Anda di halaman 1dari 5

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Jenis Perkerasan


Perkerasan merupakan suatu permukaan material yang solid dan tahan
lama yang di pasang di atas permukaan tanah pada suatu area tertentu untuk
mendukung fungsi lalu lintas kendaraan maupun pejalan kaki di atasnya
(Mariana, 2008). Perkerasan dibuat agar permukaan tanah yang dilewati
menjadi lebih aman dan lebih mudah pemeliharaannya.
Berdasarkan material dan konstruksinya, perkerasan dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu (Mariana, 2008):
1. Perkerasan kedap air
Perkerasan kedap air maksudnya adalah suatu perkerasan dengan
material dan konstruksi tertentu yang menutupi permukaan tanah namun
air tidak dapat meresap ke dalam tanah. Material yang biasanya
digunakan seperti aspal, beton sor, semen, keramik, dan paving block
yang dipasang rapat dan juga paving block yang ada jaraknya namun
tertutup material lain yang kedap air seperti nat semen.
2. Perkerasan menyerap air
Perkerasan menyerap air adalah suatu perkerasan dengan material dan
konstruksi tertentu yang menutupi permukaan tanah namun masih
memungkinkan air maupun udara untuk meresap ke dalam tanah.
Material yang digunakan adalah material yang berpori atau berongga.
Selain itu, bisa juga material yang padat namun penataannya dilakukan
sedemikian rupa sehingga ada rongga untuk peresapan air maupun
tempat tumbuhnya rumput.
2.2 Perkerasan Tembus Air (Porous Pavement)
Harris (1998, dalam Mariana, 2008), mengatakan bahwa perkerasan
tembus air itu merupakan sejenis perkerasan yang disusun sedemikian rupa
sehingga memungkinkan air meresap ke dalam tanah melalui permukaan
material maupun jarak di antara materialnya. Perkerasan tembus air
berperan penting dalam menangani masalah air di suatu lingkungan.
Penggunaan perkerasan tembus air akan mendukung fungsi alamiah tanah
sebagai area resapan air.
Perkerasan tembus air dapat dibedakan menjadi dua tipe berdasarkan
material yang digunakan dan cara pemasangannya, yaitu:

1. Tipe infiltration
Tipe ini merupakan tipe yang mungkin paling sering dijumpai. Tipe
ini memungkinkan air meresap atau merembes secara langsung ke dalam
tanah melalui jarak atau celah antar unit paving yang satu dengan yang
lain. Material paving yang digunakan dapat bersifat kedap air maupun
yang tembus air.

2. Tipe porous
Tipe ini memungkinkan air meresap melalui paving

itu sendiri.

Paving yang digunakan adalah paving yang berpori dan tembus air
sehingga pemasangannya bisa tanpa jarak.

2.3 Paving Block


2.3.1 Definisi Paving Block
Menurut SNI 03-0691-1996, bata beton (paving block) didefinisikan
sebagai suatu komposisi bahan bangunan yang terbuat dari campuran semen
portland atau bahan perekat hidrolis sejenisnya, air dan agregat dengan atau
tanpa bahan tambahan lainnya yang tidak mengurangi mutu bata beton itu.
Diantara berbagai macam alternatif penutup permukaan tanah, paving
block lebih banyak memiliki variasi baik dari segi bentuk, ukuran, warna,
corak dan tekstur permukaan serta kekuatan. Penggunaan paving block
dapat divariasikan dengan jenis paving atau bahan bangunan penutup tanah
lainnya.
2.3.2

Keunggulan dan Kelemahan Paving Block

Paving Block memiliki beberapa keunggulan, diantaranya (Nurzal dan


Joni, 2013):
1. Daya serap air melalui paving block dapat menjaga keseimbangan air
tanah untuk menopang betonan/rumah diatasnya.
2. Berat paving block relatif lebih ringan.
3. Paving Block memungkinkan air terserap ke dalam tanah sehingga akan
menjamin ketersediaan air tanah untuk keperluan sehari-hari bagi
rumah/tempat usaha disekitarnya.
4. Pemasangannya mudah dan tidak memerlukan alat berat serta dapat
diproduksi secara masal.
5. Pemeliharannya mudah dan dapat di pasang kembali setelah dibongkar.
Selain memiliki keunggulan, paving block juga memiliki kelemahan,
diantaranya yaitu bila pondasi paving block tidak kuat maka kan menjadi
mudah bergelombang sehingga menjadi kurang nyaman untuk kendaraan
dengan kecepatan tinggi.
2.3.3

Klasifikasi Paving Block


Mutu paving block dapat diklasifikasikan menjadi empat berdasarkan
SNI 03-0691-1996, yaitu:
1. Mutu A
: digunakan untuk jalan
2. Mutu B
: digunakan untuk parkir
3. Mutu C
: digunakan untuk pejalan kaki
4. Mutu D
: digunakan untuk taman

2.3.4

Syarat Mutu Paving Block


Adapun syarat-syarat paving block yang digunakan berdasarkan SNI 030691-1996 adalah:
1. Sifat tampak
Permukaan paving block harus rata, tidak retak-retak dan cacat, bagian
sudut dan rusuk tidak mudah direpihkan dengan kekuatan jari tangan.
2. Ukuran
Paving block mempunyai ukuran tebal nominal minimum 60 mm
dengan toleransi 8 %.
3. Sifat fisika
Sifat fisika yang harus dimiliki paving block adalah:
Tabel 1. Sifat-sifat fisika
Mutu

Kuat tekan (Mpa)

Ketahanaan arus

Penyerapan air

(mm/menit)

rata-rata maks
(%)

A
B
C
D

Rata-rata
40
20
15
10

Min
35
17,0
12,5
8,5

Rata-rata
0,090
0,130
0,160
0,219

Min
0,103
0,149
0,184
0,251

3
6
8
10

4. Tahan terhadap natrium sulfat saat diuji


5. Cacat dan kehilangan berat yang diperbolehkan maksimum 1%.
2.4 Peraturan terkait Paving
Berdasarkan hasil pencarian di internet, kami belum menemukan peraturan
yang mewajibkan penggunaan paving. Namun terdapat standart tentang
paving yang baik yaitu Standar Nasional Indonesia 03-0691-1996.

DAFTAR PUSTAKA
Mariana, Setya. 2008. SKRIPSI. PENGGUNAAN PERKERASAN YANG
BERFUNGSI EKOLOGIS PADA TAMAN KOTA, Studi Kasus: Taman
Menteng dan Taman Honda-Galunggung. Depok: Universitas Indonesia.
Nurzal dan Joni Mahmud. 2013. PENGARUH KOMPOSISI FLY ASH
TERHADAP DAYA SERAP AIR PADA PEMBUATAN PAVING BLOCK
dalam Jurnal Teknik Mesin, Vol. 3, No.2, Oktober, hal. 41-48. Padang:
Institut Teknologi Padang.
Standar Nasional Indonesia 03-0691-1996.