Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH PROTEIN TOTAL DARI EKSTRAK BIJI KETAPANG

(Terminalia catappa) TERHADAP HEMAGLUTINASI ERITROSIT PADA


MANUSIA
Nurlia Puspita R1, Hery Haryanto2, Aceng Ruyani3
1. Mahasiswa Pendidikan Dokter,Universitas Bengkulu
2. Dosen Jurusan Biologi, Fakultas MIPA Universitas Bengkulu
3. Dosen Jurusan Biologi, Fakultas KIP Universitas Bengkulu

ABSTRAK
Latar Belakang: Biji ketapang (Terminalia catappa) merupakan biji yang
memiliki kandungan protein, salah satunya adalah lektin. Adanya ikatan protein
lektin dengan karbohidrat pada permukaan eritrosit menyebabkan terjadinya
hemaglutinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian
protein total dari ekstrak biji T. catappa terhadap laju hemaglutinasi eritrosit pada
manusia.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan
ekstrak biji T. catappa dengan pelarut Tris-HCl Buffer dengan pH 7,0. Semua
golongan sel darah merah manusia yaitu A, B, AB dan O diuji hemaglutinasi
dengan ekstrak biji T. catappa konsentrasi 100% setelah dilakukan sentrifugasi
ke-1 (supernatan), setelah sentrifugasi ke-2 (pellet) dan setelah dilakukan dialisis
dengan menggunakan kantung dialisis untuk menahan protein dengan berat
molekul lebih dari 12000 Da. Hasil uji laju hemaglutinasi dianalisis menggunakan
metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif.
Hasil: Hasil uji laju hemaglutinasi eritrosit dari golongan darah AB terhadap
pemberian ekstrak biji T. catappa setelah sentrifugasi ke-2 (pellet) konsentrasi
100% merupakan interaksi terbaik untuk laju hemaglutinasi.
Simpulan: Biji Ketapang memiliki kandungan protein lektin yang dapat
menimbulkan hemaglutinasi pada eritrosit manusia.
Kata Kunci: Ketapang (Terminalia catappa), ekstrak protein, eritrosit,
hemaglutinasi.

THE EFFECT OF TOTAL PROTEIN EXTRACTED FROM SEED


KETAPANG (Terminalia catappa) ON HEMAGGLUTINATION OF
HUMAN ERYTHROCYTES
Nurlia Puspita R1, Hery Haryanto2, Aceng Ruyani3
1. Mahasiswa Pendidikan Dokter,Universitas Bengkulu
2. Dosen Jurusan Biologi, Fakultas MIPA Universitas Bengkulu
3. Dosen Jurusan Biologi, Fakultas KIP Universitas Bengkulu

ABSTRACT
Background: Ketapang Seeds (Terminalia catappa) are seeds that have protein,
one of which is lectin. The lectin protein can bind with carbohydrates on the
erythrocyte surface causing hemagglutination. This study aims, to determine the
effect on the rate of protein lectin hemagglutination of human erythrocytes.
Methods: This is a experimental study used protein extracted from seed T.
catappa with solvent Tris -HCl buffer at pH 7,0. All classes of human red blood
cells (A, B, AB and O) were tested by hemagglutination T. catappa protein extract
with 100 % concentration after the first centrifugation (supernatant), after the
second centrifugation (pellets) and after dialysis using a dialysis bag for retaining
proteins with molecular weight greater than 12000 Da. Rate hemagglutination
assay results were analyzed using descriptive method qualitative and quantitative.
Results: The results of erythrocyte hemagglutination test rate of blood group AB
seeds extract against T. catappa after 2nd centrifugation (pellet) 100%
concentration is interaction rate best for hemagglutination.
Conclusion: Ketapang seeds contain lectins protein which can cause
hemagglutination on human erythrocytes .
Keywords: Ketapang (Terminalia catappa), protein extract, erythrocytes,
hemagglutination.

PENDAHULUAN
Lektin merupakan molekul glikoprotein yang memiliki kemampuan untuk
mengikat gugus karbohidrat secara reversibel pada permukaan eritrosit dan
mengaglutinasi eritrosit tanpa mengubah sifat-sifat karbohidrat. Aktivitas lektin
dalam bidang biomedik antara lain sebagai antitumor, antijamur, anti-serangga,
dan dapat menggumpalkan sel darah merah (Sulasi et al., 2013).

Ketapang

(Terminalia catappa) merupakan pohon yang tumbuh didaerah tropis yaitu di


daerah pesisir pantai sehingga pohon ini banyak dijumpai di daerah Kota
Bengkulu. Berdasarkan penelitian, terdapat senyawa lektin yang dapat dimurnikan
dari biji ketapang T. catappa (Vasconcelos dan Oliveira, 2004).
Golongan darah manusia dikelompokkan menjadi empat berdasarkan
antigen yang dimiliki dipermukaan eritrosit, yaitu A, B, AB, O. Golongan darah A
memiliki antigen A pada permukaan sel-sel darah merah. Golongan darah B
memiliki antigen B pada permukaan sel darah merah. Golongan darah AB
memiliki kedua antigen A dan B pada permukaan sel darah merah. Golongan
darah O tidak memiliki antigen A atau B pada permukaan sel darah merah
(Hoffbrand et al., 2005).
Reaksi protein lektin dari berbagai tanaman terhadap berbagai jenis
golongan darah berupa penggumpalan sel darah merah memiliki reaksi yang
serupa yang mungkin terjadi pada permukaan mukosa usus. (Raman et al.,2012).
Hal ini menjadi dasar bagi manusia untuk mengendalikan asupan diet, berdasarkan
jenis golongan darah (Hamid dan Masood, 2009 ).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui protein dari ekstrak biji T.
catappa yang berpengaruh terhadap proses hemaglutinasi eritrosit pada manusia
serta untuk mengetahui golongan darah yang memiliki interaksi terbaik terhadap
ekstrak protein total biji T. catappa dalam proses hemaglutinasi eritrosit pada
manusia.

MATERIAL DAN METODE


Bahan-bahan yang digunakan adalah biji Terminalia catappa, darah
manusia golongan darah A, B, AB, dan O, larutan Tris-HCl buffer pH 7,0 (0,15 M
NaCl dan 1 mM CaCl2 dan 1 mM MgCl2 (TM penyangga), asam asetat 0,3M,
ammonium sulfat, larutan biuret.
Ekstrak yang dilakukan sentrifugasi ke-1 (supernatan)
Biji T. catappa direndam pada larutan Tris-HCl buffer (0,15 M NaCl dan 1
mM CaCl2 dan 1 mM MgCl2 ) pH 7,0 pada suhu 4C selama semalam. Biji
dihomogenasi dalam blender, dan homogenat disaring menggunakan kain kasa.
Hasil penyaringan (homogenat) dicampur dengan 0,3 M asam asetat, pH 4,0 dan
didiamkan semalam pada suhu 4C. Homogenat kemudian disentrifugasi dengan
kecepatan 2.500 rpm selama 10 menit dengan menggunakan refrigerated
sentrifuge pada suhu 40C. Pellet (debris sel) dibuang sedangkan supernatannya
diambil untuk diuji laju hemaglutinasi.
Ekstrak yang dilakukan sentrifugasi ke-2 (pellet)
Supernatan yang didapat dari hasil ekstraksi sentrifugasi ke-1 ditambahkan
ammonium sulfat saturasi 50%. Kemudian supernatan yang telah ditambah
ammonium sulfat diinkubasi selama 4-5 jam pada suhu 40C. Supernatan yang
sudah diinkubasi kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 10.000 rpm selama
30 menit pada suhu 40C. Supernatan dibuang sedangkan pellet diambil untuk diuji
hemaglutinasi.
Ekstrak yang dilakukan dialisis

Pellet yang didapat dari hasil ekstraksi sentrifugasi ke-2 didialisis


menggunakan kantung dialisis selama semalaman dalam larutan buffer. Hasil dari
dialisis sudah menyaring protein lektin dari molekul lain dengan konsentrasi
100% (Naeem et al., 2007).

Penentuan Kadar Protein Biji Ketapang (Terminalia catappa)


Penentuan kadar protein biji T. catappa menggunakan metode biuret
dengan Bovine Serum Albumin (BSA) sebagai protein standar (Robyt dan White,
1997). Data absorbansi sampel diinterpolasikan pada gambar standar BSA untuk
mengetahui konsentrasi protein biji T. catappa.
Sumber Sel Darah Merah Manusia
Pengambilan sel darah merah golongan darah A, B, AB, dan O diambil dari
mahasiswa yang sehat dan tidak merokok yang mempunyai golongan darah
tersebut. Sel darah merah dimasukkan ke dalam tabung EDTA untuk mencegah
terjadinya penggumpalan darah. Darah yang telah ada dalam tabung EDTA dicuci
dalam larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%) untuk memisahkan sel darah dari
plasma (Raman et al., 2012).
Penentuan Aktivitas Lektin
Suspensi sel darah merah A, B, AB, O ditambahkan Tris-HCl buffer pH 7,0. NaCl
0,9 % sebagai kontrol negatif dan reagen golongan darah sebagai kontrol positif.
Pengamatan dilakukan dengan cara mengamati apakah terdapat hemaglutinasi dari
keempat golongan darah tersebut selama 200 detik (Putra, 2013).
Analisis Data
Hasil penelitian mengenai pengaruh protein total dari ekstrak biji ketapang
(Terminalia catappa) terhadap hemaglutinasi eritrosit pada manusia menggunakan

metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif dianalisis menggunakan metode Anova


One Way atau Analisis Varian Satu Arah (Kusriningrum, 2010)
HASIL PENELITIAN
Kadar Protein Ekstrak Biji Ketapang (Terminalia catappa)
Konsentrasi protein yang terdapat dalam ekstrak, yaitu sebagai berikut.
Tabel 2 Kadar Protein Ketiga Jenis Ekstrak
No

Ekstrak Biji T. Catappa Konsentrasi Ekstrak (%) Kadar Protein (ppm)


1

Sentrifugasi Ke-1

100

853

Sentrifugasi Ke-2

100

876

Dialisis

100

892

Pengujian Laju Hemaglutinasi


Waktu yang dibutuhkan oleh protein lektin dari ekstrak biji T. catappa setelah
dilakukan sentrifugasi ke-1 (supernatant) dan ekstrak setelah didialisis terhadap
hemaglutinasi eritrosit manusia dari semua golongan darah membutuhkan waktu
lebih dari 200 detik yang terjadi pada golongan darah A, B, AB, dan O dari semua
probandus. Pada ekstrak setelah sentrifugasi ke 2, didapatkan hemaglutinasi
kurang dari 200 detik.

93.83

72.5

45.83

138

)
detik

150
(
100
Waktu Hemaglutinas
i
Jenis Golongan
Darah

50
0
A

AB

Gambar 2 Grafik Perbandingan Waktu Hemaglutinasi dari Golongan Darah


A, B, AB dan O Pada Pemberian Ekstrak Biji T. catappa
Setelah Sentrifugasi Ke-2 (Pellet)

Analisis Data Pengaruh Protein Lektin Ekstrak Biji Ketapang


Dari data laju hemaglutinasi, ditentukan standar deviasi. Hasil standar deviasi
disajikan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 2 Rata-rata waktu hemaglutinasi dan standar deviasi pengaruh protein lektin
ekstrak biji ketapang setelah sentrifugasi ke-2 terhadap hemaglutinasi
eritrosit pada manusia

Golongan
Darah
Probandus

Rata-Rata Waktu
Hemaglutinasi (detik)

SD

Notasi

AB

45,83

4,95

72,50

7,39

93,83

20,88

138

10,58

PEMBAHASAN
Kadar Protein Ekstrak Biji T. catappa
Terjadinya peningkatan jumlah konsentrasi protein dari ekstrak biji ketapang
(Terminalia catappa) setelah dilakukan sentrifugasi ke-1 hingga konsentrasi
protein dari ekstrak biji T. catappa setelah dilakukan dialisis diduga disebabkan
karena adanya langkah-langkah kerja seperti penambahan amonium sulfat
sebelum dilakukan sentrifugasi ke-2 untuk mengendapkan protein dan
penggunaan kantung dialisis yang berfungsi untuk menyaring protein dan
memisahkannya dari molekul-molekul lain sehingga kandungan protein yang
didapat semakin pekat.
Pengujian Hemaglutinasi
Tidak menggumpalnya setiap golongan darah oleh pemberian ekstrak biji T.
catappa yang telah dilakukan sentrifuse ke-1 diduga dikarenakan protein yang
terdapat dalam ekstrak tersebut masih berupa crude ekstrak protein, yakni
campuran dari bermacam-macam jenis protein dan molekul lain yang masih aktif
dari ekstrak biji T. catappa sehingga menggangu proses hemaglutinasi dimana
protein lektin tidak dapat lagi mengikat karbohidrat yang ada pada permukaan sel
darah merah (Lymo B et al., 2012). Adanya penggumpalan setelah lebih dari 200
detik bukan karena disebabkan karena adanya protein lektin yang menyebabkan
penggumpalan, namun diduga disebabkan oleh faktor lain seperti pengaruh suhu
lingkungan yang panas, karena suhu lingkungan yang panas akan menyebabkan
penggumpalan pada darah (Wolberg et al, 2004).
Terjadi penggumpalan pada golongan darah A, B, AB, O dari pemberian
ekstrak biji T. catappa yang telah dilakukan sentrifuse ke-2 dalam waktu kurang
dari 200 detik. Hal ini terkait dengan langkah kerja dari proses ekstraksi, dimana

fungsi penambahan amonium sulfat dan kemudian diinkubasi dan disentrifugasi


dengan kecepatan tinggi dan waktu yang lama yaitu untuk mengendapkan protein
murni yang ada dalam supernatan secara maksimal, sehingga pellet yang didapat
merupakan protein yang mengendap. Protein yang mengendap inilah yang
menyebabkan penggumpalan pada semua golongan darah (Naeem et al, 2007).
Adanya penggumpalan pada pemberian ekstrak setelah sentrifugasi ke-2 (pellet)
diduga bukan disebabkan oleh amonuium sulfat, karena amonium sulfat hanya
berpotensi untuk mengendapkan protein dan tidak mempengaruhi proses
hemaglutinasi eritrosit manusia (Hamid et al, 2013)
Saat pengamatan selama 200 detik tidak ada penggumpalan yang terjadi
pada semua golongan darah yang diberi protein lektin dari ekstrak biji T. catappa
yang telah dilakukan dialisis. Penggunaan kantong dialisis dengan ukuran berat
molekul lebih dari 12.000 Da diduga dapat menyebabkan protein lektin yang ada
akan keluar dan terlarut dalam buffer, sehingga hasil dialisis tidak lagi
mengandung protein lektin yang menyebabkan tidak terjadinya penggumpalan
darah pada semua golongan darah, namun masih terdapat protein lain dalam
ekstrak hasil dialisis tersebut.

Interaksi Protein Lektin Ekstrak Biji T. catappa Terhadap Hemaglutinasi


Eritrosit Manusia
Terdapat perbedaan lama waktu dari tiap-tiap golongan darah yang diberi
ekstrak biji T. catappa yang telah dilakukan sentrifugasi ke-2 hingga terjadi
hemaglutinasi.

Golongan

darah

AB

merupakan

golongan

darah

yang

membutuhkan waktu tercepat sedangkan golongan darah O merupakan golongan


darah yang membutuhkan waktu terlama untuk terjadinya hemaglutinasi setelah
diberi protein lektin dari ekstrak biji T. catappa yang telah dilakukan sentrifugasi
ke-2.
Golongan darah AB memiliki antigen A dan Antigen B pada permukaan sel
Darah merah. Dengan banyaknya karbohidrat permukaan tersebut, akan
9

memudahkan protein lektin yang diberikan untuk lebih cepat berikatan pada salah
satu antigen atau kedua antigen yang ada di permukaan sel darah merah AB.
Golongan darah O merupakan sel darah merah yang paling lambat
mengalami hemaglutinasi. Pada golongan darah O, tidak memiliki antigen A atau
B pada permukaan sel darah merah. Namun golongan darah O masih memiliki
karbohidrat pada permukaan eritrositnya yang terdiri atas 1 molekul fukosa, 1
molekul N-asetil glukosamin dan 2 molekul galaktosa. Dikarenakan jumlah
karbohidrat permukaan yang dimiliki oleh golongan darah O sangat sedikit maka
protein lektin akan sulit berikatan dengan karbohidrat permukaan yang ada pada
sel darah merah golongan O, sehingga golongan darah O merupakan sel darah
yang paling lambat menunjukkan adanya hemaglutinasi.
Hal ini juga ditunjukkan Dari penelitian yang dilakukan oleh Sulasi, dkk.,
(2013), dimana dalam penelitian tersebut didapatkan bahwa dari 3 jenis tipe darah
yang diteliti, yaitu darah A, B dan O didapatkan bahwa golongan darah O
menunjukkan aktivitas yang rendah terhadap hemaglutinasi. Namun hasil ini
berbeda dengan hasil yang didapatkan dalam penelitian yang dilakukan oleh
Astuti, dkk. Dalam penelitian tersebut, dari empat golongan darah yang diteliti,
yaitu A, B, AB dan O, hanya golongan darah A dan O yang mengalami
penggumpalan sedangkan golongan darah AB dan B tidak mengalami
penggumpalan.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ekstrak biji T. catappa yang
mengandung protein lektin dapat mempengaruhi laju hemaglutinasi eritrosit
manusia, dimana golongan darah AB merupakan interaksi terbaik untuk laju
hemaglutinasi, diikuti oleh golongan darah A, golongan darah B dan terakhir
golongan darah O.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, diharapkan adanya penelitian
tentang pengujian hemaglutinasi Ekstrak biji T. catappa yang menggunakan
berbagai macam variasi konsentrasi, menggunakan eritrosit manusia yang
mengandung suatu penyakit tertentu, menggunakan kantung dialisis untuk berat
molekul kurang dari 12000 Da, menggunakan elektroforesis untuk menentukan

10

profil protein, serta menyamakan volume dan kadar protein ekstrak pada
pengujian hemaglutinasi.
DAFTAR PUSTAKA
Astuti T, Haji S, Ruyani A, Sundaryono A. 2013. Uji Reaksi Penggumpalan
eritrosit Penggolongan ABO Oleh Lektin Biji Petai (Parkia speciosa) dan
Implementasinya Sebagai Media Macromedia Flash Berbasis Konstruktivis.
Hamid R and Masood A, Ishfak H.W., Shaista R. 2013. Lectins: Proteins with
Diverse Applications. Journal of Applied Pharmaceutical Science. 3(4):
93103
Hamid R and Masood A. 2009. Dietary lectins as disease causing toxicants.
Pakistan Journal of Nutrition. 8 (3): 293-303
Hoffbrand AV, Pottit JE, Moss PAH (2005). Kapita elekta hematologi. Edisi ke 4.
Jakarta:EGC, pp: 289-291
Kusriningrum, R.S. 2010. Perancangan Percobaan. Airlangga University Press.
Surabaya. 213 -215.
Lam SK dan Ng TB (2004). Lectins: Production and practical applications. Appl
Microbiol Biotechnol. 89:4555
Lyimo B, Funakuma N, Minami Y, Yagi F (2012). Characterization of a New
galactosyl-binding Lectin From The Mushroom Calavaria Purpurea. Biosci
Biotechnol Biochem. 76(2) : 336-342
Naeem A, Ahmad E, Ashraf MT, and Khan RS (2007). Purification and
characterization of mannose/glucose-specific lectin from Seeds of
Trigonella foenumgraecum. Biochemistry (Moscow). 72(1):44-48.
Putra. SG (2013). Evaluasi ekstrak protein total teripang hitam (Holothuria
leucospilota) terhadap hemaglutinasi sel darah merah manusia. Skripsi.
Raman BV, Sravani B, Rekha PP, Lalitha KVN, Rao BN (2012). Effect of plant
lectins on human blood group antigens with special focus on plant foods and
juices. Ijrap. 3(2):255-263
Robyt, J.F. dan White, B.J. 1997. Biochemical Techniques : Theory and Practice.
S RA, Santos ND, da Silva CS, Napoleo TH, Gomes FS, Cavada BS,
Coelho LC, Navarro DM, Bieber LW, Paiva PM (2009) Larvicidal activity
of lectins from Myracrodruon urundeuva on Aedes aegypti. Comp Biochem
Physiol C Toxicol Pharmacol 149:300306.
Sulasi F, Mangindaan REP, Losung F (2013). Lektin dari spons Cliona varians
asal perairan malalayang Manado. Jurnal Pesisir dan Laut Tropis. 2(1):2834
Vasconcelos IM, Oliveira JT(2004). Antinutritional properties of plant lectins.
Toxicon. 44(4): 385-403.
Wolberg AS, Meng ZH, Monroe DM, Hoffman M (2004). Jurnal Trauma.
56(6):1221-1228

11