Anda di halaman 1dari 9

Apa yang dimaksud dengan

Keuangan Negara
Pasal 1 point 1
Apakah yang dimaksud dengan
Pembiayaan ?
Pasal 1 point 17
Keuangan Negara meliputi ;
Pasal 2
Siapa sajakah pemegang
kekuasaan Keuangan Negara ?
Pasal 6
Apa tugas Mentri Keuangan dalam
pelaksanaan kekuasaan atas
Pengelolaan Fiskal ?
Pasal 8
Sebutkan tugas menteri/ pimpinan
lembaga sebagai pengguna
barang kementrian negara/
lembaga negara !
Pasal 9
Dalam kerangka ekonomi makro
dan pokok-pokok kebijakan fiskal,
Apa yang dibahas pemerintah
Pusat bersama DPR ?
Pasal 13 ayat (3)
Asas umum pengelolaan
Keuangan Negara sebagai
pencerminan negara penerapan
kaidah yang baik :
1. Asas Kepastian Hukum, asas ini
menghendaki dihormatinya hak yang
telah di peroleh seseorang
berdasarkan keputusan badan atau
pejabat Tata Usaha Negara.
2. Asas Permainan yang Layak, asas
ini menjelaskan bahwa badan atau
pejabat Tata Usaha Negara harus
memberikan kesempatan seluasluasnya untuk memperoleh informasi
yang benar dan adil, sehingga dapat
pula memberi kesempatan yang luas
untuk menuntut keadilan dan
kebenaran.
3. Asas Kecermatan, badan atau
pejabat Tata Usaha Negara senantiasa

harus bertindak secara hati-hati agar


tidak menimbulkan kerugian terhadap
warga masyarakat.
4. Asas Keseimbangan, menurut asas
ini dalam hal penjatuhan sanksi atau
hukuman, haruslah seimbang nilainya
dengan bobot pelanggaran atau
kesalahan sehingga akan memenuhi
keadilan.
5. Asas Ketepatan dalam Mengambil
Saran, untuk mewujudkan aturan
pokok Keuangan Negara telah
dijabarkan ke dalam asas- asas umum,
maka haruslah segera membuat
sistem dalam menyelesaikan
permasalahan.
Bagaimana pelaksanaan APBN
dan APBD ?
Setelah APBN ditetapkan secara rinci
dengan undang-undang,
pelaksanaannya dituangkan lebih
lanjut dengan keputusan presiden
sebagai pedoman bagi kementerian
negara/lembaga dalam pelaksanaan
anggaran. Penuangan dalam
keputusan presiden tersebut terutama
menyangkut hal-hal yang belum dirinci
didalam undang-undang APBN, seperti
alokas anggaran untuk kantor pusat
dan kantor daerah kementerian
negara/lembaga, pembayaran gaji
dalam belanja pegawai, dan
pembayaran ditunggakan yang
menjadi beban kementerian
negara/lembaga. Selain itu,
penuangan dimaksud meliputi pula
alokasi dana perimbangan untuk
provinsi/kabupaten/kota dan alokasi
subsdi sesuai dengan keperluan
perusahaan/badan yang menerima.
Apakah KPPN juga termasuk BUN?
Benar. Berdasarkan PP No. 39 tahun
2007, tentang Pengelolaan Uang
Negara/Daerah disebutkan bahwa
yang disebut sebagai Kuasa BUN
terdiri dari Kuasa BUN Pusat
(Direktorat PKN) dan Kuasa BUN
Daerah (KPPN). Dengan demikian

KPPN memang termasuk bagian dari


BUN.

Keuangan) menyusun LKPP


berdasarkan gabungan LKKL dan
LK BUN. LKPP tersebut disampaikan
kepada Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK) untuk diaudit paling lambat 3
(tiga) bulan setelah TA berakhir
atau akhir bulan Maret.

Apakah Tujuan Bagan Akun


Standar (BAS)
Memastikan rencana keuangan
(anggaran), realisasi dan pelaporan
keuangan dinyatakan dalam istilah
yang sama, meningkatkan kualitas
informasi keuangan serta
memudahkan pengawasan keuangan.
Apakah ada aturan terkait
mekanisme serah terima barang
yang berasal dari Belanja lainlain?
Sudah ada. Mekanisme serah terima
barang yang berasal dari Belanja lainlain diatur secara lengkap dalam PMK
196/PMK.05/2008 tentang Tata Cara
Penyusunan dan Penyajian Laporan
Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja
Lain-lain pada BAPP di Lampiran V.
Bagaimana mekanisme
penyusunan Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (LKPP)?
1.

2.

Setiap Kementerian
Negara/Lembaga (K/L) menyusun
dan menyampaikan Laporan
Keuangan Kementerian
Negara/Lembaga (LKKL), kepada
Presiden melalui Menteri Keuangan
c.q. Ditjen Perbendaharaan qq.
Direktorat Akuntansi dan Pelaporan
Keuangan paling lambat 2 (dua)
bulan setelah tahun anggaran (TA)
berakhir atau akhir bulan Februari.
Selain itu, Menteri Keuangan selaku
BUN juga menyusun dan
menyampaikan Laporan Keuangan
Bendahara Umum Negara (LK BUN)
LK BUN disampaikan paling lambat
2 (dua) bulan setelah TA berakhir
atau akhir bulan Februari.
Menteri Keuangan selaku
pengelola fiskal (dhi. Ditjen
Perbendaharaan c.q. Direktorat
Akuntansi dan Pelaporan

3.

LKPP yang telah diaudit oleh


BPK, disampaikan oleh Presiden
kepada DPR dalam bentuk RUU
tentang Pertanggungjawaban atas
Pelaksanaan APBN paling lambat 6
(enam) bulan setelah TA berakhir
atau akhir bulan Juni.
Siapa yang memeriksa Laporan
Keuangan Pemerintah?
Sesuai dengan UU No. 17 Tahun 2003
dan UU No. 15 Tahun 2004, tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara,
laporan keuangan pemerintah
diaudit/diperiksa oleh BPK. Hasil
pemeriksaan BPK atas laporan
keuangan tersebut memuat opini.
Sementara itu, khusus untuk laporan
keuangan tahunan BPK diperiksa oleh
akuntan publik. Hal ini sesuai dengan
Pasal 32 UU No. 15 Tahun 2006,
tentang Badan Pemeriksa Keuangan.
Akuntan publik tersebut ditunjuk oleh
DPR atas usul BPK dan Menteri
Keuangan, yang masing-masing
mengusulkan 3 (tiga) nama akuntan
publik.
Siapakah yang melakukan reviu
atas laporan keuangan
pemerintah?
Dalam rangka meningkatkan
keandalan informasi dalam laporan
keuangan, laporan keuangan perlu
direviu terlebih dahulu oleh aparat
pengawasan intern pemerintah (APIP)
sebelum disampaikan kepada BPK
untuk diaudit. Sesuai dengan PP No.
60 Tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah, LKPP
direviu oleh BPKP sebagai salah satu

APIP. Sementara itu, sesuai dengan PP


No. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan
Keuangan dan Kinerja Instansi
Pemerintah, LKKL direviu oleh APIP
masing-masing KL.

Suspen merupakan perkiraan


(account) yang menampung
perbedaan pencatatan realisasi APBN
menurut kementerian negara/lembaga
dengan pencatatan pengeluaran
anggaran yang dilakukan oleh Menteri
Keuangan selaku Bendahara Umum
Negara (BUN). Angka Suspen yang
dilaporkan timbul karena perbedaan
pencatatan realisasi Belanja Negara.

Dalam satu satuan kerja, berapa


rekening yang dapat diberikan
ijinnya oleh Menteri Keuangan?
Rekening di satker/KL dibagi menjadi 3
jenis, yaitu:

Rekening Bendahara
Pengeluaran;

Rekening Bendahara
Penerimaan;

Rekening Lainnya
Dalam 1 satuan kerja, apabila memiliki
1 DIPA, 1 bendahara pengeluaran,
maka rekening bendahara
pengeluaran yang diijinkan maksimal
1 rekening. Apabila satuan kerja
tersebut merupakan satuan kerja yang
memiliki PNBP dan terdapat
bendahara penerimaan, maka satker
tersebut dapat membuka maksimal 1
rekening bendahara penerimaan.
Rekening bendahara pengeluaran dan
rekening bendahara penerimaan ijin
pembukaannya disampaikan kepada
Kepala KPPN di wilayah kerja satker
yang bersangkutan.

Selain rekening bendahara


pengeluaran dan rekening bendahara
penerimaan, satker dapat membuka
rekening lain dengan syarat rekening
tersebut digunakan dalam rangka
menunjang tugas pokok dan fungsi
satker yang bersangkutan, seperti
rekening dana penjaminan dan
rekening dana titipan. Rekening ini ijin
pembukaannya disampaikan kepada
Dirjen Perbendaharaan (bukan kepada
Kepala KPPN).
Apakah yang dimaksud dengan
suspen pada Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (LKPP)?

a)

b)

c)

d)

Optimalisasi pengelolaan
keuangan didaerah dimaksudkan
agar pemerintah daerah sebagai
penyelenggara otonomi tidak
mengalami deficit fiscal. Jelaskan
reformasi yang berkaitan dengan
a. Reformasi sistem pembiayaan
b. Reformasi sistem
penganggaran
c. Reformasi sistem akuntansi
d. Reformasi sistem
pemeriksaan
e. Reformasi sistem manajemen
keuangan daerah
Reformasi sistem pembiayaan,
Berdasarkan UU 33/2004, sumbersumber keuangan daerah dari PAD,
dana perimbangan dan pendapatan
daerah lainnya yang sah.
Reformasi sistem penganggaran,
merupakan sistem perencanaan,
penganggaran, dan evaluasi yang
dilakukan dengan mempertimbangkan
keterkaitan antara pendanaan dengan
keluaran dan hasil yang diharapkan.
Reformasi sistem akuntansi, fase
akuntansi tradisional menuju
akuntansi modern, yang pada awalnya
pembukuan akuntansi pemerintahan
secara tradisional menganut basis
akuntansi kas dengan pencatatan
single entry. Dengan adanya reformasi
akuntansi keuangan menuju akuntansi
modern, cara penyajian laporan
keuangan yang pada awalnya
menggunakan basis kas diubah
menjadi basis akrual.
Reformasi sistem pemeriksaan,
Pemeriksaan keuangan negara secara
universal dilakukan oleh pemeriksa

intern dan ekstern pemerintah., yang


mana pemeriksaan oleh keduanya
dilakukan berdasarkan suatu standar
pemeriksaan yang ditetapkan.
Terdapat perbedan antara pemeriksa
intern dan ekstern pemerintah ntara
lain pemeriksa intern merupakan
bagian dari organisasi pemerintah,
melaporkan hasil pemeriksaannya
kepada pimpinan pemerintah
(tertinggi) di pusat maupuan di
daerah, dan tidak melakukan
pemeriksaan atas
pertanggungjawaban keuangan
negara. Pemeriksa ekstern beradea di
luar organisasi pemerintah, lingkup
pekerjaan pemeriksa ekstern tidak
tergantung pada pemerintah dan
pemeriksaannya mencakup juga
pertanggungjawaban keuangan
negara oleh pemerintah serta hasilnya
dapat digunakan sebagai dasar
publik(DPR, DPRD, dan masyarakat )
dalam pengambilan keputusan.
e)

Reformasi sistem manajemen


keuangan daerah, Aspek utama
reformasi manajemen keuangan
daerah meliputi perubahan sistem
anggaran, perubahan kelembagaan
pengelolaan keuangan daerah,
perubahan sistem akuntansi, dan
perubahan basis akuntansi.
Sifat pengeluaran Negara meliputi
exhaustive dan transfer. Jelaskan!
exhaustive adalah pembelian barang
dan jasa dalam perekonomian yang
dapat langsung dikonsumsi ataupun
dapat pula menghasilkan barang lain
lagi.
Transfer adalah berupa pemindahan
uang kepada individu-individu (untuk
kepentingan social), perusahaanperusaahaan (subsidi), atau mungkin
pula kepada Negara-negara ( Hadiah).
Keuangan Negara dapat
dikelompokkan ke dalam dua

bagian sebagai berikut: yang


pengelolaannya dipisahkan, dan
yang dikelola langsung oleh
Negara. Jelaskan menurut anda!
1. Yang pengelolaannya dipisahkan,
Komponen keuangan Negara yang
pengeloalaannya dipisahkan
adalah komponen keuangan
Negara yang pengelolaannya
diserahkan kepada BUMN dan
Lembaga-lembaga Keuangan Milik
Negara.
2. Yang dikelola langsung oleh
Negara, adalah Komponen
keuangan Negara yang dikelola
langsung oleh Negara terdiri dari
APBN dan Barang-Barang Milik
Negara
13 permasalaha dalam
perencanaan dan penganggaran
di daerah
1.

Intervensi hak budget DPRD


terlalu kuat dimana anggota
DPRD sering mengusulkan
kegiatan-kegiatan yang
menyimpang jauh dari usulan
masyarakat yang dihasilkan dalam
Musrenbang. Jadwal reses DPRD
dengan proses Musrenbang yang
tidak match misalnya Musrenbang
sudah dilakukan, baru DPRD reses
mengakibatkan banyak usulan
DPRD yang kemudian muncul dan
merubah hasil Musrenbang.
Intervensi legislative ini
kemungkinan didasari motif politis
yakni kepentingan untuk mencari
dukungan konstituen sehingga
anggota DPRD berperan seperti
sinterklas yang membagi-bagi
proyek. Selain itu ada
kemungkinan juga didasari motif
ekonomis yakni membuat proyek
untuk mendapatkan tambahan
income bagi pribadi atau
kelompoknya dengan mengharap
bisa intervensi dalam aspek
pengadaan barang (procurement)

atau pelaksanaan kegiatan.


Intervensi hak budget ini juga
seringkali mengakibatkan
pembahasan RAPBD memakan
waktu panjang untuk negosiasi
antara eksekutif dan legislative.
Salah satu strategi dari pihak
eksekutif untuk menjinakkan hak
budget DPRD ini misalnya dengan
memberikan alokasi tertentu untuk
DPRD missal dalam penyaluran
Bantuan Sosial (Bansos) ataupun
pemberian Dana Aspirasi yang
bisa digunakan oleh anggota DPRD
secara fleksibel untuk menjawab
permintaan masyarakat. Di salah
satu kabupaten di Kaltim, dana
aspirasi per anggota DPRD bisa
mencapai 2 milyar rupiah per
tahun.
2.

3.

4.

Ketersediaan dana yang


tidak tepat waktu. Terpisahnya
proses perencanaan dan anggaran
ini juga berlanjut pada saat
penyediaan anggaran. APBD
disahkan pada bulan Desember
tahun sebelumnya, tapi dana
seringkali lambat tersedia. Bukan
hal yang aneh, walau tahun
anggaran mulai per 1 Januari tapi
sampai bulan Juli-pun anggaran
program di tingkat SKPD masih
sulit didapatkan.

5.

Breakdown RPJPD ke RPJMD


dan RPJMD ke RKPD seringkali
tidak nyambung (match). Ada
kecenderungan dokumen RPJP
ataupun RPJM/Renstra SKPD
seringkali tidak dijadikan acuan
secara serius dalam menyusun
RKPD/Renja SKPD. Kondisi ini
muncul salah satunya disebabkan
oleh kualitas tenaga perencana di
SKPD yang terbatas kuantitas dan
kualitasnya. Dalam beberapa kasus
ditemui perencanaan hanya dibuat
oleh Pengguna Anggaran dan
Bendahara, dan kurang melibatkan
staf program sehingga banyak
usulan kegiatan yang sifatnya copy
paste dari kegiatan yang lalu dan
tidak visioner.

6.

Kualitas RPJPD, RPJM


Daerah dan Renstra SKPD
seringkali belum optimal.
Beberapa kelemahan yang sering
ditemui dalam penyusunan
Rencana tersebut adalah; indicator
capaian yang seringkali tidak jelas
dan tidak terukur (kalimat
berbunga-bunga), data dasar dan
asumsi yang seringkali kurang
valid, serta analisis yang kurang
mendalam dimana jarang ada
analisis mendalam yang mengarah
pada how to achieve suatu
target.

Pendekatan partisipatif
dalam perencanaan melalui
mekanisme musrenbang masih
menjadi retorika. Perencanaan
pembangunan masih didominasi
oleh: Kebijakan kepala daerah,
hasil reses DPRD dan Program dari
SKPD. Kondisi ini berakibat
timbulnya akumulasi kekecewaan
di tingkat desa dan kecamatan
yang sudah memenuhi kewajiban
membuat rencana tapi realisasinya
sangat minim.
Proses Perencanaan
kegiatan yang terpisah dari
penganggaran, Karena
ketidakjelasan informasi besaran
anggaran, proses Musrenbang
kebanyakan masih bersifat
menyusun daftar belanja (shopping
list) kegiatan. Banyak pihak
seringkali membuat usulan
sebanyak-banyaknya agar
probabilitas usulan yang disetujui
juga semakin banyak. Ibarat
memasang banyak perangkap,
agar banyak sasaran yang terjerat.

7.

8.

9.

Terlalu banyak order


dalam proses perencanaan dan
masing-masing ingin menjadi arus
utama misalnya gender
mainstreaming, poverty
mainstreaming, disaster
mainstreaming dll. Perencana di
daerah seringkali kesulitan untuk
menterjemahkan isu-isu tersebut.
Selain itu mainstreaming yang
seharusnya dijadikan prinsip
gerakan pembangunan seringkali
malah disimplifikasi menjadi sectorsektor baru, misalnya isu poverty
mainstreaming melahirkan
lembaga Komisi Pemberantasan
Kemiskinan padahal yang
seharusnya perlu didorong adalah
bagaimana setiap SKPD bisa
berkontribusi mengatasi
kemiskinan sesuai tupoksinya
masing-masing. Demikian pula isu
gender, juga direduksi dengan
munculnya embel-embel pada
Bagian Sosial menjadi Bagian
Sosial dan Pemberdayaan
Perempuan misalnya.
Koordinasi antar SKPD
untuk proses perencanaan
masih lemah sehingga kegiatan
yang dibangun jarang yang sinergis
bahkan tidak jarang muncul
egosektoral. Ada suatu kasus
dimana di suatu kawasan Dinas
Kehutanan mendorong program
reboisasi tapi disisi lain Dinas
Pertambangan memprogramkan
ekploitasi batubara di lokasi
tersebut.
SKPD yang mempunyai
alokasi anggaran besar misal
Dinas Pendidikan dan Dinas PU
seringkali tidak mempunyai
tenaga perencana yang
memadai. Akibatnya proses
perencanaan seringkali molor. Hal
ini sering diperparah oleh
minimnya tenaga Bappeda yang

mampu memberikan asistensi


kepada SKPD dalam penyusunan
rencana.
10.

APBD kabupaten/Kota perlu


evaluasi oleh Pemprop. Disisi
lain Pemprop mempunyai
keterbatasan tenaga untuk
melakukan evaluasi tersebut.
Selain itu belum ada instrument
yang praktis yang bisa digunakan
untuk evaluasi anggaran tersebut.
Hal ini berakibat proses evaluasi
memakan waktu agak lama dan
berimbas pada semakin
panjangnya proses revisi di daerah
(kabupaten/kota).

11.

Kualitas hasil Musrenbang


Desa/Kecamatan seringkali
rendah karena kurangnya
Fasilitator Musrenbang yang
berkualitas. Fasilitasi proses
perencanaan tingkat desa yang
menurut PP 72 tahun 2005
diamanahkan untuk dilaksanakan
oleh Pemerintah Kabupaten (bisa
via Pemerintah Kecamatan)
seringkali tidak berjalan. Proses
fasilitasi hanya diberikan dalam
bentuk surat edaran agar desa
melakukan Musrenbang, dan jarang
dalam bentuk bimbingan fasilitasi
di lapangan.

12.

Pedoman untuk Musrenbang


atau perencanaan (misal
Permendagri 66 tahun 2007)
cukup rumit (complicated) dan
agak sulit untuk diterapkan secara
mentah-mentah di daerah pelosok
pedesaan yang sebagian perangkat
desa dan masyarakatnya
mempunyai banyak keterbatasan
dalam hal pengetahuan, teknologi
dll.

13.

Dalam praktek penerapan


P3MD, pendekatan pemecahan
masalah yang HANYA melihat

ke AKAR MASALAH saja dapat


berpotensi menimbulkan bias
dan oversimplifikasi terhadap
suatu persoalan. Contoh kasus
nyata; di sebuah desa di daerah
masyarakat dan pemerintah
mengidentifikasi bahwa rendahnya
pengetahuan masyarakat
disebabkan tidak adanya fasilitas
sumber bacaan di wilayah itu.
Sebagai solusinya mereka
kemudian mengusulkan untuk
dibangunkan gedung
perpustakaan. Ternyata setelah
gedung perpustakaan dibangun,
sampai beberapa tahun berikutnya
perpustakaan tersebut tidak
pernah berfungsi bahkan kemudian
dijadikan Posko Pemilu. Mengapa
demikian? Hal itu terjadi karena
mereka hanya berpikir soal
membangun gedung, tetapi lupa
berpikir dan mengusulkan
bagaimana menyediakan
buku/bahan bacaan untuk
perpustakaan itu, lupa
mengusulkan kepengurusan untuk
mengelola perpustakaan itu dll.
Kondisi seperti diatas mungkin
tidak akan terjadi kalau mereka
berpikir dulu soal outcome
misalnya meningkatkan minat baca
50 % warga masyarakat. Dari
outcome tersebut nantinya bisa
diidentifikasi output yang
diperlukan misalnya: adanya
gedung perpustakaan, buku atau
bahan bacaan, tenaga pengelola
perpustakaan, kesadaran
masyarakat untuk datang ke
perpustakaan dll. Dari contoh
kasus itu nampaknya untuk
pemerintah dan masyarakat
memang perlu didorong untuk
memahami alur berpikir logis
(logical framework) sebuah
perencanaan. Selain itu pola pikir
yang ada yang cenderung
berorientasi Proyek (yang
berorientasi jangka pendek dan

berkonotasi duit) menjadi orientasi


Program (orientasi jangka
panjang dan lebih berkonotasi
sebagai gerakan pembangunan).
Berdasarkan 13 permasalahan
diatas sekurangnya ada tiga
(mala)praktik tata kelola yang
menunjukan buruk rupa
manajemen keuangan daerah saat
ini
Pertama, problem proporsi alokasi
sebagaimana ditunjukan rasio antara
belanja modal (pembangunan) dan
belanja aparatur (rutin). Hingga
sewindu pelaksanaan desentralisasi,
desain politik alokasi anggaran di
banyak daerah menunjukan minimnya
peruntukan bagi masyarakat, baik
berupa dana pelayanan publik
maupun investasi Pemda bagi
bergeraknya perekonomian. Hanya
sekitar 20-30% APBD untuk belanja
langsung bagi kepentingan
masyarakat dan sisa terbesarnya
untuk membiayai birokrasi.
Kedua, problem kapasitas daya serap
anggaran. Saat ini, sekitar 60% dana
APBN kita beredar di daerah (30%
lewat skema transfer ditambah 30%
berasal dari dana dekonsentrasi,
medebewind dan dana sektoral).
Suatu jumlah uang beredar yang tentu
amat besar, sekaligus tanggung jawab
yang besar pula. Namun sayang,
sejauh ini Pemda masih belum
berkekuatan penuh menyerap
anggaran yang ada, bahkan di
sebagian daerah, sisa dana diparkir
di perbankan berbentuk Sertifikat BI.
Perlu dicatat, adanya dana yang
menganggur itu bukan lantaran
daerah berkelebihan uang atau pun
sebagai hasil dari penghematan
(efisiensi) anggaran. Sebaliknya, hal
itu menunjukan adanya dana yang
terbengkelai, karena buruknya sistem

perencanaan anggaran, berbelitnya


prosedur pengadaan barang/jasa
pemerintah, lemahnya proses legislasi
di daerah, atau orientasi sempit pada
PAD dari bunga simpanan SBI. Kinerja
instrumen fiskal semacam itu
berakibat terbengkelainya pula
program layanan publik dan tentu sulit
menjadi stimulan alternatif di tengah
masih lesunya investasi sektor swasta.
Ketiga, selain kedua masalah di atas,
hari-hari ini media massa juga gencar
memberitakan problem ketiga dalam
manajemen keuangan daerah, yakni
administrasi pelaporan keuangan. Hal
ini tentu tidak saja menyangkut
problem akuntansi dan tata
pembukuan, tetapi lebih mendasar
lagi mencerminkan politik kebijakan
dan komitmen penegakan good
governance di daerah.
Alhasil, merujuk laporan BPK, setiap
tahun terdapat tendensi memburuk
dalam kualitas pengelolaan dan
laporan keuangan. Data terakhir
(2009) menunjukan, hanya ada 21
daerah yang memiliki status laporan
wajar tanpa pengecualian, selebihnya:
249 daerah wajar dengan
pengecualian, 7 daerah berstatus
disclaimer (tak memberikan pendapat)
dan 10 daerah adverse (tak wajar).
Reformasi pengelolaan keuangan
dilakukan dengan cara:

Penataan peraturan perundangundangan sebagai landasan


hukum;
Penataan kelembagaan;

Penataan sistem pengelolaan


keuangan negara; dan

Pengembangan sumber daya


manusia di bidang keuangan.

Sistem Perencanaan
pembangunan nasional
diharapkan dapat menjamin
tercapainya tujuan dalam
bernegara. SPPN mencakup
penyelenggaraan perencanaan makro
dari semua fungsi pemerintahan yang
meliputi semua bidang kehidupan
secara terpadu dalam Wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Dalam
cakupan waktu, SPPN disusun dalam
cakupan tiga periode perencanaan,
yaitu:
1. Jangka panjang dalam bentuk
Rencana Pembangunan Jangka
Panjang (RPJP) dengan jangka
waktu 20 tahun;
2. Jangka menengah dalam bentuk
Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM) yang
berjangka waktu 5 tahun, dan
3. Jangka pendek dalam bentuk
Rencana Kerja Pemerintah (RKP)
dengan periode tahunan.
Apakah ciri-ciri pendapatan
negara ? (berdasar UU
Perbendaharaan negara No 1
Tahun 2004)
-Ciri pendapatan negara :
-Ditetapkan atas dasar Undangundang
-Disetor ke rekening BUN (kas negara)
-Sebagai pendapatan Bendahara
Umum Negara
Dapatkah menteri keuangan
mendelegasikan kewenangannya
selaku BUN ? Kepada siapa ?
Bisa sesuai dengan Pasal 7 butir
terakhir. Pendelegasian kepada
bendahara penerimaan, bendahara
pengeluaran
Dapatkah Menteri Keuangan
selaku BUN mendelegasikan

kewenangannya kepada
bendahara Pengeluaran ?
Tidak, karena bendahara pengeluaran
ditunjuk oleh pimpinan K/L dan
pimpinan daerah, sedangkan
kewenangan menteri keuangan bisa
didelegasikan kepada pemegang
kuasa BUN di Pusat dan Kuasa BUN di
Daerah (biasanya dirjen
perbendaharaan untuk pusat, dan
KPPN untuk Daerah):

Stabilitas moneter adalah kondisi


dimana terjadi keseimbangan antara
posisi tingkat suku bunga bank (baik
simpanan / kredit) dengan
kemampuan ekonomi masyarakat
(posisi permintaan dan penawaran
barang/jasa dan peredaran uang).
Bank Indonesia akan cenderung
menaikkan tingkat suku bunga apabila
nilai rupiah menurun (kenaikan
permintaan barang/jasa lebih tinggi
daripada barang/jasa yang
ditawarkan). Kondisi nilai rupiah
menurun dan harga barang/jasa
cenderung naik inilah yang disebut

sebagai INFLASI.
Kewenangan pengelolaan
Keuangan Negara sebagaimana
dimaksud meliputi kewenangan
yang bersifat umum dan
kewenangan yang bersifat
khusus.
Kewenangan yang bersifat umum
meliputi penetapan arah, kebijakan
umum, strategi, dan prioritas dalam
pengelolaan APBN, antara lain
penetapan pedoman pelaksanaan dan
pertanggungjawaban APBN,
penetapan pedoman penyusunan
rencana kerja kementerian
negara/lembaga, penetapan gaji dan
tunjangan, serta pedoman
pengelolaan penerimaan negara.
Kewenangan yang bersifat khusus
meliputi keputusan/kebijakan teknis
yang berkaitan dengan pengelolaan
APBN, antara lain keputusan sidang
kabinet di bidang pengelolaan APBN,
keputusan rincian APBN, keputusan
dana perimbangan, dan penghapusan
aset dan piutang negara.