Anda di halaman 1dari 13

Nama

: ADITYA RIZKI BAHARI


Kelas
: AKP A4
Mata Kuliah : TEORI AKUNTANSI
Penjelasan PSAK 1, 23 dan 45
PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan
A. Tujuan dan Ruang Lingkup PSAK 1 (Revisi 2009)
PSAK 1 (Revisi 2009) [selanjutnya cukup disebut PSAK 1 (2009)] merevisi PSAK
sebelumnya yang dikeluarkan pada tahun 1998 dengan judul sama. PSAK ini
mengadopsi IAS 1 (2009): Presentation of Financial Statements. Tabel II.26 memberikan
deskripsi tentang tujuan dan ruang lingkup PSAK 1.
Tabel II.26 Tujuan & Ruang Lingkup PSAK 1
Perihal

Deskripsi
a) untuk menetapkan dasar-dasar bagi penyajian laporan keuangan bertujuan umum agar
dapat dibandingkan, baik dengan laporan keuangan periode sebelumnya maupun
dengan laporan keuangan entitas lain.
Tujuan
b) untuk mengatur persyaratan bagi penyajian laporan keuangan, struktur laporan
keuangan, dan persyaratan minimum isi laporan keuangan
Ruang
lingkup

Entitas menerapkan PSAK 1 dalam penyusunan dan penyajian laporan


keuangan bertujuan umum sesuai dengan SAK.

PSAK 1 tidak berlaku bagi penyusunan dan penyajian laporan keuangan


entitas syariah karena entitas syariah mengacu pada SAK tersendiri.

PSAK 1 tidak diterapkan bagi struktur dan isi laporan keuangan interim
ringkas yang disusun sesuai dengan PSAK 3: Laporan Keuangan Interim,
kecuali untuk paragraf 13-33 yang diterapkan bagi laporan keuangan
interim tersebut.

PSAK 1 berlaku bagi seluruh entitas, termasuk entitas yang menyajikan


laporan keuangan konsolidasian dan laporan keuangan terpisah
sebagaimana diatur dalam PSAK 4: Laporan Keuangan Konsolidasian dan
Laporan Keuangan Tersendiri.

PSAK 1 menggunakan terminologi yang cocok bagi entitas yang


berorientasi laba, termasuk entitas bisnis sektor publik. Jika entitas tidak
berorientasi laba menerapkan PSAK 1, entitas tersebut mungkin perlu
menyesuaikan deskripsi beberapa pos yang terdapat dalam laporan
keuangan dan istilah laporan keuangan itu sendiri.

Entitas yang tidak memiliki ekuitas, sebagaimana didefinisikan dalam PSAK


50 (Revisi 2006):Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan

(misalnya beberapa reksadana) dan entitas yang modalnya bukan ekuitas


mungkin perlu mengadaptasi penyajian laporan keuangan kepentingan
peserta atau pemegang unit (members or unitholder interests)

B. Konsep Utama
Yang dimaksud entitas dalam deskripsi tersebut adalah entitas yang laporan
keuangannya digunakan oleh pemakai yang mengandalkan laporan keuangan tersebut
sebagai sumber utama informasi keuangan dari entitas tersebut [par. 8 PSAK 1].
Laporan keuangan bertujuan umum (general purpose financial statements) yang
selanjutnya disebut laporan keuangan adalah laporan keuangan yang ditujukan untuk
memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna laporan [par. 5 PSAK 1].
Laporan keuangan entitas terdiri dari enam komponen seperti terlihat pada Tabel II.27.
Entitas diperkenankan menggunakan judul laporan selain yang digunakan dalam PSAK
1,seperti dinyatakan dalam paragraf 8 PSAK 1.
Tabel II.27 Istilah Laporan Keuangan menurut PSAK 1 dan IAS 1
PSAK 1 (Revisi 2009)

IAS 1 (2009)

a) laporan posisi keuangan (neraca) pada akhir a) a statement of financial position as at the
periode
end of the period
b) laporan laba rugi komprehensif selama
periode

b) a statement of comprehensive income


for the period

c) laporan perubahan ekuitas selama periode

c) a statement of changes in equity for the


period

d) laporan arus kas selama periode

d) a statement of cash flows for the period

e) catatan atas laporan keuangan, berisi


ringkasan kebijakan akuntansi penting dan
informasi penjelasan lain dan

e) notes, comprising a summary of


significant accounting policies and other
explanatory information

f) laporan posisi keuangan pada awal periode


komparatif yang disajikan ketika entitas
menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara
retrospektif atau membuat penyajian kembali
pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas
mereklasifikasi pos-pos dalam laporan
keuangannya

f) a statement of financial position as at the


beginning of the earliest comparative
period when an entity applies an
accounting policy retrospectively or makes
a retrospective restatement of items in its
financial statements, or when it reclassifie

Sumber: Paragraf 10 PSAK 1 (IAI, 2009) dan paragraf 10 IAS 1 (IASCF, 2009)
Satu hal yang mendasar dan berbeda dalam laporan laba rugi komprehensif adalah
adanya pendapatan komprehensif lain (Other Comprehensive Income). Paragraf 7
PSAK 1 menjelaskan bahwa komponen ini berisi pos-pos pendapatan dan beban

(termasuk penyesuaian reklasifikasi) yang tidak diakui dalam laba rugi dari laporan
pendapatan komprehensif sebagaimana dipersyaratkan oleh SAK lainnya. Yang
dimaksud penyesuaian reklasifikasi adalah jumlah yang direklasifikasi ke bagian laba
rugi periode berjalan yang sebelumnya diakui dalam pendapatan komprehensif lain
pada periode berjalan atau periode sebelumnya [par.7 PSAK 1]. Sementara itu,rincian
lebih detil pendapatan komprehensif lain ada di Tabel II.28.
Tabel II.28 Komponen Pendapatan Komprehensif Lain menurut PSAK 1
Komponen

PSAK Terkait

a) perubahan dalam surplus revaluasi

- PSAK 16: Aset Tetap


- PSAK 19: Aset Tidak Berwujud

b) keuntungan dan kerugian aktuarial atas program


manfaat pasti

paragraf 94 PSAK 24: Imbalan


Kerja

c) keuntungan dan kerugian yang timbul dari penjabaran


laporan keuangan dari entitas asing

PSAK 11: Penjabaran Laporan


Keuangan dalam Mata Uang
Asing

d) keuntungan dan kerugian dari pengukuran kembali aset


PSAK 55: Instrumen Keuangan:
keuangan yang dikategorikan sebagai tersedia untuk
Pengakuan dan Pengukuran
dijual (available for sale)
e) Bagian efektif dari keuntungan dan kerugian instrumen
lindung nilai dalam rangka lindung nilai arus kas

PSAK 55: Instrumen Keuangan:


Pengakuan dan Pengukuran

Sumber: Paragraf 7 PSAK 1 (IAI, 2009) dan paragraf 7 IAS 1 (IASCF, 2009)
C. Perlakuan Akuntansi
1. Penyusunan laporan keuangan
Tabel II.29 merinci komponen-komponen laporan keuangan yang disusun oleh
entitas.Paragraf 9 PSAK 1 menjelaskan bahwa laporan keuangan disusun untuk
memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas
entitas yang bermanfaat bagi sebagian kalangan pengguna laporan keuangan dalam
keputusan ekonomi. Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban
manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.
2. Persyaratan penyajian laporan keuangan
Selain penyusunan laporan keuangan, manajemen juga bertanggung jawab atas
penyajian laporan keuangan entitas (par. 15 PSAK 1). Dalam rangka mencapai tujuan
penyusunan laporan keuangan, paragraf 9 PSAK 1 menyatakan bahwa laporan
keuangan menyajikan informasi mengenai entitas yang meliputi:
(a) aset;
(b) liabilitas;
(c) ekuitas;
(d) pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian;

(e) kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik
(f) arus kas.
Keenam informasi di atas beserta informasi lain yang terdapat dalam catatan atas
laporan keuangan membantu pengguna laporan keuangan dalam memprediksi arus kas
masa depan dan,khususnya, dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan
setara kas.
Tabel II.29 Standar Akuntansi Struktur dan Persyaratan Minimal Isi Laporan Keuangan
Komponen LK
Laporan posisi
keuangan

1)

2)

3)

4)

Deskripsi Standar Akuntansi


Informasi yang disajikan dalam Laporan Keuangan
Laporan posisi keuangan minimal mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut:
a)
aset tetap;
b)
properti investasi;
c)
aset tak berwujud;
d)
aset keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan pada e), g) dan h));
e)
investasi dengan menggunakan metode ekuitas;
f)
persediaan;
g)
piutang dagang dan piutang lainnya;
h)
kas dan setara kas;
i)
total aset yang diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual dan aset y
untuk dijual sesuai dengan PSAK 58;
j)
utang dagang dan terutang lainnya;
k)
provisi;
l)
liabilitias keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan dalam j) dan k));
n)
liabilitias dan aset untuk pajak kini sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46;
o)
liabilitias dan aset pajak tangguhan, sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46;
p)
kepentingan nonpengendali, disajikan sebagai bagian dari ekuitas; dan
q)
modal saham dan cadangan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas indu
Entitas menyajikan pos-pos tambahan, judul dan subtotal dalam laporan posisi keuangan j
Ketika entitas menyajikan aset lancar dan tidak lancar dan laibilitas jangka pendek dan jan
tangguhan tidak boleh diklasifikasikan sebagai aset lancar (laibilitas jangka pendek) [par.
Pembedaan Aset Lancar dan Tidak Lancar dan Laibilitas Jangka Pendek dan Jangka Panja
Entitas menyajikan aset lancar dan tidak lancar dan laibilitas jangka pendek dan jangka pa
penyajian berdasarkan likuiditas memberikan informasi yang lebih relevan dan dapat dian
likuiditas [par. 57]
Apa pun metode penyajian yang digunakan, entitas mengungkapkan jumlah yang diharap
yang menggabungkan jumlah yang diharapkan akan dipulihkan atau diselesaikan:
(a)
tidak lebih dari dua belas bulan setelah periode pelaporan; dan
(b)
lebih dari dua belas bulan setelah periode pelaporan [par. 58]
Aset Lancar
64. Entitas mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar, jika:
(a)
entitas mengharapkan akan merealisasikan aset, atau bermaksud untuk menjual a
(b)
entitas memiliki aset untuk tujuan diperdagangkan;
(c)
entitas mengharapkan akan merealisasi aset dalam jangka waktu 12 bulan setelah
(d)
kas atau setara kas (seperti yang dinyatakan dalam PSAK 2: Laporan Arus Kas) k
sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.Entitas mengklasifikasikan aset y
Liabilitas Jangka Pendek
Suatu laibilitas diklasifikasikan sebagai laibilitas jangka pendek jika:
(a)
entitas mengharapkan akan menyelesaikan laibilitas tersebut dalam siklus operas
(b)
entitas memiliki laibilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan;
(c)
laibilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu 12 bulan se

5)

Laporan Laba Rugi 1)


Komprehensif

2)

3)
4)

(d)
entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian laibilitas sel
Entitas mengklasifikasi laibilitas yang tidak termasuk kategori tersebut sebagai laibilitas j
Informasi yang Disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan atau Catatan atas Laporan Keu
Entitas mengungkapkan di laporan posisi keuangan atau di catatan atas laporan keuangan,
entitas [par.74]
Entitas mengungkapkan hal-hal berikut dalam laporan posisi keuangan atau laporan perub
(a)
untuk setiap jenis saham:
i) jumlah saham modal dasar;
ii) jumlah saham yang diterbitkan dan disetor penuh, dan yang diterbitkan tetapi
iii) nilai nominal saham, atau nilai dari saham yang tidak memiliki nilai nominal;
iv) rekonsiliasi jumlah saham beredar pada awal dan akhir periode;
v) hak, keistimewaan, dan pembatasan yang melekat pada setiap jenis saham, ter
vi) saham entitas yang dikuasai oleh entitas itu sendiri atau oleh entitas anak atau
vii) saham yang dicadangkan untuk penerbitan dengan hak opsi dan kontrak penj
(b)
penjelasan mengenai sifat dan tujuan setiap pos cadangan dalam ekuitas [par.76].
Entitas yang modalnya tidak terbagi dalam saham, seperti persekutuan atau trust, mengun
periode dari setiap jenis penyertaan, hak, keistimewaan dan pembatasan yang melekat pad
Entitas menyajikan seluruh pos pendapatan dan beban yang diakui dalam satu periode:
a)
dalam bentuk satu laporan laba rugi komprehensif, atau
b)
dalam bentuk dua laporan:
(i) laporan yang menunjukkan komponen laba rugi (laporan laba rugi terpisah); d
(ii) laporan yang dimulai dengan laba rugi dan menunjukkan komponen pendapa
Informasi yang Disajikan dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif
Laporan laba rugi komprehensif, sekurang-kurangnya mencakup penyajian jumlah pos-po
(a)
pendapatan;
(b)
biaya keuangan;
(c)
bagian laba rugi dari entitas asosiasi dan joint ventures yang dicatat dengan meng
(d)
beban pajak;
(e)
suatu jumlah tunggal yang mencakup total dari:
i) laba rugi setelah pajak dari operasi yang dihentikan; dan
ii) keuntungan atau kerugian setelah pajak yang diakui dengan pengukuran nilai
operasi yang dihentikan;
(f)
laba rugi;
(g)
setiap komponen dari pendapatan komprehensif lain yang diklasifikasikan sesuai
(h)
bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan joint ventures yang
(i)
total laba rugi komprehensif [par.79].
Entitas mengungkapkan pos-pos di bawah ini dalam laporan laba rugi komprehensif sebag
(a)
laba rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada:
i) kepentingan non-pengendali; dan
ii) pemilik entitas induk
(b)
total laba rugi komprehensif periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada:
i) kepentingan non-pengendali; dan
ii) pemilik entitas induk [par.80]
Entitas dapat menyajikan pos-pos sebagaimana dimaksud paragraf 79(a)-(f) dan pengungk
Entitas menyajikan pos-pos tambahan, judul dan sub jumlah lain dalam laporan laba rugi
kinerja keuangan entitas [par.82]
Entitas tidak diperkenankan menyajikan pos-pos pendapatan dan beban sebagai pos luar b
laporan keuangan [par.84]
Laba Rugi Selama Periode
Entitas mengakui seluruh pos-pos pendapatan dan beban pada suatu periode dalam laba ru
Pendapatan Komprehensif Lain Selama Periode
Entitas mengungkapkan jumlah pajak penghasilan terkait dengan setiap komponen dari pe
atau catatan atas laporan keuangan [par.87].
Entitas mengungkapkan penyesuaian reklasifikasi yang terkait dengan komponen pendap

5)

1)
Laporan
Perubahan Ekuitas

2)

Informasi yang Disajikan dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif atau Catatan atas Lapo
Entitas menyajikan analisis beban yang diakui dalam laba rugi dengan menggunakan klas
lebih relevan [par.96].
Entitas yang mengklasifikasikan beban berdasarkan fungsi mengungkapkan informasi tam
Entitas menyajikan laporan perubahan ekuitas yang menunjukkan:
(a)
total laba rugi komprehensif selama suatu periode, yang menunjukkan secara terp
kepentingan non-pengendali;
(b)
untuk tiap komponen ekuitas, pengaruh penerapan retrospektif atau penyajian ke
(c)
untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tercatat pada awal dan
i) laba rugi;
ii) masing-masing pos pendapatan komprehensif lain; dan
iii) transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, yang menunju
entitas anak yang tidak menyebabkan hilang pengendalian [par.103].
Entitas menyajikan, baik dalam laporan perubahan ekuitas atau dalam catatan atas laporan
saham [par.104].

Laporan Arus Kas PSAK 2 (Revisi 2009) mengatur persyaratan penyajian dan
pengungkapan informasi arus kas
1)
Struktur
Catatan atas
Catatan atas laporan keuangan:
Laporan Keuangan
(a)
menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan
(b)
mengungkapkan informasi yang disyaratkan SAK yang tidak disajikan di bagian
(c)
memberikan informasi yang tidak disajikan di bagian mana pun dalam laporan k
Entitas, sepanjang praktis, menyajikan catatan atas laporan keuangan secara sistematis. En
komprehensif, laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), laporan perubahan ekuitas dan la
2)
Pengungkapan Kebijakan Akuntansi
Entitas mengungkapkan dalam ringkasan kebijakan akuntansi signifikan:
(a)
dasar pengukuran yang digunakan dalam menyusun laporan keuangan;
(b)
kebijakan akuntansi lainnya yang diterapkan yang relevan untuk memahami lapo
Entitas mengungkapkan, dalam ringkasan kebijakan akuntansi signifikan atau catatan atas
telah dibuat manajemen dalam proses penerapan kebijakan akuntansi dan memiliki dampa
3)
Sumber Estimasi Ketidakpastian
Entitas mengungkapkan informasi tentang asumsi yang dibuat mengenai masa depan, dan
signifikan yang mengakibatkan penyesuaian material terhadap jumlah tercatat aset dan lai
keuangan memasukkan rincian atas:
(a)
sifat; dan
(b)
jumlah tercatat pada akhir periode pelaporan [par.122]
4)
Modal
Entitas mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan untu
5)
Pengungkapan Lain
Entitas mengungkapkan di dalam catatan atas laporan keuangan:
(a)
jumlah dividen yang diusulkan atau diumumkan sebelum tanggal penyelesaian la
lembar sahamnya; dan
(b)
jumlah dividen preferen kumulatif yang tidak diakui [par.134].
Entitas mengungkapkan hal-hal berikut ini, jika tidak diungkapkan di bagian manapun da
(a)
domisili dan bentuk hukum, negara tempat pendirian, alamat kantor pusat entitas
(b)
keterangan mengenai sifat operasi dan kegiatan utama;
(c)
nama entitas induk dan nama entitas induk terakhir dalam kelompok usaha [par.1

Sumber: PSAK 1 (IAI, 2009) dan IAS 1 (IASCF, 2009)


Di dalam menyajikan laporan keuangan, entitas harus mengacu semua PSAK, yang
terdiri dari Pernyataan dan Interpretasi yang disusun oleh Dewan Standar Akuntansi

Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia serta peraturan regulator pasar modal untuk entitas
yang berada di bawah pengawasannya [par. 7 & 17 PSAK 1]. Paragraf 17 PSAK 1 lebih
detil mensyaratkan bahwa entitas harus membuat pernyataan secara eksplisit dan tanpa
kecuali tentang kepatuhan terhadap SAK tersebut dalam catatan atas laporan
keuangan. Selain itu, entitas tidak boleh menyebutkan bahwa laporan keuangan telah
patuh terhadap SAK, kecuali laporan keuangan tersebut telah patuh terhadap semua
yang dipersyaratkan dalam SAK.
Penyajian laporan keuangan dipersyaratkan memenuhi karakteristik umumnya, seperti
diuraikan dalam paragraf 16-43 PSAK 1 dan terlihat ringkasannya di Tabel II.30. Rincian
uraian masing-masing karakteristik yang dijelaskan di Tabel II.30 dikupas bersamaan
secara komparatif dengan dampak/aspek perpajakannya di bagian lain setelah
pembahasan perlakuan akuntansi.
Tabel II.30 Karakteristik Umum Laporan Keuangan menurut PSAK 1 dan IAS 1
PSAK 1

IAS 1

1) Penyajian secara wajar dan kepatuhan


terhadap SAK

1) Fair presentation and compliance with


IFRSs

2) Kelangsungan usaha

2) Going concern

3) Dasar akrual

3) Accrual basis of accounting

4) Materialitas dan agregasi

4) Materiality and aggregation

5) Saling hapus

5) Offsetting

6) Frekuensi pelaporan

6) Frequency of reporting

7) Informasi komparatif

7) Comparative information

8) Konsistensi penyajian

8) Consistency of presentation

Sumber: Paragraf 16-43 PSAK 1 (IAI, 2009) dan IAS 1 (IASCF, 2009)
3. Struktur dan persyaratan minimal isi laporan keuangan
Entitas harus mengidentifikasikan laporan keuangan secara jelas dan membedakannya
dari informasi lain dalam dokumen publikasi yang sama [par.46 PSAK 1]. Selain itu,
Entitas juga menyajikan informasi di Tabel II.31 secara jelas dan mengulangnya jika
dibutuhkan sehingga dapat dipahami. SAK hanya berlaku untuk laporan keuangan dan
tidak untuk informasi lain yang disajikan dalam laporan tahunan, dokumen yang
disampaikan kepada regulator atau dokumen lainnya.Karena itu, sangat penting bahwa
pengguna dapat membedakan laporan yang disusun sesuai SAK dengan informasi lain
yang juga bermanfaat bagi pengguna laporan [par. 47 PSAK 1]. Informasi mata uang
dalam unit ribuan atau jutaan diperkenankan sepanjang entitas mengungkapkan tingkat
pembulatan dan tidak menghilangkan informasi yang material [par.50 PSAK 1].
Tabel II.31 Informasi untuk Identifikasi Laporan Keuangan

a) nama entitas pembuat laporan keuangan atau identitaslain, dan setiap perubahan
informasi dari akhir periode laporan sebelumnya
b) apakah merupakan laporan keuangan satu entitas atau suatu kelompok entitas
c) tanggal akhir periode pelaporan atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan atau
catatan atas laporan keuangan
d) mata uang pelaporan sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 52
e) pembulatan yang digunakan dalam penyajian jumlah dalam laporan keuangan

Sumber: Paragraf 48 PSAK 1 (IAI, 2009) dan IAS 1 (IASCF, 2009)

PSAK 23: Pendapatan


A. Tujuan dan Ruang Lingkup PSAK 23 (Revisi 2010)
PSAK 23 (Revisi 2010) merevisi PSAK 23 (1994): Pendapatan dan merupakan adopsi
IAS 18 (2009): Revenue. Tujuan dan ruang lingkup PSAK 23 (Revisi 2010) terlihat pada
Tabel II.23.
Secara umum PSAK 23 (Revisi 2010) tidak mengalami banyak perubahan dari PSAK
sebelumnya.PSAK 23 (Revisi 2009) sudah dilengkapi dengan lampiran yang diadopsi
dari Appendix IAS 18.
PSAK 23 yang direvisi tahun 2010 ini mulai berlaku efektif 1 Januari 2011.
Tabel II.23 Tujuan dan Ruang Lingkup PSAK 23 (Revisi 2010)
Perihal

Deskripsi

Untuk mengatur perlakuan akuntansi atas pendapatan yang timbul dari


transaksi dan kejadian tertentu.

Untuk mengidentifikasi keadaan-keadaan ketika kriteria pengakuan


pendapatan terpenuhi, yaitu bila kemungkinan besar manfaat ekonomi
masa depan akan mengalir ke entitas dan manfaat tersebut dapat diukur
dengan andal.

Untuk memberikan panduan praktis dalam penerapan kriteria pengakuan


pendapatan.

Tujuan

Ruang
lingkup

PSAK 23 (Revisi 2010) diterapkan dalam akuntansi pendapatan yang


timbul dari transaksi dan kejadian berikut ini:
a) penjualan barang;
b) penjualan jasa; dan
c) penggunaan aset entitas oleh pihak lain yang menghasilkan bunga,
royalti, dan dividen [par.1].

PSAK 23 (Revisi 2010) tidak mengatur pendapatan yang timbul dari:


a) perjanjian sewa (lihat PSAK 30 (Revisi 2011): Sewa);
b) dividen yang timbul dari investasi yang dicatat sesuai metode ekuitas
(lihat PSAK 15 (revisi 2009): Investasi pada Entitas Asosiasi);
c) kontrak asuransi yang termasuk dalam ruang lingkup PSAK 28:
Akuntansi Asuransi Kerugian dan PSAK 36: Akuntansi Asuransi Jiwa.
d) perubahan nilai wajar dari aset dan liabilitas keuangan atau
pelepasannya (lihat PSAK 55 (Revisi 2011): Instrumen Keuangan:
Pengakuan dan Pengukuran);
e) perubahan nilai aset lancar lainnya;
f) ekstraksi hasil tambang (lihat PSAK 33 (Revisi 2011): Aktivitas
Pengupasan Lapisan Tanah dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada
Pertambangan Umum dan PSAK 64: Aktivitas Eksplorasi dan Evaluasi
pada Pertambangan Sumber Daya Mineral) [par.5].

Sumber: Paragraf 1-5 PSAK 23 (Revisi 2010) (IAI, 2010) dan IAS 18 (IASCF, 2009)
B. Konsep Utama
Dalam bahasa akuntansi, pendapatan merupakan bagian dari penghasilan. Definisi
penghasilan terihat pada Tabel II.23. Sementara itu, pendapatan dalam paragraf 6 PSAK
23 (Revisi 2010) didefinisikan sebagai arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang
timbul dari aktivitas normal entitas selama suatu periode jika arus masuk tersebut
mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.
Tabel II.24 Penghasilan dalam PSAK 23 (Revisi 201) dan UU PPh
Perihal

Deskripsi secara akuntansi

Pengertian Peningkatan manfaat ekonomi


penghasilan selama periode akuntansi dalam
bentuk arus masuk atau
peningkatan aset atau penurunan
liabilitas yang mengakibatkan
kenaikan ekuitas, yang tidak
berasal dari kontribusi penanam

Pengertian secara pajak


Setiap tambahan kemampuan ekonomis
yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak,
baik yang berasal dari Indonesia maupun
dari luar Indonesia,yang dapat dipakai
untuk konsumsi atau untuk menambah
kekayaan Wajib Pajak yang
bersangkutan, dengan nama dan dalam

modal

bentuk apapun

Pembagian a) Pendapatan (revenue)


penghasilan b) Keuntungan (gain)

a) Penghasilan yang tidak dikenakan


pajak atau non objek pajak
b) Penghasilan yang dikenakan pajak
bersifat final
c) Penghasilan selain dari butir a dan b di
atas

Sumber:PSAK 23 (Revisi 2010) hal. 23.1 tanpa paragraf (IAI, 2010), IAS 18 hal. 1208
(IASCF, 2009), dan UU PPh.
Permasalahan utama dalam akuntansi pendapatan adalah menentukan saat pengakuan
pendapatan. Sebagaimana diuraikan dalam tujuan PSAK 23 (Revisi 2010) di Tabel
II.24,pendapatan diakui bila kemungkinan besar manfaat ekonomi masa depan akan
mengalir ke entitas dan manfaat ini dapat diukur dengan andal..
C. Perlakuan Akuntansi
Pengakuan pendapatan untuk penjualan barang, penjualan jasa, dan penggunaan aset
entitas oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti, dan dividen diuraikan lebih
detil dalam Tabel II.25. Redaksi pengertian nilai wajar dalam Tabel II.25 sedikit berbeda
dengan paragraf 6 PSAK 23 (Revisi 2010) tanpa mengurangi arti nilai wajar,
sebagaimana tercantum dalam paragraf 7 IAS 18 (2009).
Tabel II.25 Kriteria Pengakuan Pendapatan dalam PSAK 23 (Revisi 2010)
N
o

Perihal

Deskripsi

1. Pengukuran

Pendapatan diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima


atau dapat diterima [par. 8]

Nilai wajar adalah jumlah yang dipakai ketika suatu aset dapat
dipertukarkan atau suatu liabilitas diselesaikan di antara pihakpihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan dalam suatu
transaksi yang wajar. [par.6]

2. Kriteria
Pendapatan dari penjualan barang diakui jika seluruh kondisi berikut
pengakuan
dipenuhi:
a) entitas telah memindahkan risiko dan manfaat kepemilikan barang secara
a. Penjualan
signifikan kepada pembeli;
barang [par. 13]
b) entitas tidak lagi melanjutkan pengelolaan yang biasanya terkait dengan
kepemilikan atas barang ataupun melakukan pengendalian efektif atas
barang yang dijual;
c) jumlah pendapatan tersebut dapat diukur dengan andal;

d) kemungkinan besar manfaat ekonomi yang terkait dengan transaksi tersebut


akan mengalir kepada entitas tersebut; dan
e) biaya yang terjadi atau akan terjadi sehubungan transaksi penjualan tersebut
dapat diukur dengan andal
b. Penjualan
Jasa

c. Bunga,
royalti, dividen
[par 28]

3 Pertukaran
barang dan
jasa [par.11]

Jika hasil transaksi yang terkait dengan penjualan jasa dapat


diestimasi dengan andal, pendapatan sehubungan dengan
transaksi tersebut harus diakui dengan acuan pada tingkat
penyelesaian dari transaksi pada tanggal neraca. Hasil transaksi
dapat diestimasi dengan andal jika seluruh kondisi berikut ini
dipenuhi:
a) jumlah pendapatan dapat diukur dengan andal;
b) kemungkinan besar manfaat ekonomi sehubungan dengan
transaksi tersebut dapat diperoleh entitas;
c) tingkat penyelesaian dari suatu transaksi pada tanggal neraca
dapat diukur dengan andal; dan
d) biaya yang timbul untuk transaksi dan biaya menyelesaikan
transaksi tersebut dapat diukur dengan andal [par. 19]

Jika hasil transaksi terkait dengan penjualan jasa tidak dapat


diestimasi dengan andal, maka pendapatan diakui hanya yang
berkaitan dengan beban terakui yang
dapat terpulihkan [par.25].

Pendapatan yang timbul dari penggunaan aset entitas oleh pihak


lain yang menghasilkan bunga, royalti, dan dividen diakui atas
dasar yang dijelaskan dalam paragraf 30, jika:
a) kemungkinan besar manfaat ekonomi sehubungan dengan
transaksi tersebut akan diperoleh entitas; dan
b) jumlah pendapatan dapat diukur dengan andal.

Pendapatan diakui dengan dasar sebagai berikut:


a) bunga diakui menggunakan metode suku bunga efektif seperti
yang dijelaskan di PSAK 55 (revisi 2006): Instrumen keuangan:
Pengakuan dan Pengukuran paragraf 8 dan PA 17-20;
b) royalti diakui atas dasar akrual sesuai dengan substansi
perjanjian yang relevan; dan
c) dividen diakui jika hak pemegang saham untuk menerima
pembayaran ditetapkan

Untuk pertukaran barang atau jasa dengan sifat dan nilai yang
serupa, pertukaran tersebut tidak dianggap sebagai transaksi

yang menghasilkan pendapatan

Untuk pertukaran barang atau jasa yang tidak serupa, pertukaran


tersebut dianggap sebagai transaksi yang menghasilkan
pendapatan:
a) Ketika nilai wajar dapat diukur secara andal, pendapatan
tersebut diukur pada nilai wajar dari barang atau jasa yang
diterima, disesuaikan dengan jumlah kas atau setara kas yang
dialihkan.
b) Ketika nilai wajar dari barang atau jasa yang diterima tidak
dapat diukur secara andal, pendapatan tersebut diukur pada nilai
wajar dari barang atau jasa yang diserahkan, disesuaikan
dengan jumlah kas atau setara kas yang ditransfer

Sumber: Paragraf 11, 13-28 PSAK 23 (2010)) (IAI, 2010) dan IAS 18 (IASCF, 2009)
Catatan:
Struktur bahasa dalam pengertian Nilai Wajar sedikit berbeda dengan par. 6 PSAK 23
karena menyesuaikan dengan bahasa asilnya yang berbunyi Fair value is the amount
for which an asset could be exchanged, or a liability settled, between knowledgeable,
willing parties in an arms length transaction. [par. 7 IAS 18]

PSAK 45 - Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba (Reformat 2007)


Karakteristik organisasi nirlaba berbeda dengan organisasi bisnis. Perbedaan utama
yang mendasar terletak pada cara organisasi memperoleh sumber daya yang dibutuhkan
untuk melakukan berbagai aktivitas operasinya. Organisasi nirlaba memperoleh sumber
daya dari sumbangan para anggota dan para penyumbang lain yang tidak mengharapkan
imbalan apa pun dari organisasi tersebut. Sebagai akibat dari karakteristik tersebut, dalam
organisasi nirlaba timbul transaksi tertentu yang jarang atau bahkan tidak pernah terjadi
dalam organisasi bisnis
Pernyataan dalam SAK 45 ini bertujuan untuk mengatur pelaporan keuangan
organisasi nirlaba. Dengan adanya standar pelaporan, diharapkan laporan keuangan

organisasi nirlaba dapat lebih mudah dipahami, memiliki relevansi, dan memiliki daya
banding yang tinggi.
Pernyataan ini berlaku bagi laporan keuangan yang disajikan oleh organisasi nirlaba
yang memenuhi karakteristik sebagai berikut: (a) Sumber daya entitas berasal dari para
penyumbang yang tidak mengharapkan pembayaran kembali atau manfaat ekonomi yang
sebanding dengan jumlah sumber daya yang diberikan. (b) Menghasilkan barang dan/atau
jasa tanpa bertujuan memupuk laba, dan kalau suatu entitas menghasilkan laba, maka
jumlahnya tidak pernah dibagikan kepada para pendiri atau pemilik entitas tersebut. (c)
Tidak ada kepemilikan seperti lazimnya pada organisasi bisnis, dalam arti bahwa
kepemilikan dalam organisasi nirlaba tidak dapat dijual, dialihkan, atau ditebus kembali, atau
kepemilikan tersebut tidak mencerminkan proporsi pembagian sumber daya entitas pada
saat likuidasi atau pembubaran entitas.
Pernyataan ini tidak berlaku bagi lembaga pemerintah, departemen, dan unit-unit
sejenis lainnya.
Tujuan utama laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang relevan untuk
memenuhi kepentingan para penyumbang, anggota organisasi, kreditor, dan pihak lain yang
menyediakan sumber daya bagi organisasi nirlaba.
Laporan keuangan organisasi nirlaba adalah sebagai berikut:
a) Laporan Posisi Keuangan,
b) Laporan Aktivitas,
c) Laporan Arus Kas.
Dalam PSAK ini juga terdapat contoh bentuk laporan keuangan organisasi nirlaba.
Pernyataan ini berlaku efektif untuk penyusunan dan penyajian laporan keuangan yang
mencakup periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2000.
Penerapan lebih dini dianjurkan.

Anda mungkin juga menyukai