Anda di halaman 1dari 5

Pembuatan Sediaan Langsung (direct preparat) dari pembuatan biakkan (kultur/

kultivasi) Jamur dari Kerokan Kulit


I.

Tujuan
a. Tujuan Umum :
1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami teknik pembutatan sediaan langsung
(direct preparat) kerokan kulit.
2. Mahasiswa dapat mengetahui metode kultur jamur.
b. Tujuan Khusus :
1. Mahasiswa dapat membuat sediaan langsung kerokan kulit.
2. Mahasiswa dapat melakukan kultur jamur.
3. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan dan mengetahui ada tidaknya jamur pada
sampel kerokan kulit.

II.

Metode
a. Pembuatan sediaan langsung dengan larutan KOH 10%
b. Pembuatan kultur jamur dilakukan dengan cara kultur aerob, dengan inkubasi pada suhu
ruang selama 7 hari.

III.

Prinsip
a. Larutan KOH 10% akan melisiskan kulit sehingga bila mengandung jamur di bawah
mikroskop akan terlihat hifa atau spora.
b. Bahan pemeriksaan (kerokan kulit) diambil dengan ose dan dipindahkan / digoreskan

IV.

pada permukaan media PDA lalu diinkubasi.


Dasar Teori
Jamur merupakan organisme yang tidak mempunyai klorofil sehingga tidak
mempunyai kemampuan untuk memproduksi makanan sendiri atau dengan kata
lain jamur tidak bisa memanfaatkan karbondioksida sebagai sumber karbonnya.
Oleh karena jamur memerlukan senyawa organic baik dari bahan organic mati
maupun dari organisme hidup sehingga jamur dikatakan juga organisme
heterotrofik. Jamur ini ada yang hidup dan memperoleh makanan dari bahan
organik mati seperti sisa-sisa hewan dan tumbuhan, dan ada pula yang hidup dan
memperoleh makanan dari organisme hidup. Jamur yang hidup dan memperoleh
makanan dari bahan organic mati dinamakan saprofit, sedangkan yang hidup dan
memperoleh makanan dari organism hidup dinamakan parasit (Darnetty, 2006).
Penampilan jamur atau cendawan tidak asing bagi kita semua. Kita dapat melihat
pertumbuhan berwarna biru dan hijau pada buah jeruk dan keju. Pertumbuhan
berwarna putih seperti bulu pada roti dan selai basi, jamur dilapangan dan hutan.
Kesemuaan ini merupakan tubuh berbagai cendawan. Jadi cendawan mempunyai

berbagai macam penampilan, tergantung pada spesiesnya. Telaah mengenai cendawan


disebut mikologi. Cendawan terdiri dari kapang (mold) dan khamir (yeast) (Perlczar,
2005).
Kapang merupakan fungi yang berfilamen dan multiseluler. Kapang
membentuk filament panjang yang disebut hifa dan meupakan cirri utama fungi.
Koloni fungi yang merupakan massa hifa disebut miselium. Hifa mempunyai 2
struktur yaitu bersepta dan tidak bersepta. Septa ini menyekat sel sehingga filament
yang panjang ini terlihat seperti rantai sel. Hifa yang tidak bersepta disebut hifa
konosilitik. Hifa dapat membentuk struktur reproduksi yang disebut spora (Lay,
1994).
Khamir merupakan fungi yang tidak berrfilamen dan berproduksi memalui
pertunasan atau pembelahan sel. Bentuk koloni khamir sering kali mirip dengan
bakteri. Khamir digunakan dalam pertumbuhan roti dan anggur, namun ada pula
khamir yang dapat menimbulkan penyakit (Lay, 1994)
Penyakit yang disebabkan oleh infestasi jamur bersama-sama disebut sebagai
mikosis. Penyakit ini kemudian diklasifikasikan ke dalam kelompok yang berbeda
tergantung pada sifat dari jaringan yang terlibat dan cara masuk ke dalam host.
Kelompok-kelompok adalah sebagai berikut:
a. Mikosis Superfisial
Ini adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur yang tumbuh hanya pada
permukaan kulit dan rambut, yaitu infeksi hanya terbatas pada lapisan terluar
kulit, kuku dan rambut. Ini adalah yang paling merusak dari semua infeksi jamur,
karena mereka gagal untuk menembus tubuh dari penderita dan hanya
mempengaruhi sel-sel di permukaan. Beberapa contoh mikosis superfisial dan
agen jamur menyebabkan mereka adalah sebagai berikut:
Hitam piedra Piedraia hortae
Putih piedra atau tinea blanca Trichosporon sp.
Pityriasis versicolor atau panu Malassezia furfur
Tinea nigra Hortaea wernecki
Mikosis superfisial adalah penyakit jamur yang meginfeksi lapisan
permukaan kulit, yaitu stratum korneum, rambut dan kuku. Mikosis superfisial
terbagi menjadi 2 kelompok :
(1) jamur bukan golongan dermatofita, yaitu pitiaris versikolor,
otomikosis, piedra hitam, piedra putih, onikomikosis dan tinea nigra
palmaris, dan
(2) jamur golongan dermatofita.

b. Mikosis subkutan
Ini adalah infeksi yang mempengaruhi dermis dan jaringan bawah kulit
lainnya dari penderita. Infeksi ini umumnya terjadi ketika patogen menembus
dermis selama atau setelah trauma kulit. Lesi kemudian menyebar secara lokal
tanpa penetrasi lebih dalam. Namun, beberapa jamur dapat menyebabkan mikosis
dalam, terutama pada pasien dengan kelainan yang mendasari parah. Sebuah
contoh umum adalah mikosis subkutan Sporotrichosis, disebabkan oleh
Sporothrix

schenckii.

Chromomycosis,

phaeohyphomycosis,

chromoblastomycosis, lobomycosis, rhinosporidiosis dan mycetomas merupakan


contoh lain dari mikosis subkutan.
c. Mikosis Cutaneous
Mycoses Cutaneous adalah infeksi yang memperpanjang lebih dalam
lapisan epidermis serta rambut invasif dan penyakit kuku. Jamur yang
bertanggung jawab untuk menyebabkan infeksi ini dikenal sebagai dermatofit.
Infeksi ini dapat menyebabkan banyak rasa sakit dan ketidaknyamanan sebagai
organisme ini menembus jauh ke dalam kulit. Kurap atau tinea, adalah contoh
umum dari mikosis kulit. Beberapa contoh lain dari mikosis kulit yang
menyebabkan jamur termasuk Microsporum, Epidermophyton dan trikofiton.
d. Mikosis Sistemik
Mikosis sistemik diyakini yang paling berbahaya dari semua infeksi jamur.
Hal ini terutama karena mereka menyerang organ internal dengan langsung masuk
melalui paru-paru, saluran pencernaan atau infus. Ini dapat disebabkan oleh dua
kelompok jamur, jamur patogen primer atau jamur oportunistik. Contoh penyakit
jamur

milik

kelompok

pertama

meliputi

paracoccidioidomycosis dan coccidiomycosis.

V.

Alat dan Bahan


a. Alat
1. Cawan petri
2. Scalpel
3. Objek glass
4. Cover glass
5. Ose
6. Lampu Bunsen
7. Mikroskop
8. Pinset
9. Incubator

blastomycosis,

histoplasmosis,

10. Kertas merang / koran


b. Bahan
1. Alkohol 70%
2. Kapas
3. NaCl 10% / KOH 10% / NaOH 10%
4. Sampel kerokan kulit
5. Media PDA
VI.

Cara Kerja
a. Teknik membuat kerokan kulit
1. Bagian kulit yang akan dikerok dihapus beberapa kali dengan kapas yang telah
dibasahi oleh alkohol.
2. Bagian kulit yang dikerok, sebaiknya bagian pinggir lesi yang aktif dan tertutup
dengan sisik.
3. Perlahan perlahan dikerok di bagian tersebut dengan menggunakan scalpel.
4. Kerokan kulit ditampung di dalam sebuah cawan petri, siap dipakai untuk bahan
pemeriksaan.
b. Teknik membuat sediaan langsung kerokan kulit
1. KOH 10% diteteskan pada objek glass
2. Ujung ose dibasahi dengan larutan KOH 10%, kemudian ditempelkan pada kerokan
kulit, sehingga kerokan tersebut menempel pada jarum ose
3. Kerokan kulit/ sisik diletakkan pada tetesan larutan KOH 10% kemudian ditutup
dengan kaca penutup
4. Dilewatkan beberapa kali diatas nyala api dan dibiarkan 10 menit
5. Diperiksa dibawah mikroskop dengan kondensor rendah, mula-mula objektif
pembesaran 10x untuk mencari bagian kulit yang akan diperiksa kemudian dengan
perbesaran lensa objektif 40x untuk mencari adanya hifa dan spora.
VII.
VIII.

Hasil Pengamatan
Pembahasan
Untuk mengidentifikasi infeksi akibat jamur dapat dilakukan dengan beberapa

cara diantaranya :
1. Pemeriksaan langsung
2. Pembiakan atau kultur
3. Reaksi imunologis
4. Biopsi atau pemeriksaan histopatologi
5. Pemeriksaan dengan sinar wood
Dalam praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan langsung dengan pembuatan sediaan
langsung. Sediaan langsung berfungsi untuk melihat apakah adanya infeksi jamur perlu
dibuat preparat langsung dari kerokan kulit, rambut, atau kuku.
Sampel yang digunakan dalam praktikum kali ini berasal dari kerokan kulit dan kerokan
kuku. Pengambilan sampel sebaiknya dilakukan di daerah luar dari lesi karena merupakan
area aktif pertumbuhan jamur. Setelah sampel diambil akan ditumbuhkan pada media PDA,

Pembuatan kultur murni jamur menggunakan media PDA (Potato Dextrosa Agar). Pada
media ini ditambahkan antibiotic untuk mencegah pertumbuhan bakteri sehingga jamur dapat
tumbuh dengan baik pada media. PDA terbuat dari kentang, dextrosa dan agar dimana setiap
komponen mengandung suatu zat tertentu yang mampu menunjang pertumbuhan jamur,
antara lain: (1) kentang (Potato) yang merupakan sumber karbohidrat yang mengandung
vitamin, dan mineral yang cukup tinggi. Fungsi kentang dalam penyusunan PDA adalah
mensuplai karbohidrat yang sangat diperlukan oleh jamur dalam pertumbuhannya, (2)
dekstrosa merupakan penyusun PDA yang sangat mempengaruhi pertumbuhan jamur.
Dekstrosa merupakan gugusan gula, baik monosakarida maupun polisakarida. Dekstrosa
umumnya menyediakan karbohidrat sebagai sumber energi dan unsur-unsur N, Na, Ca, dan K
yang berperan sebagai kofaktor enzim dalam pertumbuhan spora jamur,(3) agar yang
diperoleh dari tumbuhan berumbi yang menghasilkan glukosa. Agar merupakan polimer
sulfat yang sebagian besar terdiri atas D-galactosa, 3,6-anhidro-L-galactosa, dan asam Dglukoronik. Fungsi dari agar adalah untuk mengentalkan media sehingga mempermudah
dalam menumbuhkan dan mengisolasi jamur mikroskopis dan bagian-bagian jamur yang
lainnya.
Media PDA kemudian diinkubasi pada suhu ruang selama kurang lebih 7 hari. Setelah ada
pertumbuhan jamur pada media kemudian dibuatkan preparat langsung. Diambil sampel
jamur yang tumbuh pada media PDA dengan ose steril kemudian dihomogenkan pada objek
glass yang telah terisi KOH. Sediaan ditambahkan dengan larutan KOH 10 40 % dengan
maksud melarutkan keratin kulit atau kuku sehingga akan tinggal kelompok hifa. Sesudah 15
menit atau sesudah dipanasi di atas api kecil, jangan sampai menguap kemudian di lihat di
bawah mikroskop (Siregar, 2002).