Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS POTENSI ANTIBAKTERI TEH ROSELLA TERHADAP HISTOLOGI USUS HALUS MENCIT AKIBAT PAPARAN Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC)

Oleh : Ervina Dewi 1 , Widya Sari 2 dan Khairil 3

( 1 Dosen Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jabal Ghafur, 2 Dosen Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala, 3 Dosen Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Syiah Kuala Darussalam)

ABSTRACT

This research aimed to know the ability of rosela tea to repair of small intestine destructed due to EPEC intervention. A completely randomized-block design was used 6 treatments and 4 repetition

of each treatment. The treatments were aquadest (P 0 ), EPEC and aquadest (P1), EPEC and

nifuroxazide antibiotic (P 2 ), EPEC and 250 ml/kg bw rosela tea (P 3 ), 500 ml/kg bw rosela tea (P 4 ), and

750 ml/kg bw rosela tea (P 5 ). Paraffin method was apllied of microscopic structure observation. The parameters observed was alteration of small intestine mucosal due to EPEC intervention. A variance analysis followed by Duncan Multiple Range Test was tested to the data alteration of small intestine due to EPEC intervention. The result showed that rosela tea could significant on increased of length intestine mucosal. In conlusion, the rosela tea has ability increased of length intestine mucosal due to EPEC. Key word : EPEC, Rosela Tea, Intestine Mucosal

I. PENDAHULUAN

Penggunaan tanaman berkhasiat obat semakin luas di kalangan masyarakat karena merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia. Sampai sejauh ini kandungan kimia, khasiat/kegunaan maupun efek sampingnya belum banyak diteliti secara ilmiah (1). Tanaman berkhasiat obat merupakan obat tradisional yang perlu dioptimalkan pemanfaatannya (2). Tanaman

berkhasiat obat yang sekarang banyak dikonsumsi

di masyarakat adalah bunga rosela (Hibiscus

sabdariffa L.). Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa tanaman rosela memiliki efek cardiprotective, anti oksidatif, hypocolesterolemi dan hepatoprotective, menginduksi apoptosis pada sel kanker [3, 4]. anti koagulasi, anti hipertensi [5], menstimulasi gerak peristaltik usus dan fungsi ginjal [6, 7]. dan antibakteri [8, 9] dan antidiare dan antiimflamasi [10,11]. Potensi sebagai obat tradisional tanaman rosela disebabkan oleh adanya kandungan bahan aktif. Tanaman rosela mengandung asam-asam organik, polisakarida, glikosida jantung, flavonoid, saponin, dan alkaloid yang berkhasiat sebagai obat [3, 4, 12]. Selain itu juga mengandung antosianin dan vitamin C sebagai antioksidan dan tanin yang berpotensi sebagai antidiare [13]. Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak rosela telah terbukti efektif dalam menghambat

pertumbuhan berbagai bakteri patogen pada manusia dan hewan [3]. Hasil penelitian

Rostinawati (2009) [9] menunjukkan bahwa ekstrak etanol kelopak rosela mengandung senyawa yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri secara in vitro. Aktivitas antibakteri dapat dilihat pada konsentrasi 1 g/ml terhadap bakteri Escherichia col, Salmonella typhi dan Staphylococcus aureus dengan diameter hambatan masing-masing sebesar 27,8 mm, 30,8 mm, dan 27,8 mm. Selain itu juga menghambat pertumbuhan Streptococcus pyogenes [14], Staphylococcus sp. [15], dan Streptococcus sanguinis [16]. Hasil penelitian membuktikan bahwa adanya aktivitas antibakteri dalam tanaman menunjukkan bahwa tanaman tersebut memiliki aktivitas antidiare [17]. Aktivitas antibakteri kelopak rosela disebabkan oleh adanya kandungan flavonoid dan tanin [13]. Flavonoid membentuk kompleks dengan protein ekstraseluler dan protein terlarut serta membentuk kompleks dengan struktur tertentu pada dinding sel bakteri seperti adhesion, polipeptida dan enzim [18]. Secara in vitro, tanin menunjukkan aktivitas antibakteri dengan cara mengkerutkan dinding dan membran sel bakteri, inaktivasi enzim dan inaktivasi materi genetik dengan menekan pembentukan dalam sintesis DNA [19]. Secara in vivo, menyatakan bahwa tanin memiliki aktivitas antibakteri menghambat enzim yang diproduksi oleh bakteri untuk mendegradasi mucin. Dalam usus mampu mengendapkan protein sehingga terjadi

mendegradasi mucin . Dalam usus mampu mengendapkan protein sehingga terjadi Sains Riset Volume 4 – No.
mendegradasi mucin . Dalam usus mampu mengendapkan protein sehingga terjadi Sains Riset Volume 4 – No.

penurunan sekresi yang membuat mukosa usus lebih resisten terhadap invasi bakteri [13]. Diare merupakan penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi buang air besar disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari penderita [20]. Diare dapat terjadi akibat adanya infeksi yang disebabkan oleh bakteri Escherichia coli. Salah satu serotipe bakteri E. coli yang dapat menyebabkan infeksi adalah Enteropathogenic E. coli (EPEC) [21]. Dalam saluran pencernaan, EPEC melekat pada permukaan mukosa usus dan menyebabkan terjadinya perubahan struktur sel epitel. Selanjutnya, EPEC melakukan invasi menembus sel mukosa sehingga menyebabkan terjadinya iritasi dan diare [22].

II. METODOLOGI

A. Bahan

Bahan yang digunakan adalah mencit (Mus musculus) berumur 2 bulan dengan berat badan 20-30 g, kelopak bunga rosela isolat Aceh, isolat bakteri EPEC koleksi Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB dengan No. ATCC 25922, media Nutrient Broth, Nutrient Agar, larutan Mc. Farland standar No. 2, akuades, xilol, entelan, albumin mayer, paraffin 56-58%, bouin, antibiotik Nifuroxazide, alkohol seri, pewarna HE, NaCl fisiologis, kaca benda, kaca penutup dan pakan.

Metode Penelitian

1. Rancangan Penelitian

Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri atas Po: Kontrol negatif (Hanya diberikan akuades), P1: Kontrol positif (pemberian EPEC dan akuades), P2: pemberian EPEC dan antibiotik nifuroxazide dosis 500 mg, P3: pemberian EPEC dan teh rosela dosis 250 ml/Kg bb, P4: pemberian EPEC dan teh rosela dosis 500 ml/Kg bb, dan P5:

pemberian EPEC dan teh rosela dosis 750 ml/Kgbb.

2. Prosedur Penelitian

a. Penyiapan Hewan Coba Mencit perlakuan diaklimatisasi selama tujuh hari di kandang percobaan. Mencit perlakuan diberi pakan dan minuman secara ad libitum. Pemeliharaan dan pemberian perlakuan dilakukan dalam keadaan aseptis.

b. Pembuatan Teh Rosela

Kelopak bunga rosela segar dipisahkan dari bagian buahnya, kemudian dicuci dengan air mengalir, ditiriskan dan dikeringkan [23]. Selanjutnya ekstraksi rosela dengan menyeduh 2 g bubuk rosela [5]. ke dalam 250 ml air selama 20 menit pada suhu 60 o C [24].

c.

Inokulasi

EPEC

dan

Pemberian

Antibakteri

Inokulasi EPEC dan pemberian antibakteri pada hewan coba dilakukan secara intubasi oesophagus [13, 21, 22]. Kultur EPEC disegarkan terlebih dahulu pada media Nutrient Broth (NB) selama 24 jam dan diinkubasi pada suhu 37°C. Selanjutnya 1 ose kultur tersebut diinokulasikan ke media pertumbuhan Nutrient Agar dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 o C, sebagai kultur kerja. EPEC yang dicekok ke mencit disiapkan dengan cara mengencerkan kultur kerja dengan larutan NaCl fisiologis 0.9 % [23] hingga konsentrasi suspensi EPEC setara dengan larutan Mc. Farland Standar No. 2 yaitu setara dengan 6,0 x 10 8 CFU/ml. Jumlah inokulasi EPEC pada hewan coba mengacu pada Arief et al. (2010) [21]., yaitu sebanyak 1 ml x 10 8 CFU/ml per ekor tikus per hari selama 7 hari. Pemberian EPEC selama tujuh hari berturut-turut mampu menyebabkan tikus diare tanpa menyebabkan kematian [13,21]. Dosis antibiotik nifuroxazide yang diberikan mengacu pada penggunaan dosis standar antibiotik nifuroxazide pada manusia dewasa yaitu 500 mg dan teh rosela mengacu pada Ali et al. (2011) [10] dan Hossain et al. (2012) [11] yaitu dosis 250 ml/kg bb, 500 ml/kg bb dan 750 ml/kg bb. Lama pemberian antibiotik nifuroxazide dan teh rosela mengikuti lama pemberian antibiotik empiris yaitu selama 72 jam yang diberikan setiap 8 jam [25]. Pemberian senyawa antibakteri dimulai pada hari ke 1 (satu) setelah pencekokan EPEC dihentikan [21].

d. Pengambilan Organ dan Pembuatan

Sediaan Histologis Hewan coba diterminasi setelah 5 jam pemberian antibakteri dihentikan. Hewan diterminasi secara discolasio servicalis [21]. Selanjutnya dilakukan bedah bangkai, organ usus halus segera diambil dan selanjutnya dibuat sediaan histologis dengan metode

parafin. Spesimen dimasukkan ke dalam

dibuat sediaan histologis dengan metode parafin. Spesimen dimasukkan ke dalam Sains Riset Volume 4 – No.
dibuat sediaan histologis dengan metode parafin. Spesimen dimasukkan ke dalam Sains Riset Volume 4 – No.

larutan fiksatif Bouin, kemudian dehidrasi dengan alkohol seri 70 % sampai alkohol absolut, kliring dalam xilol, infiltrasi dan embedding dalam blok parafin 56 - 58 o C. Sediaan disayat dengan ketebalan 5 mikron menggunakan mikrotom putar. Setiap ulangan dibuat 4 sayatan dengan interval 10 sayatan dan diletakkan di atas kaca benda yang telah diberi larutan perekat. Untuk mengamati mukosa usus halus, maka sediaan usus halus diwarnai dengan metode pewarnaan Hematoxylin Eosin (HE) [26]. Pengamatan ketebalan lapisan mukosa usus halus dilakukan dengan mikroskop cahaya pada pembesaran 10 x 10. Setiap sayatan diamati sebanyak 3 lapangan pandang sehingga setiap ulangan terdapat 12 lapangan pandang. Pengukuran ketebalan mukosa usus dilakukan dengan menggunakan eyepiece micrometer.

e. Parameter yang Diamati Parameter yang diamati adalah perubahan ketebalan lapisan mukosa usus halus feses mencit yang dipaparkan EPEC.

f. Analisis Data

Data hasil penelitian dianalisis dengan analisis varian. Selanjutnya dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan [27].

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian terhadap perubahan histologi lapisan mukosa usus halus mencit pada berbagai perlakuan menunjukkan bahwa paparan EPEC selama tujuh (7) hari berturut-turut mampu menyebabkan kerusakan lapisan mukosa usus halus. Selanjutnya pemberian senyawa antibakteri (antibiotik nifuroxazide dan teh rosela) mampu memperbaiki kerusakan lapisan mukosa usus halus akibat paparan EPEC. Pengaruh antibiotik nifuroxazide dan teh rosela terhadap perubahan histologi usus halus akibat paparan EPEC dapat dilihat pada Gambar 1.

usus halus akibat paparan EPEC dapat dilihat pada Gambar 1. a b c d Gambar 1.

a

halus akibat paparan EPEC dapat dilihat pada Gambar 1. a b c d Gambar 1. Ketebalan

b

halus akibat paparan EPEC dapat dilihat pada Gambar 1. a b c d Gambar 1. Ketebalan

c

halus akibat paparan EPEC dapat dilihat pada Gambar 1. a b c d Gambar 1. Ketebalan

d

Gambar 1. Ketebalan Lapisan Mukosa Usus Halus Akibat Paparan EPEC dan Antibakteri (ditunjuk oleh tanda panah). a kontrol negatif (P o ), b. kontrol positif (P 1 ) c. EPEC dan antibiotik nifuroxazide (P 2 ), d. EPEC dan teh rosela dosis 750 ml/kg bb (P 5 ).

Gambar 1.b menunjukkan bahwa paparan EPEC menyebabkan kerusakan mukosa usus halus yang sangat parah. Kondisi ini dapat diamati pada perlakuan P 1 yang hanya dipaparkan EPEC. Hal ini ditandai dengan rusaknya hampir semua vili usus halus. Kerusakan yang terlihat berupa terjadinya erosi vili dari lapisan mukosa usus halus. Erosi vili merupakan kehilangan sebagian epitel pada lapisan mukosa usus halus [28]. Erosi vili mengakibatkan ketebalan lapisan mukosa usus halus menjadi lebih rendah (P 1 ) [29] dibandingkan dengan perlakuan lain antibakteri walaupun sebelumnya telah dipaparkan EPEC. Selanjutnya, pemberian antibakteri mampu memperbaiki kerusakan lapisan mukosa usus halus akibat paparan EPEC. Hal ini ditandai dengan sedikitnya bagian usus yang mengalami erosi vili dan terjadi peningkatan ketebalan lapisan mukosa usus halus. Rerata ketebalan lapisan mukosa usus halus mencit berbagai perlakuan dapat dilihat pada Gambar 2. Kerusakan lapisan mukosa usus halus akibat paparan EPEC selama 7 hari menyebabkan rendahnya lapisan mukosa usus halus (P 1 ) dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Selanjutnya pemberian antibakteri (P 2 , P 3 , P 4 dan P 5 ) dapat meningkatkan kembali ketebalan lapisan mukosa usus halus yang sebelumnya telah rendah akibat paparan EPEC.

lapisan mukosa usus halus yang sebelumnya telah rendah akibat paparan EPEC. Sains Riset Volume 4 –
lapisan mukosa usus halus yang sebelumnya telah rendah akibat paparan EPEC. Sains Riset Volume 4 –
0.4 0.3 0.2 0.1 0 Po P1 P2 P3 P4 P5 Ketebalan Lapisan Mukosa Usus
0.4
0.3
0.2
0.1
0
Po
P1
P2
P3
P4
P5
Ketebalan
Lapisan Mukosa
Usus Halus

Perlakuan

Gambar

Usus Halus

Peningkatan ketebalan lapisan mukosa usus halus akibat pemberian teh rosela menunjukkan adanya aktivitas antiinflamasi dari teh rosela. Peningkatan ketebalan lapisan mukosa usus halus terjadi seiring dengan peningkatan dosis teh rosela yang diberikan. Analisis varian terhadap perubahan ketebalan lapisan mukosa usus halus mencit akibat paparan EPEC pada berbagai perlakuan antibakteri menunjukkan adanya pengaruh perlakuan yang berbeda nyata. Hasil uji jarak berganda Duncan terhadap rerata perubahan ketebalan lapisan mukosa usus halus mencit pada berbagai perlakuan dapat dilihat pada Tabel 1.

Mukosa

2.

Rerata

Ketebalan

Lapisan

Tabel 1. Rerata Ketebalan Lapisan Mukosa Usus Halus Mencit (mm)

Perlakuan

X ± SD

P o : Kontrol negatif (akuades)

0,2721 b ± 0,0296

P 1 : Kontrol positif (EPEC)

0,1790 c ± 0,0165

P 2 : EPEC dan antibiotik

0,3053 ab ± 0,0397

nifuroxazide dosis

500 mg

P 3 : EPEC dan teh rosela dosis

0,2862 ab ± 0,0531

250

ml/Kg bb

P 4 : EPEC dan teh rosela dosis

0,2948 ab ± 0,0252

500

ml/Kg bb

P 5 : EPEC dan teh rosela dosis

0,3361 a ± 0,0469

750

ml/Kg bb

Keterangan : Superskrip huruf yang berbeda (a,b,c) menunjukkan perbedaan nyata

(P<0,05)

Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan P 1 berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan P 0 , P 2, P 3, P 4, dan P 5. Perlakuan P 0 tidak berbeda nyata dengan P 2, P 3, P 4 dan berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan P 5.

Berdasarkan Tabel 4.1, rerata ketebalan lapisan mukosa usus halus mencit tertinggi terdapat pada perlakuan P 5 yaitu 0,3361 mm. Selanjutnya diikuti oleh P 2 sebesar 0,3053 mm, P 4 sebesar 0,2948 mm, P 3 sebesar 0,2862 mm, P 0

sebesar 0,2721 mm dan terendah terdapat pada perlakuan P 1 yaitu 0,1790 mm. Penurunan ketebalan lapisan mukosa usus halus mencit perlakuan P 1 terjadi secara bermakna (P<0,05) dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Perlakuan P 2, P 3, P 4 tidak berbeda nyata dengan P 0. Namun demikian, P 5 berbeda nyata dengan perlakuan P 0 . Penurunan ketebalan lapisan mukosa usus halus pada perlakuan P 1 disebabkan oleh kerusakan lapisan mukosa usus halus akibat paparan EPEC. Hasil penelitian membuktikan bahwa paparan EPEC pada hewan coba menyebabkan ketebalan lapisan mukosa usus halus mengalami penurunan dengan menunjukkan terjadinya kerusakan atau hilangnya mikrovili usus halus [13, 29]. Kerusakan lapisan mukosa usus halus pada perlakuan P 1 diduga disebabkan oleh proses infeksi yang dilakukan oleh EPEC dalam usus halus. EPEC dapat menginfeksi usus halus dan menyebabkan luka pada lapisan mukosa usus halus. EPEC merupakan salah satu serotipe E. coli patogen yang dapat membentuk koloni di permukaan sel epitel mukosa usus halus dan menyebabkan kerusakan pada vili usus [22]. Bakteri EPEC yang dipaparkan pada mencit dapat melekat dengan baik pada mukosa usus halus mencit. Hal ini dapat terjadi karena pada mukosa usus halus mengandung senyawa yang dapat memediasi perlekatan EPEC. Umumnya perlekatan bakteri pada sel epitel inang berguna untuk mencegah tersapunya bakteri oleh mukus yang membasahi permukaan jaringan. Mukus ini terbentuk dari mucin yang merupakan glikoprotein yang menyusun mukus tersebut [30]. Glikoprotein inilah yang dapat menyebabkan bakteri melekat baik secara spesifik maupun secara alami [31]. Perlekatan EPEC pada mukosa usus halus diduga juga disebabkan oleh enzim yang dihasilkan oleh EPEC. Enzim ini berguna untuk memperantarai proses perlekatan EPEC dengan mukosa usus halus sehingga EPEC dapat melekat kuat. EPEC menghasilkan enzim protease ekstraseluler yang dapat mendegradasi mucin pada mukosa usus halus sehingga dapat melekat. Perlekatan EPEC menyebabkan kerusakan pada lapisan mukosa usus halus [13]. Sumber lain juga menambahkan bahwa mekanisme patogenitas EPEC pada hewan coba terjadi melalui jalur cell signaling [32]. Patogenitas EPEC diawali

coba terjadi melalui jalur cell signaling [32]. Patogenitas EPEC diawali Sains Riset Volume 4 – No.
coba terjadi melalui jalur cell signaling [32]. Patogenitas EPEC diawali Sains Riset Volume 4 – No.

dengan penempelan pada sel epitel usus halus dan membentuk lesi attaching and effacing (A/E) [33, 34, 35]. Ciri dari patogenitas A/E terletak pada tumpuannya di permukaan sel inang dan menyebabkan kerusakan pada mikrovili usus halus

[13].

Perlekatan EPEC diduga bukan hanya karena adanya enzim protease ekstraseluler, tetapi juga dipengaruhi oleh hidrofobilitas dan muatan ion di permukaan, pengikatan molekul pada bakteri (ligand) dan interaksi reseptor dengan sel inang. Interaksi antara bakteri dengan sel inang dibantu oleh molekul permukaan spesifik. EPEC mempunyai sifat perlekatan ke sel usus halus yang diperantarai oleh pilus [30]. Tahap awal penempelan EPEC pada sel epitel diperantarai oleh bundle-forming pilus (BFP). Setelah pelekatan awal, mikrovili usus halus diganggu dan EPEC mensekresikan beberapa faktor virulen melalui sekresi tipe III dan mensekresikan reseptor Tir (Translocated Intimin Receptor) ke dalam sel inang [36]. EPEC kemudian mengikat Tir melalui protein membran luar, intimin. Transduksi sinyal terjadi dalam sel inang, termasuk aktivasi protein kinase C (PKC), inositol triphosphate (IP3), dan pelepasan Ca 2+. Beberapa protein sitoskeletal termasuk aktin, menjadi tempat melekatnya EPEC. Dan pada akhirnya, terjadi penyusunan kembali sitoskeletal setelah Tir-intimin berikatan, dan menghasilkan formasi pedestal-like structure [36]. Hasil penelitian lain juga membuktikan bahwa paparan EPEC mampu menginduksi penyusunan kembali filament aktin di usus halus [34]. EPEC memiliki locus of enterocyte effacement (LEE), yang membantu (menginduksi) perkembangan lesi A/E [37, 38]. LEE terdiri dari gen eae yang mengkode intimin, protein membran terluar yang berikatan dengan protein di dalam membran inang, sehingga dapat membentuk lesi A/E. Tirosin dipindahkan dari sel bakteri ke membran inang sehingga terfosforilasi pada satu atau lebih residu tirosin, berfungsi sebagai reseptor untuk pengikatan intimin. Kemudian sel epitel kehilangan mikrovili dan membentuk cup and pedestal pada tempat melekatnya koloni EPEC. Hal ini menunjukkan bahwa EPEC mampu menginduksi perubahan transport elektrolit ke sel inang [39, 40]. Berdasarkan hasil penelitian, pemberian senyawa antibakteri teh rosela (P 3 , P 4 dan P 5 ) mampu memperbaiki perubahan histologi lapisan mukosa usus halus yang berbeda nyata dengan kelompok kontrol positif (P 1 ). Pemberian teh rosela mampu memperbaiki kerusakan vili usus

akibat paparan EPEC. Hal ini ditandai dengan berkurangnya tingkat erosi vili pada usus halus. Menurunnya tingkat kerusakan mukosa usus halus menyebabkan meningkatnya ketebalan lapisan mukosa usus halus. Rerata ketebalan lapisan mukosa usus halus mengalami peningkatan sesuai dengan dosis teh rosela yang diberikan. Rerata ketebalan lapisan mukosa usus halus pada perlakuan P 3 , P 4 dan P 5 lebih tinggi dibandingkan P 0 , walaupun secara statistik perlakuan P 3 dan P 4 tidak berbeda nyata dengan P 0 sedangkan P 5 berbeda nyata dengan P 0 . Peningkatan rerata ketebalan lapisan mukosa usus pada perlakuan teh rosela juga tidak berbeda nyata dengan perlakuan antibiotik nifuroxazide. Hal ini disebabkan oleh aktivitas antiinflamasi dari antibiotik nifuroxazide dan teh rosela. Peningkatan rerata ketebalan lapisan mukosa usus pada perlakuan teh rosela disebabkan oleh semakin tingginya dosis teh rosela yang diberikan. Peningkatan ketebalan lapisan mukosa usus halus menunjukkan bahwa teh rosela mampu memperbaiki kerusakan lapisan mukosa usus halus akibat paparan EPEC. Perbaikan ini diperlihatkan dengan berkurangnya bagian usus halus yang rusak akibat paparan EPEC. Perbaikan ketebalan lapisan mukosa usus halus pada mencit perlakuan teh rosela yang sebelumnya telah dipaparkan EPEC diduga disebabkan oleh adanya kandungan tanin, flavonid, antosianin dan vitamin C dalam teh rosela yang berperan sebagai antioksidan serta kemampuan regenerasi sel-sel usus halus mencit. Hasil penelitian membuktikan bahwa kandungan tanin yang terkandung dalam teh rosela diketahui dapat menghambat aktivitas enzim protease ekstraseluler yang diproduksi oleh EPEC untuk mendegradasi mucin pada lapisan mukosa usus halus. Akibatnya, EPEC tidak dapat melekat pada epitel usus. Tanin juga diketahui mampu mengendapkan protein sehingga terjadi penurunan sekresi usus yang membuat mukosa usus halus lebih resisten [13]. Selain itu, tanin dapat mengkerutkan dinding dan membran sel bakteri sehingga mengganggu permeabilitas sel bakteri dan menyebabkan kematian karena tidak mampu melalukan aktivitas hidup. Tanin juga berinteraksi dengan membran sel, inaktivasi enzim dan inaktivasi materi genetik dengan menekan pembentukan dalam sintesis DNA

[19].

inaktivasi materi genetik dengan menekan pembentukan dalam sintesis DNA [19]. Sains Riset Volume 4 – No.
inaktivasi materi genetik dengan menekan pembentukan dalam sintesis DNA [19]. Sains Riset Volume 4 – No.

Teh rosela diduga mampu meningkatkan gerakan peristaltik usus halus. Gerakan peristaltik merupakan gerakan yang terjadi pada otot-otot pada saluran pencernaan yang menimbulkan gerakan semacam gelombang sehingga menimbulkan efek mendorong isinya (makanan) yang masuk ke dalam saluran pencernaan ke bagian bawah [41]. Gerakan peristaltik akibat pemberian teh rosela memungkinkan sedikitnya proses penyerapan di usus halus. Hasil penelitian sebelumnya juga menyebutkan bahwa kelopak bunga rosela mampu meningkatkan gerakan peristaltik usus [7]. sehingga dapat digunakan sebagai obat pencahar perut [15]. Peningkatan ketebalan vili pada lapisan mukosa usus halus akibat pemberian teh rosela diduga sebagai kompensasi dari aktivitas teh rosela yang mampu meningkatkan gerakan peristaltik usus halus. Gerakan peristaltik usus menyebabkan pendorongan isi usus meningkat [41]. Peningkatan gerakan peristaltik usus memicu penurunan laju penyerapan air dan nutrisi di usus halus dan menyebabkan diare. Untuk mencegah hal tersebut terjadi, diduga terjadi peningkatan multiplikasi sel-sel usus halus sehingga vili-vili usus halus menjadi lebih panjang. Kemampuan multiplikasi sel-sel lapisan mukosa usus halus menunjukkan bahwa sel usus halus mampu memperbaiki kerusakan (regenerasi) sel. Regenerasi sel merupakan suatu proses dimana suatu sel atau jaringan yang mengalami kerusakan diganti oleh sel yang memiliki fungsi yang sama. Kemampuan regenerasi ditandai dengan adanya kemampuan sel untuk membelah dan proliferasi. Sel usus halus tergolong ke dalam jenis sel yang labil, yaitu sel-sel yang mengalami kemampuan regenerasi dan kecepatan pengembalian yang tinggi. Sel usus halus akan terus membelah dan proliferasi pada kehidupan post-natal. Biasanya memiliki waktu hidup yang pendek dan waktu penembalian yang cepat [28].

Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT), Badan Penelitian dan Pengembangan kesehatan Departemen Kesehatan RI.

Kemenkes

RI.

2007.

Kebijakan

Obat

Tradisional

Nasional.

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonseia

Nomor

:

381/MENKES/SK/III/2007.

Ali, B. H., Naser A. W., and Gerald B. 2005. Phytochemical, Pharmacological and Toxicological Aspects of Hibiscus sabdariffa L.:

A Review. Phytotherapy Research. (19). 369 375.

Mahadevan, N., Shivali dan P. Kamboj. 2009. Hibiscus sabdriffa Linn.- Anoverview. Natural Product Radiance. Vol 8 (1). Pp 77-83.

Widyanto, P. S. dan Nelystia, A. 2009. Rosella, Aneka Olahan, Khasiat & Ramuan. Jakarta : Penebar Swadaya.

Okasha M. A. M., Abubakar M. S., Bako I. G. 2008. Study of The Effect of Aqueous Hibiscus sabdariffa Linn Seed Extract on Serum Prolactin Level of Lactasing Female Albino Rats. European Journal of Scientific Research vol 22 (44) pp: 575-583.

Mardiah, Sarwani, R.W. Ashadi dan A.

dan

Rahayu

2009.

Budidaya

KESIMPULAN

Pengolahan

Rosela Di Merah

Segudang

Manfaat.

Jakarta

:

Pemberian teh rosela mampu memperbaiki kerusakan lapisan mukosa usus halus dan meningkatkan ketebalan lapisan mukosa usus mencit akibat paparan EPEC.

REFERENSI

Katno, 2008. Tingkat Manfaat Keamanan dan Efektifitas Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Jawa Tengah: Balai Besar

Agromedia pustaka.

Lymyati, D. A dan Lisa S. 2008 Aktivitas Antibakteria Ekstrak Kelopak Rosela (Hibiscus sabdariffa Linn) terhadap Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes. Jurnal Obat Bahan Alam. Vol 7 (1). Hal:

47-53.

dan Streptococcus pyogenes. Jurnal Obat Bahan Alam . Vol 7 (1). Hal: 47-53. Sains Riset Volume
dan Streptococcus pyogenes. Jurnal Obat Bahan Alam . Vol 7 (1). Hal: 47-53. Sains Riset Volume

Rostinawati, T. 2009. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap Escherichia coli, Salmonella typhi dan Staphylococcus aureus dengan Metode Difusi Agar. Penelitian Mandiri. Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Jatinangor.

Ali, M.K., Ayesa A., Nripendra N. B., Utpal K. K., and Shamina A. 2011. Antinociceptic, Anti-Inflamatory, and Antidiarrheal Activities of Ethanolic Calyx Extract of Hibiscus sabdariffa Linn. (Malvaceae) In Mice. Journal of Chinese Integrative Medicine. Vol 9. No

6.

Hossain, H., Shubhra K., Dey, Arpona H., Sariful I. H., Arif A., dan Saima S. 2012. Evaluation of Antidiarrhoeal Potential of the Ethanolic Extract of Three Bangladeshi Medicinal Plants. International Journal of Pharmaceutical and Phytopharmacological Research. 1(6): 371-374.

Olaleye, M. T. 2007. Cytotoxicity and antibacterial activity of Methanolic extract of Hibiscus sabdariffa. Journal of Medicinal Plants Research 1: 9-013.

Fitrial, Y. 2009. Analisis Potensi Biji dan Umbi Teratai (Nymphaea pubescens wild) untuk Pangan Fungsional Prebiotik dan Antibakteri Escherichia coli Enteropatogenik K.1.1. Disertasi. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Del Pozo-Insfran, D., C. H. Brenes and S. T. Talcott. 2003. Antioxidant and antimicrobial properties of Hibiscus sabdariffa L. as affected by the presence of naturally occurring cofactors. Chicago: IFT Annual Meeting Chicago.

Zuhrotun. A., Rini H., dan Sri A. F. K. 2009. Pemanfaatan Ekstrak Air Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdriffa L.) Asal Kabupaten Bandung Barat Sebagai Antiinfeksi Terhadap Beberapa Genus

Bakteri Staphylococcus. Penelitian Peneliti Muda (LITMUD) UNPAD. Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.

Suwandi. T. 2012. Pengembangan Potensi Antibakteri Kelopak Bunga Hibiscus sabdariffa L (Rosela) Terhadap Streptococcus sanguinis Penginduksi Gingivitis Menuju Obat Herbal Terstandar. Disertasi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Dewanti, S. dan M. T. Wahyudi, 2011. Uji Aktivitas Antimikroba Infusum Daun Salam (Folia syzygium polyanthum Wight) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli Secara In-Vitro.

Cowan. M.M. 1999. Plant Products as Antimicrobial Agents. Clinical Microbiology Review, 12 (4).

Ajizah, A. 2004. Sensitivitas Salmonella typhimurium Terhadap Ekstrak Daun Psidium guajava L. Bioscientiae. Volume 1 (1). Halaman 31-38.

Depkes R. I., 2002. Rencana Strategi Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, 2001-2004, Depkes RI, Jakarta.

Arief, I.I., B. Sri L. J., M. Astawan dan A. B. Witarto. 2010. Efektivitas Probiotik Lactobacillus plantarum 2C12 dan Lactobacillus acidophilus 2B4 Sebagai Pencegah Diare pada Tikus Percobaan. Media Peternakan, Vol. 33, No. 3.

Astawan. M., T. Wresdiyati, I. I. Arief, dan E. Suhesti. 2011. Gambaran Hematologi Tikus Putih (Rattus norvegicus) yang Diinfeksi Escherichia coli Enteropatogenik dan Diberikan Probiotik. Media Peternakan, hlm. 7-13.

coli Enteropatogenik dan Diberikan Probiotik. Media Peternakan , hlm. 7-13. Sains Riset Volume 4 – No.
coli Enteropatogenik dan Diberikan Probiotik. Media Peternakan , hlm. 7-13. Sains Riset Volume 4 – No.

Junaidi, 2012. Analisis Potensi Bakterisidal Ekstrak Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap Bakteri Escherechia coli ESBL dan MRSA. Tesis. Program Studi Kesehatan Masyarakat Veteriner Program Pasca sarjana Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Kartini, H. N., 2012. Pengaruh Lama Penyeduhan dan Lama Penyimpanan terhadap Aktivitas Antioksidan Teh Rosela (Hibiscus sabdariffa). Repository.upi.edu. Universitas Pendidikan Indonesia.

Permenkes RI. 2011. Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 2406/MENKES/PER/XII/2011.

Gridley, W. F., 1960. Manual of Special Staining Technic. 2 nd Ed. London: Mc. Graw Hill Book Company Inc.

Gomez,

Gomez, A. A. 1995.

Prosedur Statistik untuk Penelitian.

Jakarta: UI Press.

K.

A

dan

Undewood, J. C. E. 1999. Patologi Umum dan Sistematik. Vol. 1. Edisi 2. Terjemahan dari General and Systematic Pathology oleh Sarjadi. Jakarta: EGC.

Setiorini, Y. 2012. Deteksi Secara Imunohistokimia Imunoglobulin A (IgA) Pada Usus Halus Tikus Yang Diberi Bakteri Asam Laktat (BAL) Dan Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC). Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Brooks G.F., Butel J. S., Morse S. A. 2007. Mikrobiologi Kedokteran Jawetz Melick & Adenberg. Edisi ke-22. Jakarta: EGC.

Bourlioux, P., B. Kolletzko, F. Guarner and V. Braesco. 2003. The Intestine and Its Microflora are Partners For The Protection Of The Host : Report On The

Danone Symposium “The Inteligent Intestine”. Am. J.Clin. Nutr. 78 :

675-83.

Law, R. J., Lihi

dan B.

Brett F. 2013. Infections Escherichia coli In Vitro and In Vivo Model Systems for Studying Enteropathogenic . Cold Spring

Harb Perspect Med.

G. A.,

Llan R

Donnenberg, M. S dan James B. K. 1992. Enteropathogenic Escherichia coli. Infect. Immun. 60(10):3953 - 3961.

Savkovic, S. D., Jeenilee V., Jerold R. T., Kristina A. M. dan Geil H. 2005. Infection Escherichia coli Mouse Model of Enteropathogenic. Infect. Immun. Vol. 73(2):1161 -1170.

Spehlmann, M. E., Sara M. Dann, Petr Hruz, Elaine, Hanson, Declan F. McCole dan Lars E. 2009. CXCR2- Dependent Mucosal Neutrophil Influx Protects against Colitis- Associated Diarrhea Caused by an Attaching/Effacing Lesion-Forming Bacterial Pathogen. The Journal of Immunology. Vol. 183:3332-3343.

Sharma, R., Samuel T., Farol L. T., Rajani P. K., V. K. Viswanathan dan Gail H. 2006. Balance of bacterial pro- and anti-inflammatory mediators dictates net effect of enteropathogenic on intestinal epithelial cells. Am J Physiol Gastrointest Liver Physiol.

290:G685-G694.

Clarke,

E.

Freestone dan P. H. Williams. 2003.

S.C.,

R.

D.

Haigh,

P.

P.

Virulence

of

Enteropathogenic

Escherichia

coli,

a

Global

Pathogen.

Clin.

Microbiol.

Vol.

16(3):365 378.

Karam M. R. A., Bouzari S., Oloomi M., Aslani M. M., dan Jafari A. 2010. Phenotypic and Genotypic

S., Oloomi M., Aslani M. M., dan Jafari A. 2010. Phenotypic and Genotypic Sains Riset Volume
S., Oloomi M., Aslani M. M., dan Jafari A. 2010. Phenotypic and Genotypic Sains Riset Volume

Characterization of Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC) strains in Tehran, Iran. Iranian Journal of Microbiology. Vol. 2(1). Halaman: 3-7.

Blanco, M., Schumacher S., Tasara T., Zweifel C., Blanco. J. E., dan Dahbi G. 2005. Serotypes, intimin variants and other virulence factors of eae positive Escherichia coli strains isolated from healthy cattle in Switzerland. Identification of a new intimin variant gene (eae- η2). BMC Microbiol. Vol. (5): 1-11.

Blanco, M., Blanco J. E., Dahbi G., Mora A., Alonso M. P., Varela G. 2006. Typing of intimin (eae) genes from enteropathogenic Escherichia coli (EPEC) isolated from children with diarrhea in Montevideo Uruguay:

identification of two novel intimin variants (µB and ξR/ß2B). J Med Microbiol. Vol. (55): 11651174.

Guyton, A. C dan Hall, J. E. 1997. Fisiologi Kedokteran, edisi 9. Terjemahan dan Text Book Of Medical Physiology, oleh I. Setiawan, L. M. A. K. A. Tengadi, A. Santoso. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran, EGC.

L. M. A. K. A. Tengadi, A. Santoso. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Sains Riset
L. M. A. K. A. Tengadi, A. Santoso. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Sains Riset