Anda di halaman 1dari 23

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

1. Definisi Bayi Berat Lahir Rendah


Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah neonatus dengan berat
badan lahir pada saat kelahiran kurang dari 2.500 gram (sampai 2.499 gram). BBLR
adalah bayi yang lahir dengan berat lahir kurang 2.500 gram tanpa memandang masa
kehamilan (Prawirohardjo, 2008).
Dahulu neonatus dengan berat kelahiran kurang dari 2500 gram atau sama
dengan 2500 disebut prematur. Pada tahun 1961 menurut WHO semua bayi baru lahir
dengan berat lahir kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infant. Hal ini
dilakukan karena tidak semua bayi berat kurang dari 2500 gram pada waktu lahir
merupakan bayi yang prematur.
Secara umum bayi BBLR ini dihubungkan dengan usia kehamilan yang belum
cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas, yaitu bayi lahir
cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan lahirnya lebih kecil
dibandingkan masa kehamilannya, yaitu tidak mencapai 2.500 gram.
2. Klasifikasi Bayi Berat Lahir Rendah
Secara khusus BBLR memiliki pengelompokan sendiri. Ada beberapa cara yang
bisa dilakukan dalam mengelompokkan BBLR, yaitu (Usman, 2008; Proverawati, 2010):

Menurut harapan hidup :


a) Bayi berat lahir rendah (BBLR), berat lahir 1.500-2.500 gram
b) Bayi berat lahir sangat rendah ( BBLSR), berat lahir 1.000-1.500 gram
c) Bayi dengan berat badan ekstrim rendah (BBLER), berat lahir kurang dari 1.000
gram
Menurut masa gestasinya :
a) Prematuritas murni, masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya
sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi berat atau biasa disebut
neonatus kurang bulan sesuai dengan masa kehamilan
b) Dismaturitas, bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya
untuk masa gestasi itu. Bayi mengalami mengalami retardasi pertumbuhan intra
uterin atau lebih dikenal Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) dan merupakan

bayi yang kecil untuk masa kehamilannya.


Klasifikasi berat badan bayi baru lahir dapat dibedakan atas (Manuaba, 2007):
a) Bayi dengan berat badan normal, 2.500-4.000 gram
b) Bayi dengan berat badan lebih, lebih 4.000 gram
c) Bayi dengan berat badan rendah, kurang dari 2.500 gram/1.500-2.500 gram
d) Bayi dengan berat badan sangat rendah, kurang dari 1.500 gram
e) Bayi dengan berat badan ekstrim rendah, kurang dari 1.000 gram
Klasifikasi bayi berdasarkan masa gestasi, dihitung dari hari pertama haid terakhir
sampai saat kelahiran, yaitu (Manuaba, 2007) :

a) Bayi kurang bulan (preterm), adalah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37
minggu (259 hari)
b) Bayi cukup bulan (aterm), adalah bayi dengan masa kehamilan mulai 37 minggu
sampai 42 minggu (259-293 hari)
c) Bayi lebih bulan (post-term), adalah bayi dengan masa kehamilan lebih dari 42
minggu (294 hari atu lebih)
3. Faktor Resiko Bayi Berat Lahir Rendah
Penyebab terjadinya bayi BBLR secara umum bersifat multifaktorial, sehingga
kadang mengalami kesulitan untuk melakukan tindakan pencegahan. Namun, penyebab
terbanyak bayi BBLR adalah kelahiran prematur. Semakin muda usia kehamilan
semakin besar resiko jangka pendek dan jangka panjang dapat terjadi (Proverawati,
2010).
Berikut adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan bayi BBLR secara umum, yaitu
sebagai berikut (Kliegman et al., 2007; Manuaba, 2007):
1) Faktor Ibu
a) Usia ibu
Usia reproduksi yang optimal bagi seorang ibu adalah 20-35 tahun karena
pada usia tersebut rahim sudah siap menerima kehamilan mental sudah matang
dan mampu merawat bayi dan dirinya (Draper, 2001). Pada usia kurang dari 20
tahun, organ-organ reproduksi belum berfungsi dengan sempurna, rahim dan
panggul ibu belum tumbuh mencapai ukuran dewasa sehingga bila terjadi
kehamilan dan persalinan akan lebih mudah mengalami komplikasi dan pada
usia lebih dari 35 tahun terjadi penurunan kesehatan reproduktf karena proses
degeneratif sudah mulai muncul. Salah satu efek dari proses degeneratif adalah
sklerosis pembuluh darah arteri kecil dan arteriole miometrium menyebabkan
aliran darah ke endometrium tidak merata dan maksimal sehingga dapat
mempengaruhi penyaluran nutrisi dari ibu ke janin dan membuat gangguan
pertumbuhan janin dalam rahim (Cunningham et al., 2005 ; Prawirohardjo, 2008).
b) Paritas
Paritas menunujukkan jumlah anak yang pernah dilahirkan oleh seorang
wanita. Paritas merupakan faktor resiko penting dalam menentukan nasib ibu
baik selama kehamilan maupun persalinan (Mochtar, 1998). Resiko kesehatan
ibu dan anak meningkat pada persalinan pertama, keempat dan seterusnya.
Kehamilan dan persalinan pertama meningkatkan resiko kesehatan yang timbul
karena ibu belum pernah mengalami kehamilan sebelumnya, selain itu jalan lahir
baru akan dicoba dilalui janin. Sebaliknya bila terlalu sering melahirkan rahim
akan menjadi semakin melemah karena jaringan parut uterus akibat kehamilan
berulang. Jaringan parut ini menyebabkan tidak adekuatnnya persediaan darah

ke plasenta sehingga plasenta tidak mendapat aliran darah yang cukup untuk
menyalurkan nutrisi ke janin akibatnya pertumbuhan janin terganggu (Depkes RI,
2005).
c) Jarak dari kehamilan yang terlalu dekat atau pendek (kurang dari dua tahun)
Jarak kehamilan kurang dari dua tahun dapat menimbulkan pertumbuhan
janin kurang baik, persalinan lama dan perdarahan pada saat persalinan karena
keadaan rahim belum pulih dengan baik (Kliegman et al., 2007). Jarak kelahiran
anak sebelumnya kurang dari dua tahun, rahim dan kesehatan ibu belum pulih
dengan baik, sehingga pada kehamilan ini perlu diwaspadai karena kemungkinan
terjadi pertumbuhan janin yang kurang baik (BBLR) (Viktor, 2006).
d) Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya
Riwayat persalinan tidak normal yang pernah dialami ibu sebelumnya,
seperti perdarahan, abortus, prematuritas, BBLR dll merupakan resiko tinggi
untuk persalinan berikutnya. Keadaan-keadaan itu perlu diwaspadai karena
kemungkinan ibu akan mengalami kesulitan persalinan berikutnya (Pincus,
1998). Riwayat BBLR berulang dapat terjadi biasanya pada kelainan anatomis
dari uterus, seperti septum uterus, biasanya septum pada uterus avaskular dan
terjadi keadaan kegagalan vaskularisasi ini akan menyebabkan gangguan pada
perkembangan plasenta. Septum akan mengurangi kapasitas dari endometrium
sehingga dapat menghambat pertumbuhan janin, selain itu dapat menyebabkan
keguguran pada trimester dua dan persalinan prematur (Prawirohardjo, 2008)
e) Komplikasi kehamilan
Beberapa komplikasi langsung dari kehamilan seperti anemia,
perdarahan, preeklamsia/eklamsia, hipertensi, ketuban pecah dini dan kelainan
lainnya, keadaan tersebut mengganggu kesehatan ibu dan juga pertumbuhan
janin dalam kandungan sehingga meningkatkan resiko kelahiran bayi dengan
f)

berat rendah (Cunningham et al., 2005; Prawirohardjo, 2008; Manuaba, 2010 ).


Keadaan sosial ekonomi
Kejadian tertinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi rendah. Sosial
ekonomi

masyarakat

sering

dinyatakan

dengan

pendapatan

keluarga,

mencerminkan kemampuan masyarakat dari segi ekonomi dalam memenuhi


kebutuhan, kesehatan, dan pemenuhan gizi. Selain itu juga kondisi sosial
ekonomi seseorang mempengaruhi kemampuan untuk mendapat pelayanan
kesehatan yang memadai misalnya, kemampuan untuk melakukan kunjungan
prenatal untuk memastikan ada gangguan pada janin dan adanya komplikasi
yang terjadi pada kehamilan. Wanita pada tingkat sosial ekonomi (pekerjaan dan
pendidikan) rendah mempunyai kemungkinan 50% lebih tinggi mengalami
kelahiran kurang bulan yang menyebabkan bayi lahir dengan berat badan
kurang. Frekuensi persalinan kurang bulan juga dua kali lipat lebih besar pada

buruh kasar, yang mengerjakan aktivitas fisik berlebih dibandingkan dengan yang
terpelajar (Jusuf, 2008).
g) Sebab lain
Kebiasaan ibu yang juga menjadi faktor resiko BBLR yaitu, ibu yang
merokok baik aktif maupun pasif dan ibu yang menggunakan NAPZA. Asap rokok
mengandung sejumlah teratogen potensial seperti nikotin, karbon monoksida,
sianida, tar dan berbagai hidrokarbon. Zat-zat ini selain bersifat fetotoksik, juga
memiliki efek vasokonstriksi pembuluh darah dan mengurangi kadar oksigen dan
gangguan pembuluh darah sehingga membuat aliran nutrisi dari ibu ke janin
terhambat dan terganggu, akhirnya pertumbuhan janin terhambat (Cuningham et
al., 2005).
2) Faktor Janin
Trisomi 18 lebih dikenal sebagai sindrom Edward terjadi pada 1 dari 8000
neonatus. Janin dan neonatus trisomi 18 biasanya mengalami hambatan
pertumbuhan dengan rata-rata berat lahir 2340 gram. Penampakan wajah yang
mencolok adalah oksiput menonjol, daun telinga terpuntir dan bentuknya aneh, fisura
palpebra pendek dan mulut kecil. Hampir semua sistem organ dapat terkena trisomi
18. Hampir 95% mengidap cacat jantung, terutama defek septum ventrikel atau
atrium. Kelainan ginjal, aplasia radial, jari tumpang tindih dapat ditemukan. Melihat
banyaknya cacat bawaan yang didapat hasil akhir bisanya sangat buruk
(Cunningham et all., 2005).
3) Faktor Plasenta
Faktor plasenta juga mempengaruhi pertumbuhan janin yaitu besar dan berat
plasenta, tempat melekat plasenta pada uterus, tempat insersi tali pusat, kelainan
pada plasenta. Kelainan plasenta terjadi karena tidak berfungsinya plasenta dengan
baik sehingga menyebabkan gangguan sirkulasi oksigen dalam plasenta. Lepasnya
sebagian plasenta dari perlekatannya dan posisi tali pusat yang tidak sesuai dengan
lokasi pembuluh darah yang ada di plasenta dapat mengakibatkan terjadinya
gangguan aliran darah plasenta ke janin sehingga pertumbuhan janin terhambat
(Cunningham et al., 2005).
4) Faktor Lingkungan
Lingkungan juga mempengaruhi untuk menjadi resiko untuk melahirkan
BBLR. Faktor lingkungan yaitu bila ibu bertempat tinggal di dataran tinggi seperti
pegunungan. Hal tersebut menyebabkan rendahnya kadar oksigen sehingga suplai
oksigen terhadap janin menjadi terganggu. Ibu yang tempat tinggalnya di dataran
tinggi beresiko untuk mengalami hipoksia janin yang menyebabkan asfiksia
neonatorum. Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap janin oleh karena
gangguan oksigenisasi/kadar oksigen udara lebih rendah dan dapat menyebabkan
lahirnya bayi BBLR. Radiasi dan paparan zat-zat racun juga berpengaruh, kondisi

tersebut dikhawatirkan terjadi mutasi gen sehingga dapat menimbulkan kelainan


kongenital pada janin (Sistiarani, 2008).
Berdasarkan tipe BBLR, penyebab terjadinya bayi BBLR dapat digolongkan menjadi
sebagai berikut (Manuaba, 2007; Proverawati, 2010 ):
BBLR tipe KMK, disebabkan oleh :
a) Ibu hamil yang kekurangan nutrisi
b) Ibu memiliki hipertensi, preeklampsia, atau anemia
c) Kehamilan kembar, kehamilan lewat waktu
d) Malaria kronik, penyakit kronik
e) Ibu hamil merokok
BBLR tipe prematur, disebabkan oleh :
a) Berat badan ibu yang rendah, ibu hamil yang masih remaja, kehamilan
kembar
b) Pernah melahirkan bayi prematur sebelumnya
c) Cervical incompetence (mulut rahim yang lemah hingga tak mampu menahan
berat bayi dalam rahim)
d) Perdarahan sebelum atau saat persalinan ( antepartum hemorrage)
e) Ibu hamil sedang sakit
f) Kebanyakan idiopatik
4. Manifestasi Klinis Bayi Berat Lahir Rendah
Secara umum gambaran klinis dari bayi BBLR adalah sebagai berikut (Manuaba,
2010):
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

Berat kurang dari 2.500 gram


Panjang kurang dari 45 cm
Lingkar dada kurang dari 30 cm dan lingkar kepala kurang dari 33 cm
Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak berkurang
Otot hipotonik lemah dan pernafasan tidak teratur dapat terjadi apnea
Ekstremitas : paha abduksi, sendi lutut fleksi
Pernafasan 40-50 kali per menit dan nadi 100-140 kali per menit

5. Diagnosis Bayi Berat Lahir Rendah


a) Anamnesa
Menanyakan pada ibu riwayat kehamilan dan faktor-faktor apa saja yang
berpengaruh dengan kejadian BBLR, seperti umur ibu, riwayat hari pertama haid
terakhir, riwayat persalinan sebelumnya, komplikasi obstetris yang didapat dan faktor
lain yang berpengaruh. Gejala yang dialami selama kehamilan seperti pembesaran
uterus yang tidak sesuai kehamilan, gerakan janin yang lambat, dan pertambahan berat
badan ibu yang lambat dan tidak sesuai menurut yang seharusnya (Mochtar, 1998).
b) Ballard Score
Ballard score merupakan suatu versi sistem Dubowitz. Pada prosedur ini
penggunaan kriteria neurologis tidak tergantung pada keadaan bayi yang tenang dan
beristirahat, sehingga lebih dapat diandalkan selama beberapa jam pertama
kehidupan. Penilaian menurut Ballard adalah dengan menggabungkan hasil

penilaian maturitas neuromuskuler dan maturitas fisik. Kriteria pemeriksaan maturitas


neuromuskuler diberi skor, demikian pula kriteria pemeriksaan maturitas fisik. Jumlah
skor pemeriksaan maturitas neuromuskuler dan maturitas fisik digabungkan,
kemudian dengan menggunakan tabel nilai kematangan dicari masa gestasinya.
Penjelasan :

1.

Kulit
Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur intrinsiknya bersamaan

dengan hilangnya lapisan pelindung secara bertahap. Oleh karena itu, kulit akan mengering
dan menjadi kusut dan mungkin akan timbul ruam.Pada jangka panjang, janin dapat
mengalihkan mekonium ke dalam cairan ketuban. Hal ini dapat menambahkan efek untuk
mempercepat proses pengeringan, menyebabkan kulit mengelupas, menjadi retak seperti
dehidrasi, kemudian menjadi kasar.

2.

Lanugo
Lanugo adalah rambut halus menutupi tubuh janin. Pada orang dewasa, kulit tidak

memiliki lanugo. Hal ini mulai muncul di sekitar minggu 24 sampai 25 dan biasanya muncul
terutama di bahu dan punggung atas, pada minggu 28 kehamilan. Penipisan terjadi pertama
di atas punggung bawah, karena posisi janin yang tertekuk. Daerah kebotakan muncul dan

menjadi lebih besar pada daerah lumbo-sakral. Variabilitas dalam jumlah dan lokasi lanugo
pada usia kehamilan tertentu mungkin disebabkan sebagian ciri-ciri keluarga atau ras,
pengaruh hormonal, metabolisme, dan gizi tertentu. Sebagai contoh, bayi dari ibu diabetes
khas memiliki lanugo berlimpah di pinnae mereka dan punggung atas sampai mendekati
atau melampaui usia kehamilan. Untuk tujuan penilaian, pemeriksa memilih yang paling
dekat menggambarkan jumlah relatif lanugo pada daerah atas dan bawah dari punggung
bayi.

3.

Garis Telapak Kaki


Bagian ini berhubungan dengan lipatan di telapak kaki. Penampilan pertama dari lipatan

muncul di telapak anterior kaki. ini mungkin berhubungan dengan fleksi kaki di rahim, tetapi
bisa juga karena dehidrasi kulit. Bayi non-kulit putih telah dilaporkan memiliki lipatan kaki
sedikit pada saat lahir. Tidak ada penjelasan yang dikenal untuk ini. Di sisi lain dilaporkan,
percepatan perkembangan neuromuskuler pada bayi kulit hitam biasanya mengkompensasi
ini, mengakibatkan efek lipatan kaki tertunda. Oleh karena itu, biasanya tidak ada
berdasarkan diatas atau di bawah perkiraan usia kehamilan karena ras ketika total skor
dilakukan. Bayi sangat prematur dan sangat tidak dewasa tidak memiliki lipatan kaki. Untuk
lebih membantu menentukan usia kehamilan, mengukur panjang kaki atau jarak jari dan
tumit. Hal ini dilakukan dengan menempatkan kaki bayi pada pita pengukur metrik dan
mencatat jarak dari belakang tumit ke ujung jari kaki yang besar. Untuk jarak kurang dari 40
mm, skor (-2) ; antara 40 dan 50 mm, skor (-1).

4.

Payudara
Tunas payudara terdiri dari jaringan payudara yang dirangsang untuk tumbuh dengan

estrogen ibu dan jaringan lemak yang tergantung pada status gizi janin. pemeriksa catatan
ukuran areola dan ada atau tidak adanya stippling (perkembangan papila dari Montgomery).
Palpasi jaringan payudara di bawah kulit dengan memegangnya dengan ibu jari dan
telunjuk, memperkirakan diameter dalam milimeter, dan memilih yang sesuai pada lembar
skor. Kurang dan lebih gizi janin dapat mempengaruhi variasi ukuran payudara pada usia
kehamilan tertentu. Efek estrogen ibu dapat menghasilkan ginekomastia neonatus pada hari
keempat kehidupan ekstrauterin.

5.

Mata / Telinga
Perubahan pinna dari telinga janin dapat dijadikan penilaian konfigurasi dan

peningkatan konten tulang rawan sebagai kemajuan pematangan. Penilaian meliputi palpasi
untuk ketebalan tulang rawan, kemudian melipat pinna maju ke arah wajah dan
melepaskannya. Pemeriksa mencatat kecepatan pinna dilipat dan kembali menjauh dari
wajah ketika dilepas, kemudian memilih yang paling dekat menggambarkan tingkat
perkembangan cartilago. Pada bayi yang sangat prematur, pinnae mungkin tetap terlipat
ketika dilepas. Pada bayi tersebut, pemeriksa mencatat keadaan pembukaan kelopak mata
sebagai indikator tambahan pematangan janin. Pemeriksa meletakan ibu jari dan telunjuk
pada kelopak atas dan bawah, dengan lembut memisahkannya. Bayi yang sangat belum
dewasa akan memiliki kelopak mata menyatu erat, yaitu, pemeriksa tidak akan dapat
memisahkan fisura palpebra walaupun dengan traksi lembut. Bayi sedikit lebih dewasa akan
memiliki satu atau kedua kelopak mata menyatu tetapi satu atau keduanya akan sebagian

dipisahkan oleh traksi ujung jari pemeriksa. Temuan ini akan memungkinkan pemeriksa
untuk memilih pada lembar skor (-2) untuk sedikit menyatu, atau (-1) untuk longgar atau
kelopak mata sebagian menyatu.

6.

Genitalia Pria
Testis janin mulai turun dari rongga peritoneum ke dalam kantong skrotum pada sekitar

minggu 30 kehamilan. Testis kiri mendahului testis kanan yang biasanya baru memasuki
skrotum pada minggu ke-32. Pada saat testis turun, kulit skrotum mengental dan
membentuk rugae lebih banyak. Testis ditemukan di dalam zona rugated dianggap turun.

7.

Genitalia Wanita
Untuk memeriksa bayi perempuan, pinggul harus dinaikan sedikit, sekitar 45 dari

horizontal dengan bayi berbaring telentang. hal ini menyebabkan klitoris dan labia minora
menonjol. Dalam prematuritas ekstrim, labia dan klitoris yang datar sangat menonjol dan
mungkin menyerupai kelamin laki-laki. Pematangan berlangsung jika ditemukan klitoris
kurang menonjol dan labia minora menjadi lebih menonjol. Lama-kelamaan, baik klitoris dan
labia minora surut dan akhirnya diselimuti oleh labia majora yang makin besar. Labia
mayora mengandung lemak dan ukuran mereka dipengaruhi oleh nutrisi intrauterin. Gizi
lebih dapat menyebabkan labia majora besar di awal kehamilan, sedangkan gizi kurang
seperti

pada

retardasi

pertumbuhan

intrauterin

atau

pasca-jatuh

tempo,

mengakibatkan labia majora kecil dengan klitoris dan labia minora relatif menonjol.

dapat

b.

Maturitas Neuromuskuler

Penjelasan :
1. Postur
Otot tubuh total tercermin dalam sikap yang disukai bayi saat istirahat dan ketahanan
untuk meregangkan kelompok otot. Saat pematangan berlangsung, gerak otot
meningkat secara bertahap mulai dari fleksor pasif yang berlangsung dalam arah
sentripetal, dengan ekstremitas bawah sedikit di depan ekstremitas atas. Untuk
mendapatkan item postur, bayi ditempatkan terlentang dan pemeriksa menunggu
sampai bayi mengendap dalam posisi santai atau disukai. Jika bayi ditemukan telentang
santai, manipulasi lembut dari ekstremitas akan memungkinkan bayi untuk mencari
posisi dasar kenyamanan. bentuk yang paling dekat menggambarkan postur yang
disukai bayi.

2. Jenela pergelangan tangan


Fleksibilitas pergelangan dan / atau resistensi terhadap peregangan ekstensor
bertanggung jawab untuk sudut yang dihasilkan dari fleksi pada pergelangan tangan.
Pemeriksa meluruskan jari-jari bayi dan berikan tekanan lembut pada dorsum tangan,
dekat jari-jari. Sudut yang dihasilkan antara telapak tangan dan lengan bawah bayi
diperkirakan; > 90 , 90 , 60 , 45 , 30 , dan 0 .

3. Gerakan lengan membalik


Manuver ini berfokus pada gerakan fleksor pasif otot bisep dimana akan diukur sudut
dari ekstremitas atas. Dengan bayi berbaring telentang, pemeriksa menempatkan satu
tangan di bawah siku bayi. Kemudian, ambil tangan bayi dan pemeriksa membuat
lengan bayi dalm posisi fleksi, sesaat kemudian lepaskan. Sudut mundur lengan saat
kembali dicatat, dan dipilih pada lembar skor. Bayi yang sangat prematur tidak akan
menunjukkan pengembalian lengan.

4. Sudut popliteal

Manuver ini menilai pematangan gerakan fleksor pasif sendi lutut dengan pengujian
untuk ketahanan terhadap perpanjangan ekstremitas bawah. Dengan posisi bayi
berbaring telentang, kemudian paha ditempatkan lembut pada perut bayi dengan lutut
tertekuk penuh. Setelah bayi telah rileks dalam posisi ini, pemeriksa menggenggam kaki
dengan satu tangan sementara mendukung sisi paha dengan tangan lainnya. Jangan
berikan tekanan pada paha belakang. Kaki diperpanjang sampai resistensi pasti untuk
ekstensi. Pada beberapa bayi, kontraksi hamstring dapat digambarkan selama manuver
ini.

5. Scarf Sign (Tanda selendang)


Manuver ini dilakukan dengan mengukur gerakan pasif fleksor bahu. Bayi dalam posisi
berbaring terlentang, pemeriksa menyesuaikan kepala bayi untuk garis tengah dan
meletakan tangan bayi di dada bagian atas dengan satu tangan. Ibu jari tangan lain
pemeriksa ditempatkan pada siku bayi. Pemeriksa kemudian mendorong siku ke arah
dada. Titik pada dada saat siku bergerak dengan mudah sebelum resistensi yang
signifikan, dicatat. Batasnya adalah: leher (-1); aksila kontralateral (0); papila mamae
kontralateral (1); prosesus xyphoid (2); papila mamae ipsilateral (3), dan aksila ipsilateral
(4).

6. Tumit ke Telinga
Manuver ini mengukur gerakan fleksor pasif panggul dengan tes fleksi pasif atau
resistensi terhadap perpanjangan otot fleksor pinggul posterior. Bayi ditempatkan
terlentang dan tekuk ekstremitas bawahnya. Pemeriksa mendukung paha bayi lateral

samping tubuh dengan satu telapak tangan. Sisi lain digunakan untuk menangkap kaki
bayi dan tarik ke arah telinga ipsilateral. Pemeriksa mencatat ketahanan terhadap
perpanjangan fleksor panggul posterior dan lokasi dari tumit saat resistensi yang
signifikan. Batasnya adalah: telinga (-1); hidung (0); dagu (1); papila mamae (2); daerah
pusar (3), dan lipatan femoral (4).

c.
Hasil Pemeriksaan
Jumlah skor pemeriksaan maturitas neuromuskuler dan maturitas fisik digabungkan,
kemudian dengan menggunakan tabel nilai kematangan masa gestasinya.

c) Pemeriksaan Fisik
Yang dapat dijumpai pada pemeriksaan fisik antara lain (Depkes RI, 2005):
1. berat badan kurang dari 2.500 gram, panjang badan kurang dari 45 cm, lingkar
dada kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm
2. kulit tipis dan keriput, mengkilap dan lemak dibawah tubuh sedikit
3. tulang rawan telinga masih lunak, karena belum terbentuk sempurna
6. Penatalaksanaan Pada Bayi BBLR
a) Mempertahankan Suhu Badan Bayi
Bayi BBLR akan cepat mengalami kehilangan panas badan atau suhu tubuh dan
menjadi hipotermia, karena pusat pengaturan suhu tubuh belum berfungsi dengan baik,
sistem metabolisme yang rendah dan luas permukaan tubuh yang relatif luas. Oleh karena
itu bayi dirawat di dalam inkubator, incubator dilengkapi dengan alat pengatur suhu dan
kelembapan agar bayi dapat menjaga dan mempertahankan suhu tubuhnya yang normal,
alat oksigen yang dapat diatur, serta kelengkapan lain untuk mengurangi kontaminasi
dengan lingkungan luar. Suhu inkubator yang optimum diperlukan agar panas yang hilang
dan konsumsi oksigen cukup sehingga bayi walaupun dalam keadaan telanjang dapat
mempertahankan suhu tubuhnya sekitar 36,5-370C. Tingginya suhu lingkungan ini
bergantung tingkat maturitas bayi (Manuaba, 2010).
Prosedur dapat dilakukan dengan sebelumnya inkubator dihangatkan terlebih dahulu
sampai sekitar 24,90 C, untuk bayi dengan berat 1,7 kg dan 32,2 0C untuk bayi yang lebih
kecil. Bayi dirawat dalam keadaaan telanjang, hal ini untuk memungkinkan pernafasan yang
adekuat, bayi dapat bergerak tanpa dibatasi pakaian, observasi terhadap pernafasan lebih

mudah. Pemberian oksigen untuk mengatasi hipoksia harus berhati-hati agar pemberian
tidak berlebihan yang bisa menyebabkan fibroplasia paru. Tekanan oksigen harus dipantau
terus (Proverawati, 2010).
Di Indonesia, perawatan BBLR masih memprioritaskan pada penggunaan inkubator
tetapi keberadaannya masih sangat terbatas. Hal ini menyebabkan morbiditas dan
mortalitas BBLR menjadi sangat tinggi, bukan hanya akibat kondisi prematuritasnya, tetapi
juga diperberat oleh hipotermia dan infeksi nosokomial. Di sisi lain, penggunaan inkubator
memiliki banyak keterbatasan. Selain jumlahnya yang terbatas, inkubator membutuhkan
biaya

perawatan

yang

tinggi,

serta

memerlukan

tenaga

terampil

yang

mampu

mengoperasikannya. Selain itu, dengan menggunakan inkubator, bayi dipisahkan dari


ibunya, hal ini akan menghalangi kontak kulit langsung antara ibu dan bayi yang sangat
diperlukan bagi tumbuh kembang bayi. Salah satu alternatif dari masalah tersebut adalah
dengan menggunakan perawatan metode kangguru (Depkes RI, 2005).
Perawatan metode kanguru (PMK) adalah perawatan untuk BBLR dengan melakukan
kontak langsung antara kulit bayi dengan kulit ibu (skin-to-skin contact). Metode ini sangat
tepat dan mudah dilakukan guna mendukung kesehatan dan keselamatan BBLR.
Hampir setiap bayi kecil dapat dirawat dengan PMK. PMK pada bayi kecil dapat
dilakukan dalam dua cara (Depkes RI, 2005):

PMK intermiten : PMK tidak diberikan sepanjang waktu tetapi hanya dilakukan jika ibu
mengunjungi bayinya yang masih berada dalam perawatan di inkubator dengan durasi

minimal satu jam secara terus-menerus dalam satu hari.


PMK kontinu : PMK yang diberikan sepanjang waktu yang dapat dilakukan di unit rawat

gabung atau ruangan yang dipergunakan untuk perawatan metode kanguru.


b) Pengaturan Dan Pengawasan Intake Nutrisi
Pengaturan dan pengawasan intake nutrisi dalam hal ini adalah menentukan pilihan
susu, cara pemberian dan jadwal pemberian sesuai dengan kebutuhan bayi BBLR. Air Susu
Ibu (ASI) merupakan pilihan pertama jika bayi mampu menghisap. ASI merupakan
makanan yang paling utama, sehingga ASI adalah pilihan yang harus didahulukan untuk
diberikan. Jika faktor menghisapnya kurang ASI dapat ditampung dan diminumkan
perlahan-lahan dengan sendok atau dengan memasukan sonde ke lambung bila perlu.
Permulaan cairan yang diberikan 200 cc/kgBB/hari. Jika ASI tidak keluar dapat digunakan
susu formula yang komposisi mirip ASI atau susu formula khusus bayi BBLR (Sihotang,
2004).
Cara pemberian ASI harus berhati-hati agar tidak terjadi regurgitasi. Pada bayi dalam
inkubator dengan kontak minimal, kasur inkubator bayi dapat diangkat atau dinaikkan dan
bayi menghadap ke sisi kanannya. Pada bayi yang lebih besar dapat dengan dipangku.

Pada BBLR yang kecil dan kurang giat menghisap ASI dapat diberikan melalui selang NGT
(Proverawati, 2010).
c) Pencegahan Infeksi
Bayi BBLR sangat rentan terhadap infeksi karena kadar immunoglobulin yang masih
rendah, aktifitas bakterisidal neutrofil, efek sitotoksik limfosit juga masih rendah dan fungsi
imun belum berpengalaman. Bayi akan mudah mendapatkan infeksi, terutama disebabkan
oleh infeksi nosokomial (Manuaba,2010).
Infeksi lokal bayi dapat dengan cepat menjalar menjadi infeksi umum. Diagnosis dini
dapat ditegakkan jika cukup waspada melihat tanda infeksi pada bayi seperti malas
menyusu, gelisah, letargi, suhu tubuh meningkat, frekuensi pernafasan meningkat, muntah,
diare, dan berat badan mendadak turun (Depkes RI, 2005).
Fungsi perawatan disini adalah memberi perlindungan terhadap bayi BBLR terhadap
potensi infeksi. Oleh karena itu, bayi BBLR harus dijaga agar tidak berkontak langsung
dengan penderita infeksi dalam keadaaan apapun. Digunakan masker dan baju khusus
dalam merawat bayi, tindakan asepsis dan antiseptik alat-alat yang digunakan, jumlah
pasien dibatasi, mengatur kunjungan, menghindari perawatan dalam waktu lama dan
pemberian antibiotik yang tepat (Depkes RI, 2005).
d) Penimbangan Berat Badan
Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi atau nutrisi dan erat kaitannya
dengan daya tahan tubuh, oleh sebab itu pemantauan dan monitoring harus dilakukan
secara ketat (Depkes RI, 2005). Biasanya berat badan bayi akan menurun 7-10 hari
pertama namun akan kembali seperti semula dalam 14 hari. Setelah berat badan tercapai
kembali, kemudian dipantau kenaikan berat badan dalam tiga bulan dengan perkiraan
(Depkes RI, 2005) :
150-200 gram seminggu untuk bayi < 1.500 gram (20-30 gram per hari)
200-250 gram seminggu untuk bayi 1.500-2.500 gram (30-35 gram per hari)
e) Pemberian Oksigen
Ekspansi paru yang memburuk merupakan masalah serius bagi bayi preterm BBLR,
akibat tidak adanya surfaktan. Konsentrasi O2 yang diberikan sekitar 30-35 % dengan
menggunakan head box, konsentrasi O2 yang tinggi dalam masa panjang dapat
menyebabkan kerusakan jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan kebutaan (Manuaba,
2010).
f)

Pengawasan Jalan Nafas


Terhambatnya jalan nafas dapat menimbulkan asfiksia, hipoksia, dan akhirnya kematian.

Bayi BBLR memiliki resiko mengalami serangan apneu dan defisiensi surfaktan, sehingga
tidak dapat memperoleh oksigen yang cukup seperti yang diperoleh dari plasenta
sebelumnya. Dalam kondisi ini diperlukan pembersihan jalan nafas segera setelah lahir

(aspirasi lendir), dibaringkan pada posisi miring, merangsang pernafasan menepuk atau
menjentik tumit. Bila tindakan ini gagal dilakukan ventilasi, intubasi endotrakeal, pijatan
jantung dan pemberian oksigen dan selama pemberian intake dicegah terjadinya aspirasi.
Dengan tindakan ini dapat dicegah sekaligus mengatasi asfiksia sehingga memperkecil
kematian bayi BBLR (Depkes RI, 2005).
7. Komplikasi Bayi Berat Lahir Rendah
1) Gangguan Pernafasan
a) Sindroma Gangguan Pernafasan
Sindroma gangguan pernafasan pada bayi BBLR adalah perkembangan imatur sistem
pernafasan atau tidak adekuatnya surfaktan pada paru-paru. Surfaktan adalah zat endogen
yang terdiri dari fosfolipid, neutral lipid dan protein yang membentuk lapisan di antara
permukaan alveolar dan mengurangi kolaps alveolar dengan cara menurunkan tegangan
permukaan di dalam alveoli (Proverawati, 2010).
Secara garis besar, penyebab sesak nafas pada neonatus dapat dibagi menjadi dua,
yaitu kelainan medik, seperti hialin membran disease, aspirasi mekonium, pneumonia, dan
kelainan bedah seperti choana atresia, fistula tracheaoesephagus, empisema lobaris
kongenital. Gejala gangguan pada sistem pernafasan dapat dikenali sebagai berikut
(Kliegman et al., 2007; Proverawati,2010):

b)

Frekuensi nafas takipneu (> 60 kali per menit)


Retraksi suprasternal dan substernal
Gerakan cuping hidung
Sianosis sekitar mulut dan ujung jari
Pucat dan kelelahan
Apneu dan pernafasan tidak teratur
Pernafasan dangkal
Penurunan suhu tubuh
Asfiksia
Asfiksia adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga

dapat menurunkan oksigen dan meningkatkan karbon dioksida yang dapat menimbulkan
akibat buruk dalam kehidupan yang lebih lanjut. Semua tipe BBLR bisa kurang, cukup atau
lebih bulan, semuanya berdampak pada proses adaptasi pernafasan waktu lahir sehingga
mengalami asfiksia lahir. Bayi BBLR membutuhkan kecepatan dan keterampilan resusitasi
(Manuaba, 2010).
c) Aspirasi Mekonium
Merupakan penyakit paru yang berat yang ditandai dengan pneumonitis kimiawi dan
obstruksi mekanis jalan nafas. Penyakit ini terjadi akibat inhalasi cairan amnion yang
tercemar mekonium peripartum sehingga terjadi peradangan jaringan paru dan hipoksia.
Pada keadaan yang lebih berat, proses patologis berkembang menjadi hipertensi pulmonal

persisten, morbiditas lain dan kematian. Bahkan dengan terapi yang segera dan tepat, bayi
yang parah sering kali meninggal atau menderita kerusakan neurologis jangka panjang
(Cunningham etal., 2005).
d) Retrolental Fibroplasia
Penyakit ini ditemukan pada bayi prematur dimana disebabkan oleh gangguan oksigen
yang berlebihan. Pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi (PaO2 lebih dari 115 mmHg)
maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah retina. Kemudian setelah bernafas
dengan udara biasa lagi, pembuluh darah akan mengalami vasodilatasi yang selanjutnya
akan diikuti dengan proliferasi kapiler secara tidak teratur. Stadium akut dapat terlihat pada
umur 3-6 minggu dalam bentuk dilatasi arteri dan vena retina, kemudian diikuti pertumbuhan
kapiler secara teratur pada ujung vena yang terlihat seperti perdarahan dan kapiler baru ini
tumbuh ke arah korpus vitreus dan lensa sehingga menyebabkan edema retina dan retina
dapat terlepas dari dasarnya. Keadaan ini dapat terjadi bilateral dengan tanda COA
mengecil, pupil mengecil dan tidak teratur dan visus menghilang. Pengobatan dengan
diberikan ACTH atau kortikosteroid. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk
mencegah penyakit ini adalah sebagai berikut (Cunningham et al., 2005 ; Proverawati,
2010):

Oksigen yang diberikan tidak boleh lebih dari 40 %


Tidak menggunakan oksigen untuk pencegahan apnea dan sianosis
Pemberian oksigen pada bayi kurang dari 2.000 gram harus hati-hati dan dimonitor

selalu
2) Gangguan Metabolik
a) Hipotermia
Bayi prematur dan BBLR akan dengan cepat kehilangan panas tubuh dan menjadi
hipotermia, karena pusat pengaturan panas badan belum berfungsi dengan baik,
metabolisme yang rendah dan luas permukaan tubuh yang relative luas dan lemak masih
sedikit (Depkes, 2005; Manuaba, 2010).
b) Hipoglikemia
Glukosa berfungsi sebagai makanan otak pada tahun pertama kelahiran pertumbuhan
otak sangat cepat sehingga sebagian besar glukosa dalam darah digunakan untuk
metabolisme di otak. Jika asupan glukosa ini kurang, akibatnya sel-sel saraf di otak mati dan
mempengaruhi kecerdasan di masa depan. Pada BBLR hipoglikemia terjadi karena
cadangan glukosa yang rendah dan aktivitas hormonal untuk glukoneogenesis yang belum
sempurna (Kliegman et al., 2007).
c) Masalah Pemberian ASI
Masalah pemberian ASI pada BBLR terjadi karena ukuran tubuh bayi yang kecil, kurang
energi, lemah dan lambungnya kecil dan tidak dapat menghisap. Bayi dengan BBLR sering
mendapatkan ASI dengan bantuan, membutuhkan pemberian ASI dalam jumlah yang lebih

sedikit tapi sering, bayi BBLR dengan kehamilan >35 minggu dan berat lahir >2.000 gram
umumny abisa langsung menyusui (Depkes RI, 2005).
3) Gangguan Imunitas
a) Gangguan Imunologik
Daya tahan tubuh berkurang karena rendahnya kadar Imunoglobulin G (IgG) maupun
gamma globulin. IgG pada saat awal kelahiran sebagian besar didapat dari ibu dimulai
sekitar minggu ke-16 dan yang paling tinggi empat minggu sebelum kelahiran. Dengan
demikian, bayi BBLR relatif kurang mendapat antibodi ibu belum sanggup membentuk
antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap infeksi belum baik, karena sistem
kekebalan tubuh bayi juga belum matang. Bayi juga dapat terkena infeksi saat lahir.
Keluarga dan tenaga kesehatan yang merawat bayi harus melakukan tindakan pencegahan
infeksi dengan menjaga kebersihan dan cuci tangan dengan baik (Cunningham et al.,2005;
Proverawati, 2010).
b) Ikterus
Ikterus adalah menjadi kuningnya warna kulit, selaput lendir dan berbagai jaringan
karena tingginya zat warna empedu. Ikterus neonatal adalah suatu gejala yang sering
ditemukan pada bayi baru lahir. Biasanya bersifat fisiologis, tapi dapat juga patologis,
dikarenakan fungsi hati yang belum matang (imatur) menyebabkan gangguan pemecahan
bilirubin dan menyebabkan hiperbilirubinemia. Bayi yang mengalami ikterus patologis
memerlukan tindakan dan penanganan lebih lanjut. Ikterus yang patologis ditandai sebagai
berikut (Manuaba, 2010 :

4)
a)

Kuningnya timbul 24 jam pertama setelah lahir


Jika dalam sehari kadar bilirubin meningkat pesat dan progresif
Jika bayi tampak tidak aktif, tak mau menyusu
Cenderung banyak tidur disertai suhu tubuh yang mungkin meningkat atau malah turun
Air kencing gelap seperti teh
Gangguan Sistem Peredaran darah
Masalah Perdarahan
Perdarahan pada neonatus mungkin dapat disebabkan karena kekurangan faktor

pembekuan darah dan faktor fungsi pembekuan darah yang abnormal karena imaturitas sel.
Sebagai tindakan pencegahan terhadap perdarahan otak dan saluran cerna pada bayi
BBLR diberikan injeksi vitamin K, yang sangat penting dalam mekanisme pembekuan darah
normal. Pemberian biasanya secara parenteral, 0,5-1 mg IM dengan dosis satu kali segera
setelah lahir dilakukan pada paha kiri (Depkes RI, 2005).
b) Anemia
Anemia fisiologik pada bayi BBLR disebabkan oleh supresi eritropoeisis pasca lahir,
persediaan besi janin yang sedikit, serta bertambah besarnya volume darah akibat
pertumbuhan yang lebih cepat. Oleh karena itu anemia pada bayi BBLR terjadi lebih dini

dan kehilangan darah pada janin atau neonatus akan memperberat anemianya
(Cunningham et al., 2005).
c) Gangguan Jantung
Patent Ductus Arteriosus (PDA) sejenis masalah jantung, biasanya dicatat dalam
beberapa minggu pertama atau bulan kelahiran. PDA yang menetap sampai bayi berumur 3
hari sering ditemui pada bayi BBLR, terutama pada bayi dengan penyakit membran hialin.
Defek septum ventrikel, frekuensi kejadiannya paling tinggi pada bayi dengan berat kurang
dari 2500 gram dan masa gestasinya kurang dari 34 minggu dibandingkan dengan bayi
yang lebih besar dengan masa gestasi yang cukup (Proverawati, 2010).
d) Gangguan pada Otak
Intraventrikular hemorrhage, perdarahan intrakranial (otak) pada neonatus. Bayi
mengalami masalah neurologis, seperti gangguan mengendalikan otot (cerebral palsy),
keterlambatan perkembangan dan kejang (Cunningham etal., 2005).
5) Gangguan Cairan Elektrolit
a) Gangguan Eliminasi
Kerja ginjal yang masih belum matang, kemampuan mengatur pembuangan sisa
metabolisme dan air masih belum sempurna, ginjal imatur baik secara anatomis maupun
fungsinya. Produksi urine yang sedikit, urea clearance yang rendah, tidak sanggup
mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudah terjadi
edema dan asidosis metabolik (Kliegman et al., 2007).
b) Distensi Abdomen
Yaitu kelainan yang berhubungan dengan usus bayi. Distensi abdomen akibat motilitas
usus berkurang, volume lambung kecil sehingga waktu pengosongan lambung bertambah,
daya untuk mencernakan dan mengabsorbsi lemak berkurang. Kerja dari sfingter
gastroesofagus yang belum sempurna memudahkan terjadinya regurgitasi isi lambung ke
esofagus dan mudah terjadi aspirasi (Proverawati, 2010).
c)

Gangguan Pencernaan
Saluran pencernaan yang belum berfungsi sempurna membuat penyerapan makan

lemah atau kurang baik. Aktifitas otot pencernaan masih belum sempurna, mengakibatkan
pengosongan lambung lambat. Bayi BBLR mudah kembung, hal ini karena stenosis
anorektal, atresia ileum, peritonitis meconium (Kliegman et al.,2007).
d) Gangguan Elektrolit
Cairan yang diperlukan tergantung dari masa gestasi, keadaan lingkungan dan penyakit
bayi. Diduga kehilangan cairan melalui tinja dari janin yang tidak mendapat makanan melaui
mulut sangat sedikit. Kebutuhan akan cairan sesuai dengan kehilangan cairan insensible,
cairan yang dikeluarkan ginjal dan pengeluaran cairan oleh sebab lainnya, kehilangan cairan

insensible meningkat di tempat udara panas, selama terapi sinar, dan pada kenaikan suhu
tubuh (Proverawati, 2010).

9. Patofisiologi Bayi Berat Lahir Rendah


Faktor ibu
Usia < 20 tahun atau > 35 tahun,
riwayat kelahiran premature, paritas,
jaraka kehamilan yg terlalu dekat,
komplikasi kehamilan, social ekonomi
rendah, kebiasaan merokok, dll

Faktor janin

Faktor lingkungan

Faktor plasenta

Hidramnion,
kehamilan ganda,
kelainan
kromosom.

Tempat tinggal
dataran tinggi,
dataran tinggi,
radiasi, dan zat
racun

Plasenta previa,
dll

Pertumbuhan dan
perkembangan janin tidak
maksimal

Bayi Berat Lahir Rendah

Lemak
coklat
sedikit

Permukaaan tubuh
relative lebih luas
dari BB

Produksi
panas
kurang

Kulit tipis, lemak


subkutan sedikit

Penguapan
meningkat

Pembentukan
antibody
imatur

Surfaktan paru
masih kurang

Kadar imun
rendah

Alveoli mudah
kolaps

Daya tahan
tubuh rendah
Suhu tidak stabil

Hipotermi

Resiko tinggi
infeksi

Gangguan
pertukaran
gas

REFERENSI
Cunningham, F.Gary, et all., 2005. Obstetric Wiliam Edisi 21. Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta
Departemen Kesehatan RI, 2005. BukuAcuan Pelayanan Pelatihan Kegawatdaruratan
Obstetri Neonatal Essensal Dasar. Jakarta.)
Kliegman, Marcdante, Jenson & Behrman. (2002). Nelson Essential of Pediatrics, Elsevier
Saunders, 5th ed.
Manuaba, I.B.G, et all., 2010, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB, Edisi II,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta)
Mochtar, Roestam, 1998, Sinopsis Obstetri. Jilid I. Edisi II.Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
Prawirohardjo,S., 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Proverawati, A & Sulistyorini, 2010. BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) Dilengkapi dengan
asuhan pada BBLR dan pijat bayi, Nuha Medika, Yogyakarta
Sihotang, Nur Asnah. 2004. Asuhan Keperawatan Pada Bayi Berat Lahir Rendah.
http://library.usu.ac.id/download/fk/keperawatan-nur-pdf/ Diakses taggal 8 Juli 2014
Swartz, M. 1997, Intisari Buku Ajar DiagnostikFisik.Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta)