Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ilmu fisika merupakan ilmu pengetahuan alam lainnya yang
murni maupun terapan bergantung pada pengamatan dan
percobaan-percobaan.

Ilmu

fisika

juga

tidak

lepas

dari

pengukuran guna mendapatkan besaran dan nilai. Fisika juga


tidak

lepas

dari

pengamatan.

Inti

pengamatan

adalah

pengukuran. Dengan demikian, kebenaran dari fisika adalah hasil


pengamatan (eksperimen). Jika dalam eksperimen, maka teori
yang berisikan hal yang salah justru dinyatakan tidak sah atau
ditolak.

Itulah

sebabnya

pengetahuan

tentang

pengukuran

merupakan suatu kebutuhan yang penting. Dimana untuk


mengukur suatu hal, perlu adanya perhitungan yang pas tidak
melenceng dari fakta. Penting sekali diketahui bahwa kebenaran
dalam perhitungan sangat penting sekali. Selain menyajikan data
yang benar, juga dapat dijadikan acuan pengukuran. Jangan
sampai hasil pengukuran tidak sesuai yang diharapkam karena
jika hal ini terjadi tidak akan menghasilkan apa-apa dan data
yang diperoleh pun tidak sesuai harapan.
Mengukur sesuatu perlu adanya alat untuk mengukur, hal ini
diharapkan dapat membantu kita untuk bisa mendapatkan hasil
yang sempurna. Tidak hanya itu, menggunakan alat ukur perlu
adanya pengetahuan. Jika kita mengukur dengan alat ukur yang
semestinya tentu nilai yang didapatkan pun akan sempurna.
Untuk menggunakan alat ukur, kita harus tau bagian-bagian
beserta fungsinya. Tidak hanya tau sebatas nama saja, kita wajib
tahu cara menggunakannya dengan hal ini diharapkan kita dapat
hasil pengukuran yang betul dan tidak salah aturan.
Kesalahan dalam menggunakan alat ukur juga

sangat

diperlukan perbaikan, untuk itu sebisanya mengukur tanpa


adanya

kesalahan

selagi

mengetahui

aturan

dan

cara

menggunakan alat ukur tersebut. Kesalahan yang seperti itu


mungkin bisa saja terjadi sehingga perlu adanya pengukurann
yang berulang-ulang. Untuk menghindari hal tersebut, selain
menjaga kebersihan alat dan menjaga keutuhan salah satunya
dan

melakukan

pengamatan

yang

berulang-ulang.

Untuk

menghindari kesalahan yang ada, diperlukan keseriusan dan


ketelitian dalam mengukur supaya diperoleh hasil yang benar.
Alat ukur juga tidak bisa selamanya utuh, alat ukur juga bisa
mengalami kerusakan tertentu tergantung bagaimana cara
memakainya, untuk itu adanya perawatan yang benar untuk
menghindari hal tersebut. Selain menjaga keutuhan alat juga
menjaga
sederhana

hasil

yang

seperti

didapatkan

menjaga

pasti

kebersihan

akurat.
alat

dan

Perawatan
menjaga

keutuhan setiap laporan pekerjaan.


Pentingnya besaran dalam pengukuran maka dilakukanlah
praktikum ini yang dapat membantu untuk memahami materi
dasar-dasar pengukuran. Dalam mengamati suatu gejala tidak
lengkap apabila tidak dilengkapi dengan data yang didapat dari
hasil pengukuran yang kemudian ditetapkan sebagai satuan.

1.2 Tujuan
1. Mempelajari penggunaan alat-alat ukur untuk pengukuran
massa, temperatur, dan waktu.
2. Mampu menggunakan dan memahami alat-alat ukur dasar.
3. Mampu menentukan dan memahami alat-alat ukur dara
dan menentukan ketidakpastian pada pengukuran tunggal
dan berulang.
4. Dapat mengaplikasikan konsep ketidakpastian dan angka
berarti dalam pengukuran pengolahan hasil pengukuran.

BAB II
LANDASAN TEORI
Kita

memperdalam

ilmu

fisika

dengan

mempelajari

bagaimana mengkur besaran yang ada didalam fisika. Diantara


besaran-besaran tersebut adalah panjang, waktu, massa, suhu
dan tekanan, serta arus listrik. Kita mengukur setiap besaran fisik
dalam satuannya masing-masing. Satuan adalah nama unik yang
kita tetapkan untuk mengukur besaran tersebut misalnya, meter
(m) untuk besaran panjang. Sebuah nilai baku yang sesuai
dengan 1.0 satuan besaran. Seperti yang dapat anda lihat,
standar untuk panjang yaitu yang sesuai dan tepat 1,0 m adalah
jarak yang ditempuh cahaya dalan ruang hampa selama fraksi
waktu tertentu. Kita dapat mendefinisikan satuan dan standarnya
dengan cara apapun yang kita inginkan. Namun yang terpenting
adalah untuk melakukannya dengan suatu cara dimana para
ilmuwan di seluruh dunia setuju bahwa definisi yang kita buat
tersebut masuk akal dan praktis. Begitu kita telah menetapkan
standar misalnya untuk panjang kita harus menyusun prosedur
dimana setiap besaran panjang apapun, baik itu jari-jari atom
hidrogen, jarak roda skaterboard atau jarak kebintang dapat
dinyatakan dalam satuan standar. Penggaris yang digunakan
untuk mengukur standar panjang, memberikan kita salah satu

prosedur

dalam

menggukur

panjang.

Meskipun

demikian,

beberapa alat pembanding yang kita miliki harus digunakan


dengan cara tidak langsung. Sebagai contoh anda tidak dapat
menggunakan penggaris untuk mengukur jari-jari atom dan jarak
kebintang. Terdapat banyak sekali besaran fisika, sehingga sulit
untuk mengelompokkannya. Untungnya, tidak semua besaran
sendiri, misalnya laju adalah rasio antara jarak dan waktu jadi,
yang

kita

lakukan

adalah

memilih

dengan

persetujuan

internasional. Sejumlah kecil besaran fisika, seperti panjang dan


waktu kemudian menetapkan standar untuk masing-masing
besaran tersebut. Kemudian kita mendefinisikan besaran fisika
lainnya dalam besaran pokok. Sebagai contoh laju didefinisikan
sebagai

dalam

besaran

pokok

panjang

dan

waktu

dan

menggunakan standar pokok keduanya. Standar pokok harus


dapat diperoleh dan seragam atau tetap. Bila kita mendefiniskan
standar panjang sebagai jarak antara hidung seseorang dengan
ujung jari telunjuk dari lengan yang diregangkan pastinya kita
akan

mendapatkan

standar

yang

mudah

diperoleh

tetapi

tentunya akan berbeda-beda untuk setiap orang. Kebutuhan


akan

ketelitian

(precicion)

dalam

sains

dan

engineering

menuntun kita untuk mendahulukan keseragaman. Setelah itu


barulah kita berusaha semaksimal mungkin untuk membuat
duplikat dari standar dasar yang dapat dicapai bagi yang
membutuhkannya (Walker, 2010 : 2).
Fisika didasarkan pada keberadaan fakta-fakta atau data.
Data

empiris,

fakta

dan

data

menuntut

pembuktian

kebenarannya melalui pengukuran. Dalam banyak pengukuran


sering kali diperoleh nilai yang tidak menunjukkan sebagai
bilangan bulat. Nilai atau harga suatu besaran fisis yang tidak
bulat, pada umumnya dituliskan dalam bentuk desimal. Sangat
jarang nilai suatu besaran dituliskan dalam bentuk pecahan.

Sebagai contoh tidak lazim dituliskan 24 yang sering dituliskan


adalah 24,125. Dalam setiap harga besaran fisis yang ditentukan
melalui suatu pengukuran tidak luput dari pembacaan skala alat
ukur

yang

bersangkutan.

menentukan

kualitas

Pengukuran

nilai

yang

dalam

diperoleh

fisika

dapat

dalam

setiap

pengukuran selalu terdapat keragu-raguan atas nilai yang


diperoleh dari pengukuran yang bersangkutan. Keragu-raguan
tersebut dapat datang dari kondisi fisik pengamat, lingkungan
tempat melakukan pengukuran, atau dari alat itu sendiri.
Penulisan

besaran

yang

juga

menampilkan

keragu-raguan

terhadap hasil pengukuran dinyatakan oleh dua bagian nilai.


Pertama nilai taksiran yang menyatakan nilai hasil pengukuran
dan kedua nilai keragu-raguan atau yang sering disebut sebagai
nilai

ketidakpastian.

penyimpangan

Nilai

terhadap

ketidakpastian
nilai

hasil

menyatakan

pengukuran.

nilai

Sebutlah

besaran A hasil eksperimen akan dituliskan sebagai A=(A

A). Nilai A adalah hasil taksiran dari besaran A dan nilai

menyatakan nilai ketidakpastian pengukuran. Cara pengukuran


suatu besaran akan menentukan nilai taksiran maupun nilai
ketelitiannya.
1. Pengukuran dilakukan sekali
Dalam pengukuran yang dilakukan sekali, nilai taksiran
yang ditentukan secara kira-kira dari angka skala yang tertera di
alat ukur, atau menggunakan skala nonius yang ada pada alat.
Nilai ketelitian diperoleh melalui nilai skala terkecil pada alat.
Pada penggunaan alat ukur yang tampilan nilainya dalam bentuk
digital, tentunya sulit untuk menyatakan skala tekecilnya. Dalam
hal ini, keraguan diatasi melalui pengukuran berulang kali, dan
selanjutnya data-data diolah secara statistik. Pengolahan data
yang paling sederhana dilakukan dengan metode regresi linier.
2. Pengukuran dilakukan berulang kali

Peningkatan terhadap ketelitian atau penurunan terhadap


keragu-raguan pengukuran sering kali dilakukan dengan cara
melakukan pengukuran berkali-kali. Namun, yang ingin dibahas
dalam bagian ini hanyalah untuk pengukuran-pengukuran yang
diyakini tidak memiliki keterkaitan atau pengaruh dengan kondisi
pengukuran lainnya. Setiap pengukuran dianggap berdiri sendiri
dan tidak bergantung pada pengukuran lainnya. Penetapan nilai
yang

diperoleh

dari

pengukuran

berulang-ulang

dilakukan

dengan metode statistik.


3. Angka penting atau angka berarti
Penulisan angka hasil pengukuran dalam fisika memiliki
istilah yang disebut angka penting atau angka berarti yang
didasarkan pada beberapa pertimbangan antara lain kondisi
pengukuran

atau

eksperimental,

operasi

matematika,

dan

kepraktisan. Setiap alat ukur pada umumnya senantiasa memiliki


skala terkecil dari daerah pengukurannya ( Suparno, 2013:31 ).
Berikut ini penjelasan mengenai alat-alat ukur yang akan
kita gunakan :
a. Pengukuran menggunakan Neraca Ohauss
Secara umum, neraca adalah alat timbang atau alat ukur
untuk mengukur massa atau gaya, misalnyaa neraca sama
lengan dan neraca ohauss serta neraca pegas. Neraca ini
mempunyai tiga lengan yaitu lengan pertama berskala ratusan
gram, lengan kedua yang berskala puluhan gram, dan lengan
ketiga berskala satuan gram. Neraca ini mempunyai ketelitian
sampai dengan 0,1 gram. Neraca pegas mempunyai dua baris
skala, yaitu skala N (newton) dan G (gram). Untuk menimbang
benda atur terlebih dahulu skala 0 (nol) dengan cara memutar
sekrup pengatur skala setelah itu gantungkan ke pengait neraca
selanjutnya baca hasil pengukuran. Kelebihan neraca pegas
adalah dalam sekali menimbang, benda dapat diketahui massa
dan berat benda sekaligus. Cara membaca neraca ini sama

halnya seperti menggunakan alat ukur mistar yaitu melihat


angka yang ditunjukkan oleh penujuk skala (Lilik, 2013 :45).
b. Pengukuran menggunakan Neraca Pegas
Neraca pegas mempunyai 2 baris skala yaitu skala newton
(N) dan gram (G) untuk mengukur massa suatu benda ukur
terlebih dahulu skala nol (0), dengan cara memutar pengukur
skala setelah itu mengukur benda padat pengait neraca,
selanjutnya baca kait pengaturan lebih menimbang benda
diketahui massa dan berat benda sekaligus. Neraca pegas adalah
neraca

yang

menggunakan

pegas

sebagai

alat

untuk

menentukan massa benda yang akan diukur (Halliday, 1999:54).


c. Pengukuran menggunakan Termometer
Termometer adalah alat ukur suhu berdasarkan bahan yang
digunakan. Termometer digolongkan menjadi beberapa jenis
antara lain termometer zat cair, termometer hambatan dan
termometer gas.
1) Termometer zat cair
Termometer zat cair dibuat berdasarkan perubahan volume
zat cair yang digunakan biasanya raksa atau alkohol. Misalnya
termometer celcius, reamur, dan fahrenheit. Pemilihan raksa
atau alkohol sebagau isi termometer didasarkan atas :
a. Mudah dilihat (raksa mengkilap, sedangkan alkohol bisa
diberi warna merah).
b. Daerah ukurannya sangat luas (raksa antara -39C sampai
337C). Sedangkan alkohol -114C sampai dengan 78C.
c. Raksa dan alkohol merupakan penghantar yang baik.
d. Kalor jenisnya kecil.
Pemberian skala pada termometer menggunakan dua titik
tetap atas dan bawah yang berbeda satu dengan yang lain
sehinggab skalanya yang berbeda (Lilik, 2013:46).
1) Termometer hambatan
Termometer ini menggunakan prinsip perubahan hambatan
logam konduktor terhadap suhu. Biasanya termometer inu
menggunakan kawat platina halus yang dililitkan pada muka dan

dimasukkan dalam tabung perak tipis tahan panas (Lilik,


2013:46).
Terdapat 3 skala suhu yang umum digunakan saat ini.
Satuannya adalah kelvin (k), C (derajat celcius), dan F (derajat
Farenheit).

Skala

celcius

umum

digunakan

di

indonesia

sedangkan skala fahrenheit umum digunakan di Amerika Serikat.


Di luar laboratorium pada skala fahrenheit titik beku dan titik
didih normal air berturut-turut didefinisikan sebagai tepat 32F
dan 212F. Skala celcius membagi rentang antara titik beku air
(0C) dan titik didih air (100C). Derajat celcius berdasarkan
satuan (SI) tetapi dapat digunakan bersama satuan SI dan sering
kita

menggunakannya.

Ukuran

satu

derajat

dalam

skala

Fahrenheit adalah 100/180 atau 5/9 dari derajat celcius untuk


mengubah derajat fahrenheit ke derajat celcius kita tulis :
5 C
?C = (F-32F) x 9 C
Untuk mengubah derajat celcius menjadi fahrenheit
9 C
?F = 5 C x (C) + 32F
Massa adalah suatu ukuran yang menunjukkan kuantitas
materi di dalam suatu benda. Istilah massa dan berat sering
tertukar dalam penggunaannya walaupun keduanya merujuk
pada besaran yang berbeda-beda. Dalam peristilahan ilmiah
berat (weight) adalah gaya yang diberikan oleh gravitasi pada
suatu benda. Sebuah apel jatuh dari pohonnya ditarik kebawah
oleh gravitasi bumi massa apel tetap dan tidak bergantung pada
letaknya sebagai contohnya dipermukaan berat apel adalah
seperenam beratnya dibumi. Karena massa bulam yang lebih
ringan itulah sebabnya astronot dapat melompat dengan bebas
dipermukaan bulan walaupun dengan

menggunakan pakaian

yang berat badan dan membawa perlengkapan yang banyak


massa benda dapat ditentukan langsung dengan menggunakan
timbangannya. Namun aneh nya kita sering menyebutkan

sebagai menimbang berat. Satuan dasar SI untuk massa adalah


kilogram

(kg)

tetapi

dalam

kimia

lebih

mudah

apabila

menggunakan satuan yang lebih kecil (Raymond, 2013: 13-14).


d. Penggukuran menggunakan Stopwatch
Stopwatch adalah alat yang digunakan untuk mengukur
lamanya waktu yang diperlukan dalam suatu kegiatan. Standar
untuk satuan waktu adalah sekon (s) atau detik. Satu sekon atau
detik didefinisikan sebagai selang waktu yang diperlukan oleh
atom

cesium-133

untuk

melakukan

getaran

sebanyak

9.192.631.770 kali dalam transisi antara tingkat energi di tingkat


energi dasarnya (Kardiawan, 1992:25).
BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN
3.1
Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
1) Neraca Ohauss digunakan untuk mengukur massa
benda atau logam dalam praktik laboratorium.
2) Termometer digunakan untuk mengukur suhu

dan

temperature.
3) Stopwatch digunakan untuk mengukur lamanya waktu
yang diperlukan dalam suatu kegiatan.
4) Neraca Pegas digunakan untuk mengukur massa benda
dalam praktik laboratorium.
3.1.2
1)
2)
3)

Bahan
Balok sebagai objek dalam kegiatan pengukuran.
Air untuk diukur suhunya, mempraktekan termometer.
Wadah air untuk menampung air yang akan diukur

suhunya.
4) Pemanas

air

untuk

memanaskan

digunakan untuk ukuran.

air

yang

akan

3.2
Cara Kerja
3.2.1 Neraca Ohauss
a) Prosedur kerja neraca ohauss adalah sebagai berikut :
1. Diperhatikan gambar neraca ohauss.
2. Disebutkan bagian-bagian dari neraca ohauss.
3. Dijelaskan fungsi masing-masing bagian gambar.
4. Ditentukan skala terbesar dan satuannya.
5. Ditentukan skala terkecil dan satuannya.
6. Ditentukan titik nol.
7. Diambil tiga buah benda.
8. Diukur massa ketiga buah benda.
9. Dicatat hasil pengukuran dalam tabel.
b) Flow chart
MULAI
Diperhatikan neraca ohauss

Disebutkan bagian beserta


fungsinya
Ditentukan skala terbesar dan
terkecil
Ditentukan titik nol

Diukur massa tiga


benda
Dicatat hasil pengukuran

HASIL

3.2.2 Neraca Pegas


a) Prosedur kerja neraca pegas adalah sebagai berikut :
1. Diperhatikan gambar neraca pegas.
2. Disebutkan bagian-bagian dari neraca pegas.
3. Dijelaskan fungsi masing-masing bagian gambar.
4. Ditentukan skala terbesar dan satuan.
5. Ditentukan skala terkecil dan satuan.
6. Ditentukan titik nol.
7. Diambil tiga buah benda.
8. Diukur massa dan berat ketiga benda.
9. Dicatat hasil pengukuran dalam tabel.
b) Flow chart
MULAI

Diperhatikan neraca pegas

Disebutkan bagian beserta


fungsi
Ditentukan skala terbesar dan
terkecil
Ditentukan titik nol

Diukur massa dan berat tiga


buah benda
Dicatat hasil
pengukuran
HASIL
3.2.3 Termometer
a) Prosedur kerja termometer adalah sebagai berikut :

1. Diperhatikan gambar termometer.


2. Ditentukan batas ukur termometer.
3. Ditentukan skala terkecil.
4. Ditentukan ketelitian.
5. Dijelaskan fungsi benang pada termometer.
6. Diambil gelas ukur.
7. Diisi dengan air.
8. Diukur suhu air.
9. Dicatat hasilnya.
b) Flow chart
MULAI

Diperhatikan gambar
termometer
Ditentukan batas
ukur
Ditentukan skala
terkecil
Ditentukan ketelitian
Dijelaskan fungsi
benang
Diukur suhu air dalam gelas
ukur
Dicatat hasil
pengukuran
3.2.4 Stopwatch
HASIL
a) Prosedur kerja stopwatch sebagai berikut :
1. Diambil stopwatch.
2. Diamati dengan seksama.
3. Disebutkan bagian-bagian yang ada
stopwatch.

dalam

4. Ditentukan

batas

maksimum

dan

minimum

tekanan.
5. Ditentukan skala terkecil.
6. Dipegang nadi masing-masing praktikan.
7. Dihitung waktu yang dibutuhkan untuk 10 kali
denyut nadi.
8. Dicatat hasil perhitungan dalam satuan sekon dan
jam.
b) Flow chart
MULAI

Diambil stopwatch

Diamati dan disebutkan bagianbagiannya


Ditentukan batas maksimum dan
minimum teakanan
Ditentukan skala terkecil

Dipegang nadi masing-masing


praktikan
Dihitung waktu yang dibutuhkan untuk 10
kali denyut nadi

Dicatat hasil perhitungan dalam satuan sekon


dan jam
3.3
Skema Alat
3.3.1 Neraca Ohauss

HASIL

3.3.2 Neraca Pegas

3.3.3 Termometer

3.3.4 Stopwatch

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
1. Tabel data Neraca Pegas dan Neraca Ohauss

NO
1

Nama Benda
Stopwatch

Massa (gr)
80 + 8,7 = 88,7 gr

Berat (N)
88 x 0,01 =

Termometer

20 + 3,3 = 23,3 gr

0,88 N
23 x 0,01 =

30 + 9,7 = 39,7 gr

0,23 N
58 x 0,01 =

50 + 8,3 = 58,3 gr

0,58 N
57 x 0,01 =

Kotak Pensil 3

100 + 0 + 6,65 =

0,57 N
71 x 0,01 =

Jam Tangan 1

106,65 gr
40 + 1,5 = 41,5 gr

0,71 N
41 x 0,01 =

Kotak Pensil 1

Kotak Pensil 2

5
6
7

Jam Tangan 2

30 + 2,7 = 332,7 gr

0,41 N
33 x 0,01 =

Jam Tangan 3

40 + 5,7 = 45,7 gr

0,33 N
46 x 0,01 =
0,46 N

2. Tabel data pengukuran massa benda dengan Neraca


Ohauss
No
1
2
3

Nama Benda
Stopwatch
Kotak stopwatch
Kotak + stopwatch

Massa (gr)
80 + 8,7 = 88,7 gr
40 + 2,7 = 42,7 gr
100 + 30 + 1,1 =
131,1 gr

3. Tabel data Stopwatch


No
1
2
3
4
5

Nama
Rela Sonia
Elsafani Faddiasya
Ai kurniati
Roly Rahma Utari
M.Vikri Hidayat

Denyut Nadi (s)


6,8
7
7
5,8
6,7

6
7

Thamrin
Dina Karmila
Puput Hidayatun

6,6
6,4

8
9

Jannah
Yesy Oktafianti
Hesty Aryeni

6,8
6

4. Tabel data Termometer


No
1
2

Objek yang
diukur
Suhu Ruangan
Air

4.2 Perhitungan
4.2.1 Pengukuran

massa

I (C)

Pengulangan
II (C)
III (C)

31
28

dengan

Ohauss :
1. Stopwatch
M = 80 + 8,7 = 88,7 gr
2. Kotak Stopwatch
M = 40 + 2,7 = 42,7 gr

31
29,5

30
30

menggunakan

Neraca

3. Kotak + Stopwatch
M = 100 + 30 + 1,1 =131,1 gr
4.2.2 Pengukuran massa dengan menggunakan Neraca Pegas
untuk perbandingan neraca pegas :
1. Stopwatch
M = 80 + 8,7 = 88,7 gr
2. Termometer
M = 20 + 3,3 = 23,3 gr
3. Kotak pensil I
M = 30 + 9,7 = 39,7 gr
4. Kotak pensil II
M = 50 + 8,3 = 58,3 gr
5. Kotak pensil III
M = 100 + 0 + 6,65 = 106,65 gr
6. Jam tangan I
M = 40 + 1,5 = 41,5 gr
7. Jam tangan II
M = 30 + 2,7 = 32,7 gr
8. Jam tangan III
M = 40 + 5,7 = 45,7 gr
4.2.3 Pengukuran berat dengan menggunakan Neraca pegas :
1. Stopwatch
W = 88 x 0,01 = 0,88 N
2. Termometer
W = 23 x 0,01 = 0,23 N
3. Kotak pensil I
W = 58 x 0,01 = 0,58 N
4. Kotak pensil II
W = 57 x 0,01 = 0,57 N
5. Kotak pensil III
W = 71 x 0,01 = 0,71 N
6. Jam tangan I
W = 41 x 0,01 = 0,41 N
7. Jam tangan II
W = 33 x 0,01 = 0,33 N
8. Jam tangan III
W = 46 x 0,01 = 0,46 N
4.2.4 Pengukuran suhu dengan Termometer :
1. Suhu Ruangan
X1 = 31C
X2 = 31C
X3 = 30C
x = x1 + x2 + x3 = 31 + 31 + 31 = 30,67 C
3
3
2. Air

X1 = 28 C
X2 = 29,5 C
X3 = 30 C
x = x1 + x2 + x3 = 28 + 29,5 + 30 = 29,17 C
3
3

4.3 Teori Ralat


4.3.1 Termometer (suhu ruangan)
x
X1 = 31
X2 = 31
X3 = 30

( x x )2
0,1089
0,1089
0,45
0,67

(xx)
0,33
0,33
-0,67
x = 30,67

RM =

X X

RN =

RM
X

0,58
100 % = 30,67

0,67
2

0,335 = 0,58

100 % = 1,89 %

4.3.2 Termometer (suhu air)


x
(xx)
X1 = 28
-1,16
X2 = 29,5
0,34
X3 = 30
0,84
x = 29,16

( x x )2
1,35
0,11
0,705
2,16

4.4

RM =

X X

RN =

RM
X

1,04
100 % = 29,16

2,16
2

1,08 = 1,04

100 % = 3,5 %

Pembahasan

Pada praktikum kali ini yang dibahas adalah alat ukur yang
bertujuan untuk mempelajari alat-alat ukur massa, waktu, dan
temperature, besesrta ketelitian dari alat-alat ukur tersebut. Alatalat praktikum yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
neraca ohauss, neraca pegas, dan termomete serta stopwatch.
Masing-masing alat tersebut memiliki ketelitian yang berbedabeda.
Percobaan

yang

pertama

yaitu

pengukuran

massa

menggunakan neraca ohauss. Jenis neraca ohaouss yang


digunakan disini adalah neraca 3 lengan yang terdiri dari skala
ratusan, puluhan, hingga satuan. Ketelitian dari neraca ini adalah
0,1 gram. Dengan prinsip kerja membanddingkan massa benda
yang

akan

diukur

dengan

anak

timbangan.

Kemampuan

pengukuran ini dapat digeser menjauh atau mendekati poros

neraca. Skala pada neraca ohauss ini adalah 0,01 gram dengan
skala terkecil 0,1 gram.
Bagian-bagian neraca ohauss meliputi :
1. Tempat bahan yang digunakan untuk meletakkan bahan
yang akan ditimbang.
2. Tombol kalibrasi yang digunakan untuk mengkalibrasi
neraca ketika neraca masih belum terkalibrasi.
3. Lengan neraca untuk neraca lengan berjumlah tiga.
4. Pemberat yang diletakkan pada masing-masing lengan
yang dapat digeser.
5. Titik nol atau garis kesetimbangan.
Dengan menggunakan neraca ohauss kami menimbang
bebagai macam alat dan benda yaitu stopwatch, jam tangan
berjumlah 3, kotak pensil berjumlah 3, dan termometer, hasil
yang didapatkan sudah cukup akurat. Hanya butuh ketelitian
yang lebih baik lagi.
Pada percobaan keduadgunakan alat pengukur massa yaitu
neraca pegas. Seperti teori yang sudah diketahui sebelumnya,
neraca pegas adalah timbangan sederhana yang menggunakan
pegas

sebagai

penentu

massa

benda.

Neraca

pegas

menggunakan Newton sebagai satuan dan sebagai skalanya. 1


Newton sama dengan 100 gram. Jadi 1 kilogram ada 10 Newton.
Bagian-bagian neraca pegas meliputi :
1. Gantungan sebagai tempat untuk menggantungkan
sebuah benda yang akan diukur.
2. Penunjuk skala, sebagai penentu skala pada neraca
pegas dan menunjukkan data hasil pengamatan.
3. Pegas bagian dari neraca
4. Pengait yang berfungsi sebagai penggantung neraca
pegas pada pengukuran menggunakan neraca pegas.
Gravitasi sebagai pengaruh daripegasnya sehingga satuan
pada neraca pegas adalah Newton, bukan kilogram. Untuk

mencari massa yang belum diketahui bisa digunakan rumus


berat yaitu :
W = m.g
Keterangan : m = massa (kg)
G = gravitasi bumi (m/s2)
Dengan menggunakan neraca pegas, kami mengukur
stopwatch, kotak stopwatch, termometer, jam tangan berjumlah
3, kotak pensil berjumlah 3. Disini kami membandingkan massa
yang

diukur

dengan

menggunakan

neraca

pegas

dan

menggunakan neraca ohauss. Ternyata hasilnya akan mendekati


sama, hanya beda sangat tipis, mungkin karena kurangnya
ketelitian praktikan. Hasil pengukuran yang didapatkan yaitu
massa stopwatch adalah 88,7 gram dan beratnya 0,88 Newton,
massa termometer adalah 23,3 gram dan beratnya adalah 0,23
Newton, masssa kotak pensil 1 yaitu 39,7 gram dengan berat
0,58 Newton, massa kotak pensil 2 adalah 58,3 gram dengan
berat 0,57 Newton, massa kotak pensil 3 adalah 106,65 dengan
berat 0,71 Newton, massa jam tangan 1 adalah 41,5 gram dan
berat 0,41 Newton, jam tangan 2 massanya 32,7 gram dan
beratnya 0,33 Newton, jam tangan 3 massanya 45,7 gram dan
beratnya 0,46 Newton. Dari data diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa

pengukuran

menggunakan

neraca

ohauss

dan

pengukuran menggunakan neraca pegas hasilnya akan sama dan


jikalau berbeda tidak akan jauh selisihnya. Karena terdapat
sedikit kesalahan dalam pengukuran, jadi data yang kami
dapatkan sedikit terjadi selisih yang jauh. Jika menurut tori, hasil
pengukuran dengan menggunakan neraca ohauss dan neraca
pegas akan hampir sama nilainya.
Berdasarkan teori, termometer adalah alat yang digunakan
untuk mengukur suhu. Termometer memiliki ketelitian 1C.

Termometer mempunyai tali di ujungnya yang berfungsi sebagai


penggantung termometer agar tidak mengenai kontak langsung
dengan salah satu anggota tubuh kita, misalnya jari tangan,
sehingga

tidak

akan

menggangggu

pengukuran

yang

berlangsung.
Pada praktikum kali ini, kami mengukur suhu ruangan dan
air yang diukur menggunakan termometer. Suhu ruangan yang
diukur disini adalah suhu normal ruangan yang memiliki suhu
rata-rata 30,67C. Suhu tersebut masih dianggap diambang
batas normal ruangan. Kami melakukan pengukuran sebanyak 3
kali pengulangan. Setelah itu, kami juga mengukur suhu air. Air
yang digunakan disini adalah air bersuhu normal yang memiliki
suhu rata-rata sbesar 29,17C. Suhu tersebut cukup normal.
Ketika

hendak

mengukur

suhu,

jangan

melakukan

kontak

langsung dengan termometer. Gunakan tali untuk menggantung


termometer. Karena jika termometer mengenai tubuh, skala yang
tertera akan berubah karena suhu tubuh kita.
Percobaan

terakhir

adalah

percobaan

menggunakan

stopwatch. Stopwatch erguna untuk menghitung selang waktu


yang diperlukan benda untuk bergerak dalam suatu keadaan.
Stopwatch memiliki skala terkecil yaitu detik. Terdapat 10 skala
terkecil hingga nilai terkecilnya adalah 0,1 detik atau sekon.
Berdasarkan teori, stopwatch memiliki 2 macam, yaitu stopwatch
analog dan stopwatch digital. Pada praktikum ini, stopwatch yang
digunakan adalah stopwatch analog. Stopwatch analog yang
digunakan memiliki batas maksimum yaitu 59 menit dan batas
minimumnya

0,1

detik.

Dalam

percobaan

kali

ini,

kami

menghitung nadi sebanyak 10 kali denyutan. Kami mengukur


denyut nadi stiap praktikan dikelompok kami. Data yang
diperoleh adalah 6,8; 7; 7; 5,8; 6,7; 6,6; 6,4; 6,8; 6. Data yang

kami peroleh menunjukkan hasil yang berbeda-beda dari lama 10


denyut nadi tiap praktikan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Praktikan dapat mempelajari penggunaan alat-alat ukur
untuk pengukuran massa, temperatur, dan waktu.
2. Praktikan mampu menggunakan dan memahami alatalat ukur dasar.
3. Praktikan mampu menerapkan ketidakpastian dalam
angka berarti pada pengukuran tunggal dan berulang.
4. Praktikan dapat mengaplikasikan konsep ketidakpastian
dalan

angka

berarti

dalam

pengolahan

hasil

pengukuran.
5.2 Saran
Diharapkan untuk praktikum selanjutnya agar lebih
serius dan teliti dalam melakukan pengukuran. Kemudian
praktikan

harus

telah

memahami

materi

yang

akan

dipratikan, memahami konsep dan lebih meningkatkan


kerja sama antar praktikan. Disarankan agar lebih teliti dan
berhati-hati dalam melakukan pengukuran.

DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond.2003.Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi


Ketiga. Washington : MC.Grawn.
Hidayat, Lilik.2013. Kamus Fisika Bergambar. Jakarta : Pakar Jaya.
Halliday, Resnick.1999.Fisika Universitas. Jakarta : Erlangga.
Kardiawan, dkk.1992. Fisika Dasar 1. Jakarta : Universitas
Terbuka.
Satria, Suparno. 2013.

Fisika Dasar Pembahasan Terpadu.

Bandung : ITB Press.


Walker, dkk. 2010. Fisika Dasar. Jakarta : Erlangga.

Evaluasi Akhir :
1. Tentukan

NST

dari

Neraca

Ohauss,

Neraca

Pegas,

termometer, dan stopwatch ?


Jawab :
NST Neraca Ohauss
0,01 gr karena ketelitian dari neraca ohauss adalah
0,01 gr.
NST Neraca Pegas
0,1 gr karena ketelitian dari neraca pegas adalah 0,1
gr.
NST Termometer
1C karena skala terkecilnya 1C.
NST Stopwatch Analog 0,1 sekon karena jarak antara
2 gores panjang yang ada adalah 2 sekon. Jarak itu
dibagi atas 20 skala dengan demikian 2/20 = 0,1
sekon.
2. Bagaimana menentukan NST dari alat ukur digital ?
Jawab :
Dengan menggunakan skala utamanya berupa, kemudian
dibagi dengan jumlah skala noniusnya, kalau NST digital
tidak perlu dicari karena alat digital biasanya telah
dicantumkan.
3. Buat analisis dan kesimpulan dari percobaan tersebut ?
Jawab :
Pengukuran merupakan suatu kegiatan yang menunjukkan
perbandingan langsung dari benda yang diukur langsung
dengan beberapa skala asli. Setiap alat ukur mempunyai
ketelitian yang berbeda, pengukuran kali ini menggunakan
neraca ohauss, neraca pegas, termometer dan stopwatch.