Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang
bersifat degeneratif dan invasif. Seperti daging berbentuk segitiga, dan
umumnya bilateral di sisi nasal. Temuan patologik pada konjungtiva, lapisan
bowman kornea digantikan oleh jaringan hialin dan elastik. Jika pterigium
membesar dan meluas sampai ke daerah pupil, lesi harus diangkat
secara bedah bersama sebagian kecil kornea superfisial di luar daerah
perluasannya. Kombinasi autograft konjungtiva dan eksisi lesi terbukti
mengurangi resiko kekambuhan.( Voughan, 2009)
Di Indonesia yang melintas di bawah garis khatuliswa, kasus-kasus
pterygium cukup sering didapati. Mereka yang sering bekerja di bawah
cahaya matahari atau penghuni di negara tropika. Apalagi karena faktor
risikonya adalah paparan sinar matahari (UVA & UVB), dan bisa
dipengaruhi juga oleh papaparan alergen, iritasi berulang (misal karena debu
atau kekeringan), karena sering terdapat pada orang yang sebagian besar
hidupnya berada pada di lingkungan berangin, penuh sinar matahari,
berdebu dan berpasir. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2013
prevalensi pterigium di indonesia 8,3%, Prevalensi pterygium tertinggi
ditemukan di Bali (25,2%), diikuti Maluku (18,0%) dan Nusa Tenggara
Barat (17,0%). Provinsi DKI Jakarta mempunyai prevalensi pterygium
terendah, yaitu 3,7 persen, diikuti oleh Banten 3,9 persen. (Riskesda, 2013)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konjungtiva
2.1.1 Anatomi Konjungtiva

Konjungtiva adalah membran mukosa tembus cahaya yang melapisi


permukaan aspek posterior dari kelopak mata dan anterior bola mata. Nama
konjungtiva (conjoin: bergabung) diberikan kepada membran mukosa ini
karena fakta bahwa ia menhubungkan bola mata dengan kelopak mata.
Membentang dari pinggir kelopak mata ke limbus, dan membungkus ruang
kompleks yang disebut sakus konjungtiva yang terbuka di depan fisura
palpebral. (Khurana, 2007)
Konjungtiva dapat dibagi menjadi 3 bagian :

Konjungtiva palpebralis. Bagian ini melapisi permukaan dalam


kelopak mata dan melekat kuat pada tarsus. Konjungtiva palpebralis
terbagi 3 yakni konjungtiva marginal, tarsal, orbital. Konjungtiva
marginal membentang dari tepi kelopak mata sekitar 2 mm pada bagian
belakang kelopak sampai ke alur dangkal, yakni sulkus subtarsalis.
Bagian ini sebenarnya zona transisi antara kulit dan konjungtiva lebuih
tepatnya. Konjungtiva tarsal tipis, transparan dan banyak mengandung
vaskular. Bagian ini melekat kuat pada seluruh tarsal kelopak mata
atas. Pada kelopak mata bawah, hanya melekat pada setengah bagian
tarsal. Konjungtiva orbital terletak longgar antara tarsal dan forniks.
(Khurana, 2007)

Konjungtiva bulbaris. melekat longgar pada sclera dan melekat lebih


erat pada limbus kornea. Di sana epitel konjungtiva bergabung dangan
epitel kornea.2,11 bagian ini dipisahkan dari sklera anterior oleh jaringan
episcleral dan kapsul Tenon. Terdapat sebuah dataran tinggi 3-mm dari
konjungtiva

bulbaris

sekitar

kornea

disebut

konjungtiva limbal. (Khurana, 2007)

Konjungtiva fornix, merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal


dengan konjungtiva bulbi. Lain halnya dengan konjungtiva palpebra
yang melekat erat pada struktur sekitarnya, konjungtiva fornix ini
melekat secaralonggar dengan struktur dibawahnya yaitu fasia
muskulus levator palpebra superior serta muskulus rektus. Karena
perlekatannya bersifat longgar, maka konjungtiva fornix dapat bergerak

bebas bersama bola mata ketika otot-otot tersebut berkontraksi. (Lang,


2006)
Secara histologis, konjungtiva terdiri dari tiga lapisan yaitu epitel,
lapisan adenoid, dan lapisan fibrosa.
1.

Epitel. Lapisan sel epitel di konjungtiva bervariasi pada masing-masing


daerah

dan

dalam

bagian-bagian

sebagai berikut: Konjungtiva

marginal memiliki 5 lapis epitel sel gepeng bertingkat. Konjungtiva


tarsal memiliki 2 lapis epitel: lapisan superficial terdiri dari sel-sel
silinder dan lapisan dalam terdiri dari sel-sel datar. Konjungtiva forniks
dan bulbaris memiliki 3 lapis epitel: lapisan superfisial terdiri dari sel
silindris, lapisan tengah terdiri dari sel polyhedral dan lapisan dalam
terdiri dari sel kubus. Limbal konjungtiva memiliki lagi lapisan yang
banyak (5 sampai 6 lapis) epitel berlapis gepeng.
2.

Lapisan adenoid. Lapisan ini disebut juga lapisan limfoid dan terdiri dari
retikulum jaringan ikat halus dengan jerat dimana terdapat limfosit.
Lapisan ini paling pesat perkembangannya di forniks. Lapisan ini tidak
ditemukan ketika bayi lahir tapi akan berkembang setelah 3-4 bulan
awal kehidupan. Hal ini menjelaskan bahwa peradangan konjungtiva
pada bayi tidak menghasilkan reaksi folikuler.

3.

Lapisan fibrosa. Lapisan ini terdiri dari serat kolagen dan serat elastis.
Lapisan

ini lebih tebal dari lapisan adenoid, kecuali di daerah

konjungtiva tarsal, di mana lapisan ini sangat tipis. Lapisan ini


mengandung pembuluh dan saraf dari konjungtiva. Lapisan ini bersatu
dengan mendasari kapsul Tenon di daerah konjungtiva bulbar.
(Khurana, 2007)
Konjungtiva berisi dua jenis kelenjar, yakni kelenjar sekresi musin
dan kelenjar lakrimalis aksesoris. Kelenjar ini terdiri dari sel goblet
(kelenjar uniseluler yang terletak di dalam epitel), Crypts of Henle (terdapat
di konjungtiva tarsal) dan kelenjar Manz (ditemukan dalam konjungtiva
limbal). Kelenjar-kelenjar ini mensekresi mucus yang penting untuk

membasahi kornea dan konjungtiva. Kelenjar lakrimalis aksesoris terdiri


dari: Kelenjar Krause (terdapat pada jaringan ikat subconjunctival forniks,
sekitar 42 buah di atas forniks dan 8 buah di bawah forniks) dan kelenjar
Wolfring (terdapat di sepanjang batas atas tarsus superior dan sepanjang
batas bawah tarsus inferior). (Khurana, 2007)

Gambar 1. Konjungtiva terdiri dari konjungtiva bulbaris, konjungtiva


forniks, konjungtiva palpebralis.

Gambar 2. Vaskularisasi Konjungtiva


Plica semilunaris merupakan lipatan seperti bulan sabit berwarna
merah muda dari konjungtiva yang terdapat di kantus medial. Batas bebas
lateralnya berbentuk cekung. Korunkula adalah massa kecil, oval, merah
muda, terletak di canthus bagian dalam. Pada kenyataannya, massa ini
merupakan potongan modifikasi kulit dan ditutupi dengan epitel gepeng
bertingkat dan berisi kelenjar keringat, kelenjar sebasea dan folikel rambut.
(Khurana, 2007)
Arteri yang memperdarahi konjungtiva berasal dari tiga sumber
yakni arkade arteri perifer palpebra, arkade arteri marginal kelopak mata,
dan arteri ciliaris anterior. Konjungtiva palpebralis dan forniks diperdarahi
oleh cabang-cabang dari arkade arteri perifer dan marginal palpebra.
Konjungtiva bulbar diperdarahi oleh dua set pembuluh darah yaitu: arteri
konjungtiva posterior yang merupakan cabang dari arteri kelopak mata, dan
arteri konjungtiva anterior yang merupakan cabang dari arteri ciliaris
anterior. Cabang terminal arteri konjungtiva posterior membentuk
anastomosis dengan arteri konjungtiva anterior dan membentuk arkade
pericorneal. Vena konjungtiva bermuara ke dalam vena pleksus kelopak
mata dan beberapa mengelilingi kornea dan bermuara ke vena ciliaris
anterior. Sistem limfatik konjungtiva tersusun dalam dua lapisan, yakni

superficial dan profunda. Sistem ini dari sisi lateral bermuara ke limfonodus
preaurikuler dan sisi medial bermuara ke limfonodus submandibular.
Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan nervus trigeminus yaitu
nervus oftalmikus. Saraf ini memiliki serabut nyeri yang relatif sedikit.
(Laszuarni, 2009)

2.2 PTERIGIUM
2.2.1 Definisi
Menurut American Academy of Ophthalmology pterigium adalah
kata dari bahasa Yunani, pterygos, "sedikit sayap") adalah berbentuk sayap,
pembuluh darah, pertumbuhan berdaging yang berasal dari konjungtiva dan
yang dapat menyebar ke limbus kornea dan seterusnya. (AAO, 2012)
Pterigium (L. Pterygion = sayap) adalah suatu proses degeneratif dan
hiperplastik dengan fibrovaskular berbentuk segitiga (sayap) yang muncul
pada konjungtiva, tumbuh terarah dan menginfiltrasi permukaan kornea
antara lain lapisan stroma dan membrana Bowman. (Dzunic, 2010)
Pterigium adalah suatu penebalan konjungtiva bulbi yang berbentuk
segitiga, mirip daging yang menjalar ke kornea, pertumbuhan fibrovaskular
konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif . pertembuhan ini biasanya
terletak pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang
meluas ke daerah kornea.
Dulu penyakit ini dianggap sebagai suatu kondisi degeneratif,
pterigium juga menampilkan ciri-ciri seperti tumor, seperti kecenderungan
untuk menginvasi jaringan normal dan tingkat rekurensi yang tinggi setelah
reseksi, dan dapat hidup berdampingan dengan lesi premalignan sekunder.
Banyak literatur melaporkan faktor-faktor etiologi berikut yang mungkin
menjadi penyebab terjadinya pterigium: radiasi ultraviolet (UV), radang
mata kronis, efek toksik zat kimia. Baru-baru ini, beberapa virus juga
memiliki kemungkinan sebagai salah satu faktor etiologi. (Dzunic, 2010)

2.2.2 Epidemiologi
Pterigium merupakan kelainan mata yang umum di banyak bagian
dunia, dengan prevalensi yang dilaporkan berkisar antara 0,3%-29%. Studi
epidemiologis menemukan adanya asosiasi terhadap paparan sinar matahari
yang kronis, dengan meningkatnya

prevalensi geografis dalam peri-

khatulistiwa garis lintang 370 utara dan selatan

khatulistiwa 'sabuk

pterigium'. (Saerang, 2013)


Sebuah studi epidemiologis oleh Gazzard dkk melaporkan

orang

berkulit hitam (usia 40-84 tahun) di Barbados, yang terletak di daerah tropis
13 utara khatulistiwa, memiliki tingkat prevalensi yang sangat tinggi
(23,4%) sedangkan tingkat prevalensi orang kulit putih di perkotaan (usia
40-101 tahun)
pterigium

Melbourne, Australia kurang dari (1,2%). Prevalensi

orang kulit putih lebih dari 40 tahun di pedesaan Australia

(6,7%), dan di perkotaan orang Cina Singapura yang lebih dari 40 memiliki
tingkat prevalensi (6.9%). Penelitian ini juga melaporkan orang Indonesia
lebih dari 40 tahun, tingkat prevalensinya di Sumatera (16,8%) yakni lebih
tinggi daripada semua ras lainnya yang telah dipelajari sebelumnya, kecuali
dengan penduduk kulit hitam dari Barbados. (Gazzar, 2002)
Secara umum studi lain pterigium, prevalensi pterigium di Sumatera
meningkat seiring bertambahnya usia. Hal yang jarang terjadi untuk
seseorang menderita pterigium sebelum usia 20 tahun. Pasien lebih dari dari
40 tahun memiliki prevalensi tertinggi untuk terjadinya pterigium,
sementara pasien berusia 20-40 tahun dilaporkan memiliki insiden tertinggi
terjadinya pterigium. Hal yang berbeda dengan beberapa studi dimana
pterigium ditemukan lebih banyak pada laki-laki.
2.2.4 MORBIDITAS DAN MORTALITAS
Pterygium bisa menyebabkan perubahan yang sangat berarti dalam
fungsi visual atau penglihatan pada kasus yang kronis. Mata bisa menjadi
inflamasi sehingga menyebabkan iritasi okuler dan mata merah. (Fisher, 20
Berdasarkan beberapa faktor diantaranya :

1. Jenis Kelamin
Pterygium dilaporkan bisa terjadi pada golongan laki-laki dua kali
lebih banyak dibandingkan wanita. (Fisher, 2009)
2. Umur
Jarang sekali orang menderita pterygium umurnya di bawah 20
tahun. Untuk pasien umurnya diatas 40 tahun mempunyai prevalensi yang
tertinggi, sedangkan pasien yang berumur 20-40 tahun dilaporkan
mempunyai insidensi pterygium yang paling tinggi. (Fisher, 2009)
2.2.4 Etiologi
Ada sejumlah teori mencoba untuk menjelaskan patogenesis
pterygium Namun, etiologi belum ditentukan. Kebanyakan penelitian telah
menunjukkan variasi geografis dalam insiden, dengan negara-negara yang
lebih dekat ke khatulistiwa yang menunjukkan tingkat yang lebih tinggi
terjadinya pterigium. (AAO,2012). Diperkirakan penyakit ini sering terjadi
pada orang yang tinggal di iklim panas. oleh karena itu kontak yang terlalu
lama terhadap sinar ultraviolet, panas, angin tinggi dan debu dapat
menyebabkan pembentukan pterygia. Baru-baru ini, beberapa virus juga
memiliki disebut-sebut sebagai faktor etiologi mungkin. (Swastika, 2008)
Efek merusak dari sinar UV menyebabkan penurunan sel induk
limbal pada kornea, yakni menyebabkan terjadinya insufisiensi limbal. Hal
ini

mengaktifkan

faktor

pertumbuhan

jaringan

yang

menginduksi

angiogenesis dan proliferasi sel. Radiasi cahaya UV tipeB menjadi faktor


lingkungan yang paling signifikan dalam patogenesis pterigium. Penelitian
terbaru telah melaporkan bahwa gen p53 dan human papillomavirus dapat
juga terlibat dalam patogenesis pterigium. (Dzunic, 2010).

2.2.5 PATOFISIOLOGI
Patofisiologi pterygium terjadinya pterigium sangat berhubungan erat
dengan paparan sinar matahari, walaupun dapat pula disebabkan oleh udara yang
kering, inflamasi, dan paparan terhadap angin dan debu atau iritan yang lain. UV-B
merupakan faktor mutagenik bagi tumor supressor gen P53 yang teradapat pada
stem sel basal di limbus. Ekspresi berlebihan sitokin seperti TGF- dan VEGF
( vascular endothelial growth factor) menyebabkan regulasi kolagenese, migrasi
sel, dan angigenesis. Akibat terjadinya perubahan degenerasi kolagen dan terlihat
jaringan subepitelial fibrovaskular. Jaringan subkonjungtiva mengalami degenerasi
elastoid (degenerasi basofilik) dan proliferasi jaringan granulasi fibrovaskular
dibawah epitel yaitu substansia propia yang akhirnnya menembus kornea.
Kerusakan kornea terdapat pada lapisan membran bowman yang disebabkan oleh
pertumbuhan jaringan fibrovaskular dan sering disertai dengan inflamasi ringan.
Kerusakan membran bowman ini akan mengeluarkan substrat yang diperlukan
untuk pertumbuhan pterigium. Epitel dapat normal, tebal atau tipis dan kadang
terjadi dysplasia. (Drakeiron, 2009)
Defisiensi Limbal Stem cell, Limbal stem cell adalah sumber regenerasi
epitel kornea. Pada keadaan defisiensi limbal stem cell, terjadi konjugtivalisasi
pada permukaan kornea. Gejala dari defisiensi limbal adalah pertumbuhan
konjungtiva ke kornea, vaskularisasi, inflamasi kronis, kerusakan membran
basement dan pertumbuhan jaringan fibrotik. Tanda ini juga ditemukan pada
pterigium dan oleh karena itu banyak penelitian yang menunjukkan bahwa
pterigium merupakan defisiensi atau disfungsi localized interpalpebral limbal stem
cell. Pterigium ditandai dengan degenerasi elastotik dari kolagen serta proliferasi
fibrovaskuler yang ditutupi oleh epitel. Pada pemeriksaaan histopatologi daerah
kolagen abnormal yang mengalami degenerasi elastolik tersebut ditemukan
basofilia dengan menggunakan pewarnaan Hematoxylin dan Eosin, pemusnahan
lapisan Bowman oleh jaringan fibrovascular sangat khas, epitel diatasnya biasanya
normal, tetapi mungkin acanthotic, hiperkeratotik, atau bahkan displastik dan
sering menunjukan area hiperplasia dari sel goblet. (Chui, 2011)

Gambar. (A)Patogenesis pterigium: kerusakan limbal fokal oleh karena


sinar UV memicu migrasi mutasi limbal stem cell ke central kornea.
( B) defisiensi limbal stem cell menyebabkan conjungtivalization kornea
dari segala arah
2.2.6 Klasifikasi
Pterigium dapat dibagi ke dalam beberapa klasifikasi berdasarkan tipe,
stadium, progresifitasnya dan berdasarkan terlihatnya pembuluh darah
episklera, yaitu:
1. Berdasarkan tipenya pterigium dibagi atas 3:
Tipe I: Pterigium kecil, dimana lesi hanya terbatas pada limbus
atau menginvasi kornea pada tepinya saja. Lesi meluas <2 mm
dari kornea. Stockers line atau deposit besi dapat dijumpai pada
epitel kornea dan kepala pterigium. Lesi sering asimptomatis,
meskipun sering mengalami inflamasi ringan. Pasien yang

memakai lensa kontak dapat mengalami keluhan lebih cepat.


Tipe II: disebut juga pterigium tipe primer advanced atau
pterigium rekuren tanpa keterlibatan zona optic. Pada tubuh
pterigium sering nampak kapiler-kapiler yang membesar. Lesi
menutupi kornea sampai 4 mm, dapat primer atau rekuren

setelah operasi, berpengaruh dengan tear film dan menimbulkan

astigmat.
Tipe III: pterigium primer atau rekuren dangan keterlibatan zona
optic.

Merupakan

bentuk

pterigium

yang

paling

berat.

Keterlibatan zona optic membedakan tipe ini dengan tipe yang


lain. Lesi mengenai kornea >4mm dan mengganggu aksis visual.
Lesi yang luas khususnya pada kasus rekuren dapat berhubungan
dengan fibrosis subkonjungtiva yang meluas ke forniks dan
biasanya menyebabkan gangguan pergerakan bola mata serta
kebutaan. (Kanski, 2006)
2. Berdasarkan stadium pterigium dibagai ke dalam 4 stadium yaitu:
Stadium 1 : invasi minimum, pertumbuhan lapisan yang
transparan dan tipis, pertumbuhan pembuluh darah yang tipis

hanya terbatas pada limbus kornea.


Stadium 2: lapisan tebal, pembuluh darah profunda tidak

kelihatan dan menginvasi kornea tapi belum mencapai pupil.


Stadium 3:lapisan tebal seperti daging yang menutupi pupil,

vaskularisasi yang jelas


Stadium 4: pertumbuhan telah melewati pupil.

Gambar. Grade Pterygium

3. Berdasarkan perjalanan penyakitnya, pterigium dibagi menjadi 2


yaitu:
Pterigium progresif: tebal dan vaskular dengan beberapa
infiltrate di kornea di depan kepala pterigium (disebut cap dari
pterigium)

Pterigium regresif:tipis,atrofi, sedikit vaskular. Akhirnya menjadi

bentuk membrane, tetapi tidak pernah hilang.


4. Berdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera di pterigium dan
harus diperiksa dengan slitlamppterigium dibagi 3 yaitu:
T1(atrofi):pembuluh darah episkleral jelas terlihat.
T2(intermediet):pembuluh darah episkleral sebagian terlihat.
T3(fleshy,opaque):pembuluh darah tidak jelas. (Suharjo, 2011)
2.2.7 Gambaran Klinis
Gejala klinis pada tahap awal biasanya ringan bahkan sering tanpa
keluhan sama sekali. Pterigium hanya akan bergejala

ketika bagian

kepalanya menginvasi bagian tengah kornea. Beberaapa keluhan yang


sering dialami pasien seperti mata sering berair dan tampak merah, merasa
seperti ada benda asing. (Ilyas, 2007). Adanya kekuatan tarikan yang
terjadi pada kornea dapat menyebabkan astigmatisme kornea. Pterigium
lanjut yang menyebabkan skar pada jaringan konjungtiva juga dapat secara
perlahan-lahan mengganggu motilitas okular, pasien kemudian akan
mengalami penglihatan ganda atau diplopia. (Anton, 2010)

Gambar 6. Pterigium
2.2.8 Diagnosis
Anamnesis
Pada anamnesis didapatkan adanya keluhan pasien seperti mata
merah, gatal, mata sering berair, gangguan penglihatan. Selain itu perlu juga
ditanyakan adanya riwayat mata merah berulang, riwayat banyak bekerja di

luar ruangan pada daerah dengan pajanan sinar matahari yang tinggi, serta
dapat pula ditanyakan riwayat trauma sebelumnya. (Laszuarni, 2009)
Pemeriksaan fisik
Adanya massa jaringan kekuningan akan terlihat pada lapisan luar
mata (sclera) pada limbus, berkembang menuju ke arah kornea dan pada
permukaan kornea. Sclera dan selaput lendir luar mata (konjungtiva) dapat
merah akibat dari iritasi dan peradangan.

Gambar. Pterigium
keterangan:
A.

Cap: Biasanya datar, terdiri atas zona abu-abu pada kornea yang kebanyakan terdiri atas fibroblast, menginvasi
dan menghancurkan lapisan bowman pada kornea

B.

Whitish: Setelah cap, lapisan vaskuler tipis yang menginvasi kornea

C.

Badan: Bagian yang mobile dan lembut, area yang vesikuler pada konjunctiva bulbi, area paling ujung

Berbentuk segitiga yang terdiri dari kepala (head) yang mengarah ke


kornea

dan

badan.

Derajat

pertumbuhan

pterigium

ditentukan

berdasarkan bagian kornea yang tertutup oleh pertumbuhan pterigium,


dan dapat dibagi menjadi 4 (Gradasi klinis menurut Youngson ):

Derajat 1
Derajat 2

tidak lebih dari 2 mm melewati kornea


Derajat 3
: Jika pterigium sudah melebihi derajat dua tetapi

: Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea


: Jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi

tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal

(diameter pupil sekitar 3-4 mm)


Derajat 4
: Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil
sehingga mengganggu penglihatan. (www.inascrs,2011)

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan pada pterigium adalah
topografi kornea untuk menilai seberapa besar komplikasi berupa
astigmtisme ireguler yang di sebabkan oleh pterigium. (Fisher, 2011)
2.2.9 Penatalaksanaan
1. Konservatif
Pada pterigium yang ringan tidak perlu di obati. Penanganan pterigium
pada tahap awal adalah berupa tindakan konserfatif seperti penyuluhan
pada pasien untuk mengurangi iritasi maupun paparan sinar ultraviolet
dengan menggunakan kacamata anti UV dan pemberian air mata buatan
atau topical lubricating drops. (Anton,2010)
2. Bedah
Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi
pterigium. Sedapat mungkin setelah avulsi pterigium maka bagian
konjungtiva bekas pterigium tersebut ditutupi dengan cangkok
konjungtiva yang diambil dari konjugntiva bagian superior untuk
menurunkan angka kekambuhan. Tujuan utama pengangkatan pterigium
yaitu memberikan hasil yang baik secara kosmetik, mengupayakan
komplikasi seminimal mungkin, angka kekambuhan yang rendah.
Penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus
pterigium yang rekuren, mengingat komplikasi dari pemakaian MMC
juga cukup berat. (inascrs,2011)
A. Indikasi Operasi
1. Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus
2. Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi
pupil
3. Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair dan
silau karena astigmatismus
4. Kosmetik, terutama untuk penderita wanita.
B. Teknik Pembedahan
Tujuan utama pembedahan adalah untuk sepenuhnya
mengeluarkan pterigium dan untuk mencegah terjadinya rekurensi.8

Berbagai teknik bedah yang digunakan saat ini untuk pengelolaan


pterigium.
1. Bare sclera : bertujuan untuk menyatukan kembali konjungtiva
dengan permukaan sclera. Kerugian dari teknik ini adalah
tingginya tingkat rekurensi pasca pembedahan yang dapat
mencapai 40-75%.
2. Simple closure: menyatukan langsung sisi konjungtiva yang
terbuka, dimana teknik ini dilakukan bila luka pada konjungtiva
relative kecil.
3. Sliding flap : dibuat insisi berbentuk huruf L disekitar luka bekas
eksisi untuk memungkinkan dilakukannya penempatan flap.
4. Rotational flap: dibuat insisi berbentuk huruf U disekitar luka
bekas eksisi untuk membentuk seperti lidah pada konjungtiva
yang kemudian diletakkan pada bekas eksisi.
5. Conjungtival graft: menggunakan free graft yang biasanya
diambil dari konjungtiva bulbi bagian superior, dieksisi sesuai
dengan ukuran luka kemudian dipindahkan dan dijahit atau
difiksasi dengan bahan perekat jaringan. (Skuta, 2008)
Rekurensi menjadi masalah setelah dilakukan bedah eksisi yakni
sekitar 30-50%. Tapi hal ini dapat di minimalisir dengan cara berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Penggunaan mitomicin C intra dan post operasi


Post poerasi beta iradiasi
Conjungtival autograft
Limbal and limbalconjunctival transplantation
Amniotic membrane transplantation
Cultivated conjunctival transplantation
Lamellar keratoplasty
Fibrin glue

2.2.10 Diagnosis Banding


1. Pinguekula
Pinguecula sangat sering terjadi pada orang dewasa. Keadaan ini
tampak sebagai nodul kuning pada kedua sisi kornea (lebih banyak di sisi
nasal) di daerah apertura palpebra. Nodul terdiri dari jaringan hialin dan
jaringan elastik kuning, jarang bertumbuh besar, tetapi sering meradang.
Pada umumnya tidak diperlukan terapi, tetapi pada kasus pengeculitis

tertentu, dapat diberikan steroid topikal lemah (misal prednisolone 0.12%)


atau obat anti inflamasi non-steroid topikal). (Voughan, 2009)

Gambar. Pinguecula
2. Pseudopterigium
Pseudopterigium terjadi akibat pembentukan jaringan parut pada
konjungtiva yang berbeda dengan pterigium, dimana pada pseudopterigium
terdapat adhesi antara konjungtiva yang sikatrik dengan kornea dan sklera.
Pseudopterigium didahului riwayat kerusakan permukaan kornea sedangkan
pterigium tidak. Kadang- kadang dapat dibedakan dengan melihat pembuluh
darah konjungtiva yang lebih menonjol pada pterigium daripada
pseudopterigium. Pada pseudopterigium pembuluh darah konjungtiva sesuai
dengan konjungtiva bulbi normal. (Ilyas, 2007)

Gambar. Pseudopterigium
2.2.11 Komplikasi

1. Komplikasi dari pterigium meliputi sebagai berikut


Gangguan penglihatan-Mata kemerahan
Iritasi
Gangguan pergerakan bola mata.
Timbul jaringan parut kronis dari konjungtiva dan kornea
Dry Eye sindrom.
2. Komplikasi post-operatif bisa sebagai berikut:
Infeksi
Ulkus kornea
Graft konjungtiva yang terbuka
Diplopia
Adanya jaringan parut di kornea.
Yang paling sering dari komplikasi bedah pterigium adalah
kekambuhan. Eksisi bedah memiliki angka kekambuhan yang tinggi, sekitar
50-80%. Angka ini bisa dikurangi sekitar 5-15% dengan penggunaan
autograft dari konjungtiva atau transplant membran amnion pada saat eksisi.
(Fisher,2011)
2.2.12 Prognosis
Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik.
Kebanyakn pasien dapat beraktivitas lagi setelah 48 jam post operasi. Pasien
dengan pterigium rekuren dapat dilakukan eksisi ulang dan graft dengan
konjungtiva auto graft atau transpalantasi membrane amnion. (Fisher,2011)

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pterigium merupakan pertumbuhan jaringan berbentuk segitiga
yang meluas dari konjungtiva hingga menutupi kornea. salah satu dari
sekian banyak kelainan pada mata, hal ini di sebabkan oleh letak
geografis yang berada digaris khatulistiwa sehingga banyak terpapar
oleh sinar ultraviolet yang merupakan salah satu faktor penyebab dari
piterigium. Pterigium banyak diderita oleh laki-laki karena umumnya
aktivitas laki-laki lebih banyak di luar ruangan, serta dialami oleh
pasien di atas 40 tahun karena faktor degeneratif.
Penderita dengan pterigium dapat tidak menunjukkan gejala
apapun (asimptomatik), bisa juga menunjukkan keluhan mata iritatif,
gatal, merah, sensasi benda asing hingga perubahan tajam penglihatan
tergantung dari stadiumnnya.
Terapi dari pterigium umumnya tidak perlu diobati, hanya
perawatan secara konservatif dengan memberikan obat anti inflamasi
jika ada inflamasi dan menggunakan kacamata untuk melindungi dari
sinar UV. Pada pembedahan akan dilakukan jika piterigium tersebut

sudah sangat mengganggu bagi penderita. Pada pembedahan pun


hasilnya juga kurang maksimal karena angka kekambuhan yang cukup
tinggi mengingat tingginya kuantitas sinar UV di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ;


2007. hal:2-6, 116 117
2. Kanski JJ. Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach; Edisi 6.
Philadelphia:Butterworth Heinemann Elsevier. 2006 :242-244.
3. Voughan & Asbury. Oftalmologi umum , Paul Riordan-eva, John P.
Whitcher edisi 17Jakarta : EGC, 2009 Hal 119
4. American Academy of Ofthalmology. 2012. www.AAO.org
5. www.inascrs.org/pterygium/
1. Dzunic B, Jovanovic P, et al. Analysis of pathohistological
characteristics of pterigium . BOSNIAN JOURNAL OF BASIC
MEDICAL SCIENCE. 2010;10(4):308-13.
2. Khurana KA. Diseases of the Conjunctiva. In:, Khurana KA, editors.
Comprehensive Ophthalmology 4th ed. New Delhi: New Age
International. 2007. p. 51 - 82.
3. Chui J, Coroneo TM, et al. Ophthalmic Ptrygium A Stem Cell
Disorder with Premalignant Features. The American Journal of
Pathology. 2011;178(2):817-27.
4. Ang KPL, Chua LLJ, Dan HTD. Current concepts and techniques in
pterigium treatment. Curr Opin Ophthalmol. 2006; 18: 308313.
5. Gazzard G, Saw MS, et al. Pterigium in Indonesia: prevalence,
severity, and risk factors. Br J Ophthalmol .2002;86:134146.
6. Fisher PJ. Pterigium. Updated : 2012. Available from: URL:
http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview. Accessed
July 7,2012.

7. Lang KG, Lang EG. Conjunctiva. In:, Lang KG, Gareis O, Lang EG,
Recker D, Wagner P, editors. Ophthalmology: A Pocket Textbook
Atlas 2nd ed. New York: Thieme Stuttgart. 2006. p. 67 - 72.
8. Laszuarni. Prevalensi Pterigium di Kabupaten Langkat. Updated :
2009. Available from: URL: repository.usu.ac.id. Accessed July 7 ,
2012.
Anton,

dkk.

Pterigium.

2010.

Availableble

from

www.

Inascrs.org/pterygium/
Caldwell,

M.

Pterygium.

2011.

Available

from:

www.eyewiki.aao.org/Pterygium
Drakeiron.

Pterigium.

2009.

Available

from:

http://drakeironn.wordpress.com/infopterigium
Erry, Mulyani, UA., Susilowati, D. 2013. Distribusi Dan Karakteristik
Pterigium Di Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Skuta, Gregory L. Cantor, Louis B. Weiss, Jayne S. 2008. Clinincal
Approach To Depositions And Degenerations Of The Conjungtiva,
Cornea, Sclera. In: External Disease Nd Cornea. San Fransisco :
Americam Academy Of Ophtamology
Suharjo. 2007. Ilmu Kesehatan Mata edisi I. Yogyakarta : Bagian Ilmu
Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada