Anda di halaman 1dari 11

EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL BIJI PINANG (Arecha Catechu Linn.

)
TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI streptococcus mutans
Secara in Vitro

Analisis Jurnal:
a. Tanaman
Sistematika Tanaman :
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)


Divisi

: Angiospermae (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Monocotyledoneae (berkeping satu / monokotil)

Ordo

: Arecales

Famili

: Palmae

Genus

: Areca

Spesies

: Arecha Catechu L.

Tanaman Pinang (Arecha Catechu L.) merupakan tanaman sefamili dengan


kelapa. Salah satu jenis tumbuhan monokotil ini tergolong palem - paleman . Tanaman ini telah
banyak dimanfaatkan oleh masyrakat Indonesia untuk pengobatan termasuk penggunaan
bijinya.
b. Komposisi (Kandungan Kimia)
Kandungan kimia Biji Pinang (Arecha Catechu Linn ):

1) Mengandung 0,3 % - 0,6 % Alkaloid berupa


a. Arekolin
b. Arekolidine
c. Arekain
d. Guvakolin
e. Guvasin

f. Isoguvasin
2) Red Tannin (15 %),
3) Lemak (14 %), berupa
a. palmitic,
b. oleic,
c. stearic,
d. caproic,
e. caprylic,
f. lauric,
4) Kanji.
5) Resin.
c. Tujuan
Untuk mengetahui efek ekstrak etanol biji pinang (Arecha Catechu L.) sebagai
antimikroba terhadap streptococcus mutans in vitro
d. Pembahasan
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental
laboratorik (True experimental Post test only Control Group Desain) dengan
menggunakan metode dilusi agar untuk mengetahui efek antimikroba ekstrak biji pinang
(Arecha Catechu L) yang dapat mempengaruhi pertumbuhan streptococcus mutans secara
in Vitro.
Sampel Penelitian. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak biji
pinang dan sampel dan menggunakan sampel bakteri uji yaitu streptococcus mutans yang
telah dikultur di Laboratorium Mikrobilogi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
Malang .

Bahan untuk Pembuatan Ekstrak Biji Pinang dan untuk Identifikasi Bakteri. Bahan
untuk pembuatan ekstrak adalah biji pinang (Arecha Catechu L), etanol 96%, aquadest
steril. Bahan untuk identifikasi bakteri adalah, isolat streptococcus mutans, pewarnaan
gram (kristal violet, lugol, alkohol 96%, safranin), BSA (Bismuth Sulfite Agar).
Alat untuk Pembuatan Ekstrak Biji Pinang dan untuk Identifikasi Bakteri. Alat
untuk pembuatan ekstrak meliputi oven, timbangan ukur, Labu Erlenmeyer, corong gelas,
kertas saring, Labu evaporator, Labu penampung, Evaporator, pendingin spiral/rotary
evaporator, selang water pump, Water bath, Vacum pump. Alat untuk identifikasi bakteri
meliputi object glass, minyak emersi, ose, bunsen, mikroskop.
Alat untuk Pembuatan Bahan cair Bakteri kepadatan 106 bakteri/ml dan untuk
dilusi Agar. Alat yang digunakan untuk pembuatan bahan cair bakteri adalah Tabung
reaksi, larutan NaCl, BHI broth, Vortex, pipet steril. Alat yang digunakan untuk dilusi
Agar adalah plate, mikropipet, tabung reaksi, lampu spiritus, Ose.
Pembuatan Ekstrak Biji Pinang. Biji pinang dijemur dengan panas matahari sampai
benar-benar kering. Setelah kering, haluskan dengan blender sampai halus, timbang
sebanyak 50 gram(sampel kering), masukkan 50 gram sampel kering ke dalam labu
Erlenmeyer ukuran 1 liter, kemudian rendam dengan etanol 96% sampai volume 950 ml,
kocok sampai benar-benar tercampur ( 30 menit), didiamkan 1 malam sampai
mengendap. Ambil lapisan atas etanol 96% dengan zat aktif yang sudah terambil,
Masukkan dalam labu evaporasi pada evaporator, Isi waterbath dengan air sampai penuh.
Pasang semua rangkaian alat termasuk rotary evaporator, pemanas waterbath (atur
sampai 90oC), sambunglah dengan arus listrik, biarkan larutan etanol memisah dengan zat
aktif yang sudah ada didalam labu, Tunggu sampai aliran etanol berhenti menetes pada

labu penampung ( 1,5 sampai 2 jam untuk 1 labu), masukkan hasil ekstrasi dalam botol
plastic, simpan dalam freezer.
Identifikasi Bakteri. Identifikasi bakteri kali ini menggunakan metode pewarnaan gram.
Dibuat suspense air suling dan koloni bakteri pada object glass dan dikeringkan di udara,
sesudah kering difiksasi diatas Bunsen, sediaan dituangi Kristal violet selama 1 menit,
sisa bahan warna dibuang dan dibilas dengan air, sediaan dituangi lugol selama 1 menit.
Sisa bahan warna dibuang dan dibilas dengan air, sediaan dituangi alcohol 96% selama 510 detik. Sisa alcohol dibuang dan dibilas dengan air, Sediaan dituangi sarafanin selama
0,5 menit, sisa bahan dibuang dan dibilas dengan air, dikeringkan dengan kertas
penghisap dan diamati dengan mikroskop pembesaran 100-400x dengan sinar intensitas
rendah.
Tes Katalase.
Untuk membedakan antara bakteri Staphylococcus dan Streptococcus dilakukan uji
katalase yaitu dengan menambahkan larutan H2O2 3% pada perbenihan cair.
Staphylococcus akan memberikan hasil positif yang ditunjukkan dengan munculnya
gelembung udara. Langkah uji katalase sebagai berikut :
a. 1 tetes larutan aquadest steril
b. Ditambahkan 1 koloni bakteri
c. Ditetesi dengan1 tetes H2O2 3% dan diamati timbulnya gelembung-gelembung
udara pada media perbenihannya.
Pembiakkan Bakteri dengan BHI broth. Streptococcus mutans yang telah
diidentifikasi dibiakkan pada medium cair dengan menggunakan BHI broth selama 1 x
24 jam dengan suhu 37oC.
Persiapan Suspensi Bakteri streptococcus mutans.
1. Dipersiapkan bakteri streptococcus mutans dari media BHI broth yang telah diuji
konfirmasi.

2. Ambil 5 koloni (d 1 mm) dengan ose kemudian dimasukkan kedalam 5 ml


NaCl 0,85% steril. Kemudian diukur Optical Density (OD) atau kepadatan
optisnya dengan spektrofotometer pada maks = 650 nm. Dari hasil yang diperoleh
dibuat suspense sel yang mengandung 1x108 hingga 5 x 108 CFU/ml dengan
rumus n1 x v1 = n2 x v2 .
3. Untuk mendapatkan suspense sel yang mengandung 0,5 x 106 hingga 2,5 x 106
dilakukan dengan cara mengambil 1 ml (dari tabung yang mengandung 108
CFU/ml) untuk dicampur dengan 9 ml NaCl 0,85 steril. Maka akan didapatkan
suspense sel dengan konsentrasi 107 CFU/ml. proses ini dilanjutkan sekali lagi
hingga mencapai konsentrasi suspense bakteri yang digunakan untuk tes yaitu 0,5
x 106 hingga 2,5 x 106 CFU/ml.
Tes Dilusi Agar. Tes dilusi agar dilakukan karena untuk memnetukan KHM tidak dapat
menggunakan metode dilusi tabung. Hal ini disebabkan ekstrak biji pinang berwarna
keruh sehingga mengganggu visualisasi untuk menentukan KHM. Prosedur yang
dilakukan untuk tes sensivitas dengan metode dilusi agar yaitu siapakan media yang telah
dicampur dengan ekstrak biji pinang yang sesuai dengan konsentrasi yang diperlukan
untuk koloni Streptococcus mutans yang dibiakkan dalam BHIA dan telah disetarakan
kekeruhannya dengan spektrofotometer (2,5% , 2%, 1,5%, 1%, 0,5%). Kemudian
ditunggu hingga agar menjadi padat. Siapkan pula control positif (KP). Kemudian
tambahkan Streptococcus mutans pada masing-masing plate konsentrasi ekstrak dan
plate control positif. Inkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37oC. setelah diinkubasi, lihat
lapisan koloni bakteri yang terbentuk. Plate dengan konsentrasi terendah yang bersih dari
bakteri merupakan KHM.
HASIL PENELITIAN

Hasil Identifikasi Streptococcus mutans. Dari pewarnaan gram, didapatkan gambaran


sel bakteri berbentuk bulat (kokus), lonjong atau bulat lonjong berantai berwana ungu
yang menunjukkan gram positif. Pada tes katalase bakteri menimbulkan reaksi yang
negative dengan tidak menimbulkan ketika diberi H2O2 3%.
Hasil Pengamatan KHM pada Metode Dilusi Agar. Pada uji dilusi Agar dapat
dilakukan pengamatan derajat ketebalan lapisan koloni masing-masing plate untuk
mengetahu KHM dengan pengamatan visual. Hasil pengamatan pada plate 370 C selama
18-24 jam, tampak bahwa semakin tinggi pemberian dosis ekstrak biji pinang maka
semakin sedikit pertumbuhan koloni bakteri yang dapat dilihat.
Analisis Data. Hasil penelitian dianalisis dengan software SPSS 17 dan output hasil
analisis dapat dilihat pada lembar lapiran. Penelitian ini menggunakan variable numeric
dengan satu factor lain yang ingin diketahui yaitu perbedaan pertumbuhan koloni
Streptococcus mutans yang dihasilkan pada agar plate secara kualitatif berdasarkan
perlakuan pemberian ekstrak biji pinang, sehingga uji statistic yang digunakan adalah
Kruskkall Wallis. Selain itu dilakukan uji Mann Whitney untuk membandingkan
perlakuan mana saja yang menyebabkan pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans
cenderung berbeda signifikan atau tidak berbeda, serta uji kolerasi Spearman untuk
mengetahui besarnya keeratan hubungan pemberian ekstrak biji pinang terhadap
pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans.
Uji Korelasi Spearman. Untuk mengetahui besarnya hubungan dari pemberian ekstrak
biji pinang terhadap pertumbuhan koloni bakteri Streptococcus pada agar plate yang
berskala ordinal, maka digunakan uji Korelasi Spearman. Berdasarkan hasil analisis data
dapat diketahui bahwa pemberian ekstrak biji pinang sebagai anti mikroba terhadap

bakteri Streptococcus mutans (r= -0,9491, p= 0.000) mempunyai hubungan yang


signifikan (p<0,05) dengan arah korelasi yang negative. Artinya peningkatan konsentrasi
ekstrak biji pinang akan cenderung menurunkan pertumbuhan bakteri Streptococcus
mutans.
Analisis Hasil dan Kesimpulan:
a. Analisiss Hasil
Pada penelitian ini, bahan uji yang digunakan yaitu Biji Pinang. Ektrak biji pinang yang
digunakan dalam penelitian ini dibuat dengan teknik maserasi yang menggunakan pelarut
etanol. Etanol dapat menyebabkan bertambahnya kandungan flavonoid pada ekstrak biji
pinang sehingga efek antibakteri pada ekstrak juga bertambah. Konsentrasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah konsentrasi ekstrak biji pinang dengan variasi
0,5%, 1%, 1,5%, 2%, 2,5% dan 1 kelompok control tanpa diberi ekstrak biji pinang
(konsentrasi 0%). Identifikasi Streptococcus mutans telah dilakukan dengan 2 macam
cara. Pewarnaan Gram dan tes katalase.
Pada penelitian ini, hasil identifikasi Streptococcus mutans yang didapatkan sesuai
dengan morfologi bakteri Streptococcus mutans. Berdasarkan hasil uji yang telah
dilakukan dalam penelitian ini maka nilai Kadar Hambat Minimal dari ekstrak biji
pinang (Areca catechu Linn) pada konsentrasi 1,5% yang ditandai dengan tidak adanya
pertumbuhan bakteri pada media agar.
Biji pinang juga merupakan salah satu bahan herbal yang familiar serta mudah didapat,
namun belum banyak diteliti sifat antibakterinya terhadap bakteri Sterptococcus mutans.
Karena itulah ini merupakan penelitian pertama sifat bakteri biji pinag terhadap bakteri
Streptococcus mutans.

Biji buah pinang mengandung senyawa bioaktif yaitu flavonoid diantranya tannin. Biji
buah pinang juga mengandung proantosianidin, yaitu suatu tannin terkondensasi yang
termasuk dalam golongan flavonoid. Proantosianidin memiliki efek antibakeri, antivirus,
antifungal, antikarsinogenik, anti-inflasmasi, anti alergi dan vasodilatasi. Flavonoid
mempunyai respon yang baik terhadap infeksi mikroba sehingga mereka efektif
menghambat pertumbuhan mikroba secara in vitro terhadap sejumlah mikroorganisme.
Kandungan tannin dalam biji buah pinang memiliki aktivitas antibakteri, secara garis
besar mekanisme yang diperkirakan adalah sebagai berikut : toksisitas tannin dapat
merusak membrane sel bakteri, senyawa astringent tannin dapat menginduksi
pembentukan kompleks senyawa ikatan terhadap enzim atau substrat mikroba dan
pembentukan suatu kompleks ikatan tannin terhadap ion logam yang dapat menambah
daya toksisitas tannin itu sendiri. Tannin diduga dapat mengkerutkan dinding sel atau
membrane sel sehingga mengganggu permeabilitas sel itu sendiri. Akibat terganggunya
permeabilitas, sel tidak dapat melakukan aktivitas hidup sehingga pertumbuhannya
terhambat atau bahkan mati. Tannin juga mempunyai daya antibakteri dengan cara
mempresipitasi protein, karena diduga tannin mempunyai efek yang sama dengan
senyawa fenolik. Efek antibakteri tannin antara lain melalui: reaksi dengan membrane
sel, inaktivasi enzim, dan destruksi atau inaktivasi fungsi materi genetik.
Hasil penelitian ekstrak biji pinang secara in vitro sudah membuktikan efeknya sebagai
antimikroba. Selanjutnya diharapkan adanya penelitian lebih lanjut dengan uji in vivo.
Hal ini dikarenakan secara medis belum ada penelitian menegnai dosis efektif, toksisitas
dan efek samping yang mungkin ditimbulkan ekstrak biji pinang terhadap tubuh manusia.
Dari sini diperlukan penelitian in vivo terhadap hal yang belum diketahui dari efek

ekstrak biji pinang yang dilakukan pada hewan coba terlebih dahulu yang kemudian
dapat diaplikasikan pada manusia sehingga diharapkan dapat menjadi alternative
preventif karies gigi yang murah, efektif dan minim efek samping.
b. Kesimpulan
1. Ekstrak biji pinang (Arecha catechu Linn) memiliki efek antimikroba terhadap
bakteri Streptococcus mutans.
2. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak semakin rendah jumlah koloni yang tumbuh.
3. Nilai Kadar Hambat Minimal (KHM) dari ekstrak etanol biji pinang (Arecha
Catechu Linn.) pada konsentrasi 1,5% yang ditandai dengan tidak adanya
pertumbuhan bakteri pada media agar.

TUGAS MIKROBIOLOGI

EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL BIJI PINANG (Arecha Catechu Linn.)


DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN
Streptococcus mutans

DISUSUN OLEH:

NAMA

: RYAN STEVANO TANTOLU

NIM

: PO.71.3.251.12.1.036

KELAS

: REGULER A

JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
2013
TUGAS MIKROBIOLOGI

EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN SELASIH


(Ocimum basilicum Linn.)
SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP Escherichia coli
SECARA IN-VITRO

DISUSUN OLEH:

NAMA

: ANDI ALMUHAEMIN

NIM

: PO.71.3.251.12.1.006

KELAS

: REGULER A

JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
2013