Anda di halaman 1dari 80

PEMBERIAN TEKNIK RELAKSASI NAFAS DALAM

TERHADAP PENURUNAN TINGKAT NYERI PADA


ASUHAN KEPERAWATAN Ny. S DENGAN
POST OPERASI APENDIKTOMI
DI RUANG KANTHIL RSUD
KARANGANYAR

DI SUSUN OLEH :

SRI UTAMI
NIM.P.11054

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2014
i

PEMBERIAN TEKNIK RELAKSASI NAFAS DALAM


TERHADAP PENURUNAN TINGKAT NYERI PADA
ASUHAN KEPERAWATAN Ny. S DENGAN
POST OPERASI APENDIKTOMI
DI RUANG KANTHIL RSUD
KARANGANYAR
Karya Tulis Ilmiah
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam Menyelesaikan Program Diploma III keperawatan

DI SUSUN OLEH :

SRI UTAMI
NIM.P.11054

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2014

ii

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Surat yang bertandatangan dibawah ini :


Nama

: SRI UTAMI

NIM

: P11054

Program Studi

: D III KEPERAWATAN

Judul Karya Tulis Ilmiah

: PEMBERIAN TEKNIK RELAKSASI NAFAS


DALAM TERHADAP PENURUNAN TINGKAT
NYERI PADA ASUHAN KEPERAWATAN Ny.
S DENGAN POST OPERASI APENDIKTOMI
PADA ASUHAN KEPERAWATAN Ny. S DI
RUANG KANTHIL RSUD KARANGANYAR

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis ini
benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan
atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri.
Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Akhir ini adalah
hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atau perbuatan tersebut ssesui
dengan ketetuan akademi yang berlaku.

Surakarta,

Mei 2014

Yang Membuat Pernyatan

Sri Utami
NIM.P11054

iii

LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh :


Nama

: SRI UTAMI

NIM

: P11054

Program Studi

: D III KEPERAWATAN

Judul

: PEMBERIAN TEKNIK RELAKSASI NAFAS DALAM


TERHADAP PENURUNAN TINGKAT NYERI PADA
ASUHAN KEPERAWATAN Ny. S DENGAN POST
OPERASI APENDIKTOMI DI RUANG KANTHIL
RSUD KARANGANYAR

Telah disetujui untuk diujikan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah
Prodi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta

Ditetapkan di : Surakarta
Hari/Tanggal : Kamis, 8 Mei 2014

Pembimbing : Nurul Izzawati, S.Kep. Ns.


NIK.201.389.117

iv

HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan oleh :


Nama

: SRI UTAMI

NIM

: P11029

Program Studi

: D III KEPERAWATAN

Judul

: PEMBERIAN TEKNIK RELAKSASI NAFAS DALAM


TERHADAP PENURUNAN TINGKAT NYERI PADA
ASUHAN KEPERAWATAN Ny.S DENGAN POST
OPERASI APENDIKTOMI DI RUANG KANTHIL
RSUD KARANGANYAR

Telah diujikan dan dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah
Prodi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta
Ditetapkan di :
Hari/Tanggal :

DEWAN PENGUJI

Pembimbing :Nurul Izzawati, S. Kep., Ns

: Atiek Murhayati, S.,Kep.Ns.,M.Kep (

NIK.201389117
Penguji I

: Diyah Eka Rini, S.Kep., Ns,


NIK. 200179001

Penguji II

NIK.200680021
Mengetahui,
Ketua Program Studi DIII Keperawatan
STIKES Kusuma Husada Surakarta

Atiek Murhayati, S.Kep.,Ns.,M.Kep


NIK.200680021

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena
berkat, rahmat dam karuia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya
Tulis Ilmiah dengan judul PEMBERIAN TEKNIK RELAKSASI NAFAS
DALAM TERHADAP PENURUNAN TINGKAT NYERI PADA ASUHAN
KEPERAWATAN Ny. S DENGAN POST OPERASI APENDIKTOMI
DIRUANG KANTHIL RSUD KARANGANYAR.
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapatkan
bimbingan dan dukungan dari pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang
terhomat:
1. Atiek Murhayati.S,Kep.,Ns.,M.Kep, selaku Ketua Program Studi DIII
Keperawatan,

sekaligus

sebagai

dosen

pembimbing

yang

telah

membimbing dengan cermat serta member masukan,inspirasi perasaan


nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya tugas
akhir dan memberi kesempatan untuk dapat menimba ilmu di STIKes
Kusuma Husada Surakarta.
2. Meri Oktariani, S.Kep.,Ns.,M.Kep, selaku Sekertaris Ketua Program Studi
DIII Keperawatan yang telah memberi kesempatan untuk dapat menimba
ilmu di STIKes Kusuma Husada Surakarta.
3. Nurul Izzawati, S.Kep., Ns, selaku dosen pembimbimg sekaligus sebagai
penguji yang telah membimbing dengan cermat, memberikan masukanmasukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi
demi sempurnanya studi kasus ini.
4. Diyah Eka Rini, S.Kep.,Ns, selaku dosen penguji yang telah membimbing
dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan
nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya studi
kasus ini.
5. Atiek Murhayati.S,Kep.,Ns.,M.Kep,

selaku dosen penguji yang telah

membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi,

6. perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya


studi kasus ini.
7. Semua dosen Program Studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada
Surakarta yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan
wawasannya serta ilmu yang bermanfaat.
8. Kedua orang tua saya, yang selalu menjadi inspirasi dan memberikan
semangat untuk menyelesaikan pendidikan.
9. Teman-teman Mahasiswa Program Studi DIII Keperawatan STIKes
Kusuma Husada Surakarta dan berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan
satu-persatu, yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual
Semoga laporan studi kasus ini bermanaat untuk perkembangan ilmu
keperawatan dan kesehatan. Amin.

Surakarta,

Mei 2014

Penulis

vi

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .....................................................................................

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN PENULISAN .................................

ii

LEMBAR PERSETUJUAN ..........................................................................

iii

LEMBAR PENGESAHAN ..........................................................................

iv

KATA PENGANTAR ..................................................................................

DAFTAR ISI .................................................................................................

vii

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................

ix

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ........................................................

B. Tujuan Penelitian ...................................................................

C. Manfaat Penelitian .................................................................

LANDASAN TEORI
A. Apendiksitis ...........................................................................

B. Asuhan Keperawatan .............................................................

13

C. Nyeri ......................................................................................

21

D. Teknik Relaksasi Nafas Dalam ............................................

29

BAB III LAPORAN KASUS


A. Identitas Pasien ......................................................................

35

B. Pengkajian .............................................................................

35

C. Pemeriksaan Fisik ...................................................................

39

vii

D. Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang ...........................

40

E. Terapi .....................................................................................

41

F. Perumusan Masalah ...............................................................

41

G. Rencana Tindakan Keperawatan ...........................................

42

H. Implementasi Keperawatan ...................................................

44

I. Evaluasi Keperawatan ...........................................................

46

BAB IV PEMBAHASAN

BAB V

A. Pengkajian .............................................................................

49

B. Perumusan Masalah ...............................................................

53

C. Intervensi ...............................................................................

56

D. Implementasi .........................................................................

59

E. Evaluasi .................................................................................

63

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan ............................................................................

66

B. Saran ......................................................................................

67

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Skala Nyeri Numerik


Lampiran 2 Log Book
Lampiran 3

Lembar Konsultasi Karya Tulis Ilmiah

Lampiran 4 Format Pendelegasian Pasien


Lampiran 5 Badan Acara Pengelolaan Askep
Lampiran 6 Asuhan Keperawatan
Lampiran 7 Jurnal
Lampiran 8 Daftar Riwayat Hidup

ix

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Apendiksitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai
cacing (apendiks). Usus buntu sebenarnya adalah sekum (cecum). Infeksi ini
bisa mengakibatkan peradangan akut sehingga memerlukan tindakan bedah
segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya (Nanda, 2013:
33). Gejala klinis apendiksitis ialah nyeri samar-samar tumpul yang merupakan
nyeri viseral di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. Keluhan ini sering
disertai mual, muntah, nafsu makan menurun dalam beberapa jam nyeri akan
berpindah ke kanan bawah ke titik Mc. Burney (Sjamsuhidayat, 2011: 757).
Menurut WHO memperkirakan insidens apendiksitis di dunia tahun 2007
mencapai 7% dari keseluruhan jumlah penduduk di dunia (Juliansyah, 2008).
Usia 20-30 tahun adalah usia yang paling sering mengalami apendiksitis.
Sementara itu untuk di Indonesia sendiri apendiksitis merupakan penyakit urutan
ke empat terbanyak dari pada tahun 2006. Data yang dirilis oleh Departemen
Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2008 jumlah penderita apendiksitis di
Indonesia mencapai 591.819 orang dan meningkat pada tahun 2009 sebesar
596.132 orang. Di Jawa tengah tahun 2009 menurut Dinas Kesehatan jawa
tengah, jumlah kasus apendiksitis dilaporkan sebanyak 5.890 dan diantaranya
menyebabkan kematian. Jumlah penderita apendiksitis tertinggi di kota
Semarang, yakni 970 orang (Eylin, 2009).

Insidens pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding, pada umur


20-30 tahun dan insidens laki-laki lebih tinggi. Berbagai hal sebagai
pencetusnya. Selain hiperplasia jaringan limfa, sumbatan lumen apendiks
merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor pencetus. Fekalit, tumor
apendiks, dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain
dapat menimbulkan apendiksitis ialah erosi mukosa apendiks karena parasit
seperti Enterobacter histolytica (Sjamsuhidayat, 2011: 756). Bahaya apendiksitis
jika tidak segera ditangani maka akan mengakibatkan komplikasi seperti infeksi
luka, infeksi intra abdomen, fistula fekal, obstruksi usus, hernia insisional,
peritonitis (paling sering) dan kematian (Kimberly, 2012: 61).
Penatalaksanaan apendiksitis adalah apendiktomi. Apendiktomi adalah
tindakan operasi untuk mengangkat apendiksitis yang dilakukan sesegera
mungkin

untuk

menurunkan

resiko

perforasi

(Jitowiyono,

2010:

5).

Apendiktomi merupakan suatu intervensi bedah yang mempunyai tujuan bedah


ablatif atau melakukan pengangkatan bagian tubuh yang mengalami masalah
atau mempunyai penyakit (Muttaqin, 2009: 467). Prosedur apendiktomi adalah
pembedahan ditunda sampai terapi antibiotik dimulai bila dicurigai abses, puasa
sampai setelah menjalani pembedahan, kemudian secara bertahap kembali ke
diet normal, ambulasi pasca bedah dan spirometri insentif (Kimberly, 2012: 61).
Efek tindakan apendiktomi bisa menimbulkan nyeri daerah operasi.
Nyeri menurut beberapa ahli, sebagai suatu fenomena misterius yang tidak
dapat didefinisikan secara khusus. Nyeri adalah salah satu alasan paling umum
bagi pasien untuk mencari bantuan medis dan merupakan salah satu keluhan

yang paling umum di Amerika Serikat, 9 dari 10 orang amerika berusia 18 tahun
atau lebih, menderita nyeri minimal sekali dalam sebulan, dan 42% merasakan
setiap hari (Chandra, 2009). Nyeri adalah suatu pengalaman sensori dan
emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang
bersifat subjektif. Keluhan sensori yang dinyatakan sebagai pegal, linu, ngilu,
keju, kemeng dan seterusnya dapat dianggap sebagai modalitas nyeri (Muttaqin,
2009). Efek nyeri dapat berpengaruh terhadap fisik, perilaku, dan pengaruhnya
pada aktivitas sehari-hari. Efek fisik, nyeri yang tidak diatasi secara adekuat
mempunyai efek yang membahayakan di luar ketidaknyamanan yaitu dapat
mempengaruhi sistem pulmonary, kardiovaskuler, gastrointestinal, endokrin dan
imunologik Efek perilaku, dapat di amati dari respon vokal (menangis), ekspresi
wajah (meringis), gerakan tubuh (perasaan gelisah) dan interaksi sosial
(menghindari percakapan). Pengaruh pada aktivitas sehari-hari, yaitu kesulitan
dalam melakukan hygiene dan menggangu dalam mempertahankan hubungan
seksual (Andarmoyo, 2013: 44).
Salah satu tindakan keperawatan untuk mengurangi rasa nyeri adalah
teknik relaksasi nafas dalam. Teknik relaksasi nafas dalam merupakan metode
yang efektif untuk menghilangkan rasa nyeri terutama pada klien yang nafas
mengalami nyeri yang sifatnya kronis. Rileks sempurna yang dapat mengurangi
ketegangan otot, rasa jenuh, kecemasan sehingga mencegah menghebatkannya
stimulasi nyeri (Kusyati, 2006: 198). Prosedur nafas dalam yaitu anjurkan pasien
untuk duduk rileks, anjurkan klien untuk tarik nafas dalam dengan pelan, tahan
beberapa

detik,

kemudian

lepaskan

(tiupkan

lewat

bibir)

dan

saat

menghembuskan udara anjurkan klien untuk merasakan relaksasi (Prasetyo,


2010: 66).
Menurut jurnal Novarizki tahun 2009 dengan penelitian pengaruh teknik
relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tingkat nyeri pada pasien pasca
operasi fraktur femur di Rumah Sakit Karima Utama Surakarta menunjukan ada
pengaruh yang signifikan teknik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan nyeri
pada pasien pasca operasi fraktur femur antara kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol di Rumah Sakit Karima Utama Surakarta (Novarizki, 2009).
Hasil pengkajian yang dilakukan penulis terhadap pasien post operasi
apendiktomi hari ke-0 di ruang Kanthil RSUD Karanganyar didapatkan hasil
pasien mengeluh nyeri didukung data subjektif pasien mengatakan nyeri timbul
saat bergerak (P), nyeri terasa panas dan tertusuk-tusuk (Q), nyeri dirasakan
pada perut sebelah kanan bawah (R), skala nyeri 6 (S), nyeri timbul terusmenerus (T) dan data objektif pasien tampak meringis sakit, pasien tampak
berhati-hati saat bergerak dan TD : 130/80, N : 84x/menit, RR : 24x/menit, S :
36,9C dan terdapat luka post operasi apendiktomi pada perut sebelah kanan
bawah dengan balutan kurang lebih 10 cm dengan garis horizontal dan balutan
dalam bersih.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk
melakukan pengelolaan kasus asuhan keperawatan yang akan dituangkan dalam
bentuk Karya Tulis Ilmiah dengan judul Pemberian Teknik Relaksasi Nafas
Dalam Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri pada Asuhan Keperawatan Ny. S
dengan Post Operasi Apendiktomi di Ruang Kanthil RSUD Karanganyar.

B. Tujuan penulis
1. Tujuan Umum
Melaporkan pemberian teknik relaksasi nafas dalam terhadap intensitas
nyeri pada Ny. S dengan post operasi apendiktomi di RSUD karanganyar.
2. Tujuan khusus
a. Penulis mampu melakukan pengkajian pada Ny. S dengan post operasi
apendiktomi.
b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Ny. S dengan
post operasi apendiktomi.
c. Penulis mampu menyusun rencana asuhan keperawatan pada Ny. S
dengan post operasi apendiktomi.
d. Penulis mampu melakukan implementasi pada Ny. S dengan post
operasi apendiktomi.
e. Penulis mampu melakukan evaluasi pada Ny. S dengan post operasi
apendiktomi.
f. Penulis mampu menganalisa hasil

pemberian tenik relaksasi nafas

dalam terhadap intensitas nyeri pada Ny. S dengan post operasi


apendiktomi.

C. Manfaat Penulis
1. Bagi Profesi Keperawatan
Sebagai wacana ilmiah dan sumber informasi tentang penanganan nyeri
post operasi apendiktomi.

2. Bagi Penulis
Sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang di dapat
selama perkuliahan khususnya di bidang keperawatan pada pasien dengan
nyeri post operasi apendiktomi.
3. Bagi Institusi/ Pendidikan
a. Untuk menambah khasanah kepustakaan di bagaian ilmu kesehatan
yaitu dalam bidang ilmu keperawatan.
b. Dapat di gunakan sebagai bahan masukan bagi pihak-pihak yang
berkepentingan langsung dalam Karya Tulis Ilmiah ini untuk tenaga
kesehatan khususnya keperawatan.
4. Bagi Rumah Sakit
a.

Hasil karya tulis ilmiah ini dapat digunakan sebagai tambahan referensi
karya ilmiah yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu kesehatan
khususnya dibidang keperawatan.

b. Agar dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan, khususnya pada


pasien dengan nyeri pada kasus post operasi apendiktomi.
5. Bagi Masyarakat
Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat memberikan informasi
kepada

masyarakat mengenai cara penanganan nyeri pada kasus post

operasi apendiktomi.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. APENDIKSITIS
1. Pengertian
Apendiksitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau
umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila
infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan
saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar
atau cekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan
terletak di perut kanan bawah (Jitowiyono, 2010: 1).
Apendiksitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu
(apendiks). Infeksi ini bisa mengkibatkan peradangan akut sehingga
memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang
umumnya berbahaya (Nanda, 2013: 33).
2. Klasifikasi Apendiksitis
Klasifikasi apendiksitis terbagi atas 3 yakni :
a. Apendiksitis akut radang mendadak umbai cacing yang memberikan
tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsangan peritonium
local.
b. Apendiksitis rekrens yaitu adalah riwayat nyeri berulang diperut kanan
bawah yang mendorong dilakukannya apendiktomi. Kelainan ini terjadi

bila serangan apendiksitis tidak pernah kembali ke bentuk aslinya


karena terjadi fibrosis jaringan parut.
c. Apendiksitis kronis mermiliki riwayat nyeri perut kanan bawah lebih
dari dua minggu, radang kronik apendiks secara makroskopik dan
mikroskopik (fibrosis menyeluruh didinding apendiks, sumbatan parsial
atau lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa
dan infiltasi sel inflamasi kronik), dan keluhan menghilang setelah
apendiktomi (Nanda, 2013).
3. Etiologi
Apendikitis akut umumya disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun
terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya penyakit ini. Diantaranya
obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Obstruksi pada lumen apendiks
ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras (fekalit),
hipeplasaia jaringan limfoid, penykit cacing, parasit, benda asing dalam
tubuh, dan cancer primer. Namun yang paling sering menyebabkan
obstruksi lumen apendiks adalah fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid
(Irga, 2007). Penyebab apendiksitis yang lain diantaranya :
a. Inflamasi akut pada apendik dan edema
b. Ulserasi pada mukosa
c. Obstruksi pada colon oleh fecalit (feses yang keras)
d. Pemberian barium
e. Berbagai macam penyakit cacing
f. Tumor atau benda asing

g. Struktur karena fibrosis pada dinding usus (Dermawan, 2010).


4. Manifestasi klinik
Apendiksitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari:
mual, muntah dan nyeri yang hebat diperut kanan bagian bawah. Nyeri bisa
secara mendadak dimulai dari perut sebelah atas atau disekitar pusar, lalu
timbul mual dan muntah. Rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut
bagian kanan bawah setelah beberapa jam. Apabila menekan daerah ini,
penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan nyeri
bisa bertambah tajam (Jitowiyono, 2010).
Timbulnya gejala ini tergantung pada letak apendiks ketika meradang.
Berikut ini gejala yang timbul apabila apendiks meradang.
a. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu dibelakang sekum
(terlindung oleh sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu
jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah
perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti
berjalan, bernafas dalam, batuk dan mengedan. Nyeri ini timbul karena
adanya kontraksi mayor yang menegang dari dorsal.
b. Bila apendiks terletak di rongga pelvis
Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan
timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristaltik
meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan
berulang-ulang (diare).

10

c. Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih,


dapat terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangan
dindingnya (Huda, 2013).
5. Patofisiologi
Penyebab dari apendiksitis adalah adanya obstruksi pada lumen
apendikeal oleh apendikolit, hiperplasia folikel limfoid submukosa, fekalit
(material garam kalsium, debris fekal), atau parasit (Kart, 2009).
Studi epidemologi menunjukan peran kebiasaan makan makanan
rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timulnya apendiksitis.
Konstipasi akan menaikan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya
sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora
kolon biasa (Sjamsuhidayat, 2005).
Kondisi obstruksi akan meningkatakan tekanan intralumial dan
peningkatan perkembangan bakteri. Hal ini akan terjadi peningkatan
kongestif dan penurunan perfusi pada dinding apendiks yang berlanjut pada
nekrosis dan inflamasi apendiks. Pada fase ini pasien akan mengalami nyeri
pada area periumbilikal. Dengan berlanjutnya proses inflamasi, maka
pembentukan eksudat akan terjadi pada permukaan serosa apendiks. Ketika
eksudat ini berhubungan dengan perietal peritoneum, maka intensitas nyeri
yang khas akan terjadi (Santacroce, 2009).
Dengan berlanjutnya proses obstruksi, bakteri akan berproliferasi dan
meningkatakan tekanan intraluminal dan membentuk infiltrat pada mukosa
dinding apendiks yang disebut apendiksitis mukosa, dengan manifestasi

11

ketidaknyamanan abdomen. Penurunan


menimbulkan

iskemia

dan

nekrosis

perfusi pada dinding akan


disertai

peningkatan

tekanan

intraluminal yang disebut apendiksitis nekrosis, hal tersebut akan


meningkatkan resiko perforasi dari apendiks (Muttaqin, 2011).
Proses fagositosis terhadap respons perlawanan pada bakteri
memberikan manifestasi pembentukan nanah atau abses yang terakumulasi
pada lumen apendiks yang disebut apendiksitis supuratif. Sebenarnya tubuh
juga melakukan usaha pertahanan untuk membatasi proses peradangan ini
dengan cara menutup apendiks dengan omentum dan usus halus sehingga
terbentuk massa periapendikular yang dikenal dengan istilah infiltrat
apendiks. Dalam usus halus dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses
yang dapat mengalami perforasi. Namun, jika tidak terbentuk abses,
apendiksitis akan sembuh dan massa periapendikular akan menjadi tenang
dan selanjutnya akan mengurai diri secara lambat (Muttaqin, 2011).
Kondisi apendiksitis berlanjut akan meningkatkan resiko terjadinya
perforasi dan pembentukan massa periapendikular. Perforasi dengan cairan
inflamasi dan bakteri masuk ke rongga abdomen lalu memberikan respon
inflamasi permukaan peritoneum atau terjadi peritonitis. Apabila perforasi
apendiks disertai dengan material abses, maka akan memberikan manifestasi
nyeri lokal akibat akumulasi abses dan kemudian juga akam memberikan
respons peritonitis. Manifestasi yang khas dari perforasi apendiks adalah
nyeri hebat yang tiba-tiba datang pada abdomen kanan bawah (Tzanakis,
2005).

12

6. Komplikasi
Beberapa komplikasi apendiksitis di antaranya:
a. Perforasi apendiks
Tanda-tanda perforasi meliputi meningkatnya nyeri, spasme otot
dinding perut kuadran kanan bawah dengan tanda peritonitis atau abses
yang terlokalisasi, ileus, demam, malaise dan leukositosis semakin
jelas.
b. Peritonitis atau abses
Bila terjadi peritonitis umum terapi spesifik yang dilakukan adalah
operasif untuk menutup asal perforasi. Bila terbentuk abses apendiks
akan teraba massa di kuadran kanan bawah yang cenderung
menggelembung ke arah rektum atau vagina.
c. Dehidrasi
d. Sepsis
e. Elektrolit darah tidak seimbang (Dermawan, 2010).
7. Penatalaksanaan
Bila diagnosis klinis sudah jelas, tindakan paling tepat dan merupakan
satu-satunya pilihan yang paling baik adalah apendiktomi (Sjamsuhidayat,
2005). Apendiktomi merupakan suatu intervensi bedah yang mempunyai
tujuan bedah ablatif atau melakukan pengangkatan bagian tubuh yang
mengalami masalah atau mempunyai penyakit (Muttaqin, 2009).

13

Apendiktomi adalah pembedahan untuk mengangkat apendiks di


lakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi (Jitowiyono,
2009).
Terapi umum pada pasien apendiksitis yaitu:
a. Pembedahan di tunda sampai terapi antibiotik di mulai, bila dicurigai
abses.
b. Puasa sampai setelah menjalani pembedahan, kemudian secara bertahap
kembali ke diet normal.
c. Ambulasi pasca bedah dini.
d. Spirometri insentif (Kimberly, 2011 )

B. Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi
keperawatan, implementasi dan evaluasi.
1.

Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang
bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang kebutuhan
klien, agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah kebutuhan
kesehatan kesehatan dan keperawatan klien, baik fisik, mental, sosial dan
lingkungan (Dermawan, 2012: 36). Pengkajian keperawatan meliputi pasien
apendiksitis meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, pengkajian diagnostik
dan pengkajian penatalaksanaan medik. Hasil dari pengkajian selalu
berhubungan dengan manifestasi dari progresivitas gangguan dari

14

peradangan pada apendik. Pada anamnesis, keluhan utama yaitu nyeri


dengan pendekatan PQRST dapat membantu perawat dalam menentukan
rencana intervensi yang sesuai. Pada pengkajian riwayat penyakit sekarang
adanya keluhan yaitu efek sekunder dari peradangan apendiks, berupa
gangguan gastrointestinal seperti mual, muntah, ketidaknyamanan abdomen,
diare dan anoreksia. Keluhan sistemik biasanya berhubungan dengan
kondisi inflamasi dimana didapatkan adanya peningkatan suhu tubuh.
Pengkajian riwayat dahulu diperlukan sebagai sarana dalam pengkajian
preoperatif untuk menurunkan resiko pembedahan, seperti adanya penyakit
DM, hipertensi, tuberkulosis atau kelainan hematologis. Pengkajian
psikososial

biasanya kecemasan akan nyeri hebat akibat respon

pembedahan.

Pada

beberapa

pasien

juga

didapatkan

mengalami

ketidakefektifan koping berhubungan dengan perubahan peran dalam


keluarga (Muttaqin, 2011). Pengkajian pola kognitif dan perceptual yaitu
keluhan nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam
waktu yang lama. Pengkajian pola aktivitas dan latihan yaitu malaise.
Sirkulasi yaitu klien mungkin takikardi, respirasi yaitu takipnoe, pernafasan
dangkal. Eliminasi konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang.
Distensi abdomen, nyeri tekan atau nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau
tidak ada bising usus. Data psikologis klien tampak gelisah, ada perubahan
denyut nadi, pernafasan, ada perasaan takut dan penampilan yang tidak
tenang (Jitowiyono, 2010).

15

Pengkajian abdomial, keluhan nyeri pada regio kanan bawah atau


pada titik Mc. Burney.
Pengkajian diagnostik pada apendiksitis yang diperlukan, meliputi:
a. Hitung sel darah komplet
Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara
10.000-20.000/ml dengan peningkatan jumlah netrofil.
b. C-Reactive protein (CRP)
Sintesis dari reaksi fase akut oleh hati sebagai respon dari infeksi. Pada
apendiksitis didapatkan peningkatan kadar CRP.
c. Pemeriksaan USG
Pemeriksaan USG untuk menilai inflamasi dari apendiks.
d. Pemeriksaan CT Scan
Pemeriksaan CT Scan pada abdomial untuk mendeteksi apendiksitis
dan adanya kemungkinan perforasi (Muttaqin, 2011: 507).
2. Diagnosa keperawatan
Menurut Doenges, 1998 dalam Dermawan (2012: 58) diagnosa
keperawatan adalah penilaian klinik mengenai respon individu, keluarga dan
komunitas terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual
atau potensial yang merupakan dasar untuk pemilihan intervensi
keperawatan untuk mencapai hasil yang merupakan tanggung jawab
perawat.

Diagnosa

keperawatan

yang

muncul

adalah

nyeri

akut

berhubungan dengan inflamasi dan infeksi, ansietas berhubungan dengan


proknosis penyakit rencana pembedahan, ketidakseimbangan nutrisi kurang

16

dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan factor biologis, ketidakmampuan


untuk mencerna makanan, resiko infeksi berhubungan dengan tidak
adekuatnya pertahanan tubuh (Nanda, 2013).
3. Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan adalah suatu proses di dalam pemecahan
masalah yang merupakan keputusan awal tentang sesuatu apa yang akan
dilalukan, bagaimana dilakukan, kapan dilakukan, siapa yang melakukan
dari semua tindakan keperawatan (Dermawan, 2012: 84). Intervensi atau
rencana yang akan dilakukan oleh penulis disesuaikan dengan kondisi
pasien dan fasilitas yang ada, sehingga rencana tindakan dapat dilaksanakan
dengan SMART, Spesifik, Measurable, Acceptance, Rasional dan Timing.
(Deden, 2012 : 99)
a. Nyeri akut b.d inflamasi dan infeksi
Tujuan: pain level, pain kontrol and comfrot level.
Kriteria hasil:
1) Mampu

mengontrol

nyeri

(tahu

penyebab

nyeri,

mampu

menggunakan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri,


mencari bantuan)
2) Melaporkan

bahwa

nyeri

berkurang

dengan

menggunakan

managemen nyeri
3) Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda
nyeri)

17

4) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.


a) Intervensi:
Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk
lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi.
Rasional: untuk mengetahui sejauh mana nyeri yang dirasakan
oleh klien.
b) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien.
Rasional: untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien.
c) Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri.
Rasional: untuk meningkatkan kenyamanan pasien.
d) Ajarkan tentang teknik non farmakologis
Rasional: untuk mengurangi rasa nyeri (salah satu tindakan
non farmakologis yaitu teknik relaksasi nafas dalam yang
dapat meningkatkan ventilasi dan meningkatkan oksigenasi
darah).
e) Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
Rasional: kolaborasi dengan dokter untuk mengurangi nyeri.
b. Ansietas berhubungan dengan proknosis penyakit rencana pembedahan
Tujuan: anxiety self control, anxiety level and coping.
Kriteria hasil:
1) Klien mampu mengidentifikasikan dan mengungkapkan gejala

18

cemas.
2) Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukan teknik unyuk
mengontrol cemas.
3) Vital sign dalam batas normal.
4) Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa dan tingkat aktivitas
menunjukan berkurangnya kecemasan.
Intrvensi:
a) Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan

selama

prosedur.
Rasional: agar pasien dapat mengetahui prosedur yang akan
dilakukan.
b) Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi
takut.
Rasional: untuk mengurangi kecemasan.
c) Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
Rasional: agar kecemasan tidak terulang dan cemas hilang.
d) Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi.
Rasional: untuk mengurangi kecemasan dengan teknik non
farmakologis
e) Berikan obat untuk mengurangi kecemasan
Rasional: agar kecemasan berkurang.
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan factor biologis, ketidakmampuan untuk mencerna makanan.

19

Tujuan: nutritional status, nutritional status: food and fluid intake,


nutrient intake, weight control.
Kriteria hasil:
1) Adanya peningkatakan berat badan sesuai dengan tujuan
2) Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
3) Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
4) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
5) Menunjukan peningkatan fungsi pengecapan dan menelan
6) Tidak terjadi penurunan berat badan
Intervensi:
a) Monitor adanya penurunan berat badan
Rasional: untuk mengetahui berat badan normal
b) Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat
Rasional: untuk mencegah konstipasi
c) Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
Rasional: agar mempercepat penyembuhan luka
d) Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet
Rasional: untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
d. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh.
Tujuan: immune status, knowledge: infection control, risk control.
Kriteria hasil:
1) Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi

20

2) Mendeskripsikan proses penularan penyakit, faktor yang


mempengaruhi penuluran serta penatalaksanaannya.
3) Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
4) Jumlah leukosit dalam batas normal
5) Menunjukkan perilaku hidup sehat
Intervensi:
a) Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
Rasional: untuk mengetahui adanya infeksi
b) Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
Rasional: untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit
c) Ajarkan cara menghindari infeksi
Rasional: untuk menggunkan proteksi diri
d) Berikan terapi antibiotik bila perlu
Rasional: untuk mempercepat penyembuhan luka
4. Implementasi keperawatan
Menurut Potter & Perry, 1997 dalam Dermawan (2012: 118) implementasi
keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat
untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang lebih baik yang
menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan.
5. Evaluasi
Menurut Craven dan Hirnle, 2000 dalam Dermawan (2012: 128) evaluasi
didefinisikan sebagai keputusan dari efektifitas asuhan keperawatan antara
dasar tujuan keperawatan klien yang telah ditetapkan dengan respon

21

perilaku klien yang tampil. Untuk penentuan masalah teratasi, teratasi


sebagian, atau tidak teratasi adalah dengan cara membandingkan antara
SOAP dengan tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan. Format
evaluasi menggunakan:
S : Subjective adalah Informasi yang berupa ungkapan yang didapat dari
klien setelah tindakan diperbaiki
O : Objective adalah Informasi yang didapat berupa hasil pengamatan,
penilaian, pengukuran yang dilakukan oleh perawat setelah dilakukan
tindakan.
A : Analisa adalah membandingkan antara informasi subjective dan
objective dengan tujuan dan kriteria hasil, kemudian diambil
kesimpulan bahwa masalah teratasi, teratasi sebagian, atau tidak
teratasi.
P : Planning adalah rencana keperawatan lanjutkan yang akan dilakukan
berdasarkan hasil analisa.

C. NYERI
1. Pengertian
Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak menyenangkan.
Sifatnya sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang
dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat
menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya (Musrifatul,
2011).

22

Menurut Hidayat, (2011) dalam Trullyen (2013) mendefinisikan nyeri


sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang, yang keberadaan
nyeri dapat diketahui hanya jika orang tersebut pernah mengalaminya. Nyeri
adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat
dari kerusakan jaringan aktual atau potensial sehingga menjadikan alasan
utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan.
2. Klasifikasi Nyeri
a. Klasifikasi nyeri
Nyeri dapat diklasifikasikan berdasarkan durasinya dibedakan menjadi
nyeri akut dan nyeri kronis:
1) Nyeri Akut
Menurut Meinhart dan McCaffery, 1983: NIH, 1986 dalam
Smletzer, (2009) nyeri akut adalah nyeri yang terjadi setelah cedera
akut, penyakit atau intervensi bedah dan memiliki awitan yang
cepat, dengan ukuran intensitas yang bervariasi (ringan sampai
berat) dan berlangsung untuk waktu singkat. Untuk tujuan definisi,
nyeri akut dapat dijelaskan sebagai nyeri yang berlangsung dari
beberapa detik hingga enam bulan.
Nyeri akut terkadang disertai oleh aktivasi sistem saraf
simpatis

yang

akan

memperlihatkan

gejala-gejala

seperti

peningkatan respirasi, peningkatan tekanan darah, peningkatan


denyut jantung, diaphoresis, dan dilatasi pupil. Secara verbal klien
yang mengalami nyeri akan melaporkan adanya ketidaknyamanan

23

berkaitan dengan nyeri yang dirasakan. Klien yang mengalami


nyeri akut biasanya juga akan memperlihatkan respons emosi dan
perilaku seperti menangis, mengerang kesakitan, mengerutkan
wajah, atau menyeringai (Sulistyo A, 2013: 37).
2) Nyeri Kronik
Menurut McCaffery, 1986 dalam Potter & Perry, (2005)
nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap
sepanjang suatu periode waktu. Nyeri kronik berlangsung lama,
intensitas yang bervariasi, dan biasanya berlangsung lebih dari 6
bulan. Manifestasi klinis yang tampak pada nyeri kronis sangat
berbeda dengan yang diperlihatkan oleh nyeri akut. Dalam
pemeriksaan tanda-tanda vital, sering kali didapatkan masih dalam
batas normal dan tidak disertai dilatasi pupil. Manifestasi yang
biasanya muncul berhubungan dengan repons psikososial seperti
rasa keputusasaan, kelesuan, penurunan libido (gairah seksual),
penurunan berat badan, perilaku menarik diri, iritabel, mudah
tersinggung, marah, dan tidak tertarik pada aktivitas fisik. Secara
verbal klien mungkin akan melaporkan adanya ketidaknyamanan,
kelemahan, dan kelelahan (Andarmoyo, 2013: 38).
3. Penilaian respons intensitas nyeri
Penilaian intensitas nyeri dapat dilakukan dengan menggunakan skala
sebagai berikut:
a. Skala numerik

24

Menurut AHCPR, 1992 dalam Perry dan Potter, (2006) kala


penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan
sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai
nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan
saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik.
0

Tidak nyeri

10

sangat nyeri

b. Skala deskritif
Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan
nyeri yang lebih objektif. Skala pendeskritif verbal (Verbal Descriptor
Scale, VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima
kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama disepanjang
garis. Pendeskripsi ini diranking dari tidak terasa nyeri sampai nyeri
yang tidak tertahankan. Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan
meminta klien untuk memilih intensitas nyeri terbaru yang ia rasakan
(Potter & Perry, 2006).
Tidak nyeri

Nyeri

Nyeri

Nyeri

Nyeri tak

ringan

sedang

berat

tertahankan

c. Skala analog visual


Menurut McGuire, 1884 dalam Potter & Perry, (2006) skala
analog visual (Visual analog scale, VAS) adalah suatu garis
lurus/horisontal sepanjang 10 cm, yang mewakili intensitas nyeri yang
terus-menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Pasien

25

diminta untuk menunjukkan titik pada garis yang menunjukkan letak


nyeri terjadi sepanjang garis tersebut. Ujung kiri biasanya menandakan
tidak ada atau tidak nyeri, sedangkan ujung kanan biasanya
menandakan berat atau nyeri yang paling buruk.
Tidak nyeri

Nyeri yang tak tertahankan

4. Karakteristik nyeri
Untuk membantu

pasien dalam mengutarakan masalah

atau

keluhannya secara lengkap, pengkajian yang bisa dilakukan oleh perawat


untuk mengkaji karakteristik nyeri bisa menggunakan pendekatan analisis
symptom. Komponen pengkajian analisis symptom meliputi (PQRST): P
(Paliatif/Provocatif = yang menyebabkan timbulnya masalah), Q (Quality
dan Quantity = kualitas dan kuantitas nyeri yang dirasakan), R (Region =
lokasi nyeri), S (Severity = keparahan), T (Timing = waktu).
P

Provokatif atau Kualitas


paliatif

atau Regional/area Skala

kuantitas

terpapar/

T
Timing

atau

keparahan

waktu

Seberapa

Kapan gejala

radiasi
Apakah

yang Bagaimana gejala Dimana

menyebabkan
gejala?

(nyeri) dirasakan, gejala terasa? keparahan

Apa sejauhmana anda Apakah

mulai timbul?

dirasakan

Seberapa

(nyeri)

sering gejala

dengan

terasa?

dan

skala

Apakah tiba-

memperberatn

berapa? (1- tiba

ya?

10)

saja yang dapat merasakannya


mengurangi

menyebar?

sekarang?

Kejadian awal Kualitas .

Area.

bertahap?

Nyeri yang Onset.

atau

26

apakah
anda

yang Bagaimana gejala Dimana


lakukan (nyeri) dirasakan?

dirasakan

gejala (nyeri) pada

Tanggal dan

skala jam

sewaktu gejala Kuantitas.

dirasakan?

berapa?

terjadi

(nyeri)

Radiasi/area

Apakah

Jenis.

ringan,

tiba

Sejauhmana

pertama

kali gejala

dirasakan?
Apakah

(nyeri) terpapar.

dirasakan

yang sekarang? Sangat merambat

menyebabkan

dirasakan hingga pada

nyeri? Posisi? tidak


Aktivitas

melakukan

tertentu?

aktivitas?

Apakah

Apakah nyeri sedang,

dapat punggung

Lebih Merambat
leher

menghilangkan ringan dari yang atau

Apakah

dirasakan

yang sebelumnya.

Tibaatau

bertahap
atau Frekuensi.

tak

Setiap

jam,

tertahankan

hari,

pagi,

atau lengan? (1-10)

yang parah atau lebih pada

gejala (nyeri)?

berat,

gejala

siang, malam.
Mengganggu
istirahat
tidur? Terjadi

merambat

kekambuhan

pada kaki?

Durasi.

memperburuk

Seberapa

gejal (nyeri)?

lama

gejala

dirasakn?

5. Proses terjadinya nyeri


Proses terjadinya nyeri ada beberapa tahapan, yaitu (Andarmoyo,
2013: 51-61):
a. Stimulasi
Persepsi nyeri reseptor, diantarkan oleh neuron khusus yang
bertindak sebagai reseptor, pendeteksi stimulus, penguat, dan
penghantar menuju sistem saraf pusat. Reseptor khusus tersebut
dinamakan nociceptor. Terdapat tiga kategori reseptor nyeri, yaitu
nosiseptor mekanisme yang berespons terhadap kerusakan mekanisme,

27

nosiseptor termal yang berespons terhadap suhu yang berlebihan


terutama panas, nosiseptor polimodal yang berespons setara terhadap
semua jenis rangsangan yang merusak, termasuk iritasi zat kimia yang
dikeluarkan dari jaringan yang berbeda.
b. Transduksi
Transduksi merupakan proses ketika suatu stimuli nyeri (noxious
stimuli) diubah menjadi suatu aktivitas listrik yang akan diterima ujungujung saraf.
c. Transmisi
Transmisi merupakan proses

penerusan impuls nyeri dari

nociceptor saraf perifer melewati cornu dorsalis dan corda spinalis


menuju korteks serebri.
d. Modulasi
Modulasi adalah proses pengendalian internal oleh sistem saraf,
dapat meningkatkan atau mengurangi penerusan impuls nyeri.
e. Persepsi
Persepsi adalah hasil rekonstruksi susunan saraf pusat tentang
impuls nyeri yang diterima.
6. Efek yang membahayakan dari nyeri
Efek nyeri dapat mempengaruhi berbagai komponen dalam tubuh
diantaranya meliputi:
a. Efek fisik

28

Nyeri yang tidak diatasi secara adekuat mempunyai efek yang


membahayakan diluar ketidaknyamanan yang disebabkannya. Selain
merasakan ketidaknyamanan dan mengganggu, nyeri yang tidak
kunjung

mereda

dapat

mempengaruhi

sistem

pulmonary,

kardiovaskuler, gastrointestinal, endokrin, dan imunologik. Pada


kondisi seperti ini, terkadang respons stres pasien terhadap trauma bisa
juga meningkat. Nyeri yang terjadi sepanjang waktu dan berlangsung
dalam waktu yang lama, sering mengakibatkan seseorang menjadi
depresi dan ketidakmampuan atau ketidakberdayaan dalam melakukan
aktivitasnya.
b. Efek perilaku
Seorang individu yang mengalami nyeri akan menunjukkan respons
perilaku yang abnormal. Hal utama yang bisa di amati dari
mengekspresikan nyeri seperti mengaduh, menangis, sesak nafas, dan
mendengkur. Ekspresi wajah akan menunjukkan karakteristik seperti
meringis, menggelutukkan gigi, menggigit jari, mengerutkan dahi.
Gerakan tubuh dapat menunjukkan karakteristik seperti perasaan
gelisah, imobilisasi, ketegangan otot, gerakan melindungi bagian tubuh
yang nyeri. Pada interaksi sosial, individu bisa menunjukkan
karakterisitik seperti menghindari percakapan, fokus hanya pada
aktivitas untuk menghilangkan nyeri.
c. Pengaruh pada aktivitas sehari-hari

29

Pasien yang mengalami nyeri setiap hari kurang mampu berpartisipasi


dalam aktivitas rutin. Nyeri juga dapat membatasi mobilisasi pasien
pada tingkatan tertentu. Pasien barangkali dapat mengalami kesulitan
dalam melakukan hygiene normal, seperti mandi, berpakaian, mencuci
rambut, dan sebagainya (Andarmoyo, 2013).
7. Penatalaksanaan nyeri
Strategi

penatalaksanaan

nyeri

adalah

suatu

tindakan

untuk

mengurangi nyeri yang terdiri dari farmakologi dan nonfarmakologi.


Manajemen nyeri nonfarmakologis merupakan tindakan menurunkan
respons nyeri tanpa menggunakan agen farmakologi (Sulistyo, 2013: 84).
Salah satu penyembuhan non farmakologis atau fase rehabilitasi

untuk

menurunkan nyeri pada post operasi adalah dengan teknik relaksasi nafas
dalam.

D. Teknik Relaksasi Nafas Dalam


1. Pengertian
Menurut Smeltzer (2002) dalam Trullyen, (2013) teknik relaksasi
merupakan intervensi keperawatan secara mandiri untuk menurunkan
intensitas nyeri, meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi
darah. Relaksasi otot skeletal dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan
merilekskan tegangan otot yang menunjang nyeri, ada banyak bukti yang
menunjukkan bahwa relaksasi efektif dalam meredakan nyeri. Sedangkan
latihan nafas dalam adalah bernafas dengan perlahan dan menggunakan

30

diafragma, sehingga memungkinkan abdomen terangkat perlahan dan dada


mengembang penuh.
Menurut Smeltzer & Bare dalam Trullyen, (2013) teknik relaksasi
nafas dalam merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan, yang dalam hal
ini perawat mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan nafas
dalam, nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana
menghembuskan nafas secara perlahan, Selain dapat menurunkan intensitas
nyeri, teknik relaksasi nafas dalam juga dapat meningkatkan ventilasi paru
dan meningkatkan oksigenasi darah.
2. Tujuan Tekhnik Relaksasi Nafas Dalam
Smeltzer dan Bare (2002) dalam Trullyen, (2013) menyatakan bahwa
tujuan relaksasi pernafasan adalah untuk meningkatkan ventilasi alveoli,
memelihara pertukaran gas, mencegah atelektasi paru, merilekskan
tegangan otot, meningkatkan efesiensi batuk, mengurangi stress baik stress
fisik maupun emosional yaitu menurunkan intensitas nyeri (mengontrol atau
mengurangi nyeri) dan menurunkan kecemasan.
Menurut Suddarth dan Brunner (2002) dalam Trullyen, (2013) tujuan
nafas dalam adalah untuk mencapai ventilasi yang lebih terkontrol dan
efisien serta untuk mengurangi kerja bernafas, meningkatkan inflasi
alveolar maksimal, meningkatkan relaksasi otot, menghilangkan ansietas,
menyingkirkan pola aktivitas otot-otot pernafasan yang tidak berguna, tidak
terkoordinasi, melambatkan frekuensi pernafasan, mengurangi udara yang
terperangkap serta mengurangi kerja bernafas.

31

3. Patofisiologi Teknik Relaksasi Nafas Dalam terhadap nyeri


Menurut Brunner & Suddarth (2002) dalam Trullyen, (2013) teknik
relaksasi nafas dalam dapat mengendalikan nyeri dengan meminimalkan
aktivitas simpatik dalam sistem saraf otonom. Relaksasi melibatkan otot dan
respirasi dan tidak membutuhkan alat lain sehingga mudah dilakukan kapan
saja atau sewaktu-waktu. Prinsip yang mendasari penurunan oleh teknik
relaksasi terletak pada fisiologi sistem saraf otonom yang merupakan bagian
dari sistem saraf perifer yang mempertahankan homeostatis lingkungan
internal individu. Pada saat terjadi pelepasan mediator kimia seperti
bradikinin, prostaglandin dan substansi p yang akan merangsang saraf
simpatis sehingga menyebabkan saraf simpatis mengalami vasokonstriksi
yang akhirnya meningkatkan tonus otot yang menimbulkan berbagai efek
spasme otot yang akhirnya menekan pembuluh darah. Mengurangi aliran
darah dan meningkatkan kecepatan metabolisme otot yang menimbulkan
pengiriman impuls nyeri dari medulla spinalis ke otak dan dipersepsikan
sebagai nyeri.
4. Penatalaksanaan Teknik Relaksasi Nafas Dalam
Ada beberapa posisi relaksasi nafas dalam yang dapat dilakukan
menurut Smeltzer & Bare, (2002) dalam Trullyen, (2013)yaitu :
a. Posisi relaksasi dengan terlentang
Letakkan kaki terpisah satu sama lain dengan jari-jari kaki agak
meregang lurus kearah luar, letakkan pada lengan pada sisi tanpa

32

menyentuh sisi tubuh, pertahankan kepala sejajar dengan tulang


belakang dan gunakan bantal yang tipis dan kecil di bawah kepala.
b. Posisi relaksasi dengan berbaring miring
Berbaring miring, kedua lutut ditekuk, dibawah kepala diberi bantal dan
dibawah perut sebaiknya diberi bantal juga, agar perut tidak
menggantung.
c. Posisi relaksasi dalam keadaan berbaring terlentang
Kedua lutut ditekuk, berbaring terlentang, kedua lutut ditekuk, kedua
lengan disamping telinga.
d. Posisi relaksasi dengan duduk
Duduk dengan seluruh punggung bersandar pada kursi, letakkan kaki
datar pada lantai, letakkan kaki terpisah satu sama lain, gantungkan
lengan pada sisi atau letakkan pada lengan kursi dan pertahankan kepala
sejajar dengan tulang belakang.

5. Prosedur Teknik Relaksasi Nafas Dalam


Prosedur teknik relaksasi nafas dalam menurut Priharjo (2003) dalam
Trullyen, (2013) yakni dengan bentuk pernafasan yan digunakan pada
prosedur ini adalah pernafasan diafragma yang mengacu pada pendataran
kubah diagfragma selama inspirasi yang mengakibatkan pembesaran
abdomen bagian atas sejalan dengan desakan udara masuk selama inspirasi.
Adapun langkah-langkah teknik relaksasi nafas dalam adalah sebagai
berikut :

33

a. Ciptakan lingkungan yang tenang


b. Usahakan tetap rileks dan tenang (Dengan memodifikasi tindakan
nonfarmakologis yang lain meliputi distraksi. Menurut Andarmoyo
(2013), distraksi adalah suatu tindakan pengalihan perhatian pasien ke
hal-hal lain di luar nyeri. Dengan demikian, diharapkan pasien tidak
berfokus pada nyeri lagi bahkan meningkatkan toleransi terhadap
nyeri).
c. Menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru dengan udara
melalui hitungan 1,2,3.
d. Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut sambil merasakan
ekstrimitas atas dan bawah rileks.
e. Anjurkan bernafas dengan irama normal 3 kali
f. Menarik nafas lagi melalui hidung dan menghembuskan melalui Mulut.
g. Anjurkan untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa berkurang.
h. Ulangi sampai 15 kali, dengan selingi istirahat singkat setiap 5 kali.
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi teknik relaksasi napas dalam
terhadap penurunan nyeri
Menurut Smeltzer dan Bare (2002) dalam Trullyen, (2013), teknik
relaksasi nafas dalam dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri melalui
mekanisme yaitu :
a. Dengan merelaksasikan otot-otot skeletal yang mengalami spasme yang
disebabkan

oleh

peningkatan

prostaglandin

sehingga

terjadi

34

vasodilatasi pembuluh darah dan akan meningkatkan aliran darah ke


daerah yang mengalami spasme dan iskemic.
b. Teknik relaksasi nafas dalam dipercayai mampu merangsang tubuh
untuk melepaskan opoiod endogen yaitu endorphin dan enkefalin.
c. Mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat
Relaksasi melibatkan sistem otot dan respirasi dan tidak membutuhkan
alat lain sehingga mudah dilakukan kapan saja atau sewaktu-waktu.
7. Efek Relaksasi
Teknik relaksasi yang baik dan benar akan memberi efek yang
berharga bagi tubuh, efek tersebut sebagai berikut :
a. Penurunan nadi, tekanan darah dan pernafasan
b. Penurunan konsumsi oksigen
c. Penurunan ketegangan otot
d. Penurunan kecepatan metabolisme
e. Peningkatan kesadaran global
f. Kurang perhatian terhadap stimulasi lingkungan
g. Tidak ada perubahan posisi yang volunter
h. Perasaan damai dan sejahtera
i. Periode kewaspadaan yang santai, terjaga dan dalam (Sulistyo, 2013).
Relaksasi adalah suatu tindakan untuk membebaskan mental dan fisik
dari ketegangan dan stres sehingga dapat meningkatkan toleransi. Teknik ini
yang sederhana terdiri atas nafas abdomen dengan frekuensi lambat dan
berirama. Hampir semua orang dengan nyeri mendapatkan manfaat dari
metode-metode relaksasi (Andarmoyo, 2013).

BAB III
LAPORAN KASUS

Bab ini menjelaskan laporan kasus tentang Asuhan Keperawatan pada Ny. S
dengan Post Operasi Apendiktomi di Rumah Sakit RSUD Karanganyar. Pengelolaan
asuhan keperawatan dilakukan pada tanggal 8 April dan 9 April 2014. Asuhan
keperawatan dimulai dari pengkajian, kemudian menegakkan diagnosa keperawatan,
membuat intervensi keperawatan, memberikan tindakan atau implementasi
keperawatan serta melakukan evaluasi dari tindakan yang sudah dilakukan.
A. Identitas Pasien
Pasien berinisial Ny. S, umur 49 tahun, jenis kelamin perempuan, alamat
Gondangmanis. Pendidikan terakhir klien SMP dan sebagai ibu rumah tangga.
Penanggung jawab klien selama di Rumah Sakit adalah Tn. F, umur 56 tahun,
pendidikan terakhir SMP, bekerja sebagai petani. Hubungan dengan klien adalah
suami.

B. Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada hari selasa, 8 April 2014, pukul 12.05 WIB
diruang Kanthil RSUD Karanganyar. Pengkajian dilakukan secara autoanamnesa
dan alloanamnesa.
Keluhan utama, klien mengatakan nyeri perut sebelah kanan bawah.
Dalam riwayat kesehatan sekarang, klien mengatakan sebelum ke RSUD
Karanganyar, klien sudah periksa ke Dr. A dengan keluhan nyeri perut sebelah

35

36

kanan bawah dan nyeri muncul saat istirahat dan kadang saat beraktivitas. Dr. A
mendiagnoasa dengan suspect Apendiksitis sehingga pasien dirujuk ke RSUD
Karanganyar. Pada tanggal 4 April 2014 pasien memeriksakan ke poli bedah,
dilakukan cek laboratorium dan USG Abdomen. Hasil dari USG Abdomen yaitu
tampak kelainan

pada proses radang Mc.Buney (biasanya dari apendiksitis

kronis). Sehingga dari poli bedah menyarankan operasi. Pada tanggal 7 April
2014 pukul 19.15 WIB pasien dirawat inap di bangsal Kanthil RSUD
Karanganyar. Kemudian pada tanggal 8 April 2014 pukul 09.05 WIB klien
menjalani operasi dan selesai operasi pukul 11.35 WIB. Setelah itu kembali
rawat inap diruang Kanthil untuk mendapatkan perawatan selanjutnya.
Riwayat penyakit dahulu, klien mengatakan pernah mengalami batukbatuk, demam, pusing dan hanya dibelikan obat dari warung atau berobat ke
puskesmas setempat. Klien juga mengatakan sebelumnya tidak pernah
mengalami sakit seperti yang dirasakan saat ini, belum pernah rawat inap
maupun menjalani operasi serta tidak ada alergi pada makanan atau obat-obatan.
Riwayat kesehatan keluarga, klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang
pernah mengalami apendiksitis sebelumnya dan dari pihak keluarga juga tidak
memiliki penyakit menurun seperti diabetes melitus, hipertensi dan penyakit
menular seperti tuberkulosis (TBC). Riwayat kesehatan lingkungan, klien
mengatakan tinggal dilingkungan yang bersih dan nyaman. Terdapat ventilasi
udara yang cukup, air bersih terpenuhi dan ada tempat pembuangan sampah.
Pengkajian pola kesehatan fungsional, pola persepsi dan pemeliharaan
kesehatan klien

mengatakan sehat itu penting, jika badan sehat kita dapat

37

melakukan aktivitas dengan lancar. Apabila sakit, klien harus berobat ke dokter
atau puskesmas setempat. Dan menurut klien sakit itu sesuatu yang tidak enak
dan tidak nyaman. Pola nutrisi dan metabolisme, klien mengatakan sebelum
sakit makan 3x sehari, habis 1 porsi, makan dengan nasi, sayur dan lauk
seadanya (tahu, tempe, telur) dan minum 8 gelas (1600cc) per hari minum
dengan air putih, terkadang air teh atau kopi. Sedangkan selama sakit, saat dikaji
klien mengatakan masih dipuasakan (dari jam 11.45-17.30 WIB) karena setelah
post operasi harus dipuasakan selama 3 jam atau sampai sudah bisa flatus.
Pola eliminasi, klien mengatakan sebelum sakit BAB 1 kali sehari dengan
konsistensi lunak berwarna kuning dan berbau khas, BAK 4-6 kali per hari
berwarna kuning jernih dan berbau khas. Sedangkan selama sakit klien
mengatakan BAB 1 kali sehari dengan konsistensi lunak, berwarna kuning dan
berbau khas, BAK 100cc per 2 jam (terpasang kateter), berwarna kuning jernih
dan berbau khas. Pola aktivitas dan latihan klien mengatakan selama sakit dalam
melakukan aktivitas seperti makan, minum, berpakain, berpindah dan ambulasi
dibantu orang lain, klien mengatakan dalam melakukan toileting dibantu orang
lain dan menggunakan alat seperti BAB menggunakan pispot dan BAK
(terpasang kateter).
Pola istirahat tidur, klien mengatakan sebelum sakit bisa tidur nyenyak,
tidur 7-8 jam perhari dari pukul 21.00-04.00 WIB tanpa obat tidur dan saat
bangun terasa segar dan nyaman. Selama sakit klien mengatakan tidur 6 jam
per hari, kadang-kadang terbangun karena merasa nyeri perut sebelah kanan
bawah setelah post operasi. Pola hubungan dan peran, klien mengatakan

38

sebelum sakit hubungan dengan keluarga dan tetangga baik, sedangkan selama
sakit hubungan dengan keluarga dan tetangga baik, banyak tetangga yang
menjenguk klien di RSUD Karanganyar. Pola persepsi dan konsep diri, meliputi
body image : klien mengatakan menyukai semua anggota tubuhnya dan klien
juga menerima kondisi sakitnya dengan ikhlas, mungkin ini cobaan yang
diberikan, identitas diri : klien mengatakan sebagai ibu dari 3 orang anak, peran
diri : klien melakukan kegiatan sehari-hari sebagai ibu rumah tangga dan selama
sakit tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, ideal diri : klien
berharap cepat sembuh dan cepat pulang, harga diri : klien menerima keadaan
dan percaya diri serta mensyukurinya.
Pola kognitif dan perceptual, klien mengatakan selama sakit tidak ada
gangguan pendengaran, penglihatan, penciuman dan bicara juga baik. Klien
mengatakan nyeri timbul saat bergerak (P), nyeri terasa panas dan tertusuk-tusuk
(Q), nyeri dirasakan pada perut sebelah kanan bawah (R), skala nyeri 6 (S), nyeri
terus-menerus (T), Pasien tampak meringis menahan sakit, klien tampak berhatihati ketika bergerak. Pola seksualitas reproduksi, klien adalah seorang
perempuan yang mempunyai 3 orang anak dan sebagai seorang istri, dan tidak
mengalami gangguan reproduksi. Pola mekanisme koping, klien mengatakan
bila mempunyai masalah selalu dibicarakan dengan suami, keluarga dan
diselesaikan dengan baik-baik. Pola nilai dan keyakianan, sebelum sakit klien
mengatakan beragama islam, percaya dengan adanya Allah SWT , selalu
melakukan ibadah sholat 5 waktu dan selalu berdoa, selama sakit klien tidak bisa

39

melakukan ibadah sholat 5 waktu dengan teratur karena kondisinya yang sedang
sakit dan pasien selalu berdoa untuk kesembuhannya.

C. Pemeriksan Fisik
Hasil pemeriksaan, keadaan umum baik, tingkat kesadaran klien sadar
penuh (compos mentis) dengan nilai Glasglow Coma Scale (GCS) 15 (eyes: 4,
motorik: 6, verbal: 5). Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan hasil
tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 84 kali per menit dengan irama teratur dan
teraba kuat, pernafasan 24 kali per menit dengan irama teratur dan suhu 36,9oC.
Pemeriksaan kepala yaitu bentuk mesocephal, tidak ada bekas luka, kulit
kepala bersih, rambut keriting dan beruban. Mata, bentuk simetris, konjungtiva
tidak anemis, pupil isokor, sklera tidak ikterik, terdapat sedikit lingkar hitam di
sekitar mata dan tidak menggunakan alat bantu penglihatan. Hidung, bentuk
simetris, bersih, tidak ada sekret dan polip. Mulut, bentuk simetris, bibir lembab,
tidak ada stomatitis. Telinga, bentuk simetris, sedikit ada serumen, pendengaran
baik dan tidak menggunakan alat bantu pendengaran. Leher, tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid dan tidak ada kaku kuduk.
Pemeriksaan dada paru, untuk inspeksi bentuk simetris, tidak ada jejas dan
tidak menggunakan otot bantu pernafasan, saat dipalpasi vocal premitus kanan
kiri sama, saat diperkusi bunyi paru sonor (pada semua lapang paru), saat
diauskultasi bunyi paru terdengar normal (vesikuler) disemua lapang paru dan
tidak ada suara tambahan (ronkhi/wheezing). Jantung, untuk inspeksi ictus
cordis tidak tampak, saat dipalpasi ictus cordis teraba di SIC V, saat diperkusi

40

bunyi jantung pekak (ICS III/IV pada garis parasternal kiri), dan saat
diauskultasi bunyi jantung I dan bunyi jantung II terdengar murni dan tidak ada
suara tambahan (mur-mur).
Pemeriksaan abdomen, untuk inspeksi terdapat luka post operasi
apendiktomi pada perut sebelah kanan bawah dengan balutan kurang lebih 10
cm dengan garis horizontal, balutan dalam keaadan bersih dan tidak merembes,
saat diauskultasi terdengar bising usus 10 kali per menit, palpasi terdapat nyeri
tekan pada kuadran IV dan perkusi tidak dilakukan karena pasien tampak
meringis kesakitan. Pada genetalia bersih dan terpasang kateter, rektum bersih
dan tidak ada hemoroid. Kulit berwarna sawo matang, turgor kulit baik (kembali
kurang dari 2 detik). Ekstermitas atas, kekuatan otot kanan kiri (5/5), kekuatan
otot ektermitas bawah (4/4), ekstermitas bawah dan atas tidak ada odema,
capilary refile kurang dari 3 detik, perabaan akral hangat dan tangan kiri
terpasang infus.

D. Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang


Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada klien sebelum dilakukan
operasi pada tanggal 4 April 2014 adalah pemeriksaan laboratorium dan USG
abdomen. Hasil pemeriksaan laboratorium yaitu hemoglobin sebesar 12,7 g/dl
(nilai normal untuk perempuan 12-16 g/dl), hematokrit 41,9% (nilai normal 3747%), leukosit 4700/UL (nilai normal 4000 11000/UL), trombosit 169 x
10/UL (nilai normal 150 -300 x 10UL), eritrosit 4,86 x 106/UL (nilai normal
4-5 x 106/UL), gula darah 93 mg/dl (nilai normal 70 150 mg/dl), ureum 19

41

mg/dl ( nilai normal 10 50 mg/dl), creatinin 0,87 mg/dl (nilai normal 0,5 0,9
mg/dl) dan HbsAg negatif.
Hasil pemeriksaan USG abdomen yaitu area Mc. Burney adanya gambaran
hipocholik dengan nyeri tekan, kesan : pada waktu pemeriksaan USG abdomen
tampak kelainan proses radang Mc. Burney (biasanya dari apendiksitis cronis).

E. Therapy
Jenis terapi yang digunakan setelah post operasi apendiktomi pada tanggal
8 April 2014 yaitu infuse Ringer Laktat 20 tetes per menit untuk mengembalikan
keseimbangan elektrolit pada dehidrasi, infuse Ciprofloxan 2x100 mg untuk
pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif terhadap
Ciprofloxan seperti infeksi saluran cerna, terapi obat yaitu Ranitidine 2x25 mg
untuk pengobatan jangka pendek tukak duodenum aktif, Pronalges Supp 3x100
mg untuk menurunkan nyeri setelah pasca operasi.

F. Perumusan Masalah
Pengkajian dilakukan pada tanggal 8 April 204 pukul 12.05 WIB di
bangsal RSUD Karanganyar. Hasil pengkajian ditemukan analisa data sebagai
berikut: data subjektif yaitu klien mengatakan nyeri saat bergerak (provocate),
nyeri terasa panas dan tertusuk-tusuk (quality), nyeri dirasakan pada perut
sebelah kanan bawah (region), skala nyeri 6 (scale), nyeri timbul terus-menerus
(time). Data objektif klien tampak meringis menahan sakit, terdapat luka post
operasi apendiktomi pada perut sebelah kanan bawah, post operasi hari ke-0,

42

pasien tampak berhati-hati saat bergerak, tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 84
kali per menit, pernafasan 24 kali per menit, suhu 36,9 derajat celcius.
Berdasarkan pada pengumpulan data, penulis memprioritaskan diagnosa
keperawatan yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik (terputusnya
kontinuitas jaringan karena insisi post operasi).
Analisa data yang kedua ditemukan data subjektif yaitu klien mengatakan
badan masih lemas dan aktivitas dibantu keluarga setelah post operasi
apendiktomi. Data objektif klien tampak lemas, post operasi hari ke-0, makan,
minum, berpakaian, berpindah, ambulasi dengan skala 1 (dibantu orang lain),
toileting dengan skala 3 (dibantu orang lain dan alat) dan kekuatan otot
ektermitas bawah kanan kiri 4 (otot mampu berkontraksi dan menggerakan
tubuh melawan tahanan minimal). Berdasarkan analisa data dapat ditegakkan
diagnosa

keperawatan

hambatan

mobilitas

fisik

berhubungan

dengan

ketidaknyamanan (nyeri).

G. Rencana Tindakan Keperawatan


Rencana tindakan keperawaan yang dilakukan pada Ny. S dengan
diagnosa keperawatan nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik
(terputusnya kontinuitas jaringan karena insisi post operasi) yaitu dengan tujuan
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan nyeri
berkurang atau hilang dengan kriteria hasil yaitu klien dapat mengontrol nyeri,
wajah tampak rileks, klien mengatakan nyeri berkurang atau skala nyeri 2,

43

tanda-tanda vital dalam batas normal, tekanan darah 120/80mmHg, nadi 60-100
kali per menit, pernafasan 16-24 kali per menit, dan suhu 36,5-37,5C.
Intervensi keperawatan yang dilakukan antara lain pantau skala nyeri
(P,Q,R,S,T) dengan rasional untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan
merupakan indikator secara dini untuk dapat memberikan tindakan selanjutnya,
monitor tanda-tanda vital dengan rasional untuk mendeteksi adanya perubahan
sistem tubuh, berikan posisi yang nyaman dengan rasional untuk menghilangkan
tegangan abdomen yang terlambat dengan posisi terlentang, ajarkan teknik
relaksasi nafas dalam dengan rasional pernafasan yang dalam dapat menghirup
oksigen secara adekuat sehingga otot-otot menjadi rileks sehingga dapat
mengurangi nyeri, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik dengan
rasional sebagai profilaksasi untuk menghilangkan nyeri.
Rencana tindakan keperawatan hambatan mobilitas fisik berhubungan
dengan ketidaknyamanan (nyeri) dengan tujuan setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2x24 jam diharapkan hambatan mobilitas fisik dapat teratasi
dengan kriteria hasil yaitu klien tidak tampak lemas, aktivitas atau ADL dengan
mandiri, skala ADL 0, dan kekuatan otot 5. Intervensi yang dilakukan antara lain
pantau kemampuan klien dalam mobilitas dengan rasional untuk mengetahui
sejauh mana klien dalam beraktivitas, latih pasien dalam memenuhi ADL secara
mandiri sesuai kemampuan dengan rasional untuk melatih kemandirian dalam
beraktivitas secara bertahap, ajarkan klien dalam merubah posisi dengan rasional
mencegah kekakuan pada otot, dampingi dan bantu klien saat mobilisasi dengan
rasional untuk mencegah terjadinya resiko cedera.

44

H. Implementasi Keperawatan
Tindakan keperawatan dilakukan penulis pada tanggal 8 April 2014 jam
12.45 WIB adalah mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam dengan hasil data
subjektif

pasien mengatakan bersedia untuk latihan nafas dalam, pasien

mengatakan setelah latihan nafas dalam nyeri sedikit berkurang, data objektifnya
pasien tampak menirukan cara teknik relaksasi nafas dalam. Pada jam 13.00
WIB Memberikan obat analgesik (pronalges supp 1x100mg) dengan hasil data
subjektif pasien mengatakan bersedia diberikan obat, data objektifnya obat
pronalges supp masuk lewat anus dan pasien tampak meringis sakit ketika
dimasukan obat. Pada jam 13.20 WIB Memberikan obat analgesik (pronalges
supp 1x100mg) dengan hasil data subjektif pasien mengatakan bersedia
diberikan obat, data objektifnya obat pronalges supp masuk lewat anus dan
pasien tampak meringis sakit ketika dimasukan obat. Pada jam 13.45 WIB
memantau skala nyeri dengan hasil data subjektif pasien mengatakan masih
nyeri, nyeri timbul saat bergerak (P), nyeri terasa panas dan tertusuk-tusuk (Q),
nyeri dirasakan pada perut sebelah kanan bawah (R), skala nyeri 6 (S), nyeri
terus-menerus (T), data objektifnya pasien tampak meringis sakit, pasien tampak
berhati-hati ketika bergerak dan post operasi hari ke-0. Pada jam 13.55 WIB
memonitor kemampuan pasien dalam mobilitas dengan hasil data subjektif
pasien mengatakan masih lemas dan aktivitas dibantu keluarga, data objektifnya
pasien tampak berhati-hati ketika bergerak, berpakaian, berpindah, ambulasi
dibantu orang lain (skala 1), toileting dibantu keluarga dan alat (skala 3) dan
kekuatan otot ekstermitas bawah kanan kiri 4.

45

Implementasi keperawatan pada tanggal 9 April 2014 jam 07.30 WIB


memonitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu) dengan
hasil data subjektif pasien mengatakan bersedia untuk diperiksa tanda-tanda
vital, data objektifnya pasien tampak berbaring dan sudah tidak tampak lemas,
tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80 kali per menit, pernafasan 22 kali per
menit dan suhu 36,7C. Pada jam 08.00 WIB memantau skala nyeri dengan hasil
data subjektif pasien mengatakan masih nyeri, nyeri saat bergerak (P), nyeri
seperti cenut-cenut (Q), nyeri dirasakan pada perut sebelah kanan bawah (R),
skala nyeri 4 (S), nyeri hilang timbul (T), data objektifnya pasien masih tampak
meringis menahan sakit, terdapat luka post operasi apendiktomi hari ke-1. Pada
jam 08.20 WIB memberikan obat analgesik (pronalges supp 1x100mg) dengan
hasil data subjektif pasien mengatakan bersedia diberikan obat, data objektifnya
obat pronalges supp masuk lewat anus. Pada jam 08.45 WIB memantau
kemampuan pasien dalam mobilitas dengan hasil data subjektif pasien
mengatakan sudah tidak lemas tetapi aktivitas/ADL masih dibantu keluarga, data
objektifnya pasien tampak dibantu ketika sedang BAB, pasien tampak tidak
lemas. Pada jam 09.15 WIB mengajarkan pasien dalam merubah posisi dengan
data subjektif pasien mengatakan bersedia untuk merubah posisi, data
objektifnya pasien tampak berhati-hati ketika merubah posisi. Pada jam 11.25
WIB melatih pasien dalam memenuhi ADL secara mandiri sesuai kemampuan
dengan hasil data subjektif pasien mengatakan ADL masih dibantu keluarga,
data objektifnya makan, minum, berpindah, ambulasi, berpakaian dibantu orang
lain (skala 1), toileting dibantu orang lain dan alat (skala 3). Pada jam 11.45

46

WIB membantu pasien saat mobilisasi dengan hasil data subjektif pasien
mengatakan bersedia ketika dibantu, data objektifnya pasien tampak masih
berhati-hati ketika bergerak, kekuatan otot pada ekstermitas bawah kanan kiri 5.
Pada jam 12.10 WIB mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam dengan hasil
data subjektif pasien mengatakan bersedia untuk diajarkan teknik relaksasi nafas
dalam, pasien mengatakan setelah latihan relaksasi nafas dalam nyeri berkurang,
data objektifnya pasien tampak lebih rileks setelah latihan teknik relaksasi nafas
dalam. Pada jam 13.30 WIB memantau skala nyeri dengan hasil data subjektif
pasien mengatakan masih sedikit nyeri dan nyeri berkurang, nyeri timbul saat
bergerak (P), nyeri seperti cenut-cenut (Q), nyeri dirasakan pada perut sebelah
kanan bawah (R), skala nyeri 3 (S) dan nyeri hilang timbul (T), data objektifnya
pasien tampak lebih rileks, pasien tampak masih berhati-hati saat bergerak.

I. Evaluasi
Evaluasi dilakukan selama dua hari yaitu pada tanggal 8 April 2014 dan 9
April 2014 dengan metode SOAP, pada tanggal 8 April 2014 pukul 14.00 WIB,
evaluasi yang diperoleh dari diagnosa nyeri akut yaitu dengan hasil data
subjektif pasien mengatakan masih nyeri, nyeri timbul saat bergerak (P), nyeri
terasa panas dan tertusuk-tusuk (Q), nyeri dirasakan pada perut sebelah kanan
bawah (R), skala nyeri 5 (S), nyeri terus-menerus (T). Data objektifnya pasien
tampak meringis menahan sakit, pasien tampak berhati-hati ketika bergerak,
terdapat luka post operasi apendiktomi hari ke-0, tekanan darah 130/80mmHg,
nadi 84 kali per menit, pernafasan 24 kali per menit dan suhu 36,9C. Hasil

47

analisa nyeri akut belum teratasi, planning: intervensi dilanjutkan meliputi


pantau skala nyeri dan monitor tanda-tanda vital, ajarkan teknik relaksasi nafas
dalam dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik. Evaluasi untuk
diagnosa hambatan mobilitas fisik yaitu dengan hasil data subjektif pasien
mengatakan masih lemas dan aktivitas dibantu keluarga. Data objektifnya pasien
tampak lemas, post operasi apendiktomi hari ke-0, berpakaian, berpindah,
ambulasi dibantu orang lain (skala 1), toileting dibantu orang lain dan alat (skala
3) dan kekuatan otot 4 pada ekstermitas bawah kanan kiri. Hasil analisa
hambatan mobilitas fisik belum teratasi, planning: intervensi dilanjutkan
meliputi pantau kemampuan pasien dalam mobilitas, latih pasien dalam
memenuhi ADL secara mandiri, ajarkan pasien dalam merubah posisi, dampingi
dan bantu klien saat mobilisasi.
Evaluasi pada tanggal 9 April 2014 jam 14.00 WIB dengan diagnosa nyeri
akut yaitu dengan hasil data subjektif pasien mengtakan masih sedikit nyeri,
nyeri berkurang, nyeri timbul saat bergerak (P), nyeri seperti cenut-cenut (Q),
nyeri dirasakan pada perut sebelah kanan bawah (R), skala nyeri 3 (S) dan nyeri
hilang timbul (T). Data objektifnya pasien tampak lebih rileks, pasien tampak
masih berhati-hati saat bergerak, terdapat luka post operasi apendiktomi hari ke1, tekanan darah 120/80mmHg, nadi 80 kali per menit, pernafasan 22 kali per
menit dan suhu 36,7C. Hasil analisa nyeri akut sebagian teratasi (tekanan darah
120/80mmHg, nadi 84 kali per menit, pernafasan 24 kali per menit dan suhu
36,9C, pasien tamapk lebih rileks), planning: intervensi dilanjutkan meliputi
pantau skala nyeri, ajarkan teknik relaksasi nafas dalam, kolaborasi dengan

48

dokter pemberian analgesik. Evaluasi untuk diagnosa hambatan mobilitas fisik


yaitu dengan hasil data subjektif pasien mengatakan sudah tidak lemas dan
aktivitas/ADL dibantu keluarga. Data objektifnya pasien tampak lemas, post
operasi apendiktomi hari ke-1, makan, minum, berpakaian, berpindah, ambulasi
dibantu orang lain (skala 1), toileting dibantu orang lain dan alat (skala 3) dan
kekuatan otot 5 pada ekstermitas bawah kanan kiri. Hasil analisa hambatan
mobilitas fisik sebagian teratasi (pasien tidak tampak lemas, kekuatan otot 5),
planning: intervensi dilanjutkan meliputi pantau kemampuan pasien dalam
mobilitas, latih pasien dalam memenuhi ADL secara mandiri, ajarkan pasien
dalam merubah posisi, dampingi dan bantu klien saat mobilisasi.

BAB IV
PEMBAHASAN

Bab ini penulis akan membahas tentang hasil dari pelaksanaan pemberian
teknik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tingkat nyeri pada asuhan
keperawatan Ny.S dengan post operasi apendiktomi diruang Kanthil RSUD
Karanganyar. Pembahasan pada bab ini terutama membahas adanya kesesuaian
maupun kesenjangan antara teori dengan kasus. Asuhan keperawatan memfokuskan
pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia melalui tahap pengkajian, diagnosa
keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. Pengkajian dilakukan pada
tanggal 8 April 2014.

A. Pengkajian
Menurut Potter dan Perry, 2009 dalam Andarmoyo (2013) Pengkajian
adalah proses pengumpulan data secara sistematis yang bertujuan untuk
menentukan status kesehatan dan fungsional pada saat ini dan waktu
sebelumnya, serta untuk menentukan pola respon klien saat ini dan waktu
sebelumnya.
Pengkajian pada Ny. S dilakukan pada tanggal 8 April 2014 jam 12.05
WIB, untuk keluhan utama yang dirasakan klien mengatakan nyeri perut sebelah
kanan bawah. Nyeri yang dirasakan karena setelah post operasi apendiktomi hari
ke-0. Setiap pembedahan selalu berhubungan dengan insisi atau sayatan yang
merupakan trauma atau kekerasan bagi penderita yang menimbulkan berbagai

49

50

keluhan dan gejala. Salah satu keluhan yang sering ditemukan adalah nyeri
(Sjamsuhidajat, 2005). Hal ini sesuai dengan teori bahwa nyeri pasca operasi
disebabkan oleh luka operasi (Dermawan, 2010: 88). Sumber data didapatkan
dari pasien, orang terdekat pasien, catatan pasien, catatan medis, hasil
pemeriksaan medis dan perawat lain (Nursalam, 2011).
Hasil pengkajian kognitif dan perceptual klien mengatakan tidak
mengalami gangguan pendengaran, penglihatan, penciuman dan bicara juga
normal. Klien mengatakan nyeri timbul saat bergerak, nyeri terasa panas dan
tertusuk-tusuk, nyeri dirasakan pada perut sebelah kanan bawah, skala nyeri 6
dan nyeri terus-menerus. Hal ini sesuai dengan teori karena pada pasien post
operasi akan mengalami nyeri akibat pembedahan. Pengkajian nyeri dilakukan
dengan metode PQRST untuk mempermudah perawat dalam melakukan
pengkajian nyeri, meliputi provoking incident yaitu faktor penyebab nyeri
timbul, quality yaitu seperti apa nyeri dirasakan atau digambarkan klien, apakah
nyeri bersifat tumpul, seperti terbakar, berdenyut, tajam atau menusuk, region
yaitu lokasi nyeri yang dirasakan klien, scale yaitu seberapa jauh nyeri yang
dirasakan klien, misalnya skala nyeri 0 tidak ada nyeri, skala nyeri 1-3 yaitu
nyeri ringan, skala 4-6 yaitu nyeri sedang, skala nyeri 7-10 yaitu nyeri berat,
time yaitu berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah ada waktu-waktu
tertentu yang menambah rasa nyeri (Muttaqin, 2009: 73).
Hasil pengkajian pola aktivitas dan latihan didapatkan data makan, minum,
berpakaian, berpindah, ambulasi dengan dibantu orang lain (skala 1) dan
toileting dengan dibantu orang lain dan alat (skala 3). Sesuai dengan teori pada

51

pengkajian pola aktivitas dan latihan adalah malaise, tampak gelisah sehingga
pasien tergantung pada orang lain (Jitowiyono, 2010). Apabila nyeri tidak segera
ditangani

maka

akan

mengakibatkan

seseorang menjadi

depresi

dan

ketidakmampuan dalam melakukan setiap aktivitasnya. Ketidakmampuan dalam


melakukan setiap aktivitasnya yaitu sampai tidak bisa memenuhi kebutuhan
pribadi seperti makan, minum, dan berpakaian. Respon perilaku nyeri terhadap
gerakan tubuh menunjukkan karakteristik seperti malaise, gelisah, imobilisasi,
dan ketegangan otot. Sehingga dari efek nyeri tersebut pasien tergantung pada
orang lain (Dermawan, 2013).
Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan tekanan darah 130/80
mmHg, nadi 84 kali per menit, pernafasan 24 kali per menit, suhu 36,9 derajat
celcius. Berdasarkan teori nyeri, nyeri akut sering menyebabkan respon simpatis
yang menyebabkan meningkatnya kecepatan denyut jantung,

pernafasan,

tekanan darah, keringat dan pucat (Dermawan, 2013). Sesuai dengan hasil
pemeriksaan pada klien terdapat kesenjangan dengan teori, dimana hasil
pemeriksaan tanda-tanda vital pada Ny. S cenderung stabil. Setiap individu
mempunyai koping yang berbeda-beda, psikis dan sikap seseorang sangat
berpengaruh terhadap respon nyeri yang menyebabkan peningkatan tanda-tanda
vital (Potter, 2005).
Pemeriksaan fisik abdomen, terdapat luka post operasi apendiktomi pada
perut sebelah kanan bawah dengan balutan kurang lebih 10 cm dengan garis
horizontal dan balutan dalam keadaan bersih dan tidak merembes, saat
diauskultasi bising usus 10 kali per menit, palpasi terdapat nyeri tekan pada

52

kuadran IV dan perkusi tidak dilakukan karena pasien tampak meringis


kesakitan. Nyeri akut adalah memberi peringatan akan suatu cedera atau
penyakit yang akan datang, nyeri biasanya disebabkan trauma bedah atau
inflamasi seperti pada saat sakit kepala, sakit gigi, terbakar, pasca persalinan dan
pasca pembedahan (Andarmoyo, 2013: 36). Kekuatan otot ektermitas kanan kiri
pada Ny. S adalah 4 (otot mampu berkontraksi dan menggerakan tubuh melawan
tahanan minimal). Ketika penulis melakukan pengkajian kekuatan otot kaki
dengan cara menyuruh pasien untuk mengangkat kaki akan tetapi pasien tidak
mampu menahan tahanan secara maksimal. Hal tersebut dikarenakan nyeri yang
dirasakan

menyebabkan

seseorang

mengalami

ketidakmampuan

dalam

melakukan setiap aktivitas (Dermawan, 2013).


Hasil pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan laboratorium yang
dilakukan sebelum operasi dengan hasil tidak normal, dan hasil USG didapatkan
hasil

adanya pemeriksaan USG tampak kelainan yaitu proses radang Mc.

Burney (biasanya dari apendiksitis cronis). Secara umum kegunaan USG adalah
untuk menilai inflamasi dari apendiks. USG pada kasus apendiksitis akut adalah
bagian kiri yaitu sonogram secara sagital menggambarkan inflamasi apendiks,
bagian kanan yaitu kompresi transabdomial secara tranversal didapatkan
akumulasi cairan dari apendiks (Muttaqin, 2011). Berdasarkan hasil pemeriksaan
pada Ny.S sudah sesuai dengan teori yang ada, dimana hasil pemeriksaan USG
pada Ny. S menunjukan adanya peradangan pada Mc. Burney.
Terapi yang digunakan adalah infuse Ringer Laktat 20 tetes per menit
untuk

mengembalikan

keseimbangan

elektrolit

pada

dehidrasi,

infuse

53

Ciprofloxan 2x100 mg untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri


yang sensitif terhadap Ciprofloxan seperti infeksi saluran cerna, terapi obat yaitu
Ranitidine 2x25 mg untuk pengobatan jangka pendek tukak duodenum aktif,
Pronalges Supp 3x100 mg untuk menurunkan nyeri setelah pasca operasi (Sirait,
2013).

B. Perumusan Masalah
Penetapan diagnosa keperawatan adalah tahap kedua dalam proses
keperawatan. Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis tentang masalah
kesehatan atau proses kehidupan yang aktual. Diagnosa keperawatan dibuat
untuk

mengkomunikasikan

masalah

klien

pada

tim

kesehatan

(Dermawan, 2012: 58).


Diagnosa yang mungkin muncul pada penderita apendiksitis adalah nyeri
akut berhubungan dengan inflamasi dan infeksi, ansietas berhubungan dengan
proknosis penyakit rencana pembedahan, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan factor biologis, ketidakmampuan untuk
mencerna makanan, resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya
pertahanan tubuh (Nanda, 2013).
Berdasarkan analisa data, ditegakkan diagnosa keperawatan nyeri akut
berhubungan dengan agen cidera fisik (terputusnya kontinuitas jaringan karena
insisi post operasi). Hal ini dilihat dari keluhan yang dirasakan oleh Ny. S yaitu
klien mengatakan nyeri timbul saat bergerak, nyeri terasa panas dan tertusuktusuk, nyeri dirasakan pada perut sebelah kanan bawah, skala nyeri 6 dan nyeri

54

terus-menerus. Berdasarkan ekspresi atau perilaku, klien tampak meringis


menahan sakit, terdapat luka post operasi apendiktomi pada perut sebelah kanan
bawah, post operasi hari ke-0, pasien tampak berhati-hati saat bergerak, tekanan
darah 130/80 mmHg, nadi 84 kali per menit, pernafasan 24 kali per menit, suhu
36,9 derajat celcius.
Nyeri karena post operasi termasuk dalam tipe nyeri akut karena nyeri akut
terjadi setelah cedera akut, penyakit atau intervensi bedah dan memiliki awitan
yang cepat, dengan intensitas yang bervariasi (ringan sampai berat) dan
berlangsung untuk waktu singkat (kurang dari 6 bulan). Dikatakan nyeri akut
ditandai dengan adanya perubahan respirasi, tekanan darah, denyut jantung.
Secara verbal melaporkan adanya ketidaknyamanan dan menunjukkan respon
emosi dan perilaku seperti menangis, mengerang kesakitan, mengerutkan wajah
atau menyeringai (Andarmoyo, 2013). Berdasarkan batas karakteristik maka
etiologi yang diambil penulis adalah agen cidera fisik karena terputusnya
kontinuitas jaringan karena insisi post operasi (Nanda, 2014).
Diagnosa yang kedua adalah hambatan mobilitas fisik berhubungan
dengan ketidaknyamanan (nyeri), didapatkan hasil klien mengatakan badan
masih lemas dan aktivitas dibantu keluarga setelah post operasi apendiktomi.
Klien tampak lemas, post operasi hari ke-0, makan, minum, berpakaian,
berpindah, ambulasi dengan skala 1 (dibantu orang lain), toileting dengan skala
3 (dibantu keluarga dan alat) dan kekuatan otot ektermitas bawah kanan kiri 4
(otot mampu berkontraksi dan menggerakan tubuh melawan tahanan minimal).
Diagnosa hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidaknyamanan

55

(nyeri) didapatkan data dari keluhan yang dirasakan oleh klien. Dimana
keberadaan nyeri pada klien dapat mencetuskan masalah keperawatan yang lain
seperti

gangguan

pola

tidur,

defisit

perawatan

diri,

ansietas,

dan

ketidakberdayaan, hambatan mobilitas fisik atau nyeri yang dialami klien


menyebabkan klien tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari (seperti toileting,
makan, minum) secara mandiri (Prasetyo, 2010: 50). Sehingga pada kasus Ny. S
didapatkan diagnosa keperawatan

hambatan mobilitas fisik berhubungan

dengan ketidaknyamanan (nyeri). Diagnosa keperawatan Nanda yang relevan


dalam kasus-kasus nyeri khusus hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan
nyeri muskuloskeletal atau nyeri insisi (Dermawan, 2013). Pada diagnosa yang
muncul diatas diambil berdasarkan keluhan yang dirasakan oleh klien.
Penulis memprioritaskan diagnosa keperawatan nyeri akut berhubungan
dengan agen cidera fisik (terputusnya kontinuitas jaringan karena insisi post
operasi) sebagai prioritas utama didasarkan pada teori hierarki Maslow
(fisiologis, rasa aman nyaman, mencintai dan memiliki, harga diri dan
aktualisasi diri) dan menurut teori Griffith Kenney Christensen yaitu ancaman
kehidupan dan kesehatan (Dermawan, 2012). Dimana nyeri memberikan efek
ketidaknyamanan pada tubuh. Nyeri dapat mengganggu aktivitas sehari-hari
seperti istirahat tidur, pola perilaku dan psikososial. Oleh karena itu nyeri harus
harus segera ditangani atau dibebaskan, terbebas dari nyeri merupakan salah satu
kebutuhan dasar manusia secara fisiologis (Andarmoyo, 2013).

56

C. Intervensi
Perencanaan adalah suatu proses di dalam pemecahan masalah yang
merupakan keputusan awal tentang sesuatu apa yan akan dilakukan, bagaimana
dilakukan, kapan dilakukan, siapa yang melakukan dari semua tindakan
keperawatan. (Dermawan, 2012 : 84).
Penulis menyusun rencana tindakan dalam diagnosa keperawatan nyeri
akut dan hambatan mobilitas fisik berdasarkan NIC (Nursing Intervention
Classification) dengan menggunakan metode ONEC (Obsevasi, Nursing
intervention, Education, Collaboration). Tujuan dan kriteria hasil ini disusun
berdasarkan NOC (Nursing Outcomes Classification) dengan menggunakkan
metode SMART (specific, meausrable, achievable, realistic, time) (Dermawan,
2012).
Intervensi diagnosa nyeri akut, yang pertama dilakukan antara lain pantau
skala nyeri (P = Provocate, Q = Quality, R = Region, S = Scale, T = Time). Hal
ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan merupakan
indikator secara dini untuk dapat memberikan tindakan selanjutnya. Intervensi
yang kedua monitor tanda-tanda vital dengan rasional untuk mendeteksi adanya
perubahan sistem tubuh, pemeriksaan tanda-tanda vital meliputi pengukuran
suhu, nadi, tekanan darah dan frekuensi pernafasan. Pemeriksaan tanda-tanda
vital dilakukan untuk menentukan status kesehatan pasien yang lazim (data
dasar), seperti terapi medis dan keperawatan atau menandakan perubahan fungsi
fisiologis (Muttaqin, 2009: 81). Pemeriksaan tanda-tanda vital dilakukan karena

57

tanda-tanda vital menggambarkan status nyeri untuk mendukung diagnosa dan


membantu dalam memberikan terapi yang tepat (Prasetyo, 2010).
Intervensi yang ke tiga, berikan posisi yang nyaman yaitu untuk
menghilangkan tegangan abdomen yang terlambat dengan posisi terlentang.
Intervensi yang keempat, ajarkan teknik relaksasi nafas dalam karena pernafasan
yang dalam dapat menghirup oksigen secara adekuat sehingga otot-otot menjadi
rileks sehingga dapat mengurangi nyeri. Menurut Smeltzer dan Bare (2002)
dalam Trullyen (2013), teknik relaksasi nafas dalam merupakan suatu bentuk
asuhan keperawatan, yang dalam hal ini perawat mengajarkan kepada klien
bagaimana cara melakukan napas dalam, napas lambat (menahan inspirasi secara
maksimal) dan bagaimana menghembuskan napas secara perlahan, Selain dapat
menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi napas dalam juga dapat
meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi darah. Faktor yang
mempengaruhi teknik relaksasi terhadap penurunan nyeri yaitu dengan
merelaksasikan otot-otot skeletal yang mengalami spasme yang disebabkan oleh
peningkatan prostaglandin sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan
akan meningkatkan aliran darah ke daerah yang mengalami spasme dan iskemic
sehingga terjadi penurunan nyeri.
Intervensi yang kelima adalah kolaborasi dengan dokter dalam pemberian
analgesik sebagai profilaksasi untuk menghilangkan nyeri. Analgesik adalah
metode paling umum untuk mengatasi nyeri, tergolong dalam analgesik nonnarkotik dengan indikasi nyeri pasca operasi, nyeri trauma berat, artritis
rematoid (Andarmoyo, 2013: 95). Rencana tindakan tersebut disusun dengan

58

tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan


nyeri berkurang dengan kriteria hasil, klien dapat mengontrol nyeri, wajah
tampak rileks, klien mengatakan nyeri berkurang atau skala nyeri 2, tanda-tanda
vital dalam batas normal, tekanan darah 120/80mmHg, nadi 60-100 kali per
menit, pernafasan 16-24 kali per menit, dan suhu 36,5-37,5C.
Intervensi yang dilakukan untuk diagnosa hambatan mobilitas fisik yaitu
pertama. Intervensi yang dilakukan antara lain pantau kemampuan klien dalam
mobilitas untuk mengetahui sejauh mana klien dalam beraktivitas, latih pasien
dalam memenuhi ADL secara mandiri sesuai kemampuan. Hal ini dilakukan
untuk melatih kemandirian dalam beraktivitas secara bertahap, ajarkan klien
dalam merubah posisi untuk mencegah kekakuan pada otot. Mobilisasi akan
mencegah kekakuan otot dan sendi sehingga mengurangi nyeri, menjamin
kelancaran peredaran darah, memperbaiki pengaturan metabolisme tubuh,
mengembalikan kerja fisiologis organ-organ vital yang pada akhirnya justru
akan mempercepat penyembuhan luka. Menggerakkan badan atau melatih
kembali otot-otot dan sendi pasca operasi disisi lain akan memperbugar pikiran
dan mengurangi dampak negatif dan beban psikologis yang berpengaruh baik
terhadap pemulihan fisik (Gusty, 2011).
Intervensi selanjutnya dampingi dan bantu klien saat mobilisasi untuk
mencegah terjadinya resiko cedera.

Hambatan mobilitas fisik adalah

keterbatasan pada pergerakan fisik satu atau lebih ekstermitas secara mandiri
dan terarah (Nanda, 2014: 304). Rencana tindakan keperawatan hambatan
mobilitas fisik berhubungan dengan ketidaknyamanan (nyeri) dengan tujuan

59

setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan hambatan


mobilitas fisik dapat teratasi. Mobilisasi dini pasca operasi dari 6 jam pertama
pasien harus tirah baring, mobilisasi dini yang bisa dilakukan adalah
menggerakkan lengan, tangan, ujung jari kaki dan menggeser kaki. Setelah 6-10
jam pasien dapat miring kanan kiri, setelah 24 jam dapat mulai belajar duduk
dan setelah

pasien dapat duduk dianjurkan untuk berjalan (Karyati, 2012).

Dengan kriteria hasil yaitu klien tidak tampak lemas, aktivitas atau ADL dengan
mandiri, skala ADL 0, dan kekuatan otot 5.

D. Implementasi
Implementasi adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat
untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang lebih baik yang
menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan. (Dermawan, 2012: 118).
Tindakan keperawatan yang dilakukan adalah implementasi dari apa yang
sudah direncanakan pada rencana keperawatan. Tindakan keperawatan yang
sudah dilakukan oleh penulis pada Ny. S pada tanggal 8 April dan 9 April 2014
meliputi monitor TTV (tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu), memantau
skala nyeri (PQRST), mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam, memberikan
obat analgesik, memantau kemampuan pasien dalam mobilitas, mengajarkan
pasien dalam merubah posisi, melatih pasien dalam memenuhi ADL secara
mandiri sesuai kemampuan, membantu pasien dalam saat mobilisasi dan yang
tidak dilakukan adalah memberikan posisi yang nyaman karena pasien sudah

60

tahu posisi yang nyaman buat dirinya agar nyeri tidak timbul. Tindakan
keperawatan yang dibahas pada hari kedua tanggal 9 April 2014.
Tindakan keperawatan dengan masalah keperawatan nyeri akut adalah
yang pertama memonitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernafasan dan
suhu). Pengkajian nyeri dari respon fisiologis dijelaskan apabila nyeri terusmenerus akan mengakibatkan peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi
pernafasan, diaforesis, peningkatan frekuensi jantung dan dilatasi pupil
(Prasetyo, 2010: 47).
Memantau skala nyeri, pengkajian menggunakan metode PQRST meliputi
provoking incident yaitu faktor penyebab nyeri timbul, quality yaitu seperti apa
nyeri dirasakan atau digambarkan klien, apakah nyeri bersifat tumpul, seperti
terbakar, berdenyut, tajam atau menusuk, region yaitu lokasi nyeri yang
dirasakan klien, scale yaitu seberapa jauh nyeri yang dirasakan klien, misalnya
skala nyeri 0 tidak ada nyeri, skala nyeri 1-3 yaitu nyeri ringan, skala 4-6 yaitu
nyeri sedang, skala nyeri 7-10 yaitu nyei berat, time yaitu berapa lama nyeri
berlangsung, kapan, apakah ada waktu-waktu tertentu yang menambah rasa
nyeri (Muttaqin, 2009: 73).
Berkolaborasi dengan dokter pemberian analgesik (Pronalges supp),
pronalges supp tergolong analgetik non-narkotik yang berfungsi untuk
mengurangi nyeri pasca operasi (ISO, 2010). Dalam kasus Ny. S terjadi
penurunan skala nyeri setelah tindakan teknik relaksasi nafas dalam dan
memberikan obat analgesik, skala nyeri menjadi 3.

61

Implementasi selanjutnya mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam.


Menurut Brunner dan Suddart, 2001 dalam Novarizki (2009), teknik relaksasi
nafas dalam adalah teknik yang dilakukan untuk menekan nyeri pada thalamus
yang dihantarkan ke korteks cerebri dimana sebagai pusat nyeri, yang bertujuan
agar pasien dapat mengurangi nyeri selama nyeri timbul. Adapun hal-hal yang
perlu diperhatikan saat relaksasi adalah pasien harus dalam keadaan nyaman,
pikiran pasien harus tenang dan lingkungan yang tenang. Suasana yang rileks
dapat meningkatkan hormon endorphin yang berfungsi menghambat transmisi
impuls nyeri sepanjang saraf sensoris dari nosiseptor saraf perifer ke kornu
dorsalis kemudian ke thalamus, serebri dan akhirnya berdampak pada
menurunnya persepsi nyeri. secara klinis apabila pasien dalam keadaan rileks
akan menyebabkan meningkatnya kadar serotinin yang merupakan salah satu
neurotransmitter yang diproduksi oleh nucleus rafe magnus dan lokus seruleus,
serta berperan dalam sistem analgetik otak. Serotonin menyebabkan neuronneuron local medulla spinalis mensekresi enkafalin, karena enkafalin dianggap
dapat menimbulkan hambatan presineptik dan postineptik pada serabut-serabut
nyeri tipe C sehingga sistem analgetika ini dapat memblok sinyal nyeri pada
dan A tempat masuknya ke medulla spinalis dan memiliki andil dalam
memodulasi pada susunan saraf pusat (Guyton, 2005).
Teknik relaksasi nafas dalam yang dilakukan sesuai dengan jurnal
penelitian yang dilakukan oleh Rini tahun 2012. Hasil penelitian yang dilakukan
oleh Rini menyatakan bahwa teknik relaksasi berpengaruh terhadap respon
adaptasi nyeri pada pasien post operasi apendiktomi. Respon adaptasi nyeri yang

62

dimaksudkan dalam penelitian tersebut adalah skala nyeri. Skala nyeri


responden pada penelitian tersebut mengalami penurunan 2 poin setelah
perlakuan. Pada pasien yang dikelola penulis, skala nyeri turun dari 6 menjadi 3
setelah perlakuan. Teknik relaksasi nafas dalam juga diberikan berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Noviarizki, (2009) karena hasil penelitian
tersebut menunjukan bahwa teknik relaksasi nafas dalam mampu menurunkan
skala nyeri pada pasien post operasi fraktur femur di Rumah Sakit Karima
Utama Surakarta.
Teknik relaksai nafas dalam yang baik dan benar akan memberi efek yang
berharga bagi tubuh, efek tersebut yaitu penurunan nadi, tekanan darah dan
pernafasan, penurunan konsumsi oksigen,

penurunan ketegangan otot,

penurunan kecepatan metabolisme, peningkatan kesadaran global, kurang


perhatian terhadap stimulasi lingkungan, tidak ada perubahan posisi yang
volunteer, perasaan damai dan sejahtera dan periode kewaspadaan yang santai,
terjaga dan dalam (Sulistyo, 2013). Setelah pengelolaan asuhan keperawatan
selama 2 hari dengan mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam dapat
menurunkan skala nyeri menjadi skala nyeri 3.
Tindakan keperawatan dengan masalah hambatan mobilitas fisik yaitu
memantau kemampuan klien dalam mobilitas karena untuk mengetahui sejauh
mana klien dalam beraktivitas. Melatih pasien dalam memenuhi ADL secara
mandiri sesuai kemampuan untuk melatih kemandirian dalam beraktivitas secara
bertahap. Membantu klien saat mobilisasi untuk mencegah terjadinya resiko
cedera kalau tidak dibantu akan mengakibatkan resiko jatuh dan pemenuhan

63

ADL tidak terpenuhi padahal ADL merupakan kebutuhan dasar manusia.


Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan ketentraman (suatu kepuasan yang
meningkatkan penampilan sehari-hari) dan kelegaan (kebutuhan telah terpenuhi)
(Potter dan Perry, 2006). Mengajarkan klien dalam merubah posisi untuk
mencegah kekakuan pada otot karena merubah posisi atau mobilisasi)
merupakan faktor yang menonjol dalam mempercepat penyembuhan atau
pemulihan luka pacsa bedah serta optimalnya fungsi pernafasan. Keuntungan
yang dapat diraih dari latihan naik turun tempat tidur dan berjalan pada periode
dini pasca bedah, diantaranya peningkatan kecepatan kedalaman pernafasan,
peningkatan sirkulasi, peningkatan berkemih dan metabolisme (Gusty, 2011).

E. Evaluasi
Evaluasi didefinisikan sebagai keputusan asuhan keperawatan antara dasar
tujuan keperawatan klien yang telah ditetapkan dengan respon perilaku klien
yang tampil. (Dermawan, 2012 : 128). Evaluasi yang akan dilakukan oleh
penulis disesuaikan dengan kondisi pasien dan fasilitas yang ada, sehingga
rencana tindakan dapat dilaksanakan dengan SOAP, subjective, objective,
analisa, planning. (Dermawan, 2012 : 136).
Evaluasi dari tindakan yang dilakukan pada tanggal 9 April 2014 dengan
metode SOAP, diagnosa nyeri akut yaitu dengan hasil pasien mengatakan masih
sedikit nyeri, nyeri berkurang, nyeri timbul saat bergerak (P), nyeri seperti cenatcenut (Q), nyeri dirasakan pada perut sebelah kanan bawah (R), skala nyeri 3 (S)
dan nyeri hilang timbul (T), pasien tampak lebih rileks, pasien tampak masih

64

berhati-hati saat bergerak, terdapat luka post operasi apendiktomi hari ke-1,
tekanan darah 120/80mmHg, nadi 80 kali per menit, pernafasan 22 kali per
menit dan suhu 36,7C. Hasil analisa nyeri akut sebagian teratasi (tekanan
darah120/80mmHg, nadi 80 kali per menit, pernafasan 22 kali per menit dan
suhu 36,7C, pasien tampak lebih rileks). Analisa masih dikatakan teratasi
sebagian karena skala nyeri belum sesuai dengan yang ditetapkan dalam kriteria
hasil. Planning: intervensi dilanjutkan meliputi pantau skala nyeri, ajarkan teknik
relaksasi nafas dalam, kolaborasi dengan dokter pemberian analgesik. Hasilnya
terjadi penurunan skala nyeri dari skala nyeri 6 menjadi skala nyeri 3 selama 2
hari pengelolaan asuhan keperawatan. Hal ini sama dengan teori yang dijelaskan
dalam jurnal Noviarizki, (2009), dengan penelitian pengaruh terapi relaksasi
nafas dalam terhadap penurunan tingkat nyeri pada pasien pasca operasi fraktur
femur di Rumah Sakit Karima Utama Surakarta yaitu distribusi nyeri yang
dialami responden pada kelompok eksperimen sebelum dilakukan terapi
(sebelum perlakuan) rata-rata nyeri hebat yaitu sebanyak 60% dan sesudah
menerima terapi (sesudah perlakuan) sebagian besar adalah nyeri ringan dan
nyeri sedang dimana masing-masing sebesar 45%. Sedangkan dimana masingmasing pada kelompok kontrol pada saat sebelum perlakuan sebagian besar
nyeri hebat (70%) dan saat sesudah perlakuan meskipun terdapat penurunan
namun rata-rata tetap mengalami nyeri hebat (45%) (Noviarizki, 2009). Hasil
kesimpulan menjelaskan bahwa ada pengaruh yang signifikan teknik relaksasi
nafas dalam terhadap penurunan tingkat nyeri pada pasien pasca operasi fraktur

65

femur antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol di Rumah Sakit


Karima Utama Surakarta (Noviarizki, 2009).
Evaluasi

untuk diagnosa hambatan mobilitas fisik yaitu dengan hasil

pasien mengatakan masih lemas dan aktivitas dibantu keluarga, pasien tidak
tampak lemas, post operasi hari ke-1, makan, minum, berpakaian, berpindah,
ambulasi dibantu orang lain (skala 1), toileting dibantu orang lain dan alat (skala
3) dan kekuatan otot 5 pada ekstermitas bawah kanan kiri. Hasil analisa
hambatan mobilitas fisik teratasi sebagian (pasien tidak tampak lemas, kekuatan
otot 5 pada ekstermitas bawah), planning: intervensi dilanjutkan meliputi pantau
kemampuan pasien dalam mobilitas, latih pasien dalam memenuhi ADL secara
mandiri, ajarkan pasien dalam merubah posisi, dampingi dan bantu klien saat
mobilisasi.

Diagnosa

hambatan

mobilitas

fisik

berhubungan

dengan

ketidaknyamanan (nyeri) terjadi perubahan yaitu kekuatan otot menjadi 5 dan


pasien sudah tidak tampak lemas. Untuk aktivitas atau ADL masih dibantu orang
lain dan alat karena keterbatasan dari penulis yang melakukan pengelolaan
asuhan keperawatan selama 2 hari.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Hasil pengkajian yang telah dilakukan penulis pada tanggal 8 April 2014
keluhan utama yang dirasakan Ny. S adalah nyeri, klien mengatakan nyeri
saat bergerak (provocate ), nyeri terasa panas dan tertusuk-tusuk (quality),
nyeri dirasakan pada perut sebelah kanan bawah (region), skala nyeri 6
(scale), nyeri timbul terus-menerus (time), tampak meringis menahan sakit,
post op operasi hari ke-0, pasien tampak berhati-hati saat bergerak.
Pemeriksaan tanda-tanda vital meliputi tekanan darah 130/80 mmHg, nadi
84 kali per menit, pernafasan 24 kali per menit, suhu 36,9 derajat celcius
Pada pemeriksaan abdomen terdapat luka post operasi apendiktomi pada
perut sebelah kanan bawah dengan balutan 10 cm dengan garis horizontal
dan balutan dalam keadaan bersih, tidak merembes.
2. Diagnosa keperawatan yang muncul pada Ny. S berdasarkan pada
pengumpulan data, penulis memprioritaskan diagnosa keperawatan yaitu
nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik (terputusnya kontinuitas
jaringan karena insisi post operasi).
3. Rencana tindakan keperawaan yang dilakukan pada Ny. S dengan diagnosa
keperawatan nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik (terputusnya
kontinuitas jaringan karena insisi post operasi) yaitu dengan tujuan setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan nyeri

66

67

berkurang atau hilang dengan kriteria hasil yaitu klien dapat mengontrol
nyeri, wajah tampak rileks, klien mengatakan nyeri berkurang atau skala
nyeri 2, tanda-tanda vital dalam batas normal, tekanan darah 120/80mmHg,
nadi 60-100 kali per menit, pernafasan 24 kali per menit, dan suhu 36,537,5C.
4. Implementasi keperawatan yang dilakukan penulis pada tanggal 8 April dan 9
April 2014 terhadap Ny. S adalah memantau skala nyeri, monitor tandatanda vital, mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam, memberikan obat
analgesik (Pronalges supp 1x100 mg), monitor kemampuan pasien dalam
mobilitas, melatih pasien dalam memenuhi ADL secara mandiri sesuai
kemampuan dan membantu pasien dalam mobilisasi.
5. Evaluasi tindakan yang didapatkan selama dua hari masalah nyeri teratasi
sebagian.
6. Hasil analisa pemberian teknik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan
tingkat nyeri pada Ny. S dengan post operasi apendiktomi mampu
mengurangi intensitas nyeri pada pasien.

B. Saran
1. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil aplikasi riset penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan mutu
pelayanan pendidikan yang bekualitas dan profesional, sehingga dapat
tercipta perawat profesional, terampil, inovatif dan bermutu yang mampu
memberikan teknik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tingkat nyeri

68

pada asuhan keperawatan secara menyeluruh berdasarkan kode etik


keperawatan.
2. Bagi Profesi Keperawatan
Dapat digunakan sebagai referensi dan pengetahuan yang mampu
dikembangkan untuk memberikan pelayanan kepada klien dengan post
operasi

apendiktomi

yang

lebih

berkualitas

dengan

mengikuti

perkembangan ilmu pengetahuan, salah satunya pemberian teknik relaksasi


nafas dalam penurunan tingkat nyeri.
3. Bagi Rumah Sakit
Hasil aplikasi riset penelitian ini diharapkan rumah sakit mampu
memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif melalui terapi
nonfarmakologi dengan teknik relaksasi nafas dalam khususnya pada pasien
post operasi apendiktomi.

DAFTAR PUSTAKA

Andarmoyo, Sulistyo. 2013. Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Yogyakarta:


Ar-Ruzz Media.
Dermawan, Deden dan Tutik, R. 2010. Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta:
Gosyen Plubising.
Dermawan, Deden. 2012. Proses Keperawatan Konsep dan Kerangka Kerja. Jilid 1.
Yogyakarta: Gosyen Publising.
Huda, Amin. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan
Nanda NIC NOC, Jilid 1. Jakarta: Medication.
Huda, Amin. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan
Nanda NIC NOC, Jilid 2. Jakarta: Medication
Ibrahim, Muhtar. 2013. Gambaran Pengetahuan Pasien Tentang Mobilisasi Post
Operasi
Apendiksitis.
http://kim.ung.ac.id/index.php/KIMFIKK/article/view/2839. Diakses pada
tanggal 10 April 2014 pukul 15.25 WIB.
Sirait, Midian. 2010. ISO: Informasi Spesialite Obat Indonesia. Jakarta: PT. ISFI.
Jitowiyono, S dan Kristiyaningsih, W. 2010. Asuhan Keperawatan Post Operasi.
Yogyakarta: Yuna Medika.
Kimberly, A. 2012. Kapita Selekta Penyakit. Jakarta: EGC.
Kusyati, Eni. 2006. Ketrampilan dan Prosedur Laboratorium. Jakarta: EGC.
Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2009. Asuhan Keperawatan Perioperatif. Jakarta:
Salemba Medika.
Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2011. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan
Keperawatan Medikal Bedah, Jilid 1. Jakarta: Salemba Medika.

Nanda. 2010. Nanda International Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi.


Jakarta: EGC.
Nanda. 2012. Nanda International Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi.
Jakarta: EGC.

69

70

Noviarizki. 2009. Pengaruh Teknik Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Penurunan


Tingkat Nyeri pada Pasien Pasca Operasi Fraktur Femur.
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/view/2243.
Diakses
pada
tanggal 15 April 2014 pukul 11.10 WIB.
Prasetyo, S. 2010. Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri, Edisi 1. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Rini, Fahriani. 2009. Pengaruh Teknik Relaksasi Terhadap Respon Adaptasi Nyeri
pada Pasien Apendiktomi Di RSU Aloei Saboe Gorontalo. Jurnal Health &
Sport.

Volume

5,

nomor

3,

Agustus

2012.

http://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JHS/article/download/910/850.

Diakses

pada Tanggal 14 April 2014 pukul 08.55 WIB.

Sjamsuhidayat, R dan Wim de jong. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta:
EGC.

Sjamsuhidayat, R dan Wim de jong. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3. Jakarta:
EGC.

Trullyen, V. L. 2013. Pengaruh Teknik Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Intensitas


Nyeri
pada
Pasien
Post
Operasi
Sectio
Ceasaria.
http://kim.ung.ac.id/index.php/KIMFIKK/article/view/2859/2835.
Diakses
pada tanggal 12 April 2014 pukul 13.55 WIB.
Wilkinson, Judith. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC
dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC.