Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Ilmu bedah atau operasi merupakan cabang ilmu pengobatan atau terapi yang
mengusahakan pulihnya keadaan normal akibat suatu penyakit atau gangguan dengan
menggunakan alat (instrumen), tangan (manual) dan mekanis. Menurut pedoman
standar perawatan untuk operasi hewan, dapat dilakukan secara bervariasi tergantung
jenis dan tujuan dari hewan tersebut. Banyak operasi pembedahan pada hewan
membutuhkan beberapa jenis protokol. Salah satunya adalah pembedahan yang
dilakukan pada sistem digesti. Pembedahan ini spesifik dilakukan untuk menangani
gangguan yang terjadi pada sistem digesti atau pencernaan.
Pembedahan pada sistem digesti atau pencernaan yang sering dilakukan adalah
pharingotomy, oesophagotomy, oesophagostomy, gastrotomy, rumenotomy, enterotomy,
enteroctomy, colotomy, colectomy, perineal fistula, fistula rectovaginalis, serta
amputasi dan reposisi prolapsus rektum.

1.2

Rumusan Masalah
Bagaimana definisi, persiapan dan pasca operasi bedah sistem digesti veteriner?

1.3

Tujuan Penulisan
Penulisan paper ini bertujuan untuk mengetahui tentang definisi, persiapan, dan
pasca operasi bedah sistem digesti veteriner.

1.4

Manfaat Penulisan
Penulisan paper ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah tentang
definisi, persiapan, dan pasca operasi bedah sistem digesti veteriner.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pharyngotomy
Pharyngotomy adalah tindakan pembedahan untuk melakukan insisi pada
pharyng. Biasanya dilakukan untuk memasang endotracheal intubation atau feeding
tube. Pembedahan ini merupakan prosedur bedah untuk meminimalkan kesulitan jika
pencernaan secara oral mengalami gangguan. Indikasi dilakukan pharyngotomy adalah
hewan tidak mau dan tidak mampu untuk makan (karena pneumonitis, uremia, fraktur
mandibula dan maxilla akut). Selain itu, jika proses kesembuhan setelah operasi
oesophagus sulit mengalami kesembuhan dan hewan dengan dilatasi gastrium atau
gejala dilatasi volvulus, maka pharyngotomy tube dapat digunakan untuk mengeluarkan
akumulasi gas dan cairan dari lambung. Anestesi yang digunakan adalah anestesi umum
(short acting) atau anestesi lokal jika hewan mengalami depresi.
Gambar : Pharyngotomy

2.2

Oesophagotomy dan Oesophagostomy


Oesophagotomy merupakan suatu tindakan pembedahan dengan jalan melakukan
insisi atau membuka lumen oesophagus. Sedangkan, oesophagostomy merupakan
tindakan operasi dengan perlakuan reseksi parsial pada oesophagus untuk membuat
lubang pada oesophagus. Indikasi operasi oesophagotomy adalah terjadi penyumbatan
pada oesophagus oleh benda-benda asing seperti: kelereng, biji buah-buahan, maupun
potongan tulang.
Gambar : Oesophagotomy

2.3

Gastrotomy dan Rumenotomy


Gastrotomy adalah operasi membuka gastrium atau dinding lambung yang
dilakukan untuk mengambil benda asing, inspeksi mukosa gastrium terhadap
kemungkinan ulcer, neoplasma atau hipertropi dan untuk mengambil spesimen biopsi
serta diagnosis. Gastrotomy sering diindikasikan untuk pencegahan langkahlangkah
dalam permasalahan lambung, pemulihan posisi abnormalitas dalam pengeluaran
benda-benda asing, dan pengangkatan tomor lambung, mengatasi penyempitan spincter
pylorus dan trauma keras di dalam lambung.

Rumenotomi merupakan salah satu metode operasi membuka rumen dengan


membuat insisi pada dinding rumen. Indikasi dari rumenotomi adalah bloat berair,
adanya benda asing pada distal esofagus, rumen dan retikulum, trauma retikulitis,
adanya atoni omasum dan abomasum, untuk eksplorasi rumenotomi untuk diagnosis
penyakit pada intraruminan, menelan tanaman beracun, dan hernia diafragma.

Gambar : Gastrotomy

Gambar : Rumenotomy
2.4

Enterotomy dan Enterectomy


Enterotomi adalah teknik operasi terbuka dengan suatu tindakan penyayatan
Laparotomy yang dilakukan pada daerah linea alba posterior yang meliputi kulit,
fascia, musculus dan peritoneum sepanjang 45 cm. Selain itu, enterotomy
didefinisikan sebagai operasi untuk membuka dinding usus untuk mengambil benda
asing (tulang yang keras, kaca, kawat, besi, seng dan rambut) atau kemungkinan adanya
gangren pada usus) dan dilakukan apabila jaringan usus masih baik, yaitu bila pulsasi
masih ada, jaringan tidak mengalami nekrosis, elastisitas usus masih baik dan warna
jaringan masih muda. Enterotomi dilakukan untuk menghindari terjadi nekrosis pada
usus yang disebabkan benda asing.
Gambar : Enterotomy

2.5

Colostomy dan Colectomy


Indikasi colostomy adalah untuk pengangkatan kanker, namun kadang-kadang
diperlukan pada penyakit infeksi usus dan penyakit divertikulum, dan pada
pembedahan yang darurat untuk perforasi atau obstruksi pada usus.

Gambar Colectomy
Gambar Colostomy

2.6

Perineal Fistula dan Fistula Rectovaginalis


Fistula rectovaginal merupakan kondisi abnormal pada saluran antara bagian
bawah usus besar atau rektum dengan vagina yang bertanggung jawab atas
pencampuran urofecal dan vulva menjadi normal, berfungsi sebagai lubang utama
untuk pencernaan dan saluran urogenital. Deformitas ini disertai dengan atresia ani dan
tertutupnya kantong recta akhir daerah anterior di tempat dekat anus. Fusi parsial atau
bibir vulva lengkap menyebabkan penyatuan ekskresi mengarah ke pengembangan
abnormal yang menonjol dari ukuran variabel dan merusak kontur normal.
Gambar : Fistula Retrovaginalis

2.7

Gambar : Perineal Fistula


Amputasi dan Reposisi Prolapsus Rectum
Prolapsus rektum adalah protrusio atau keluarnya satu atau lebih lapisan rectum
melalui anal orifisium. Prolapsus yang terjadi dapat bersifat parsial atau komplet
bergantung pada struktur yang terlibat. Pada prolapsus rektum parsial, hanya lapisan
mukosa yang keluar, sementara pada prolapsus rektum komplet semua blapisan rektum
ikut keluar. Prolapsus rektum ini dapat terjadi pada semua bangsa anjing dan tidak
tergantung jenis kelamin. Sebagian besar kasus terjadi pada hewan yang lebih muda.
Prolapsus rektum seringkali disebabkan oleh adanya tumor pada rektum ataupun
anus, dapat pula akibat adanya benda asing, cystitis, obstruksi urethra, dan distokia.

Pada hewan kecil, seperti anjing, prolapsus rektum sering terjadi karena adanya
gangguan pada sistem digesti, seperti diare, tenesmus, gangguan prostat dan saluran
urinaria bagian bawah yang terjadi secara terus-menerus (Sherding, 1996).
Prolapsus rektum pada hewan dapat disembuhkan dengan melakukan tindakan
pembedahan. Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah dengan melakukan
amputasi atau reposisi pada rektum. Amputasi rektum dilakukan apabila prolapsus yang
terjadi sudah menjadi nekrosis. Sedangkan reposisi rektum dapat dilakukan apabila
prolapsus rektum yang terjadi belum berat dan bagian mukosa hanya mengalami sedikit
kerusakan. (Sudisma, I.G.N., et al., 2006)

2.8

Persiapan dan Pasca Opeerasi Sistem Digesti


1) Persiapan Operasi
Jhgjhg

2)

Pasca Operasi

Perawatan Pasca Operasi Colostomy


1.

Setelah operasi hewan di puasakan selama kurang lebih 4-6 hari

2.

Pakan di berikan selama parenteral dalam bentuk infus dan antibiotic secara

intravena
3.

Pada hewan yang mengalami hypothermic, dilakukan penghangatan

4.

Setelah 24 jam boleh diberikan makanan halus dalam bentuk bubur sedikit

demi sedikit dan air atlibitum selama 2 minggu.


5.

Jahitan di buka 10-14 hari pasca operasi

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Bedah sistem digesti veteriner terdiri dari pharingotomy, oesophagotomy,
oesophagostomy, gastrotomy, rumenotomy, enterotomy, enteroctomy, colotomy,
colectomy, perineal fistula, fistula rectovaginalis, serta amputasi dan reposisi prolapsus
rektum.
Tujuan sistem bedah digesti veteriner antara lain : untuk memulihkan keadaan
normal dari gangguan atau penyakit sistem pencernaan menyelamatkan jiwa pasien,
serta menunjang diagnosis

3.2

Saran
Agar operasi sistem digesti veteriner dapat berjalan sukses tanpa ada hal-hal yang
mengganggu jalannya operasi dan menghambat kesembuhan operasi, maka harus
memperhatikan tahapan persiapan praoperasi, postoperasi, dan perawatan pasca
operasi.

ENTEROTOMY DAN GASTROTOMY GOOD

DAFTAR PUSTAKA