Anda di halaman 1dari 17

BANGUNAN UKUR DEBIT

CIPOLETTI
Disusun oleh :

Ari Kurnia Yuda


Hendrika Yuliana Putra
Maulana Aviv Friansa
Nizar Taufiqu Risqi
Rachmansyah Iqbal D
Windarti Eko Rahayu

130523612736
130523612688
130523612683
130523612748
130523612738
130523612700

LATAR BELAKANG
Bangunan air untuk irigasi merupakan bangunan utama yang dibangun
disungai atau saluran untuk memenuhi kebutuhan air irigasi. Jenis bangunan
harus dipilih dan disesuaikan dengan jumlah air yang ada di sungai tersebut,
daerah yang akan diairi, dan jenis tanaman yang akan dikembangkan. Pada
bangunan irigasi terdapat bangunan yang sangat penting untuk perhitungan
debit. Yaitu bangunan ukur debit. Bangunan ukur debit dibagi menjadi :
a. Ambang lebar
b. Cipoletti
c. Thompson
d. Romijn

RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :
a. Apa itu debit dan bangunan ukur debit ?
b. Apa syarat syarat bangunan ukur debit Cipoletti ?
c. Dimana penempatan dari bangunan ukur debit Cipoletti ?
d. Bagaimanakah rumus rumus yang digunakan dalam perhitungan debit
dari hasil pengukuran bangunan ukur debit Cipoletti ?
e. Apa kelebihan serta kekurangan bangunan ukur debit Cipoletti ?

PENGERTIAN DEBIT DAN BANGUNAN UKUR DEBIT


Debit adalah suatu koefisien yang menyatakan banyaknya air yang
mengalir dari suatu sumber persatu-satuan waktu, biasanya diukur dalam
satuan liter / detik.

Bangunan ukur debit merupakan bangunan untuk mengukur debit dengan


mengetahui tinggi permukaan dan bentuk penampang bangunan itu
sendiri. Secara umum pengukuran debit dipermukaan bebas dilakukan
untuk mengetahui berapa debit yang terjadi untuk pemanfaatan atau
pengendalian aliran dari saluran tersebut.

BANGUNAN UKUR DEBIT CIPOLETTI


Alat Ukur Debit Cippolleti adalah suatu alat ukur debit berdasarkan
peluapan sempurna dengan ambang tipis. Alat ukur debit ini digunakan untuk
mengukur debit saluran yang tidak begitu besar, dan biasa dipakai pada
saluran terti-air (saluran yang langsung ke sawah).Alat ini sesuai dipakai di
pegunungan dimana tanah mempunyai kemiringan yang cukup besar
(Yuwono, 1988).

RUMUS RUMUS DEBIT DENGAN BANGUNAN


UKUR DEBIT CIPOLETTI
Rumus umum yang menghubungkan ketinggian muka air ( h ) dan debit
(Q) untuk alat ukur ambang Cipoletti adalah sebagai berikut :

2
3/ 2
Q .C d .b.h
3
Keterangan rumus:
Q = debit air (m3/det)
Cd = koefisien debit
b = lebar ambang (m)
h = tinggi muka air (m)
g

= gravitasi (9,8 m/s2)

2.g

Aliran air permukaan bebas terjadi kontraksi aliran di muka ambang


tajam sehingga Cd = 0,63 maka persamaan alat ukur Cipoletti menjadi:

Q 0,42.b.h 2 g h

Q 1,86.b.h

3/ 2

AKURASI BANGUNAN UKUR DEBIT CIPOLETTI


Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam akurasi bangunan ukur
debit Cipoletti :
a.Head (beda elevasi pada ambang dengan muka air di hulu) tidak lebih
kecil dari 6 cm dan tidak lebih besar dari 60 cm untuk debit aliran
yang dirancang.
b.Untuk weir berbentuk trapesium, head tidak melebihi 1/3 dari
panjang weir atau lebar ambang (H max 1/3 L).
c.Lebar ambang weir harus dipilih sedemikian rupa sehingga
head untuk debit rencana mendekati head maksimum dengan
memperhatikan persyaratan (a) dan (b).
d.Elevasi ambang (crest) harus dipasang cukup tinggi sehingga

SYARAT SYARAT BANGUNAN UKUR DEBIT


CIPOLETTI
Dalam bangunan ukur debit Cipoletti harus memenuhi syarat sebagai
berikut :
a. Air permukaan harus mengalir tenang, agar tinggi muka air dapat dibaca
seksama pada papan taraf yang dipasang dimuka tembok sekat sebelah
udik.
b. Ambang pelimpang dipasang cukup jauh dari pintu sadap saluran, yakni
antara 12 sampai 30 meter.
c. Tinggi ambang harus diambil paling sedikit 2 h diatas dasar saluran
sebelah atas.
d. Jarak antara pinggir lubang pelimpah dan dinding saluran harus diambil
paling sedikit sama h.

TEMPAT YANG TEPAT PEMAKAIAN BANGUNAN


UKUR DEBIT CIPOLETTI
Bangunan ukur debit Cipoletti meminta tinggi tekanan yang agak besar.
Menurut Prof. Ir. Soetedjo C.I. (1986), realisasi bangunan ukur debit cipoletti
cocok pada dataran tinggi atau pengunungan, dimana pada umumnya
saluran saluran dibuatnya dengan kemiringan besar. Didataran rendah
pembuatan alat ukur Cipoletti memberi kesukaran karena pada umumnya
tekanan tidak cukup

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN BANGUNAN


UKUR DEBIT CIPOLETTI
a. Kelebihan bangunan ukur debit Cipoletti
Sederhana dan mudah dibuat
Biaya pelaksanaannya tidak mahal
b. Kelemahan bangunan ukur debit Cipoletti
Terjadi sedimentasi dihulu bangunan
Pengukuran debit tidak bisa dilakukan jika muka air hilir naik
diatas elevasi ambang bangunan ukur.

KEGIATAN PEMELIHARAAN BANGUNAN UKUR


SUPAYA BEKERJA SECARA BAIK MELIPUTI:
a. Memelihara kolam tenang (pool) bebas dari endapan, sampah dan gulma
air
b. Mencegah bocoran melalui weir
c. Pengecekan elevasi titik nol tiang ukur (peilschaal).
d. Pengecekan kondisi ambang dan perbaikan apabila diperlukan.

CONTOH DATA PERENCANAAN :


Data perencanaan (PT. S.D. Ka Ka 4)
Q= 0,189 m3/dt
B = 0,5660 m
h1 = 0,3777 m
W = 0,126 m
V= 0,5323 m/dt
Z = 1,0

Keterangan gambar:
B = Lebar Ambang (m)
h = Tinggi Muka Air Diatas Ambang (m)
D = Tinggi Ambang (m)

PENYELESAIAN
H

=D+h

= 2h

= 0,2518 + 0,1259

= 2(0,1259)

= 0,3777

= 0,2518 m
Q

= 1,86 BH3/2

= 1/3(0,3777)

0,189

= 1,86(B)(0,37773/2)

= 0,1259 m

0,189

= 1,86(B) 0,232

= 1/3H

1,86(B) = 0,8142
B

= 0,4377

KESIMPULAN
Banguan air untuk irigasi merupakan bangunan utama di sungai untuk
penyaluran air untuk kebutuhan pengairan lahan pertanian ataupun
perkebunan. Banguan air untuk irigasi harus disesuaikan dengan kondisi
lingkungan, seperti topografi dan juga debit dari sungai tersebut.
Bangunan pengukur debit Cipoletti sangat sesuai dengan kondisi kemiringan
tanah yang tinggi, seperti pegunungan ataupun daerah dataran tinggi yang
memiliki kemiringan tanah yang tinggi.
Bangunan ukur debit cipoletti memerlukan perawatan yang rutin, karena
bangunan ini sering terjadi pengendapan dihulu, dan juga pengukuran debit
tidak bisa dilakukan jika muka air hilir naik diatas elevasi ambang bangunan
ukur.

TERIMA KASIH ATAS PERHATIANYA