Anda di halaman 1dari 1

Arah pencapaian kepesertaan semesta (Universal Coverage) Jaminan Kesehatan pada akhir 2014 telah

ditetapkan menurut Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN). Pada RPJMN yang
ditetapkan tahun 2010 itu pemerintah telah membuat kebijakan pembiayaan kesehatan terkait target
Universal Coverage 2014 ketika 100 persen penduduk terjamin. Salah satu elemen target Universal
Coverage, yaitu Jampersal (jaminan kesehatan persalinan). Meski penerapan UU No 40 tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) masih belum maksimal diimplementasikan, target tersebut
perlu didukung sebagai political will pemerintah dalam menjamin pemenuhan kesehatan masyarakat.
Realitas yang ada, baru sekitar 50 persen penduduk yang terjamin asuransi kesehatan atau skema
jaminan kesehatan lainnya dan sebagian besar (sekitar 75 persen) dijamin melalui anggaran
pemerintah bagi warga miskin.
Anggaran kesehatan Indonesia relatif sangat kecil yakni hanya 1.7 persen dari total belanja
pemerintah, baik melalui APBN maupun APBD (Propinsi dan Kabupaten Kota). Padahal UU No 36
tahun 2009 tentang kesehatan mengatur besaran anggaran kesehatan pusat adalah 5 persen dari APBN
di luar gaji, sedangkan APBD Propinsi dan Kab/Kota 10 persen di luar gaji, dengan peruntukannya
2/3 untuk pelayanan publik. Meski terlihat kecil, justru ditemukan masih ada sisa anggaran yang tidak
terserap di kementrian kesehatan. Kenyataan tersebut mengundang pertanyaan: apakah anggaran
kesehatan sudah cukup atau masih kurang?
Masalah efektif dan efisien dari pembiayaan kesehatan adalah hal yang paling penting. Suatu
kebijakan pembiayaan kesehatan yang efektif dan efesien, apabila jumlahnya mencukupi untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dengan penyebaran dana sesuai kebutuhan
serta pemanfaatan yang diatur secara seksama sehingga tidak terjadi peningkatan biaya yang
berlebihan. Dengan demikian, aspek ekonomi dan sosial dari kebijakan pembiayaan kesehatan dapat
berdaya guna dan berhasil guna bagi seluruh masyarakat yang membutuhkannya.