Anda di halaman 1dari 28

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Bronkiolitis
3.1.1 Definisi
Bronkiolitis adalah penyakit infeksi respiratorius akut bawah yang ditandai
dengan adanya inflamasi pada bronkiolus.1 Bronkhiolitis adalah penyakit IRA
bawah yang sering di derita bayi dan anak kecil yang berumur kurang dari 2
tahun. Angka kejadian tertinggi rata-rata ditemukan pada usia 6 bulan secara klinis
ditandai dengan pernafasan cepat, retraksi dinding dada dan whezing.
Bronkhiolitis bisa disertai dengan superinfeksi bakteri.

3.1.2 Etiologi
Bronkiolitis sebagian besar disebabkan oleh Respiratory syncytial virus
(RSV), penyebab lainnya adalah parainfluenza virus, Eaton agent (mycoplasma
pneumoniae), adenovirus dan beberapa virus lainnya, tetapi belum ada bukti kuat
bahwa bronkhiolitis disebabkan oleh bakteri.
3.1.3 Epidemiologi
Bronkiolitis merupakan infeksi saluran respiratory tersering pada bayi.
Paling sering terjadi pada usia 2 24 bulan, puncaknya pada usia 2 8 bulan.
Sembilan puluh lima persen kasus terjadi pada anak berusia dibawah 2 tahun dan
75 % diantaranya terjadi pada anak dibawah usia 1 tahun. Orenstein menyatakan
bahwa bronkiolitis paling sering terjadi pada bayi laki-laki berusia 3 6 bulan
yang tidak mendapatkan ASI, dan hidup dilingkungan padat penduduk.
Rerata insidens perawatan setahun pada anak berusia di bawah 1 tahun
adalah 21,7 per 1000 dan semakin menurun seiring dengan pertambahan usia,
yaitu 6,8 per 1000 pada usia 1 2 tahun. Lama perawatan adalah 2 4 hari,
kecuali pada bayi prematur dan kelainan bawaan seperti penyakit jantung bawaan
(PJB).

18

Angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi di negara-negara berkembang


daripada di negara-negara maju. Hal ini mungkin disebabkan oleh rendahnya
status gizi dan ekonomi, kurangnya tunjangan medis, serta kepadatan penduduk di
negara berkembang. Angka mortalitas di negara berkembang pada anak-anak yang
dirawat adalah 1 3 %.
3.1.4 Patogenesis dan Patofisiologi
RSV adalah single stranded RNA virus yang berukuran sedang (80350nm), termasuk paramyxovirus. Terdapat dua glikoprotein permukaan yang
merupakan bagian penting dari RSV untuk menginfeksi sel, yaitu protein G
(attachment protein )yang mengikat sel dan protein F (fusion protein) yang
menghubungkan partikel virus dengan sel target dan sel tetangganya. Kedua
protein ini merangsang antibodi neutralisasi protektif pada host. Terdapat dua
macam strain antigen RSV yaitu A dan B. RSV strain A menyebabkan gejala yang
pernapasan yang lebih berat dan menimbulkan sekuele. Masa inkubasi RSV 2 - 5
hari. Virus bereplikasi di dalam nasofaring kemudian menyebar dari saluran nafas
atas ke saluran nafas bawah melalui penyebaran langsung pada epitel saluran
nafas dan melalui aspirasi sekresi nasofaring. RSV mempengaruhi sistem saluran
napas melalui kolonisasi dan replikasi virus pada mukosa bronkus dan bronkiolus
yang memberi gambaran patologi awal berupa nekrosis sel epitel silia. Nekrosis
sel epitel saluran napas menyebabkan terjadi edema submukosa dan pelepasan
debris dan fibrin kedalam lumen bronkiolus.
Infeksi virus pada epitel bersilia bronkus menyebabkan respon inflamasi
akut, ditandai dengan obstruksi bronkiolus akibat edema, sekresi mucus, timbunan
debris selular/sel-sel mati yang terkelupas, kemudian diikuti dengan infiltrasi
limfosit peribronkial dan edema submukosa. Karena tahanan aliran udara
berbanding terbalik dengan diameter penampang saluran pernafasan, maka sedikit
saja penebalan mukosa akan memberikan hambatan aliran udara yang besar,
terutama pada bayi yang memiliki penampang saluran pernafasan yang kecil.

19

Resistensi pada bronkiolus meningkat selama fase inspirasi dan ekspirasi, tetapi
karena radius saluran respiratori lebih kecil selama ekspirasi, maka akan
menyebabkan air traping dan hiperinflasi. Ateletaksis dapat terjadi pada saat
terjadi obstruksi total dan udara yang terjebak diabsorbsi total.
Virus yang merusak epitel bersilia juga mengganggu gerakan mukosilier,
mukus tertimbun di dalam bronkiolus . Kerusakan sel epitel saluran napas juga
mengakibatkan saraf aferen lebih terpapar terhadap alergen/iritan, sehingga
dilepaskan beberapa neuropeptida (neurokinin, substance P) yang menyebabkan
kontraksi otot polos saluran napas. Pada akhirnya kerusakan epitel saluran napas
juga meningkatkan ekpresi Intercellular Adhesion Molecule-1 (ICAM-1) dan
produksi sitokin yang akan menarik eosinofil dan sel-sel inflamasi. Jadi,
bronkiolus menjadi sempit karena kombinasi dari proses inflamasi, edema saluran
nafas, akumulasi sel-sel debris dan mukus serta spasme otot polos saluran
napas.Adapun respon paru ialah dengan meningkatkan kapasitas fungsi residu,
menurunkan compliance, meningkatkan tahanan saluran napas, dead space serta
meningkatkan shunt.
Proses patologis ini akan mengganggu pertukaran gas normal di paru.
Penurunan kerja ventilasi paru akan menyebaban ketidakseimbangan ventilasi
perfusi, yang berikutnya akan menyebabkan hipoksemia dan kemudian terjadi
hipoksia jaringan. Resistensi karbondioksida (hiperkapnea) tidak selalu terjadi,
kecuali pada beberapa pasien. Semakin tinggi laju pernafasan, maka semakin
rendah tekanan oksigen arteri. Kerja pernafasan akan meningkat selama end
expiratory lung volume meningkat dan compliance paru menurun. Hiperkapnea
biasanya baru terjadi bila respirasi mencapai 60x/menit.
Penyembuhan bronkiolitis akut diawali dengan regenerasi epitel bronkus
dalam 3-4 hari, sedangkan regenerasi dari silia berlangsung lebih lama dapat
sampai 15 hari . Jaringan mati akan dibersihkan oleh makrofag. Ada 2 macam
fenomena yang mendasari hubungan antara infeksi virus saluran napas dan asma:
(1) Infeksi akut virus saluran napas pada bayi atau anak keci seringkali disertai
wheezing. (2) Penderita wheezing berulang yang disertai dengan penurunan tes

20

faal paru, ternyata seringkali mengalami infeksi virus saluran napas pada saat
bayi/usia muda. Infeksi RSV dapat menstimulasi respon imun humoral dan
selular. Respon antibodi sistemik terjadi bersamaan dengan respon imun lokal.
Bayi usia muda mempunyai respon imun yang lebih buruk.
3.1.5 Klasifikasi dan Manifestasi Klinis
Mula-mula bayi menderita gejala ISPA atas ringan berupa pilek yang encer
dan bersin. Gejala ini berlangsung beberapa hari, kadang-kadang disertai demam
dan nafsu makan berkurang. Kemudian timbul distres nafas yang ditandai oleh
batuk paroksismal, wheezing, sesak napas. Bayi-bayi akan menjadi rewel, muntah
serta sulit makan dan minum. Bronkiolitis biasanya terjadi setelah kontak dengan
orang dewasa atau anak besar yang menderita infeksi saluran nafas atas yang
ringan.Bayi mengalami demam ringan atau tidak demam sama sekali dan bahkan
ada yang mengalami hipotermi.
Terjadi distres nafas dengan frekuensi nafas lebih dari 60 kali per menit,
kadang-kadang disertai sianosis, nadi juga biasanya meningkat. Terdapat nafas
cuping hidung, penggunaan otot bantu pernafasan dan retraksi. Retraksi biasanya
tidak dalam karena adanya hiperinflasi paru (terperangkapnya udara dalam paru).
Terdapat ekspirasi yang memanjang, wheezing yang dapat terdengar dengan
ataupun tanpa stetoskop. Hepar dan lien teraba akibat pendorongan diafragma
karena tertekan oleh paru yang hiperinflasi. Ronkhi nyaring halus kadang-kadang
terdengar pada akhir inspirasi atau pada permulaan ekspirasi. Pada keadaan yang
berat sekali suara pernafasan hampir tidak terdengar karena kemungkinan
obstruksi hamper total. Ekspirasi memanjang dan mengi kadang-kadang terdengar
dengan jelas.
Beratnya penyakit ditentukan berdasarkan skala klinis. Digunakan
berbagai skala klinis, misalnya Respiratory Distress Assessment Instrument
(RDAI) atau modifikasinya yang mengukur laju pernafasan/respiratory rate (RR),
usaha nafas, beratnya wheezing dan oksigenasi.
Skala klinis yang digunakan Abul Ainine dan Luyt adalah:

21

1. Respiratory Rate (RR): dihitung manual, baik dengan palpasi dan melihat
gerakan dada, dilakukan selama 1 menit penuh, dua kali perhitungan diambil
rata-ratanya.
2. Heart Rate (HR) diambil dari pulse oxymetri yang dibaca lima kali selama
pengamatan 1 menit, diambil rata-ratanya.
3. Saturasi O2: dari pulse oxymetri yang dibaca lima kali selama pengamatan 1
menit, diambil rata-ratanya.
4. Respiratory clinical status yang dinilai menggunakan RDAI menurut Lowell
dkk.
5. Status aktivitas bayi (empat tingkat: tidur, tenang, rewel dan menangis).

Sedangkan Shuh, yang diadaptasi oleh Dobson, menilai skor klinis sebagai
berikut:
1. Keadaan umum: diberi skor 0 (tidur) hingga 4 (sangat rewel)
2. Penggunaan otot bantu nafas: Skor 0 (tidak ada retraksi) hingga 3 (retraksi
berat)
3. Wheezing: skor 0 (tidak ada) hingga 3 (wheezing hebat inspiratorik dan
ekspiratorik).
Atas dasar frekuensi nafas dan keadaan umum bronkiolitis dibagi menjadi:
bronkiolitis ringan dan bronkiolitis berat (R 60 x/ menit). Berdasarkan gejala
klinis, bronkiolitis juga dibagi menjadi bronkiolitis ringan, sedang, berat dengan
tanda sebagai berikut:
Tabel 3.1 Klasifikasi bronkiolitis berdasarkan gejala klinis

Ringan
Kemampuan untuk
makan normal
Sedikit atau tidak ada
gangguan pernafasan
Tidak kebutuhan
akan oksigen
tambahan (saturasi
O2 > 95 %

Bronkiolitis
Sedang
Gangguan pernafasan
sedang dengan
beberapa kontraksi
dinding dada dan
nafas cuping hidung
Hipoksemia ringan
dan dapat dikoreksi
dengan oksigen

Berat
Tidak dapat untuk
makan
Gangguan pernafasan
berat, dengan retraksi
dinding dada yang
jelas, nafas cuping
hidung dan
dengkuran.

22

Mungkin
menampakkan
pernafasan yang
pendek ketika makan
Mungkin memiliki
episode apnoe yang
singkat

Hipoksemia yang
tidak terkoreksi
dengan oksigen
tambahan
Mungkin terdapat
peningkatan frekuensi
atau episode apnoe
yang panjang.
Mungkin
menampakkan
peningkatan
kelelahan.

3.1.6 Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisis,
pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya, berdasarkan
gambaran klinis, umur penderita dan adanya epidemi RSV di masyarakat.
3.1.6.1 Anamnesis
Gejala awal berupa gejala infeksi saluran nafas atas akibat virus, seperti
pilek ringan, batuk dan demam yang mengenai anak usia maksimal 24 bulan yang
lebih banyak terkena adalah usia dibawah 12 bulan. Satu hingga dua hari
kemudian timbul batuk yang disertai dengan sesak nafas. Selanjutnya dapat
ditemukan wheezing, merintih, nafas berbunyi, muntah setelah batuk, rewel dan
penurunan nafsu makan. Adanya riwayat kontak dengan penderita infeksi saluran
pernafasan atas.
Kriteria bronkiolitis terdiri dari: (1) wheezing pertama kali, (2) umur 24
bulan atau kurang, (3) pemeriksaan fisik sesuai dengan gambaran infeksi virus
misalnya batuk, pilek, demam dan menyingkirkan pneumonia atau riwayat atopi
yang dapat menyebabkan wheezing.
3.1.6.2 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisis pada anak yang mengarah ke diagnosis bronkiolitis
adalah adanya takipnea, takikardia, dan peningkatan suhu diatas 38,5 0C dan bisa
23

mencapai suhu 41 0C. Selain itu dapat juga ditemukan konjungtivitis ringan
faringitis, dan otitis media.
Obstruksi saluran respiratori bawah akibat respon inflamasi akut akan
menimbulkan gejala ekspirasi memanjang hingga wheezing. Usaha-usaha
pernafasan yang dilakukan anak untuk mengatasi obstruksi akan menimbulkan
nafas cuping hidung dan retraksi interkostal. Selain itu dapat juga ditemukan ronki
dari pemeriksaan auskultasi paru. Sianosis dapat terjadi dan bila gejala menghebat
dapat terjadi apnea, terutama pada bayi berusia <6 minggu.
Selain itu ditemukan pernafasan yang pendek dan saturasi O 2 yang rendah dan
tanda dehidrasi.
Untuk menilai kegawatan penderita dapai dipakai skor Respiratory
Distress Assessment Instrument (RDAI), yang menilai distres napas berdasarkan 2
variabel respirasi yaitu wheezing dan retraksi. Bila skor lebih dari 15 dimasukkan
kategori berat, bila skor kurang dari 3 dimasukkan dalam kategori ringan.
Tabel 3.2 Respiratory Distress Assessment Instrument (RDAI)
Skor
maksimal

SKOR
0
Wheezing
- Ekspirasi
- Inspirasi
- Lokasi

Retraksi
- Supraklavikular
- Interkostal
- Subkostal
Total

(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)

Akhir
%
Sebagian Semua
2 dari 4 3 dari
lap paru
4 lap
paru
Ringan
Ringan
Ringan

Sedang
Sedang
Sedang

Semua

4
2
2

Berat
Berat
Berat

3
3
3
17

3.1.6.3 Pemeriksaan Penunjang


3.1.6.3.1 Laboratorium

24

Tes laboratorium rutin tidak spesifik. Hitung lekosit biasanya normal


demikian pula dengan elektrolit. Pada pasien dengan peningkatan lekosit biasanya
didominasi oleh PMN dan bentuk batang. Analisa gas darah (AGD) diperlukan
untuk anak dengan gangguan pernafasan berat, khususnya yang membutuhkan
ventilator mekanik, gejala kelelahan dan hipoksia. Analisa gas darah dapat
menunjukkan adanya hipoksia akibat V/Q mismatch dan asidosis metabolik jika
terdapat dehidrasi.
Untuk menemukan RSV dilakukan kultur virus, rapid antigen detection
test (direct immunofluoresence assay dan enzyme linked immunosorbant assay.
ELISA). Atau polimerase chain reaction (PCR), dan pengukuran titer antibody
pada fase akut dan konvalesens. Untuk menentukan penyebab bronkiolitis,
dibutuhkan pemeriksaan aspirasi atau bilasan nasofaring. Pada bahan ini dapat
dilakukan kultur virus tetapi memerlukan waktu yang lama, dan hanya
memberikan hasil positif pada 50% kasus.

3.1.6.3.2 Radiologi
Gambaran radiologik mungkin masih normal bila bronkiolitis ringan.
Umumnya terlihat paru-paru mengembang (hyperaerated). Bisa juga didapatkan
bercak-bercak yang tersebar, atau pneumonia (patchy infiltrates). Tetapi gambaran
ini tidak spesifik dan dapat ditemukan pada asma, pneumonia viral atau atipikal,
dan aspirasi. Dapat pula ditemukan gambaran ateletaksis terutama saat
konvalesens akibat secret pekat bercampur sel-sel mati yang menyumbat, air
trapping, diafragma datar, dan peningkatan diameter anteroposterior.
Pada x-foto lateral, didapatkan diameter AP yang bertambah dan
diafragma tertekan ke bawah. Pada pemeriksaan x-foto dada, dikatakan
hyperaerated apabila kita mendapatkan: siluet jantung yang menyempit, jantung
terangkat, diafragma lebih rendah dan mendatar, diameter anteroposterior dada
bertambah, ruang retrosternal lebih lusen, iga horisontal, pembuluh darah paru
tampak tersebar.

25

Dalam penegakan diagnosis bronkiolitis perlu memperhatikan manifestasi


klinis yang dapat menyerupai penyakit lain, epidemiologi, rentang usia terjadinya
kasus, dan musim-musim tertentu dalam satu tahun.

3.1.7 Diagnosis Banding


Dalam penegakan diagnosis bronkiolitis, perlu memperhatikan manifestasi
klinis yang dapat menyerupai penyakit lain. Diagnosis banding sebaiknya
dipikirkan, misalnya asma bronkiale serangan pertama, bronkhitis, gagal jantung
kongestif, edema paru, pneumonia, aspirasi benda asing, refluks gastroesophageal,
sistik fibrosis, miokarditis, pneumothorak, pertussis.

3.1.8 Penatalaksanaan
Infeksi virus RSV biasanya sembuh sendiri (self limited) sehingga
sebagian besar tatalaksana bronkiolitis pada bayi bersifat suportif, yaitu
pemberian oksigen, minimal handling pada bayi, cairan intravena dan kecukupan
cairan, penyesuaian suhu lingkungan agar konsumsi oksigen minimal, tunjangan
respirasi bila perlu, dan nutrisi. Setelah itu barulah digunakan bronkodilator,
antiinflamasi seperti kortikosteroid, antiviral seperti ribavirin, dan pencegahan
dengan vaksin RSV, RSV immunoglobuline (polyclnal) atau humanized RSV
monoclonal antibody (palvizumad).
Bronkiolitis ringan biasanya bisa rawat jalan dan perlu diberikan cairan
peroral yang adekuat. Bayi dengan bronkiolitis sedang sampai berat harus dirawat
inap. Penderita resiko tinggi harus dirawat inap, diantaranya: berusia kurang dari
3 bulan, prematur, kelainan jantung, kelainan neurologi, penyakit paru kronis,
defisiensi imun, distres napas. Tujuan perawatan di rumah sakit adalah terapi
suportif, mencegah dan mengatasi komplikasi, atau bila diperlukan pemberian
antivirus.

26

3.1.8.1 Pengobatan Suportif


1. Pengawasan
Untuk pasien yang dirawat inap penting dilakukan pengawasan sistem
jantung paru dan jika ada indikasi dilakukan pemasanag pulse oxymetri.
2. Oksigenasi
Oksigenasi sangat penting untuk menjaga jangan sampai terjadi hipoksia,
sehingga memperberat penyakitnya. Hipoksia terjadi akibat gangguan perfusi
ventilasi paru-paru. Pemberian oksigen tambahan direkomendasikan ketika
saturasi oksigen menetap dibawah 91% dan dihentikan ketika saturasi oksigen
menetap diatas 94%. Oksigenasi dengan kadar oksigen 30 40 % sering
digunakan untuk mengoreksi hipoksia gunakan nasal kanul (dengan
kecepatan maksimun 2 L/m); masker atau head box.
3. Pengaturan Cairan
Pemberian cairan sangat penting untuk mencegah dehidrasi akibat keluarnya
cairan lewat evaporasi, karena pernafasan yang cepat dan kesulitan minum.
Jika tidak terjadi dehidrasi diberikan cairan rumatan. Berikan tambahan
cairan 20 % dari kebutuhan rumatan jika didapatkan demam yang naik turun
atau menetap (suhu >38,50C). Cara pemberian cairan ini bisa secara intravena
atau pemasangan selang nasogastrik. Akan tetapi harus hati-hati pemberian
cairan lewat lambung karena dapat terjadi aspirasi dan menambah sesak
nafas, akibat lambung yang terisi cairan dan menekan diafragma ke paruparu. Selain itu harus dicegah terjadinya overload cairan. Lakukan
pemeriksaan serum elektrolit dan jika mendapatkan nilai yang tidak normal
lakukan penggantian dengan cairan elektrolit.

3.1.8.2 Pengobatan Medikamentosa


1. Antivirus (Ribavirin)
Ribavirin adalah obat antivirus yang bersifat virus statik. Tetapi, penggunaan
obat ini masih kontroversial mengenai efektivitas dan keamanannya. The
American of Pediatric merekomendasikan penggunaan ribavirin pada

27

keadaan diperkirakan penyakitnya menjadi lebih berat seperti pada penderita


bronkiolitis dengan kelainan jantung, fibrosis kistik, penyakit paru-paru
kronik, immunodefisiensi, dan pada bayi-bayi premature. Penggunaan
ribavirin biasanya dengan cara nebulizer aerosol 12-18 jam per hari atau dosis
kecil dengan 2 jam 3 x/hari.
2. Bronkodilator
Peran bronkodilator sampai saat ini masih kontroversial. Secara umum jangan
gunakan bronkodilator pada pasien anak dengan usia dibawah 6 bulan.
Bronkodilator juga tidak dianjurkan dan sebetulnya merupakan kontra
indikasi karena dapat memperberat keadaan anak. Penderita dapat menjadi
lebih gelisah dan keperluan oksigen akan meningkat.
3. Kortikosteroid
Untuk pasien rawat jalan dengan akut bronkiolitis pemberian steroid sistemik
mungkin dapat dipertimbangkan tetapi total pemberian tidak lebih dari 5 hari.
Sedangkan untuk penanganan pasien pada intensive care unit dengan
bronkiolitis berat pemberian steroid sistemik dapat dipertimbangkan.
4. Antibiotik
Pemberian antibiotik biasanya tidak diperlukan pada penderita bronkiolitis,
karena sebagian besar disebabkan oleh virus, kecuali jika ada tanda-tanda
infeksi sekunder dan diberikan antibiotik spektrum luas. Pemberian antibiotik
justru akan meningkatkan infeksi sekunder oleh kuman yang resisten terhadap
antibiotik tersebut.
Antibiotik bila dicurigai adanya infeksi bakteri dapat digunakan ampisilin
100-200 mg/kgBB/hr secara intravena dibagi 4 dosis. Bila ada konjungtivitis
dan bayi berusia 1 4 bulan kemungkinan sekunder oleh Chlamidia
trachomatis.

28

3.2

Diare

3.2.1 Pengertian Diare


Diare atau penyakit diare (Diarrheal disease) berasal dari bahasa Yunani
yaitu diarroi yang berarti mengalir terus, merupakan keadaan abnormal dari
pengeluaran tinja yang terlalu sering. Terdapat beberapa pendapat tentang definisi
penyakit diare. Menurut Hippocrates definisi diare yaitu sebagai suatu keadaan
abnormal dari frekuensi dan kepadatan tinja. Menurut Ikatan Dokter Anak
Indonesia, diare atau penyakit diare adalah bila tinja mengandung air lebih banyak
dari normal. Menurut WHO diare adalah berak cair lebih dari tiga kali dalam 24
jam, dan lebih menitik beratkan pada konsistensi tinja dari pada menghitung
frekuensi berak. Menurut Direktur Jenderal PPM dam PLP, diare adalah penyakit
dengan buang air besar lembek/cair bahkan dapat berupa air saja yang
frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari).

29

3.2.2 Diare Akut pada Balita


Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari tanpa
diselang-seling berhenti lebih dari 2 hari. Berdasarkan banyaknya cairan yang
hilang dari tubuh penderita, gradasi penyakit diare akut dapat dibedakan dalam
empat katagori, yaitu:
1. Diare tanpa dehidrasi
2. Diare dengan dehidrasi ringan, apabila cairan yang hilang 5 % dari berat
badan.
3. Diare dengan dehidrasi sedang, apabila cairan yang hilang berkisar 6 10 %
dari berat badan.
4. Diare dengan dehidrasi berat, apabila cairan yang hilang lebih dari 10 %

3.2.3 Etiologi dan Faktor Resiko Diare Akut


3.2.3.1 Etiologi Diare Akut
Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6
besar, tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang
disebabkan infeksi dan keracunan. Untuk mengenal penyebab diare yang
dikelompokan sebagai berikut:
1) Infeksi:
a) Bakteri (Shigella, Salmonella, E.Coli, Golongan vibrio, Bacillus Cereus,
Clostridium

perfringens,

Staphilococ

Usaurfus,

Camfylobacter,

Aeromonas)
b) Virus (Rotavirus, Norwalk + Norwalk like agent, Adenovirus)
c) Parasit
1) Protozoa (Entamuba Histolytica, Giardia Lambia, Balantidium Coli,
Crypto Sparidium)
2) Cacing perut (Ascaris, Trichuris, Strongyloides, Blastissistis Huminis)
3) Bacilus Cereus, Clostridium Perfringens
2) Malabsorpsi

30

3) Alergi
4) Keracunan:
a) Keracunan bahan-bahan kimia
b) Keracunan oleh racun yang dikandung dan diproduksi :
1) Jazad renik, algae
2) Ikan, buah-buahan, sayur-sayuran
5) Imunisasi, defisiensi
6) Sebab-sebab lain.

3.2.3.2 Faktor Resiko Diare Akut


3.2.3.2.1 Penyebaran kuman yang menyebabkan diare
Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui faecal oral antaralain
melalui makanan/minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan
tinja penderita. Beberapa perilaku dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik
dan meningkatkan risiko terjadinya diare. Perilaku tersebut antara, lain:
1) Tidak memberikan ASI (Air Susu lbu) secara penuh 4-6 bulan pada pertama
kehidupan. Pada bayi yang tidak diberi ASI risiko untukmenderita diare lebih
besar dari pada bayi yang diberi ASI penuh dan kemungkinan menderita
dehidrasi berat juga lebih besar.
2) Menggunakan botol susu, penggunaan botol ini. Memudahkan pencemaran
oleh kuman, karena botol susah dibersihkan.
3) Menyimpan makanan masak pada suhu kamar. Bila makanan disimpan
beberapa jam pada suhu kamar, makanan akan tercemar dan kuman akan
berkembang biak.
4) Menggunakan air minum yang tercemar. Air mungkin sudah tercemar dari
sumbernya atau pada saat disimpan di rumah. Pencemaran di rumah dapat
terjadi kalau tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan tercemar
menyentuh air pada saat mengambil air dari tempatpenyimpanan.

31

5) Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar dan sesudah membuang tinja
anak atau sebelum makan dan menyuapi anak.
6) Tidak membuang tinja (termasuk tinja bayi) dengan benar. Sering
beranggapan bahwa tinja bayi tidaklah berbahaya, padahal sesungguhnya
mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Sementara itu tinja
binatang dapat menyebabkan infeksi pada manusia.

3.2.3.2.2 Faktor penjamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare


Beberapa faktor pada penjamu dapat meningkatkan insiden, beberapa
penyakit dan lamanya diare. Faktor-faktor tersebut adalah:
1) Tidak memberikan ASI sampai 2 tahun. ASI mengandung antibodi yang dapat
melindungi kita terhadap berbagai kuman penyebab diare seperti: Shigella
dan Vibrio cholerae.
2) Kurang gizi. Beratnya penyakit, lama dan risiko kematian karena diare
meningkat pada anak-anak yang menderita gangguan gizi, terutama pada
penderita gizi buruk.
3) Campak, diare dan disentri sering terjadi dan berakibat berat padaanak-anak
yang sedang menderita campak dalam 4 minggu terakhir. Hal ini sebagai
akibat dari penurunan kekebalan tubuh penderita.
4) Imunodefisiensi/imunosupresi. Keadaan ini mungkin hanya berlangsung
sementara, misalnya sesudah infeksi virus (seperti campak) atau mungkin
yang berlangsung lama seperti pada penderita AIDS (Auto Imune Deficiency
Syndrome). Pada anak imunosupresi berat, diare dapat terjadi karena kuman
yang tidak patogen dan mungkin juga berlangsung lama. Secara proporsional,
diare lebih banyak terjadi pada golongan balita (55%).
3.2.3.2.3 Faktor Lingkungan dan perilaku:
Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan.
Dua faktor yang dominan, yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Kedua
faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia. Apabila faktor
32

lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan
perilaku manusia yang tidak sehat pula, yaitu melalui makanan dan minuman,
maka dapat menimbulkan kejadian penyakit diare.

3.2.4 Patogenesis Diare Akut


Diare akut ialah diare pada bayi atau anak, yang sebelumnya tidak
kelihatan sakit, kurang gizi atau menderita infeksi sistemik berat (meningitis,
sepsis dan sebagainya). Patogenesis dari diare dibagi menurut kemungkinan
kelainan tinja yang timbul pada diare:
(1). Tinja cair (seperti air dan bening)
(2). Tinja lembek cair (seperti bubur tepung)
(3). Tinja berdarah dan berlendir
Keadaan tinja tadi dapat timbul karena mekanisme diare baik berupa
kelainan tunggal maupun campuran. Pada umumnya gejala klinik yang
ditimbulkan oleh mikroba patogen dibagi menjadi:
1) Sindroma. berak cair (Small Bowel Syndromes) Berak cair yang profuse dan
voluminus yang biasanya dihubungkan dengan kolera.
2) Sindroma disentri (Disentry Syndromes) Berupa kejang perut (mules),
tenesmia, tinja bercampur lendir (pus) dan darah yang biasanya dihubungkan
dengan shigellosis.
3) Di samping itu ada bentuk antara kedua sindroma di atas yangtergantung dari
derajad kerusakan mukosa.
Pada umumnya suatu mikro organisme yang mengkontaminasi pada usus
dan dapat menimbulkan diare, secara mekanisme sebagai berikut, baik tunggal
maupun majemuk, diantaranya:
1) Mekanisme toksikologik dari bakteri, sehingga mukosa usus berubah
integrasinya di mana terjadi sekresi air dan elektrolit yang berlebihan.

33

2) Mekanisme patogenesis klasik sebagai kejadian invasi, penetrasi dan


pengrusakan (distruption) mukosa usus.
3) Perlukaan epitel usus oleh berbagai substansi.Keadaan ini disebabkan oleh
aktivitas metabolik dari bakteri pada makanan dan atau sekresi usus/host
sendiri.

Menurut kelainan tinja yang didapat, pada dasarnya mekanisme


patogenesis diare infektif dapat dibagi menjadi:
(1). Diare sekretorik karena toksin E.coli dan V.cholera. Contoh klasik dari
mekanisme diare karena toksin adalah diare yang disebabkan oleh bakteri Vibrio
cholera dan ETEC. Di samping itu bakteri lain seperti: Clostridium perferingens,
Staphilococcus aureus, Pseudomonas aerugenosa, dan beberapa strain Shigella
dan Salmonella juga dapat menghasilkan enterotoksin. Keracunan makanan yang
mengandung Staphilococcus, kontaminasi bentuk pratoksin (preformed toxin) juga
merupakan faktor penting dalam kejadian diare, dan mekanismenya berbeda
dengan diare karena kholera atau E. coli. Sekitar 25% diare pada anak disebabkan
oleh toksin yang dikeluarkan oleh bakteri, pada umumnya dihasilkan oleh bakteri
E coli dan V. chholera. E.coli pada berbagai strain dapat mempunyai 2 sifat, yaitu:
sebagai enterotoksin maupan sifat invasif. Setelah melalui tantangan karepa
ketahanan tubuh penderita, maka bakteri sampai di lumen usus kecil
memperbanyak diri dan menghasilkan enterotoksin yang kemudian dapat
mempengaruhi fungsi dari epitel mukosa usus. Racun-racun ini merangsang
mekanisme sel-sel epitel mukosa usus yang memproduksi adenil siklase (Cyclic
AMP) dan kemudian akan berpengaruh mengurangi penyerapan ion natrium dari
lumen usus, tetapi meningkatkan pengeluaran ion khlorida dan air dari kripta
mukosa dalam lumen usus. Penyembuhan diare yang disebabkan oleh racun
tersebut adalah suatu penggantian secara proses regenerasi dari sel-sel epitel
mukosa usus yang terserang.
Proses ini biasanya berlangsung 2-5 hari dan pada anak-anak yang
menderita kurang gizi akan berjalan lebih lama. Penghambatan organisme tersebut
dengan antibiotika akan memperpendek dan mengurangi diare dari V. cholera;

34

tetapi diare yang disebabkan oleh E.coli dengan penggunaan antibiotika yang
kurang bermanfaat. Racun-racun yang dihasilkan oleh bakteri yang timbul pada
makanan menyebabkan diare yang sangat singkat yang dikenal dengan keracunan
makanan. Penggantian seluler tidak begitu penting pada diare ini. Staphilococcus
dengan bentuk pratoksinnya adalah penyebab yang paling umum dari jenis diare
karena keracunan makanan.
3.2.5

Diagnosa

3.2.5.1 Anamnesis
Gejala diare atau mencret berupa tinja yang encer dengan frekuensi 3 x
atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai muntah, badan lesu atau lemah,
panas, tidak nafsu makan, darah dan lendir dalam kotoran. Rasa mual dan muntahmuntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi bisa
secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan
nafsu makan atau kelesuan. Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan
kejang perut, serta gejal-gejala lain seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot
atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang
menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi. 1
3.2.5.2 Pemeriksaan Fisik
Diare bisa menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit (misalnya
natrium dan kalium), sehingga bayi menjadi rewel atau terjadi gangguan irama
jantung maupun perdarahan otak. Diare seringkali disertai oleh dehidrasi
(kekurangan cairan). Dehidrasi ringan hanya menyebabkan bibir kering. Dehidrasi
sedang menyebabkan kulit keriput, mata dan ubun-ubun menjadi cekung (pada
bayi yang berumur kurang dari 18 bulan). Dehidrasi berat bisa berakibat fatal,
biasanya menyebabkan syok. Diare menyebabkan hilangnya sejumlah besar air
dan elektrolit dan sering disertai dengan asidosis metabolik karena kehilangan
basa.1
Derajat Dehidrasi
Derajat dehidrasi ditegakkan bila terdapat 2 tanda utama ditambah 2 atau lebih
tanda tambahan.2-5

35

a. Tanda Utama: keadaan umum gelisah/rewel; atau lemah/letargi/koma; rasa


haus; turgor kulit abdomen menurun.
b. Tanda Tambahan: UUB, kelopak mata, air mata, mukosa bibir, mulut, dan
lidah.

Tabel 3.3 Derajat Dehidrasi pada Pasien Diare


Gejala &

Keadaan

Tanda
Tanpa

Umum
Baik, Sadar

Dehidrasi

UUB

Mulut/

Mata

Lidah
Basah

Tidak Tidak
cekung cekung,

Kehilangan

air

mata (+)

Rasa Haus

Kulit

Minum

Dicubit

Normal,

kembali

Tidak Haus

cepat

Tampak

Kembali

Kehausan

lambat

cairan < 5%
BB
Dehidrasi
Ringan

Gelisah/
Rewel

Sedang

Sediki

Sedikit

Cekung,

cekung

Air mata

Kehilangan

Kering

kurang

cairan 5-10%
BB
Dehidrasi

Letargik/

Sanga Sangat

Berat

koma

Kehilangan

cekung,

cekung mata (-)

Sangat
air kering

Sulit, tidak Kembali


mau

sangat

minum

lambat

cairan > 10%


BB

3.2.5.3 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan tinja tidak rutin dilakukan pada diare akut, kecuali apabila
ada tanda intoleransi laktosa dan kecurigaan amubiasis. Analisa gas darah dan
elektrolit bila secara klinis dicurigai adanya gangguan keseimbangan asam basa
dan elektrolit.2

36

3.2.6 Tatalaksana
3.2.6.3 Terapi Cairan
1) Parenteral
Pengantian cairan dan elektrolit merupakan elemen yang penting
dalam terapi efektif diare akut. Beratnya dehidrasi secara akurat dinilai
berdasarkan berat badan yang hilang sebagai persentasi kehilangan total
berat badan dibandingkan berat badan sebelumnya sebagai baku emas.
Pemberian terapi cairan dapat dilakukan secara oral atau parateral.
Pemberian secara oral dapat dilakukan untuk dehidrasi ringan sampai
sedang dapat menggunakan pipa nasogastrik, walaupun pada dehidrasi
ringan dan sedang. Bila diare profus dengan pengeluaran air tinja yang
banyak (>100 ml/kgBB/hari) atau muntah hebat (severe vomiting)
sehingga penderita tak dapat minum sama sekali, atau kembung yang
sangat hebat (violent meteorism) sehingga upaya rehidrasi oral tetap akan
terjadi defisit maka dapat dilakukan rehidrasi parenteral walaupun
sebenarnya rehidrasi parenteral dilakukan hanya untuk dehidrasi berat.
Berdasarkan teori untuk penatalaksanaan Diare Akut dengan
Dehidrasi Berat adalah diberikan rehidrasi parenteral dengan ringer laktat
atau Ringer asetat 100 ml/KgBB dengan cara pemberian:
1. Usia <12 bln: 30ml/kgBB dalam 1 jam pertama, dilanjutkan dengan
70ml/kgbb dalam 5 jam berikutnya
2. Usia >12 bln: 30ml/kgbb dalam jam pertama, dilanjutkan dengan
70ml/kgBB dalam 2 jam berikutnya.
3. Masukkan cairan peroral diberikan bila pasien sudah mau dan dapat
minum, dimulai dengan 5 cc/kgBB selama proses rehidrasi.
2) Oralit
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari
rumah tangga dengan memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila

37

tidak tersedia berikan cairan rumah tangga seperti air tajin, kuah sayur,
air matang.
Oralit saat ini yang beredar di pasaran sudah oralit yang baru dengan
osmolaritas yang rendah, yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah.
Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare untuk
mengganti cairan yang hilang. Bila penderita tidak bisa minum harus
segera di bawa ke sarana kesehatan untuk mendapat pertolongan cairan
melalui infus. Pemberian oralit didasarkan pada derajat dehidrasi.
1) Diare tanpa dehidrasi
a) Umur < 1 tahun : - gelas setiap kali anak mencret
b) Umur 1 4 tahun : - 1 gelas setiap kali anak mencret
c) Umur diatas 5 Tahun : 1 1 gelas setiap kali anak mencret
2) Diare dengan dehidrasi ringan sedang
Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb dan
selanjutnya diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa
dehidrasi.
3) Diare dengan dehidrasi berat
Penderita diare yang tidak dapat minum harus segera dirujuk ke
Puskesmas untuk di infus.
Tabel 3.4 Kebutuhan Oralit per Kelompok Umur

< 12 bulan

Jumlah oralit yang


diberikan tiap BAB
50-100 ml

1-4 tahun

100-200 ml

> 5 tahun

200-300 ml

Dewasa

300-400 ml

Umur

Jumlah oralit yang


disediakan di rumah
400 ml/hari ( 2 bungkus)
600-800 ml/hari ( 3-4
bungkus)
800-1000 ml/hari (4-5
bungkus)
1200-2800 ml/hari

Sumber: Depkes RI, 2006

Untuk anak dibawah umur 2 tahun cairan harus diberikan dengan


sendok dengan cara 1 sendok setiap 1 sampai 2 menit. Pemberian dengan

38

botol tidak boleh dilakukan. Anak yang lebih besar dapat minum
langsung dari gelas. Bila terjadi muntah hentikan dulu selama 10 menit
kemudian mulai lagi perlahan-lahan misalnya 1 sendok setiap 2-3 menit.
Pemberian cairan ini dilanjutkan sampai dengan diare berhenti.

3.2.6.4 Koreksi elektrolit


Setelah dilakukan rehidrasi baru dilakukan cek elektrolit. Bila terjadi
gangguan keseimbangan elektrolit seperti kasus ini, harus dikoreksi
dengan cara:
1) Hiponatremia (Na: < 130)
Kadar natrium koreksi (mEq/L) = 125 kadar Na serum x 0,6 x kgBB
diberikan dalam 24 jam.
2) Hipokalemia (K: < 3,5)
Koreksi dilakukan berdasarkan kadar kalium
Kadar K 2,5-3,5 mEq/L, berikan KCL 75 mEq/kgBB/oral/hari dibagi 3 dosis.
Kadar K < 2,5 mEq/L, berikan KCL melalui drip intravena dengan dosis:

3,5 - kadar K terukur x kgBB x 0,4 + 2 mEq/kgBB/24 jam,


diberikan dalam 4 jam pertama

3,5 - kadar K terukur x kgBB x 0,4 + 1/6 x 2 mEq x BB,


diberikan dalam 20 jam berikutnya.

39

3.2.6.5 Pemberian Zink


Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh.
Zinc dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase),
dimana ekskresi enzim ini meningkat selama diare dan mengakibatkan
hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan dalam epitelisasi dinding usus
yang mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama kejadian diare.
Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan
tingkat keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar,
mengurangi volume tinja, serta menurunkan kekambuhan kejadian diare
pada 3 bulan berikutnya. Berdasarkan bukti ini semua anak diare harus
diberi Zinc segera saat anak mengalami diare.
Dosis pemberian Zinc pada balita:
a) Umur < 6 bulan : tablet (10 mg) per hari selama 10 hari
b) Umur > 6 bulan : 1 tablet (20 mg) per hari selama 10 hari.
Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti.
Cara pemberian tablet zinc : Larutkan tablet dalam 1 sendok makan air
matang atau ASI, sesudah larut berikan pada anak diare.
3.2.6.6 Medikamentosa
Antibiotika tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya
kejadian diare pada balita yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik
diberikan bila ada indikasi, misalnya disentri (diare berdarah) atau kolera.
Pemberian antibiotik yang tidak rasional dapat mengganggu keseimbangan

40

flora usus sehingga dapat memperpanjang lama diare, selain itu juga dapat
meningkatkan resistensi kuman terhadap antibiotik (Kemenkes RI, 2011).
Obat-obatan anti diare juga tidak boleh diberikan pada anak yang
menderita diare karena terbukti tidak bermanfaat. Obat anti muntah tidak
dianjurkan kecuali muntah berat. Obat-obatan ini tidak mencegah
dehidrasi ataupun meningkatkan status gizi anak, bahkan sebagian besar
menimbulkan efek samping yang berbahaya dan bisa berakibat fatal.
Obat anti protozoa digunakan bila terbukti diare disebabkan oleh parasit
(amuba, giardia).
3.2.6.7 Nutrisi
ASI dan makanan dengan menu yang sama saat anak sehat sesuai
umur tetap diberikan untuk mencegah kehilangan berat badan dan sebagai
pengganti nutrisi yang hilang. Adanya perbaikkan nafsu makan
menandakan fase kesembuhan. Anak tidak boleh dipuasakan, makanan
diberikan sedikit-sedikit tapi sering ( 6 kali sehari), rendah serat. Ada
beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk menentukan kebutuhan
nutrisi anak balita:
1) Menentukan Desirable Body Weight (DBW) atau Berat Badan Ideal
Penentuan berat badan ideal untuk anak balita (1-5 tahn) secara sederhana
dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
BBI = (usia dalam tahun x 2) + 8.

2) Menentukan Estimasi Kebutuhan Energi dan Zat Gizi Total per Hari
a. Kebutuhan energi/kalori pada anak balita dapat dilakukan dengan
rumus:
Kebutuhan energi = 1000 + (100 x usia dalam tahun) atau,

41

Kebutuhan energi usia 1-3 tahun = 100 kalori/kg BBI


Kebutuhan energi usia 4-5 tahun =

90 kalori/kg BBI

b. Kebutuhan protein adalah sebesar 10% dari total kebutuhan energi


sehari, dapat dihitung : (10% x Total Energi Harian) : 4 = x gram
c. Kebutuhan Lemak yaitu sebesar 20% dari total energi harian yaitu
(20% x Total Energi Harian) : 9 = x gram
d. Kebutuhan Karbohidrat adalah sisa dari total energi harian dikurangi
prosentase protein dan lemak yaitu (70% x Total Energi Harian) : 4 =
x gram

3.2.6.8 Edukasi
Saat perawatan dan saat pasien hendak dipulangkan sebaiknya
diberikan

edukasi

kepada

orang

tua

pasien

sebagai

langkah

promotif/preventive berupa: (1) ASI tetap diberikan; (2) kebersihan


perorangan, cuci tangan sebelum makan; (3) kebersihan lingkungan, buang
air besar dijamban; (4) imunisasi campak bila belum; (5) penyediaan air
minum yang bersih; (6) selalu memasak makanan (7) sebelum
menggunakan botol susu, sebaiknya botol dan tutup serta dotnya direbus
pada suhu 70C selama 5-10 menit.

3.2.7 Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Diare


Hasil penelitian terakhir menunjukkan, bahwa cara pencegahan yang benar
dan efektif yang dapat dilakukan adalah: memberikan ASI, memperbaiki makanan
pendamping ASI, menggunakan air bersih yang cukup, mencuci tangan,
menggunakan jamban, membuang tinja bayi yang benar dan memberikan

42

imunisasi campak. Usaha kesehatan dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu


usaha peningkatan (promotif), usaha pencegaban (preventif), usaha pengobatan
(curative) dan usaha pemulihan (rehabilitasi). Usaha ini pada dasarnya ditujukan
terhadap tiga faktor, yang mempengaruhi timbulnya penyakit, sesuai dengan
pendapat John Gordon yaitu faktor penjamu (host), bibit penyakit (agent), dan
faktor lingkungan (environment). Jika keempat usaha di atas dikaitkan dengan tiga
faktor tersebut maka usaha yang dapat dilakukan dalam pencegahan diare adalah
sebagai berikut:
a. Terhadap faktor penjamu
Mempertinggi daya tahan tubuh manusia dan meningkatkan pengetahuan
masyarakat dalam prinsip-prinsip hygiene perorangan.

Pencegahan diare pada anak balita antara lain:


a) Imunisasi
Dengan ditemukanya cairan rehidrasi oral dan digalakannya. Pengobatan
diare dengan upaya rehidrasi oral, angka kesakitan bayi dan anak balita
yang disebabkan diare makin lama makin menurun.
b) Pernberian ASI
ASI adalah makanan paling baik untuk bayi. Komponen zat makanan
tersedia dalam bentuk yang ideal dan seimbang untuk dicerna dan diserap
secara optimal oleh bayi. ASI saja sudah cukup untuk menjaga
pertumbuhan sampai umur 4-6 bulan. ASI adalah makanan bayi yang
paling alamiah, sesuai dengan kebutuhan gizi bayi dan mempunyai nilai
proteksi. Setelah 6 bulan dari kehidupannya, pemberian ASI harus
diteruskan sambil ditambahkan dengan makanan lain (proses menyapih).
ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik dengan adanya
antibodi dan zat-zat lain yang dikandungnya. ASI turut memberikan
perlindungan terhadap diare. Pada bayi yang baru lahir, pemberian ASI
secara penuh mempunyai daya lindung 4 kali lebih besar terhadap diare
daripada pemberian ASI yang disertai dengan susu botol. Flora usus pada
bayi-bayi yang disusui mencegah tumbuhnya bakteri penyebab diare. Pada
43

bayi yang tidak diberi ASI secara penuh, pada 6 bulan pertama kehidupan,
risiko mendapat diare adalah 30 kali lebih besar.
c) Makanan Pendamping ASI
Pemberian makanan pendamping ASI adalah saat bayi secara bertahap
mulai dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Pada masa tersebut
merupakan masa yang berbahaya bagi bayi sebab perilaku pemberian
makanan pendamping ASI dapat menyebabkan meningkatnya risiko
terjadinya diare ataupun penyakit lain yang menyebabkan kematian.
Perilaku pemberian makanan pendamping ASI yang baik meliputi
perhatian terhadap kapan, apa dan bagaimana makanan pendamping ASI
diberikan. Ada bebarapa saran yang dapat meningkatkan cara pemberian
makanan pendamping ASI yang lebih baik, yaitu:
1) Perkenalkan makanan lunak, ketika anak berumur 4 - 6 bulan tetapi
teruskan pemberian ASI. Tambahkan macam makanan sewaktu anak
berumur 6 bulan atau lebih. Berikan makanan lebih sering (4 kali
sehari). Setelah anak berumur 1 tahun, berikan semua makanan yang
dimasak dengan baik, 4 - 6 kali sehari, teruskan pemberian ASI bila
mungkin.
2) Tambahkan minyak, lemak dan gula ke dalam nasi/bubur dan biji-bijian
untuk energi. Tambahkan hasil olahan susu, telur, ikan, daging, kacangkacangan, buah-buahan dan sayuran berwarna hijau ke dalam
makanannya.
3) Cuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan menyuapi anak. Suapi
anak dengan sendok yang bersih.
4) Masak atau rebus makanan dengan benar, simpan sisanya pada tempat
yang dingin dan panaskan dengan benar sebelum diberikan kepada
anak.
d) Prilaku hidup bersih dan sehat untuk melakukan pola prilaku hidup bersih
dan sehat dilakukan beberapa penilaian antara lain adalah:
1) Penimbangan balita. Apabila ada balita pertanyaanya adalah apakah
sudah ditimbang secara teratur ke posyandu minimal 8 kali setahun.
2) Gizi, anggota keluarga makan dengan gizi seimbang.
44

3) Air bersih, keluarga menggunakan air bersih (PAM, sumur, perpipaan)


untuk keperluan sehari-hari.
4) Jamban keluarga, keluarga. buang air besar di jamban/WC yang
5)
6)
7)
8)
9)

memenuhi syarat kesehatan.


Air yang di minum dimasak terlebih dulu.
Mandi menggunakan sabun mandi.
Selalu cuci tangan sebelum makan dengan menggunakan sabun
Pencucian peralatan menggunakan sabun.
Limbah, apakah SPAL sering di bersihkan.

2) Terhadap faktor bibit penyakit.


a) Memberantas sumber penularan penyakit, baik dengan mengobati
penderita maupun carrier atau dengan meniadakan reservoir penyakit.
b) Mencegah terjadinya penyebaran kuman, baik di tempat umum maupun di
lingkungan rumah.
c) Meningkatkan taraf hidup rakyat, sehingga dapat memperbaiki dan
memelihara kesehatan.
3) Terhadap faktor lingkungan
Mengubah atau mempengaruhi faktor lingkungan hidup, sehingga faktorfaktor yang tidak baik dapat diawasi sedemikian rupa sehingga tidak
membahayakan kesehatan manusia.

45