Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMBUATAN PEREAKSI

NAMA

: DWI NICHE

NIM

: H311 12 264

HARI/TANGGAL PERCOBAAN

: RABU/ 20 FEBRUARI 2014

KELOMPOK

: III (TIGA)

ASISTEN

: SAKINAH NUR FADILAH

LABORATORIUM BIOKIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Cuka telah dikenal manusia sejak dahulu kala. Cuka dihasilkan oleh berbagai
bakteria penghasil asam asetat, dan asam asetat merupakan hasil samping dari
pembuatan bir atau anggur. Pada abad ke-3 Sebelum Masehi, Filsuf Yunani kuno
Theophrastos menjelaskan bahwa cuka bereaksi dengan logam-logam membentuk
berbagai zat warna, misalnya timbal putih (timbal karbonat). Pada abad ke-8,
ilmuwan Persia Jabir ibnu Hayyan menghasilkan asam asetat pekat dari cuka melalui
distilasi. Sejak 1910 kebanyakan asam asetat dihasilkan dari cairan piroligneous
yang diperoleh dari distilasi kayu. Cairan ini direaksikan dengan kalsium hidroksida
menghasilkan kalsium asetat yang kemudian diasamkan dengan asam sulfat
menghasilkan asam asetat.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana. Asam
asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang
dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki
rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH 3-COOH,
CH3COOH, atau CH3CO2H.
Umumnya, asam amino penyusun protein terdiri dari 20 jenis. Oleh karena
sifat khas yang dimiliki asam amino, beberapa jenis asam amino tersebut sering
dijadikan pereaksi untuk keperluan laboratorium. Adapun pereaksi asam amino yang
penting diketahui adalah alanin, glisin, dan asam aspartat.
Oleh karena itu, dilakukanlah percobaan pembuatan pereaksi dari turunan

asam karboksilat yaitu asam asetat, dan ada pula larutan nelson serta pereaksi dari
asamm amino yaitu alanin, glisin, dan asam aspartat. Untuk percobaan kali ini yaitu
membuat pereaksi larutan asam asetat, nelson, alanin, glisin, dan asam aspartat.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.1.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari cara
pembuatan pereaksi atau reagen larutan asam asetat, Nelson A, asam aspartat, glisin
dan leusin.
1.1.2 Tujuan Percobaaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk membuat pereaksi atau reagen larutan
asam asetat, Nelson A, asam aspartat, glisin dan leusin.
1.3 Prinsip Percobaan
Prinsip dari percobaan ini adalah pembuatan pereaksi larutan asam asetat,
Nelson A, asam aspartat, glisin dan leusin.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Asam asetat merupakan salah satu produk industri yang banyak dibutuhkan di
Indonesia. Asam asetat dapat dibuat dari substrat yang mengandung etanol, yang
dapat diperoleh dari berbagai macam bahan seperti buah-buahan, kulit nanas, pulp
kopi, dan air kelapa. Tersedianya air kelapa dalam jumlah besar di Indonesia, yaitu

lebih dari 900 juta liter per tahun merupakan potensi yang belum dimanfaatkan
secara maksimal (Irnia Nurika dan Nur Hidayat, 2001).
Glisin merupakan asam amino yang paling sederhana dan dapat berdisosiasi
membentuk suatu anion glisin H2N-CHz-CO2-, yang dapat bertindak sebagai ligan
terhadap kation logam transisi. Glisin digolongkan kepada ligan bidentat, ligan semi,
dan ligan negatif, Karena mempunyai pasangan elektron bebas dalam atom N dan
pasangan elektron dalam atom O sebagai kelebihan elektron (Eddy Sudjana dkk,
2002). Glisin dapat mengalami reaksi deainasi oksidatif oleh glsin oksidase, yaitu
enzim yang terdapat dalam jaringan hati dan ginjal. Dalam reaksi inn glisin akan
diubah menjadi asam glioksilat dan ammonia. Asam glioksilat yang terbentuk dapat
diuraikan lebih lanjut menjadi formaldehida dan karbondioksida (Anna P dan Titin
F.M.S, 2012).
CH2(NH2)COOH + O2

CHO COOH + NH3

Asam glioksilat dapat juga diubah menjadi asam malat yang menjalani
metabolisme melalui siklus asam sitrat. Disamping itu glisin dapat diubah pula
menjadi serin dengan 5-formiltetrahidrofolat. Dalam reaksi ini 5 formiltetrahidrofolat
berfungsi sebagai donor gugus formil kepada glisin (Anna P dan Titin F.M.S, 2012).
Glisin dapat berfungsi dalam proses penawar racun, misalnya apabila asam
benzoate dan derivatnya termasuk dalam makanan maka glisin akan bergabung
dengan zat-zat tersebut sehingga terbentuk asam hipurat yang tidak bersifat racun
(Anna P dan Titin F.M.S, 2012).
Dalam tubuh, glisin dapat dibentuk dari serin dalam jumlah yang cukup,
karena itu glisin adalah asam amino nonessensial. Serin dibentuk dari asam 3fosfogliserat yang merupakan salah stu hasil antara dalam proses glikolisis. Dengan

demikian dapat dilihat bahwa ada hubungan antara glikolisis dengan biosintesis
glisin (Anna P dan Titin F.M.S, 2012).
Leusin dapat diubah menjadi asam keto melalui reaksi transminasi oksidatif.
Kemudian asam keto ini melalui beberapa tahap reaksi diubah menjadi asetil KoA.
Salah satu senyawa yang terbentuk dalam tahap reaksi tersebut ialah metil glutamil
KoA (HMG CoA), yang juga merupakan salah satu zat antara dalam biosintesis
kolestrol (Anna P dan Titin F.M.S, 2012).
COOH
CH2
CH3 C OH
CH2
C

S KoA

O
Natrium bikarbonat atau disebut juga natrium hydrogen bikarbonat
merupakan senyawa kimia dengan rumus NaHCO3. Berupa padatan putih yang
kristalin namun terkadang berupa serbuk putih halus, sedikit terasa alkalin
menyerupai natrium karbonat. Senyawa ni merupakan komponen dari mineral natron
dalam beberapa sumber mineral lain. Bentuk mineral alaminya dikenal sebagai
nahkolit. Tiruan senyawa ini biasanya juga diproduksi. Semenjak penggunaannya
semakin meluas, natrium bikarbonat ini mempunyai beberapa nama dagang antara
lain baking soda, soda kue, soda masak, dan soda bokarbonat (Indah Ar, 2009).
Garam Rohelle merupakan serbuk atau butiran tidak berwarna hingga putih
kebiruan dengan struktur kristal ortorombik, yang merupakan garam yang berasa asin
dan dingin. Secara kimia, garam Rochelle ini merupakan Natrium Sodiun Tartart

(KNa (C4H4O6)4H2O), yang larut dalam air dan sedikit larut dalam alcohol, dengan
titik leleh 75o C, spesifik grafity 1,79. Garam ini menunjukkan gejala pembiasan
ganda. Kristal dari garam rohelle sangat mudah untuk disintesis dan biasanya sering
digunakan sebagai bahan pembuatan alat yang listrik sehubungan dengan sifatnya
yang akan memberikan tegangan saat dikenai tekanan mekanik yang disebut sebagi
sifat piezoelektrik (Indah Ar, 2009).
Struktur garam Rochelle

Garam Rochelle merupakan padatan yang kristalin dengan efek piezoelektrik


yang besar, yaitu akan menginduksikan muatan listrik pada permukaannya saat
dikenai deformasi mekanik seperti tekanan atau tekukan. Sifat ini sangat bermanfaat
untuk pembuatan alat yang memerlukan sensitifitas akustik atau vibrasional. Seperti
halnya material piezoelektrik lainnya, garam Rochelle akan menegang jika berada
pada medan listrik. Material ini akan terdekomposisi pada temperature sedang hingga
tinggi 55o C (131 F) dan membutuhkan perlindungan untuk melawan kelembapan.
Deformasi piezoelektrik sebanding dengan medan lisrik yang diberikan dan
berbanding terbalik dengan polaritasnya. Sifat dasar ini yang dipertimbangkan secara
elektrokimia, bahwa garam Rochelle dapat digunakan sebagai tranduser peralatan
elektronik seperti generator ultrasonic, mikrofon, pick-up fonograf serta resonator
elektrokimia (Indah Ar, 2009).

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan


Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah Na2CO3 anhidrat,
garam Rochelle, NaHCO3, Na2SO4, akuades, tissue roll dan sabun.
3.2 Alat Percobaan

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah gelas kimia 250 mL,
gelas ukur 100 mL, batang pengaduk, sendok tanduk, dan sikat tabung.
3.3 Prosedur Percobaan
3.3.1 Pembuatan larutan Asam Asetat
Disiapkan gelas ukur 100 mL terlebih dahulu. Dituangkan sebanyak 50 mL
CH3COOH 0,2 M ke dalam gelas ukur 100 mL, kemudian diencerkan hingga volume
100 mL. Larutan CH3COOH lalu dihomogenkan. Setelah dihomogenkan, larutan
dimasukkan ke dalam botol reagent.
3.3.2 Pembuatan larutan Nelson
Disiapkan gelas kimia 250 mL terlebih dahulu. Ditimbang sebanyak

gram Na2CO3 anhidrat, 5 gram garam Rochell, 4 gram NaHCO 3, 40 gram Na2SO4.
Dilarutkan semua bahan dengan akuades hingga volume 200 mL. Larutan nelson
diaduk dengan menggunakan batang pengaduk. Setelah semua padatan larut, larutan
dimasukkan ke dalam botol reagent.

3.3.3 Pembuatan larutan Alanin


Disiapkan gelas kimia 100 mL dan gelas kimia 50 mL terlebih dahulu.
Padatan alanin secukupnya dimasukkan ke dalam gelas kimia 50 mL dengan
menggunakan sendok tanduk. Larutan alanin dilarutkan dengan sedikit akuades.
Larutan dipindahkan ke dalam gelas kimia 100 mL. Ditambahkan dengan akuades
hingga tanda batas gelas kimia 100 mL. Larutan alanin diaduk dengan menggunakan
batang pengaduk. Setelah semua padatan alanin larut, larutan dimasukkan ke dalam
botol reagent.
3.3.4 Pembuatan larutan Asam Aspartat
Disiapkan gelas kimia 100 mL dan gelas kimia 50 mL terlebih dahulu.
Padatan asam aspartat secukupnya dimasukkan ke dalam gelas kimia 50 mL dengan

menggunakan sendok tanduk. Padatan asam aspartat dilarutkan dengan sedikit


akuades. Larutan dipindahkan ke dalam gelas kimia 100 mL. Ditambahkan dengan
akuades hingga tanda batas gelas kimia 100 mL. Larutan asam asparat diaduk dengan
menggunakan batang pengaduk. Larutan asam aspartat ditambahkan dengan tiga
tetes HCl 4 N agar larut sempurna. Setelah semua padatan asam aspartat larut, larutan
dimasukkan ke dalam botol reagent.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Perhitungan Pereaksi


4.1.1 Perhitungan Pembuatan Asam Asetat 0,1 M sebanyak 100 mL
V 1 M 1=V 2

M2

V1M1
V2 =
M2
100 mL x 0,1 M
V2 =
0,2 M
V2 = 50 mL

4.1.2 Perhitungan Pembuatan Pereaksi Glisin 0,01 M sebanyak 100 mL


g = L . M . Mr
= 0,1 L . 0,01 mol/L . 75,05 g/mol
= 0,0705 gram
4.1.3 Perhitungan Pereaksi Alanin 0,01 M, 100 mL
M

Massa 1000
x
Mr
V (mL)

4.1.4 Perhitungan Pereaksi Asam Aspartat 0,01 M, 100 mL


M

Massa 1000
x
Mr
V (mL)

4.2 Pembahasan
Pembuatan larutan asam asetat dan larutan nelson pada umumnya sama dalam
prinsip pengerjaannya, berikut prinsip pembuatannya. Alat-alat yang digunakan,
disterilkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Setelah itu, dituangkan sebanyak 50
mL CH3COOH 0.2 M ke dalam gelas ukur 100 mL. Larutan CH3COOH dilarutkan
dengan 50 mL akuades. Larutan CH3COOH lalu dihomogenkan. Setelah
dihomogenkan, larutan dimasukkan ke dalam botol reagent dan kemudian diberi
label. Pada pembuatan larutan nelson, terlebih dahulu ditimbang masing-masing
bahan padatan yang akan dicampurkan dengan menggunakan neraca ohm yaitu
sebanyak 5 gram Na2CO3 anhidrat, 5 gram garam Rochell, 4 gram NaHCO3, 40 gram
Na2SO4. Kemudian digunakan kertas timbang untuk memindahkan masing-masing
padatan ke dalam gelas ukur 200 mL. semua bahan yang telah ditimbang
ditambahkan dengan akuades hingga tanda batas gelas kimia 200 mL. Larutan nelson
diaduk dengan menggunakan batang pengaduk hingga padatan larut dalam air.
Setelah semua padatan larut, larutan dimasukkan ke dalam botol reagent dan diberi
label.

Pembuatan larutan alanin, glisin, dan asam aspartat pada umumnya sama
dalam prinsip pengerjaannya, berikut prinsip pembuatannya. Alat-alat yang
digunakan, disterilkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Setelah itu, masingmasing padatan alanin, glisin, dan asam aspartat diambil secukupnya dengan
menggunakan sendok tanduk dan dilarutkan dengan akuades dalam gelas kimia 50
mL lalu di aduk dengan menggunakan batang pengaduk hingga alanin, glisin, dan
asam aspartat masing-masing larut, kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia 100
mL. selanjutnya, akuades di tuang kembali kedalam gelas kimia tempat melarutkan
alanin, glisin, dan asam aspartat masing-masing sebanyak 100 mL.. Selanjutnya
dihomogenkan dengan pengadukan menggunakan barang pengaduk dan dimasukkan
kedalam botol reagen, kemudian diberi label. Untuk pembuatan larutan asam aspartat
diberi perlakuan khusus diakhir prosedur, sebab asam aspartat sulit larut dalam air
sehingga perlu ditambahkan asam. Asam yang digunakan adalah HCl 4 N.
Larutan alanin, glisin, dan asam aspartat dibuat dalam bentuk larutan untuk
digunakan sebagai sampel jenis asam amino yang akan uji atau diidentifikasi melalui
beberapa pereaksi seperti reagent ninhidrin, natrium nitroprusida, ammonium
hidroksida, biuret, Hopkins-cole, dan millon.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Pembuatan larutan asam asetat dilakukan dengan melarutkan larutan
CH3COOH 0,1 M sebanyak 50 mL dengan akuades 50 mL yang kemudian
dihomogenkan.
Pembuatan larutan Nelson A dilakukan dengan melarutkan semua bahan
campuran padatan yaitu sebanyak 5 gram Na2CO3 anhidrat, 5 gram garam Rochell,
4 gram NaHCO3, dan 40 gram Na2SO4 ke dalam gelas kimia kemudian dilarutkan
hingga volume 200 mL lalu dihomogenkan.
Pembuatan larutan alanin dan glisin dilakukan dengan melarutkan padatannya
masing-masing ke dalam 100 mL akuades kemudian diberi fungsi perlakuan dengan
pengadukan untuk mempercepat zat terlarut larut dalam pelarut..

Pembuatan larutan asam aspartat dilakukan dengan melarutkan padatannya


masing-masing ke dalam 100 mL akuades kemudian diaduk dan ditambahkan
beberapa tetes HCl 4 N untuk mempercepat proses pelarutan.
5.2 Saran
Sebaiknya sebelum melakukan percobaan semua alat dan bahan yang akan
digunakan dalam percobaan sudah disiapkan, sehingga praktikan tidak kebingungan
dalam mencari alat dan bahan yang digunakan.