Anda di halaman 1dari 18

RENCANA USAHA PEMBENIHAN IKAN

GURAME (Osphronemus gouramy)


(Makalah Manajemen Pembenihan Ikan)

Oleh:
Kelompok 3
Atik Nuraini
1314111009
Ayu Novitasari
1314111010
Ayu Wulandari
1314111011
Eko Probo P
1314111019
Indri Saputri R
1314111028
Masna Mardiana
1314111035

JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN/PERIKANAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Budidaya memiliki banyak peran penting dalam pembangunan ekonomi nasional
dan memegang peran penting dalam pembangunan daerah. Untuk menunjang
keberlangsungan budidaya tentunya dibutuhkan ketersediaan benih secara
kontinue, dalam hal ini pembenihan memberikan peran penting. Untuk
mendapatkan benih berkualitas dalam jumlah yang cukup, tentunya banyak faktor
yang harus diperhatikan dalam pembenihan, seperti kualitas induk, kualitas air,
pakan, dan lain-lain. Dengan demikian, perhatian khusus dalam sektor
pembenihan perlu sekali untuk ditingkatkan demi keberlanjutan usaha budidaya
baik dalam sektor pembenihan maupun pembesaran.
Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan ikan asli perairan Indonesia
yang sudah menyebar dan dibudidayakan. Permintaan pasar yang tinggi membuat
ikan ini menjadi salah satu primadona dikalangan nya. Untuk memenuhi
permintaan pasar tersebut, tentunya usaha pembesaran ikan gurame membutuhkan
benih-benih ikan yang berkualitas. Seperti yang kita ketahui, ikan gurame
memerlukan waktu tumbuh yang cukup lama apabila di pelihara sejak menetas
hingga siap konsumsi, sehingga usaha pembenihan ikan gurame adalah sektir
yang paling diunggulkan di komoditas ini. oleh karna itu, dalam makalah
Rencana Usaha Bisnis Pembenihan Ikan Gurame ini akan disampaikan tahaptahap dan teknik pembenihan ikan gurame, beserta dengan analisis usaha yang
diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas benih dari ikan gurame dan
meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan gurame, khususnya sektor
pembenihan.

1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan ini yaitu memberikan informasi kepada masyarakat tentang
teknik pembenihan ikan gurame dan juga prospek ekonomi yang dapat diraih dari
usaha pembenihan ikan gurame ini.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Biologi Ikan Gurame
Ikan gurame merupakan hewan bertulang belakang atau vertebrata, yang termasuk
dalam kelas Pisces atau jenis ikan bersirip, anggota Ordo Labirinthici karna ia
memiliki labirin sebagai organ pernapasan tambahan nya, dan memiliki nama
spesies Osphronemus gourami.

Gambar1. Morfologi Ikan Gurame


Ikan gumare memiliki bentuk badan oval agak panjang, pipih dan punggung
tinggi. Mulut kecil dengan rahang atas dan bawah tidak rata, dibagian rahang
terdapat gigi-gigi kecil berbentuk kerucut. Deretan gigi bagian luar memiliki
ukuran lebih besar jika dibandingkan dengan gigi bagian dalam. Ikan gurame
memiliki dagu yang akan semakin menonjol seiring dengan semakin tua umur
dari ikan gurame tersebut. ikan gurame memiliki warna tubuh kecoklatan dan

memiliki corak khas berupa bintik hitam di bagian sirip dada. Ukuran sisik dari
ikan gurame cukup besar. Ikan ini memiliki keistimewaan berupa alat pernapasan
tambahan yang disebut labirin, yang membuat ikan gurame tidak hanya dapat

mengambil oksigen dalam bentuk terlarut di air, melainkan jugadapat mengambil


oksigen langsung yang ad di udara.
Habitat dari ikan gurame yaitu pada perairan tawar yang tergenang, meskipun
beberapa spesies dari ikan gurame sendiri dapat hidup pada perairan yang sedikit
bersalinitas atau payau. Ikan gurame menyukai perairan yang tenang dan jernih,
namun demikian dengan adanya labirin pada gurame membuat ikan ini mampu
bertahan pada habitat perairan yang keruh dan kekurangan oksigen.
Kebiasaan makan ikan gurame pada setiap stadium pertumbuhan nya berbedabeda. Pada stadium larva ataupun benih, ikan gurame biasanya memakan
organisme renik seperti fitoplankton, zooplankton, kutu air, dan lain-lain.
Menginjak dewasa, ikan gurame cenderung

menyukai tumbuhan (herbivor).

Meskipun ikan gurame mampu hidup hanya dengan memakan dedaunan yang
diberikan kedalam kolam pemeliharaan, dalam budidaya intensif, pelet diberikan
sebagai pakan bagi ikan gurame untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimal.
Sektor pembenihan ikan gurame memiliki keuntungan, dimana ikan gurame
mampu berkembang biak sepanjang tahun tanpa memperhatikan musim.
Umumnya pada usia 2-3 tahun ikan gurame akan mencapai kematangan gonad.
Proses perkawinan ikan gurame akan diawali oleh ikan jantan yang membuat
sarang dari ijuk, tanaman kering, dan serpihan bambu yang ada di dalam kolam
untuk meletakan telur dari induk betina. Sarang yang dibuat oleh induk jantan
umumnya memiliki ukuran 30-40cm, dan diletakan pada tempat yang
tersembunyi. Setelah sarang yang dibuat oleh induk jantan siap, maka induk
betina akan mengeluarkan telur nya pada sarang tersebut, untuk kemudian dibuahi
oleh induk jantan. Setelah terjadi pembuahan, induk jantan akan menjaga telur
tersebut hingga telur menetas.
2.2 Pembenihan Ikan Gurame
Pembenihan merupakan sektor penentu bagi sektor lain dalam usaha budidaya,
dimana keberapadaan dan ketersediaan benih menjadi faktor yang sangat
menentukan keberhasilan kegiatan pembesaran. Pembenihan sendiri dapat
dilakukan secara alami dan juga secara buatan.

Pembenihan Ikan secara alami adalah kegiatan memijahkan induk ikan yang telah
matang gonad tanpa melakukan atau memberikan penambahan suatu hormon
apapun, sehingga semuanya terjadi secara alami. Dalam pembenihan secara alami
tidak ada induk yang dijadikan korban dalam hal ini sebagai donor, pembenihan
secara alami ini dapat dilakukan jika induk yang ada benar-benar telah matang
gonad. Untuk kegiatan Pembenihan secara alami yang kita ikuti adalah kebiasaan
ikan waktu ikan memijah secara alami, dalam hal pemulihan induk lebih cepat
dibandingkan dengan Pembenihan secara buatan atau teknik Pembenihan lainnya.
Pembenihan secara buatan yaitu Pembenihan yang dilakukan dengan cara
penyuntikan dan pembuahan dilakukan dengan cara buatan atau stripping. Pada
Pembenihan ini ada ikan yang menjadi donor bisa ikan yang diambil kelenjar
hipopisa maupun ikan jantan yang diambil spermanya. Pembenihan secara buatan
dibatu oleh tenaga manusia, bukan secara alami. Pembenihan meliputi
pemeliharaan induk, pemilihan induk lele siap pijah, pemijahan, dan pengamatan
telur ikan (gonad) serta perawatan larva ikan atau benih lele (Sunarma, 2004).
Berikut merupakan kegiatan-kegiatan dalam pembenihan ikan gurame:
1. Persiapan Kolam Pemijahan
a. Pengeringan kolam
tahap awal sebelum dilakukannya pemijahan yaitu dengan melakukan
pengeringan kolam. Pengeringan kolam dilakukan 2-3 hari dengan tujuan untuk
membunuh hama yang ada pada kolam, mengurangi atau menghilangkan
kandungan nitrit akibat proses budidaya sebelumnya, dan merangsang pemijahan
karna bau yang ditimbulkan dari tanah kering yang terkena air.
b. Pembersihan
pembersihan memiliki tujuan untuk menghindari adanya hama dan pengganggu
yang dapat bersembunyi pada bagian-bagian tertentu dari kolam. Pembersihan
dilakukan pada bagian pematang, seperti menghilangkan rumput-rumput liar yang
tumbuh supaya tidak ada gangguan hama.
c. Pengisian air kolam
setelah kolam dikeringkan dan dibersihkan, kolam di isi air setinggi 70 100 cm,
sebagai mana ikan gurame merupakan ikan dengan pergerakan pvertikal sehingga

perairan untuk tempat pemeliharaan gurame harus memiliki kedalaman yang


cukup dalam untuk menunjang pergerakan ikan gurame tersebut.
d. Beri kerangka dan bahan pembuatan sarang
Setelah kolam siap, diberi kerangka dan bahan pembuatan sarang pada kolam.
kerangka sarang berupa keranjang berbentuk bulat dengan ukuran diameter 20-25
cm, ditempatkan pada kolam dengan kedalaman 10-15cm. Bahan untuk
pembuatan sarang berupa ijuk, sabut kelapa, atau bahan lain. Bahan tersebut
ditempatkan pada bagian permukaan air disekitar tempat kita meletakan kerangka
sarang. Setelah sarang dibuat dan induk dimasukan kedalam kolam, pengecekan
telur pada setiap sarang dilakukan setiap pagi dengan cara menusuk atau
menggoyangkan sarang, apabila keluar telur atau minyak dari dalam sarang,
berarti pemijahan telah terjadi dan sarang telah berisi telur.

Gambar2. Sarang untuk wadah atau tempat melekat telur ikan gurame

2. Seleksi Induk
Ikan gurame yang digunakan sebagai induk jantan biasa berumur sekitar 4 tahun
dengan berat badan berkisar antara 2 3 kg, sedangkan induk betina berumur
sekitar 3 tahun dengan berat badan kisran 2 2,5 kg. Induk betina memiliki masa
produksi optimal selama 5 7 tahun selama masa hidupnya.

Ciri-ciri fisik dari induk jantan dan induk betina pada ikan gurame :
a. Induk gurame jantan : induk jantan memiliki dahi lebih menonjol
(nonong), dengan dagu tebal, bagian perut lebih meruncing, memiliki
susunan sisik normal (rebah), dan pergerakannya lincah.
b. Induk gurami betina : induk betina memiliki dahi lebih rata (tidak
menonjol), dengan dagu tidak menebal, bentuk perut membundar,
memiliki susunan sisik yang agak terbuka, dan pergerakannya agak
lamban.
Kriteria kualitatif dalam seleksi induk
a. Warna : ikan yang sesuiai untuk dijadikan induk memiliki badan yang
berwarna kecoklatan dengan bagian perut berwarna putih keperakan atau
putih kekuning-kuningan.
b. Bentuk tubuh : bentuk tubuh pipih vertikal.
c. Asal : induk yang baik berasal dari hasil pembesaran benih sebar yang
didapatkan dari induk yang berbeda.
d. Kesehatan : ikan yang akan dijadikan sebagai induk harus ikan dengan
anggota atau organ tubuh yang lengkap, pada tubuh tidak terdapat bagian
yang cacat dan bentuk nya tidak mengalami kelainan, pada alat kelamin
tidak terdapat bagian yang cacat atau rusak, tidak ada patogen atau
penyakit yang menempel pada tubuh, insang, dan bagian tubuh lain.

Kriteria kuantitatif untuk seleksi induk


a. Umur : untuk induk jantan yang baik untuk dijadikan induk berumur 24-30
bulan (2-3 tahun), sedangkan untuk induk betina berumur 30-36 bulan (3
tahun)
b. Panjang standar : untuk induk jantan jantan panjang yang dikenhendaki
berkisar antara 30-35 cm, sedangkan induk betina memiliki panjang
berkisar antara 30-35 cm pula.
c. Bobot badan : bobot ikan yang biasa digunakan sebagai induk jantan
biasanya memiliki berat 1,5-2,0 kg, sedangkan induk betina 2,0-2,5 kg.
d.

Fekunditas : fekunditas dari induk betina ikan gurame yaitu sebanyak


1.500-2.500 butir/kg berat badan.

e. Diameter telur : diameter telur yang dihasilkan oleh induk yang baik yaitu
berkisar antara 1,4-1,9 mm.
3. Pemijahan
Pemijahan ikan gurame dapat dilakukan dengan memelihara induk pada kolam
tembok atau tanah yang telah di siapkan. Pemijahan dapat dilakukan secara
massal ataupun berpasangan dengan menggunakan sistem sekat. Rario induk
dalam pemijahan yaitu 1:3 atau 1:4 dengan induk betina yang lebih banyak. Padat
penebaran induk pada kolam pemijahan yang baik yaitu 1 ekor/m2. Induk
dipelihara dengan memberikan pakan berupa pelet terapung dengan kadar protein
28% dengan FR 2% biomass/hari dan juga diberikan pakan berupa daun
sente/talas dengan FR 5% bobot biomass/hari.
sebelum memijah, induk jantan akan membentuk sarang dengan bahan-bahan
yang telah di siapkan. Apabila pemijahan telah terjadi, sarang akan berisi telur
yang ditandai dengan adanya lapisan minyak pada bagian permukaan air diatas
sarang terbentuk. Selanjutnya telur pada sarang dipindahkan ke dalam wadah
seperti ember untuk kemudian ditetaskan.
Kualitas air yang dikehendaki untuk proses pemijahan yang maksimal yaitu
dengan suhu berkisar antara 25C - 30C, dengan nilai pH : 6,5 8,0, dan laju
pergantian air : 10 % - 15 % per hari.
4. Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva

10

Setelah terjadi pemijahan, sarang yang berisi telur dipanen dan dipindahkan ke
wadah penetasan telur. Pemanenan dilakukan dengan cara mengangkat sarang
yang telah berisi telur dengan hati-hati, dan dipindahkan kedalam ember yang
berisi air kolam. Penggunaan air kolam dalam media pemindahan telur
dimaksudkan agar kondisi air telur tidak berubah sehingga kematian telur dapat
diminimalisir. Telur yang telah mati biasanya berwarna kusam dan mudah
ditumbuhi oleh saprolegnia atau jamur. Sedangkan telur yang masih hidup
memiliki warna kuning cerah dan bening atau transparan. Telur yang telah mati
sebaiknya dipisahkan atau disortir dan dibuang untuk menghindari gangguan
terhadap perkembangan telur lainnya.

Gambar3. Telur dan Larva Ikan Gurame


Wadah yang dgunakan untuk menetaskan telur dapat berupa bak, ember, ataupun
akuarium, \ dengan kepadatan telur berkisar 150-175 butir/liter. Wadah penetasan
diisi dengan air kolam dan air berseh sejak 1-2 hari sebelum telur dipindahkan,
dengan ketinggian air 20cm. Wadah yang telah diberi air kemudian ditambah
larutan methyleneblue sebanyak 1 cc per liter untuk membersihkan media dari
hama, kemudian diberi aerasi untuk menjaga kandungan oksigen dalam media
cukup untuk perkembangan telur.
Kualitas air yang baik untuk penetasan telur yaitu pada suhu : 29C - 30C,
dengan nilai pH : 6,7 8,6, dan ketinggian air : 15 cm 20 cm. Dalam media
yang sesuai telur akan menetas berkisar antara 30 36 jam. Setelah telur menetas

11

menjai larva, larva mempunyai kantung telur sebagai cadangan makanan nya
sebelum larva tersebut mampu untuk memakan organisme renik. Kuning telur
pada larva ikan gurame akan habis setelah 10-12 hari. Setelah kuning telur habis
barulah larva membutuhkan pakan alami yang disesuaikan dengan ukuran bukaan
mulutnya. Pakan alami yang biasa diberikan sebagai pakan untuk stadia awal
larva gurame adalah fitoplankton dan zooplankton, selanjutnya cacing sutera,
selain itu juga dapat diberi pakan berupa pelet yang dihaluskan untuk
menyesuaikan bukaan mulut ikan.
5. Pendederan Benih
Dalam sektor pembenihan ikan gurame, produk yang dihasilkan dapat berupa
telur hingga benih berbagai ukuran. Karna seperti yang diketahui bahwa ikan
gurame memiliki pertumbuhan yang cukup lama, sehingga proses penanganan
benih gurame akan melalui banyak tangan. Selain itu produksi dari pembenihan
gurame dapat dijual mulai dari bentuk telur. Pembagian ukuran benih dilakukan
pada tahap pendederan dengan spesifikasi sebagai berikut :
a. Pendederan 1
Ukuran benih yang ditebar pada pendederan 1 sebesar 0,75-1 cm, padat tebar 100
ekor/m2. Pada pendederan 1 ini dilakukan pemberian pakan dengan FR 20 %,
dengan frekuensi 23 kali/hari. Pemeliharaan dipendederan 1 kurang lebih selama
20 hari dengan hasil panen berukuran 1-2 cm.
b. Pendederan 2
Ukuran tebar benih pada pendadaran 2 berukuran 1-2 cm, padat tebar 80 ekor/m2,
pemberian pakan dilakukan dengan FR 20% dan frekuensi pemberian 2-3
kali/hari. Lama pemeliharaan untuk dipendederan 2 kurang lebih 30 hari dengan
ukuran panen 2-4 cm.
c. Pendederan 3
Ukuran tebar benih 2-3 cm, padat tebar 60 ekor/m2, pemberian pakan dengan FR
10%, dan frekuensi pemberian 2-3 kali/hari. Lama pemeliharaan kurang lebih 40
hari dengan ukuran panen 4-6 cm.
d. Pendederan 4

12

Ukuran tebar benih 4-6 cm dengan padat tebar 45 ekor/m2, pemberian pakan
dengan FR 5%, dan frekuensi pemberian 2-3 kali/hari. Lama pemeliharaan kurang
lebih 40 hari dengan ukuran panen 6-8 cm.
e. Pendederan 5
Ukuran tebar benih 6-8 cm dengan padat tebar 30 ekor/m2, pemberian pakan
dengan FR 5%, dan frekuensi pemberian 2 -3 kali/hari. Lama pemeliharaan
kurang lebih 40 hari dengan ukuran panen 8-11 cm.
Kualitas air yng perlu dijaga dalam pproses pendederan yaitu menjaga agar suhu
air berada pada kisaran 25C - 30C, dengan nilai pH 6,5 8,5, ketinggian air
berkisar antara 40 cm 60 cm, dan kecerahan : > 30 cm.
2.3 Analisis Usaha
2.3.1 Justifikasi anggaran
Analisis usaha ini dibuat dengan pemijahan 1 paket induk gurame (1 jantan, 3
betina) , dan benih dijual dalam ukuran 4-5 cm (ukuran jempol) dengan harga jual
rp. 850/ekor. Dengan demikian dibutuhkan lama pemeliharaan larva selama
kurang lebih 90 hari atau 3 bulan, dengan pakan selama 20 hari pertama setelah
kuning telur habis yaitu sebanyak liter cacing sutra dan selanjutnya diberi pelet
halus.
Dengan memperhitungkan vekunditas ikan gurame sebesar kurang lebih 2000
butir/kg berat badan, dan induk yang digunakan memiliki bobot 2-2,5 kg/ ekor.
Maka dengan 3 induk betin dapat dihasilkan kurang lebih 12000 ekor benih sekali
memijah. dalam pemijahan ikan gurame, induk dapat dipijahkan sebanyak 2 kali
dalam setahun. Sehingga jumlah produksi benih dalam setahun dapat mencapai
24000 benih.
1. Biaya Investasi
No Modal
A

jumlah item

satuan

harga satuan

Pembuatan Kolam

13

tota

Persiapan lahan

orang

Rp200.000

Rp4

semen

sak

Rp60.000

Rp3

Pasir

rit

Rp500.000

Rp5

paralon 1,5 inch

batang

Rp30.000

Rp3

paralon 1/2 inch

batang

Rp14.000

Rp2

sambungan paralon T

pcs

Rp5.000

Rp2

sambungan paralon L

pcs

Rp5.000

Rp2

lem paralon

pcs

Rp10.000

Rp1

10

Solder

unit

Rp100.000

Rp1

11

Meteran

unit

Rp30.000

Rp3

12

blower

unit

Rp500.000

Rp5

13 biaya lain-lain

Rp500.000
total biaya pembuatan kolam
diasumsikan kolam mampu bertahan selama 10 tahun (biaya penyusutan 90%)

Rp5
Rp2
Rp2

Biaya Pembelian Induk Gurame

induk gurame

paket

Rp950.000

Rp9

Total biaya pembelian induk

Rp9

induk mampu dipijahkan selama 5 tahun (biaya penyusutan 80%)

Rp7

C Biaya Alat Panen


1
Baskom
8
buah
Rp20.000
2
serok halus
2
buah
Rp30.000
3
saringan kasa
1
set
Rp30.000
4
Plastik dan karet tali
2
set
Rp30.000
5
tabung oksigen 6 m3
1
set
Rp750.000
Total Biaya Panen
diasumsikan biaya alat panen mampu bertahan 2 tahun (biaya penyusutan 50%)
total biaya investasi

Rp1
Rp6
Rp3
Rp6
Rp7
Rp1
Rp5
Rp4

total biaya penyusutan

Rp3

total biaya investasi dalam 1 tahun

Rp9

2. Bahan habis pakai

No Modal

jumlah item

biaya pemeliharaan induk dan pemijahan

pelet

60

satuan

harga satuan

tota

kg

Rp10.000

Rp6

14

kakaban

ikat

Rp30.000

Rp3

karangka sarang

buah

Rp5.000

Rp2

total biaya pembuatan substrat

Rp1

biaya penetasan telur dan pemeliharaan benih

cacing sutra

20

liter

Rp55.000

Rp1

pelet

20

kg

Rp15.000

Rp3

total biaya biaya penetasan telur dan pemeliharaan benih


C
1

biaya pengendalian pegendalian hama dan penyakit


Probiotik
1

Rp1
botol

total biaya pengendalian pegendalian hama dan penyakit


Biaya Pemanenan
2
kali

Biaya Listrik (50-200 watt)

12

bulan

Rp

100.000

Rp

Rp100.000

Rp
Rp

Rp30.000

Rp3

Total Biaya Habis Pakai

Rp2

3. Biaya Perjalanan
N0
1
2
3

Nama Barang/ Kegiatan


Kunjungan pembelian alat produksi
Izin usaha
Kunjungan pembelian bahan produksi

Jumlah
item

satuan

Harga Satuan

Tot

Hari

Rp100.000

Rp3

Tahun

Rp300.000

Rp3

hari

Rp100.000

Rp2

Total

Rp

2.3.2 Analisis Kelayakan Usaha


No Panen
jumlah
1 Panen pertama
12000
2 Panen kedua
12000
Total pendapatan setahun
Biaya produksi
Biaya penyusutan
Laba perbulan

Harga
Total
satuan
satuan
pendapatan
individu
Rp850 Rp. 10.200.000
individu
Rp850 Rp. 10.200.000
Rp. 20.400.000
Rp7.433.000
Rp3.493.200
Rp1.371.683

a. Analisis R/C Ratio

15

Analisi R/C ratio adalah untuk mengetahui perbandingan antara total penerimaan
dengan biaya produksi yang dikeluarkan pada satu periode produksi (setahun).
R/C

= total penerimaan / biaya produksi


= Rp20.400.000/ Rp7.433.000
= 2,74

Setiap mengeluarkan biaya Rp 1,00 akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp


2,74 sehingga usaha ini efisien untuk dijalankan.
b. Analisis Payback Period
Estimasi jangka waktu pengembalian investasi usaha ini dapat ditunjukkan
dengan menghitung nilai payback period. Payback period usaha :
Payback period

= Nilai investasi / Keuntungan per bulan


= Rp 7.433.000/ Rp 1.371.683
= 5,4 bulan

Dari hasil perhitungan payback period di atas, dihasilkan angka sebesar 5,4 bulan.
Artinya, dalam jangka waktu 5,4 bulan modal ini akan kembali.
a. Analisis BEP
BEP unit adalah jumlah produksi yang dihasilkan untuk mencapai titik impas.
Nilai titik impas dari suatu usaha pembenihan gurame dalam 1 tahun produksi
adalah :
BEP Produksi

= Total Biaya Produksi /Harga produk


=Rp7.433.000/Rp. 850 = 8745 ekor benih

BEP Produksi pembenihan gurame dicapai ketika jumlah produksi 8745 ekor
benih.
BEP Harga

= Total Biaya Produksi/Total Jumlah Produksi


= Rp7.433.000/24000 ekor benih= Rp 310

BEP harga sebesar Rp310 menunjukakan bahwa titik impas usaha ini adalah
sebesar Rp11.313 per ekor benih.

16

BAB III
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari penulisan makalah ini yaitu
bahwasanya pembenihan ikan gurame ini memberikan prospek usaha yang cukup
menjanjikan dengan keunungan bersih perbulan sebesar 1.371.000,-

17

DAFTAR PUSTAKA

Ecolife Foundation. 2011.Introduction to Village Aquaponics.ECOLIFE, 324


State Place, Escondido, CA 92029. 25 hlm.
Fadhil. 2011. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelola Sumberdaya dan Lingkungan
Perairan. Penerbit Kanisius. Jakarta.
Forteath, N., Wee, L. and Frith, M., (1993), Water Quality, in P. Hart and
OSullivan (eds) Recirculation System : Design, Construction and
Management, University of Tasmania at Launceston, Australia.: 1-22.,
Macan,T.T, 1960. A Guide to Freshwater invertebrate animals, Longmans, Green
& Co Ltd: London.
Saanin, 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Volume I dan II. Bina Rupa
Aksara. Jakarta
Soeseno, S. 1993. Pemeliharaan Ikan di Kolam Pekarangan. Kanisius.
Yogyakarta.
US EPA. 1976. Quality Criteria for Water. Washington DC: US. Wheatherley.
1972. Growth and Ecology of Fish Population. Academick Press. London.

18