Anda di halaman 1dari 3

Analisa Mengenal ISIS (Islamic State in Iraq and Al-Sham)

July 16, 2014 at 9:27pm


Analisa : Mengenal ISIS (Islamic State in Iraq and Al-Sham)
- Nama ISIS (Islamic State in Iraq and al-Sham), tiba-tiba menjadi issue yang marak
dibahas, dalam konflik Suriah dan Irak. Tulisan ini, akan menganalisa secara ringkas
beberapa hal penting terkait asal muasal dan perkembangan organisasi tersebut.
Hal pertama untuk mengkaji tema ini adalah soal sejarah dan nama ISIS itu sendiri.
Dalam bahasa Arab, ISIS atau Islamic State in Iraq and Al-Sham, merupakan terjemahan
dari Organisasi Ad-Daulah Al-Islamiyah fi Al-Iraq wa Ash-Sham. Tapi Associated Press,
dan AS menyebutnya sebagai Islamic State in Iraq and The Levant (ISIL).
Aljazeera melaporkan organisasi ini ada kaitannya dengan arus gerakan Salafiyah
Jihadiyah yang menghimpun berbagai unsur berbeda untuk bertempur di Irak dan Suriah,
dan di medan tempur, mereka terbagi-bagi di bawah sejumlah front. Karena kondisi
tersebut, dimunculkanlah nama organisasi yang menyebut istilah Ad-Daulah AlIslamiyah (Islamic State). Nama ini sekaligus menjadi magnet yang menarik banyak
pasukan dari berbagai daerah di medan perang untuk menyatakan kesetiaannya di bawah
organisasi payung yang besar .
Pendirian dan Kepemimpinan
Organisasi Daulah Islamiyah, awalnya terbagi dua. Yakni Daulah Islamiyah fil Iraqyang
di media massa dikenal dengan nama Daash dan disandarkan pada Kelompok Tauhid
wal Jihad yang didirikan tokoh berkebangsaan Yordania, Abu Musa Az Zarqawi di Irak
tahun 2004, paska invasi militer AS ke Irak.
Zarqawi pada tahun 2006, menyatakan kesetiaannya pada pemimpin al-Qaeda Osama bin
Laden dan meminta agar organisasinya menjadi bagian dari organisasi Al-Qaeda.
Selanjutnya pada tahun yang sama, dibentuk Dewan Syuro Mujahidin di bawah
kepemimpinan Abdullah Rashed Al-Baghdadi.
Tapi Zarqawi akhirnya tewas dalam serangan AS pada pertengahan tahun 2006 dan
kepemimpinan Daulah Islamiyah beralih ke Abu Hamza Al Mohajir. Hanya 4 tahun
kemudian, tepatnya tanggal 19 April 2010 tentara AS di Irak berhasil membunuh Abu
Hamza Al-Mohajir. Dan dalam waktu sekitar sepuluh hari, Dewan Syuro
menyelenggarakan pertemuan untuk memilih Abu Bakr al-Baghdadi sebagai pengganti
kepemimpinan Daulah Iraq Islamiyah.Munculnya Konflik
Tanggal 9 April 2013, muncul sebuah rekaman suara yang dikaitkan dengan suara Abu
Bakr al-Baghdadi, yang menyatakan bahwa Jabhah Nushra (Front Kemenangan) di
Suriah merupakan perpanjangan dari organissi Daulah Iraq Islamiyah. Dalam rekaman
itu, nama Jabhah Nushrah dan Daulah Iraq Islamiyah dihapus untuk kemudian diganti
menjadi Daulah Islamiyah fil Iraq wa Asy-Syam. Inilah awal terbentuknya organisasi
yang kemudian dikenal oleh media asing dengan istilah ISIS atau ISIL.
Awalnya, Jabhah Nushrah menerima bergabung dengan ISIS. Tapi kemudian terjadi
perbedaan dan bahkan kontak senjata. Di Suriah, berbagai organisasi oposisi bersenjata
termasuk Jabhah Nushrah, bentrok dengan kelompok pasukan Daulah, terkait penguasaan
dan pengendalian beberapa lokasi di Suriah. Di sejumlah lokasi yang dikuasai oleh

Daulah, dikabarkan tempat-tempat itu juga pasukan ISIS menerapkan sikap keras dalam
penerapan syaraiat Islam dengan menghukum mati sejumlah tokoh kabilah. Kelompok ini
secara terbuka juga menentang permintaan Aiman Zawahiri, yang merupakan ketua
organisasi Al-Qaeda, yang meminta agar ISIS fokus di Irak dan tidak masuk ke wilayah
Suriah yang merupakan wilayah tempur Jabha Nushrah.
ISIS dan Jabha Nushrah
Perselisihan dan pertempuran antara ISIS dan Jabha Nushrah keduanya terinspirasi
dengan Al-Qaeda di Suriah, memunculkan perselisihan mendalam antar pimpinan.
Abu Mohammed Adnani, juru bicara ISIS, pada bulan Mei 2014 menyerang Zawahiri dan
menafikan bahwa kelompoknya merupakan cabang dari Al-Qaeda. Tak pernah terjadi
apa yang disebutkan itu, demikian ujar Adnani. Aiman Zawahiri dikenal sebagai
pimpinan Al-Qaeda, yang menjadi rujukan para pimpinan berbagai organisasi jihad.
Sedangkan Esham Barqawi atau Abu Muhammad Al-Maqdisi, yang disebut sebagai
referensi spiritual kelompok Salafiyah Jihadiyah, juga mengkritik ISIS dan
menyebutkannya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas gagalnya rekonsiliasi
dengan Jabha Nushrah di Suriah.Kekuatan Militer
Sejak tahun 2006, ISIS memiliki kekuatan militer besar dan menjadi organisasi militer
terkuat di Irak. Mereka mulai memberi pengaruh di daerah yang luas, tetapi mereka harus
berhadapan dengan munculnya organisasi Dewan Kebangkitan yang merupakan
perhimpunan bersenjata dari klan dan kabilah Irak, yang didirikan untuk melawan
organisasi al-Qaeda serta mendapat dukungan pasukan AS dan pemerintah Irak.
Sedangkan di Suriah, ISIS yang menghimpun para pasukan dengan kualitas tempur yang
lebih baik, berhasil meraih sejumlah kemenangan di Suriah. Mereka relatif menguasai
penuh wilayah Deir al-Zour di perbatasan dengan Irak. Tapi di sisi lain, mereka
kehilangan pengaruh di Aleppo dan pedesaan sekitarnya, hingga akhirnya seluruh
pasukannya harus angkat kaki dari Aleppo.
Charles Lester, peneliti Pusat BrookingsInstitute yang terletak di Doha, menyebutkan
perkiraan jumlah pasukan organisasi Daulah Islamiyah di Suriah mencapai 6000 atau
7000 personil. Sedangkan di Irak, sekitar 5000 hingga 6000 personil.
Aljazeera menyebutkan, secara umum pasukan organisasi Daulah Islamiyah, mayoritas
pasukannya ada di Suriah. Mereka adalah orang-orang Suriah. Akan tetapi pemimpin
organisasi Daulah, mayoritas datang dari luar Suriah yang sebelumnya memiliki
pengalaman perang di Irak, Chechnya, Afghanistan dan berbagai medan tempur lainnya.
Sedangkan di Irak, mayoritas pasukan Daulah Islamiyah adalah orang-orang Iraq sendiri.
Pakar masalah Timur Tengah Roman Caillet dari French Institute mengatakan bahwa
mayoritas pasukan organisasi Daulah Islamiyah, adalah orang-orang Irak atau Libya.
ISIS Terinfiltrasi?
Benarkah ISIS terinfiltrasi? Abdullah bin Mohammed, analis strategi Salafiy Jihadi
mengatakan bahwa pada awalnya ia membantah dan meragukan informasi itu. Namun
sejumlah informasi dari kelompok Anshar Islam Sunni di Irak menunjukkan ISIS di Irak,
sulit dikendalikan.
Organisasi Anshar Islam Irak arus sunni di Irak pada Februari 2013 berkirim surat
pada pimpinan Al Qaeda Aiman Zawahiri, yang menegaskan konflik antara pasukan ISIS

dan sejumlah kelompok di Irak, adalah karena tidak adanya penanggung jawab resmi dari
organisasi itu di Irak. Dengan tidak adanya sumber itu, muncul banyak inisiatif lapangan
yang pada akhirnya berbenturan dengan kelompok mujahidin Irak seperti kelompok
Anshar Islam dan lainnya. Berulangkali, pasukan ISIS dikabarkan menyerang keolompok
Jamaah Anshar Islam. Sementara pihak Anshar Islam mencoba mengendalikan diri untuk
memelihara situasi dari kondisi genting.
Pendanaan
Hingga kini masih simpang siur soal sumber pendanaan ISIS. Pihak yang membiayai,
bisa kelompok intelejen yang berkepentingan secara regional, atau bisa juga ISIS di
Suriah maupun Irak membiayai aktifitasnya dari sumber dana potensi daerah yang
dikuasai. ISIS di Suriah menguasai sejumlah sumur minyak dan telah ada laporan terkait
penjualan minyak mentang ke para pembeli local, bahkan hingga pemerintah Suriah juga
membeli dari mereka. Belakangan, mereka menguasai kota Mosul, sebagai kota terbesar
kedua di Irak dari sisi jumlah penduduk pada 11 Juni 2014. Mereka juga menguasai Tikrit
yang merupakan basis kelompok pro Saddam Husein. Dan di dua kota itu, mereka
memperoleh dana yang besar.
Namun demikian sejumlah pengamat tidak melihat bahwa jatuhnya Mosul dan Tikrit
adalah karena kekuatan personil ISIS, melainkan karena dukungan kelompok bersenjata
kabilah yang dahulunya adalah loyalis mantan penguasa Irak, Saddam Husein.
Sumber :
1 Aljazeera.net
2 Haqiqa Ikhtiraq Tanzim Daulah Islamiyah fil Iraq wa Asy Syam , Daash.
3 Syirianmediacenter.com