Anda di halaman 1dari 20

Universitas Tarumanagara 1

Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

LEMBAR PENGESAHAN

Penyusun

Ellen Monica 406


Michelle Betsy 406
Stephanie Wirjomartani - 406138166
Perguruan Tinggi

: Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Bagian

: Ilmu Kedokteran Jiwa

Periode

: 5 Oktober 2015 7 November 2015

Judul

: Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

Pembimbing

: dr. Yenny Dewi Purnamawati, Sp.KJ (K)

Telah diperiksa dan disetujui tanggal:

Mengetahui,
Pembimbing Referat

(dr. Yenny Dewi Purnamawati, Sp.KJ (K) )

KATA PENGANTAR
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa
Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 2
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas kasih karunia dan rahmat- Nya
kami dapat menyelesaikan referat dengan judul Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja
dengan baik secara tepat waktu. Adapun referat ini disusun dalam rangka memenuhi tugas
Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Jiwa Universitas Tarumanagara di Rumah Sakit
Khusus Jiwa Dharma Graha periode 5 Oktober 2015 sampai 7 November 2015 dan bertujuan
untuk menambah informasi bagi kami dan pembaca referat ini.
Kami sebagai penulis bersyukur atas selesainya tugas ini. Hal ini tidak terlepas dari
dukungan serta keterlibatan berbagai pihak dan pada kesempatan ini kami ingin berterima
kasih kepada :
1. Bapak Sugeng selaku Wakil Direktur rumah sakit Dharma Graha yang telah
memberikan kesempatan kepada kami untuk menjalankan masa kepaniteraan
klinik ilmu kesehatan jiwa di Rumah Sakit Dharma Graha.
2. dr. Irmansyah,SpKJ (K) selaku pembimbing dalam kepaniteraan klinik ilmu
kedokteran jiwa di Rumah Sakit Dharma Graha dan pembimbing pembuatan
referat Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja.
3. dr. Yenny Dewi Purnamawati, SpKJ (K) selaku penangung jawab dan
pembimbing kami selama menjalani kepaniteraan di rumah sakit Dharma
Graha.
4. dr. Rosmalia Suparso, SpKJ (K) selaku pembimbing kami selama menjalani
kepaniteraan di Rumah Sakit Dharma Graha.
5. dr. Ira Savitri Tanjung , SpKJ (K) selaku pembimbing kami selama menjalani
kepaniteraan di Rumah Sakit Dharma Graha.
6. Staf dan perawat Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha.
7. Rekan-rekan anggota kepaniteraan klinik ilmu kesehatan jiwa.

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 3
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

Kami menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak. Akhir kata,
kami mengucapkan terimakasih dan semoga referat ini dapat bermanfaat.

Tangerang Selatan, Oktober 2015

Penulis

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 4
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

DAFTAR ISI
Judul
Lembar pengesahan....................................................................................................

Kata pengantar ...........................................................................................................

Daftar isi ....................................................................................................................


4
Bab I Pendahuluan .....................................................................................................

Bab II Tinjauan Pustaka..............................................................................................

Bab III Pembahasan....................................................................................................

19

Bab IV Kesimpulan.....................................................................................................

20

Daftar Pustaka.............................................................................................................

21

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 5
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

BAB I
PENDAHULUAN
I.

LATAR BELAKANG
Dewasa ini banyak masyarakat yang tidak menyadari gejala-gejala
gangguan jiwa pada beberapa individu, karena dianggap sebagai suatu
kepribadian, gaya hidup dari orang tersebut dan bukan termasuk gangguan
kejiwaan. Akibatnya banyak penderita gangguan kejiwaan yang tidak
mendapatkan penanganan yang semestinya, yang kemudian berdampak
terhadap kehidupan sosial penderitanya. Meskipun demikian beberapa
penderita gangguan kejiwaan ini dapat menjalani kehidupan sosialnya
selayaknya orang normal, karena mereka dapat

mengatasi gejala yang

dimilikinya dengan baik. Salah satu gangguan jiwa tersebut adalah gangguan
dismorfik tubuh yang akan dibahas pada referat ini.
Banyak faktor yang menjadi penghalang bagi seseorang penderita
gangguan dismorfik tubuh dalam mendapatkan terapi yang sesuai untuknya.
Umumnya mereka tidak menyadari bahwa gejala yang mereka miliki adalah
suatu bentuk gangguan jiwa, oleh karena masih kurangnya pengetahuan
masyarakat umum mengenai gangguan ini.
Sebagai contoh beberapa diantara penderita gangguan dismorfik tubuh
menganggap hal yang mereka lakukan dapat meningkatkan kepercayaan diri
mereka dan akhirnya dianggap sebagai gaya hidupnya.
Dengan alasan inilah, kelompok kami mengangkat topik Gangguan
Dismorfik Tubuh pada Remajasebagai salah satu usaha mensosialisasikan
mengenai gangguan jiwa yang sering kali dianggap normal dalam kehidupan
sosial.

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 6
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

II.

TUJUAN dan MANFAAT


Tujuan : Untuk memenuhi tugas pembuatan referat.
Manfaat :
1. Untuk membantu memahami gangguan dismorfik tubuh dan sebagai

bahan

pembelajaran bagi penulis.

2. Untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang gangguan


dismorfik tubuh

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 7
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Masa Remaja dan Dewasa Muda
A.

Anak remaja (usia 12 21 tahun)


Khusus bagi anak remaja, keadaan sakit merupakan ancaman yang sangat
berarti, karena hal itu menjadi khayalan yang dependen (tidak bebas/ terikat) justru
pada saat independensi (bebas) merupakan hal yang sangat vital baginya. Anak remaja
bisa menjadi seorang pasien yang pemarah, menentang atau memberontak, dan sangat
tidak

kooperatif,

pemisahan

dari

teman-temannya

dan

kegiatannya

dapat

menempatkan remaja dalam stress yang berat. Dokter yang sensitif dan inovatif dapat
membantu menyalurkan ekspresi emosionalnya itu secara lebih konstruktif yang dapat
membantu usaha pengobatan.
B. Dewasa muda (usia 21 40 tahun )
Bila sakit, seorang dewasa muda akan merasakannya sebagai terhenti atau
terhambatnya produktivitas. Banyak juga yang mengkhawatirkan akan terjadinya
perubahan dalam kualitas hubungan intim. Dokter yang mengenali gejala depresi pada
pasiennya akan membantu menanggulanginya selama dalam proses perjalanan sakit
ke arah kesembuhan. (2)
Gangguan Dismorfik Tubuh
A. Pendahuluan
Gangguan dismorfik tubuh mulai dikenal dan diberi nama dismorfofobia
sejak lebih dari 100 tahun yang lalu oleh Emil Kraepelin, yang menganggap
gangguan ini sebagai neurosis kompulsif. Pierre Janet menyebutnya obsession de
la honte du corpus (obsesi rasa malu akan tubuh). Freud menulis keadaan pada
diskripsi mengenai wolf-man yang peduli akan hidungnya secara berlebihan. (1)

B. Definisi
Gangguan dismorfik tubuh adalah gangguan yang memiliki perasaan subjektif
yang pervasif mengenai keburukan beberapa aspek penampilan, walaupun
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa
Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 8
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

penampilan mereka hampir normal atau normal. Inti gangguan ini adalah
keyakinan atau ketakutan seseorang yang kuat bahwa dia tidak menarik atau
menjijikan. Rasa takut ini jarang bisa dikurangi dengan pujian atau penentraman,
meskipun pasien yang khas dengan gangguan ini cukup normal penampilannya. (1)
C. Epidemiologi
Gangguan dismorfik tubuh merupakan keadaan yang sedikit dipelajari,
dikarenakan sebagian pasien lebih cenderung pergi ke dermatologis, internis, atau
ahli bedah plastik dari pada ke psikiater.
Studi pada satu kelompok mahasiswa perguruan tinggi menemukan bahwa
lebih dari 50% mahasiswa sedikitnya memiliki beberapa preokupasi terhadap
aspek tertentu penampilan mereka dan pada 25% mahasiswa memiliki
kekhawatiran tersebut, sedikitnya memiliki beberapa efek yang signifikan
terhadap perasaan dan fungsi mereka.
Awitan usia yang paling lazim ditemukan adalah antara usia 15 -30 tahun
(masa remaja dan dewasa muda). Perempuan lebih sering terkena dari pada lakilaki. Pasien yang mengalami gangguan ini cenderung tidak menikah. Biasanya
gangguan ini dapat timbul bersamaan dengan gangguan jiwa lain.
Suatu studi menemukan bahwa lebih dari 90% pasien dengan gangguan ini
pernah mengalami episode depresif berat didalam hidup mereka, kira-kira 70%
pernah mengalami gangguan ansietas, dan kira-kira 30 % pernah mengalami
gangguan psikotik. Studi lain menemukan bahwa rata-rata pasien memiliki
kekhawatiran mengenai 4 daerah tubuh selama perjalanan gangguan ini.
Sebanyak sepertiga pasien dapat mendekam di rumah karena khawatir diejek
untuk deformitas yang diduga dan seperlima pasien mencoba bunuh diri. Seperti
yang telah didiskusikan sebelumnya, diagnosis komorbid, gangguan depresif dan
gangguan ansietas lazim ada dan pasien juga memiliki ciri obsesif kompulsif,
skizoid, dan gangguan kepribadian narsisistik. (1)
D. Etiologi
Penyebab gangguan ini tidak diketahui. Komorbiditas yang tinggi dengan
gangguan yang depresif, riwayat keluarga dengan gangguan mood dan gangguan
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa
Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 9
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

obsesif kompulsif yang lebih tinggi dari yang diperkirakan, serta responsifitas
keadaan tersebut terhadap obat yang spesifik serotonin menunjukan bahwa
sedikitnya pada beberapa pasien patofisiologi gangguan ini melibatkan serotonin
dan dapat terkait dengan gangguan jiwa lain.
Konsep stereotipik mengenai kecantikan ditekankan pada keluarga tertentu
dan didalam budaya dapat mempengaruhi pasien dengan gangguan dismorfik
tubuh secara signifikan. Pada model psikodinamik, gangguan dismorfik tubuh
dilihat sebagai tindakan mementingkan konflik seksual atau emosional ke bagian
tubuh yang tidak berkaitan. Hubungan tersebut terjadi melalui mekanisme
pertahanan represi, disosiasi, distorsi, simbolisasi, proyeksi. (1)
E. Faktor resiko
i. Lingkungan.
Gangguan dismorfik tubuh berkaitan dengan tingginya tingkat pengabaian
pada anak dan pelecehan anak.
ii. Genetik dan psikologikal.
Prevalensi gangguan dismorfik tubuh meningkat pada individu dengan
keluarga yang mempunyai gangguan obsesif kompulsif. (7)
F. Patofisiologi
Meskipun pemahaman tentang patofisiologi gangguan dismorfik tubuh masih
terbatas, hal ini tetap merupakan subjek dalam berbagai penelitian. Beberapa studi
telah meneliti peran kausal dari gangguan transmisi serotonergik. Hal ini
didasarkan dari bukti yang menggambarkan efektivitas SSRI dalam pengobatan
gangguan dismorfik tubuh. Secara keseluruhan, peran transmisi serotonergik
sebagai penyebab gangguan dismorfik tubuh tetap menjadi subyek penelitian yang
tetap diselidiki. (4)
G. Gambaran klinis
Kekhawatiran yang paling lazim mencakup ketidaksempurnaan wajah,
terutama meliputi anggota tubuh tertentu (contohnya hidung). Kadang-kadang,
kekhawatiran ini bersifat samar dan sulit dimengerti seperti kekhawatiran yang
berlebihan terhadap dagu yang bergumpal.
Gejala terkait yang wajib ditemukan mencakup gagasan atau waham
rujukan (biasanya mengenai orang yang memperhatikan ketidaksempurnaan
tubuh), baik berkaca yang berlebihan maupun menghindari permukaan yang dapat
memantul, serta upaya menyembunyikan deformitas yang dianggap ( dengan tata
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa
Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 10
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

rias atau pakaian) efeknya pada kehidupan seseorang dapat signifikan, hampir
semua pasien dengan gangguan ini menghindari pajanan sosial serta pekerjaan.
Bagian tubuh yang sering menjadi perhatian adalah rambut, buah dada,
dan genitalia. Varian lain terjadi pada pria adalah hasrat untuk membesarkan otototot tubuhnya yang usaha tersebut sampai mengganggu kehidupan sehari-hari,
pekerjaan atau kesehatannya. (1)
GEJALA

PRIA

WANITA

Fokus

bagian Binaraga

Payudara

tubuh

Kelamin

Bokong

Rambut

Rambut berlebihan
Hidung
Kulit
Perut
Gigi
Paha

Perilaku

Penggunaan zat-zat

Berat badan
Teknik kamuflase (baju

Angkat beban

longgar, wig, makeup,


topi)
Gangguan makan

Mencubit kulit
Gejala Spesifik pada gangguan dismorfik tubuh berdasarkan jenis kelamin(6)

H. Diagnosis
i. PPDGJ III
Untuk diagnosis pasti, kedua hal tersebut dibawah ini harus ada :
a.

Keyakinan yang menetap perihal adanya sekurang-kurangnya satu


penyakit fisik yang serius yang melandasi keluhan atau keluhankeluhannya, meskipun pemeriksaan yang berulang tidak menunjang
adanya alasan fisik yang memadai, ataupun adanya preokupasi yang

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 11
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

menetap

terhadap adanya

deformitas

atau

perubahan bentuk/

penampakan.
b. Penolakan yang menetap dan tidak mau menerima nasehat atau
dukungan penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ditemukan
penyakit atau abnormalitas fisik yang menandai keluhan-keluhannya.
Termasuk :

Gangguan dismorfik tubuh


Dismorfofobia
Neurosis hipokondrik
Hipokondriasis
Nososfobia(8)

ii. DSM IV-TR


A. Preokupasi mengenai defek khayalan terhadap penampilan jika
terdapat sedikit anomali fisik, kepedulian orang tersebut sangat
berlebihan.
B. Preokupasi ini menimbulkan penderitaan yang secara klinis
bermakna atau hendaya dalam fungsi sosial, pekerjaan dan area
fungsi penting lain.
C. Preokupasi ini tidak lebih mungkin disebabkan oleh gangguan jiwa
lain (contoh : ketidakpuasan akan bentuk tubuh dan ukuran pada
anoreksia nervosa) (1)
iii. DSM V
A. Preokupasi pada satu atau lebih bagian tubuh yang mengalami
kekurangan atau kecacatan yang tidak terlihat atau terlihat normal
bagi orang lain
B. Dalam suatu waktu pada saat terjadinya penyakit, seseorang
berperilaku berulang (berkaca, berdandan berlebihan, mengorek
kulit) atau perilaku mental (membandingkan penampilan dengan
orang lain) sebagai tanggapan terhadap kekhawatiran terhadap
penampilan.

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 12
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

C. Preokupasi ini menyebabkan gangguan yang secara klinis


bermakna dan hendaya dalam fungsi sosial, perkerjaan dan area
fungsi penting lain.
D. Preokupasi ini tidak diakibatkan oleh kekhawatiran akan lemak
tubuh atau berat badan pada individu dengan gangguan makan
Spesifik jika :

Dengan dismorfia otot : seseorang dengan

preokupasi bahwa badannya sangat kecil atau kekurangan otot.


Spesifik ini digunakan bahkan jika seseorang preokupasi dengan
area badan yang lain
Spesifik jika : Tingkatan tilikan berdasarkan kepercayaan gangguan
dismorfik tubuh (saya terlihat jelek atau saya cacat)
Dengan tilikan yang baik : Sesorang menyadari bahwa kepercayaan
gangguan dismorfik tubuh adalah salah atau kemungkinan salah
Dengan tilikan buruk : seseorang berpikir bahwa kepercayaan
tentang gangguan dismorifk tubuh adalah kemungkinan benar
Dengan tilikan absen / waham kepercayaan : seseorang sangat
percaya bahwa gangguna dismorfik tubuh adalah benar(7)
I. Diagnosis banding
i. DSM V
Kekhawatiran tentang Penampilan Normal dan Kelainan Fisik yang Sangat
Jelas Terlihat :

Gangguan Makan
Seseorang
dengan
gangguan
makan,
yang
mengkhawatirkan akan menjadi gemuk lebih merupakan gejala
dari gangguan makan daripada kelainan dismorfik tubuh
Namun, kekhawatiran tentang berat badan mungkin terjadi
pada gangguan dismorfik tubuh. Kelainan makan dan kelaianan
dismorfik tubuh dapat menjadi komorbid, yang dimana kedua
kasus tersebut harus dapat didiagnosa

Kelainan obsesi kompulsif lain dan kelaian yang berhubungan


Perilaku preokupasi dan berulang dari kelaian dismorfik
tubuh dibedakan dengan obsesif dan kompulsif pada OCD yang
dahulu hanya fokus pada penampilan. Kelainan-kelainan ini
memiliki perbedaan lain seperti tilikan yang buruk pada gangguan

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 13
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

dismorfik tubuh. Ketika mencubit-cubit kulit dimaksudkan untuk


meningkatkan penampilan dari kulit yang dianggap mengalami
kelainan, gangguan dismorfik tubuh terdiagnosa dibandingkan
dengan kelainan ekskoriasi (skin-picking).
Ketika menghilangkan rambut (mencabut, menarik, atau
kegiatan
menghilangkan
lainnya)
dimaksudkan
untuk
meningkatkan kelainan penampilan yang terlihat pada wajah atau
rambut pada tubuh, gangguan dismorfik tubuh lebih cocok menjadi
diagnosa dibandingkan dengan trichotillomania (kelainan
mencabut-cabut rambut).

Kelainan kecemasan penyakit


Penderita kelianan dismorfik tubuh tidak dipreokupasi oleh
pikiran memiliki atau menderita penyakit serius dan tidak
mempunyai peningkatan khusus pada tingkatan dari somatisasi.

Kelainan depresi mayor


Preokupasi yang menonjol dengan penampilan dan perilaku
berulang yang berlebihan pada kelaianan dismorfik tubuh
membedakannya dengan kelainan depresi mayor. Namun, kelainan
depresi mayor dan gejala depresi umum terjadi pada penderita
gangguan dismorfik tubuh yang sering muncul sebagai komplikasi
dari tekanan dan gangguan yang dihasilkan oleh gangguan
dismorfik tubuh. Gangguan dismorfik tubuh harus bisa didiagnosa
pada individu yang depresi jika criteria diagnostic pada kelaianan
dismorfik tubuh bertemu.

Gangguan anxietas
Kegelisahan social dan penghindaran sering terjadi pada
gangguan dismorfik tubuh. Namun, tidak seperti kelainan anxietas
social (fobia sosial), agoraphobia dan kelainan kepribadian
penghindar, gangguan dismorfik tubuh termasuk penampilan yang
menonjol yang berhubungan dengan preokupasi, yang mungkin
menjadi delusi dan perilaku berulang, dan anxietas social dan
penghindaran yang disebabkan karena kekhawatiran tentang
kelainan penampilan yang terlihat dan kepercayaan atau ketakutan
akan orang lain akan mengira bahwa penderita tersebut jelek,
mengejek mereka, atau menolak mereka karena penampilan fisik
mereka. Tidak seperti kelainan anxietas yang umum, anxietas dan
kecemasan pada gangguan dismorfik tubuh fokus pada penampilan
yang dirasakan berkekurangan.

Gangguan psikotik
Banyak penderita gangguan dismorfik tubuh memiliki
delusi keyakinan tentang penampilan (sebagai contoh, keyakinan
lengkap bahwa pandangan mereka tentang kelainan yang dirasakan
itu akurat), yang didiagnosa sebagai gangguan dismorfik tubuh,
dengan tilikan yg kosong/ keyakinan delusi, bukan merupakan

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 14
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

gangguan delusi. Pikiran yang berhubungan dengan penampilan


atau delusi dari acuan rujukan sering terjadi pada gangguan
dismorfik tubuh. Namun, tidak seperti skizofrenia atau gangguan
skizoaktif, gangguan dismorfik tubuh mencakup penampilan
preokupasi yang menonjol dan perilaku berulang yang
berhubungan dan perilaku yang tidak beraturan dan gejala psikotik
lainnya tidak hadir. (kecuali pada keyakinan penampilan, yang
mungkin merupakan delusi).

o
o
o
o

Kaplan & Sadock


Anoreksia nervosa
Gangguan identitas gender
Beberapa jenis kerusakan otak tertentu (sindrom acuh/necleg)
Depresi (1)

J. Perjalanan gangguan dan prognosis


Awitan gangguan dismorfik tubuh biasanya bertahap. Orang yang
mengalami gangguan ini dapat mengalami kekhawatiran yang bertambah
mengenai bagian tubuh tertentu sampai orang tersebut memperhatikan bahwa
fungsinya terganggu.
Kemudian orang tersebut dapat mencari pertolongan medis atau bedah
untuk menyelesaikan masalah yang diduga. Tingkat kekhawatiran mengenai
masalah ini dapat memburuk dan membaik seiring waktu, walaupun gangguan
ini biasanya menjadi kronis jika tidak ditangani. (1)
K. Penatalaksanaan
Terapi pada pasien ini dengan prosedur bedah , dermatologis, dental,
prosedur medis lain untuk menyelesaikan defek yang diduga hampir selalu
tidak berhasil. Terapi yang dapat mengurangi gejala gangguan dismorfik tubuh
sedikitnya 50 % adalah obat dari golongan SSRI , contohnya fluoksetin dan
obat dari golongan TCA, contohnya clomipramin. Tidak diketahui sampai
kapan pengobatan dilakukan, oleh karena itu pengobatan harus tetap di
lanjutkan. (1)

Non Farmakologi:
Psikoterapi
o Terapi atau pengobatan yang menggunakan cara-cara psikologik,
dilakukan oleh seseorang yang terlatih khusus, yang menjalin
hubungan kerja sama secara profesional dengan seorang pasien

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 15
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

dengan tujuan untuk mengubah , menghilangkan atau menghambat


gejala-gejala dan penderitaan akibat penyakit.
o Proses
Kerangka proses psikoterapi terdapat 3 fase :
1. Fase awal
Tujuannya untuk membentuk hubungan kerjasama

dengan pasien
Tugas terapeutik :
a. Memotivasi pasien untuk menerima terapi
b. Menjelaskan dan menjernihkan salah
pengertian mengenai terapi bila ada
c. Meyakinkan
pasien
bahwa
terapis
mengerti

penderitaannya

dan

mampu

membantunya
d. Menetapkan secara tentatif (masih dapat

berubah) mengenai tujuan terapi


Resistensi pasien dapat tampil dalam bentuk :
a. Tidak ada motivasi terapi dan tidak dapat
menerima fakta bahwa ia dapat dibantu
b. Penolakan terhadap arti dan situasi terapi
c. Tidak dapat dipengaruhi, terdapat ostilitas
dan agresi, dependesi yang mendalam
d. Berbagai resistensi lain yang menghambat

terjalinnya hubungan sehat dan hangat


Masalah kontratransferensi dalam diri terapis :
a. Tidak mampu berempati, berkomunikasi
dan saling mengerti secara timbal balik
b. Timbul iritabilitas terhadap penolakan
pasien untuk terapi dan terhadap terapis
c. Tidak mampu memberikan kehangatan
kepada pasien
d. Tidak dapat menunjukkan penerimaan dan

pengertian terhadap pasien dan masalahnya


2. Fase pertengahan
Tujuan menentukan perkiraan sebab dan dinamik
gangguan yang dialami pasien, menerjemahkan
tilikan dan pengertian (bila telah ada), menentukan

langkah korektif
Tugas terapeutik :

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 16
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

a. Mengeksplorasi berbagai frustasi terhadap


lingkungan dan hubungan interpersonal
yang menimbulkan anxietas.
b. Membantu pasien dalam

mengatasi

anxietas yang berhubungan dalam problem

kehidupan
Resistensi pasien dapat tampil dalam bentuk :
a. Rasa bersalah terhadap pernyataan dan
pengakuan adanya gangguan dan kesulitan
dalam

hubungan

interpersonal

dengan

lingkungan
b. Tidak mau atau tidak mampu (bila ego
lemah),

menghadapi

dan

mengatasi

anxietas yang berhubungan dengan konflik,

keinginan dan ketakutan


Masalah kontratransferensi dalam diri terapis :
a. Terapis mengelak dari problem pasien yang
menimbulkan anxietas dalam diri terapis
b. Ingin menyelidiki terlalu dalam dan cepat
pada fase permulaan
c. Merasa jengkel terhadap resistensi pasien

3. Fase akhir
Tujuan : Terminasi terapi.
Tugas terapeutik :
a.
Menganalisis elemen elemen
dependensi hubungan terapis pasien
b. Mendefinisikan kembali situasi terapi
untuk mendorong pasien membuat
keputusan, menentukan nilai dan cita
cita sendiri
c.
Membantu

pasien

mencapai

kemandirian dan ketegasan diri yang

setinggi - tingginya
Resistensi pasien dapat tampil dalam bentuk :
a. Penolakan untuk melepaskan dependensi
b. Ketakutan untuk mandiri dan asertif ( sikap
berani

untuk

mengungkapkan

dan

mempertahankan hak dan kepentingannya


Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa
Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 17
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

tanpa merugikan atau menyakitkan orang

lain)
Masalah kontratransferensi dalam diri terapis :
a. Kecenderungan untuk mendominasi dan
terlalu melindungi pasien
b. Tidak mampu mengambil sikap atau peran

yang non direktif sebagai terapis (8)


Farmakologi
1. Trisiklik
Clomipramine
o Sedian tab 25 mg
o Dosis anjuran 75-100mg/jam
2. SSRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) (3)
Nama obat

Sediaan

Dosis

Fluoxetine

- Caps. 20 mg

20 30 mg / hari

- Caplet 20 mg
- Tab 20 mg
Sertraline

Tab. 50 mg

50 150 mg / hari

Flufoksamin

Tab. 50 mg

100 250 mg /
hari

Paroksetine

Tab. 20 mg

40 60 mg / hari

Citalopram

Tab . 20 mg

40 60 mg / hari

BAB III
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa
Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 18
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

PEMBAHASAN
STUDI KASUS

Demetrius adalah seorang anak laki-laki Yunani - Amerika berumur 16 tahun yang
dirawat di unit rawat inap menyusul tabrakan mobil . Demetrius memiliki riwayat depresi
berat , absen sekolah , dan nilai menurun . Depresinya dimulai pada masa pubertas . Dia
mengatakan bahwa kecelakaan mobilnya tidak disengaja, tetapi

ia melihat hidung dan

jerawatnya di kaca spion ketika ia kehilangan kendali mobilnya di jalan tol . Tidak ada orang
lain bersamanya , ia tidak memiliki teman dan lebih memilih untuk tinggal di rumah dengan
orang tuanya karena ia merasa bahwa hidungnya mengerikan . Dia tidak pernah berkencan ,
menghindari sekolah , tidak berpartisipasi dalam olahraga , dan percaya bahwa orang lain
menertawakan ukuran hidungnya . Demetrius mempunyai tinggi enam kaki , dan kurus. Dia
memiliki rambut cokelat keriting , hidung besar , jerawat yang parah , dan sikap yang
menyenangkan .
Sementara di unit psikiatri remaja , Demetrius menghabiskan banyak waktu di kamar
mandi mencubit wajahnya, melihat hidungnya di permukaan reflektif , dan mencoba untuk
tidak mengikuti kegiatan kelompok . Dia sering menaruh tangannya di atas hidung dan
bersikeras memakai topi besar dan kacamata pada saat jalan-jalan . Meskipun begitu , dia
sangat disukai oleh orang lain disana . Dia berkonsultasi pada dermatologis dan jerawatnya
membaik . Belakangan ini , ia melakukan operasi hidung dan pandangannya lebih positif .
Dua tahun kemudian , ia kembali dirawat setelah berusaha bunuh diri setelah putus dengan
pacar pertamanya . Pada saat ini, ia menjadi yakin bahwa dia akan lebih menarik bagi wanita
jika dia melakukan operasi gigi dan mulai memakai obat-obat untuk memperbesari otot-otot
di lengannya . Setelah lima tahun di follow-up , Demetrius telah berhenti sekolah dan
tinggal di rumah dengan orang tuanya dan tidak bekerja. (6)

BAB IV
KESIMPULAN
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa
Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 19
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja

Gangguan dismorfik tubuh adalah suatu preokupasi dengan suatu cacat tubuh
yang dikhayalkan atau suatu penonjolan distorsi dari cacat yang minimal atau kecil.
Onset ganggguan ini terjadi paling sering pada usia antara 15 dan 30 tahun, dan wanita
lebih banyak daripada pria. Perjalanan penyakit dari gangguan dismorfik tubuh belum
jelas sepenuhnya. Namun, diketahui ada beberapa faktor yang berperan seperti faktor
biologis, faktor psikososial (contoh: isolasi sosial, kehilangan), strategi koping, stress
kronik, gangguan medis kronik, riwayat keluarga, dan stressor sosial.
Gejala gangguan dismorfik tubuh biasanya individu akan diliputi dengan
bayangan mengenai kekurangan dalam penampilan fisik mereka, biasanya di bagian
wajah, misalnya kerutan di wajah, rambut pada wajah yang berlebihan, atau bentuk dan
ukuran hidung. Diagnosa gangguan dismorfik tubuh mengharuskan suatu preokupasi
dengan kecacatan dalam penampilan yang tidak nyata atau penekanan yang berlebihan
terhadap kecacatan ringan. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna bagi
pasien atau disertai dengan gangguan dalam kehidupan pribadi, sosial, dan pekerjaan
pasien. Tatalaksana gangguan dismorfik tubuh ialah obat-obatan yang bekerja pada
serotonin misalnya fluoxetine , pemberian obat antidepresan trisiklik misalnya
clomipramin. Tingkat keprihatinan dalam gangguan ini mungkin hilang dan timbul
dengan berjalannya waktu, walaupun gangguan dismorfik tubuh biasanya merupakan
suatu gangguan kronis jika dibiarkan tanpa diobati.

DAFTAR PUSTAKA

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015

Universitas Tarumanagara 20
Gangguan Dismorfik Tubuh Pada Remaja
1.

Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri
Klinis. Edisi Kedua. Jakarta: EGC; 2010

2.

Elvira SD. Buku Ajar Psikiatri UI. Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;2013.

3.

Maslim, Rusdi. Panduan Praktis penggunaan Klinis Obat Psikotropik (psycotropic


medication). Edisi ketiga. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma
Jaya;2007

4.

Ahmed

I.

2014.

Body

Dysmorphic

Disorder.

Diambil

dari:

http://emedicine.medscape.com/article/291182-overview#showall [Diakses tanggal 9 mei


2014].
5.

Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. 2010. Kaplan dan Sadock: Sinopsis Psikiatri.
Tanggerang: Binarupa aksara Publisher

6.

Am Fam Physician. The Mirror Lies: Body Dysmorphic Disorder (updated


Physician. 2008 Jul 15) Available from : http://www.aafp.org/afp/2008/0715/p217.html

7.

American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental


Disorders. 5th ed. USA: American Psychiatric Publishing; 2013.

8.

Departemen Kesehatan.Direktorat Jendral Pelayanan Medik.Pedoman Penggolongan dan


Diagnosis Gangguan Jiwa, di Indonesia III.Jakarta: Departemen Kesehatan;1993.

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha
Periode 5 Oktober 2015 7 November 2015