Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM

ZAT PEMBANTU TEKSTIL


ANALISA LEMAK DAN ANALISA SABUN

Nama

: Fahmi Ardian

NPM

: 11 K40026

Group

: 2K2

Dosen

: Juju Juhana, AT.,M.Si

Asdos

: Khairul Umam, S.ST.


Octianne Djamaludin

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL


BANDUNG
2012

ANALISA LEMAK

I.

MAKSUD DAN TUJUAN


1.
2.
3.
4.
5.

II.

Mengetahui factor-faktor yang berpengaruh dalam lemak/ minyak.


Mengetahui cara menganalisis kadar lemak/minyak dalam bahan tekstil.
Mengetahui kandungan zat-zat yang terkandung dalam lemak/minyak.
Memahami cara dan tujuan analisis lemak.
Mengevaluasi hasil proses analisis lemak.
TEORI DASAR
Lemak dan minyak adalah ester dari gliserol (alkohol trihidrat) dengan

asam lemak dengan berat molekul (C11 C24).

Contoh minyak atau lemak bisa berasal dari minyak atau lemak hewan atau
tumbuh-tumbuhan. Bentuk lemak dari hewan pada umumnya mengandung
lemak jenuh lebih banyak dari pada lemak tak jenuh dan umumnya berbentuk
fasa padat, misalnya : lemak sapi, berupa gliserol triasetat dengan campuran
gliserol oleo-palmito-stearat. Sedangkan lemak dari minyak nabati (tumbuhtumbuhan) mengandung asam lemak tak jenuh lebih banyak dari pada lemak

jenuh dan umumnya berbentuk fasa cair, misalnya minyak jagung berupa
gliserol trioleat dengan campuran gliserol-oleo-palmoti-linolat, gliseroldilinolo dan gliserol-trinoleat. Berikut ini ada contoh lemak jenuh dan tidak
jenuh :
No

Jenis Asam Lemak Rumus Kimia

Sifat

Asam Laurat

C11H23COOH

Jenuh

Asam Miristat

C13H27COOH

Jenuh

Asam Palmitat

C15H31COOH

Jenuh

Asam Linoleat

C17H29COOH

Tidak jenuh

Asam Linolat

C17H31COOH

Tidak jenuh

Asam Risinolat

C17H32OH COOH

Tidak jenuh

Asam Oleat

C17H33COOH

Tidak jenuh

Asam Stearat

C17H35COOH

Jenuh

III. URAIAN PERCOBAAN


1. Bilangan Penyabunan
A. Maksud dan Tujuan
Menentukan banyaknya total asam lemak yang bebas dan
teresterkan didalam lemak/minyak.
B. Definisi

Bilangan penyabunan adalah bilangan menunjukkan jumlah KOH


dalam mgram yang diperlukan untuk penyabunan sempurna 1 gram
lemak atau minyak.
C. Alat yang digunakan
Labu Erlenmeyer 250 ml
Gelas Ukur 100 ml
Buret 50 ml
D. Pereaksi
Alcohol KOH 0,5N
HCl 0,5N
Indikator PP
E. Reaksi
R(COO)3C3H5 + 3 KOH
3 RCOOK + C 3H5 (OH)3
F. Cara Kerja
Timbang teliti 1 2 gram lemak/ minyak.
Tambahkan 10 ml KOH alkohol 0,5 N dan batu didih,
kemudian refluk selama 15 30 menit.
Pada akhir pendidihan tambahkan 2 3 tetes indicator PP
sampai warna merah.
Angkat dan dinginkan sebentar kemudian titrasi dengan HCl
0,5 N sampai warna merah hilang.
Lakukan titrasi blanko terhadap 10 ml KOH alkohol 0,5 N.
Direfluks selama 10 menit, tambahkan 2 3 tetes indicator
PP.
Titrasi dengan HCl 0,5 N.

G. Perhitungan
BP = (ml blanko-ml titrasi) x N HCl x BE
Bobot contoh uji (g)

2. Bilangan Iodium

A. Maksud dan Tujuan


Menentukan kadar ikatan tidak jenuh (ikatan rangakap) dalam
rantai hidrokarbon pada lemak/minyak.
B. Definisi
Bilangan Iodium (BI) adalah bilangan yang menunjukkan berapa
mg halogen (dinyatakan sebagai iodium) yang dapat diikat oleh 100
mg minyak/lemak.
C. Alat yang digunakan
Buret 50 ml
Labu Erlenmeyer 250 ml
Gelas Ukur 100 ml
D. Pereaksi
Larutan hanus 0,1N
Chloroform
Larutan tiosulfat 0,1 N
Indicator kanji 0,5 %
Kalium iodida 10 %

E. Reaksi
H
CH = CH + BrI

Br2 + 2 KI
I2 + 2Na2S2O3

Br

2KBr + I2
Na2S4O6 + 2 NaI

E. Cara Kerja
Menimbang 0,1 0,2 gram lemak (dalam Erlenmeyer bertutup
asah).
Larutkan dengan CHCl3 sebanyak 5 ml.
Tambahkan 10 ml Hanus 0,1 dari buret.
Erlenmeyer asah segera ditutp, digoyangkan dan disimpan
ditempat yang gelap selama 15 menit.
Setelah 15 menit tambahkan 10 ml KI 10 % sampai warna
merah cokelat.
Kemudian kedalam larutan yang berlebih (sisa reaksi)
ditambahkan 10ml larutan KI 10% dan encerkan dengan air
suling.
Iodium yang dibebaskan segera di titar dengan larutan
Na2S2O3 0,1 N sampai warna kuning muda.
Tambahkan

Indikator

kanji

1-2

ml,

kemudian

titrasi

dilanjutkan sampai tidak berwarna.


Lakukan titrasi blanko untuk Hanus 0,1 N.
Tambahkan 5 ml CHCl3 disimpan dalam tempat gelap selama
30 menit.
Kemudian titrasi dengan Na2S2O3 0,1 N.

F. Perhitungan
BI = (ml blanko-ml titrasi) x N Tio x BE x 100%
Bobot contoh uji (g)

3. Kadar Lemak/minyak dengan cara Soxhlet


A. Maksud dan Tujuan
Untuk menentukan kadar minyak/lemak dalam bahan tekstil dari
suatu jenis serat/kain.
B. Definisi
Kadar minyak/lemak dalam bahan tekstil adalah perbandingan
antara berat inyak/lemak dalam bahan tekstil dengan berat kering
mutlak bahan tekstil yang telah dihilangkan minyak/lemak.
C. Alat yang digunakan
Pengekstrak soxhlet lengkap terdiri dari : labu lemak/labu
ekstraksi 250 ml, tabung/labu soxhlet, pendingin gondok/

pendingin spiral.
Penangas listrik/elektrik heating plate.
Oven/ pengering listrik.
Eksikator.
Kertas saring tabung/ kertas saring biasa bebas lemak.
Neraca analitik.

D. Pelarut
Benzene
Ethanol
Karbon tetra khlorida
Trikhloro etilena
Campuran benzene : ethanol (1:1)
E. Cara Kerja
CU ditimbang, misalnya berat CU = a gram.
Keingkan labu lemak/labu ekstraksi yang telah diisi batu
didih, dalam oven pengering suhu 105-110 oC selama 1 jam,
kemudian dipindahkan/dinginkan pada eksikator, dan timbang.
Misalnya berat labu lemak/ekstraksi = b gram.

CU dimasukkan kedalam kertas saring tabung, atau dibungkus


dengan kertas saring biasa sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu sirkulasi zat pelarut/lemak.
CU tersebut dimasukkan kedalam labu Soxhlet yang telah
dikeringkan.
Masukkan zat pelarut minyak/lemak sebanyak 1,5-2 kali
volume labu Soxhlet yang telah dilengkapi labu lemak/labu
ekstraksi, kemudian pasang dan hubungkan dengan alat
pendingin.
Letakkan pengekstrak selama kurang lebih 2 jam, atau
sekurang-kurangnya 6 kali putaran/sirkulasi pelarut.
Setelah ekstraksi selesai, keluarkan CU dari labu Soxhlet,
untuk menghilangkan pelarut pada CU tersebut dalam oven
pada suhu 105-110

C selama 1-2 jam, dinginkan dalam

eksikator, kemudian timbang. Ulangi pengerjaan ini sampai


bobot tetap. Misalnya berat CU = c gram
Pisahkan minyak/lemak dari pelarut dalam labu ekstraksi
dengan cara penyulingan sampai pelarut hampir habis.
Hilangkan sisa pelarut dalam labu lemak/labu ekstraksi pada
oven pengering pada suhu 105-110 oC selama 30 menit (sampai
kering), dinginkan pada eksikator dan timbang.
Ulangi pengerjaan tersebut sampai bobot tetap dan terakhir
penimbangan dengan perbedaan maksimal 0,1 mg dengan
penimbangan sebelumnya. Missal berat labu lemak/labu
ekstraksi dan minyak/ emak = d gram.
F. Perhitungan
Hitung kadar minyak/lemak dalam contoh
Kadar minyak/lemak = a c
x 100%
Contoh uji
Atau
= db
x 100%
Contoh uji
4. Bilangan Asam

A. Maksud dan Tujuan


Menentukan banyaknya asam lemak bebas didalam lemak/ minyak.
B. Definisi
Bilangan Asam adalah bilangan yang menunjukkan beberapa mg
KOH yang diperlukan untuk menetralkan asam-asam organik (lemak)
bebas dalam 1 gram lemak.
C. Alat yang digunakan

Erlenmeyer 250 ml

Gelas ukur 100 ml

Pipet volume 10 ml
D. Pereaksi

Eter : Alkohol netral = 1 : 2


Alcohol KOH 0,1 N
Indicator PP

E. Reaksi
RCOOH + KOH

RCOOK + H2O

F. Cara Kerja
Timbang dengan teliti (empat angka dibelakang koma) 1-2
gram lemak / minyak.
Larutkan dalam 25 ml pelarut eter alcohol netral.
Bubuhi 2 tetes indicator PP (harus tidak berwarna).
Titar cepat dengan alcohol KOH 0,1 N sampai warna merah
jambu muda.
Sisa larutan jangan dibuang, dilanjutkan untuk penetapan
bilangan ester.
Penetapan dilakukan duplo (dua kali percobaan).
G. Perhitungan
BA
= ml x N KOH alcohol x BE KOH alcohol
Bobot contoh lemak (g)
5. Bilangan Ester

A. Maksud dan Tujuan


Menentukan banyaknya asam lemak yang teresterkan pada gliserol
didalam lemak/minyak.
B. Definisi
Bilangan Ester adalah bilangan yang menyatakan berapa mg KOH
yang diperlukan untuk menyabunkan ester yang ada dalam 1 gram
lemak/minyak.

C. Alat yang digunakan


Buret 50 ml
Labu Erlenmeyer 250 ml
Gelas Ukur 100 ml
D. Pereaksi
HCl 0,5
Alcohol KOH 0,1 N
Indicator PP
E. Reaksi
R(COO)3C3H5 + KOH
RCOOK + C3H5(OH)3
KOH + HCl
KCl + H2O
F. Cara Kerja
Pada sisa cairan bekas penetapan bilangan asam (asam lemak
yang sudah mengandung asam lemak bebas air), ditambahkan 10
ml tepat KOH alkohol 0,5 N (gunakan pipet volume).
Bubuhi batu didih, sambungkan dengan pendingin tegak lalu
refluks selama 15-30 menit, sewaktu-waktu harus dikocok
supaya penyabunan sempurna.
Pada akhir pendidihan, tetesi indikator PP maka larutan harus
berwarna merah (berarti masih ada kelebihan KOH alkohol), bila

tidak merah berarti perlu penambahan KOH alkohol 0,5 N, dan


refluks kembali selama 15-30 menit.
Angkat dan dinginkan sebentar (jangan terlalu dingin bisa
membeku) dan titar dengan HCl 0,5 N sampai warna merah
jambu muda atau tepat warna merah hilang.
Lakukan titrasi blanko untuk 10 ml KOH alkohol 0,5 N sesuai
volume KOH alkohol yang digunakan sesuai prosedur diatas tanpa
contoh.

G. Perhitungan
BE
= (ml blanko ml titrasi) x N HCl x BE KOH
Bobot contoh uji (g)
IV.

DATA PENGAMATAN
1. Bilangan Penyabunan
Tirasi I
Tirasi II
Bobot contoh uji I
Bobot contoh uji II
mL blanko
BP1

BP2

= 6,00-8,30 = 2,30 ml
= 2,00-4,40 = 2,40 ml
= 1,2193 g
= 1,2432 g
= 9,20 ml

= (mL blanko mL titrasi) x HCl x BE


Bobot contoh uji (g)
= (9,20-2,30) x 0,5 x 56,1
1,2193
= 6,90 x 0,5 x 56,1
1,2193
= 158,7345 mg KOH/g lemak
= (mL blanko mL titrasi) x N HCl x BE
Bobot contoh uji (g)
= (9,20-2,40) x 0,5 x 56,1
1,2432
= 6,80 x 0,5 x 56,1
1,2432
= 153,4266 mg KOH/g lemak

BP1 + BP2 = 158,7345 + 153,4266


2
2
= 156,0805 mg KOH/ g lemak

2. Bilangan Iodium
Titrasi I
Titrasi II
Bobot contoh uji I
Bobot contoh uji II
mL blanko

= 0,00-3,20 = 3,20 mL
= 7,00-10,30 = 3,30 mL
= 1282,9 mg
= 1303,8 mg
= 20,7 mL

BI1

= (mL blanko mL titrasi) x N Tio x BE


Bobot contoh uji (g)
= (9,20-2,30) x 0,1 x 127 x 100
1282,9
= 17,3240
BI2 = (mL blanko mL titrasi) x N Tio x BE
Bobot contoh uji (g)
= (9,20-2,40) x 0,1 x 127 x 100
1303,8
= 16,9489
BI1 + BI2 = 17,3240 + 16,9489 = 17,1364
2
2
3. Kadar minyak/lemak dengan cara Soxhlet
Berat
Berat
Berat
Berat

awal kain
akhir kain
awal labu lemak
akhir labu lemak

Kadar minyak/lemak

= 3,4555 g
= 3,3704 g
= 106,9689 g
= 107,2051 g

(A)
(B)
(C)
(D)

= A C x 100%
Contoh uji
= 3,4555-3,3704 x 100%
3,4555

Kadar minyak/lemak

= 2,46%
= D B x 100%
Contoh uji
= 107,2051-106,9689 x 100%
3,4555
= 6,83%

4. Bilangan asam
Titrasi I
Berat I
N KOH Alkohol
BE
BA1

= mL x N KOH alkohol x BE
Berat contoh lemak (g)
= 4,30 x 0,1 x 56,1
1,1066
= 24,123
1,1066
= 21,79 mg KOH/g lemak

Titrasi II
Berat II
BA2

= 3,00-7,70 = 4,30 mL
= 1,1066 g
= 0,1 N
= 56,1

= 7,00-11,40 = 4,40 mL
= 1,1397 g

= mL x N KOH alkohol x BE
Berat contoh lemak (g)
= 4,40 x 0,1 x 56,1
1,1397
= 24,684
1,1397
= 21,65 mg KOH/ g lemak

BA1 + BA2 = 21,79 + 21,65


2
2
= 21,72 mg KOH/g lemak

5. Bilangan ester
Titrasi I
Titrasi II
Berat I
Berat II
Titrasi blanko
BE KOH
N HCl
BE1

= 0,00-1,50 = 1,50 mL
= 0,00-1,40 = 1,40 mL
= 1,1066 g
= 1,1397 g
= 9,60 mL
= 56,1
= 0,5 N

= (mL blanko mL titrasi) x N HCl x BE


Berat contoh lemak (g)
= (9,60-1,50) x 0,5 x 56,1
1,1066
= 227,20
1,1066
= 205,31 mg KOH/g lemak

BA2

V.

= (mL blanko mL titrasi) x N HCl x BE


Berat contoh lemak (g)
= (9,60-1,40) x 0,5 x 56,1
1,1397
= 230,01
1,1397
= 201,81 mg KOH/ g lemak
BE1 + BE2 = 205,31 + 201,81
2
2
= 203,56 mg KOH/g lemak

BE = BP BA
= 156,0805 21,72
= 134,36 mg KOH/g lemak

DISKUSI
1. Bilangan Penyabunan

Pada bilangan penyabunan ini kita melakukan titarsi blanko


dimana titrasi ini digunakan tanpa memakai larutan contoh uji. Titrasi
blanko ini berguna sebagai literatur untuk menyelarasakan larutan
contoh yang dicampur dengan pelarut yang sudah disediakan dengan
larutan yang dibuat tanpa memakai larutan contoh uji.
2. Bilangan Iodium
Dalam praktikum bilangan iodium memakai Erlenmeyer tutup
asah yang berguna supaya larutan tidak mudah terhidrolisa dan
Erlenmeyer tutup asah ini harus dalam keadaan kering karena apabila
terdapat air maka akan mengganggu proses sebab minyak ini tidak
larut dalam air. Selain itu juga dalam proses ini harus dilakukan proses
penggelapan atau disimpan ditempat gelap karena supaya reaksi yang
terjadi tidak mudah menguap akibat sinar matahari.
3. Kadar Minyak/Lemak dengan cara Soxhlet
Pada penentuan kadar minyak/lemak menggunakan alat soxhlet
yang digunakan sebagai alat bantu ekstraksi. Pada percobaan ini
dilakukan dua aktivitas yaitu proses ekstraksi dan destilasi.Ekstraksi
dilkukan karena bertujuan untuk menghilangkan lemak pada bahan dan
memisahkan lemak dari pelarutnya. Sedangkan destilasi bertujuan
untuk mengubah uap air yang dikeluarkan pada saat proses ekstraksi
menjadi air.

4. Bilangan Asam
Pada proses bilangan asam ini larutan harus tidak berwarna
setelah dititrasi menggunakan KOH alkohol untuk membuktikan bahwa
minyak telah berubah menjadi alkali. Selain itu juga titrasi dilakukan
cepat karena penitar dengan larutan contoh yang sudah diproses
mudah bereaksi dengan cepat.
5. Bilangan Ester

Dalam bilangan ester ini larutan contoh uji yang dipakai yakni
bekas

penetapan

bilangan

asam

ini

berfungsi

supaya

asam

lemak/minyak yang sudah mengandung asam lemak yang bebas air).


Selanjutnya direfluks, fungsi dari refluks ini yaitu supaya minyak
dalam Erlenmeyer bisa larut dengan pelarut yang digunakan tanpa
harus dikocok-kocok.
VI.

KESIMPULAN
1. Bilangan Penyabunan
Jadi kadar lemak/minyak dalam bilangan penyabunan adalah 156,0805
mg KOH/g lemak.
2. Bilangan Iodium
Jadi kadar lemak/minyak dalam bilangan iodium adalah 17,1364.
3. Kadar Minyak/Lemak cara Soxhlet
Jadi kadar lemak/minyak dengan cara Soxhlet adalah 2,46% dan
6,83%.
4. Bilangan Asam
Jadi kadar lemak/minyak dalam bilangan asam adalah 21,72 mg KOH/g
lemak.
5. Bilangan Ester
Jadi kadar lemak/minyak dalam bilangan ester adalah 134,36 mg
KOH/g lemak.

ANALISA SABUN
I.

II.

MAKSUD DAN TUJUAN


Setelah melakukan praktikum ini diharapkan mahasiswa mampu.
1. Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam sabun.
2. Mengetahui kandungan zat-zat yang terkandung dalam sabun.
3. Mengetahui cara menganalisis kadar zat-zat dalam sabun.
4. Memahami cara dan tujuan analisis sabun.
5. Mengevaluasi hasil proses analisis sabun.
TEORI DASAR

Sabun adalah garam logam dari asam lemak dengan logam alkali, sehingga pada
prinsipnya adalah mereaksikan asam lemak dengan alkali sehingga terjadi
reaksi penyabunan.

Perkembangan penggunaan sabun yang makin luas dan inovasi yang


tinggi menjadikan bahan dasar sabun menjadi bervariasi sesuai dengan tujuan
penggunaan akhirnya.
Saat ini telah muncul sabun-sabun yang netral karena baik untuk kulit,
akan tetapi untuk sabun yang dipergunakan untuk proses tekstil harus
mempunyai sifat-sifat khusus, seperti titik keruh yang tinggi, tidak
menghasilkan busa yang banyak, dapat bekerja dengan baik pada suasana
asam atau alkali dan sebagainya.
Sabun dibedakan menjadi dua macam yaitu sabun Natrium dan sabun
Kalium, dimana sabun Natrium ini yang harus dipakai dalam dunia industri
utamanya tekstil. Sedangkan sabun Kalium yang harus dipakai dalam sabun
rumah tangga. Berikut ini kriteria sabun Natrium dan sabun Kalium.
Untuk sabun natrium (apabila alkali yang digunakan adalah NaOH)
pemisahan dari masa tersebut dapat dilakukan dengan cara penggaraman,
karena sabun natrium akan larut dalam larutan jenuh NaCl.
Setelah proses penggaraman, larutan sabun akan naik ke permukaan
larutan garam NaCL, sehingga dapat dipisahkan dari gliserol dan larutan
garam dengan cara menyaring dari larutan garam.
Masa sabun yang kental dicuci dengan air dingin untuk menetralkan
alkali yang berlebih atau memisahkan garam NaCl yang masih tercampur.
Berbeda untuk sabun Kalium, pemisahan campuran sabun kalium dengan
yang lainnya dilakukan dengan cara penggaraman dengan garam KCL, Sabun
kalium dapat dipisahkan dari gliserolnya. Cara ini relatif mahal sehingga

biasanya sabun kalium dibiarkan tercampur dengan gliserolnya dan menjadi


bentuk sabun yang lunak.
Sabun dapat larut dalam alkohol dan sedikit larut dalam pelarut lemak.
Sifatnya yang larut dengan baik dalam alkohol menyebabkan pada analisa
sabun selalu digunakan alkohol sebagai pelarut.
Sabun terlarut koloidal di dalam air dan bersifat sebagai surfaktan.
Molekulnya terdiri atas gugus hidrofil (suka air) dan gugus hidrofob (tidak
suka air). Perbandingan jumlah gugus hidrofob dan hidrofil pada larutan
sabun akan menentukan sifat surfaktan tersebut.
Larutan sabun dalam air sadah akan mengendap sebagai sabun kalium
dan sabun magnesium, sehingga mengganggu proses pencucian.
Larutan asam akan menghidrolisa sabun menjadi asam lemak kembali.
Larutan encer sabun selalu terionkan membentuk anion dari alkil karboksilat,
yang aktif sebagai pencuci sehingga sabun alkil natrium karboksilat disebut
sebagai zat aktif anion.

III.

URAIAN PERCOBAAN
1. Kadar Zat Pemberat/Pengisi (Fillers)
A. Definisi
Zat pengisi atau zat pemberat pada sabun adalah zat-zat semacam
kaolin, batu ambang, asbes, kapur dan lain-lain, zat pengisi atau zat
pemberat, dengan maksud menambah berat dan mempermudah bentuk
sabun kalau dicetak.
B. Peraksi

Alkohol 95%

C. Alat yang digunakan

Erlenmeyer 250 mL

Gelas ukur 100 mL

Kertas saring

Oven dan Eksikator

D. Cara Kerja
Timbang teliti (empat angka dibelakang koma) 1-2 gram contoh sabun,
masukkan kedalam Erlenmeyer 250 mL.
Larutkan dengan 50-100 mL alkohol 95%.
Refluks dengan menggunakan pendingin tegak diatas penangas air.
Sabun dan hidroksida alkali pada sabun akan larut, sedangkan karbonat
tidak akan larut.
Bagian yang tidak larut disaring dengan kertas saring yang sudah
diketahui bobotnya.
Kertas saring dan residu dikeringkan pada 105-110 oC selama 30 menit,
masukkan kedalam eksikator lalu timbang sampai bobot tetap.

E. Catatan

anorganik.

Kadar fillers ini terdiri dari zat-zat organik dan


Jika kertas dan residu dipijarkan dan diabukan, maka

yang tinggal adalah zat-zat organik.

Pengurangan berat sebelum diabukan dan sesudah


diabukan adalah berat fillers zat organik.

Fillers zat organik diketahui apabila ada sisa sabun yang


tinggal setelah dilarutkan dengan air mendidih.
F. Perhitungan
Kadar zat pengisi (Fillers) = Berat Residu x 100%
Berat Contoh
2. Minyak/ Logam Pelikan
A. Definisi
Minyak/logam pelikan adalah minyak-minyak mineral/zat yang tidak
bisa disabunkan dan hanya bisa ditetapkan secara kualitatif saja.
B. Pereaksi

KOH alkohol 0,5 N

Air suling

C. Alat yang digunakan

Tabung reaksi

Gelas kimia 100 mL


D. Cara Kerja
Timbang kira-kira 0,1-0,2 gram contoh sabun, dimasukkan dalam
tabung reaksi yang bersih dan kering.
Kemudian larutkan dengan 2 mL KOH alkohol 0,5 N.
Larutan yang terjadi kemudian diencerkan dengan air suling.
Berturut-turut diencerkan kembali dengan air suling, kurang lebih lima
kali pengenceran.
Adanya logam pelikan,

menunjukkan

kekeruhan

pada

setiap

pengenceran dengan air. Tidak ada kekeruhan (jernih) logam pelikan


negatif.
E. Catatan
Nilai sabun terdiri dari :
T3 kadar asam lemak total mencapai diatas 63,00%
T4 kadar asam lemak total mencapai 57.50%
T5 kadar asam lemak total sama dengan 50,00%
T6 kadar asam lemak total dibawah 50,00%
Apabila kadar asam lemak tidak tersabunkan lebih dari 2,50% maka
nilai sabun diturunkan satu dari nilai yang seharusnya untuk sabun itu.
Kadar alkali total tidak boleh lebih dari 0,10%. Bila kadar alkali bebas
lebih besar dari 0,10% sabun bersifat merusak.
Sabun mandi kamar lemak totalnya lebih dari 80,00%.
3. Kadar lemak bebas yang tidak tersabunkan
A. Tujuan
Menentukkan banyaknya lemak tidak tersabunkan (RCOOH + RH)
apabila hasil analisa lemak tak tersabunkan > 3%.
B. Definisi

Dalam pembuatan sabun ada juga lemak yang tidak tersabunkan


oleh alkali dan juga oleh lemak-lemak yang sedikit tercampur dengan
lilin atau minyak lain yang tidak tersabunkan.
C. Pereaksi

Eter
NaHCO3

D. Alat yang digunakan

Piala gelas

Gelas kimia 100 mL

Corong Pemisah

Pipet

Kaki tiga

Alat penyanggah

Labu lemak

Tabung soxhlet

Oven dan eksikator


E. Cara Kerja
Timbang teliti (empat angka dibelakang koma) 5-10 gram contoh
sabun, larutkan dengan 100 mL larutan NaHCO3 1%.
Panaskan diatas penangas air/jangan dikocok untuk menghindari
busa, NaHCO3 gunanya untuk menghisap alkali beabs yang mungkin
ada, hal ini dilakukan agar asam lemak tidak terikat oleh alkali
bebas tersebut dan lemak netralnya tidak tersabunkan.
Dinginkan sampai suhu kamar, pindahkan seluruh contoh sabun yang
sudah larut ke dalam corong pemisah secara kwantitatif, piala
dibilas dengan NaHCO3 1%.
Ke dalam corong pemisah masukkan 10-20 mL larutan eter, lalu
kocok/putar dan biarkan beberapa menit sampai terlihat lapisan
pemisah (terpisah).
Kemudian pisahkan.
Lapisan bawah yang terdiri dari larutan NaHCO 3 1% masukkan
kembali ke dalam piala gelas semula, sedangkan lapisan eter

masukkan ke dalam labu lemak/labu ekstraksi yang telah diketahui


bobotnya.
Larutan contoh dan NaHCO3 1% dalam piala gelas tersebut di
masukkan kembali dalam corong pemisah, tambahkan lagi 10-20 mL
eter, kocok biaran dan pisahkan lagi seperti tadi. Diulangi pekerjaan
tersebut 3 x berturut-turut.
Larutan eter yang sudah terkumpul, disulingkan dengan alat soxhlet.
Residu yang tinggal dalam labu lemak kemudian keringkan dalam
oven suhu 110oC selama 30 menit, dinginkan pada eksikator dan
timbang sampai bobot tetap.
F. Perhitungan
Kadar lemak netral yang tidak tersabunkan = Berat Residu x 100%
Berat Contoh
4. Alkali Bebas
A. Tujuan
Menentukan kadar alkali bebas di dalam sabun yang tidak beraaksi
pada pembentukan sabun.
B. Definisi
Kadar alkali bebas adalah bilangan yang menunjukkan banyaknya
alkali bebas (sebagai NaOH) yang dinetralkan oleh asam.
C. Pereaksi

Alkohol netral

HCl 0,1000 N

Indikator PP
D. Reaksi
NaOH + HCl
KOH + HCl

NaCl + H2O
KCl + H2O

E. Alat yang digunakan

Erlenmeyer 250 mL

Gelas kimia 100 mL

Batu didih

Refluks
Pipet
Buret

F. Cara Kerja
Timbang dengan teliti 1-2 gram contoh sabun, masukkan dalam
Erlenmeyer 250 mL (Erlenmeyer harus kering).
Larutkan dengan 25 mL alkohol netral.
Tambahkan 1-2 butir batu didih, kemudian dididihkan/refluks
selama 15-30 menit.
Setelah semua sabun larut, dinginkan sebentar (jangan sampai
beku).
Tambahkan 2-3 tetes indikator PP.
Titar dengan HCl 0,1000 N sampai warna merah tepat hilang.
G. Perhitungan
Alkali bebas = mL x N HCl x BE x 100%
Berat Contoh (mg)
5. Asam Lemak Bebas
A. Tujuan
Menentukan kadar asam lemak bebas didalam sabun yang tidak
tersabunkan pada saat pembuatan sabun.
B. Definisi
Asam lemak bebas adalah bilangan yang menunjukkan banyaknya
NaOH yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas di dalam
sabun.
C. Pereaksi

D. Reaksi
RCOOH + KOH

Alkohol netral
KOH alkohol 0,1000 N
Indikator PP

RCOOK + H2O

E. Alat yang digunakan

Erlenmeyer 250 mL

Gelas kimia 100 mL

Batu didih

Refluks

Pipet

Buret
F. Cara Kerja
Timbang teliti (empat angka dibelakang koma) 2-3 gram contoh,

masukkan dalam Erlenmeyer 250 mL (Erlenmeyer harus kering).


Larutkan dalam 25 mL alkohol netral.
Tambahkan 1-2 butir batu didih.
Dididihkan dengan pendingin refluks selama 15-30 menit.
Dinginkan sebentar bubuhi 1-2 tetes indikator PP.
Titar dengan KOH Alkohol 0,1000 N sampai warna merah muda.

G. Perhitungan
Asam lemak bebas = mL x N Alkohol KOH x BE asam lemak x 100%
Bobot Contoh (mg)
6. Alkali Total
A. Tujuan
Menentukan kadar alkali total di dalam sabun sebagai jumlah alkali
bebas dan alkali terikat.

B. Definisi
Kadar alkali total adalah bilangan yang menunjukkan banyaknya
alkali bebas dan alkali terikat (sabagai NaOH) yang dapat dinetralkan
oleh asam.
C. Pereaksi

Larutan HCl 0,5000 N


Indikator MO

D. Reaksi
RCOONa + H2O
NaOH + HCl

RCOOH + NaOH
NaCl + H2O

E. Alat yang digunakan


Erlenmeyer 250 mL
Gelas kimia 50 mL
Buret
F. Cara Kerja
Timbang teliti (empat angka dibelakang koma) 0,5-1 gram contoh
sabun, masukkan kedalam Erlenmeyer 250 mL.
Larutkan dalam 50 mL air suling (air suling panas), sampai seluruh
sabun larut (jangan terlalu dikocok busa sabun mengganggu titik
akhir).
Bubuhi 2-3 tetes indikator MO.
Titar dengan larutan HCl 0,5000 N sampai warna jingga muda.
G. Perhitungan
Alkali total = mL x N HCl x BE x 100%
Bobot contoh (mg)

IV.

DATA PENGAMATAN
1. Kadar zat pemberat/pengisi (fillers)
Berat contoh uji
Berat kertas saring
Berat residu
Kadar zat pengisi

= 1,2297 g
= 0,6268 g
= 0,6893 g
= Berat residu x 100%
Berat contoh

= 0,6893 x 100%
1,2297
= 56,05 %
2. Minyak/Logam Pelikan
Berat sabun contoh = 0,1234 g
Ketika diencerkan terjadi kekeruhan.
3. Kadar lemak bebas yang tidak tersabunkan
Bobot
Bobot
Bobot
Bobot

contoh uji
= 1,0251 g
awal labu lemak
= 106,0320 g
akhir labu lemak
= 106,2651 g
residu
= bobot akhir labu lemak bobot awal labu lemak
= 106,2651 106,0320
= 0,2331

Kadar lemak netral

= Berat residu x 100%


Bobot contoh
= 0,2331 x 100%
1,0251
= 22,73 %

4. Alkali Bebas
Bobot contoh
mL titrasi
alkali bebas

= 1,0490 g
= 1049 mg
= 0,00-0,20 mL = 0,20 mL
= mL x N HCl x BE x 100%
Bobot contoh (mg)
= 0,20 x 0,1 x 40 x 100%
1049
= 0,0762%

5. Asam Lemak Bebas


Sabun yang diuji tidak mengandung asam lemak bebas.

6. Alkali Total
Bobot contoh uji

= 0,5046 g
= 504,6 mg
mL titrasi
= 0,00-1,00 mL = 1,00 mL
Alkali total
= 1,00 x 0,5 x 40 x 100%
504,6
= 3,9635%
Sabun mengandung alkali bebas
Alkali total
3,9635%
x

= alkali terikat + alkali bebas


= x + 0,762%
= 3,9635% - 0,0762
= 3,8873%

VII. DISKUSI
1. Zat Pemberat/Pengisi (Fillers)
Fillers berfungsi untuk

menambah

berat

sabun

dan

mempermudah sabun untuk dicetak. Setelah direfluks sebaiknya


jangan dibiarkan dingin terlalu lama supaya sabun tetap dalam keadan
koloid. Karena apabila sabun telah membeku maka akan mempersulit
dalam mencetak sabun sebab sabun tersebut sudah kaku dan
bentuknya pun tetap atau absolut.
2. Minyak/Logam Pelikan
Logam pelikan ini merupakan zat-zat yang tidak bisa disabunkan.
Pada proses ini bertujuan agar sabun yang diuji coba jangan sampai
mengandung logam pelikan. Walaupun terkadang sabun masih banyak
yang dipengaruhi oleh kadar pelikan tersbut. Akan tetapi kadar pelikan
tersebut tidak boleh lebih dari 2,50%.

3. Kadar Lemak Bebas yang tidak Tersabunkan


Pada proses ini jangan sampai terjadi busa karena busa ini dapat
mengganggu setiap proses oleh karena itu digunakan NaHCO 3. Fungsi
zat ini yaitu untuk menghisap alkali bebas yang mungkin ada, hal ini
dilakukan agar asam lemak tidak terikat oleh alkali bebas tersebut dan
lemak netralnya tidak disabunkan.
4. Alkali Bebas
Pada proses ini lebih cocok menggunakan cara alkohol sebab
dengan cara alkohol ini sabun yang dipakai haruslah bebentuk cairan.
Sedangkan sabun yang berbentuk padat dan mengandung zat pengisi
tidak cocok menggunakan cara ini. Pada alkali bebas ini harus
menggunakan pelarut asam sebab zat asam ini yang dapat menentukan
banyaknya alkali yang terkandung pada sabun tersebut.

5. Asam Lemak Bebas


Dalam penentuan asam lemak bebas ini tidak dilakukan uji coba
sebab dalam larutan tersebut telah mengandung alkali bebas. Apabila
sabun tersebut telah mengandung alkali bebas, maka sabun yang diuji
tidak akan mengandung asam lemak bebas, hal ini ditunjukkan pada saat
penitaran dengan menggunakan KOH Alkohol 0,1000 N warna berubah
menjadi warna merah muda namun dengan jumlah (mL) yang banyak.
6. Alkali Total
Pada penetapan alkali total merupakan penggabungan dari alkali
terikat dengan alkali bebas. Dimana alkali total ini berguna untuk
mengetahui banyaknya alkali bebas dan alkali terikat dalam sabun yang
sedang di uji coba. Alkali bebas ini yang sukar untuk dinetralkan
dengan asam sehingga menganggu dalam proses pembuatan sabun.
Sebab alkali bebas ini tidak dapat terikat dengan pereaksi dalam
pembentukan menjadi sabun.
VIII. KESIMPULAN

1. Kadar Zat Pemberat/Pengisi (Fillers)


Jadi kadar sabun dalam zat pemberat/pengisi (fillers) adalah 56,05%.
2. Kadar Minyak/Logam Pelikan
Jadi kadar sabun positif mengandung logam pelikan.
3. Kadar Lemak Bebas yang Tidak Tersabunkan.
Jadi kadar sabun dalam lemak bebas yang tidak tersabunkan adalah
22,73%.
4. Alkali Bebas
Jadi kadar sabun dalam alkali bebas adalah 0,0762%.
5. Asam Lemak Bebar
Jadi kadar sabun dalam asam lemak bebas yakni sabun tidak
mengandung asam lemak bebas sama sekali.
6. Alakali Total
Jadi kadar sabun dalam alkali total adalah 3,887%.
DAFTAR PUSTAKA
Juhana Juju, dkk. 2006. Bahan Ajar Praktikum Kimia Zat Pembantu Tekstil .
Bandung : Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.
Hamdoko Budi dan Haryanti Rahayu. Lemak/Minyak dan Sabun. Bandung : Sekolah
Tinggi Teknologi Tekstil.