Anda di halaman 1dari 14

REVIEW JURNAL ILMIAH

PEMBUATAN BIOETANOL DARI KULIT SINGKONG

Disusun Oleh:
Ghina Fatikah Salim

1415041020

Novandro Ari S

1415041041

Ridwan Santoso

1415041053

Puwala Ardhana R

1415041048

Program Studi S1 Teknik Kimia, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik

Universitas Lampung
Bandar Lampung
2014

Pemanfaatan Kulit Singkong Menjadi Bioetanol sebagai Energi Alternatif dalam Mengatasi Kelangkaan
Bahan Bakar Minyak (BBM)
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Lampung
Jln. Prof. Soemantri Brodjonegoro, Bandar Lampung, Lampung
Kode Pos35145, Telp/Fax: 021-721-701609/021-721-702767

Abstrak
Kulit singkong merupakan limbah yang mengandung karbohidrat tinggi seperti pati dan selulosa sehingga berpotensi
dijadikan salah satu alternatif bahan baku bioetanol. Bioetanol merupakan senyawa alkohol yang diperoleh lewat proses
fermentasi biomassa dengan bantuan mikroorganisme. Bioetanol dapat diperoleh salah satunya dengan cara
memfermentasi singkong. Proses pembuatan bioetanol termasuk kedalam beberapa tahapan. Proses pembuatan
bioetanol dari kulit singkong diawali dengan proses hidrolisis asam. Proses hidrolisis asam berguna untuk mengubah
polisakarida(pati) menjadi monosakarida (glukosa). Proses hidrolisis asam menggunakan asam klorida(HCL) 0,1 N,
berat tepung 75 gr dalam 750 larutan asam dengan suhu 103C selama 1 jam.Dari hasil percobaan hidrolisis tepung
kulit singkong diperolehlarutan glukosa dengan kadar 15,05 %. Pada proses fermentasi, glukosa akandiuraikan menjadi
etanol oleh ragi Saccharomyces cerevisiae sebanyak 8 gram dan 5 gram urea selama 4 hari. Proses distilasi untuk
memisahkan etanoldilakukan selama 1 jam atau sampai tidak terjadi tetesan lagi, pada suhu 78 80 C. Dari hasil
analisa diperoleh kadar etanol hasil distilasi sebesar 9,27 %.Dari 60 gr tepung kulit singkong diperoleh etanol kadar
9,27 % sejumlah 12 ml atau rendemennya sebesar 22,15 % dari berat tepung kulit singkong.
Kata Kunci : Bioetanol, distilasi, fermentasi, glukosa, hidrolisis asam, kulit singkong, pati, rendemen.

BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Kebutuhan masyarakat akan bahan bakar minyak (BBM) sudah tidak dapat dihindari.Tertulis dalam Pusdatin
(2012), kebutuhan energi suatu negara cenderung meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.Tingkat konsumsi
manusia terhadap energi fosil lebih tinggi dibandingkan dengan laju pembentukannya. Padahal, sumberdaya energi
tersebut termasuk sumberdaya tak terbarukan (non renewables), yang berarti bila dilakukan pengambilan terus-menerus
maka pada suatu saat ketersediaannya di alam akan habis.Penggunaan bahan bakar minyak untuk kendaraan roda dua
maupun roda empat digunakan dalam jumlah yang banyak menyebabkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).Pada
abad ke-21, tidak hanya negara maju yang dituntut untuk mengembangkan program penganekaragaman
sumber energi. Negara berkembang termasuk Indonesia, perlu mengembangkan energi alternatif dari sumberdaya yang
ada, terutama sumberdaya terbarukan (Mangunwidjaja, 1988). Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) ini mengharuskan
pemerintah Indonesia untuk segera menaikkan harga BBM agar tidak terjadi defisit subsidi BBM. Hal ini berimbas
kepada barang-barang sembako yang mengalami kenaikan harga secara signifikan.
Pada saat ini Indonesia berusaha mengembangkan sumber energi nabati untuk menghasilkan Bioetanol. Bioetanol
adalah etanol yang dihasilkan dari fermentasi glukosa (gula) menggunakan bantuan ragi/yeast terutama jenis
Saccharomyces cerevisiae. Pemisahan bioetanol selanjutnya dilakukan dengan destilasi (Khaidir dkk, 2012). Dalam hal
ini, singkong dapat menjadi energi alternatif yang menghasilkan bioetanol sebagai pengganti BBM.
Bioethanol dapat dibuat dari singkong. Singkong (Manihot utilissima) sering juga disebut sebagai ubi kayu atau
ketela pohon, merupakan tanaman yang sangat populer di seluruh dunia, khususnya di negara-negara tropis. Di Indonesia,
singkong memiliki arti ekonomi terpenting dibandingkan dengan jenis umbi-umbian yang lain Selain itu kandungan pati
dalam singkong yang tinggi sekitar 25-30% sangat cocok untuk pembuatan energi alternatif. Dengan demikian, singkong
adalah jenis umbi-umbian daerah tropis yang merupakan sumber energi paling murah sedunia. Potensi singkong di
Indonesia cukup besar maka dipilihlah singkong sebagai bahan baku utama.
Melihat potensi tersebut peneliti melakukan percobaan pembuatan bioethanol dari singkong secara farmentasi
menggunakan ragi tape. Digunakan ragi tape karena ragi tape sangat komersil dan mudah didapat.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari teknik produksi bioetanol dari singkong dan menghasilkan bioetanol
dengan skala laboratorium; menentukan nilai mutu bioetanol dari singkong dengan menganalisis kadar etanol dan pH;
dan mengetahui rendemen bioetanol yang dihasilkan dari proses pembuatan bioetanol yang digunakan.

1.2 Tujuan Penelitian


Untuk mengantisipasi kelangkaan BBM di Indonesia untuk jangka waktu depan.
Meningkatkan potensi kulit singkong sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.
Untuk meningkatkan potensi produksi singkong di kalangan petani sehingga produksi singkong di Indonesia
meningkat secara signifikan.
Untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan bahan bakar fosil di Indonesia.
Untuk mengetahui secara detil teknik produksi Bioetanol dari singkong.
Untuk pemanfaatan hasil limbah kulit singkong dari pembuatan bioetanol menjadi bahan pakan ternak, pupuk
cair, pupuk kompos, biogas, dan bahan dasar obat nyamuk bakar.
1.3 Rumusan Masalah
Bagaimana proses Hidrolisis Asam kulit singkong agar menjadi bioetanol
Bagaimana prosesfermentasi kulit singkong agar menjadi bioetanol
Bagaimana proses distilasi kulit singkong agar menjadi bioetanol
Mengapa harus menggunakan bahan baku singkong sebagai bahan pembuatan bioetanol.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka
a. Singkong
Kulit singkong merupakan limbah dari singkong yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi yang dapat
digunakan sebagai sumber pakan ternak. Persentase jumlah limbahkulit bagian luar sebesar 0,5 2 % dari berat total
singkong segar dan limbahkulit bagian dalam sebesar 8 15 %. Kandungan pati kulit ubi kayu yang cukup tinggi,
memungkinkan digunakan sebagai sumber energi bagi mikroorganisme. (Nurhayani, dkk., 2000)
Kulit singkong selain dapat digunakan sebagai kompos dan pakan ternak, ternyata juga dapat diolah dan
dimanfaatkan sebagai sumber energi yang dapat menggantikan bahan bakar dari minyak yang selama ini digunakan oleh
masyarakat. Teknologi yang diterapkan untuk menghasilkan bioethanol yakni melalui proses bernama hidrolisa asan dan
juga enzimatis. Salah satu pemanfaatan limbah kulit singkong ini sekaligus menjadi salah satu program yang mendukung
program yang dicanangkan oleh pemerintah berkaitan dengan penyediaan bahan bakar nabati sebagai alternatif pngganti
bahan bakar minyak seperti bensin.(http://akardanumbi.blogspot.com/2013/01/beragam-manfaat-kulit-singkong.html)
b. Bioetanol
Bioetanol merupakan cairan hasil proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat (pati) menggunakan bantuan
mikroorganisme. Produksi bioetanol dari tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat, dilakukan memalui proses
konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa). Pada hidrolisis enzimatis dibagi menjadikenal ada dua metode yaitu SHF
dan SSF. Metode SSF menjadi sangat penting untuk dikembangkan karena dapat mempersingkat proses pembuatan
bioetanol (Marques, 2007)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan:
1. Rangkaian Alat Hidrolisis
Bahan- bahan yang digunakan:
- Kulit Singkong
- Asam klorida (HCl )
- Natrium Hidroksida (NaOH )
- Aquadest
- Indikator Metil biru
- Kertas pH
- Fehling A
- Fehling B
- Yeast/Ragi Roti (Merek Saf-Instant)

2. Rangkaian Alat Fermentasi

3. Rangkaian Alat Distilasi

3.2 Metode Penelitian


Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif terhadap pembuatan bioetanol dari singkong dengan studi
literatur.
3.3 Prosedur Penelitian
Penyiapan Bahan Baku
Bahan baku singkong dipersiapkan sebanyak 5 kg yang telah dikupas dan dicuci bersih, kemudian selanjutnya
diadakan pemarutan hingga menghasilkan singkong yang telah halus. Masukan singkong halus kedalam panci dan
tambahkan air sebanyak 4 liter per 1 kg singkong. Kemudian dipanaskan hingga suhu 100C kurang lebih 30 menit
sambil diaduk hingga mengental menjadi bubur. Setelah campuran singkong halus dan air telah menjadi bubur pati,
dinginkan dahulu sebelum dilanjutkan untuk proses fermentasi.
Proses Hidrolisis Asam
Proses Hidrolisis dengan Asam (HCL) :
Menimbang tepung kulit singkong seberat 75 gram
Memasang rangkaian alat hidrolisis
Memasukkan larutan Asam Klorida 0,1 N sebanyak 750 ml kedalamlabu leher tiga dan memanaskan hingga
mendidih
Memasukkan tepung kulit singkong tersebut ke dalam labu leher tigadan mengaduknya menggunakan pengaduk
merkuri selama 1 jam.
Membiarkan hasil hidrolisis dingin sampai suhu kamar
Menyaring larutan hasil hidrolisis
Menganalisa kadar glukosa hasil proses hidrolisis tersebut denganmenggunakan metode Lane Eynon.

Analisa kadar glukosa dengan Metode Lane-Eynon :


Mengambil larutan sampel dan kemudian diencerkan
Mengambil 5 ml fehling A dan 5 ml fehling B, kemudiandimasukkan ke dalam Erlenmeyer
Mengisi buret dengan larutan sampel dan menambahkan 15 mllarutan dalam buret ke dalam erlenmeyer
Memanaskan larutan pada erlenmeyer sampai mendidih dan tetapdididihkan selama 2 menit
Sambil tetap dipanaskan, menambahkan 1 ml indikator methyleneblue
Menitrasi larutan dengan larutan hasil hidrolisis hingga warna biruhilang.
Menghitung volume larutan hasil hidrolisis yang digunakan untukmenitrasi.
Mengulangi percobaan sebanyak 3 kali dan menghitung volume rata-ratalarutan hasil hidrolisis yang digunakan
Proses Fermentasi
Setelah bubur pati dingin, maka selanjutnya diadakan fermentasi yang bertujuan untuk mengkonversi larutan
yang mengandung glukosa menjadi alkohol. Bubur pati yang dihasilkan dipindahkan ke dalam wadah fermentasi.
Tambahkan bakteri Saccharomyces cerevisiae sebanyak 10% dari total bubur pati yang terdapat dalam wadah
fermentasi sedikit demi sedikit sambil diaduk agar tercampur rata.
Tutup rapat wadah fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan bakteri Saccharomyces cerevisiae akan bekerja
secara optimal. Fermentasi berlangsung anaerob yaitu tak memerlukan udara dan tetap menjaga suhunya pada 30C 40C.
Proses fermentasi berlangsung selama 2-3 hari dan setelah itu larutan pati akan berubah menjadi 3 lapisan yaitu
lapisan terbawah berupa endapan protein, dan diatasnya adalah air dan etanol.
Pisahkan larutan etanol dengan endapan protein dengan melakukan proses penyaringan.
Hasilnya yaitu larutan etanol yang masih mengandung air siap untuk diproses ke tahap selanjutnya yaitu proses
destilasi.
Proses Distilasi
Proses destilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari larutan hasil fermentasi dengan cara memanaskan
larutan tersebut dengan menjaga suhu pemanasan pada titik didih etanol yaitu 78C, sehingga etanol lebih dahulu
menguap dan penguapan tersebut dialirkan pada pipa, terkondensasi dan kembali lagi menjadi etanol cair.
Pada wadah masak telah terhubung pada termokopel dengan cara menempelkan kawat sensor panas termokopel
ke wadah masak. Hal ini bertujuan untuk mengetahui berapa temperatur pada wadah masak sehingga memudahkan untuk
pengaturan besarnya pembakaran agar dapat mempertahankan temperatur wadah masak pada suhu 78C.
Alat destilasi terdiri dari kompor minyak tanah 14 sumbu untuk pembakaran, wadah masak untuk bahan hasil
fermentasi terbuat dari panci stainless steel berkapasitas 10 liter, pipa untuk menyalurkan uap etanol dan proses
kondensasi terdiri dari 2 bagian dengan ukuran masing-masing 3 meter, dan wadah untuk menampung hasil destilasi yaitu
botol kaca.
Etanol cair yang telah dihasilkan dari proses destilasi selanjutnya dilanjutkan untuk pengukuran parameter kadar
etanol dan pH (derajat keasaman).
Perhitungan Rendemen
Perhitungan rendemen dilakukan untuk mengetahui persentase hasil bagi antara etanol yang dihasilkan dengan jumlah
bahan baku. Adapun rendemen yang akan diukur yaitu :
a. Rendemen fermentasi
Untuk mengetahui presentase hasil bagi antara larutan etanol dan air hasil fermentasi dengan jumlah bahan baku
yaitu singkong, air dan bakteri Saccharomyces cerevisiae dengan menggunakan persamaan (1).
Rf=HfBp x 100% .(1), dimana :
Rf = Rendemen fermentasi (%)
Hf = Larutan hasil fermentasi yang telah disaring dan siap untuk didestilasi (liter)
Bp = Volume bubur pati (liter)
b. Rendemen destilasi

Untuk mengetahui presentase hasil bagi antara bioetanol hasil destilasi dengan jumlah larutan etanol dan air hasil
fermentasi dengan menggunakan persamaan (2).
Rd=BdHf x 100% .(2), dimana :
Rd = Rendemen destilasi (%)
Bd = Bioetanol hasil destilasi (liter)
Hf = Larutan hasil fermentasi (liter)
c. Perhitungan hasil bioetanol dari per kilogram singkong
Untuk mengetahui berapa banyak bioetanol yang akan dihasilkan dari per kilogram bahan utama singkong dengan
menggunakan teknik produksi sesuai dengan prosedur penelitian yang dilakukan dengan menggunakan persamaan
(3).
Je=1Jb x Bd .(3), dimana :
Je = Jumlah etanol per kilogram singkong (liter/kg)
Jb = Jumlah bahan baku (kg)
Bd = Bioetanol yang dihasilkan (liter)
d. Perhitungan nilai kalori dari bioetanol yang dihasilkan
Untuk mengetahui nilai kalori bioetanol yang dihasilkan dari masing-masing hasil destilasi dengan menggunakan
persamaan (4).
Kadar etanol yang dihasilkan x 6100 kkal/liter x
Kadar etanol acuan
jumlah etanol .....(4)

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Proses Hidrolisa dengan Katalis Asam (HCl)
Kondisi Hidrolisa :
a. Kadar HCl
: 0,1 N
b. Volume HCl
: 750 ml
c. Massa tepung
: 75 gr
d. Temperatur
: 103oC
e. Waktu
: 1 jam
Hasil Hidrolisa :
a. Kadar Glukosa : 15,05 %
Pembuatan bioetanol dari tepung kulit singkong diawali dengan proses hidrolisa asam. Asam yang digunakan adalah asam
klorida (HCl) 0,1 N dengan berat tepung 75 gr dalam 750 ml larutan asam dengan suhu 103oC. Proses hidrolisa ini
bertujuan untuk mengubah polisakarida (pati) menjadi monosakarida (glukosa).
Reaksi Hidrolisa :
(C6H10O5)n + n H2O n C6H12O6
(Polisakarida)
(Air) (Glukosa)
Dari hasil percobaan hidrolisa tepung kulit singkong dengan katalis asam HCl 0,1 N diperoleh larutan dengan kadar
glukosa rata rata sebesar 15,05 %. Pada proses hidrolisa, suhu hidrolisa mencapai 103oC hal ini kemungkinan terjadi
karena adanya pati dalam larutan hidrolisis dan kemungkinan kesalahan dari alat ukur tersebut sehingga pada saat
hidrolisa termometer menunjukkan suhu lebih dari 100oC.

4.3 Proses Fermentasi


Variasi Waktu
Kondisi Fermentasi:
a. Yeast
: Sacharomyces cereviseae sebanyak 6 gr
b. Volume starter : 50 ml
c. Volume medium : 500 ml
d. pH
: 4,5
e. Kadar glukosa : 15,05 %
f. Temperatur
: 30 oC

variasi ragi
Kondisi Fermentasi :
a. Yeast : Sacharomyces cereviseae
b. Volume starter : 50 ml
c. Volume medium : 500 ml
d. pH : 4,5
e. Kadar glukosa : 15,04 %
f. Temperatur : 30 oC
g. Waktu : 4 hari

Tabel IV.2 Data Hasil Analisis Kadar Glukosa Hasil Fermentasi (Variasi Ragi)

Pada proses fermentasi, glukosa akan diuraikan menjadi etanol oleh yeast sacharomyces cereviceae. Ragi yang digunakan
merupakan ragi roti dengan merek dagang Saf-Instant. Sebelum digunakan ragi dibuat starter terlebih dahulu,hal ini
bertujuan untuk mengembangbiakkan ragi, sehingga dihasilkan lebih banyak ragi, dengan hal tersebut memungkinkan
proses fermentasi akan berjalan dengan baik dan melatih ketahanan ragi. Dari tabel IV. 1 hasil percobaan menunjukkan
semakin lama waktu fermentasi kadar glukosa semakin lama semakin turun. Pada hari ke empat kadar glukosa masih
sebesar 6,16 %, tetapi sudah tidak ada proses fermentasi lagi (ditandai dengan tidak adanya gelembung CO2 yang
muncul). Ini dimungkinkan karena jumlah mikrobia yang aktif sudah habis (jumlah ragi yang digunakan sebanyak 6 gr).
Jika jumlah ragi ditingkatkan yaitu 7 gr dan 8 gr, kadar glukosa medium masing masing pada hari ke empat adalah 6,16
% dan 6,11 % (tabel IV.2). Hal ini kemungkinan disebabkan pada saat pembuatan starter, jumlah makanan yang diberikan
tidak cukup dan kondisi yang dikondisikan kurang tepat sehingga mikrobia tidak berkembang biak maksimal dengan
demikian proses fermentasi juga tidak berjalan baik.

4.4 Proses Distilasi

Proses distilasi bertujuan untuk menguapkan etanol yang terkandung dalam larutan kemudian mengembunkan uap
tersebut. Waktu distilasi adalah selama 1 jam atau sampai tidak terjadi tetesan lagi, pada suhu 80oC. Dari hasil analisa
diperoleh kadar etanol dengan variasi waktu fermentasi selama 2 hari sebesar 5,37 %, untuk waktu fermentasi selama 3
hari sebesar 6,88 %, dan untuk waktu fermentasi selama 4 hari sebesar 8,9 %. Sedangkan dari hasil analisa kadar etanol
dengan variasi penambahan ragi yaitu, untuk berat ragi 6 gram sebesar 7,1 %, untuk berat ragi 7 gram sebesar 7,79 % dan
untuk berat ragi 8 gram sebesar 9,27 %. Pembuatan bioetanol dengan kondisi dan waktu fermentasi selama empat hari
tersebut hanya menghasilkan kadar etanol sebesar 9,27 % dengan berat ragi 8 gram atau memperoleh rendemen sebesar
22,15 %, hal ini kemungkinan dikarenakan oleh kurangnya zat makanan yang diperlukan oleh ragi, sehingga ragi tidak
dapat bekerja secarta optimum untuk mengubah glukosa menjadi etanol. Oleh karena itu hasil kadar etanol maupun
rendemen yang dihasilkan rendah.

BAB V
KESIMPULAN
Pembuatan bioetanol dari kulit singkong dilaksanakan melalui 3 tahap :
1. Tahap hidrolisa asam : 75 gr tepung kulit singkong dihidrolisa dengan 750 ml larutan HCL 0,1 N, selama 1 jam pada
suhu didihnya 103oC. Larutan hidrolisa yang diperoleh mempunyai kadar glukosa rata rata 15,05 %.
2. Tahap fermentasi : Larutan hidrolisa difermentasi
pada suhu kamar denganpH 4,5 selama 4 hari menggunakan 8 gr ragi roti. Larutan hasil fermentasi
pada akhir hari ke 4 masih mengandung kadar glukosa sebesar 6,11 %.
3. Tahap distilasi : Larutan hasil fermentasi didistilasi pada suhu 80oCsampai tidak ada tetesan lagi. Embunan yang
diperoleh adalah larutan etanol dengan kadar 9,27 %.
4. Dari 60 gr tepung kulit singkong diperoleh etanol
kadar 9,27% sejumlah12 ml atau rendemennya sebesar 22,15 %.

SARAN
1. Pada penelitian ini hanya kadar etanol dalam hasil distilasi yang dianalisa padahal sebenarnya kadar etanol dalam
hasil fermentasi juga perlu dianalisa.
2. Distilasi yang digunakanpada penelitianini adalah distilas imenggunakan packing, dengan tinggi packing 30 cm.
Tinggi packing tersebut belum maksimal jika digunakan untuk memisahkan etanol, sehingga etanol yang dihasilkan
tidak maksimal yaitu sebesar 9,27 % dengan volume 12 ml. Kemungkinan kadar etanol 9,27 % masih dapat
dinaikkan lagi apabila menggunakan distilasi packing dengan packing yang lebih tinggi atau menggunakan
distilasi batch yang dilakukan berulang atau (bertingkat). Setelah distilasi dilakukan, proses dilanjutkan dengan
adsorpsi menggunakan batu kapur atau zeolit sehingga diharapkan air yang terkandung dalam etanol dapat
terserap dan kadar etanol yang dihasilkan lebih tinggi.
3. Analisa kadar etanol yang digunakan berdasarkan analisa densitas. Sebaiknya kadar etanol dianalisa menggunakan
kromatografi gas sehingga dapat mengetahui etanol yang dihasilkan adalah etanol murni tanpa campuran
senyawa lain (metanol, asam asetat).
4. Perlu meningkatkan berat tepung kulit singkong yang digunakan pada saat hidrolisa, sehingga dapat diperoleh
glukosa yang lebih banyak dan diharapkan memperoleh kadar etanol dan volume etanol yang lebih banyak.

DAFTAR PUSTAKA
Hapsari, Mira Amalia. 2013. Pembuatan Bioetanol dari Singkong Karet (Manihot Glaziovii) untuk Bahan Bakar Kompor
Rumah Tangga Sebagai Upaya Mempercepat Konversi Minyak Tanah ke Bahan Bakar Nabati. Jurnal Teknologi
Kimia dan Industri., Vol. 2, No. 2, halaman 240-245. Universitas Diponegoro.
Khaidir, Setyaningsih, Haerudin. 2012. Dehidrasi bioetanol menggunakan zeolit alam termodifikasi. Jurnal Teknologi
Industri Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Mailool, Jhiro Ch. 2013. Produksi Bioetanol dari Singkong (Manihot utilissima) Dengan Skala Laboratorium. Jurnal
Teknik Pertanian. Universitas Sam Ratulangi.
Mangunwidjaja, D. 1988. Prospek dan Peran Pengembangan Bioenergi di Indonesia. Bogor.
Pusdatin 2010, Buku Pegangan Statistik Ekonomi Energi Indonesia DESDM 2010.
http://www.esdm.go.id/publikasi/indonesia-energy-outlook/ringkasan-eksekutif/doc-download/1255-ringkasan
eksekutif-indonesia-energy-outlook-2010.html. Diakeses tanggal 29 Oktober 2012.
Rikana, Heppy. 2009. Pembuatan Bioetanol dari Singkong Secara Fermentasi Menggunakan Ragi Tape. Jurnal Teknik
Kimia. Universitas Diponegoro.
Sukmawati, RF. 2009. Pembuatan Bioetanol dari Kulit Singkong. Laporan Tugas Akhir D III Teknik Kimia. Universitas
Sebelas Maret Surakarta.