Anda di halaman 1dari 5

Penulis: Sabar Subekti23:32 WIB | Jumat, 08 Agustus 2014

Analisis Dari Mana Sumber Dana ISIS?

Makam Nabi Yunus yang dihrmati berbagai pemeluk agama di Provinsi Niniwe
dihancurkan oleh milisi ISIS. (Foto: Ist)
BAGHDAD, SATUHARAPAN.COM Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) muncul dari
perang saudara di Suriah dan menjadi bagian dari kelompok yang memberontak terhadap
pemerintahan Bhasar Al-Assad. Namun faksi dan kelompok pemberontak jumlahnya
sangat banyak, pengamat bahkan menyebut angka sampai ribuan.
Kelompok pemberontak Suriah ini banyak disebut mendapatkan dukungan dari negaranegara Barat untuk menekan Al-Assad dan mendorong negara itu pada transisi
demokratis melalui perundingan dan pemilihan umum. Namun proses ini, meskipun telah
melalui dua konferensi di Jenewa, Swiss, perang saudara terus berlangsung hingga
memasuki tahun keempat.
Pihak Barat banyak disebutkan menjadi pasif, setelah mengetahui bahwa di kalangan
pemberontak terdapat kelompok ekstremis Islam, khususnya dari Jabath Al-Nusra dan

ISIS yang juga disebut ISIL (Negara Islam Irak dan Levant). Namun kelompok
pemberontak ini banyak disebut terus mendapatkan dukungan dana dari orang-orang
Arab Saudi, Kuwait dan Qatar.
Pada akhir 2013, pemberontak Suriah makin intensif memerangi kelompok ISIS, dan para
pemberi dana (donor) yang selama bertahun-tahun memberi dukungan keuangan kepada
kelompok-kelompok anti-rezim, menjadi terkejut, karena pemberontak justru berperang
melawan ISIS.
Menurut iraqinews.com, ada upaya mencoba untuk menyatukan kelompok-kelompok anti
rezim Bashar Al-Assad, namun makin jelas unifikasi itu akan menjadi misi yang gagal.
Maka pada awal tahun, Mohammed Haif, seorang donor Kuwait, mulai mendesak ISIL
untuk menarik diri dari Suriah.
Media Irak itu menyebutkan donor telah memberikan dana ratusan juta dolar Amerika
Serikat kepada kelompok pemberontak, dan hingga 2013, tidak ada hukum di tempat itu
yang melarang pendanaan bagi terorisme.
Dana dari Donor di Negara Teluk?
Pada Desember 2013, sebuah kelompok pemikir di Washington, The Bookings
Institution, menyebutkan bahwa Kuwait telah menyalurkan dana sampai ratusan juta
dolar AS ke kelompok pemberontak Suriah. "Selama dua setengah tahun, Kuwait telah
muncul membiayai organisasi untuk amal dan individu yang mendukung kelompok
pemberontak Suriah, kata laporan itu.
Laporan itu, dan juga berita di iraqinews.com menyebutkan bahwa donor Kuwait
mengumpulkan dana dari donor di negara-negara Teluk Arab lainnya dan sering
bepergian melalui Turki atau Yordania sebelum mencapai Suriah.
Pemerintah Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi telah meloloskan undang-undang untuk
membatasi aliran dana haram, tetapi banyak donor masih beroperasi secara terbuka, kata
laporan itu.
Masalah dukungan dan pendanaan, pemerintah Irak pernah menyalahkan Arab Saudi atas
dukungannya terhadap ISIS. Namun, Arab Saudi sendiri telah secara resmi menyebut
ISIS sebagai organisasi teroris dan meningkatkan ancaman hukuman bagi mereka yang
terlibat dengan kelompok ini.
Menurut media Irak, donor Kuwaiti lain juga telah menghabiskan beberapa tahun terakhir
mengunjungi Suriah untuk melihat ke mana uangnya digunakan. Menurut Twitter-nya, ia
percaya gerakan ISIL adalah revolusi yang sangat dibutuhkan untuk Irak, yang telah di
bawah "penindasan dan tirani." Mereka terkait dengan Ikhwanul Muslimin yang

menyatakan hal yang sama, bahwa ini hanyalah hasil dari kebijakan Irak sebelumnya dan
maraknya korupsi.
Namun dari mana dana yang didapat dan digunakan ISIS, masih banyak hal yang
menimbulkan pertanyaan, meskipun diyakini bahwa ISIS sebagai bagian dari kelompok
pemberontak di Suriah juga mendapatkan dana dari luar yang mendukung musuh Bashar
Al-Assad.
Namun dengan bergeraknya ISIS ke Irak bagian Utara, dan menjadi ancaman yang serius
bagi Bagdad, masih ada pertanyaan tentang apakah dana yang mengalir ke ISIS memiliki
kepentingan yang sama dengan ketika ISIS ada di Suriah?
Merampas Milik Warga
Sekarang, ISIS dengan aksi militer besar di Irak, disebutkan oleh media Irak, dan
menurut iraqinews.com, menjadi lebih menarik bagi para donor dan investor yang
sebelumnya skeptis. Namun tampaknya menjadi lingkaran setan, karena sukses aksi
militer ISIS di Irak, membuat kelompok ini lebih mandiri.
Selain dana, ISIS meningkatkan kekuatan militer dan memiliki kendaraan lapis baja yang
diproduksi Amerika Serikat dan diberikan ke Irak dan jatuh ke tangan ISIS. Kekuatan
senjata ini menjadikan ISIS makin gencar melakukan aksi termasuk dalam menggalang
dana.
Media di Irak menyebutkan ISIS mendapatkan dana dari penyelundupan minyak, dan
perampokan bank. Selain itu, banyak berita menyebutkan bahwa milisi juga merampas
uang, perhiasan, dan properti milik warga di Irak utara dan Suriah utara, khususnya dari
warga Kristen dan kelompok minoritas lain.
Berbagai berita menyebutkan mereka merampas milik warga di pos pemeriksaan,
mengambil gaji pegawai pemerintah yang beragama Kristen atau warga kelompok
minoritas lain di wilayah Provinsi Niniwe. Dan dari berbagai pemberitaan disebutkan
ISIS, dan juga ekstremis lain di Suriah, sering meminta tebusan uang untuk pembebasan
orang yang mereka culik.
Merampok Bank
Namun demikian belakangan perampokan bank merupakan sumber pendanaan penting
bagi ISIS, khususnya yang mereka lakukan di daerah Irak utara yang sekarang mereka
kuasai. ISIS juga mengambil kekayaan di daerah yang mereka kuasai, apalagi sebagian
besar penduduk di Irak utara meninggalkan rumah mereka.
Pada pertengahan Juli dana ISIS disebutkan meningkat menjadi lebih dari dua miliar

dolar AS setelah merampok sebuah bank pemerintah dan mengambil dana sebesar 425
juta dolar AS.
Sebelumnya diberitakan bahwa ISIL merampok dana sebesar tujuh miliar dinar Irak
(sekitar enam juta dolar AS) dari sebuah bank pemerintah di kota Tikrit, Provinsi Salah IlDin, pada hari Selasa (24/6) seperti dikatakan sumber keamanan setempat. Bank yang
dirampok itu adalah Bank Pertanian milik pemerintah yang berada di pusat kota Tikrit.
Dan tidak diketahui kemana uang itu dibawa.
Sebelumnya, pada 10 Juni, ISIS juga merampok bank dan mengambil dana lebih dari 400
juta dolar AS, ketika menyerang Mosul di Provinsi Niniwe. Dan sekarang ISIS
menguasai wilayah, serta kekayaan yang ada di wilayah itu, serta dana untuk
melancarkan serangan yang tampaknya akan menuju Bagdad.
Bukan Sekadar Organisasi Teroris
ISIS sejauh ini disebut sebagai organisasi teroris oleh PBB dan negara-negara Barat,
termasuk juga beberapa negara Timur Tengah. Namun kelompok ini tidak lagi
sebagaimana dibayangkan sekarang, apalagi dikaitkan dengan organisasi teroris seperti
Al-Qaeda, induknya.
ISIS bukan saja telah bertindak melawan hukum kemanusiaan, dan melakukan kejahatan
kemanusiaan, khususnya di Irak utara, tetapi telah memiliki kekuatan yang melebihi
kelompok teroris mana pun. Mereka menguasai wilayah, bahkan sumber-sumber
ekonomi di wilayah itu, memiliki dana, dan diyakini terlibat dalam perdagangan gelap
minyak, serta memungut pajak seperti sebuah negara.
Dewan Keamanan PBB hari Kamis (7/8) ini mengadakan pertemuan darurat, Amerika
dan negara-negara Barat baru mulai bicara keprihatinan atas tragedi kemanusiaan di Irak
utara, sebuah tindakan yang terlambat, karena ISIS telah berkembang menjadi cukup kuat
dan menjadi ancaman serius bagi Timur Tengah dan juga dunia.
Amerika Serikat pada hari Jumat (8/8) memang menyatakan mempertimbangkan untuk
melakukan serangan udara, dan Inggris juga mendukungnya. Namun DK PBB yang
tengah bertemu kemungkinan tidak bisa mengambil keputusan yang tegas.
ISIS dengan deklarasi sebagai khalifah Islam memang sebuah ironi, karena tindakan
mereka justru yang merusak nilai-nilai agama (Islam), dan hal itu yang akan menjadi
dasar penolakan warga dan dunia sebagai virus yang akan mematikan dari dalam diri
mereka. Namun tragedi kemanusiaan yang ditimbulkan ISIS telah menjadi ancaman
yang harus disikapi dengan tegas dan segera.
Editor : Sabar Subekti

http://www.satuharapan.com/read-detail/read/analisis-dari-mana-sumber-dana-isis