Anda di halaman 1dari 5

1. sepanjang sejarah peradaban manusia, kebiri dilakukan dengan berbagai tujuan.

Victor T Cheney dalam A Brief History of Castration 2nd Edition, 2006, menyatakan,
kebiri sudah dilakukan di Mediterania Timur pada 8.000-9.000 tahun lalu. Tujuannya,
agar ternak betina lebih banyak dibandingkan yang jantan.
2. Di era modern, tujuan pengebirian lebih beragam, mulai dari usaha mendapat suara
soprano pada anak laki-laki di Italia hingga upaya menghindarkan perbuatan tak
bermoral di beberapa agama. Kebiri juga dilakukan untuk mengurangi orang dengan
gangguan fisik dan mental serta populasi kelompok tertentu.
3. Dalam istilah medis, kebiri disebut kastrasi. Ketua Bagian Andrologi dan Seksologi
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, Wimpie Pangkahila, Jumat
(16/5), mengatakan, dibuangnya kedua testis dalam kebiri tradisional membuat
pelaku kekurangan hormon testosteron. Hormon ini memengaruhi dorongan seksual
pada pria atau wanita.
4. Penghasil testosteron utama di tubuh adalah testis. Hormon itu juga dihasilkan
kelenjar anak ginjal dengan jumlah amat sedikit. Tanpa hormon testosteron, pria
kehilangan hasrat seksual, tak mampu ereksi, dan tak mampu berhubungan
seksual,
5. Zaman berganti, pengebirian berubah. Proses itu tak lagi dengan membuang kedua
testis, tetapi dengan menyuntikkan obat antiandrogen, seperti medroxyprogesterone
acetate atau cyproterone. Obat-obatan itu menekan fungsi hormon testosteron.
6. Kebiri kimiawi dianggap lebih beradab sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Selain menekan dorongan seksual dan menghilangkan kemampuan
ereksi, antiandrogen menekan produksi sel spermatozoa sehingga membuat mandul.
Kastrasi kimiawi memberi efek sama tanpa perlu membuang kedua testis, ucap
Wimpie.
7. Meski demikian, pemberian antiandrogen mempercepat penuaan tubuh. Obat
antiandrogen mengurangi kerapatan massa tulang sehingga tulang keropos dan
memperbesar risiko patah tulang. Obat itu juga mengurangi massa otot dan
meningkatkan lemak yang menaikkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
8. Jika pemberian antiandrogen dihentikan, dorongan seksual dan fungsi ereksi
seseorang akan muncul lagi, ujarnya. Jadi, kebiri kimiawi bersifat sementara, bukan
menyembuhkan perilaku penjahat seksual. Ketika masa hukuman selesai, mereka
bisa mengulangi kejahatannya jika pemicunya melakukan kejahatan seksual tak
ditangani.
9. Kepala Bagian Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma
Jaya Jakarta Dinastuti mengatakan, kebiri pada orang yang memandang seksualitas
penting dalam hidup bisa menimbulkan stres, putus asa, dan depresi.
10.Stres itu bisa dialihkan pada hal positif, seperti olahraga atau fokus bekerja,
dibarengi adanya teman untuk bercerita atau konseling dengan psikolog atau

konselor. Sebaliknya, mereka yang tak bisa mengelola stres, tak punya kawan, dan
tak bisa mengakses layanan kesehatan mental bisa berbuat kekerasan dalam bentuk
lain.
11.Karena itu, penjahat seksual perlu diperiksa secara medis. Itu untuk memastikan
apakah mereka berbuat karena gangguan medis atau tidak, seperti ada tumor di
otak, masalah genetik, atau kelainan hormon tertentu.
12.Gangguan jiwa terkait seks bisa berupa disfungsi seksual atau gangguan parafilia
(seperti paedofilia, ekshibisionisme, fetisisme, dan masokhisme). Adapun masalah
kepribadian seperti terlalu pemalu atau rendah diri untuk berhubungan intim yang
sehat. Orang yang sulit menjalin relasi seksual tetap punya hasrat seksual. Jika tak
bisa mengelolanya secara sehat, ia bisa memaksa, mengancam, atau menyakiti
orang lain, kata dia.
13.Dinastuti mengatakan, kebiri bermanfaat bagi yang ingin mengurangi dorongan
seksual yang berlebih, biasanya secara sukarela. Namun, kebiri pada orang yang tak
punya masalah dorongan seksual bisa merugikan. Efek (psikologis) kastrasi fisik
atau kimiawi tak sama pada tiap orang, ucap dia.
14.Kondisi itu membuat hukuman kebiri menimbulkan pro-kontra, termasuk di negaranegara maju. Perdebatan bukan hanya soal hak asasi manusia untuk tak menyiksa
dalam pemberian sanksi, melainkan juga ketidaksambungan antara penyebab
seseorang melakukan kejahatan seksual dan bentuk hukumannya. Wajar jika suntik
kebiri tak terbukti mampu
menekan kasus kejahatan seksual.
15.Penjahat seksual kerap melakukan kejahatannya bukan karena aspek medis,
melainkan disebabkan masalah kepribadian. Karena itu, pengebirian dinilai tidak
tepat. Sebaliknya, menyelesaikan persoalan psikologis tanpa didahului pemeriksaan
medis akan percuma.

16. Pakar urologi RSUP Kariadi Semarang, Ardy Santosa.

Menyatakan bahwa Berkaitan dengan suntik antiandrogen,


Ardy mengatakan efeknya memang membuat laki-laki
kehilangan hasrat seksual, bahkan bisa impoten selama jangka
waktu tertentu. Ia menambahkan, bila seorang pria disuntik
antiandrogen, maka efek bagi yang bersangkutan bisa menjadi
kewanita-wanitaan, seperti menjadi lebih lembut, halus, dan
sebagainya.
17. Ardy menilai, hukuman suntik kebiri bukanlah solusi tepat
untuk mencegah merebaknya kasus kekerasan seksual pada
anak-anak, namun hukuman fisik yang harus diperberat.
Hukuman pelaku pedofil harus diperberat, misalnya

penjaranya lebih lama. Terapi kejiwaan juga perlu diberikan


karena tindakannya merupakan bentuk penyimpangan
perilaku, terangnya.
18. "Kebiri juga mengubah wujud pria, mulai dari membesarnya payudara,

suara jadi mirip perempuan, hilangnya bulu-bulu tanda kelamin


sekunder pria," kata dokter spesialis saraf di RS Siloam, Lippo
Karawaci Tangerang, Rocksy Fransisca Vidiaty Situmeang, seperti
dikutip Kompas (23/10/2015).
19. Pemakaian obat-obat antiandrogen pada kebiri kimiawi juga menekan
produksi spermatozoa sampai kemandulan.
20. MUI Lebak tidak setuju penerapan hukuman suntik kebiri bagi pelaku kejahatan seks
pada anak atau pemerkosa maupun paedofilia. "Kami mendukung hukuman berat bagi
kejahatan seksual pada anak sehingga dapat memberikan efek jera bagi pelaku lainnya,"
katanya.
21. Menurut dia, alasan ketidaksetujuan itu karena kebutuhan biologis merupakan
kepentingan dasar manusia. Selain itu penyuntikan kebiri merusak salah satu organ
tubuh yang mengakibatkan tidak berfungsinya organ tersebut.
22. Dia mengatakan, semestinya hukuman yang tepat bagi pelaku kekerasan terhadap anak
atau pemerkosa maupun pelaku paedofilia mendapat hukuman berat. Disamping itu juga
mereka mendapat pembinaan secara berkelanjutan, termasuk pendekatan agama
maupun kultural masyarakat.
23. Sebab, pelaku kekerasan seksual pada anak dilatarbelakangi dua penyebab. Antara lain
pertama tidak tersalurkan hasrat syaraf libidonya karena tak memiliki istri atau pasangan
wanita. Kedua, faktor ekonomi juga bisa menyumbangkan perbuatan kejahatan seksual
karena diiming-imingi mendapatkan uang.
24. Dengan begitu, kata dia, penerapan hukuman suntik kebiri bukan solusi karena tidak bisa
memutuskan mata rantai kejahatan seksual itu.

25."Suntik kimia bukan mematikan organ-organ seksualitas, itu pelanggaran hak asasi.
Tapi ini membatasi dan mengendalikan libido, dan itu harus diputuskan oleh
pengadilan dengan banyak pertimbangan," (loh kalau misalnya masa durasi obatnya
udah abis, mereka bisa berbuat seksual lagi dong? Berarti nafsu mereka mulai
muncul kembai dan pada akhirnya mereka melakukan tindakan seksual kepada
anak-anak.
26. kekerasan terhadap anak adalah kejahatan yang luar biasa atau extraordinary crime,
yang setara dengan kejahatan psikotropika, terorisme dan korupsi. ( lalu merusak
kinerja organ itu apakah bukan bagian dari extraordinary crime? Itu sama saja!)

PANDANGAN ISLAM
27.
Selain ulama klasik, mereka yang kontra soal hukuman kebiri ini juga berasal dari
kalangan kontemporer, seperti Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Asosiasi
Pondok Pesantren Jawa Timur, Hizbut Tahrir, serta kalangan ulama kontemporer lainnya.
Mereka berdalil, kebiri berarti mengubah fisik manusia, melanggar HAM, dan melahirkan
jenis hukum baru yang tak pernah dikenal dalam konsep jinayah Islamiyah.
Para ulama yang mengharamkan kebiri berdalil dengan hadis Ibnu Mas'ud RA yang
mengatakan, "Dahulu kami pernah berperang bersama Nabi SAW sedang kami
tidak bersama istri-istri. Lalu, kami bertanya kepada Nabi SAW, 'Bolehkah kami
melakukan pengebirian?'. Maka Nabi SAW melarangnya." (HR Bukhari, Muslim,
Ahmad, dan Ibnu Hibban).
28.
Selain hadis sahih yang tegas melarang pengebirian ini, ulama yang ingin
berijtihad dalam penetapan hukum Islam harus merujuk pada hukum-hukum asal yang
sudah ada. Kasus pemerkosaan sebenarnya bisa diambil dari hukum asalnya, yakni
perzinaan atau homoseksual. Jika pedofilia masuk dalam kategori perzinaan, maka
hukumannya cambuk 100 kali atau rajam (bunuh). Jika pelaku pedofilia tergolong liwat
(homoseksual), ia dihukum mati. Jika sebatas pelecehan seksual (at taharusy al jinsi)
yang tidak sampai melakukan zina atau homoseksual, hukumannya takzir.
29.
Kebiri dengan suntikan kimiawi juga berdampak berubahnya hormon testosteron
menjadi hormon estrogen. Akibatnya, laki-laki yang mendapatkan hukuman ini akan
berubah dan memiliki ciri-ciri fisik seperti perempuan. Syariat Islam jelas mengharamkan
laki-laki menyerupai perempuan atau sebaliknya. Sebagaimana sabda Nabi SAW dari
Ibnu Abbas RA, "Rasulullah SAW telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan
melaknat wanita yang menyerupai laki-laki." (HR Bukhari).

Pandangan Hukum

30.

Adapun hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah sebelum mengeluarkan

perppu, kata Novanto, antara lain berkaitan dengan peraturan hukum tentang hak
konstitusi warga negara sebagaimana terkandung dalam UUD 1945 pasal 28 b ayat 1 yg
berbunyi, "Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui
perkawinan yang sah."
31. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan peri kemanusiaan.
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan
martabat pekerjaan saya.
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan dan keilmuan saya
sebagai dokter.
Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien.

Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan
Keagamaan, Kebangsaan, Kesukuan, Politik Kepartaian, atau Kedudukan Sosial, dalam menunaikan
kewajiban saya terhadap penderita.
Saya akan memberikan kepada Guru-Guru saya, Penghormatan dan Pernyataan Terima Kasih yang
selayaknya.
Saya akan memperlakukan Teman Sejawat saya sebagai saudara kandung.
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.
Saya tidak akan mempergunakan pengetahuan Kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan
dengan Hukum Perikemanusiaan, sekalipun saya diancam.
Saya ikrarkan Sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri
saya.

32. "Selama ini pelaku seksual hanya dikenai Pasal 338, Pasal 340 KUHP, dan Pasal 81 UU
Perlindungan Anak dengan hukuman rata-rata 15 tahun. Kalau tidak dikebiri, dia akan
mengulangi tindakan itu lagi," kata Ketua Fraksi Partai NasDem Viktor Laiskodat.