Anda di halaman 1dari 26

Fiqih Islam terbagi atas 4 bagian:

1- Ibadat
Ibadah artinya pengabdian dan penyembahan seorang Muslim terhadap Allah yang
dilakukan dengan merendahkan diri serendah-rendahnya dan dengan niat yang
ikhlas menurut cara-cara yang ditentukan oleh agama.
2- Muamalat
Muamalat ialah peraturan agama untuk menjaga hak milik manusia dalam tukar
menukar barang atau seuatu yang memberi manfaat dengan cara yang ditentukan
agama agar tidak terdapat keterpaksaan dari salah satu pihak, penipuan,
pemalsuan, dan segala pendzaliman yang ada kaitannya dengan peredaran harta
dalam hidup bermasyarakat.
3- Munakahat
Munakahat ialah undang undang perkawinan atau akad yang menghalalkan
pergaulan antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya untuk
mendapatkan kebahagiaan rumah tangga dan menyelesaikan pertikaian yang
mungkin terjadi antara keduanya. Pada dasarnya pernikahan itu diperintahkan oleh
agama sesuai dengan ayat dibawah ini:
Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Kemudian
jika kamu takut tidak dapat berlaku adil maka kawinilah satu saja (an-Nisa 3)
4- Jinayat
Jinayat ialah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan dapat
menimbulkan hukuman demi untuk menjaga harta, jiwa serta hak azasi manusia.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam merupakan suatu agama yang memiliki keaslian hukum dan landasanya yang bersifat
universal, elastis dan mendalam di segala bidang. Kita sebagai umat Islam sangatlah merugi jika
tidak mempelajari ilmu agama kita, agama islam. Mempelajari ilmu agama merupakan salah satu
cara manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Begitu juga dengan mengajarkan hukum
agama juga merupakan cara pendekatan diri yang mulia, apalagi yang berhubungan dengan
hukum fiqh. Sehingga semua orang akan menjadi jelas dalam urusanya, ibadahnya, amalanya,
dan
bermanfaat
di
dunia
dan
akhirat.
Salah satu cabang dari ilmu fiqh yang penting untuk kita pelajari adalah ibadah dan muamalah.
Ibadah merupakan segala sesuatu yang dilakukan manusia dalam rangka mencari ridla Allah
SWT. Sedangkan muamalah merupakan semua hukum yang diciptakan oleh Allah untuk
mengatur
hubungan
sosial
manusia.
Dengan demikian, dalam makalah ini akan dibahas tentang ibadah dan muamalah, terutama di
bidang muamalah secara mendalam, disertai contoh dari keduanya. Diharapkan pembaca
mengetahui secara jelas tentang muamalah dan ibadah dan semoga dengan mengetahui itu
semua, segala sesuatunya yang kita kerjakan mendapat Ridlo Allah SWT.

B.
a)
b)
c)

Rumusan Masalah
Apa saja pembidangan ilmu fiqh?
Apa yang dimaksud dengan fiqh muamalah?
Bagaimana konsep fiqh muamalah dalam arti yang luas?

C.
a)
b)
c)

Tujuan Penulisan
Mengetahui pembidangan ilmu fiqh
Mengetahui pengertian fiqh muamalah
Mengetahui konsep fiqh muamalah dalam arti yang luas

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembidangan Ilmu Fiqh
Ilmu Fiqh merupakan kumpulan aturan yang meliputi segala sesuatu, memberi ketentuan
hukum terhadap semua perbuatan manusia, baik dalam urusan pribadinya sendiri maupun dalam
hubungannya sebagai umat dengan umat yang lain.
Para ulama masa dahulu telah mencoba mengadakan pembidangan ilimu Fiqh ini. Ada yang
membaginya menjadi tiga bidang yaitu ibadah, Muamalah,(Perdata Islam) dan Uqubah (Pidana
Islam), ada pula yang membaginya menjadi empat bidang yaitu Ibadah, Muamalah, Munakahat,
dan Uqubah. Walaupun demikian, dua bidang pokok hukum Islam sudah disepakati oleh semua
Fuqaha yaitu bidang ibadah dan bidang muamalah. Bidang muamalah ini kadang-kadang disebut
bidang adat (al-adat) yaitu aturan-aturan yang dimaksudkan untuk mengatur hubungan manusia

sebagai peerorangan maupun sebagai golongan, atau dengan perkataan lain, aturan-aturan untuk
mewujudkan kepentingan-kepentingan duniawi .
Apabila pembidangan itu hanya dua yaitu bidang ibadah dan muamalah, maka pengertian
muamalah disini adalah muamalah dalam arti yang luas, didalamnya termasuk bidang-bidang
hukum keluarga, pidana, perdata, acara, hukum internasional dan lain sebagainya. Sebab ada
pula pengertian bidang muamalah dalam arti sempit, yaitu hanya meliputi hukum perdata saja.
Pembidangan ilmu Fiqh dibagi menjadi dua bagian besar yaitu :
1) Hukum Ibadah (fiqh ibadah)
Yang meliputi tata cara bersuci,shalat, puasa, haji, zakat,nadzar, sumpah, dan aktivitas sejenis
terkait dengan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
Menurut ulama fiqih, ibadah adalah semua bentuk pekerjaan yang bertujuan memperoleh
keridlaan
Allah
Swt
dan
mendapatkan
pahala
darinya
di
akhirat.
Sedangkan menurut bahasa ibadah adalah patuh, tunduk, taat,mengikuti, dan doa. Ibadah dalam
arti taat diungkapkan dalam Al-Quran, antara lain dalam surat yasin ayat 60
Artinya : Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak
menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagi kamu
Ibadah ditinjau dari segi bentu dan sifatnya ada lima macam, yaitu:
1. Ibadah dalam bentuk perkataan atau lisan(ucapan), seperti berdzikir, berdoa, tahmid, dan
membaca Al-Quran
2. Ibadah dalam bentuk perbuatan yang tidak ditentukan bentuknya, seperti: jihad, menolong
orang
lain,
membantu,
dan
tajhiz
aljanazah(mengurus
jenazah)
3. Ibadah dalam bentuk pekerjaan yang telah ditentukan wujud perbuatannya, seperti: shalat,
puasa, zakat, dan haji
4. Ibadah yang tata cara dan pelaksanaannya berbentuk menahan diri seperti: puasa, iktikaf, dan
ihram
]5. Ibadah yang berbentuk menggugurkan hak, seperti memaafkan orang yang telah melakukan
kessalahan terhadapdirinya dan membebaskan seseorang yang berutang kepadanya.
2) Hukum Muamalah (fiqh muamalah)
Meliputi: tata cara akad, transaksi, hukum pidana atau perdata, dan yang lainnya, yang terkait
dengan hubungan antaramanusia atau dengan masyarakat luas.1[1]
Bidang Fiqh muamalah dalam arti yang luas ini dibagi lagi menjadi :
1. Bidang Akhwal Asyakhshiyyah atau hukum keluarga
2. Bidang Fiqh muamalah (dalam arti sempit), al-ahkam al-madaniyah
3. Bidanh Fiqh Jinayah atau Al-Ahkam Al-Murafaat
4. Bidang Fiqh Siyasah, yang meliputi :
a) Siyasah Dusturiyah atau hubungan antara rakyat dan pemerintahannya.
b) Siyasah Dauliyah atau hukum Internasional
c) Siyasah Maliyah, yaitu Hukum Ekonomi atau Al-Ahkam-Iqtishadiyah.
B. Pengertian Fiqh Muamalah
1

1. Fiqh
Menurut etimologi (bahasa) fiqh adalah paham, menurut terminology, fiqh pada mulanya berarti
pengetahuan keagamaan yang mencakup seluruh ajaran agama baik berupa akidah, akhlak,
maupun amaliah (ibadah)2[2]. Fiqh juga diartikan sebagai bagian dari syariah Islamiyah, yaitu
pengetahuan tentang hukum syariah Islamiyah yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang
telah dewasa dan berakal sehat yang diambil dari dalil-dalil yang terinci.
2. Muamalah
Menurut bahasa (lughatan), kata muamalah adalah bentuk masdar dari amala yan artinya saling
bertindak, saling berbuat, dan saling beramal. Secara istilah (syaran), muamalah merupakan
system kehidupan.3[3] Islam memberikan warna pada setiap dimensi kehidupan manusia, tak
terkecuali pada dua ekonomi, bisnis, dan masalah social. Sistem Islam ini mencoba
mendialektikan nilai-nilai ekonomi dengan nilai-nilai kaidah atau etika. Konsep dasar Islam
dalam kegiatan muamalah atau ekonomi dan bisnis juga sangat censeren dengan nilai-nilai
humanism yang bersifat Islami. Diantaranya adala kaidah-kaidah dasar fikih muamalah yang
diungkapkan oleh Jawaini yaitu sabagai berikut :
a. Hukum asal muamalah adalh diperbolehkan.
b. Konsep fiqh muamalah untuk mewujudkan kemasalahatan.
c. Menetapkan harga yang kompetitif.
d. Meninggalkan intervensi yang terlarang.
e. Menghindari eksploitasi.
f. Member kelenturan dan toleransi.
3. Fiqh Muamalah
Pengertian Fiqh Muamalah dalam Arti Luas
Diantara definisi fiqh muamalah yang dikemukakan oleh parulama ialah sebagai berikut :
a. Menurut Zuhaily, pembahasan fiqh muamalah sangat luas, mulai dari hukum pernikahan,
transaksi jual beli, hukum pidana, hukum perdata, hukum perundang- undangan, hukum
kenegaraan, ekonomi, keuangan, hingga akhlak dan etika.
b. Ad-Dimyati mendefinisikan fikih muamalah sebagai aktivitas untuk menghasilkan duniawi yang
menyebabkan keberhasilan masalah ukhrawi.
Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa fiqh muamlah adalah aturan-aturan (hukum) Allah
swt .yang ditujukan untuk mengatur kehidupan manusia dalam urusan keduniaan atau urusan
yang berkaitan dengan urusan duniawi dan sosial kemasyarakatan.
Pengertian Fiqh Muamalh dalam Arti Sempit
Beberapa definisi fiqh muamalah menurut ulama dan pakar, antara lain:
a. Menurut Suhendi (2008: 2), muamalah adalah semua akad yang membolehkan manusia saling
menukar manfaat.
b. Menurut Ahmad (1986: 1), muamalah adalah aturan Allah yang mengatur hubungan manusia
dengan manusia lainnya dalm usahanya untuk mendapatkan alat-alat keperluan jasmaninya
dengan cara yang paling baik.
c. Menurut Rasyid Ridha (2000: 2), muamalah adalah tukar-menukar barang atau sesuatu yang
bermanfaat dengan cara-cara yang telah ditentukan.
2
3

Dapat disimpulkan bahwa fiqh muamalah dalam arti sempit terkonsentrasi pada sikap patuh pada
aturan-aturan Allah yang telah ditetapkan berkaitan dengan interaksi dan perilaku manusia
lainnya dalam upaya memperoleh, mengatur, mengelola, dan mengembangkan harta benda (almal).
C. Fiqh Muamalah dalam Arti Luas
1. Bidang Al-Ahwal Asyakhsiyah
Bidang al-ahwal asyakhsiyah, yaitu hikum keluarga, yaitu yang mengatur hubungan antara
suami, istri, anak, dan keluarganya. Pokok kajiannya meliputi :
a) Fiqh munakahat
b) Fiqh mawaris
c) Wasiat
d) Wakaf
Tentang wakaf ini ada kemungkinan masuk bidang ibadah apabila dilihat dari maksud yang
mewakafkan, ada kemungkinan masuk al-ahwal asyakhsiyah apabila itu wakaf dzuri yaitu wakaf
keluarga.
Pernikahan
Yaitu aqad yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan seorang perempuan serta
menetapkan hak-hak dan kewajiban diantara keduanya. Pembahasan fiqh munakahat, meliputi
topik-topik hukum nikah, meminang, aqad nikah, wali nikah, saksi nikah, mahar (maskawin).
Wanita-wanita yang haram dinikahi baik haram maupun nasab, mushaharah (persemendaan), dan
radhaah (persesusuan) dan hadhanah. Soal-soal yang berkaitan dengan putusnya pernikahan,
dengan iddah, ruju, hakamain, ila, dzhihar, lian, nafakahah, dan iddah, yaitu berkabung dan
masa berkabung.
Di Indonesia, masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah pernikahan ini diatur didalam
Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No. 9 tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-undang No. 1 tahun 1952 dan No. 4
tahun 1952, kedua-duanya tentang wali hakim.
Mawaris
Mengandung pengertian tentang hak dan kewajiban ahli waris terhadap harta warisan,
menentukan siapa saja yang berhak terhadap warisan, bagaimana cara pembagiannya dan berapa
bagiannya masing-masing. Fiqh mawaris disebut juga ilmu faraidh, karena berbicara tentang
bagian-bagian tertentu yang menjadi hal ahli waris.
Pembahasan fiqh mawaris, meliputi masalah-masalah tahij yaitu pengurusan mayat,
pembayaran utang dan wasiat, kemudian pembagian harta. Dibahas pula tentang halanganhalangan mendapat warisan. Kemudian dibicarakan tentang orang-orang yang mendapat bagianbagian tertentu dari harta waris yang disebut Ashabul Furudh, tentang ashabah, hijab pewarisan
dzawil arkam, hak anak didalam kandungan, masalah mafqud/orang yang hilang, anak hasil
zina/lian, serta masalah-masalah khusus, seperti aul, masalah musyarakah, tsulusul baqi, dan
lain sebagainya.
Wasiat
Adalah pesan seseorang terhadap sebagian hartanya yang diberikan kepada oranglain atau
lembaga tertentu, sedangkan pelaksanaannya ditangguhkan setelah ia meninggal dunia.
Dalam wasiat dibicarakan tentang orang yang berwasiat serta syarat-syaratnya, tentang orangorang yang diberi wasiat dan bagaimana hukumnya apabila yang diberi wasiat itu membunuh
pemberi wasiat. Dibicarakan pula tentang harta yang diwasiatkan dan bagaimana apabila yang

diwasiatkan itu berupa manfaat, serta hubungan antara wasiat dan harta waris. Tentang lapad
wasiat yang disyaratkan dengan kalimat yang dapat dipahamkan untuk wasiat. Tentang penarikan
wasiat dan lain sebagainya.
Wakaf
Adalah penyisihan sebagian harta benda yang kekal zatnya dan mungkin diambil manfaatnya
untuk maksud kebaikan.
Dalam kitab-kitab fiqh dikenal dengan adanya wakaf dzuri (keluarga) dan wakaf khairi yaitu
wakaf untuk kepentingan umum. Dibahas pula tentang orang yang mewakafkan serta syaratsyaratnya, barang yang diwakafkan dan syarat-syaratnya, orang yang menerima wakaf, dan
syarat-syaratnya, shigat atau ucapan yang mewakafkan dan syarat-syaratnya. Kemudian
dibicarakan tentang macam-macam wakaf dan siapa yang mengatur wakaf dan siapa yang
mengatur barang wakaf, serta kewajiban dan hak-haknya. Selanjutnya dibicarakan tentang
penggunaan harta wakaf dan lain sebagainya.
Di Indonesia khusus tentang wakaf tanah milik telah diatur dengan Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia No. 28 tahun 1977. Dalam peraturan pemerintah tersebut ditegaskan tentang
fungsi wakaf tanah, tatacara mewakafkan dan pendaftarannya, perubahan, penyelesaian,
perselisihan, dan pengawasan perwakafan tanah milik, ketentuan pidana, ketentuan peralihan dan
ketentuan penutup.
2. Bidang Fiqh Muamalah (Dalam Arti Sempit) Al-Ahkam Al-Madaniyah
Bidang ini membahas tentang jual beli (bai), memberi barang yang belum jadi, dengan
disebutkan sifat-sifatnya dan jenisnya (sallam), gadai (ar-rahn), kefailitan (tafis), pengampunan
(hajru), perdamaian (al-sulh), pemindahan utang (al-hiwalah), jaminan utang (ad-dhaman alkafalah), perseroan dagang (syarikah), perwakilan (wikalah), titipan (al-wadhiah), pinjammeminjam (al-ariyah), merampas atau merusak harta oranglain (al-ghasb), hak membeli paksa
(syifah), memberi modal dengan bagi untung (qiradh), penggarapan tanah (al-muzaroah
musaqoh), sewa menyewa (al-ijaaroh), mengupah orang untuk menemukan barang yang hilang
(al-jialah), membuka tanah baru (ihya al-mawat) dan barang temuan (luqathah).
Apabila kita lihat sistematika pembahasan Hukum Perdata yang terdiri dari : Huku, orang pribadi
dan Hukum keluarga, Hukum benda, dan Hukum waris, Hukum perikatan, bukti dan daluwarsa,
maka materi-materi tersebut dalm hukum islam, terdapat dalam al ahwal al syakhsiyah,
muamalah dan qadla. Oleh karena itu tidak tepat mempersamakan bidang fiqh muamalah dengan
hukum perdata. Bahkan ada sebagian materi hukum perdata oleh para ulama dibahas dalam kitab
Ushul Fiqh, seperti subjek hukum atau orang mukallaf. Sistematika hukum perdata seperti juga
halnya sistematika fiqh, bukanlah suatu hal yang mutlak yang tidak bisa dirubah lagi. Sebab
sistematika itu dibuat oleh para ahli sesuai dengan perkembangan ilmu itu sendiri.
3. Bidang Fiqh Jinayah atau Al-Ahkam Al-Jinayah
Fiqh Jinayah adalah Fiqh yang mengatur cara-cara menjaga dan melindungi Hak Allah. Hak
Masyarakat dan Hak individu dari tindakan-tindakan yang tidak dibenarkan menurut hukum.4[4]
Adapun materi fiqh jinayah meliputi pembunuhan sengaja, semi sengaja dan kesalahan
disertai dengan rukun dan syaratnya. Sanksi pembunuhan, kemudian dibahas tentang
4

penganiayaaan sengaja dan penganiayaan tidak sengaja, pembuktiannya, pelaksanaan hukuman,


hapusnya hukuman zina.
4. Bidang Qadha atau Al-Ahkam Al-Murafaat
Fiqh Qadha ini membahas tentang proses penyelesaian perkara di pengadilan. Oleh karena
itu unsur pokok yang dibahas adalah tentang hakim, putusan yang dijatuhkan, hak yang
dilanggar, penggugat dalam kasus perdata atau penguasa dalam kasus pidana dan tergugat dalam
kasus perdata atau tersangka dalam kasus perdata atau tersangka dalam kasus pidana.

5. Bidang Fiqh Siyasah


Fiqh siyasah membahas tentang hubungan antara seseorang pemimpin dengan yang dipimpinnya
atau antara lembaga-lembaga kekuasaan di dalam masyarakat dengan rakyatnya. Oleh karena itu
pembahasan Fiqh siyasah ini luas sekali, yang meliputi antara lain soal: hak dan kewajiban
Imam, baiah, wuzarah ahl-halli wal-aqdi, hak dan kewajiban rakyat, kekuasaan peradilan,
pengaturan orang-orang yang pergi haji, kekuasaan yang berhubungan dengan pengaturan
ekonomi, fai, ghanimah, jizyah, kharaj, baitulmal, hubungan muslim dan non-muslim dalam
aqad, hubungan muslim dan non-muslim dalam kasus-kasus pidana, hubungan Internasional
dalam keadan perang dan damai, perjanjian internasional, penyerahan penjahat, perwakilanperwakilan asing serta tamu-tamu asing.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dalam membagi pembidangan ilmu Fiqh, para ulama ada yang membaginya terhadap tiga
bidang, empat bidang, serta dua bidang, yaitu ibadah dan muamalah. Fiqh ibadah meliputi tata
cara bersuci, shalat, puasa, haji, zakat, nadzar, sumpah, dan aktivitas sejenis terkait dengan
hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, sedangkan Fiqh muamalah meliputi tata cara akad,
transaksi, hukum pidana atau perdata, dan yang lainnya, yang terkait dengan hubungan
antarmanusia atau dengan masyarakat luas. Pengertian Fiqh muamalah itu sendiri adalah aturanaturan (hukum) Allah swt.yang ditujuka untuk mengatur kehidupan manusia dalam urusan
keduniaan atau urusan yang berkaitan dengan urusan duiawi dan sosial kemasyarakatan. Bidang
muamalah dalam arti luas terdiri dari: bidang Al-Ahwal Asyaksiyah, bidang Al-Ahkam AlMadaniyah, bidang Fiqh Jinayah atau Al-Ahkam Al-Jinayah, bidang Qadha atau Al-Ahkam AlMurafaat, dan bidang Fiqih Siyasah.

DAFTAR PUSTAKA
Djazuli A. H. Drs. 1991. Ilmu Fiqh. Bandung: Orba Shakti
Nawawi Ismail. 2012. Fikih Muamalah (Klasik dan Kontemporer). Bogor: Ghalia Indonesia
Syafei Rahmat. 2001. Fiqih Muamalah. Bandung: Pustaka Setia

Pembidangan Fiqh (Ruang Lingkup Fiqh)


Jun 29
Posted by lailintittut
BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Ilmu merupakan pondasi manusia dalam menuju segala sesuatu yang bersifat duniawi ataupun
dikehidupan yang mendatang. Tanpa ilmu manusia bagaikan orang buta yang kehilangan
tongkatnya. Mempelajari ilmu yang dimiliki merupakan salah satu usaha manusia untuk
menggapai yang ia inginkan. Usaha yang ada tak kan bisa sempurna tanpa adanya agama yang
selalui di jadikan pegangan dalam tiap langkah.
Islam merupakan suatu agama yang memiliki keaslian hukum dan landasanya yang bersifat
universal, elastis dan mendalam di segala bidang. Kita sebagai umat islam sangatlah merugi jika
tidak mempelajari ilmu agama kita, agama islam. Mempelajari ilmu agama merupakan salah satu
cara manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Begitu jug dengan mengajarkan hukum
agama juga merupakan cara pendekatan diri yang mulia, apalagi yang berhubungan dengan
hukum fiqh. Sehingga semua orang akan menjadi jelas dalam urusanya, ibadahnya, amalanya,
dan bermanfaat di dunia dan akhirat.
Salah satu cabang dari ilmu fiqh yang penting untuk kita pelajari adalah ibadah dan muamalah.
Ibadah merupakan segala sesuatu yang dilakukan manusia dalam rangka mencari ridla Allah
SWT. Sedangkan muamalah merupakan semua hukum yang diciptakan oleh Allah untuk
mengatur hubungan sosial manusia.
Dengan demikian, dalam makalah ini akan dibahas lebih mendalam tentang ibadah dan
muamalah serta contoh dari kedunya. Diharapkan pembaca mengetahui secara jelas tentang
muamalah dan ibadah dan semoga dengan mengetahui itu semua, segala sesuatunya yang kita
kerjakan mendapat Ridlo Allah SWT.
I.II Rumusan Masalah
1. Apa saja pembidangan ilmu fiqh ?
2. Apakah yang dimaksud dengan ibadah dan muamalah ?
3. Bagaimana konsep Fiqh tentang ibadah ?
4. Bagaimana konsep Fiqh tentang muamalah ?
5. Apa sajakah bentuk-bentuk dari muamalah dan ibadah ?
I.III Tujuan
1. mengetahui pembidangan ilmu Fiqh
2. mengetahui pengertian dari ibadah dan muamalah.
3. mengetahui konsep fiqh tentang ibadah.
4. mengetahui konsep fiqh tentang muamalah
5. mengetahui bentuk-bentuk dari muamalah dan ibadah.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1 IBADAH
Pengertian Ibadah
Menurut ulama fiqih, ibadah adalah semua bentuk pekerjaan yang bertujuan memperoleh
keridlaan Allah Swt dan mendapatkan pahala darinya di akhirat.
Sedangkan menurut bahasa ibadah adalah patuh, tunduk, taat,mengikuti, dan doa. Ibadah dalam
arti taat diungkapkan dalam Al-Quran, antara lain dalam surat yasin ayat 60






Artinya:
Bukankah aku telah memerintahkan kepada kamu wahai bani adam supaya kamu tidak
menyembah setan, sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.
Ibadah ditinjau dari segi bentu dan sifatnya ada lima macam, yaitu:
1. Ibadah dalam bentuk perkataan atau lisan(ucapan), seperti berdzikir, berdoa, tahmid, dan
membaca Al-Quran
2. Ibadah dalam bentuk perbuatan yang tidak ditentukan bentuknya, seperti: jihad, menolong
orang lain, membantu, dan tajhiz al- janazah(mengurus jenazah)
3. Ibadah dalam bentuk pekerjaan yang telah ditentukan wujud perbuatannya, seperti: shalat,
puasa, zakat, dan haji
4. Ibadah yang tata cara dan pelaksanaannya berbentuk menahan diri seperti: puasa, iktikaf, dan
ihram
5. Ibadah yang berbentuk menggugurkan hak, seperti memaafkan orang yang telah melakukan
kessalahan terhadapdirinya dan membebaskan seseorang yang berutang kepadanya.
Hakikat ibadah
Dengan agama hidup manusia menjadi bermakna, makna agama terletak pada fungsinya sebagai
kontrol moral manusia. Melalui ajaran-ajaranya, agama menyuruh manusia agar selalu dalam
keadaan sadar dan menguasai diri. Keadaan sadar dan menguasai diri itulah yang sebenarnya
merupakan hakikat agama atau hakikat ibadah. Melalui ibadah kepada Allah hidup manusia
menjadi terkontrol. Menumbuhkan kesadaran diri manusia bahwa ia adalah makhluk Allah SWT.
Macam- macam ibadah
1. Ibadah khassah (khusus) atau ibadah mahdah (ibadah yang ketentuannya pasti)
2. Ibadah ammah (umum) yakni semua perbuatan yang mengdatangkan kebaikan dan
dilaksanakan dengan niat yang ikhlas karena allah Swt.
II.1.1 Konsep fiqh tentang ibadah
III.1.II Aplikasi Ibadah dalam kehidupan sehari-hari
1. Sholat
Kata sholat pada dasarnya berakar dari kata yang berasal dari kata kerja
menurut pengertian bahasa mengandung dua makna yaitu berdoa dan bersalawat. Secara
istilah shalat diartikan sebagai pernyataan bakti dan memuliakan Allah dengan gerakangerakan badan dan perkataan-perkataan tertentu dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam
dan dilakukan waktu-waktu tertentu setelah memenuhi syarat-syarat.
Shalat merupakan salah satu kegiatan ibadah yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim. Sholat
merupakan salah satu dari rukun Islam. Sebagai sebuah rukun agama,sholat menjadi dasar yang

harus ditegakkan dan ditunaikan sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat yang ada.sehingga
Rosulullah menyatakannya sebagai tiang (fondasi) agama.
.
Artinya:
Sholat adalah tiang agama, Barang siapa yang mendirikan sholat, berarti ia telah menegakkan
agama. Barang siapa yang tidak mendirikan sholat maka berarti ia telah meruntuhkan agama.
Syarat syarat Shalat
Syarat syarat sahnya shalat adalah sebagai berikut:
a. Suci, yaitu suci badan, tempat dan pakaian.
b. Shalat pada waktunya, karena hal ini merupakan amalan terbaik
c. Menutup Aurat. Dalam shalat, wanita muslimah harus menutup aurat dari ujung kepala sampai
ujung kaki. Shalatnya tidak akan sah apabila rambut, lengan, betis, dada atau lehernya terbuka.
d. Menghadap kiblat
Syarat syarat wajib shalat adalah sebagai berikut:
a. Shalat itu tidak diwajibkan kecuali bagi orang muslim yang telah mengucapkan syahadatain.
b. Shalat itu hanya diwajibkan bagi mereka yang berakal sehat dan telah mencapai usia baligh.
c. Shalat juga diwajibkan setelah memasuki waktunya.
d. Suci dari hadats besar dan kecil.
Rukun shalat
a. Niat, yaitu kesengajaan yang dinyatakan dalam hati untuk melakukan sholat.
b. Takbiratul ihram
c. Berdiri bagi yang mampu
d. Membaca Al- fatihah
e. Ruku dengan tumaninah
f. Itidal dengan tumaninah
g. Sujud dua kali dengan tumaninah
h. Duduk di a ntara dua sujud dengan tumaninah
i. Membaca tasyahhud akhir
j. Duduk pada saat tasyahhud akhir
k. Membaca sholawat kepada nabi dan keluarga dalam tasyahhud akhir
l. Salam
m. Tertib
Sunnah- sunnah sholat
a. mengangkat kedua tangan untuk takbiratul ihram
b. membuat jarak antara takbirul ihramnya makmum dan imam
c. meletakan tangan kanan di atas tangan kiri
d. memandang ke arah tempat sujud
e. membaca istiazah(taawut)
f. membaca doa iftitah
g. membaca
h. Membuat jarak ( berhenti sebetar ) antara dua bacaan
i. Membaca surat sesudah Al- Fatihah
j. Takbir perpindahan
k. Bacaan dalam ruku dan sujud

l. Membaca doa diantara dua sujud


m. Tasyahhud awal
2. Zakat
Zakat menurut bahasa adalah pembangan dan pensucian. Sedangkan zakat menurut istilah adalah
mengeluarkan sebagain harta untuk diberikan pada yang berhak menerima zakat. Golongan
orang-orang yang berhak menerima zakat ada delapan, antara lain:
a. Fakir, yaitu orang yang selalu tidak mampu memenuhi kebutuhan makan dalam sehari
b. Miskin, yaitu orang yang kurang bisa memenuhi kebutuhan tapi masih bisa mengusahakan
c. Amil, yaitu orang yang diberikan tugas untuk mengelolah zakat
d. Mualaf, yaitu orang yang baru masuk islam
e. Budak, yang melakukan penebusan dirinya untuk merdeka
f. Ghorim, yaitu orang yang terbebani banyak hutang melebihi jumlah hartanya
g. Sabililah, yaitu oyang yang berperang di jalan allah, meskipun kaya
h. Ibnu sabil. Yaitu orang yang kehabisan bekal selama dalam perjalanan dengan tujuan baik.
Yang tidak berhak menerima zakat
1. Orang kaya. Rasulullah bersabda, Tidak halal mengambil sedekah (zakat) bagi orang yang
kaya dan orang yang mempunyai kekuatan tenaga. (HR Bukhari).
2. Hamba sahaya, karena masih mendapat nafkah atau tanggungan dari tuannya.
3. Keturunan Rasulullah. Rasulullah bersabda, Sesungguhnya tidak halal bagi kami (ahlul bait)
mengambil sedekah (zakat). (HR Muslim).
4. Orang yang dalam tanggungan yang berzakat, misalnya anak dan istri.
5. Orang kafir.
Tujuan zakat
Zakat disamping sebagai rukun islam yang ke tiga juga merupakan ibadah malliyah(yang
berhubungan dengan harta). Serta dapat dijadikan sebagai jalan seseorang hamba untuk
mendekatkan dirinya kepada sang kholik, sarana untuk membangun hubungan rohani dengan
Allah Swt( hablum min Allah) dan juga aspek sosial(hablum min an-nash) yang terletak pada
semangat kepedulian sosial yang menjadi misi utama ibadah ini, yakni zakat diwajibkan kepada
orang-orang yang memiliki harta lebih dan diperuntukkan bagi orang-orang yang membutukkan.
3. PUASA
Puasa menurut bahasa adalah menahan diri, meninggalkan ,menutup diri dari segala sesuatu,baik
dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, dari makanan dan minuman. Secara istilah puasa
adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa pada waktu tertentu dimulai
terbitnya matahari sampai terbenamnya matahari dengan syarat-syarat tertentu.
Hikmah puasa
Dampak secara individual adalah:
a) Untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah Swt dan Muhammad Saw
b) Untuk meningkatkan ketakwaan
c) Untuk meningkatkan tingkatan kesabaran dan ketabahan
d) Untuk mengendalikan hawa nafsu
e) Untuk menumbuhkan sifat amanah dan ikhlasan beramal
f) Untuk menyucihkan hati
g) Untuk menyembuhkan penyakit hati
h) Untuk mendapatkan pengampunan.
Dampak secara sosiologi adalah:

a) Untuk meningkatkan pengawasan nurani terhadap segalah tindakannya


b) Untuk menanamkan rasa persamaan antara si miskin dan di kaya
c) Untuk membiasakan diri berbuat baik kepada orang lain
d) Untuk menumbuhkan rasa iba terhadap orang-orang miskin
e) Untuk menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap fakir
f) Untuk menumbuhkan jiwa yang ikhlas terhad sesame dan terhadap tuhan
g) Untuk menghilangkan sikap sombong dan menjauhi perbuatan yang keji dan perbuatanperbuatan maksiat
Rukun puasa
1. Menahan diri dari segalah yang membatalkan puasa
2. Berpuasa pada waktunya(bulan Romadhon)
3. Niat puasa
Syarat-syarat puasa
Syarat wajib puasa:
a) Islam
b) Baligh
c) Berakal
d) Mampu berpuasa
e) Muqim
f) Sehat
g) mengetahui waktunya
Syarat sah
a. Islam (tidak murtad)
b. Mummayiz (dapat membedakan yang baik dan yang buruk)
c. Suci dari haid dan nifas
d. Mengetahui waktu yang ditentukan berpuasa
II.II Muamalah
Dari pengertianya, muamalah dibagi menjadi dua segi, pertama dari segi bahasa dan kedua dari
segi istilah. Menurut bahasa muamalah mempunyai arti yang artinya saling bertindak, saling
berbuat, dan saling mengamalkan. Sedangkan muamalah menurut istilah adalah dibagi menjadi
dua macam, yakni pengertian muamalah dari arti luas dan pengertian mualah dari arti sempit.
Pengertian muamalah dalam arti luas dijelaskan oleh beberapa ahli, diantaranya pendapat
Muhammad Yusuf Musa. Beliau brpendapat bahwa muamalah adalah peraturan-peraturan Allah
yang harus diikuti dan ditaati dalah hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia.
Dari beberapa sumber mengenai pengertian dalam arti luas, muamalah merupakan aturan-aturan
(hukum) Allah, untuk mengatur manusia dalam kaitanya untuk mengatur kehidupan duniawi
dalam pergaulan social. Pengertian muamalah dari arti sempit atau khas didefinisikan oleh
beberapa ulama, diantaranya adalah menurut Rasyid Ridlo yang mendefinisikan muamalah
sebagai tukar menukar barang atau sesuatu yang bermanfaat dengan cara-cara yang telah
ditentukan. Dari beberapa pendapat dapat dipahami bahwa yang dimaksud fiqh muamalah dalam
arti sempit adalah aturan-aturan Allah yang wajib ditaati yang mengatur hubungan manusia
dengan manusia dalam kaitanya dengan cara memperoleh dan mengembangkan harta benda.
Perbedaan pengertian muamalah dalam arti sempit dengan pengertian muamalah dalam arti luas
adalah dalam cakupanya. Muamalah dalam arti luas mencangkup masalah waris, misalanya ,
padahal masalah waris sudah diatur dalam disiplin ilmu sendiri, maka dalam muamalah

pengertian sempit tidak ikut di dalamnya.


Persamaan pengertian muamalah dalam arti sempit dengan muamalah dalam arti luas ialah samasama mengatur hubungan antara manusia dengan manusia dalam kaitan dengan pemutaran harta.
Pembagian muamalah
Pembagian muamalah juga terdapat pebedaan pendapat antara satu ulama yang satu dengan
ulama yang lain. Menurut Ibn Abidin, fiqh Muamalah terbagi menjadi lima bagian, yaitu :
1. Muawadlah Maliyah (hukum kebendaan)
2. Munakabat (hukum perkawinan)
3. Muhasanat (Hukum Acara)
4. Amanat dan Aryah (pinjaman)
5. Tirkah (harta peninggalan)
Ibn Abidin adalah seorang yang mendefinisikan muamalah secara luas, sehingga munakabat
termasuk salah satu bagian fiqh muamalah, padahal munakabat diatur dalam disiplin ilmu
tersendiri, yaitu fiqh Munakahat. Demikian pula tirkat, harta peninggalan atau warisan juga
termasuk bagian fiqh muamalah, padalaskhal tirkah sudah dijelaskan dalam disiplin ilmu
tersendiri, yaitu Fiqh Mawaris.
Ada juga ulama lain seperti Al-Fikri yang berpendapat lain. Dalam kitabnya al-Muamalah alMadaniyah wa al-adabiyah beliau menyatakan muamalah dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
1. Al-Muamalah al-Madiyah adalah muamalah yang mengkaji objeknya,oleh karena itu sebagian
ulama berpendapat bahwa fiqh muamalah bersifat kebendaan, karena objek fiqh muamalah
adalah benda, yang halal, haram dan syubhat untuk diperjualbelikan, benda-benda yang
memadaratkan dan benda yang mendatangkan kemaslahatan bagi manusia serta segi-segi yang
lainya.
2. Al-Muamalah al-Adabiyah adalah muamalah yang ditinjau dari segi cara tukar menukar benda
yang bersumber dari panca indra manusia, yang unsur penegaknya adalah hak-hak dan
kewajiban-kewajiban, misalnaya; jujur, hasud, dengki, dendam.
Pembagian muamalah diatas dilakukan atas dasar kepentingan teoritis semata-mata, sebab dalam
praktiknya, pembagian muamalah tersebut tidak dapat dipisahkan.
Ruang lingku muamalah sangat luas, banyak pendapat tentang itu, muamalah meliputi bidangbidang :
1. Perkawinan (munakahat)
2. Hukum waris (muwaris dan waratsah), munakahat dan muwaris (Ahkam Al-Ahwah alSyakhsiyah)
3. Hukum kebendaan (Al-Ahkam al-Madaniyah)
4. Sistem ekonomi dan keuangan (Al-Ahkam al-Iqtishadiyah wa al-Maliyah)
5. Peradilan perdata (Al-Mukhasamat atau Ahkam al-Murafaaat)
6. Peradilan pidana (Al-Jinayat atau Al-Uqubat)
7. Politik pemerintahan (Al-Ahkam al-Sulthaniyyah)
8. Hubungan Internasional (Al-Ahkam a-Dauliyah)
Sebagai sistem kehidupan, Islam memberikan warna dalam setiap dimensi kehidupan manusia,
tak terkecuali dunia ekonomi. Sistem Islam ini berusaha mendialektikkan nilai-nilai ekonomi
dengan nilai akidah atau pun etika. Artinya, kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh manusia
dibangun dengan dialektika nilai materialisme dan spiritualisme. Kegiatan ekonomi yang
dilakukan tidak hanya berbasis nilai materi, akan tetapi terdapat sandaran transendental di
dalamnya, sehingga akan bernilai ibadah. Selain itu, konsep dasar Islam dalam kegiatan
muamalah (ekonomi) juga sangat konsen terhadap nilai-nilai humanism.

Kegiatan ekonomi merupakan salah satu dari aspek muamalah dari sistem Islam, sehingga
kaidah fiqih yang digunakan dalam mengidentifikasi transaksi-transaksi ekonomi juga
menggunakan kaidah fiqih muamalah. Kaidah fiqih muamalah adalah al ashlu fil muamalati al
ibahah hatta yadullu ad daliilu ala tahrimiha (hukum asal dalam urusan muamalah adalah boleh,
kecuali ada dalil yang mengharamkannya). Ini berarti bahwa semua hal yang berhubungan
dengan muamalah yang tidak ada ketentuan baik larangan maupun anjuran yang ada di dalam
dalil Islam (Al-Quran maupun Al-Hadist), maka hal tersebut adalah diperbolehkan dalam Islam.
Kaidah fiqih dalam muamalah di atas memberikan arti bahwa dalam kegiatan muamalah yang
notabene urusan ke-dunia-an, manusia diberikan kebebasan sebebas-bebasnya untuk melakukan
apa saja yang bisa memberikan manfaat kepada dirinya sendiri, sesamanya dan lingkungannya,
selama hal tersebut tidak ada ketentuan yang melarangnya. Kaidah ini didasarkan pada Hadist
Rasulullah yang berbunyi: antum aalamu bi umurid dunyakum (kamu lebih tahu atas urusan
duniamu). Bahwa dalam urusan kehidupan dunia yang penuh dengan perubahan atas ruang dan
waktu, Islam memberikan kebebasan mutlak kepada manusia untuk menentukan jalan hidupnya,
tanpa memberikan aturan-aturan kaku yang bersifat dogmatis. Hal ini memberikan dampak
bahwa Islam menjunjung tinggi asas kreativitas pada umatnya untuk bisa mengembangkan
potensinya dalam mengelola kehidupan ini, khususnya berkenaan dengan fungsi manusia sebagai
khalifatul-Llah fil ardlh (wakil Allah di bumi).
Jadi konsep fiqh dalam muamalah bisa menjadikan kita lebih memenfaatkan apa yang ada di
bumi dengan tanpa meninggalkan syariat islam juga berlaku lebih baik sesuai syariat islam,
khususnya dalam hal muamalah.
Bidang-bidang muamalah:
1. Perkawinan (Munakahat) dan Hukum Waris
Istilah perkawinan menurut Islam disebut nikah atau ziwaj. Kedua istilah ini dilihat dari arti
katanya dalam bahasa Indonesia ada perbedaan. Sebab nikah berarti hubungan seks suami Istri
sedangkan ziwaj merupakan kesepakatan antara seorang pria dan wanita yang mengikatkan diri
dalam hubungan suami-istri untuk mencapai tujuan hidup dalam melaksanakan ibadah kepada
Allah.
Syarat dan Rukun Perkawinan:
Syarat Perkawinan :
1. Persetujuan kedua belah pihak tanpa paksaan
2. Dewasa
3. Kesamaan agama Islam
4. Tidak dalam hubungan nasab
5. Tidak ada hubungan rodhoah (sepersusu)
6. Tidak semenda (mushoharoh)
Rukun Perkawinan :
1. Calon pengantin pria dan wanita
2. Wali
3. Saksi
4. Akad Nikah
Sistem Kewarisan dalam agama Islam
Hukum waris adalah hukum yang mengatur masalah peralihan harta dari orang yang telah
meninggal kepada keluarganya yang masih hidup. Hukum waris dalam bahasa Arab disebut

mawarits dan faraidh. Disebut mawarits karena mengandung arti sebagai ketentuan yang
mengatur peralihan hak dan harta krekayaan yang ditinggalkan kepada seseorang ahli warisnya
setelah yang bersangkutan meninggal. Kemudian hukum waris yang disebut dengan istilah
faraidh karena di dalamnya terdapat bagian-bagian tertentu dari orang-orang tertentu dan dalam
keadaan tertentu pula, yang wajib dibagikan kepada orang-orang tertentu.
Unsur-Unsur Waris :
Pewaris ( Muwarits )
Harta Waris (Mawruts)
Ahli waris (Warits )
2. Sistem ekonomi dan Keuangan
Dalam Al-Quran telah dijelaskan tentang prinsip-prinsip ekonomi berdasarkan Syariat Islam,
seperti dijelaskan dalam Surat Lukman (31):20







Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat
Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang
sangat sabar lagi banyak bersyukur.



Artinya : Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus
beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah
memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika
kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya
manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). Dan (ingatlah), ketika Ibrahim
berkata: Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku
beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.
Dari kedua surat diatas menunjukan bahwa Alam merupakan karunia Allah yang diperuntukkan
bagi umat manusia. Oleh karena itu, alangkan indahnya dunia ini jika manusia memanfaatkan
apa yang ada di bumi dengan Sesutu kebaikan.
3. Prinsip-prinsip ekonomi Islam
Larangan berlaku boros
Dari satu segi islam melarang peborosan, tapi dari segi lain islam melarang sifat bakhil
(QS Al-Furqan (25) : 67)
Perintah menyantuni orang-orang miskin
Dari satu segi islam memerintahkan orang kaya untuk menyantuni norang miskin. Tapi dari
segi lain, islam melarang orang islam memerintahkan kepada orang miskin untuk tidak

mempertahankan status quo-nya sebagai orang miskin. Seperti firman Allah dalam Al-Quran
surat Al-Maarij (70) : 24-25.





Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu,bagi orang (miskin) yang
meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)
Antara mencari keutungan dan beramal soleh
Menurit Islam, islam membenarkan orang untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, tapi
pada waktu yang sama islam memerintahkan agar harta berfungsi social.
Berdasarkan keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa sistem ekonomi Islam mencangkup
beberapa hal, diantaranya :
1. Merupakan harmoni atau keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan
masyarakat.
2. Perlu suatu organisasi untuk mengatur keseimbangan antara hak-hak individu dan masyarakat.
3. Menciptakan keseimbangan atau sintesa antara sistem ekonomi kapitalis dan dan sistem
ekonomi social.
4. Memadukan hal-hal yang positif dari sistem ekonomi yang kapitalis dan hal-hal yang positif
dari sistem ekonomi social.
Transaksi dalam system ekonomi Islam
1. Jual Beli
Al-Bai (Jual Beli) secara bahasa adalah masdar dari baa yang berarti tukar menukar harta
dengan harta atau membayah harga dan mendapatkan barangnya. Adapun pengertian jual beli
menurut istilah adalah akad tukar menukar harat (barang) yang mengharuskan kepemilikan atas
benda atau manfaat untuk selamanya, bukan sebagai taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah).
Rukun Jual Beli dan Syarat
Rukun Jual Beli
1. Shighat (ucapan ijab qobul)
2. Dua orang yang bertransaksi
3. Objek akad, yaitu harga dan barang
Syarat Jual Beli
Kerelaan dari penjual dan pembeli
Penjual dan pembeli adalah orang yang merdeka
Barang yang diperjualbelikan adalah barang yang diperbolehkan atau bermanfaat
Barang yang diperjualbelikan adalah barang milik sendiri atau barang yang doperbolehkan
untuk dijual
Barang yang diperjualbelikan bias diketahui lewat sifatnya atau menyaksikanya
Harganya harus sudah jelas
Barang yang diperjualbelikan bias diserahterimakan.
2. Sewa menyewa dan upah-mengupah
Ijarah baik dalam bentuk sewa menyewa maupun dalam bentuk upah mengupah, merupakan
bentuk muamalah yang dibenarkan. Ijarah merpakan menuukar sesuatu dengan ada imbalan.
Dasar-dasar hokum atau rujukan adalah Al-Quran, al-sunah dan ijma.
Rukun dan Syarat :

Mujir dan Mustafir (orang yang melakukan akad sewa menyewa)


Shighat (ijab qobub antar Mujir dan Mustafir)
Syarat diketahui oleh kedua belah fihak.
Barang yang disewakan memenuhi prasyarat barang yang disewakan.
Masih banyak lagi contoh-contoh transaksi dalam perekonomian islam seperti pinjammeminjam, utang-piutang, agunan, pemberian, wakaf, dan wasiat.
4. Sistem peradilan islam
Berlakunya hukum islam di indonesia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ketaatan umat
islam di negeri ini. Menurut Daud Ali, sebelum UUD 1945 berlaku, hukum islam yang berlaku di
Indonesia terdiri dari :
1. Hukum islam yang berlaku normatif, yakni hukum islam yang berlaku secara efektif, namun
sangsi hukumanya sangat bergantung pada umat islam sendiri. Hukum islam yang berlaku
normatif contohnya adalah pelaksanaan rukun islam, sholat, zakat, puasa, haji. Yang dalam
pelaksanaanya tidak memerlukan bantuan pemerintah,
2. Hukum islam yang berlaku secara yuridis, yakni hukum islam yang mengatur hubungan
hukum antar manusia, dan antar manusia dengan benda. Hukum islam dalam hal ini berlaku
berdasarkan aturan undang-undang seperti perkawinan dan waris.
Untuk menegakkan hukum islam, didirikan peradilan agama yang mempunyai tugas dan
wewenang, diantaranya adalah memeriksa, memutuskan dan menyelesaikan perkara-perkara di
tingkat pertama antara orang-orang yang beragama islam di bidang : (1) perkawinan, (2)
kewarisan, wasiat, wakaf, sedekah dan hibah yang dilakukan berdasarkan hukum islam.
5. Hukum pidana Islam (Jinayah)
Secara etimologi jinayah berarti perbuatan terlarang. Jinayah atau jarimah adalah perbuatan yang
mengancam poerbuatan jiwa. Adanya ancaman hukuman atas tindakan kejahatan adalah untuk
melindungi manusia dari kebinasaan terhadap lima hal yang mutlak, yaitu agama, jiwa,akal,
harta dan keturunan. Seperti ketetapan Allah dalam hukuman mati dalam tindakan pembunuhan,
tujuanya tidak lain adalah agar jiwa manusia terjamin dari pembunuhan.
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Ibadah adalah semua bentuk pekerjaan yang bertujuan memperoleh kerdlaan Allah Swt dan
mendapatkan pahala darinya di akhirat. Aplikasi ibadah dalam kehidupan kita sehari-hari
misalnya adalah, zakat, sholat ,puasa dan haji
Konsep fiqh tentang ibadah
.
Muamalah merupakan aturan-aturan Allah yang wajib ditaati yang mengatur hubungan manusia
dengan manusia dalam kaitanya dengan cara memperoleh dan mengembangkan harta benda.
Muamalah terbagi menjadi beberapa bidang,diantarany adalah Perkawinan (munakahat), Hukum
waris (muwaris dan waratsah), munakahat dan muwaris (Ahkam Al-Ahwah al-Syakhsiyah),
Hukum kebendaan (Al-Ahkam al-Madaniyah), Sistem ekonomi dan keuangan (Al-Ahkam alIqtishadiyah wa al-Maliyah), Peradilan perdata (Al-Mukhasamat atau Ahkam al-Murafaaat),

Peradilan pidana (Al-Jinayat atau Al-Uqubat), Politik pemerintahan (Al-Ahkam alSulthaniyyah), dan Hubungan Internasional (Al-Ahkam a-Dauliyah).
Adapun konsep fiqh tentang ibadah bahwasanya islam memberikan kesempatan kepada umat
islam untuk berkreasi dalam lingkungan sosialnya tapi dengan syarat mereka tetap berpedoman
dengan Al-Quran dan hadits.
III.II Saran
Kami selaku pembuat makalah sangat menyadari jika dalam pembuatan makalah ini sangatlah
jauh dari kesempurnaan, itu semua karena kterbatasan referensi yang kita miliki, kami harapkan
dosen mau memberikan tambahan dari materi yang disampaikan dalam makalah ini. Kami
sampaikan terimakasih.
Daftar Pustaka
Suhendi,Hendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada)
Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada),hal 117-118
Hasan Saleh, Kajian Fiqh Nabawi dan Fiqh Kontemporer, (Jakarta : PT RajaGrafindo
Persada),hal-415
Santri Diniyah muallimin muallimat Darut Taqwa.fiqih galak galak gampil edisi revis. hal 104
Syaikh kamil Muhammad uwaidah. Fiqih wanita hal.
id.wikipedia.org/wiki/Puasa_dalam_Islam

Makalah pembidangan ilmu fiqh Document Transcript

BAB I PENDAHULUANI.I Latar Belakang Ilmu merupakan pondasi luhur


manusia dalam memperoleh tingkatan drajat yang lebihmulia dalam
kehidupan dunia maupun akherat. Tanpa ilmu, seorang manusia bagaikan
orangbuta yang kehilangan tongkatnya. Mempelajari ilmu Fiqh menjadi
sebuah sarana manusiadalam mencari sebuah titik terang dalam menjalani
kehidupan di dunia baik dalam wujudibadah maupun muamalah, dengan
ekspektasi datangnya keRidhoan Allah yang akanmenyertainya pada
kebahagiaan yang hakiki. Ilmu Fiqh membidangi dua hal yang senantiasa
memiliki peran dalam kehidupan, halini merupakan suatu langkah pedoman
bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupan.Karena kajian pokok ilmu
Fiqh tentunya berasaskan dari sumber hukum islam yaitu tekstuallangsung
berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah Nabi serta non tekstual seperti halnya
qiyasyang hakikatnya diambil dari Al-Quran dan Sunnah Nabi.1 Sehingga
mengkaji ilmu Fiqhmenjadi kewajiban kita demi menjalani kehidupan yang
selaras dengan apa yangdiperintahkan oleh Allah SWT. Kajian ilmu Fiqh
meliputi pembidangan menjadi dua aspek yaitu ibadah danmuamalah. Kedua
aspek tersebut menjadi bahan kajian kita pada penulisan makalah
ini.Sehingga kajian ini merupakan kajian penting dalam memahami dan
menerapkan ilmu Fiqhpada kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, dalam
makalah ini akan dibahas lebihmendalam tentang ibadah dan muamalah
serta contoh dari kedunya. Diharapkan pembacamengetahui secara jelas
tentang muamalah dan ibadah dan semoga dengan mengetahui itusemua,
segala sesuatunya yang kita kerjakan mendapat Ridho Allah SWT.I.II Rumusan
Masalah1. Apa saja pembidangan ilmu fiqh ?2. Apakah yang dimaksud
dengan ibadah dan muamalah ?3. Bagaimana konsep fiqh tentang ibadah
dan muamalah ?4. Apa sajakah bentuk-bentuk dari muamalah dan ibadah ?
I.III Tujuan Penulisan1. Memahami pembidangan dari ilmu fiqh.2.
Mengidentifikasi pemahaman dari makna ibadah dan muamalah.3.
Mengetahui konsep fiqh tentang ibadah dan muamalah.4. Mengetahui
bentuk-bentuk dari muamalah dan ibadah.5. Memenuhi tugas kelompok
matakuliah fiqh ushul fiqh.1 Amir Syarifuddin., Ushul Fiqih 2, Jakarta: PT Logos
Wacana Ilmu, 1999, hal. 1 1

BAB II PEMBAHASANII.I Pembidangan Ilmu Fiqh Ibadah ialah sikap pasrah dan
tunduk total kepada semua aturan Allah dan rasul-Nya.Lebih dari itu, ibadah
dalam pandangan Islam merupakan refleksi syukur pada Allah swt.
atassegala nikmatnya yang timbul dari dalam lubuk hati yang dalam dan
didasari kepahamanyang benar. Pada gilirannya, ibadah tidak lagi dipandang
semata-mata sebagai kewajibanyang memberatkan, melainkan suatu
kebutuhan yang sangat diperlukan. Suatu saat AisyahUmmul Muminin
bertanya kepada rasul yang sedang asyik beribadah di malam hari,sehingga
kaki beliau terlihat membengkak. Padahal segala dosa beliau baik yang
lalu,maupun yang akan datang sudah diampuni Allah. Apa jawaban beliau?
mengapa aku tidakmenjadi hamba-Nya yang bersyukur. Menurut Abdul
Wahhab al-Khallaf, ada 228 ayat Al-Quran yang dapat
dikategorikanmengandung kaidah-kaidah hukum dalam bidang ibadah dan

muamalah atau sekitar tigapersen dari keseluruhan ayat-ayat Al-Quran.


Rumusan kaidah-kaidah hukum di dalam ayat-ayat tersebut masih bersifat
umum yang belum dapat dipraktikkan secara langsung, apalagiharus
dianggap sebagai kaidah hukum positif yang harus dijalankan di sebuah
negara, bidanghukum yang diatur secara rinci di dalam ayat-ayat hukum
sesungguhnya hanya terbatas dibidang hukum perkawinan dan kewarisan.
Hadis-hadis hukum jumlahnya juga tidak terlalu banyak, dalam
sejarahperkembangannya, ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis syariah telah
mengalami pembahasandan perumusan yang luar biasa, pembahasan itulah
yang melahirkan fiqh, fatwa-fatwa yangdikeluarkan oleh para sahabat dan
para ulama di kemudian hari, sejauh menyangkut masalahhukum dapat
dikategorikan ke dlam hukum Islam. Pembidangan ilmu fiqh pada dasarnya
terbagi menjadi dua bidang besar, yaitu bidangibadah dan bidang muamalah.
Para ulama masa dahulu telah mencoba mengadakanpembidangan ilmu fiqh
ini ada yang membaginya menjadi tiga bidang, yaitu ibadahmuamalah
(perdata islam) dan uqubah (pidana islam), ada pula yang membaginya
menjadiempat bidang, yaitu ibadah, muamalah, munakahat, dan uqubah.
Walaupun demikian, duabidang pokok hukum Islam sudah disepakati oleh
semua fuqaha, yaitu bidang ibadah danbidang muamalah. Apabila
pembidangan itu hanya dua ibadah dan muamalah, makapengertian
muamalah disini adalah muamalah dalam arti yang luas didalamnya
termasukbidang-bidang hukum keluarga, pidana perdata, acara hukum
internasional dan lainsebagainya. Pembidangan ilmu fiqh menjadi dua bagian
besar, yaitu: pertama, bidang ibadahmahdah, yaitu aktivitas ibadah yang
mengatur hubungan manusia dengan Allah swt. Kedua,bidang fiqh muamalah
dalam arti yang luas. 2

II.II IbadahA. Pengertian Ibadah Menurut ulama fiqih, ibadah adalah semua
bentuk pekerjaan yang bertujuanmemperoleh keridlaan Allah Swt dan
mendapatkan pahala darinya di akhirat. Sedangkanmenurut bahasa ibadah
adalah patuh, tunduk, taat,mengikuti, dan doa. Ibadah dalam arti
taatdiungkapkan dalam Al-Quran, antara lain dalam surat yasin ayat 60. Yang
artinya :Bukankah aku telah memerintahkan kepada kamu wahai bani adam
supaya kamu tidakmenyembah setan, sesungguhnya setan itu adalah musuh
yang nyata bagi kamu.B. Ibadah ditinjau dari segi bentuk dan sifatnya ada
lima macam, yaitu: 1. Ibadah dalam bentuk perkataan atau lisan, seperti :
berdzikir, berdoa, dan membaca Al- Quran. 2. Ibadah dalam bentuk
perbuatan yang tidak ditentukan bentuknya, seperti : jihad, menolong orang
lain, dan tajhiz al-janazah (mengurusjenazah). 3. Ibadah dalam bentuk
pekerjaan yang telah ditentukan wujud perbuatannya, seperti: shalat, puasa,
zakat, dan haji. 4. Ibadah yang tata cara dan pelaksanaannya berbentuk
menahan diri seperti: puasa, itikaf, dan ihram. 5. Ibadah yang berbentuk
menggugurkan hak, seperti memaafkan orang yang telah melakukan
kessalahan terhadapdirinya dan membebaskan seseorang yang berutang
kepadanya.C. Hakikat Ibadah Dengan agama hidup manusia menjadi
bermakna, makna agama terletak padafungsinya sebagai kontrol moral
manusia. Melalui ajaran-ajaranya, agama memerintahkanmanusia agar selalu
dalam keadaan sadar dan menguasai diri. Keadaan sadar dan menguasaidiri
itulah yang sebenarnya merupakan hakikat agama atau hakikat ibadah.
Melalui ibadahkepada Allah, hidup manusia menjadi terkontrol.

Menumbuhkan kesadaran diri manusiabahwa ia adalah makhluk Allah SWT.D.


Macam-macam Ibadah 1. Ibadah khassah (khusus) atau ibadah mahdah
(ibadah yang ketentuannya pasti). 2. Ibadah ammah (umum) yakni semua
perbuatan yang mengdatangkan kebaikan dan dilaksanakan dengan niat
yang ikhlas karena Allah SWT.E. Bentuk Ibadah Ibadah itu terbagi menjadi
ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut),raja (mengharap),
mahabbah (cinta), tawakal (ketergantungan), raghbah (senang),
rahbah(cemas) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati),
sedangkan tasbih, tahlil,tahmid, takbir, dan syukur dengan lisan dan hati
adalah ibadah lisanniyah qalbiyah (lisan danhati). Sedangkan shalat, zakat,
haji, jihad, puasa adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan 3

hati). Serta masih banyak lagi macam-maccam ibadah yang berkaitan


dengan hati, lisan danbadan. Bidang ibadah dalam Islam mencakup lisan,
hati, pemikiran / akal dan anggota tubuhlainnya, ibadah adalah hubungan
yang langsung dengan Allah swt. dan sudah dicontohkanoleh nabi
Muhammad saw, yaitu sebagai berikut: a. Syahadat Syahadaten adalah
persaksian jiwa atas keberadaan Allah dan keRasulan Muhammad saw,
syahadat ibadah yang di itikadkan dalam hati manusia dengan kalimat: b.
Thaharah Thaharah terbagi pada dua bagian, yaitu: pertama, thaharah dari
hadas (yaitu bersuci dari kotoran yang bersifat rohani dan taabudi), kedua,
thaharah dari najis (yaitu bersuci dari kotoran yang bersifat jasmani). c.
Shalat Shalat adalah wujud ibadah yang pokok bagi seorang muslim sehingga
shalat menjadi barometer atas ibadah-ibadah yang lainnya. Jika shalatnya
yang baik, maka amalan ibadah yang lain pun akan menjadi baik. d. Zakat
Zakat adalah ibadah yang berkaitan dengan harta benda, zakat terbagi pada
dua jenis. Pertama, zakat fitrah (yaitu harta yang dikeluarkan atas jiwa dan
badan setiap muslim yang telah mengalami masa ramadhan masa syawal,
dikeluarkan sebelum khatib naik mimbar di hari raya Iedul Fitri). Kedua, zakat
maal (yaitu harta yang dikeluarkan berdasarkan perniagaan, pertanian, dan
investasi, dikeluarkan berdasarkan haul dan nishab). e. Saum Saum adalah
menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya, selama satu hari
lamanya mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, dengan niat
dan beberapa syarat.2 f. Haji Haji adalah ibadah yang dilakukan dengan cara
pergi ke Baitullah (Masjid al-Haram- Mekah) untuk melakukan ihram, wuquf
thawaf, sai, dan tahalul yang dilakukan pada tanggal 8,9,10 dan 11 bulan
Dzulhizah.Bidang-bidang ibadah yang dilakukan secara kondisional adalah
banyak sekali jenisnya,diantaranya: a). Itikaf : berdiam di masjid untuk
berdzikir kepadda Allah, b). Jihad : berjuang dalam menegakkan ajaran Allah,
c). Sumpah : pernyataan kesaksian dalam kebenaran, d). Nazar : berjanji
akan melakukan aktivitas jika ada prestasi, e). Qurban : penyembelihan
hewan pada bulan Dzuljhijah, f). Aqiqah : penyembelihan domba karena
kelahiran anak, g). Atimah : makanan yang halal,2 Sulaiman Rasyid, Fiqih
Islam, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2002, hal. 220 4

h). Asribah : minuman yang halal, i). Wakaf : infak manfaat dari barang tidak
bergerakF. Tujuan IbadahIbadah dalam islam harus dikerjakan dengan caracara berikut: a. Ikhlas, semata-mata mengharap ridha Allah SWT mereka
tidak diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah, seraya mengikhlaskan
dirinya dalam (menjalankan) Islam, supaya mereka mendirikan salat,

menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah dien yang lurus. (Q.S AlBayinnah: 5). Rasullah saw bersabda,bahwa : meninggallkan amal karena
manusia adalah ria, sedang beramal karena manusia adalah syirik.dan ikhlas
menyelamatkanmu dari kedu penyakitr tersebut keberadaan niat harus
disertai pembebasan dari segala keburukan nafsu dan keduniaan, harus
ikhlas karena allah, agar amal-amal itu diterim disisi allah. Al-fudhail bin
iyadh berkata sesungguhnya jika amal itu tidak ikhlas namun tidak benar
maka dia tidak akan diterima, sehingga dia ikhlas dan benar. Ikhlas artinya
amal itu dikerjakan karena allah,dan yang benar jika amal itu dilakukan
berdasarkan sunnah. b. Mahabbah dan thaat (penuh rasa cinta dan tunduk)
dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingantandingan selain Allah;mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai
Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada
Allah,dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu(yang dimaksud
dengan orang yang zalim disini ialah orang-orang yang menyembah selain
Allah)mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat),bahwa
kekuataan itu kepunyaan Allah semuanya,dan bahwa Allah amat berat
siksaanNya(niscaya mereka menyesal).(QS.Al-Baqarah:165) 5

c. Istiqomah Merupakan suatu wujud komitmen dalam diri untuk senantiasa


melaksanakan ibadah secara kontinu, bukan hanya pada suatu keadaan
tertentu saja. Sehingga hal ini dijadikan sebagai sebuah komitmen nyata
dalam kehidupan sehari-hari. d. Iqtishad artinya dilakukan berdasarkan fitrah,
sesuai dengan kapasitas dan tidak memisahkan antara yang satu dengan
yang lain. Aisyah meriwayatkan: ketika rasulullah saw. Masuk ke rumahnya,
di sampingnya ada seorang wanita, rasul bertanya siapakah wanita itu
aisyah menjawab: fulanah, sambil menyebutkan shalat yang dilakukannya.
Lalu rasulullah berkata: jangan begitu! Kamu lakukan sesuai
kemampuanmu. Demi Allah, Dia tidak akan bosan (memberimu ganjaran
pahala) sehingga kamu bosan (melakukan ibadah). Ajran Islam yang paling
dicintai-Nya ialah yang dilakukan dengan konsisten. (Mutafaqqun alaih)G.
Hikmah ibadah Hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka
melaksanakan ibadah kepadaAllah, dan Allah maha kaya, tidak
membutuhkan ibadah mereka akan tetapi merekalah yangmembutuhkanNya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka mereka
menyembah-Nya sesuai dengan aturan syariah-Nya. Maka siapa yang
menolak beribadah kepada Allah, iaadalah sombong. Siapa yang
menyembah-Nya, tetapi dengan selain apa yang di syariahkan-Nya, maka ia
adalah mubtadi (pelaku bidah), dan siapa yang hanya menyembah-Nya
dandengan syariah-Nya, maka ia adalah mukmin muwahid (yang
mengesakan Allah). Ibadahyang benar akan melahirkan hikmah serta hasil
yang dapat dirasakan di dunia dan juga diakhirat kelak, diantaranya sebagai
berikut: a. Taqwa b. Terhindar dari perbuatan keji dan munkar c. Diri dan
harta menjadi suci (tazkiyatun nafs) d. Diri, fisik, dan psikis menjadi sehat e.
Dimudahkan rezekinya dan anak keturunannya menjadi banyak f. Meraih
surga dan menjauhkan dari siksa nerakaII.III MuamalahA. Pengertian
MuamalahDalam buku enslikopedia islam jilid 3 halaman 245 dijelaskan
bahwa muamalah merupakanbagian dari hukum islam yang mengatur
hubungan antara seseorang dan orang lain, baikseseorang itu pribadi
tertentu maupun berbentuk badan hukum, seperti perseoran, firma,yayasan,

dan negara. Contoh hukum islam yang termasuk muamalah, seperti jual
beli,sewamenyewa, perserikatan dibidang pertanian dan perdagangan, serta
usaha perbangkan danasuransi yang islami. 6

Secara fikih, muamalah berarti hukum-hukum yang ada hubunganya dengan


tindakanmanusia dengan masalah dunia. contoh muamalah diantaranya jual
beli, utang piutang, kerjasama dagang, dan sewa menyewa. Dari pengertian
muamalah tersebut ada yang berpendapatbahwa muamalah hanya
menyangkut permasalahan hak dan harta yang muncul dari transaksiantara
seseorang dengan orang lain atau antara seseorang dan badan hukum atau
antara badanhukum yang satu dan yang lain.B. Ruang Lingkup Fiqih
Muamalah Untuk memudahkan memahami ruang lingkup fiqh muamalah
secara spesifik, makaterlebih dahulu akan dibahas mengenai dua jenis
muamalah : a. Al-Muamalah al-Adabiyah Yaitu muamalah yang ditinjau dari
segi cara tukar-menukar benda yang bersumber dari panca indera manusia,
yang unsur penegaknya adalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban. seperti
jujur, hasud, dengki, dendam, dan lain sebagainya. b. Al-Muamalah alMadiyah Yaitu muamalah yang mengkaji objeknya sehingga sebagian ulama
berpendapat bahwa muamalah al-madiyah adalah muamalah bersifat
kebendaan karena objek fiqh muamalah adalah benda yang halal, haram, dan
syubhat untuk diperjualbelikan, benda-benda yang memadharatkan, bendabenda yang mendatangkan kemaslahatan bagi manusia, dan beberapa segi
lainnya. Dari dua jenis muamalah yang telah disebutkan di atas, maka ruang
lingkup fiqh muamalah juga terbagi menjadi dua, yaitu ruang lingkup fiqh
muamalah yang bersifat Adabiyah dan ruang lingkup fiqh muamalah yang
bersifat Madiyah. Ruang lingkup fiqh muamalah yang bersifat Adabiyah
mencakup beberapa hal berikut ini : Ijab dan kabul, Saling meridhai, Tidak
ada keterpaksaan dari salah satu pihak, Hak dan kewajiban, Kejujuran
pedagang, Penipuan, Pemalsuan, Penimbunan, Dan segala sesuatu yang
bersumber dari indera manusia yang ada kaitannya dengan peredaran harta
dalam hidup bermasyarakat. Sedangkan beberapa hal yang termasuk ke
dalam ruang lingkup muamalah yangbersifat Madiyah adalah sebagai
berikut : a. Jual-beli ( al-Bai al-Tijarah ) Jual-beli merupakan tindakan atau
transaksi yang telah di syariatkan dalam arti telah ada hukumnya yang jelas
dalam Islam. Jual beli adalah menukar suatu barang dengan barang yang lain
dengan cara yang tertentu.33 Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, Bandung: Sinar
Baru Algensindo, 2002, hal. 278 7

b. Gadai ( al-Rahn ) Definisi al-rahn menurut istilah yaitu menjadikan suatu


benda yang mempunyai nilai harta dalam pandangan syara untuk
kepercayaan suatu utang, sehingga memungkinkan mengambil seluruh atau
sebagaian utang dari benda itu. c. Jaminan dan tanggungan ( Kafalan dan
Dhaman ) Dalam fiqh, kafalah diartikan menanggung atau penanggungan
terhadap sesuatu, yaitu akad yang mengandung perjanjian dari seseorang di
mana padanya ada hak yang wajib dipenuhi terhadap orang lain, dan
berserikat bersama orang lain itu dalam hal tanggung jawab terhadap hak
tersebut dalam menghadapi penagih (utang). Dhaman berarti menanggung
hutang orang yang berhutang. d. Pemindahan hutang ( Hiwalah ) Hiwalah
berarti pengalihan, pemindahan, berubah kulit dan memikul sesuatu diatas
pundah.Pemindahan hak atau kewajiban yang dilakukan seseorang (pihak

pertama) kepada pihak kedua untuk menuntut pembayaran hutang dari atau
membayar hutang kepada pihak ketiga. Karena pihak ketiga berhutang
kepada pihak pertama. Baik pemindahan (pengalihan) itu dimaksudkan
sebagai ganti pembayaran maupun tidak. e. Jatuh bangkrut ( Taflis ) At Taflis
adalah seseorang yang mempunyai hutang, seluruh kekayaannya habis
hingga tidak tersisa untuk membayar hutang. f. Perseroan atau perkongsian (
al-Syirkah ) Syirkah (Perseroan) dibangun atas prinsip perwakilan (wakalah)
dan kepercayaan (amanah), karena masing-masing pihak yang telah
menanamkan modalnya dalam bentuk saham kepada perseroan, berarti telah
memberikan kepercayaan kepada perseroan untuk mengelola saham
tersebut. g. Masalah-masalah seperti bunga bank, asuransi, kredit, dan
masalah-masalah baru lainnya.C. Bidang MuamalahBidang-bidang dalam
muamalah adalah : 1. Bidang Ahwal asy-syakhsiyah Bidang ini membahas
hukum keluarga yang mengatur hubungan antara suami istri, anak dan
keluarganya. 2. Bidang muamalah dalam arti sempit 8

Bidang ini membahas tentang jual beli, membeli barang yang belum jadi
dengan disebutkan sifat-sifatnya dan jenisnya yaitu: gadai, kepailitan,
pengampunan, perdamaian, pemindahan hutang, jaminan utang,
perserikatan dagang, perwakilan, titipan, pinjam meminjam, merampas atau
merusak harta orang lain, hak membeli paksa, memberi modal dengan bagi
untung, penggarapan tanah, sewa menyewa, mengupah orang untuk
menemukan barang yang hilang, membuka tanah baru, dan barang-barang
temuan. 3. Bidang fiqh jinayah atau al ahkam jinayah Fiqh jinayah adalah fiqh
yang mengatur cara-cara menjaga dan melindungi hak allah, hak masyarakat
dan hak individu. Upaya untuk menjaga dan melindungi keselamatan hukumhukum tersebut Islam menetapkan sejumlah aturan mainbaik berupa
perintah maupun larangan. 4. Bidang Qadha atau ahkam murafaat Fiqh
Qadha membahas tentang proses penyelesaian perkara di pengadilan,
karena unsur pokok yang dibahas adalah tentang hakim, tentang putusan
yang dijatuhkan, tentang hak yang dilanggar, tentang penggugat dalam
kasus perdata atau penguasa dalam kasus pidana. 5. Bidang fiqh siyasah Fiqh
siyasah membahas tentang hubungan antara seorang pimpinan dengan yang
dipimpin, atau antara lembaga-lembaga kekuasaan di dalam masyarakat
dengan rakyatnya. Oleh karena itu, pembahasan fiqh siyasah meliputi hak
dan kewajiban rakyat, kekuasaan peradilan, pengaturan orang-orang yang
pergi haji dan lain-lain. Dari penjelasan di atas mengenai fiqh muamalah, baik
dari segi pengertian secara luasmaupun secara sempit serta ruang lingkup
fiqh muamalah, dapatlah diketahui bahwa itusemua merupakan tata cara
yang Allah tetapkan kepada manusia untuk melakukan aktifitasduniawinya.44
M. Abdul Mudjieb, et. al., Kamus Istilah Fiqih, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994,
hal. 148. 9

BAB III PENUTUPIII.I Kesimpulan A. Pembidangan ilmu fiqh menjadi dua bagian
besar, yaitu: pertama, bidang ibadah mahdah, yaitu aktivitas ibadah yang
mengatur hubungan manusia dengan Allah swt. Kedua, bidang fiqh
muamalah dalam arti yang luas. B. Menurut ulama fiqih, ibadah adalah
semua bentuk pekerjaan yang bertujuan memperoleh keridlaan Allah Swt dan
mendapatkan pahala darinya di akhirat. C. Ibadah dalam islam harus
dikerjakan dengan cara-cara berikut: Ikhlas, semata-mata mengharap ridha

Allah SWT, Mahabbah dan thaat (penuh rasa cinta dan tunduk), Istiqomah,
Iqtisod. D. Muamalah merupakan bagian dari hukum islam yang mengatur
hubungan antara seseorang dan orang lain, baik seseorang itu pribadi
tertentu maupun berbentuk badan hukum, seperti perseoran, firma, yayasan,
dan negara. E. Bidang-bidang dalam muamalah : Ahwal asy-syakhsiyah,
Bidang muamalah dalam arti sempit, fiqh jinayah atau al ahkam jinayah,
Qadha atau ahkam murafaat, fiqh siyasah. F. Fiqh muamalah, dapatlah
diketahui bahwa itu semua merupakan tata cara yang Allah tetapkan kepada
manusia untuk melakukan aktifitas duniawinya.III.II Saran Untuk mengkaji
Islam secara kaaffah tentunya membutuhkan pemahaman yang
lebihmendalam mengenai fiqh ibadah dan fiqh muamalah. Oleh karena itu,
kami menyarankanpembaca agar tidak puas dan mau mengoreksi apa yang
telah kami tulis dalam makalah ini.Sehingga ilmu pengetahuan kita tentang
fiqh menjadi bertambah dan pemahaman kitamenjadi semakin mendalam.
Selain itu, wujud kritik dan saran pembaca menjadi motivasikami dalam
menuliskan sebuah karya ilmiah yang lebih baik lagi. Kami harap pembaca
mau lebih dalam mengkaji ilmu tentang fiqh ibadah danmuamalah ini, karena
hal ini sangatlah berpengaruh pada kehidupan kita di dunia yang
akanberdampak tentunya pada kehidupan kita di akhirat. 10

Anda mungkin juga menyukai