Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

Transfusi darah adalah pemindahan darah dari donor ke dalam peredaran


darah resipien. Transfusi darah adalah tindakan memasukkan sel darah merah (darah
segar, pack red cell) ke dalam tubuh melalui vena. Transfusi darah adalah suatu
bentuk transplantasi jaringan atau organ dari seorang atau beberapa orang donor
kepada resipien, tetapi disini organ yang ditransplantasikan adalah darah.
Tujuan transfusi adalah memberikan kebutuhan sel darah merah yang sesuai indikasi.
Komponen komponen darah yang ditransfusikan seperti : darah lengkap (whole
blood), darah merah pekat (packed red cell), darah merah dicuci (washed red blood
cell), trombosit konsentrat (platelet concentrate), trombosit aferesis (platelet aferesis),
plasma beku (fresh frozen plasma), kriopresipitat (cryoprecipitate), defisiensi faktor
VIII, faktor XIII, fibrinogen, albumin, dan darah merah minim leukosit (leucocyte
poor RBC).
Oleh karena melakukan transfusi merupakan resiko yang sangat besar. Indikasi
dari pemberian transfusi adalah anemia yang disebakan penyakit, pada keadaan akut
seperti perdarahan yaitu kekurangan oksigen dengan keadaan seseorang yang lemas,
nyeri dada, sesak nafas dan penurunan tekanan darah. Pada keadaan kronis dengan
seseorang yang kekurangan darah sampai 25% dan Hb <7g/dl.
Sistem dari penggolongan darah ABO terdiri dari 4 kategori yaitu : AB, A, B
dan O. Sebelum melakukan transfusi darah harus dilakukan pemeriksaan uji silang
(cross match) dan kemudian sebelum darah dimasukkan pastikan darah sesuai dengan
golongan dan pastikan seseorang yang akan dilakukan transfusi tidak demam.
Sebelumnya darah yang akan dimasukkan dihangatkan terlebih dahulu sesuai dengan
suhu tubuh.
Reaksi transfusi dapat terjadi setelah pemberian transfusi ataupun sedang
berlangsungnya transfusi, reaksi yang terjadi berupa reaksi pirogen, reaksi alergi,
reaksi hemolitik, atau transmisi penyakit-penyakit infeksi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Transfusi darah adalah suatu bentuk transplantasi jaringan atau organ dari
seorang atau beberapa orang donor kepada resipien, tetapi disini organ yang
ditransplantasikan adalah darah.
Darah dan berbagai komponen darah dapat ditransfusikan secara terpisah
sesuai dengan kebutuhan. Darah tersusun dari pelbagai komponen iaitu eritrosit ( red
blood cells), trombosit pekat (thrombocyte concentrate), kriopresipitat, dan plasma
segar beku (fresh frozen plasma). Komponen darah yang ditransfusikan sesuai dengan
yang diperlukan akan mengurangi kemungkinan reaksi transfusi, circulatory overload
dan penularan infeksi yang terjadi dibandingkan dengan transfusi darah lengkap.
2.2 Golongan Darah

Sistem Golongan Darah ABO


Antigen antigen utamanya disebut dengan A dan B, sedangkan antibodi nya
disebut dengan anti-A dan anti-B. Gen gen yang menentukan ada tidaknya
aktivitas A atau B terletak di kromosom 9. Orang normal yang berusia lebih
dari 6 bulan hampir selalu memiliki antibodi alamiah yang bereaki dengan
antigen A atau B yang tidak terdapat dalam sel-sel mereka sendiri. Antibodi ini
terbentuk setelah tubuh terpajan dengan antigen-antigen yang banyak terdapat
di alam yang memiliki kemiripan struktur dan spesifitas dengan antigen sel
darah merah. Walaupun terpajan ke antigen A dan B di lingkungan, individu
tidak akan membentuk antibodi yang akan bereaksi dengan antigen sel darah
mereka sendiri.
Tabel 1. Penggolongan Darah Berdasarkan Sistem ABO
Golongan Darah
A
B
AB
O

Antigen
A
B
A dan B
Tidak Ada

Antibodi
Anti-B
Anti-A
Tidak Ada
Anti-A, anti-B. anti-A,B

Tabel 2. Penggolongan Darah Berdasarkan Sistem Rhesus


Anti Rho(D)
Positif

Kontrol Rh
Negatif

Tipe Rh
D+

Negatif
Positif

Negatif
Positif

D-(d)
Harus diulang atau diperiksa
dengan Rho(D) typing (Saline
tube test)

2.3 Macam Macam Komponen Darah


Selular
o Darah utuh (whole blood)
o Sel darah merah pekat (packed red cell) :
- Sel darah merah pekat dengan sedikit leukosit
(packed red blood cell leukocytes reduced).
- Sel darah merah pekat cuci (packed red blood cell washed).
- Sel darah merah pekat beku (packed red blood cell frozen,
packed red blood cell deglycerolized).
o Trombosit konsentrat (concentrate platelets):
- Trombosit dengan sedikit leukosit (platelets concentrate
leukocytes reduced).
o Granulosit feresis (granulocytes pheresis).

1.

Non Seluler
o Plasma segar beku (fresh frozen plasma).
o Plasma donor tunggal (single donor plasma).
o Kriopresipitat faktor anti hemophilia (cryoprecipitate AHF).

Macam Macam Derifat Plasma


o Albumin
o Immunoglobulin
o Faktor VIII dan faktor IX pekat
o Rh immunoglobulin
o Plasma ekspander sintetik
Darah Lengkap (Whole Blood)
Darah lengkap ini berisi sel darah merah, leukosit, trombosit dan plasma. Satu

unit kantong darah lengkap berisi 450 ml darah dan 63 ml antikoagulan, 250 ml darah
dengan 37 ml antikoagulan, dan 350 ml darah dengan 49 ml antikoagulan. Suhu
simpan antara 1o 6o C. Lama simpan dari darah lengkap ini tergantung dari
antikoagulan pada kantong darah; pada pemakaian sitrat fosfat dekstrose (CPD) lama
simpan adalah 21 hari, sedangkan dengan CPD adenine (CPDA) adalah 35 hari.
Menurut masa in vitro ada 2 macam darah lengkap yaitu :
o Darah segar adalah darah yang disimpan sampai 48 jam.
o Darah baru adalah darah yang disimpan sampai dengan 5 hari.

Indikasi
Darah lengkap berguna untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan volume
plasma dalam waktu yang bersamaan.

Kontraindikasi
Darah lengkap sebaiknya tidak diberikan kepada pasien dengan anemia kronik yang
normovolemik atau yang bertujuan meningkatkan sel darah merah.
Dosis dan Cara Pemberian
Dosis tergantung keadaan klinis pasien. Pada orang dewasa 1 unit darah lengkap
akan meningkatkan Hb sekitar 1g/dl atau hematokrit 3-4%. Pada anak-anak darah
lengkap 8 ml/kg akan meningkatkan Hb sekitar 1g/dl. Pemberian darah lengkap
sebaiknya melalui filter darah dengan kecepatan tetesan tergantung keadaan klinis
pasien, namun setiap unitnya sebaiknya diberikan dalam 4 jam.
2.

Sel Darah Merah Pekat (Packed Red Blood Cell)


Sel darah merah pekat berisi eritrosit, trombosit, leukosit dan sedikit plasma.

Sel darah merah ini dapat memisahkan sebagian besar plasma dari darah lengkap,
sehingga diperoleh sel darah merah dengan hematokrit 60-70%. Volume diperkirakan
150-300 ml tergantung besarnya kantung darah yang dipakai, dengan massa sel darah
merah 100-200 ml. Sel darah merah ini disimpan pada suhu 1o 6o C.

Indikasi
Sel darah merah pekat ini digunakan untuk meningkatkan jumlah sel darah merah
pada pasien yang menunjukkan gejala anemia, yang hanya memerlukan massa sel
darah merah pembawa oksigen saja. Keuntungannya adalah perbaikan oksigenasi
dan jumlah eritrosit tanpa menambah beban volume seperti pasien anemia dengan

gagal jantung.
Kontraindikasi
Dapat menyebabkan hipervolemia jika diberikan dalam jumlah banyak dalam waktu

singkat.
Dosis dan Cara Pemberian
Pada orang dewasa 1 unit sel darah merah pekat akan meningkat kan Hb sekitar
1g/dl atau hematokrit 3-4%. Pemberian sel darah ini harus melalui filter darah
standar (170). Hematoktrit yang tinggi dapat menyebabkan hiperviskositas dan
menyebabkan kecepatan transfusi menurun sehingga untuk mengatasinya maka
diberi salin normal 50-100 ml sebagai pencampur sediaan sel darah merah.
3.

Sel Darah Merah Pekat Cuci (Packed Red Blood Cell Washed).
Sel darah merah yang dicuci dengan normal salin memiliki hematokrit 70-80%

dengan volume 180 ml. pencucian dengan salin membuang hampir seluruh plasma
98%. Menurunkan konsentrasi leukosit dan trombosit serta debris. Karena

pembuatannya biasanya dilakukan dengan sistem terbuka maka komponen ini hanya
dapat disimpan dalam 24 jam dalam suhu 1o 6o C.

Indikasi
Pada orang dewasa komponen ini dipakai untuk mencegah reaksi alergi yang berat
atau alergi yang berulang, dapat pula digunakan pada transfusi neonatal atau

transfusi intrauteri.
Perhatian
Hati hati terhadap kontaminasi bakteri akibat cara pembuatannya secara terbuka,
masih dapat menularkan hepatitis dan infeksi bakteri lainnya. Karena masih

mengandung sejumlah kecil leukosit yang viable.


Dosis dan Cara pemberian
Sebaiknya semua proses transfusi melalui filter darah tanpa kecuali.
4.
Trombosit Pekat (Concentrate Platelets).
Berisi trombosit, beberapa leukosit dan sel darah merah serta plasma.
Trombosit pekat ini dapat diperoleh dengan cara pemutaran (centrifuge) darah
lengkap segar atau dengan cara tromboferesis. Satu kantong trombosit pekat yang
berasal dari 450 ml darah lengkap dari seorang donor berisi kira-kira 5,5 x 10 10
trombosit dengan volume sekitar 50 mL. Satu trombosit pekat yang diperoleh seorang
donor darah berisi sekitar 3 x 1011 trombosit, setara dengan 6 kantong trombosit yang
berasal dari donor darah biasa. Trombosit pekat ini dapat disimpan pada suhu 20 o
24o C dengan kantong darah biasa yang diletakkan pada rotator/agitator yang selalu
berputar/bergoyang. Trombosit dapat disimpan selama 3 hari sedangkan dengan
kantong darah khusus dapat disimpan selama 5 hari.

Indikasi
Trombosit pekat ini diindikasikan pada kasus perdarahan karena trombositopenia
(trombosit <50.000/L) atau trombositopati

kongenital atau didapat. Profilaksis

diberikan pada kasus dengan trombosit <50.000/ L yang berhubungan dengan


hipoplasi sumsum tulang akibat kemoterapi, invasi tumor atau aplasia primer sumsum

tulang.
Kontraindikasi dan Perhatian
Transfusi trombosit biasanya tidak efektif pada pasien dengan dekstrusi trombosit
yang cepat seperti : ITP, TTP dan KID dan transfusi biasanya dilakukan hanya pada
adanya perdarahan aktif. Menggigil, panas dan reaksi alergi dapat terjadipada
ttransfusi trombosit. Antipiretik yang dipilih seharusnya bukan golongan aspirin
karena dapat menghambat agregasi dan fungsi dari trombosit. Transfusi berulang dari
trombosit dapat menyebabkan aloimunisasi terhadap HLA dan antigen lainnya.

Dosis dan Cara Pemberian


Dosis yang biasanya digunakan pada perdarahan yang disebabkan karena
trombositopenia adalah 1 unit/10kgBB, biasanya dieprlukan 5-7 unit pada orang
dewasa. Satu kantong trombosit pekat yang berasal dari 450 mL darah lengkap
diperkirakan dapat menaikkan jumlah trombosit sebanyak 9000-11000/ul/m 2 luas
permukaan tubuh.
Perhitungan peningkatan jumlah trombosit yang dikoreksi (Corrected Count
Increment = CCI) dapat dihitung lebih akurat dengan memakai rumus :

CCI =
(Post tx plt ct)- (Post tx
plt ct) x BSA
(Plt transfused x 10

11

Keterangan : - Post tx : Pasca transfusi.


- Pre tx : Pratransfusi.
- BSA

: Body surface area (luas permukaan tubuh).

Keberhasilan transfusi trombosit dapat dipantau dengan menghitung jumlah trombosit


(CCI) 1 jam pasca transfusi dimana CCI >7,5-10 x 10 9/L atau CCI >4,5 x 109/L yang
diperiksa 18 24 jam pasca transfusi.
5.

Plasma Segar Beku (Fresh Frozen Plasma = FFP)


Plasma digunakan untuk mengganti kekurangan faktor koagulasi. Plasma

segar beku ini berisi plasma, semua faktor pembekuan stabil dan labil, komplemen
dan protein plasma. Plasma ini dipisahkan dari darah lengkap yang kemudian
dibekukan dalam waktu 8 jam setelah pengambilan darah dari donor dan disimpan
pada suhu minus 18oC atau lebih rendah dengan masa simpan 1 tahun. Volume sekitar
200-250 mL.

Indikasi
Plasma segar beku dipakai untuk pasien dengan gangguan proses pembekuan bila
tidak tersedia faktor pembekuan pekat atau kriopresipitat.
Kontraindikasi dan Perhatian
Plasma sebaiknya tidak digunakan untuk mempertahankan ekspansi volume karena
risiko penularan penyakit yang tinggi.
Dosis dan Cara Pemberian

Produk ini diberikan dalam 6 jam setelah pencairan, dengan memakai saringan/filter
standar. Plasma harus cocok dengan golongan ABO- nya dengan sel darah merah
pasien dan tidak perlu di uji silang. Jika plasma diberikan sebagai pengganti faktor
koagulasi dosisnya adalah 10-20 ml/kg (4-6 unit untuk orang dewasa) dapat
meningkatkan faktor koagulasi 20-30%, dapat pula meningkatkan faktor VIII 2% (1
unit/kg). Efek samping yang terjadi berupa menggigil, demam dan hipervolemia.
6. Kriopresipitat Faktor Anti Hemofilik (Cryoprecipitated AHF)
Kriopresipitat AHF adalah konsentrat plasma protein tertentu, dibuat dengan
mencairkan plasma segar beku pada sushu 4o C selama 12 24 jam atau pada
circulating waterbath 4o C selama 75 menit dan kemudian memisahkan komponen
yang masih berpresipitasi pada suhu dengan cara pemutaran. Kriopresipitat ini berisi
faktor VIII 80-120 unit, 150 - 250 mg fibrinogen, sekitar 40-70% faktor von
willebrand. 20-30% faktor XIII.

Indikasi
Kriopresipitat digunakan pada pasien dengan kekurangan FVIII (Hemofilia A) bila
F VIII pekat tidak tersedia, kekurangan F XIII, kekurangan fibrinogen dan untuk

pasien penyakit Von Willebrand.


Kontraindikasi dan Perhatian
Kriopresipitat tidak diberikan pada pasien yang tidak defisiensi faktor-faktor

tersebut diatas.
Dosis dan Cara Pemberian
Kriopresipitat harus dicairkan terlebih dahulu dengan menempatkan di waterbath
bersuhu 30-37o C. Komponen ini harus diberikan pada pasien dalam waktu 6 jam
setelah pencairan atau 4 jam setelah pooling. Dosis untuk hipofibrinogenemia
adalah 10 kantong pada orang dewasa dengan berat badan 70kg, dosis anak-anak
adalah 1 kantong/10kg dapat meningkatkan fibrinogen 60-100 mg/dl. Pada pasien
hemophilia A 1 kantong kriopresipitat yang mengandung 100 unit F VIII, 1
kantong/6 kg dapat meningkatkan F VIII 35%. Efek samping yang terjadi adalah
reaksi alergi dan demam.

7.

Albumin dan Fraksi Protein Plasma (Albumin and Plasma Protein


Fraction)
Albumin merupakan derivate plasma yang diperoleh dari darah lengkap atau

plasmaferesis, terdiri dari 96% albumin dan 4% globulin dan beberapa protein lain
yang dibuat dengan proses fraksinasi alkohol dingin. Fraksi protein plasma adalah
produk yang sama dengan albumin hanya dalam pemurniannya lebih kurang
dibandingkan dengan albumin proses fraksinasi. Fraksi protein plasma mengandung
83% albumin dan 17% globulin.
Albumin yang tersedia adalah 25% dan 5% sedangan fraksi protein plasma
tersedia adalah larutan 5%. Tiap sediaan mengandung natrium 145 mmol/L
(145mEq/L).

Indikasi
Albumin digunakan untuk meningkatkan volume sirkulasi/resusitasi misalnya pada

pasien luka bakar, keadaan hipovolemia dan hipoproteinemia.


Kontraindikasi dan Perhatian
Larutan albumin 25% tidak boleh diberikan pada pasien yang dehidrasi dan hanya

dapat diencerkan dengan salin normal dan dekstrose 5%.


Dosis dan Cara Pemberian
Albumin dan fraksi protein plasma tidak memerlukan filter dalam pemberiannya.
Pengobatan hipotensi dengan albumin hendaklah disesuaikan dengan hemodinamik
pasien. Dosis 500 mL (10-20 mL/kg pada anak-anak) diberikan secara cepat untuk
mengatasi syok.

2.4 Indikasi Transfusi


Oleh karena transfusi mempunyai risiko yang cukup besar, maka
pertimbangan risiko dan manfaat benar-benar harus dilakukan dengan cermat sebelum
memutuskan pemberian transfusi. Transfusi darah merupakan tindakan transplantasi,
yang dapat menyelamatkan nyawa dapat pula membawa bahaya. Hendaknya transfusi
dilakukan dengan indikasi yang jelas dan tepat. Indikasi transfusi digunakan pada
penyakit :
1. Anemia disebabkan penyakit.
2. Pada keadaan akut.
Perdarahan : kekurangan oksigen
Lemas
Nyeri dada
Sesak nafas
Penurunan TD

3. Pada keadaan kronis:


Kekurangan darah sampai 25%
Hb < 7 g/dl.

2.5 Reaksi Transfusi


Suatu reaksi yang dapat terjadi setelah pemberian darah, komponen-komponen
darah, atau berbagai cairan intravena. Reaksi yang dapat terjadi dapat berupa reaksi
pirogen, reaksi alergi, reaksi hemolitik, atau transmisi penyakit-penyakit infeksi.
1. Reaksi Pirogen
Reaksi pirogen ditandai dengan pasien kedinginan, diikuti demam biasanya dalam
1 jam setelah transfusi/infus. Biasanya menggigil hilang setelah 15-30 menit,
sedangkan demam akan menetap sampai beberapa jam.
Penatalaksanaan : pasien harus diselimuti dan bila mungkin diberikan air hangat
untuk minum. Reaksi pirogen biasanya tidak berbahaya.
2. Reaksi Alergi
Reaksi ini merupakan reaksi hipersensitivitas dari pasien terhadap komponen
yang tidak diketahui dari darah donor. Reaksi ini sering terjadi dan dihubungkan

dengan kemungkinan transmisi antibodi dari donor.


Manifestasi Klinis : urtikaria, edema, dan pusing kepala. Kadang kadang sesak

nafas dan mengi.


Penatalaksanaan : transfusi segera dihentikan, berikan epinefrin 1:1.000 sebanyak
0,5-1 ml subkutan, berikan antihistamin, preparat kortikosteroid parenteral.

3. Reaksi Hemolitik
Dapat disebabkan oleh inkompatibilitas golongan darah, inkompatibilitas plasma
atau serum dan pemberian cairan nonisotonik.
2.6 Komplikasi Transfusi
Komplikasi dapat digolongkan menurut :

Komplikasi Imunologi
Aloimunisasi : antigen eritrosit,

antigen HLA
- Antigen trombosit
- Antigen netrofil
- Protein Plasma
Reaksi transfusi

segera,tertunda (delayed)
Reaksi febris transfusi

Komplikasi Non Imunologi


Kelebihan (overload) volume
Transfusi massif : metabolik,
hipotermi,pengenceran,

hemolitik

mikroembolisasi paru.
Lainnya
:
plasticizer,

hemosiderosis transfusi.
Infeksi : hepatitis A,B,C, delta

Kerusakan

transfusi
Reaksi transfusi alergi
Purpura pasca transfusi
Pengaruh imunosupresi
Penyakit graft versus host

paru

akut

karena

dan

lainnya

Human

Immunodeficiency Virus -1/-2 ;


Human T lymphotropic Virus I/II ; virus sitomegalo ; virus
Epstein

Barr

kontaminasi

bakteri ; Sifilis, Parasit malaria,


Babesiosis,

tripanosoma

organisme lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Boedisoewarno, Salonder H, Buku ajar ilmu penyakit dalam, Jilid III.Edisi keenam.
FK-UI : Jakarta, 2839-2858.2014.
2. Manjoer A, Setiowulan W, Suprohaita, Eds, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Edisi
ketiga, Media Aesculapius, FK UI : Jakarta.2001.
3. Rani,Aziz, Panduan Pelayanan Medik. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Indonesia. FK-UI : Jakarta. 405-407.2006.
4. Sacher, Ronald A, McPherson, Richard. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan
Laboratorium. Edisi 11. EGC : Jakarta, 235 -271.2004.
5. available via pdf : http://www.who.int/bloodsafety/clinical_use/en/Handbook_En.pdf
6. available via pdf :
http://www.transfusionmedicine.ca/sites/transfusionmedicine/files/CBS-CGT-BM.pdf