Anda di halaman 1dari 20

Bab

KEBUTUHAN SARANA DAN PRASARANA

PELABUHAN/TERMINAL KHUSUS

BATUBARA

Batu bara merupakan salah satu bahan bakar fosil, terbentuk dari endapan
organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses
pembatubaraan. Unsur- unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.
Potensi sumberdaya batu bara di Indonesia tersebar di beberapa pulau besar
diantaranya Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera, sedangkan di daerah lainnya
dapat dijumpai batu bara walaupun dalam jumlah kecil dan belum dapat
ditentukan nilai keekonomisannya, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua,
dan Sulawesi.
Di Indonesia, batu bara merupakan bahan bakar utama selain solar (diesel
fuel) yang telah umum digunakan pada banyak industri. Dari segi ekonomis batu
bara jauh lebih hemat dibandingkan solar, dengan perbandingan sebagai berikut:
Solar Rp 0,74,-/kilo kalori sedangkan batu bara hanya Rp 0,09,-/kilo kalori,
(berdasarkan harga solar industri Rp. 6.200,-/liter). Dan nilai ini akan semakin
besar jika harga solar industri lebih dari Rp 10.000,-/liter).
4-1

Pada masa mendatang, produksi batu bara Indonesia diperkirakan akan


terus meningkat, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri
(domestik), tetapi juga untuk memenuhi permintaan luar negeri (ekspor). Hal ini
mengingat sumber daya batu bara Indonesia yang masih melimpah, di lain pihak
harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tetap tinggi, menuntut industri yang
selama ini berbahan bakar minyak untuk beralih menggunakan batu bara.
PT MNL, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan
batubara dan memiliki beberapa kuasa pertambangan (KP) di Provinsi Sumatera
Selatan berencana membangun terminal pengumpul batu bara di Sebalang,
Provinsi Lampung. Tujuan utama pembangunan terminal pengumpul batu bara
tersebut ialah untuk melengkapi fungsi dari transshipment point yang terlebih
dulu eksis dan terletak di Kertapati.

4.1

PELABUHAN/TERMINAL KHUSUS BATUBARA


Pelabuhan/Terminal Khusus Batubara di Sebalang merupakan terminal

dengan kegiatan utamanya adalah bongkar muat batubara untuk melayani kapal
dengan kapasitas rencana hingga 100.000 DWT. Pelabuhan/terminal khusus
batubara mempunyai dermaga yang dilengkapi dengan fasilitas bongkar-muat
barang. Terminal khusus batubara dapat berada di pantai atau estuari sungai besar.
Daerah perairan pelabuhan/terminal khusus batubara harus cukup tenang sehingga
memudahkan bongkar muat barang. Pelabuhan/terminal khusus batubara ini
dibuat untuk keperluan transpor hasil produksinya.
Pada dasarnya pelabuhan/terminal khusus batubara barang harus
mempunyai kelengkapan-kelengkapan berikut ini:
a. Dermaga harus panjang dan harus dapat menampung seluruh panjang kapal
atau setidak-tidaknya 80% dari panjang kapal. Hal ini disebabkan karena
muatan kapal dibongkar muat melalui bagian muka, belakang dan tengah
kapal.
b. Mempunyai halaman dermaga yang cukup lebar untuk keperluan bongkar
muat batubara. Batubara yang akan dimuat disiapkan di atas dermaga dan
4-2

kemudian diangkat dengan crane ataupun manual masuk ke kapal. Demikian


pula pembongkaran barang dilakukan dengan crane atau pun manual dan
barang diletakkan di atas dermaga yang kemudian diangkat ke gudang
penyimpanan.
c. Mempunyai gudang transito/penyimpanan/stockfile di belakang halaman
dermaga.
d. Tersedia jalan dan halaman untuk pengambilan/pemasukan batubara dari dan
ke stockfile serta mempunyai fasilitas untuk reparasi.
4.2

JENIS DAN UKURAN KAPAL


Perencanaan yang efisien melayani kapal yang paling besar dan paling

banyak bersandar yaitu direncanakan kapal dengan ukuran 100.000 DWT.


Direncanakan kapal pengangkut batubara tersebut mempunyai kapasitas 100.000
DWT, dimensi draft penuh -16,1 m, panjang keseluruhan (LOA = length overall)
275 m, dan lebar (breadth) 42 m.
4.2

ALUR PELAYARAN
Alur pelayaran digunakan untuk mengarahkan kapal yang akan masuk ke

kolam pelabuhan/terminal khusus batubara. Perairan di sekitar alur harus cukup


tenang terhadap pengaruh gelombang dan arus laut. Perencanaan alur pelayaran
didasarkan ukuran kapal terbesar yang akan masuk ke kolam pelabuhan/terminal
khusus batubara. Parameter bagi perencanaan kedalaman dan lebar alur adalah
sebagai berikut:

Bathimetri laut (kedalaman perairan).


Elevasi muka air rencana yang ada (hasil analisa pasang surut).
Kondisi angin di perairan (arah dan kecepatan).
Arah, kecepatan dan tinggi gelombang pada perairan (hasil peramalan

gelombang).
Arus yang terjadi di perairan.
Ukuran kapal rencana dan rencana manuver yang diperbolehkan.
Jumlah lintasan kapal yang melalui alur pelayaran.
Angka kemudahan pengontrolan kemudi kapal rencana.
4-3

Trase (alignment) alur pelayaran dan stabilitas bahan dasar perairan.


Koordinasi dengan fasilitas lainnya.
Navigasi yang mudah dan aman.

4.2.1 Kedalaman Alur


Kedalaman air diukur terhadap muka air referensi nilai rerata dari muka air
surut terendah pada saat pasang kecil (neap tide) dalam periode panjang yang
disebut LWS (Low Water Spring). Kedalaman alur total adalah:
H = d +G + R + P + S + K
di mana:
d = draft kapal (m)
G = gerak vertikal kapal karena gelombang dan squat (m)
R = ruang kebebasan bersih (m)
P = ketelitian pengukuran (m)
S = pengendapan sedimen antara dua pengerukan (m)
K = toleransi pengerukan (m)
Pendekatan untuk penentuan kedalaman alur (Gambar 4.1) adalah:
H = LWS - draft kapal clearance
= LWS 16,1m 4m
= LWS - 20,1m

LWS
Kapal
Draft

Clearance

Gambar 4. 1 Penentuan Kedalaman Alur

4-4

4.2.2 Lebar Alur


Lebar alur pelayaran dihitung dengan memakai persamaan sebagai berikut:
1.

Alur pelayaran untuk satu kapal


Lebar

2.

= 1,5B + 1,8B + 1,5B (lihat Gambar ) = 201,6m

Alur pelayaran untuk dua kapal


Lebar

= 1,5B + 1,8B + C + 1,8B + 1,5B (lihat Gambar )


= 277,2m + C
= 319,2m

di mana:
B = lebar kapal (m)
C = clearence/jarak aman antar kapal (m), diambil = B
Untuk lebih jelasnya, lebar alur pelayaran dapat dilihat pada Gambar 4.2 dan
Gambar 4.3.

1,5 B

1,8 B

1,5 B

Kapal

Gambar 4.2 Lebar Alur Untuk Satu Kapal

4-5

1,5 B

1,8 B

1,8 B

Kapal

Kapal

1,5 B

Gambar 4.3 Lebar Alur Untuk Dua Kapal


Kemiringan lereng alur pelayaran ditentukan berdasarkan analisa stabilitas lereng
yang harganya tergantung pada jenis material dasar perairan dan kedalaman alur.
4.3

KOLAM PELABUHAN/TERMINAL KHUSUS BATUBARA


Perairan yang menampung kegiatan kapal untuk bongkar muat, berlabuh,

mengisi persediaan dan memutar kapal dinamakan kolam pelabuhan/terminal


khusus. Parameter-parameter bagi perencanaan kolam pelabuhan/terminal khusus
batubara adalah sebagai berikut:

Bathimetri laut (kedalaman perairan).

Elevasi muka air rencana yang ada (hasil analisa pasang surut).

Kondisi angin di perairan (arah dan kecepatan).

Arah, kecepatan dan tinggi gelombang pada perairan (hasil peramalan


gelombang).

Arus yang terjadi di perairan.

Ukuran kapal rencana dan rencana manuver yang diperbolehkan.

Perairan yang relatif tenang.

Lebar dan kedalaman perairan disesuaikan dengan kebutuhan.

Kemudahan gerak kapal (manuver).

4-6

Meskipun batas lokasi kolam pelabuhan/terminal khusus batubara sulit


ditentukan secara tepat, akan tetapi biasanya dibatasi oleh daratan, penahan
gelombang, konstruksi dermaga atau batas administratif pelabuhan/terminal
khusus batubara. Di samping parameter-parameter yang telah dijelaskan di atas,
kolam pelabuhan/terminal khusus batubara juga harus memenuhi syarat sebagai
berikut:

Cukup luas sehingga dapat menampung semua kapal yang datang berlabuh
dan masih dapat bergerak dengan bebas.

Cukup lebar sehingga kapal dapat melakukan manuver dengan bebas yang
merupakan gerak melingkar yang tidak terputus.

Cukup dalam sehingga kapal terbesar masih bisa masuk ke dalam kolam
pelabuhan/terminal khusus batubara pada saat air surut.

4.3.1 Luas Kolam


Untuk perencanaan luas kolam yang ada, kemudahan manuver kapal
menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Mengingat hal tersebut, maka
perlu disediakan area pada kolam untuk dapat menampung kegiatan yang
dilakukan oleh kapal mulai dari kedatangan sampai berangkat dengan membuat
perencanaan kolam sebagai berikut:

Perlu disediakan kolam putar untuk manuver kapal.

Perlu adanya area bongkar muat kapal.

Perlu disediakan area tambat terpisah dengan area bongkar.

Dengan demikian persamaan untuk menghitung kebutuhan luas kolam


pelabuhan/terminal khusus batubara adalah:
A = ATR + AB + AT
di mana:
ATR = luas kolam putar (turning basin) (m2)
AB = luas area bongkar muat (m2)
AT = luas area tambat (m2)

4-7

4.3.2 Kolam Putar (Turning Basin)


Turning basin atau kolam putar diperlukan agar kapal dapat mudah
berbalik arah. Luas area untuk perputaran kapal sangat dipengaruhi oleh ukuran
kapal, sistem operasi dan jenis kapal. Radius kolam putar diperkirakan sebesar 1,5
kali ukuran panjang kapal maksimum sehingga luas kolam putar menjadi:
ATR = (1,5.L)2
= 534776,8 m2
di mana:
ATR = luas kolam putar (m2)
L

= panjang kapal maksimum yang akan berlabuh di pelabuhan/terminal


khusus batubara (m)

4.3.3 Area Bongkar Muat


Kolam pelabuhan/terminal khusus batubara diperlukan untuk kegiatan
berlabuh untuk bongkar muatan, persiapan operasi (loading), dan lain sebagainya.
Diperkirakan luas kolam untuk keperluan tersebut tidak kurang dari sebagai
berikut:
ABM = 3 (n.l.b)
= 3 (1*275*42) = 34650 m2.
di mana:
ABM = luas area bongkar muat yang dibutuhkan (m2)
n

= jumlah kapal berlabuh di pelabuhan/terminal khusus batubara

= panjang kapal (m)

= lebar kapal (m)

4.3.4 Area Tambat


Bila kolam direncanakan untuk dapat menampung kapal bertambat dengan
catatan tidak mengganggu kegiatan bongkar muat dan manuvering kapal yang
akan keluar masuk kolam pelabuhan/terminal khusus batubara, maka luas area
tambat yang dibutuhkan adalah:
4-8

AT

= n.(1,5.L) x (4/3.B)
= 1*(1,5*275)*(4/3 * 42) = 23.100 m2.

di mana:
L

= panjang kapal (m)

= lebar kapal (m)

4.3.5 Kedalaman Kolam


Kedalaman kanal dan pelabuhan/terminal khusus batubara ditentukan oleh
faktor-faktor draft kapal dengan muatan penuh, tinggi gelombang maksimum,
tinggi ayunan kapal (squat) dan jarak aman antara lunas dan dasar perairan.
Komponen penentu kedalaman kolam dapat dilihat pada Gambar 4.4 . Rumus
untuk menghitung kedalaman kolam dapat diberikan sebagai berikut:
D = d+S+C
= 16,1 + 1,5 + 2,5 = 20,1m
di mana:
D = draft kapal (m)
S = squat kapal (m)
C = clearance/jarak aman (m)

Gambar 4.4 Komponen Penentu Kedalaman Kolam

4-9

4.4. KEBUTUHAN FASILITAS LAINNYA

4.4.1

Dermaga

A.

Pengertian Dermaga
Deramaga adalah suatu bangunan pada pelabuhan yang digunakan untuk

merapat dan bertambat kapal yang akan melakukan bongkar muat barang dan
menaik-turunkan penumpang. Bentuk dan dimensi dermaga tergantung pada jenis
dan ukuran kapal yang akan merapat dan bertambat pada dermaga tersebut.
Dengan demikian, dermaga tersebut harus didesain sesuai dengan kebutuhan
kapal yang akan merapat dan bertambat.
B.

Tipe Dermaga
Pemilihan tipe dermaga ditentukan oleh jenis kapal yang dilayani, ukuran

kapal, kondisi topografi dan tanah dasar laut, serta kondisi hidro-oseanografi.
Dalam penentuan tipe dermaga, kriteria-kriteria tersebut harus dipenuhi agar
dapat mengoptimalisasi penggunaan biaya dalam konstruksi dermaga tersebut.
Secara umum tipe dermaga terbagi menjadi tiga yaitu wharf, pier dan jetty.
Struktur dermaga tipe wharf dan pier dapat berupa struktur tertutup atau terbuka,
sementara dermaga tipe jetty umumnya menggunakan struktur terbuka.
B.1

Wharf
Wharf adalah dermaga yang dibuat sejajar dan terhubung langsung dengan

garis pantai. Struktur dermaga tipe wharf dapat berupa struktur tertutup maupun
struktur terbuka. Pada umumnya dermaga tipe wharf digunakan pada pelabuhan
general cargo dan container yang memerlukan lapangan penumpukan luas yang
lokasinya dekat dengan dermaga.
Perencanaan wharf harus memperhitungkan tambatan kapal, peralatan
bongkar muat dan fasilitas transportasi darat. Karakteristik kapal yang akan
berlabuh mempengaruhi panjang wharf dan kedalaman yang diperlukan untuk
merapatnya kapal. Pada Gambar 4.5 dan Gambar 4.6 masing-masing di bawah ini
4 - 10

dapat dilihat ilustrasi dermaga tipe wharf dan salah satu contoh dermaga tipe
wharf di Houston.

Gambar 4.5 Ilustrasi Dermaga tipe wharf


(Sumber: Tsinker, G., 2004, Port Engineering)

Gambar 4.6 Dermaga tipe wharf di Houston (Sumber: www.wikipedia.org)

4 - 11

B.2

Pier
Sama halnya dengan wharf, pier merupakan tipe dermaga yang terhubung

langsung dengan garis pantai. Dermaga tipe pier dapat berbentuk menjari, bentuk
A dan bentuk L.
Salah satu kelebihan dermaga tipe ini ialah dapat menampung lebih
banyak kapal per satuan panjang dermaga karena dapat digunakan merapat dan
bertambat kapal pada kedua sisinya. Struktur dermaga tipe pier dapat berupa
struktur tertutup dan struktur terbuka. Biasanya dermaga tipe pier digunakan
untuk merapat dan bertambat kapal penumpang dan kapal pesiar. Pada Gambar
4.7 di bawah ini dapat dilihat salah satu contoh dermaga tipe pier di New York.

Gambar 4.7 Dermaga tipe pier di New York (sumber: www.wikipedia.org)


B.3

Jetty
Jetty adalah dermaga yang dibangun menjorok cukup jauh ke arah laut,

dengan maksud agar ujung dermaga berada pada kedalaman yang cukup untuk
merapat kapal. Pada umumnya jetty digunakan untuk merapat kapal pengangkut
curah cair dan curah kering yang memiliki draft cukup besar. Pada dermaga tipe
jetty terdapat struktur tambahan berupa breasting dolphin yang berfungsi untuk
4 - 12

menahan benturan kapal yang merapat dan mooring dolphin yang berfungsi untuk
menambatkan kapal. Dolphin tersebut dihubungkan dengan catwalk (semacam
jembatan kecil), yang berfungsi sebagai jalan petugas yang akan mengikatkan tali
kapal ke mooring dolphin. Pada Gambar 4.8 di bawah ini dapat dilihat ilustrasi
satu contoh dermaga tipe jetty di Teluk Abu Qir.

Gambar 4.8 Dermaga tipe jetty di Teluk Abu Qir (Sumber: www.egyptianlng. com)

C.

Tipe Dermaga yang Digunakan


Dari tinjauan terhadap batimetri di sekitar lokasi yang akan dibangun

dermaga serta jenis kapal yang akan dilayani pada dermaga maka dipilih
bentuk dermaga tipe jetty dengan pertimbangan sebagai berikut: (1). Kapal
yang akan dilayani memiliki draft yang cukup besar sehingga membutuhkan
kedalaman perairan yang cukup dalam; (2) Dermaga berada pada kedalaman
perairan yang cukup dalam sehingga mempermudah akses keluar masuk dan
manuver kapal; (3) Tidak memerlukan pengerukan di sekitar lokasi dermaga
sehingga menurunkan biaya baik pada saat pembangunan dan biaya rutin untuk

4 - 13

pengerukan. Pengerukan dilakukan jika kapal pada tahap pertama yaitu dengan
bobot mati 80.000 DWT hendak ditingkatkan menjadi 100.000 DWT.
D.

Tipe Struktur Dermaga


Tipe struktur dermaga mengacu pada British Standard (BS) 6349-2 : 1988,

Code of Practice for Maritime Structures Part 2: Design of Quay Walls, Jetties
and Dolphins. Tipe struktur dermaga terbagi menjadi tiga yaitu sheet pile,
concrete caisson dan deck on pile. Pada sub bab di bawah ini akan dijelaskan
lebih jauh mengenai masing-masing tipe struktur dermaga.
D.1

Sheet Pile
Struktur sheet pile merupakan tipe struktur dermaga tertutup. Struktur ini

tidak menggunakan kemiringan alami dari tanah. Dalam hal ini, gaya-gaya akibat
perbedaaan elevasi antara lantai dermaga dengan dasar alur pelayaran ditahan
oleh struktur dinding penahan tanah. Untuk menahan gaya lateral tanah akibat
dari kapal yang sedang bersandar biasanya digunakan pile di belakang turap.
Struktur tipe ini biasanya dibangun pada garis pantai yang memiliki kemiringan
curam. Pada Gambar 4.9 di bawah ini dapat dilihat ilustrasi dari tipe struktur
dermaga sheet pile.

4 - 14

Gambar 4.9. Ilustrasi tipe struktur dermaga sheet pile


(Sumber: BS 6349-2: 1988 Code of Practice for Maritime)

D.2

Concrete Caisson
Concrete caisson merupakan salah satu tipe gravity structure, yang prinsip

kerjanya menggunakan berat sendiri dari struktur untuk menahan gaya vertikal
dan horizontal. Concrete caisson adalah suatu konstruksi blok-blok beton
bertulang berbentuk kotak- kotak yang dibuat di darat dan dipasang pada lokasi
dermaga dengan cara diapungkan dan diatur pada posisi yang direncanakan,
kemudian ditenggelamkan dan diberi material pengisi ruang-ruang kosong pada
concrete caisson tersebut. Pada pemasangannya, tipe struktur dermaga ini
memerlukan ketelitian tinggi dan dianggap kurang ekonomis sehingga tidak
banyak digunakan pada struktur dermaga. Pada Gambar 4.10 di bawah ini dapat
dilihat ilustrasi dari tipe struktur dermaga concrete caisson.

Gambar 4.10 Ilustrasi tipe struktur dermaga concrete caisson


(Sumber: BS 6349-2: 1988 Code of Practice for Maritime Structures Part 2: Design of
Quay Walls, Jetties and Dolphins)

D.3

Deck on Pile
Merupakan tipe struktur dermaga terbuka yang menggunakan pile sebagai

pondasi bagi lantai dermaga. Pile berfungsi untuk menyalurkan seluruh beban
vertikal dan horizontal yang diterima struktur dermaga ke tanah pondasi. Untuk

4 - 15

menahan gaya lateral yang cukup besar akibat berthing dan mooring kapal, dapat
dilakukan pemasangan pile miring.
Tipe struktur dermaga ini banyak digunakan karena teknis pengerjaannya
relatif mudah dan telah banyak dikuasai oleh kontraktor, selain itu tipe struktur
dermaga ini dapat digunakan pada berbagai kondisi garis pantai. Pada Gambar
4.11 di bawah ini dapat dilihat ilustrasi dari tipe struktur dermaga deck on pile.

Gambar 4.11 Ilustrasi tipe struktur dermaga deck on pile


(Sumber: BS 6349-2: 1988 Code of Practice for Maritime Structures Part : Design of
Quay Walls, Jetties and Dolphins)

E.

Tipe Struktur Dermaga yang Digunakan


Pada desain dermaga ini, tipe struktur dermaga yang digunakan ialah deck

on pile dengan pertimbangan sebagai berikut: (1) Struktur dermaga harus dapat
menahan beban horisontal yang cukup besar pada struktur dermaga, maka dari itu
digunakan struktur deck on pile dengan pemancangan pile miring; (2) Dalam
pelaksanaannya, pembuatan struktur dermaga deck on pile sudah umum
digunakan sehingga teknis pengerjaannnya sudah banyak dikuasai oleh
kontraktor; (3) Dermaga berada pada kedalaman perairan yang cukup dalam
sehingga diperlukan banyak material pengisi yang secara tidak langsung akan
memakan biaya yang cukup besar apabila menggunakan tipe struktur dermaga
sheet pile atau concrete caisson.

4.4.2 Fasilitas Gedung Perkantoran

4 - 16

A. Kantor Perusahaan
Bangunan ini disediakan pihak pengelola pelabuhan/terminal khusus
batubara untuk keperluan administrasi bongkar muat untuk mengontrol
kegiatannya di pelabuhan/terminal khusus batubara dan untuk mempermudah
pihak-pihak pengguna jasa perusahaan tersebut dalam melakukan kegiatan
pengiriman atau pendatangan barang. Rencana kebutuhan bangunan ini seluas
kurang lebih 60 m2.

B. Pos Jaga
Bangunan ini disediakan untuk keperluan tempat jaga dan peristirahatan
bagi petugas keamanan (satpam) kawasan pelabuhan/terminal khusus batubara
dari sengatan sinar matahari maupun hujan pada saat menjalankan tugasnya.
Bangunan ini direncanakan seluas 12 m2.

C. Rumah Pompa dan Genset


Bangunan ini disiapkan untuk menampung/menempatkan pompa air dan
generator listrik. Bangunan ini ditempatkan di lokasi yang tingkat keamanannya
terjamin dengan maksud agar kegiatan pemompaan yang terjadi tidak akan
menimbulkan gangguan terhadap aktifitas yang lain. Lokasi bangunan akan
ditempatkan berdekatan dengan lokasi sumber pengadaan air bersih kompleks
agar pemanfaatan pompa air dapat seefisien mungkin. Luas bangunan ini
direncanakan seluas 90 m2.

D. Gardu PLN
Bangunan ini digunakan untuk menempatkan panel distribusi listrik dari
dan ke kompleks Pelabuhan/terminal khusus batubara. Bangunan ini memiliki
tegangan yang tinggi sehingga di tempatkan pada daerah yang aman dan jauh dari
gangguan. Luas bangunan ini 9 m2.

4 - 17

E. Gudang Peralatan
Bangunan ini digunakan untuk penyimpanan perlengkapan-perlengkapan
operasional peralatan bantu bongkar muat barang. Selain itu, bangunan ini juga
dapat difungsikan sebagai bengkel tempat perbaikan peralatan bantu angkat yang
ada di pelabuhan/terminal khusus batubara. Kebutuhan luas bangunan ini seluas
274 m2.

F. Pemadam Kebakaran
Diperkirakan tersedia 1 unit mobil kebakaran yang dilayani oleh 5 orang
petugas. Selain garasi untuk mobil unit, diperlukan juga bengkel dan
kantor/ruangan untuk para operator. Kebutuhan luas adalah :

Garasi mobil unit dan bengkel

250 m2

Ruang operator, kantor, dll

200 m2

Luas total bangunan

450 m2

G. Bak Penampungan Air


Merupakan ruang untuk menyimpan atau menampung air, baik sebagai
persediaan air bersih maupun untuk kepentingan pelabuhan/terminal khusus
batubara lainnya. Bak penampung air ini letaknya diupayakan dekat dengan
rumah pompa. Bak penampung air ini merupakan salah satu fasilitas penunjang
instalasi air bersih yang ada di daerah lingkungan kerja daratan dari suatu
pelabuhan/terminal khusus batubara.
H. Masjid
Merupakan ruang yang digunakan untuk beribadah bagi umat muslim.
Lokasi masjid ini diupayakan tidak berada pada lokasi yang terlalu bising agar
tidak mengganggu kenyamanan beribadah. Masjid ini merupakan salah satu
fasilitas umum penunjang peribadatan yang ada di daerah lingkungan kerja

4 - 18

daratan dari suatu pelabuhan/terminal khusus batubara. Kebutuhan ruang beserta


dengan perhitungan dan standar yang dipergunakan adalah:
a) Ruang Sholat ; kapasitas 100 orang, dengan standar ruangnya 1,03 m2/orang.
b) Mighrab ; diasumsikan seluas 3 m2.
c) Tempat wudhu ; disediakan untuk pria (15 unit) dan wanita (5 unit), dengan
standar ruangnya 0,96 m2/orang.
d) Km/wc ; disediakan untuk pria dan wanita, dengan standar ruangnya 2,70
m2/orang.
e) Gudang ; diasumsikan seluas 9 m2.
I. Poliklinik
Merupakan ruang yang digunakan untuk berobat jika ada penumpang
maupun pengantar/penjemput, serta juga karyawan pelabuhan/terminal khusus
batubara yang sedang mengalami sakit. Poliklinik ini merupakan bentuk
pertolongan pertama. Poliklinik ini merupakan salah satu fasilitas umum
penunjang kesehatan yang ada di daerah lingkungan kerja daratan dari suatu
pelabuhan/terminal

khusus

batubara.

Kebutuhan

ruang

beserta

dengan

perhitungan dan standar yang dipergunakan adalah :


a)

Ruang dokter ; menampung 2 orang, dengan standar ruangnya 2,00 m2/orang.

b)

Ruang periksa ; menampung 2 orang, dengan standar ruangnya 2,00


m2/orang.

c)

Ruang rawat ; menampung 3 orang, dengan standar ruangnya 3,00 m2/orang.

d)

Ruang tunggu ; menampung 4 orang, dengan standar ruangnya 1,50


m2/orang.

e)

Ruang obat ; diasumsikan seluas 3,00 m2/orang.

f)

Km/wc ; disediakan untuk pria dan wanita, dengan standar ruangnya 2,00
m2/orang.

Berikut adalah tabel mengenai kebutuhan serta besaran ruang yang diperlukan
untuk membentuk ruang poliklinik.

4 - 19

Hasil penghitungan kebutuhan sarana dan prasarana selanjutnya dipergunakan


dalam desain bangunan pelabuhan/terminal khusus batubara. Fasilitas yang di
desain minimal sama dengan luasan yang dibutuhkan.

4 - 20