksportir dan
diberi kartu Angka Pengenal Ekspor (APE) dan diperkenankan melaksanakan ekspor
komoditi yang dicantumkan dalam surat tersebut. Export Merchant lebih banyak bekerja
untuk dan atas kepentingan dari produsen dalam negri yang diwakilinya.
Agen Ekspor ( Eksport-Agent )
Jika hubungan antara Export Merchant dengan produsen, tidak hanya sebagai rekan bisnis
tapi sudah meningkat dengan suatu ikatan perjanjian keagenan, maka dalam hal ini Export
Merchant disebut juga sebagai Export Agent.
Wisma Dagang ( Trading House )
Bila suatu perusahaan atau eksportir dapat mengembangkan ekspornya tidak lagi terbatas
pada satu atau dua komoditi saja, tapi sudah beraneka macam komoditi maka eksportir
demikian mendapat status General Exporters. Perusahaan yang telah memiliki status
seperti ini sering disebut dengan Wisma Dagang (Trading House) yang dapat mengekspor
aneka komoditi dan mempunyai jaringan pemasaran dan kantor perwakitan di pusat-pusat
dagang dunia, dan memperoleh fasilitas tertentu dari pemerintah baik dalam bentuk
fasilitas perbankan maupun perpajakan.
KELOMPOK IMPORTIR

Dalam perdagangan internasional, memikul tanggungjawab atas terlaksananya dengan baik


barang yang diimpor. Hal ini berarti pihak importir menanggung resiko atas segala sesuatu
mengenai barang yang diimpor, baik resiko kerugian, kerusakan, keterlambatan serta resiko
manipulasi dan penipuan.
Kelompok ini biasanya sering disebut dengan pembeli ( buyer ), yang terdiri dari :
1.
Pengusaha Impor (Import-Merchant)
Lazim disebut dengan Import Merchant adalah badan usaha yang diberikan izin oleh
pemerintah dalam bentuk Tanda Pengenal Pengakuan Impor (TAPPI) untuk mengimpor
barang-barang yang bersifat khusus yang disebutkan dalam izin tersebut, dan tidak berlaku
untuk barang lain selain yang telah diizinkan.
2.
Aproved Importer (Approved-Traders)
Merupakan pengusaha impor biasa yang secara khusus disistimewakan oleh pemerintah
dalam hal ini Departemen Perdagangan untuk mengimpor komoditi tertentu untuk tujuan
tertentu pulayang dipandang perlu oleh pemerintah.
3.
Importir Terbatas
Guna memudahkan perusahaan-perusahaan yang didirikan dalam rangka UU PMA/PMDN
maka pemerintah telah memberi izin khusus pada perusahaan PMA dan PMDN untuk
mengimpor mesin-mesin dan bahan baku yang diperlukannya sendiri (tidak

4.

5.

C.

diperdagangkan).Izin yang diberikan dalam bentuk APIT (Angka Pengenal Impor


Terbatas), yang dikeluarkan oleh BKPM atas nama Menteri Perdagangan.
Importir Umum
Perusahaan impor yang khusus mengimpor aneka macam barang dagang, perusahaan yang
biasanya memperoleh status sebagai impotir umum ini kebanyakan hanyalah Persero Niaga
yang sering disebut dengan Trading House atau Wisma Dagang yang dapat mengimpor
barang-barang mulai dari barang kelontong sampai instalasi lengkap suatu pabrik.
Sole Agent Importer
Perusahaan asing yang berminat memasarkan barang di Indonesia seringkali mengangkat
perusahaan setempat sebagai Kantor Perwakilannya atau menunjuk suatu Agen Tunggal
yang akan mengimpor hasil produksinya di Indonesia.
KELOMPOK IDENTOR

Bilamana kebutuhan atas suatu barang belum dapat dipenuhi dari produksi dlam negri,
maka terpangsa diimpor dari luar negri. Di antara barang-barang kebutuhan itu ada yang di
impor untuk konsumsi sendiri dan adakalanya untuk dijual kembali.
Dalam melakukan pembelian barang terkadang importir atau pembeli membeli langsung ke
penjual ataau eksportir tapi terkadang juga pihak pembeli menggunakan pihak ketiga sebagai
importir, hal ini karena mereka telah terbiasa dalam mengimpor barang dengan cara memesannya
(indent).
Para indentor ini pada umumnya terdiri atas :
1.
Para pemakai langsung
Para kontraktor minyak dari Amerika sudah biasa memesan makanan dan minuman kaleng
langsung dari negrinya, yang impor untuk kebutuhan konsumsi tenaga asing yang bekerja
di Indonesia.
2.
Para pedagang
Pengusaha toko yang ada di Tanah Abang, para pengelola swalayan, department store
biasanya melakukan indent dalam memenuhi kebutuhan barang-barang dagangnya.
3.
Para pengusaha perkebunan, industriawan, dan instansi pemerintah
Kebanyakan para pengusaha industri dan perkebunanserta instansi pemerintahdalam
memenuhi kebutuhannya biasanya menempatkan indentpada para importir.
Dalam menyusun dan menandatangani kontrak indentantara indentor dan importir, kedua
belah pihak seyogyanya haruslah berhati-hati.Dalam prakteknya tidak jarang kontrak indent
dapat membawa kericuhan, dan bahkan seringkali dijadikan alat manipulasi impor, baik oleh
indentor maupun importir.
D.

KELOMPOK PROMOSI

Masalah perdagangan luar negri sudah merupakan bagian yang tidak dapat dipasahkan dari
masalah ekonomi nasional seluruhnya. Agar kegiatan perdagangan ekspor impor dapat berjalan
dan mendatangkan devisa yang besar bagi negara perlu pula dukungan dari berbagai pihak yang
secara tidak langsung terlibat dalam kegiatan tersebut, salah satunya adalah kelompok promosi.
Kelompok promosi iji terdiri atas berbagai bagian antara lain :
1.
Kantor Perwakilan dari produsen / eksportir asing di negara konsumen atau importir
2.
Kantor Perwakilan Kamar Dagang dan Industri dalam dan luar negri

3.
4.

5.
6.
7.
8.
E.

Misi perdagangan dan pameran dagang internasional 9trade fair) yang senantiasa
diadakan di pusat perdagangan dunia seperti Jakarta Fair, Tokyo Fair, Hannover Fair dan
sebagainya.
Badan Pengembangan Ekspor Nasional ( BPEN )- suatu instansi khusus yang didirikan
oleh Departemen Perdagangan untuk melakukan kegiatan pengembangan dan promosi
komoditi Indonesia ke luar negri, serta badab usaha lain seperti Indonesian Trade Center
yang didirikan disejumlah negara.
Kantor Bank Devisa ( DN/LN )
Atase Perdagangan di tiap-tiap kedutaan di luar negri.
Majalah Dagang dan Industri termasuk lembaran buku kuning buku petunjuk telepon
yang merupakan sarana promosi yang lazim juga.
Brosur dan leaflet yang dibuat oleh masing-masing pengusaha ekspor termasuk price
list yang dikirim dengan cuma-cuma.
KELOMPOK PENDUKUNG

Walaupun ekspotir maupun importir menjadi pelaku utama dalam perdagangan


internasional namun kita tidak dapat mengabaikan peran dari pihak lain yang dapat melancarkan
kegiatan eksportir dan importir. Pihak-pihak yang dimaksud adalah kelompok pendukung, yang
mendukung terlaksananya kegiatan ekspor impor atau perdagangan internasional.
Termasuk dalam kelompok ini antara lain :
1.
Badan Usaha Transportasi
Dengan berkembangnya ekspor dan juga dengan adanya perombakan dalam bidang
angkutan baik darat, laut maupun udara, dengan munculnya jasa pengangkutan yang
dikenal dengan istilah freight forwader. Tugas dari badan ini adalah pengumpulan muatan,
penyelenggaraan pengepakan sampai membukukan muatan yang diperdagangkan.
2.
Bank Devisa.
Pihak yang memberikan jasa perkreditan dan pembiayaan, baik dalam bentuk kredit ekspor
maupun sebagai uang muka jaminan L/C impor. Disamping itu bank devisa sangat
diperlukan pada pembukaan L/C, penerimaan L/C, penyampaian dokumen-dokumen,
maupun pada saat menegosiasi dokumen-dokumen tersebut.
3.
Maskapai Pelayaran
Perusahaan pelayaran masih memegang peranan yang amat penting dalam pengangkutan
barang atau muatan hingga sampai ke tujuan.
4.
Maskapai Asuransi
Resiko atas barang baik di darat maupun di laut tidak mungkin dipikul sendiri oleh para
eksportir dan importir. Dalamhal ini maskapai asuransi memegang peranan yang tidak
dapat diabaikan dalam merumuskan persyaratan kontrak yang dapat menjamin resiko yang
terkecil dalam tiap transaksi itu.
5.
Kantor Perwakilan atau Kedutaan
Selain untuk membantu promosi, kantor kedutaan di luar negri dapat pula mengeluarkan
dokumen legalitas seperti consuler invoice yang berfungsi mengecek dan mensahkan
pengapalan suatu barang dari negara tertentu.
6.
Surveyor

7.

Badan ini bertugas sebgai juru periksa terhadap kualitas, cara pengepakan, keabsahan
dokumen-dokumen bagi barang-barang yang akan di ekspor atau di impor, di Indonesia
perusahaan yang ditunjuk sebagai juru periksa adalah PT. Sucofindo.
Pabean.
Pabean sebagai alat pemerintah bertindak sebagai pengaman lalulintas barang serta
dokumen yang masuk ke wilayah pabean.

Masalah Masalah Dalam Ekspor Impor


Tidak selamanya kegiatan perdagangan internasional dapat berjalan sesuai dengan
kondisi yang diinginkan, biasanya sering terjadi hambatan atau masalah-masalah yang menjadi
faktor penghalang bagi setiap negara yang terlibat didalamnya.
Masalah tersebut terbagi dalam dua kelompok utama yaitu masalah internal dan
eksternal.
A.

FAKTOR EKSTERNAL

Masalah yang bersifat eksternal meliputi hal-hal yang terjadi di luar perusahaan yang akan
mempengaruhi kegiatan ekspor impor. Masalah tersebut antara lain :
1.
Kepercayaan Antara Eksportir Importir
Kepercayaan adalah salah satu faktor eksternal yang penting untuk menjamin terlaksananya
transaksi antara eksportir dan importir. Dua pihak yang tempatnya berjauhan dan belum
saling mengenal merupakan suatu resiko bila dilibatkan dengan pertukaran barang dengan
uang. Apakah importir percaya untuk mengirimkan uang terlebih dahulu kepada eksportir
sebelum barang dikirim atau sebaliknya apakah eksportir mengirimkan barang terlebih
dahulu kepada importir sebelum melakukan pembayaran.
Oleh karena itu, sebelum kontrak jual beli diadakan masing-masing pihak harus sudah
mengetahui kredibilitas masing-masing. Beberapa cara yang lazim dilakukan untuk
mencari kontrak dagang antara lain :
a.
memanfaatkan buku petunjuk perdagangan yang berisi nama, alamat, dan jenis
usaha.
b.
Mencari dan mengunjungi perusahaan di negara lain.
c.
meminta bantuan bank di dalam negri yang selanjutnya mengadakan kontak
dengan bank korespondennya di luar negri untuk menghubungkan nasbah kedua
bank.
d.
Membaca publikasi dagang dalam dan luar negri.
e.
Konsultasi dengan pengusaha dalam bidang yang sama.
f.
Melalui perwakilan perdagangan.
g.
Iklan
Pada dasarnya faktor kepercayaan ini lebih dititikberatkan pada kemampuan kedua belah
pihak baik eksportir maupun importir dalam menilai kredibilitas masing-masing.

2.

Pemasaran

3.

4.

5.

Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam masalah ono adalah ke negara mana barng akan
dipasarkan untuk mendapatkan harga yang sebaik-baiknya. Sebaliknya bagi importir yang
penting diketahui adalah dari mana barang-barang tertentu sebaiknya akan diimpor untuk
memperoleh kondisi pembayaran yang lebih baik. Dalam hal penetapan harga komoditi
ekspor dan konsep pemasarannya, eksportir perlu mengetahui apakah dapat bersaing dalam
penjualannya di luar negri, dengan mengetahui informasi mengenai :
a.
ongkos atau biaya barang
b.
sifat dan tingkat persaingan
c.
luas dan sifat permintaan
Sedangkan penentuan jenis-jenis barang didasarkan pada informasi mengenai :
a.
peraturan perdagangan negara setempat
b.
pembatasan mutu dan volume barang-barang tertentu
c.
kontinuitas produksi barang
d.
negara tujuan barang-barang ekspor
Masalah pokok lain dalam hal pemasaran yang sering dihadapi oleh eksportir maupun
importir adalah daya saing, yang meliputi :
a.
Daya saing rendah dalam harga dan waktu penyerahan
b.
Daya saing dianggap sebagai masalah intern eksportir, padahal sesungguhnya
menjadi masalah nasional
c.
Saluran pemasaran tidak berkembang di luar negri
d.
Kurangnya pengetahuan akan perluasan pemasaran serta teknik-teknik pemasaran
Sistem Kuota dan Kondisi Hubungan Perdagangan Dengan Negara Lain
Keinginan Eksportir dan importir untuk mencari, memelihara atau meningkatkan hubungan
dagang dengan sesamanya juga tergantung pada kondisi negara kedua pihak yang
bersangkutan. Bilamana terdapat pembatasan seperti ketentuan kuota barang dan kuota
negara, maka upaya meningkatkan transaksi yang saling menguntungkan tidak sepenuhnya
dapat terlaksana.
Upaya yang dapat dilakukan oleh setiap negara adalah dengan meningkatkan hubungan
antar negara baik yang bersifat bilateral, multilateral, regional maupun internasional, guna
menciptakan suatu turan dalam hal pembatasan barang (kuota) bagi transaksi perdaganga.
Hal ini membuktikan bahwa pembatasan terhadap barang-barang yang masuk ke suatu
negara serta hubungan antara negara tempat terjadinya perdagangan menjadi faktor penentu
kelancaran proses ekspor impor
Keterkaitan Dalam Keanggotaan Organisasi Internasional
Keikutsertaan suatu negara dalam organisasi internasional dimaksudkan untuk mengatur
stabilitas harga barang ekspor di pasar internasional. Namun terlepas dari manfaat yang
diperoleh dari keanggotaan organisasi tersebut, keanggotaan didalamnya tak jarang
merupakan penghambat untuk dapat melakukan tindakan tertentu bagi peningkatan
transaksi komoditi yang bersangkutan, seperti contoh ICO dengan kuota kopi, serta
penentuan harga yang lebih bersaing yang sering dihadapi anggota-anggota OPEC.
Kurangnya Pemahaman Akan Tersedianya Kemudahan-kemudahan
Internasional
Kemudahan-kemudahan internasional seperti ASEAN Preferential Trading Arrangement
yang menyediakan kemudahan trarif sangat berguna bagi pengembangan perdagangan
antara negara ASEAN. Kemudahan tarif yang disediakan bersifat timbal balik dan

pemanfaatannya dilakukan dengan menerbitkan Formulir C oleh negara asal barang. Juga
adanya tax treaty antar negara-negara tersebut.
B.

FAKTOR INTERNAL

Keharusan perusahaan-perusahaan ekspor impor untuk memenuhi persyaratan berusaha


adakalanya tidak mendapat perhatian sungguh-sungguh. Persiapan teknis yang seharusnya telah
dilakukan diabaikan karena diburu oleh tujuan yang lebih utama yakni mendapatkan keuntungan
yang cepat dan nyata.
Masalah yang bersifat internal meliputi hal-hal yang terjadi di dalam perusahaan yang akan
mempengaruhi kegiatan ekspor impor. Masalah tersebut antara lain :
1.
Persiapan Teknis
Menyangkut persyaratan-persyaratan dasar untuk pelaksanaan transaksi ekspor impor
berupa :
a.
Status badan hukum perusahaan
b.
Adanya izin usaha (SIUP) serta izin ekspor maupun impor (APE,APES, API,
APIS, APIT)
c.
Kemapuan menyiapkan persyaratan-persyaratan lain seperti dokumen
pengapalan, realisasi pengapalan serta kejujuran dan kesungguhan berusaha termasuk
itikad baik.
Dari sisi eksportir terkadang masalah yang timbul adalah kemampuang yang bersangkutan
dalam menyiapkan dokumen-dokumen pengapalan serta itikad baik dan kejujuran untu
mengirimkan barangnya.
Perusahaan ekspor impor haruslah menjaga reputasi perusahannya, disamping itu untuk
menjamin kelangsungan izin usahanya maka kontinuitas aktivitas aktivitas transaksinya
harus dipertahankan dan ditingkatkan.
2.
Kemampuan dan Pemahaman Transaksi Luar Negri
Keberhasilan transaksi ekspor impor sangat didukung oleh sejauhmana pengetahuan atau
pemahaman eksportir/importir menyangkut dasar-dasar transaksi ekspor impor, tata cara
pelaksanaan, pengisian dokumen serta peraturan-peraturan dalam dan luar negri.
3.
Pembiayaan
Pembiayaan transaksi merupakan masalah yang penting yang tidak jarang dihadapi oleh
para pengusaha eksportir/importir kita. Biasanya masalah yang dihadapi antaralain
ketercukupan akan dana, fasilitas pembiayaan dana yang dapat di peroleh serta bagaimana
cara memperolehnya. Dalam hal ini para pengusaha harus mampu mengatur keuangannya
secara bijak dan mempelajari serta memanfaatkan kemungkinan fasilitas-fasilitas
pembiayaan untuk pelaksanaan transaksi-transaksi yanmg dilakukan.
Menyangkut bagaimana para eksportir/importir membiayai transaksi perdagangan.
4.
Kekurangsempurnaan Dalam Mempersiapkan Barang
Khusus dalam transaksi ekspor, kurang mampunya eksportir dalam menanggulangi
penyiapan barang dapat menimbulkn akibat yang tidak baik bagi kelangsungan hubungan
transaksi dengan rekannya di luar negri.
Masalah-masalah yang timbul adalah akibat dari hal-hal berikut :
a.
Pengiriman barang terlambat disebabkan oleh kesulitas administrasi dan pengaturan
pengangkutan, peraturan-peraturan pemerintad dan sebagainya.
b.
Mutu barang yang tidak dapat dipertahankan sesuai dengan perjanjian

c.
d.
e.
5.

Kelangsungan penyediaan barang sesuai dengan perjanjian tidak dapat dipenuhi.


Pengepakan yang tidak memenuhi syarat
Keterlambatan dalam pengiriman dokumen-dokumen pengapalan.
Kebijaksanaan Dalam Pelaksanan Ekspor Impor
Kelancaran transaksi ekspor impor sangat tergantung pada peraturan-peraturan yang
mendasarinya. Peraturan-peraturan yang apabila sering berubah-ubah dapat
membingungkan dan menimbulkan salah pengertian dan kekliruan, baik di pihak
pengusaha di dalam negri maupun pengusaha d luar negri. Diperlukan penjelasan yang
cukup tentang latar belakang perubahan-perubahan dan tujuannya, sehingga masing-masing
pihak memaklumi dan mengetahui aturan main dalam transaksi selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
http://sites.google.com/site/iwansubhanhotmail/makalah
http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Perdagangan_Internasional_9.1_%28BAB_8%29
http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_internasional
http://afifahristri.blogspot.com/2010/12/perdagangan-internasional.html